Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 22 August 2025

Sistem Informasi Kesehatan Hewan iSIKHNAS



 

Sistem Informasi Kesehatan Hewan Baru Indonesia (iSIKHNAS)

 

iSIKHNAS adalah sistem informasi kesehatan hewan baru Indonesia. Sistem ini menggunakan teknologi sehari-hari dengan cara sederhana namun cerdas untuk mengumpulkan data dari lapangan dan membuatnya segera tersedia bagi pengguna serta pemangku kepentingan dengan cara yang mudah dipahami dan bermanfaat.

 

iSIKHNAS menempatkan petugas lapangan sebagai pusat sistem karena merekalah yang paling dekat dengan ternak, pemilik, dan komunitas mereka. Peran mereka sangat penting bagi keberhasilan dan kekuatan iSIKHNAS.

 

Catatan mereka tentang kasus yang ditemui, tindakan serta keputusan yang diambil, dan hasil dari kasus tersebut dapat dengan cepat, mudah, dan sederhana dikirim ke iSIKHNAS. Selanjutnya, iSIKHNAS akan mengelola, melaporkan, dan menganalisis data tersebut. Peternak memperoleh manfaat melalui layanan yang lebih baik dan cepat dari petugas lapangan.

 

Petugas lapangan juga diuntungkan karena mereka dapat memberikan layanan yang lebih baik, lebih tepat sasaran, lebih terinformasi, serta tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaan administrasi. iSIKHNAS mendukung paramedis hewan (paravet) untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan pemilik ternak, dokter hewan dapat menentukan prioritas dan sumber daya dengan lebih tepat, dan manajemen dapat mengambil keputusan yang lebih baik berdasarkan data yang akurat dan terkini. Ini adalah keuntungan bagi semua pihak.

 

Selain itu, iSIKHNAS akan mengintegrasikan beberapa sistem informasi yang sudah ada agar lebih efisien dan dapat digunakan lebih banyak pihak. Integrasi ini akan membuat data lebih bermanfaat dan semakin mendukung kerja para pengambil keputusan di semua tingkatan.

 

Indonesia memiliki beberapa sistem yang sudah ada untuk mengelola data dengan tujuan tertentu, termasuk InfoLab untuk data laboratorium dan SIKHNAS lama untuk laporan penyakit dari lapangan. Namun, sistem-sistem ini kurang kuat karena tidak saling terhubung. iSIKHNAS menyatukan sistem-sistem tersebut agar datanya dapat dikelola dan dibagikan lebih efisien kepada semua pemangku kepentingan. Data akan tersedia bagi pengguna yang berwenang melalui berbagai cara, seperti situs web iSIKHNAS atau melalui laporan, grafik, lembar kerja, dan peta yang dihasilkan sistem dan dikirim melalui email atau SMS kepada staf yang membutuhkannya.

 

Dengan iSIKHNAS, kita dapat menghubungkan data pengiriman sampel laboratorium dengan laporan penyakit, peta dengan data pergerakan atau laporan wabah, data pemotongan dengan data produksi dan populasi—semua secara otomatis dan lancar. Hal ini sangat bermanfaat bagi para pengambil keputusan di semua tingkatan dan baik bagi siapa pun yang bekerja di sektor kesehatan hewan.

 

Apa yang membuat sistem ini istimewa?

 

Prinsip dasar yang kuat dengan peternak dan petugas lapangan sebagai inti

Untuk memastikan pencapaian tujuannya, iSIKHNAS dibangun di atas sejumlah prinsip dasar yang kuat yang mendorong perkembangannya sejak awal. Prinsip-prinsip ini menjadi ciri penting keberhasilan sistem dan menjadi nilai yang mendasari setiap pendekatan terhadap semua pemangku kepentingan.

 

Sistem

 

iSIKHNAS:

  • menempatkan orang-orang yang bekerja paling dekat dengan hewan dan pemiliknya—yaitu mereka yang melaporkan data—sebagai inti sistem, dan mereka harus mendapatkan manfaat dari keterlibatan dalam sistem.
  • hanya meningkatkan, mendukung, dan mempermudah pekerjaan pelapor dan pengguna sistem.
  • tidak membebani tugas normal pengguna, tetapi justru memberikan manfaat nyata dan langsung pada pekerjaan mereka.
  • memberi lebih banyak daripada yang diminta dari pengguna untuk memastikan semua pengguna mendapatkan keuntungan.
  • memberikan layanan kepada semua penggunanya setiap saat dan layanan ini harus responsif terhadap kebutuhan yang terus berubah.

 

Data

 

Data yang dilaporkan, dikumpulkan, dan dikelola oleh sistem harus:

  • merupakan hasil alami dari kegiatan rutin kesehatan hewan, bukan tujuan akhir itu sendiri.
  • hanya dimasukkan sekali, oleh pelapor, pada saat kejadian.
  • diperiksa secara otomatis agar benar saat entri.
  • dilaporkan dalam bentuk terkecil dan paling langsung dari lapangan.
  • tidak pernah dikelompokkan, dimanipulasi, atau digeneralisasi (diagregasi).
  • dapat digunakan secara fleksibel.
  • aman.
  • segera tersedia bagi semua yang membutuhkan.
  • disediakan dalam bentuk yang mudah diakses, fleksibel, dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik.
  • dapat dikirim melalui berbagai cara.

 

Untuk apa iSIKHNAS?

 

iSIKHNAS berfokus pada …

  • mendapatkan informasi yang tepat
  • kepada orang yang tepat
  • pada waktu yang tepat
  • dalam bentuk yang tepat untuk membantu peternak kita dan mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih sehat.

 

Memberikan layanan bagi semua

  • Memberikan manfaat nyata bagi peternak dan komunitasnya
  • Memungkinkan semua orang menggunakan bukti yang baik dalam pengambilan keputusan
  • Memberikan manfaat langsung bagi staf di semua tingkatan
  • Meningkatkan komunikasi
  • Membuat pelaporan lebih cepat dan lebih mudah
  • Menghilangkan beban pelaporan rutin.

 

Sumber:

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Republik Indonesia

Wednesday, 13 August 2025

Rahasia Codex Mengungkap Risiko Pangan PRG



Pangan Produk Rekayasa Genetika: Rahasia Analisis Risiko Codex yang Wajib Anda Tahu!

 

Bayangkan jika di meja makan Anda tersaji sepiring makanan yang tampak biasa saja, namun ternyata di baliknya tersimpan teknologi canggih hasil rekayasa genetik. Apakah makanan itu aman? Bagaimana memastikan tidak ada risiko tersembunyi bagi kesehatan? Untuk menjawab pertanyaan ini, dunia internasional mengandalkan panduan resmi Codex Alimentarius, seperangkat prinsip yang mengatur analisis risiko pangan, termasuk yang berasal dari bioteknologi modern. Panduan ini lahir dari sejarah panjang konsumsi pangan yang aman, dipadukan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, guna memastikan setiap suapan yang kita telan benar-benar terlindungi dari bahaya yang mungkin mengintai.

 

Pendahuluan

 

Untuk sebagian besar pangan, tingkat keamanan yang diterima masyarakat umumnya mencerminkan sejarah panjang konsumsi aman oleh manusia. Pengetahuan untuk mengelola risiko pangan banyak diperoleh dari pengalaman penggunaan tersebut. Pangan dianggap aman selama dikembangkan, diproduksi, diolah, disimpan, ditangani, dan disiapkan dengan cermat.

 

Bahaya yang terkait dengan pangan menjadi subjek proses analisis risiko oleh Komisi Codex Alimentarius untuk menilai potensi risiko dan, jika perlu, mengembangkan strategi pengelolaannya. Pelaksanaan analisis risiko mengacu pada keputusan umum Komisi Codex Alimentarius serta Prinsip Kerja Codex untuk Analisis Risiko. Meskipun metode ini telah lama digunakan untuk mengatasi bahaya kimia seperti residu pestisida, kontaminan, bahan tambahan pangan, dan bahan pembantu pengolahan—serta semakin banyak diterapkan pada bahaya mikrobiologis dan faktor gizi—prinsip-prinsipnya belum dirinci secara khusus untuk pangan utuh.

 

Pendekatan analisis risiko dapat diterapkan pada semua jenis pangan, termasuk yang berasal dari bioteknologi modern. Namun, penerapannya pada pangan utuh memerlukan penyesuaian dibandingkan ketika digunakan pada bahaya terpisah. Prinsip-prinsip dalam dokumen ini perlu dibaca bersama dengan Prinsip Kerja Codex untuk Analisis Risiko. Hasil penilaian risiko dari otoritas pengatur lain juga dapat dimanfaatkan untuk membantu analisis dan menghindari duplikasi pekerjaan.

 

Ruang Lingkup dan Definisi

 

Prinsip-prinsip ini bertujuan menyediakan kerangka kerja analisis risiko terhadap aspek keamanan dan gizi pangan hasil bioteknologi modern. Dokumen ini tidak membahas aspek lingkungan, etika, moral, atau sosial-ekonomi dari penelitian, pengembangan, produksi, dan pemasaran pangan tersebut.

 

“Bioteknologi modern” diartikan sebagai penerapan teknik asam nukleat in vitro (termasuk DNA rekombinan dan injeksi langsung asam nukleat ke dalam sel atau organel) atau fusi sel di luar famili taksonomi yang mengatasi hambatan reproduksi atau rekombinasi alami, yang bukan merupakan teknik dalam pemuliaan tradisional. “Rekanan konvensional” berarti organisme atau varietas terkait, komponen, atau produknya yang memiliki riwayat penggunaan aman sebagai pangan.

 

Prinsip-Prinsip Penilaian Risiko

 

Proses analisis risiko untuk pangan hasil bioteknologi modern harus sejalan dengan Prinsip Kerja Codex untuk Analisis Risiko. Penilaian risiko mencakup penilaian keamanan untuk mengidentifikasi bahaya, masalah gizi, atau risiko lain, serta menentukan sifat dan tingkat keparahannya. Perbandingan antara pangan bioteknologi dan pangan konvensionalnya menjadi fokus utama, dengan penentuan kesamaan dan perbedaan yang relevan bagi kesehatan manusia.

 

Penilaian keamanan dilakukan terhadap pangan utuh atau komponennya dengan mempertimbangkan efek yang diinginkan maupun tidak diinginkan, identifikasi bahaya baru atau yang berubah, serta perubahan signifikan pada zat gizi utama. Proses penilaian harus terstruktur, terpadu, berbasis kasus per kasus, dan menggunakan data ilmiah yang sahih, diperoleh dengan metode yang tepat, serta dianalisis secara statistik.

 

Pendekatan penilaian risiko didasarkan pada data dan informasi multidisiplin yang relevan, yang dapat berasal dari pengembang produk, literatur ilmiah, ilmuwan independen, badan pengatur, badan internasional, atau pihak berkepentingan lainnya. Semua data harus dievaluasi dengan metode penilaian berbasis sains dan mempertimbangkan semua informasi yang tersedia, selama metode pengujiannya ilmiah dan hasilnya dapat dibandingkan.

 

Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko

 

Langkah manajemen risiko harus proporsional dengan tingkat risiko berdasarkan hasil penilaian, serta mempertimbangkan faktor lain yang relevan sesuai keputusan Komisi Codex Alimentarius. Berbagai langkah yang berbeda dapat mencapai tingkat perlindungan yang setara. Manajer risiko perlu mempertimbangkan ketidakpastian yang ditemukan dalam penilaian dan mengambil langkah yang sesuai untuk mengelolanya.

 

Langkah manajemen risiko dapat mencakup pelabelan pangan, persetujuan pemasaran, dan pemantauan pasca-pemasaran. Pemantauan ini dilakukan untuk memverifikasi kesimpulan tentang dampak potensial terhadap kesehatan atau memantau perubahan status gizi akibat pengenalan pangan baru. Perangkat pendukung seperti metode analisis, bahan referensi, dan sistem ketertelusuran mungkin diperlukan untuk memastikan efektivitas langkah-langkah tersebut.

 

Prinsip-Prinsip Komunikasi Risiko

 

Komunikasi risiko yang efektif harus ada di setiap tahap penilaian dan manajemen risiko, melibatkan semua pemangku kepentingan seperti pemerintah, industri, akademisi, media, dan konsumen. Proses ini harus transparan, terdokumentasi, terbuka untuk pengawasan publik, dan tetap menghormati kerahasiaan informasi komersial yang sah.

 

Konsultasi yang dilakukan harus bersifat interaktif dan responsif, melibatkan pandangan semua pihak, serta membahas isu keamanan pangan dan gizi yang relevan selama proses analisis risiko.

 

Konsistensi dan Kerangka Regulasi

 

Pendekatan yang konsisten diperlukan untuk mengkarakterisasi dan mengelola risiko pangan bioteknologi, sehingga tidak terjadi perbedaan yang tidak wajar dalam tingkat risiko dibandingkan pangan konvensional yang serupa. Kerangka regulasi harus transparan, terdefinisi dengan baik, dan konsisten dalam persyaratan data, kerangka penilaian, tingkat risiko yang dapat diterima, mekanisme komunikasi, serta proses pengambilan keputusan yang tepat waktu.

 

Peningkatan Kapasitas dan Pertukaran Informasi

 

Diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas otoritas regulasi, khususnya di negara berkembang, dalam menilai, mengelola, dan mengomunikasikan risiko pangan bioteknologi, termasuk penegakan hukumnya. Bantuan teknis dapat dilakukan melalui kerja sama bilateral maupun bantuan organisasi internasional, dengan tujuan penerapan prinsip-prinsip ini secara efektif.

 

Pertukaran informasi antara otoritas regulasi, organisasi internasional, badan pakar, dan industri harus difasilitasi melalui saluran yang sesuai, termasuk Titik Kontak Codex dan metode lain yang efektif.

 

Proses Tinjauan dan Penyesuaian

 

Metodologi analisis risiko harus konsisten dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini. Mengingat pesatnya kemajuan bioteknologi, pendekatan penilaian keamanan pangan perlu ditinjau secara berkala untuk memasukkan informasi baru yang relevan. Ketika data ilmiah terbaru menunjukkan adanya perubahan dalam penilaian risiko, langkah-langkah manajemen risiko harus disesuaikan.

 

Ketentuan penelusuran produk harus sejalan dengan Perjanjian SPS dan TBT, sebagaimana telah dibahas oleh Komite Codex untuk Sistem Inspeksi dan Sertifikasi Impor dan Ekspor Pangan, termasuk prinsip-prinsip ketertelusuran sebagai alat dalam sistem inspeksi dan sertifikasi pangan.

Thursday, 7 August 2025

Kenapa Brazil Bisa Ekspor Daging Sapi ?

 



Belajar dari Brazil: Rahasia Sukses Negara Penghasil Sapi Terbesar di Dunia

 

Ketika mendengar kata "Brazil", kebanyakan orang langsung terbayang dengan kehebatan tim sepak bolanya atau irama tarian samba yang mendunia. Namun, tahukah Anda bahwa Brazil juga merupakan salah satu negara penghasil sapi terbesar di dunia? Dengan populasi sapi mencapai lebih dari 280 juta ekor dan produksi daging sapi sekitar 10 juta ton per tahun, Brazil tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestiknya, tetapi juga menjadi eksportir utama ke berbagai negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Asia.

 

Keunggulan Brazil dalam dunia peternakan tentu menjadi hal yang menarik untuk dikaji, terutama jika dibandingkan dengan Indonesia. Saat ini, populasi sapi di Indonesia hanya sekitar 17 juta ekor, jauh tertinggal dari Brazil, padahal kedua negara sama-sama berada di wilayah tropis. Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa, yang artinya kebutuhan akan daging sapi jauh lebih besar dibandingkan ketersediaannya. Inilah yang membuat kita bertanya: apa yang membuat sistem peternakan sapi di Brazil begitu unggul?

 

Salah satu faktor keberhasilan Brazil adalah pemilihan jenis sapi. Di sana, sapi-sapi yang dipelihara mayoritas merupakan hasil persilangan dari bangsa Zebu, terutama jenis Brahman yang berasal dari India. Sekitar 50% populasi sapi di Brazil adalah Brahman murni maupun hasil persilangan dengan sapi Limosin, Simental, dan Korthort. Sapi-sapi ini dikenal tangguh di iklim tropis dan mampu tumbuh dengan baik di sistem penggembalaan terbuka.

 

Sistem peternakan di Brazil juga sangat berbeda dengan di Indonesia. Mereka menerapkan sistem pastural, di mana sapi-sapi dilepas di padang penggembalaan dan dibiarkan makan rumput alami (full grazing). Untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan, mereka menambahkan suplemen vitamin dan mineral yang disediakan di titik-titik tertentu. Suplemen ini penting terutama bagi indukan sapi yang sedang menyusui, agar terhindar dari gangguan metabolisme seperti hipokalsemia.

 

Setelah anak sapi lahir, mereka disapih dan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Anak sapi betina berkualitas tinggi akan diseleksi sebagai calon indukan, sedangkan sisanya, termasuk anak sapi jantan, akan digemukkan untuk dipotong. Brazil juga memiliki industri penggemukan sapi atau feedlot, yang mampu meningkatkan bobot sapi secara signifikan dalam waktu tiga bulan melalui pemberian pakan berkualitas tinggi.

 

Yang menarik, konversi lahan di Brazil lebih banyak diarahkan untuk mendukung peternakan. Hutan-hutan tropis, termasuk sebagian kawasan Amazon, dialihfungsikan menjadi padang penggembalaan. Ini berbeda dengan Indonesia, di mana banyak hutan tropis beralih menjadi perkebunan kelapa sawit. Tak heran jika Brazil unggul dalam produksi sapi, sementara Indonesia menonjol di sektor industri sawit.

 

Perbedaan pendekatan inilah yang menjadikan Brazil sukses besar dalam dunia peternakan. Dengan strategi pemeliharaan yang tepat, pemanfaatan lahan yang optimal, dan fokus pada kualitas pakan serta genetika ternak, Brazil mampu menjawab tantangan kebutuhan daging secara global.

 

Mempelajari sistem peternakan di Brazil bukan hanya soal meniru, tapi juga memahami bahwa keberhasilan sebuah negara dalam memajukan peternakannya sangat dipengaruhi oleh kebijakan, inovasi, dan komitmen untuk membangun industri berbasis sumber daya yang dimiliki. Mungkin sudah saatnya Indonesia mengevaluasi ulang arah pengembangan peternakan nasional agar lebih mandiri dan berdaya saing tinggi di kancah global.

Wow Enaknya! Menu Gratisan Anak Sekolah

 



Wow! Menu Gratisan Anak Sekolah Zaman Prabowo Ternyata Seenak Ini!

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru saja diluncurkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, langsung mendapat sorotan luas dari masyarakat. Resmi dimulai pada 6 Januari 2025, program ini tak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Dalam waktu singkat, MBG sudah beroperasi di 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 26 provinsi dari Aceh hingga Papua Selatan.

 

Dulunya dikenal sebagai program “Makan Siang Gratis”, MBG kini hadir dengan misi yang lebih besar: memenuhi minimal sepertiga kebutuhan gizi harian kelompok sasaran. Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa program ini merupakan tonggak penting dalam sejarah pemenuhan gizi nasional, karena dimulai dalam 100 hari pertama masa pemerintahan.

 

Setiap menu dalam program ini disusun berdasarkan panduan Badan Gizi Nasional (BGN), dengan fokus pada keseimbangan nutrisi: karbohidrat, protein, serat, vitamin, mineral, dan kalsium. Tim ahli gizi di setiap SPPG merancang menu harian yang sesuai dengan kebutuhan lokal, mempertimbangkan selera anak-anak serta ketersediaan bahan makanan di daerah. Targetnya, dari Januari hingga Maret 2025, program ini menjangkau 3 juta penerima manfaat dan terus meningkat hingga mencapai 15 juta orang di akhir tahun.

 

Di hari pertama pelaksanaan, menu MBG mulai ramai dibagikan di media sosial. Banyak warganet penasaran seperti apa isi piring anak-anak sekolah di berbagai daerah. Di Semarang misalnya, menu yang disajikan berupa nasi putih, ayam asam manis, tumis kacang panjang dan wortel, tahu goreng, serta buah semangka. Sementara di Bandung, anak-anak menikmati ayam goreng, tumis tahu sawi, nasi putih, dan pisang.

 

Setiap daerah memiliki ciri khas sendiri. Di Tasikmalaya, menu MBG hadir dengan ayam goreng, tumis wortel buncis, tempe, nasi putih, dan jeruk. Di Indramayu, nasi putih disandingkan dengan ayam goreng, orek tempe, kacang panjang, pepaya, dan susu. Sedangkan di Kupang, anak-anak menikmati ayam goreng, tumis buncis, tahu, nasi putih, dan buah pisang. Ragam menu ini tak hanya mencerminkan kekayaan kuliner nusantara, tetapi juga upaya nyata menyajikan makanan bergizi dan menyenangkan bagi anak-anak.

 

Namun, di tengah antusiasme masyarakat, muncul pula kritik. Beberapa warganet menyoroti porsi protein yang dianggap minim dan ketidakhadiran sayuran dalam beberapa menu. Merespons hal ini, Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa semua menu telah disusun sesuai standar gizi nasional, namun pihaknya terbuka terhadap masukan masyarakat untuk perbaikan ke depan. Evaluasi dilakukan setiap hari guna memastikan kualitas dan kelengkapan makanan.

 

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Universitas Indonesia, Inge Permadhi, juga turut memberi pandangan. Menurutnya, menu yang ideal harus mengacu pada pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan yang meliputi karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Ia menyarankan agar sayur lebih banyak ditambahkan dan diolah secara menarik, misalnya dicampur dalam lauk agar anak-anak lebih menyukainya. Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu sering menggoreng makanan, guna menjaga kadar lemak tetap sehat.

 

Soal protein, Dr. Inge menjelaskan bahwa kombinasi ayam, tahu, atau tempe sebenarnya sudah cukup baik sebagai sumber protein hewani dan nabati. Apalagi bila ditambah susu, kebutuhan protein harian anak-anak akan semakin tercukupi. Mengenai kekhawatiran terhadap susu kemasan, ia menyarankan untuk memperhatikan total asupan gula harian. Selama konsumsi makanan manis lainnya dibatasi, susu kemasan masih bisa ditoleransi dalam program gizi ini.

 

Agar program MBG semakin optimal, Dr. Inge merekomendasikan beberapa hal penting: variasi pengolahan makanan, inovasi menu yang tidak membosankan, penampilan makanan yang menarik, serta menjaga kebersihan dan memperhatikan kearifan lokal. Semua ini demi memastikan anak-anak tidak hanya kenyang, tapi juga terpenuhi kebutuhan gizinya dengan baik.

 

Terlepas dari kekurangan yang ada, program Makan Bergizi Gratis adalah langkah besar dan berani dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda Indonesia. Yang kini dibutuhkan adalah konsistensi dalam pelaksanaan, keterbukaan terhadap masukan, dan komitmen untuk terus memperbaiki. Kita sebagai masyarakat bisa ikut berperan dengan memberikan dukungan dan masukan yang membangun.

 

Mari kita kawal bersama program ini demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan cerdas. Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar membagikan makanan, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang kuat, produktif, dan berdaya saing. Keterlibatan aktif dari masyarakat, mulai dari orang tua, guru, tenaga kesehatan, hingga pemangku kepentingan daerah, sangat dibutuhkan agar pelaksanaan program ini berjalan optimal. Dengan konsistensi, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan berdasarkan masukan yang konstruktif, program ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam sejarah pemenuhan gizi anak bangsa. Jangan ragu untuk terus memberikan dukungan dan saran demi menyempurnakan program ini. Bersama, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih sejahtera.

Thursday, 31 July 2025

Waspada! Konsultan Asing Abal-abal

 



Bayangkan sejenak. Seorang konsultan asing baru tiga bulan berada di Indonesia. Lalu menyusun laporan yang disebut “komprehensif.” Isinya penuh istilah populer: tingkatkan SDM, percepat transisi hijau, perkuat tata kelola. Presentasinya elegan. Slide PowerPoint dipenuhi grafik warna-warni dan kutipan dari laporan Bank Dunia. Para pengguna konsultan asing mengangguk-angguk. Terpukau. Honor dibayar penuh. Kontrak diperpanjang. Sang konsultan pulang dengan rasa puas, merasa telah berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

 

Tapi bagaimana dengan Indonesia? Masih di situ-situ saja. Korupsi masih langgeng. Ketimpangan makin nyata. Rakyat kecil tetap berjuang sendiri. Indonesia Emas 2045? Semakin mirip dongeng pengantar tidur. Sementara itu, konsultan terus datang dan pergi, meninggalkan tumpukan laporan yang tak pernah benar-benar dijalankan.

 

Indonesia seolah telah berubah menjadi laboratorium hidup. Tempat uji coba bagi para konsultan internasional. Mereka datang silih berganti. Membawa rekomendasi yang tampak rapi, tapi sejatinya hanya hasil copy-paste. Template-nya selalu sama. Ada grafik pertumbuhan ekonomi. Ada narasi tentang bonus demografi. Ada solusi generik yang bisa dipakai di mana saja. Di Lagos bisa. Di Manila pun sama. Jakarta? Tinggal ganti nama kota di slide.


Tak ada ruang untuk memahami konteks lokal. Tak ada upaya menyelami budaya, sejarah, dan realitas politik Indonesia. Seolah-olah negeri ini bisa disederhanakan jadi beberapa poin bullet di presentasi PowerPoint. Dan anehnya, kita pun sering kali menerimanya tanpa banyak tanya.

 

Para konsultan ini memang piawai. Mereka pandai menyusun laporan tebal. Isinya penuh istilah teknis dan analisis yang terlihat ilmiah. Tapi sayangnya, sering tak menyentuh realitas di lapangan. Mereka bicara soal "penguatan institusi". Tapi tak paham bagaimana politik patronase membentuk banyak keputusan di negeri ini. Mereka menyarankan "formalisasi sektor informal". Tapi tak sadar, sektor itu justru jadi penyelamat bagi jutaan orang. Tempat bertahan hidup saat ekonomi formal menutup pintu. Akhirnya, rekomendasi yang dibuat terasa asing. Jauh dari kenyataan. Seolah Indonesia hanya data di Excel, bukan negeri dengan dinamika sosial yang rumit dan penuh nuansa.

 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah optimisme palsu yang mereka jual. Para konsultan ini datang dengan janji-janji besar. Mereka bicara tentang Indonesia Emas 2045. Disajikan dalam warna cerah, grafik naik, dan perbandingan manis dengan negara yang sudah “lepas landas.” Tapi semua itu dibangun di atas fondasi rapuh. Ketika diajak bicara soal hambatan nyata, soal tarik-menarik kepentingan di sektor tambang, atau soal daerah yang menolak kebijakan pusat, mereka menghindar. Jawabannya kabur. Normatif. Tidak menyentuh akar persoalan. Optimisme tanpa strategi konkret hanyalah ilusi. Dan celakanya, ilusi itu kerap dijadikan pegangan dalam menyusun kebijakan.

 

Ambil saja satu contoh: transisi hijau.

Mereka dengan mudah menulis, "hentikan batu bara, manfaatkan energi terbarukan." Terdengar indah. Masuk akal di atas kertas. Tapi mereka jarang, bahkan enggan, bicara tentang siapa yang harus dikalahkan dalam proses ini. Tak ada pembahasan tentang kekuatan para raja batu bara. Tak ada strategi untuk menghadapi kepentingan besar di balik industri ekstraktif. Daerah-daerah yang hidup dari tambang pun nyaris tak disebut. Istilah “just transition” dilontarkan seolah ini hanya soal teknis. Padahal kenyataannya, ini pertarungan politik besar. Nilainya triliunan rupiah. Taruhannya ribuan pekerjaan. Tapi semua itu luput dari laporan yang tebal dan rapi itu.

 

Ada keajaiban tersendiri dalam slide PowerPoint para konsultan ini. Mereka ahli meramu data mentah menjadi cerita yang memukau. Grafik GDP per kapita naik tajam. Angka layanan kesehatan melonjak. Jalan tol dan pelabuhan baru ditampilkan seolah menjadi simbol kemajuan. Semua dirangkai dalam narasi manis tentang "momentum pertumbuhan" dan "peluang emas." Indonesia digambarkan sedang bangkit. Siap menjemput masa depan. Tapi itu semua hanya di layar. Hanya dalam ruangan ber-AC. Di luar sana, di lapangan, cerita yang sama sekali berbeda sedang berlangsung. Ketimpangan masih tinggi. Layanan publik masih bolong. Dan banyak warga yang bahkan tak tahu bahwa mereka sedang ada dalam “window of opportunity.”

 

Para konsultan ini melihat Indonesia dari balik jendela hotel mewah di Jakarta. Mereka tak pernah duduk di warung kopi di pelosok Nusa Tenggara Timur. Tak pernah singgah di gubuk nelayan di pesisir Sulawesi. Mereka bicara tentang “ekspansi kelas menengah”. Tapi tak pernah bertanya, kenapa justru kelas menengah kita menyusut, dari 23% pada 2018 menjadi hanya 17% di 2023. Mereka bangga dengan istilah “bonus demografi”. Tapi lupa, bonus itu tak akan bertahan lama. Sementara kualitas pendidikan masih jauh dari cukup. Anak-anak kita belum siap bersaing di dunia global. Tapi semua itu tak masuk dalam laporan yang penuh jargon dan optimisme palsu.

 

Yang paling memprihatinkan dari fenomena ini adalah analisis tanpa akar dan solusi tanpa konteks. Para konsultan ini datang membawa resep dari luar. Mereka mengimpor best practices dari Korea Selatan atau Singapura. Tapi lupa, Indonesia bukan Seoul atau Singapura. Struktur politik kita berbeda. Budaya birokrasi kita punya logika sendiri. Modal sosial kita unik dan rumit. Tapi mereka tetap memberi saran seperti "perkuat tata kelola". Seolah-olah governance itu cuma software. Tinggal klik, langsung update. Padahal, di lapangan, membenahi tata kelola butuh waktu, keberanian, dan pemahaman yang dalam akan realitas lokal.

 

Contoh paling jelas ada pada rekomendasi soal formalisasi ekonomi. Dengan mudah mereka bilang, "bawa pekerja informal masuk ke sektor formal." Kedengarannya rapi. Rasional. Tapi mereka tak paham, informalitas di Indonesia bukan sekadar masalah aturan. Bagi tukang ojek atau pedagang kaki lima, bekerja di sektor informal adalah cara bertahan hidup. Masuk ke sektor formal bukan berarti naik kelas. Justru bisa berarti terjerat birokrasi rumit, kena pajak, dan kehilangan fleksibilitas yang selama ini jadi andalan.

 

Para konsultan ini tak pernah duduk bersama mereka. Tak pernah mendengar cerita dari para pelaku ekonomi kecil. Tak pernah mencoba memahami logika ekonomi-politik yang mereka jalani setiap hari. Yang mereka tahu hanyalah model, bukan realitas.

 

Para konsultan ini sering terjebak dalam arogansi metodologis. Mereka yakin bahwa realitas Indonesia bisa dipetakan lewat survei, wawancara dengan elite, dan grafik makroekonomi. Semua dihitung, dikalkulasi, lalu disimpulkan dari balik meja. Mereka jarang turun ke lapangan. Tak pernah menyelami kehidupan warga biasa. Tak melakukan observasi mendalam yang bisa membuka mata terhadap logika politik lokal.

 

Akibatnya, rekomendasi yang mereka hasilkan sering tak nyambung. Bertabrakan dengan kenyataan. Mereka bicara seolah tahu segalanya, padahal yang mereka lihat hanya permukaan. Dan yang lebih parah, mereka sering lupa sejarah panjang bagaimana kebijakan di Indonesia dibentuk, oleh tarik-menarik kepentingan, bukan hanya angka di spreadsheet.

 

Lebih parah lagi, mereka menderita amnesia historis yang kronis. Mereka bicara tentang “reformasi institusi” seolah-olah Indonesia belum pernah mencobanya. Padahal, kita sudah berkali-kali melakukan reformasi. Banyak yang gagal. Banyak yang tak pernah dievaluasi. Mereka tak belajar dari masa lalu. Dari proyek transmigrasi yang berakhir jadi bencana. Dari program one village one product yang mandek di tengah jalan. Bagi mereka, sejarah Indonesia dimulai dari tahun 1998. Sebelum itu dianggap masa gelap. Tak penting untuk dipahami. Padahal, justru di situlah banyak pelajaran penting yang mestinya jadi dasar berpikir.

 

Yang paling ironis adalah paradoks ketergantungan itu sendiri. Indonesia seolah tak percaya pada kemampuannya sendiri. Para pengguna konsultan asing lebih nyaman menunggu laporan dari konsultan asing ketimbang menggali ide dari dalam negeri. Analisis dianggap kredibel hanya jika datang dari lembaga internasional. Rekomendasi terasa meyakinkan hanya jika dibungkus dalam bahasa Inggris dan dicetak di kertas glossy. Seolah-olah pemikiran lokal tak cukup pintar. Tak cukup canggih untuk memahami persoalan bangsanya sendiri. Padahal, justru di sanalah sumber solusi yang paling relevan dan membumi.

 

Padahal, seperti kata pepatah Betawi: “Elang terbang tinggi, tapi tetep makan bangkai.” Para konsultan ini memang tampak hebat. Mereka datang dengan metodologi yang canggih, bahasa yang keren, dan presentasi yang memukau. Tapi ujung-ujungnya, mereka hanya mengulang hal yang sudah lama diketahui. Masalah yang mereka soroti bukanlah temuan baru. Sudah sejak dulu dibahas oleh akademisi lokal. Sudah lama dirasakan oleh praktisi di lapangan. Mereka hanya membungkus ulang bangkai lama, lalu menjualnya sebagai temuan baru. Bedanya cuma satu: datang dari luar, maka terdengar lebih dipercaya.

 

Fenomena konsultan abal-abal ini telah melahirkan industri konsultansi yang bekerja seperti excavator anggaran negara. Triliunan rupiah dihabiskan setiap tahun. Dibayar untuk laporan-laporan tebal yang ujung-ujungnya hanya berdebu di rak kementerian. Tidak dibaca. Tidak dijalankan. Hanya jadi formalitas. Sementara itu, peneliti lokal yang paham konteks Indonesia justru kekurangan dana. Mereka sulit melakukan riset mendalam karena akses anggaran minim.

 

Yang lebih tragis, banyak dari mereka akhirnya direkrut juga, sebagai “konsultan lokal.” Gajinya kecil. Tapi ide dan analisanya diambil. Lalu dikemas ulang dengan label “keahlian internasional.” Inilah bentuk baru kolonialisme intelektual. Pengetahuan lokal diekstrak, dikemas, dan dijual kembali kepada kita sendiri. Dengan harga yang berkali-kali lipat.

 

Para konsultan ini ikut melanggengkan narasi top-down yang sudah lama mengakar dalam birokrasi Indonesia. Mereka memandang negeri ini seperti mesin besar yang bisa dikendalikan dari Jakarta. Mereka tak pernah benar-benar turun mendengar suara rakyat. Tak mendengar petani di Lombok yang menjual tanah karena gagal panen terus-menerus. Tak melihat nelayan di Riau yang kehilangan mata pencaharian karena laut tercemar industri.

 

Rekomendasi mereka terdengar mulia, "perkuat inklusi sosial," "tingkatkan kualitas SDM." Tapi semua itu kosong, karena tidak lahir dari pemahaman nyata tentang kehidupan di akar rumput. Mereka tak paham bahwa eksklusi sosial di Indonesia bukan hanya soal layanan publik yang sulit dijangkau. Tapi soal struktur kekuasaan. Soal siapa yang punya akses ke tanah, laut, dan modal. Dan siapa yang terus-menerus tersingkir dari sistem.

 

Pertanyaannya sederhana, tapi penting: mengapa Indonesia begitu mudah percaya pada ilusi yang dibuat para konsultan abal-abal?

 

Pertama, karena kita mengalami krisis kepercayaan diri intelektual. Banyak pengguna konsultan asing merasa bahwa analisis berbahasa Inggris dengan referensi jurnal luar negeri pasti lebih hebat. Sementara analisis dalam bahasa Indonesia, meski paham konteks lokal, sering dianggap kurang bergengsi.

 

Kedua, karena budaya jalan pintas dalam birokrasi. Para pengambil kebijakan ingin solusi cepat untuk masalah yang rumit. Mereka lebih suka beli "best practices internasional" ketimbang membangun proses belajar yang panjang dan melelahkan. Tak ada waktu untuk trial and error.

 

Ketiga, karena lemahnya akuntabilitas. Tak banyak yang bertanya apakah rekomendasi dari konsultan itu benar-benar berdampak. Yang penting, proyek sudah jalan. Ada laporan tebal. Ada presentasi untuk atasan. Dan bisa dilaporkan ke donor. Soal hasil? Itu urusan nanti.

 

Jalan keluar dari jebakan konsultan abal-abal bukan dengan menolak bantuan luar, tapi dengan kembali pada akar sendiri, pada epistemologi lokal.

 

Pertama, kita harus membangun kembali kepercayaan diri intelektual. Kita perlu percaya bahwa pemahaman terbaik tentang Indonesia datang dari mereka yang hidup, tumbuh, dan bermimpi di tanah ini. Mereka yang melihat langsung masalah, bukan hanya membaca datanya.

 

Kedua, kita perlu mengubah cara pikir birokrasi. Para pengguna konsultan asing harus berhenti bersikap seperti klien yang tinggal beli solusi. Sudah saatnya bertindak sebagai pemilik masalah, yang terlibat penuh, bertanggung jawab, dan mau belajar dalam proses panjang mencari jalan keluar.

 

Ketiga, kita harus serius memperkuat ekosistem riset dan kebijakan lokal. Perlu investasi jangka panjang untuk membangun kapasitas, kelembagaan, dan infrastruktur riset. Bukan hanya demi laporan yang rapi, tapi demi kebijakan yang kontekstual, tajam, dan berpihak pada rakyat.

 

Indonesia hari ini berdiri di persimpangan antara ilusi dan realitas.

Di satu sisi, ada ilusi bahwa visi Indonesia Emas 2045 bisa dicapai hanya dengan mengikuti saran para konsultan asing. Rekomendasi yang rapi, tapi tak paham medan. Di sisi lain, ada realitas yang menuntut kerja keras, proses belajar tanpa henti, dan keberanian menghadapi rumitnya politik dan kenyataan di lapangan.

 

Seperti pepatah Minang bilang, “Alam takambang jadi guru.” Indonesia harus belajar dari dirinya sendiri. Dari tanahnya, dari rakyatnya, dari sejarah dan kerumitannya. Bukan dari template universal yang dibawa orang luar. Para konsultan asing tak akan pernah mampu menggantikan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman nyata. Mereka bisa memberi masukan, tapi tidak bisa memahami dengan utuh.

 

Maka pertanyaannya: sampai kapan kita terus membeli ilusi yang dibungkus jargon internasional? Kapan kita mulai percaya pada pikiran kita sendiri, pada suara rakyat, dan pada kekuatan lokal? Ataukah kita akan terus terjebak dalam siklus laporan-laporan mewah, yang tampak cerdas, tapi lumpuh di hadapan realitas?

 

Tentang Konsultan yang Sesungguhnya Diperlukan

Agar tidak salah paham, kritik ini bukan serangan membabi buta terhadap semua konsultan. Bukan pula penolakan terhadap kolaborasi global. Ada konsultan yang benar-benar memberi nilai. Terutama mereka yang membawa transfer teknologi dan keahlian teknis di bidang-bidang yang memang belum cukup kuat di Indonesia.

 

Konsultan dalam pengembangan teknologi finansial, energi terbarukan, manufaktur canggih, atau infrastruktur digital, mereka datang dengan solusi nyata. Dengan keahlian spesifik. Dengan pendekatan yang bisa langsung diterapkan. Mereka membantu mempercepat proses belajar. Mereka adalah jembatan yang penting.

 

Yang perlu dikritisi adalah jenis konsultan yang berbeda. Mereka datang membawa analisis makro yang generik. Rekomendasi kebijakan yang abstrak. Tapi minim pemahaman tentang ekonomi-politik Indonesia. Mereka menjual “policy advice” seolah bisa ditransplantasi begitu saja. Padahal tubuh politik kita tidak selalu cocok dengan organ luar yang mereka tawarkan.

 

Bedanya jelas. Konsultan teknis datang untuk menjawab masalah nyata dengan solusi konkret. Konsultan kebijakan yang bermasalah datang dengan template global untuk tantangan struktural yang kompleks. Yang pertama membangun kapasitas. Yang kedua menciptakan ketergantungan.

 

Ini seperti membedakan dokter spesialis dengan paranormal. Dokter datang dengan diagnosis, keahlian, dan tindakan medis. Paranormal datang dengan mantra. Indonesia butuh lebih banyak dokter spesialis, dan lebih sedikit paranormal kebijakan.

 

Karena masalah-masalah besar kita bukan hanya soal teknis. Tapi juga soal adaptasi. Soal bagaimana kita belajar, menyesuaikan, dan membentuk solusi dari dalam. Ini tidak bisa dibeli. Tidak bisa diimpor. Tapi harus tumbuh melalui proses politik yang jujur dan berkelanjutan.

 

Jadi, mari kita hargai konsultan yang datang dengan kerendahan hati dan keahlian nyata. Tapi tetap waspada pada mereka yang datang membawa arogansi, seolah-olah Indonesia bisa diselamatkan hanya dengan template universal dan presentasi PowerPoint.