Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 23 January 2025

Limbah Mikroplastik Merusak Ekosistem Perairan


Limbah plastik telah menjadi masalah serius yang berdampak negatif pada berbagai makhluk hidup di lingkungan kita. Khususnya bagi makhluk air seperti ikan, fitoplankton, zooplankton, dan kerang, plastik menyebabkan kerugian yang signifikan. Jenis plastik berukuran sangat kecil, seperti mikroplastik dan nanoplastik, bahkan dapat memengaruhi organisme hingga tingkat seluler.

 

Apa Itu Mikroplastik dan Nanoplastik?

 

Mikroplastik adalah partikel plastik yang ukurannya berkisar antara 0,1 mikrometer hingga 5 milimeter. Karena ukurannya yang kecil, partikel ini sulit terlihat, namun sering ditemukan di lingkungan, termasuk di air dan tanah. Mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia dan hewan melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Sumbernya beragam, mulai dari pecahan plastik besar seperti botol hingga produk konsumen seperti scrub wajah dan pasta gigi. Pakaian sintetis juga melepaskan serat mikroplastik saat dicuci.

 

Nanoplastik, yang berukuran lebih kecil dari 0,1 mikrometer, memiliki kemampuan menembus sawar atau penghalang biologis dan masuk ke dalam sel makhluk hidup. Nanoplastik bisa berasal dari pecahan mikroplastik yang semakin kecil atau dari proses industri, seperti dalam cat atau bahan kemasan makanan.

 

Dampak pada Ikan

Mikroplastik dan nanoplastik dapat menimbulkan dampak serius pada ikan. Saat ikan terpapar partikel plastik ini, tubuh mereka menghasilkan senyawa berbahaya yang disebut spesies oksigen reaktif (ROS), yang dapat merusak sel hati, insang, dan otak. Selain itu, stres yang ditimbulkan pada mitokondria, bagian sel yang menghasilkan energi, dapat mengganggu metabolisme dan menurunkan kemampuan ikan untuk bertahan hidup.

 

Dampak pada Alga

Alga, organisme penting di ekosistem perairan, juga terkena dampak mikroplastik dan nanoplastik. Partikel plastik kecil dapat menempel pada dinding sel alga, mengganggu pertumbuhan dan proses fotosintesis yang penting untuk kelangsungan hidupnya. Kondisi ini pada akhirnya memengaruhi kualitas air dan keseimbangan ekosistem.

 

Dampak pada Invertebrata

Invertebrata seperti copepod, kerang, dan remis juga terpengaruh. Plastik dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan organ pencernaan invertebrata. Pada beberapa spesies, seperti tiram, paparan mikroplastik dapat mengganggu reproduksi dan kualitas larva.

 

Pengaruh Plastik pada Mikroba Usus dan Sistem Kekebalan

Mikroplastik juga dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam usus ikan, yang berperan penting dalam kesehatan hewan. Ikan yang terpapar mikroplastik mengalami perubahan mikrobiota usus, meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Selain itu, sistem kekebalan dan saraf hewan air juga terganggu, seperti ikan menunjukkan perilaku yang tidak normal setelah terpapar plastik.

 

Bahaya dalam Rantai Makanan

Mikroplastik bergerak melalui rantai makanan. Fitoplankton dan zooplankton yang terkontaminasi plastik dimakan oleh ikan kecil, yang kemudian dikonsumsi oleh predator yang lebih besar. Akumulasi plastik dalam rantai makanan ini menyebabkan gangguan pada kesehatan dan pertumbuhan ikan, bahkan bisa berujung pada kerusakan organ.

 

Kesimpulan


Limbah plastik, khususnya mikroplastik dan nanoplastik, membawa dampak buruk bagi kesehatan dan kelangsungan hidup berbagai spesies.  

 

Zooplankton, bivalvia, dan ikan adalah komponen penting dalam ekosistem dan rantai makanan.  


Paparan plastik dapat merusak kesehatan dan mengurangi jumlah spesies tersebut, yang pada akhirnya memengaruhi ekosistem secara keseluruhan. 


Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak plastik dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini agar ekosistem dan spesies-spesies penting tetap sehat.

 

SUMBER

Pudjiatmoko. Dampak Limbah Plastik Terhadap Biota Air. Pangan News. 14 September 2024

Wednesday, 22 January 2025

HLHN Momen Aksi Selamatkan Bumi

 


Hari Lingkungan Hidup Nasional Menjadi Momen Refleksi dan Aksi untuk Bumi Kita

 

Setiap tanggal 10 Januari, Indonesia memperingati Hari Lingkungan Hidup Nasional (HLHN) sebagai wujud dedikasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Momen ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dari pemerintah hingga individu, demi masa depan yang lebih baik.

 

Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah, Indonesia menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang serius. Pencemaran menjadi masalah utama, mencakup pencemaran air, udara, dan tanah yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas industri, pertanian, dan rumah tangga. Dampaknya sangat luas, mulai dari penurunan kualitas hidup hingga ancaman terhadap ekosistem.

 

Selain itu, penggundulan hutan terus menjadi isu krusial. Laju deforestasi yang tinggi tidak hanya menghilangkan habitat bagi flora dan fauna, tetapi juga meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Fenomena ini menuntut tindakan nyata untuk melindungi hutan yang tersisa dan memulihkan lahan yang telah terdegradasi.

 

Masalah sampah juga semakin mendesak, dengan tumpukan limbah yang mengancam kesehatan lingkungan dan masyarakat. Pengelolaan sampah yang tidak memadai mengakibatkan pencemaran sungai, laut, dan daratan, yang pada akhirnya memengaruhi ekosistem serta kehidupan manusia.

 

Di sisi lain, perubahan iklim telah membawa dampak nyata. Kenaikan suhu global dan perubahan pola cuaca ekstrem menimbulkan berbagai tantangan bagi sektor pertanian, perikanan, dan keberlanjutan masyarakat lokal. Ketahanan terhadap perubahan ini membutuhkan langkah adaptasi yang inovatif dan kolaborasi lintas sektor.

 

Memasuki tahun 2025, mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat mindset pelestarian lingkungan. Setiap individu dapat berkontribusi melalui langkah sederhana namun berarti, seperti mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, dan mendukung praktik ramah lingkungan. Dengan rencana aksi yang nyata, kita dapat bersama-sama menjaga bumi ini untuk generasi mendatang.

 

Berikut akan disampaikan “Tujuh Cara Memulihkan Lahan, Menghentikan Desertifikasi, dan Melawan Kekeringan” yang berlaku secara global.

Lahan menopang kehidupan di Bumi. Ruang-ruang alami seperti hutan, lahan pertanian, sabana, gambut, dan pegunungan menyediakan makanan, air, dan bahan mentah yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup.

Namun, lebih dari 2 miliar hektar lahan di dunia mengalami degradasi, memengaruhi lebih dari 3 miliar orang. Ekosistem vital dan berbagai spesies terancam punah. Dengan meningkatnya kekeringan yang lebih parah dan berkepanjangan, badai pasir, serta suhu yang terus naik, penting untuk menemukan cara menghentikan lahan kering berubah menjadi gurun, sumber air segar menguap, dan tanah subur berubah menjadi debu.

 

Para ahli meyakini bahwa meskipun tugas ini terasa sulit, upaya tersebut tetap dapat diwujudkan. Pada 5 Juni 2024, masyarakat dunia merayakan “Hari Lingkungan Hidup Sedunia” dengan tema yang mengajak setiap individu untuk berkontribusi dalam menghentikan degradasi lahan sekaligus memulihkan lanskap yang telah rusak.

 

“Pemerintah dan bisnis memiliki peran utama dalam membalikkan kerusakan yang telah dilakukan manusia terhadap Bumi,” kata Bruno Pozzi, Wakil Direktur Divisi Ekosistem dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP). “Namun, masyarakat umum juga memiliki peran penting dalam restorasi, yang merupakan kunci bagi masa depan kita sebagai spesies.”

 

Berikut tujuh langkah praktis untuk berkontribusi dalam pemulihan ekosistem, seperti dijelaskan dalam panduan “Kami adalah Generasi Restorasi” dari UNEP:

 

1. Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan

Secara global, setidaknya 2 miliar orang, terutama dari wilayah pedesaan dan kurang mampu, bergantung pada pertanian untuk mata pencaharian mereka. Namun, sistem pangan saat ini tidak berkelanjutan dan menjadi pendorong utama degradasi lahan.

 

Pemerintah dan sektor keuangan dapat mempromosikan pertanian regeneratif untuk meningkatkan produksi pangan sambil melestarikan ekosistem. Saat ini, produsen pertanian menerima dukungan finansial sebesar USD 540 miliar per tahun, namun 87 persen subsidi tersebut justru merusak harga, alam, dan kesehatan manusia. Subsidi ini dapat dialihkan untuk mendukung praktik berkelanjutan dan petani kecil.

 

Pelaku bisnis dapat mengembangkan tanaman yang tahan iklim, memanfaatkan pengetahuan tradisional untuk menciptakan metode pertanian berkelanjutan, serta mengelola pestisida dan pupuk secara bijak agar tidak merusak kesehatan tanah. Konsumen dapat memilih pola makan berbasis tanaman, produk lokal dan musiman, serta makanan yang ramah terhadap tanah, seperti kacang-kacangan dan biji-bijian.

 

2. Melestarikan Tanah

Tanah bukan hanya sekadar debu di bawah kaki kita, tetapi merupakan habitat paling beragam di planet ini. Hampir 60 persen dari semua spesies hidup di dalam tanah, dan 95 persen makanan kita berasal dari tanah. Tanah sehat juga menyerap gas rumah kaca, sehingga berperan penting dalam mitigasi iklim.

 

Untuk menjaga tanah tetap sehat, pemerintah dapat mendukung pertanian organik. Praktik seperti zero-tillage (tanpa pengolahan tanah) dapat menjaga lapisan organik tanah. Kompos dan bahan organik lain dapat meningkatkan kesuburan tanah. Teknik irigasi seperti drip irrigation atau penggunaan mulsa membantu mempertahankan kelembapan tanah.

 

3. Melindungi Penyerbuk

Tiga dari empat tanaman pangan membutuhkan penyerbuk seperti lebah, kelelawar, kupu-kupu, dan burung. Namun, populasi penyerbuk terus menurun.

 

Untuk melindungi mereka, penting untuk mengurangi polusi udara, meminimalkan dampak negatif pestisida, serta melestarikan habitat alami mereka. Menanam bunga lokal di taman kota dan rumah dapat menarik burung, lebah, dan kupu-kupu.

 

4. Memulihkan Ekosistem Air Tawar

Ekosistem air tawar menopang siklus air, menyediakan makanan, air, serta melindungi dari banjir dan kekeringan. Namun, ekosistem ini menghilang dengan cepat akibat polusi dan perubahan iklim.

 

Langkah yang dapat diambil adalah meningkatkan kualitas air, mengidentifikasi sumber polusi, dan memantau kesehatan ekosistem air tawar. Kota-kota dapat berinovasi dalam pengelolaan air limbah dan air hujan.

 

5. Memperbarui Kawasan Pesisir dan Laut

Laut dan samudra menyediakan oksigen, makanan, dan air, sekaligus membantu mitigasi perubahan iklim. Pemerintah dapat memulihkan ekosistem biru seperti mangrove dan terumbu karang, serta memperketat regulasi polusi plastik.

 

6. Mengembalikan Alam ke Kota

Kota mengonsumsi 75 persen sumber daya planet dan menghasilkan lebih dari setengah limbah global. Namun, ruang hijau seperti hutan kota dan taman vertikal dapat mengurangi suhu, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan menciptakan habitat bagi satwa liar.

 

7. Menggalang Pembiayaan untuk Restorasi

Investasi dalam solusi berbasis alam perlu lebih dari dua kali lipat hingga USD 542 miliar pada tahun 2030 untuk memenuhi target restorasi global. Individu dapat mendukung institusi keuangan yang berfokus pada keberlanjutan atau menyumbang untuk kegiatan restorasi.

 

Hari Lingkungan Hidup Nasional adalah momen penting untuk menggerakkan jutaan orang dalam upaya melindungi planet kita. Kegiatan ini sejalan dengan inisiatif global “Dekade Restorasi Ekosistem PBB 2021-2030,” yang bertujuan mengintegrasikan dukungan politik, penelitian ilmiah, dan pendanaan untuk mempercepat pemulihan ekosistem di seluruh dunia.

 

SUMBER

Pudjiatmoko. Hari Lingkungan Hidup Nasional Menjadi Momen Refleksi dan Aksi untuk Bumi Kita. PanganNews 11 Januari 2025

Masker Nanoteknologi

 


Masker Berbasis Nanoteknologi untuk Perlindungan Efektif dan Ramah Lingkungan

 

Pandemi COVID-19 yang dimulai pada 2019 mengubah cara kita memandang perlindungan kesehatan. Salah satu alat pelindung diri yang paling umum digunakan adalah masker wajah. Masker bedah sekali pakai terbukti efektif dalam mencegah penularan virus, namun menghadapi tantangan besar seperti limbah plastik yang sulit terurai dan hanya digunakan sekali. Untuk mengatasi masalah ini, ilmuwan telah mengembangkan masker berbasis nanoteknologi, yang menawarkan perlindungan lebih baik serta solusi ramah lingkungan.

 

Nanoteknologi dalam Masker Wajah

Nanoteknologi adalah teknologi yang memanfaatkan material pada skala nanometer (sepersejuta milimeter). Dalam konteks masker wajah, nanoteknologi dapat meningkatkan kualitas masker dengan sejumlah keunggulan. Masker dengan teknologi ini dapat menyaring partikel-virus hingga 99%, memberikan perlindungan yang lebih optimal dibandingkan masker model lama yang hanya mampu menyaring sebagian kecil partikel. Selain itu, masker berbasis nanoteknologi dapat lebih ringan, nyaman, dan bahkan terurai secara hayati, mengurangi dampak limbah plastik yang semakin meningkat.

 

Lima Keunggulan Masker Berbasis Nanoteknologi

 

1.  Filtrasi yang Lebih Efektif

Masker berbasis nanoteknologi memiliki kemampuan filtrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan masker model lama. Dengan lapisan nanofiber, masker ini mampu menyaring hingga 99% partikel, termasuk virus yang sangat kecil. Nanofiber memiliki ukuran yang sangat kecil, memungkinkan masker ini dapat menangkap lebih banyak partikel berbahaya, bahkan yang berukuran nano.

 

2.  Sifat Antimikroba

Nanoteknologi juga memberikan sifat antimikroba pada masker. Masker yang diperkaya dengan nanopartikel seperti perak (AgNP) atau graphene dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroba, termasuk virus dan bakteri, yang menempel pada permukaan masker. Hal ini sangat penting karena masker model lama sering menjadi tempat berkembang biaknya mikroba setelah digunakan berulang kali.

 

3.  Sterilisasi Mandiri

Beberapa material nanoteknologi, seperti graphene, memiliki kemampuan untuk melakukan sterilisasi mandiri. Artinya, masker ini dapat membersihkan dirinya sendiri saat terkena cahaya matahari, tanpa memerlukan proses sterilisasi tambahan. Ini mengurangi risiko penularan mikroba dari masker yang digunakan berulang kali.

 

4.  Lingkungan yang Lebih Ramah

Masker sekali pakai berkontribusi besar terhadap pencemaran plastik karena sulit terurai dan berbahaya bagi ekosistem. Masker berbasis nanoteknologi dapat dibuat dari bahan yang lebih ramah lingkungan, seperti material yang dapat terurai secara hayati atau bahan yang dapat didaur ulang, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

 

5.  Kemampuan Digunakan Kembali

Nanoteknologi memungkinkan masker untuk digunakan kembali tanpa mengurangi efektivitasnya. Masker berbasis nanofiber dan nanomaterial lainnya memiliki daya tahan yang lebih tinggi, memungkinkan masker ini untuk dicuci dan digunakan berkali-kali, sehingga menawarkan solusi berkelanjutan dalam menghadapi kebutuhan masker yang tinggi.

 

Tantangan dan Pengembangan Lebih Lanjut

Meskipun masker berbasis nanoteknologi menawarkan berbagai keunggulan, masker ini juga menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam hal biaya produksi. Masker dengan lapisan nanoteknologi, khususnya yang menggunakan material seperti graphene atau perak, cenderung lebih mahal dibandingkan masker model lama. Namun, dengan perkembangan teknologi dan peningkatan skala produksi, diharapkan harga masker ini dapat semakin terjangkau.

 

Selain itu, meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa masker yang menggunakan nanoteknologi efektif dalam meningkatkan kemampuan penyaringan dan sifat antimikroba, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan keamanan penggunaannya dalam jangka panjang, terutama terkait potensi toksisitas dari beberapa jenis nanopartikel yang digunakan. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk mendukung pengaturan yang tepat, terutama yang tercantum dalam standar ISO.

 

Masa Depan Masker Nanoteknologi

Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi teknologi baru, termasuk dalam bidang kesehatan. Masker berbasis nanoteknologi memiliki potensi besar untuk menjadi solusi perlindungan kesehatan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan dibandingkan masker model lama. Masker ini tidak hanya memberikan perlindungan lebih optimal terhadap virus, tetapi juga dapat digunakan lebih lama dan lebih ramah lingkungan.

 

Ke depan, kita mungkin akan melihat inovasi lebih lanjut dalam desain dan material masker. Misalnya, masker dengan kemampuan menyaring virus ultra-halus atau bahkan masker yang dapat menonaktifkan patogen secara otomatis. Kemajuan teknologi ini membuka peluang besar dalam menghadapi tantangan kesehatan global, baik saat ini maupun di masa depan.

 

Sebagai masyarakat, kita perlu mendukung pengembangan teknologi ini untuk menciptakan solusi perlindungan yang lebih baik. Masker berbasis nanoteknologi memberikan manfaat jangka panjang tidak hanya dalam hal perlindungan kesehatan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

 

Kesimpulan

Masker berbasis nanoteknologi menawarkan berbagai keuntungan yang mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh masker model lama. Dengan kemampuan filtrasi yang lebih baik, sifat antimikroba, dan potensi untuk digunakan kembali, masker ini menjadi solusi yang lebih aman, lebih efektif, dan lebih ramah lingkungan. Meskipun tantangan seperti biaya produksi dan keamanan jangka panjang masih perlu dihadapi, nanoteknologi memberikan harapan besar dalam meningkatkan perlindungan kesehatan kita di masa depan, serta memberikan kontribusi untuk keberlanjutan lingkungan.

 

SUMBER:

Pudjiatmoko. Masker Berbasis Nanoteknologi untuk Perlindungan Efektif dan Ramah Lingkungan. PanganNews 20 Desember 2024