Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, 18 May 2025

Rahasia Gelap di Balik Kehidupan Ular

 


 

 

Rahasia Gelap di Balik Kehidupan Ular: Fakta yang Tidak Pernah Anda Duga!

 

Ular adalah kelompok hewan reptilia bertubuh bulat memanjang, tidak berkaki, dan semua jenisnya hidup sebagai pemangsa. Di dalam kelompok kadal, yang merupakan kerabat dekat ular, terdapat juga jenis-jenis kadal tak berkaki yang mirip ular.Perbedaan kadal tak berkaki dengan ular adalah tidak adanya kelopak mata dan daun telinga pada ular. Panjang tubuh ular bervariasi, dari yang hanya sepanjang 10 cm (thread snake, Leptotyphlops humilis) hingga yang lebih dari 5 meter, seperti anakonda (Eunectes murinus) yang tercatat 7,5 meter, atau ular sanca (Phyton reticulata) yang tercatat dalam rekor mencapai panjang 9 meter. Fosil ular purba Titinoboa cerrejonensis bahkan diketahui memiliki panjang tubuh mencapai 15 meter.

 

Kelompok ular berevolusi dari kelompok kadal yang hidup di bawah tanah atau perairan pada masa Cretaceous (150 juta tahun lalu). Penyebaran ular sampai dengan apa yang dikenal saat ini dimulai pada masa Paleocene (sekitar 66–56 juta tahun lalu). Dari penelitian diketahui bahwa kelompok ular kobra adalah yang paling sukses dalam persebarannya. Hal ini terutama disebabkan suksesnya persebaran kelompok tikus yang menjadi mangsa utama ular kobra di berbagai tipe habitat.

 

Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Di daratan, kita dapat menjumpai ular hampir di semua tipe habitat, kecuali kawasan berhawa dingin (Selandia Baru, ujung utara Eropa dan Amerika) atau di gunung-gunung tinggi. Seperti hewan berdarah dingin lainnya, ular makin jarang ditemui di daerah yang berhawa dingin. Ular dapat ditemui hidup melata di tanah atau di atas pohon sepanjang hidupnya. Beberapa di antaranya dapat hidup di tanah dan sesekali memanjat pohon, atau hidup sepenuhnya atau sebagian waktunya di perairan (laut, rawa, sungai, atau danau).

 

Ular bergerak dengan beberapa cara, tergantung pada lingkungannya. Gerakan yang paling umum adalah berkelok-kelok dengan mengarah ke depan. Gerakan ini dilakukan ular, baik saat di air maupun di daratan. Saat bergerak di daratan, gerakan mendorong ular terbantu oleh bermacam objek menonjol yang dilaluinya, seperti batu, ranting, tanah tak rata, dan lainnya. Uniknya, setiap titik pada tubuh ular selau melewati tempat yang dilewati oleh titik sebelumnya. Dengan demikian, ular dengan mudah dapat melewati daerah tumbuhan yang padat dan lebat sekalipun. Beda di daratan, beda pula saat di air. Ketika berenang di air, gerakan arus air yang disebabkan gerakan ular turut membantu ular bergerak maju.

 

Bergerak meliuk dan mengarah menyamping dilakukan oleh jenis-jenis ular yang hidup di kawasan yang tidak memiliki objek untuk “berpegang”, seperti kawasan berlumpur atau gurun pasir. Sebagai hewan berdarah dingin, seringkali ular ditemukan berjemur di pagi hari untuk menghangatkan tubuhnya sebelum melakukan aktivitas hariannya. Kebiasaan ini juga sangat membantu dalam proses pencernaan.

 

Kemampuan mata ular bervariasi. Beberapa jenis ular, seperti ular pohon, dapat mengikuti gerakan mangsanya dengan presisi. Beberapa lainnya memiliki pandangan yang sangat lemah, misalnya ular yang hidup di lubang. Tidak seperti penglihatannya, daya pencium ular, yang menggunakan lidahnya, umumnya cukup baik. Bagian tubuh yang bersentuhan dengan objek atau tanah umumnya sensitif terhadap getaran. Ular dapat menciri getaran yang disebabkan gerakan makhluk di sekitarnya dengan sangat tepat. Beberapa jenis ular memiliki reseptor gelombang infra merah yang sensitif. Kemampuan ini dimiliki ular berkat adanya organ yang terletak di antara mata dan lubang hidung.

 

Mereka dapat “melihat” radiasi panas dari tubuh mangsanya. Ular juga memiliki kemampuan untuk berganti kulit. Fungsi pergantian kulit antara lain: (1) mengganti kulit tua yang sudah aus; (2) membantu membuang parasit (kutu dan caplak) yang menempel di kulit; dan (3) memungkinkan ular untuk tumbuh lebih besar. Fungsi yang terakhir ini belum final dan masih diperdebatkan para ahli. Pergantian kulit pada ular muda mencapai tiga sampai empat kali dalam satu tahun. Pada ular dewasa, pergantian kulit hanya terjadi satu atau dua kali dalam setahun. Semua ular adalah pemangsa.

 

Ular memakan binatang-binatang berukuran kecil, termasuk kadal, ular lain, mamalia kecil, burung, telur burung, ikan, keong, serangga, bahkan telur ikan. Karena bentuk giginya tidak memungkinkan ular merobek dan memotong mangsanya, maka mangsa ditelan utuh. Itulah mengapa ular selalu menyesuaikan ukuran mangsanya dengan ukuran tubuhnya.

 

Anak ular sanca, misalnya, mula-mula memangsa belalang, kemudian kadal, hingga kijang atau babi hutan saat sudah dewasa. Pada bagian tengkoraknya, ular memiliki banyak keping-keping tulang yang saling bersambung. Sambungan-sambungan inilah yang membuat ular memiliki fleksibilitas dalam membuka rahang bawahnya. Dengan kemampuan seperti itu ular dapat menelan mangsa yang berukuran jauh lebih besar daripada kepalanya.

 

Ular menelan mangsanya bulat-bulat, tanpa dikunyah. Gigi ular tidak berfungsi untuk mengunyah, melainkan sekadar untuk memegang mangsanya agar tidak terlepas. Umumnya ular menelan mangsanya dari bagian kepala lebih dahulu. Komposisi dan formasi gigi ular juga tidak seragam, tergantung pada keperluan dan jenis mangsanya. Ular pemakan keong, misalnya, punya lebih banyak gigi di sisi kiri rahangnya. Hal ini disesuaikan dengan lingkaran kerang yang seringkali searah jarum jam.

 

Setelah makan, ular akan “beristirahat” dan menunggu proses pencernaan makanannya berlangsung. Karena ular termasuk binatang berdarah dingin (ectothermic), maka suhu di sekelilingnya sangat berpengaruh terhadap proses pencernaan. Ular memerlukan suhu sekitar 30 oC untuk dapat mencerna makanannya dengan baik. Suhu permukaan tubuhnya dapat naik sekitar 1 oC pada saat proses pencernaan berjalan. Itulah sebabnya ular seringkali memuntahkan mangsanya apabila merasa terancam. Sebagian ular membunuh mangsanya dengan cara melilit, misalnya ular sanca kembang (Phyton reticulatus). Sebagian lainnya menggunakan bisa, seperti ular King Cobra (Ophiophagus hannah), ular weling/krait (Bungarus candidus), atau ular cabai (Maticora intestinalis).

 

Kebanyakan ular memiliki bisa yang lebih sering digunakannya untuk melumpuhkan atau membunuh mangsa daripada untuk mempertahankan diri. Bisa adalah modifikasi dari air ludah. Pada beberapa jenis, bisa disalurkan melalui taring yang berlubang. Bisa ular, sebagaimana air ludah, juga membantu ular mencerna makanannya. Ular-ular kanibal yang memangsa ular lain, misalnya King Cobra, memiliki pertahanan terhadap racun karena memiliki anti racun.

 

Bisa ular adalah campuran yang kompleks dari berbagai protein yang diproduksi oleh kelenjar yang terletak di bagian belakang kepalanya. Bisa ular dapat dibagi dalam campuran neurotoxin (racun yang menyerang sistem syaraf), hemotoxin (racun yang menyerang sistem peredaran darah), cytotoxin, bungarotoxin, dan masih banyak lagi, yang pada dasarnya mempengaruhi fungsi dan sistem tubuh dengan berbagai cara.

 

Dalam proses perkembangbiakannya semua ular menganut pembuahan di dalam (internal fertilization), meskipun cara reproduksinya bervariasi. Ular berkembang biak dengan bertelur. Jumlah telur ular berkisar dari hanya beberapa butir saja sampai dengan ratusan butir. Ular bertelur di lubang tanah, lubang kayu lapuk, atau di bawah timbunan serasah. Umumnya ular meninggalkan telurnya begitu saja dan menyerahkan nasibnya kepada alam, namun ada beberapa jenis, seperti kelompok ular sanca, yang mengerami telur dengan lilitan tubuhnya hingga menetas. Ular sanca betina tidak akan meninggalkan telurnya, kecuali apabila ia perlu minum atau berjemur.

 

Ular King Cobra dikenal sebagai satu dari sedikit jenis ular yang membuat sarang dan tinggal di dekatnya untuk menjaganya. Beberapa jenis ular menyimpan telur di dalam tubuhnya dan “melahirkan” anak-anaknya (ovovivipar). Barubaru ini para peneliti menemukan bahwa beberapa jenis ular, seperti ular Boa Constrictor dan Anakonda Hijau (Eunectes murinus) betul-betul melahirkan anaknya (vivipar). Keduanya memberi makan anak-anaknya dengan plasenta dan makanan yang tersedia dalam telurnya.

 

Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau juga dikenal sebagai ular kawat (Rhampotyphlops braminus), sejauh ini hanya ditemukan betinanya saja. Ular yang mirip cacing kecil ini diduga mampu bertelur dan berbiak dengan pembuahan sendiri, tanpa kehadiran ular jantan (parthenogenesis).

 

Uraian di atas semestinya mampu memotivasi manusia untuk merubah persepsinya tentang ular. Kehadiran ular di dunia ini termasuk dalam rencana Allah yang rumit dan saling terkait satu dengan lainnya. Manusia dapat saja menyukai atau membenci ular, namun apa pun pilihannya, manusia sudah seharusnya menghargai keberadaan ular. Berbeda dengan anjing dan kucing, misalnya, ular tidak menginginkan adanya ikatan dengan manusia. Ular memilih untuk tidak mengabdi kepada manusia. Ular hanya ingin dibiarkan begitu saja dan diperbolehkan melakukan apa yang diperlukannya dalam usahanya mengabdi kepada Allah Yang Mahakuasa.

 

Henry Beston, seorang naturalis, memberikan sebuah nasihat bijak yang selaras dengan salah satu ayat di dalam Al-Qur'an. Ia berkata, “Hewan janganlah diukur dengan ukuran manusia. Mereka bukan saudara kita, bukan pula bawahan kita. Mereka adalah bangsa tersendiri, yang terperangkap dalam kebersamaan dengan kita dalam jaringan kehidupan dan waktu. Mereka adalah teman sependeritaan manusia di dunia yang gemerlapan dan rapuh ini.” Pesan yang hampir sama dapat kita jumpai dalam Al-Qur'an yang turun belasan abad yang lalu. Allah berfirman:


Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6: 38)

 

SUMBER:

Hewan Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains. Tafsir Ilmi 2012. halaman 43 – 49. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI.

No comments: