Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 11 June 2025

PAUD dan Taman Kanak-kanak di Jepang



KONSEP HOIKUEN DAN YOUICHIEN DI JEPANG


RINGKASAN

Konsep hoikuen dan youchien sering kali membuat bingung, karena keduanya merupakan pendidikan untuk anak usia dini. Namun, keduanya memiliki perbedaan dalam sistem pendidikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep hoikuen (保育園) dan youchien (幼稚園) di Jepang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan metode pengumpulan data library research (penelitian kepustakaan). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoikuen umumnya mencakup fasilitas penitipan anak, yang juga disebut nursery, sedangkan youchien mengacu pada taman kanak-kanak. Di hoikuen rata-rata anak akan lebih diajarkan tentang fun activity seperti prakarya, olahraga, mendongeng, musik dan sebagainya. Youchien lebih didedikasikan untuk tujuan pendidikan. Jadi youchien memiliki lebih banyak pelajaran dibandingkan dengan hoikuen.

 

PENDAHULUAN

Membiasakan diri dengan sistem dan cara baru dalam melakukan sesuatu dapat menjadi proses yang terus-menerus dicoba dan berkelanjutan bagi banyak warga negara asing di Jepang. Hal ini terutama berlaku untuk keluarga atau pasangan yang berencana memiliki anak karena pendekatan pemerintah dan masyarakat terhadap anak bisa sangat berbeda, dengan banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dan diatur. Beberapa di antaranya termasuk tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, yang termasuk dalam pendidikan anak usia dini di Jepang.

 

Sebuah pendidikan anak usia dini sangat penting, karena selama 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif (Barham, dkk, 2013). Pada usia dini kemampuan gerak fisik juga perlu diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan pada usia tersebut, anak melakukan gerakan-gerakan mendasar dan terspesialisasi, misalnya berlari, melompat, menendang, melempar, dan berjalan seimbang di atas palang (Gallahue & Ozmun, 2006). Selain perlunya memperhatikan kemampuan kognitif dan psikomotorik (fisik), kemampuan afektif (karakter) juga menjadi perhatian penuh. Karakter akan terus-menerus ada dari penyesuaian manusia. Karakter berkembang secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar, intelektual, emosional, dan kemanusiaan dari manusia (Listyarti, 2012). Oleh karena itu sebagai orang tua, khususnya yang berkarir sehingga memutuskan untuk menyekolahkan anak di Lembaga pendidikan tentu menginginkan kebutuhan anak tercukupi dengan baik.

 

Sistem pendidikan anak usia dini di Jepang bisa sangat membingungkan. Diperlukan penjelasan yang bertujuan untuk mengklarifikasi dan membedakannya agar warga negara asing juga dapat memahaminya. Ada dua pilihan utama di Jepang untuk mengasuh anak kecil di bawah usia 6 tahun, Nursery School atau Sekolah Penitipan Anak (Hoikuen), dan Taman Kanak-Kanak (Youchien). Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi (MEXT), taman kanak-kanak dan sekolah penitipan anak seharusnya konsisten dengan pedoman pendidikan anak usia dini. Artinya mereka memiliki kebijakan pendidikan yang sama. Secara khusus, pedoman tersebut mencakup membangun hubungan saling percaya antara anak dan pengasuh, menyediakan lingkungan yang sesuai dan menghargai aktivitas mandiri anak, serta memberikan bimbingan yang disesuaikan dengan individualitas dan perkembangan setiap anak. Secara khusus, sejak usia tiga tahun ditetapkan bahwa tidak boleh ada perbedaan pendidikan antara taman kanak-kanak dan sekolah penitipan anak.

 

Menurut Hayashi dan Tobin (2017), selama lebih dari satu abad telah ada dua bentuk penyediaan Early Childhood Education and Care (ECEC) di Jepang, yakni yōchien (taman kanak-kanak untuk anak usia 3-6 tahun) dan hoikuen (tempat penitipan anak untuk anak usia 0-6 tahun). Yōho Ichigenka (TK/Tempat Penitipan Anak/Center Synthesis) adalah sebuah kebijakan yang menyerukan untuk menggabungkan kedua institusi ini menjadi program jenis baru disebut kodomoen (pusat pengasuhan dan pendidikan anak terpadu), dan penempatan kedua bentuk penyediaan pendidikan anak usia dini di bawah satu struktur pemerintahan pusat.

 

Kebijakan penggabungan program kodomoen ini, pertama kali diusulkan pada tahun 1963, dipromosikan selama beberapa dekade secara berkala oleh pemerintah, tetapi dengan sedikit kemajuan menuju merger (penggabungan). Kendalanya adalah pusat penitipan anak dan taman kanak-kanak telah lama dikelola secara berbeda oleh kementerian pemerintah, taman kanak-kanak oleh kementerian pendidikan, kebudayaan, olahraga, sains, dan teknologi (selanjutnya disebut MEXT), dan pusat penitipan anak oleh kementerian kesehatan, tenaga kerja, dan kesejahteraan (selanjutnya disebut MHLW). Terciptanya sistem terpadu anak usia dini pendidikan dan perawatan karena itu diperlukan tidak hanya kompromi antara dua besar birokrasi yang kuat, tetapi juga antara dua sektor pendidikan anak usia dini dengan sejarah, tujuan, dan konstituen yang berbeda.

 

Penelitian sebelumnya terkait konsep hoikuen dan youchien di Jepang pernah dilakukan oleh Velliaris dan Willis (2013). Batasan utama yang diteliti adalah pilihan sekolah berpusat pada orang tua yang memutuskan di mana dan bagaimana anaknya akan dididik. Pilihan sekolah merupakan otoritas yang dilakukan orang tua dalam membuat keputusan tentang di mana anak-anak mereka akan bersekolah, dan memilih jalur pendidikan tertentu untuk anak-anaknya. Sebagian besar orang tua memiliki komitmen yang mendalam terhadap pendidikan anak-anaknya sejak masa kanak-kanak untuk mengembangkan pembelajaran kognitif, kesehatan dan kebahagiaan. Tujuan utama hoikuen adalah untuk menjaga keamanan dan gizi anak-anak, youchien dipertimbangkan lebih mendidik karena ada fokus akademik yang lebih besar.

 

Penelitian mengenai konsep hoikuen dan youchien juga pernah dilakukan oleh Ulfa (2014). Pada penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa pendidikan anak usia dini sudah seharusnya mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal. Pendidikan hoikuen dan youchien juga menerapkan hal serupa. Penerapan konsep nilai-nilai kearifan lokal bisa menjadi salah satu solusi agar anak tidak kehilangan jati diri bangsanya. Fitriawan (2016) melakukan penelitian sejenis. Di dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa metode pembelajaran montessori diterapkan pada pendidikan anak usia dini di Jepang, baik hoikuen maupun youchien. Penerapan metode tersebut juga memperhatikan prinsip-prinsip dan kebutuhan perkembangannya. Lebih lanjut, Mulyadi (2019) dalam penelitiannya juga mengungkapkan adanya perbedaan dan persamaan antara konsep hoikuen dan youchien. Penelitiannya mengkaji mengenai pendidikan karakter di pendidikan anak usia dini di Jepang. Penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa pembelajaran hoikuen dan youchien disesuaikan dengan perkembangan anak dan kebijakan pemerintah.

 

Topik terkait konsep hoikuen dan youchien di Jepang sangat menarik untuk dikaji. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan konsep hoikuen (保育園) dan youchien (幼稚園) di Jepang. Warga negara asing yang memiliki anak usia dini dan bermukim di Jepang tidak jarang mengalami kebingungan memahami hoikuen dan youchien tersebut. Menarik benang merah dari beberapa paparan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kedua bentuk pendidikan anak usia dini (PAUD) di Jepang, terdiri dari sekolah taman kanak-kanak (yochien) dan sekolah penitipan anak (hoikuen). Orang tua dapat mendaftarkan anaknya pada program pendidikan anak usia dini sebelum sekolah dasar. Sekolah taman kanak-kanak didirikan di bawah yuridiksi Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (sekarang Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan). Pada penelitian kali ini, penelitian ini bertujuan menjelaskan mengenai konsep pendidikan hoikuen dan youchien. Penelitian difokuskan untuk mengkaji konsep pembelajaran pendidikan hoikuen dan youchien dengan tujuan warga negara asing di Jepang mampu memilih pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak. Penelitian ini ingin mendeskripsikan lebih lanjut mengenai perbedaan antara kedua pendidikan tersebut.

 

METODE

 

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan adalah penelitian ilmiah yang dilakukan dengan bantuan kepustakaan, baik berupa buku, catatan atau laporan hasil penelitian sebelumnya. Pengumpulan data penelitian kepustakaan difokuskan pada pencarian data atau informasi melalui dokumen elektronik yang dapat diakses melalui website, artikel dalam jurnal, artikel dalam blog, foto/gambar, serta melalui platform youtube. Data-data terkait data mengenai youchien di Jepang diperoleh melalui website, platform youtube, serta sumber studi literatur dari informan yang tinggal di Jepang dan memiliki anak usia dini yang pernah bersekolah di youchien. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi. Analisis isi digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi, termasuk surat kabar, berita radio, iklan televisi, dokumen, foto, gambar, dan dokumen elektronik yang tersedia melalui situs web. Teknik analisis data dilakukan dengan membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai literatur yang ada (Sutrisno, 2002).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hoikuen (保育園)

Pengasuhan anak Jepang, bentuk pertama hoikuen, atau pengasuhan anak Jepang, diluncurkan pada tahun 1890 dan awalnya dirancang untuk anak-anak orang miskin (Boocock, 1989: 44–45). Saat ini, hoikuen adalah lembaga publik non-wajib yang dijalankan oleh pemerintah Jepang hingga 8 jam per hari dan 6 hari per minggu, melayani anak-anak dari usia 6 minggu hingga 6 tahun. Itu merupakan dua bagian hoikuen termasuk pusat pengasuhan anak untuk anak di bawah 3 tahun yang sebanding ke format penitipan anak dalam budaya Barat, dan program prasekolah 3 tahun untuk anak-anak 3 tahun dan lebih tua (Holloway and Yamamoto, 2003). Di Jepang, ada tiga jenis sekolah penitipan anak, terdiri dari: Sekolah penitipan anak umum/negeri (dioperasikan oleh pemerintah daerah, jadi ada standar tertentu untuk kebijakan dan lingkungan), Pusat penitipan anak swasta (dengan kebijakan mereka sendiri), dan Pusat penitipan anak yang tidak disetujui (di luar standar nasional).

 

Memasuki pusat penitipan anak berlisensi, baik negeri maupun swasta, pemerintah daerah harus menyatakan bahwa anak tersebut membutuhkan pengasuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu menyiapkan sertifikat dan dokumen yang diperlukan untuk menerima persetujuan. Hal ini diwajibkan oleh pemerintah untuk memastikan bahwa keluarga yang membutuhkan lebih banyak dukungan, seperti keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja penuh waktu atau ibu/ayah tunggal, dapat memperoleh prioritas fasilitas ini. Sistem ini diterapkan sebagai tanggapan atas kekurangan fasilitas penitipan anak akibat meningkatnya jumlah perempuan yang terus bekerja setelah cuti melahirkan, terutama di daerah perkotaan.

 

Di tempat penitipan anak, anak-anak mempelajari berbagai hal melalui kegiatan kelompok seperti bermain di dalam dan luar ruangan, waktu makan siang dan kudapan, serta tidur siang. Ini bukan hanya tempat di mana orang tua dapat bekerja sambil mengasuh anak-anak mereka, tetapi juga tempat di mana anak-anak dapat mengembangkan keterampilan sosial mereka, sehingga membantu mereka tumbuh. Pusat penitipan anak swasta dan pusat penitipan anak tidak berlisensi memiliki kebijakan dan jam pendidikan yang berbeda, jadi yang terbaik adalah mengunjungi pusat tersebut terlebih dahulu dan memilih yang paling sesuai dengan gaya hidup dan kepribadian anak.

 

Dalam kebanyakan kasus, anak-anak masuk tempat penitipan anak di Jepang pada bulan April. Membuat perencanaan kunjungan (buat janji temu melalui telepon dengan setiap tempat penitipan anak sekitar bulan April hingga September pada tahun sebelum orang tua ingin mendaftarkan anak-anaknya). Kirim formulir aplikasi untuk masuk (mulai sekitar bulan Oktober lebih aman untuk mulai menyiapkan dokumen sedini mungkin). Melakukan wawancara dengan staf tempat penitipan anak. Tempat penitipan anak menerima pendaftaran anak.

 

Merupakan ide bagus untuk mengunjungi tempat penitipan anak sehingga orang tua dapat melihat hubungan antara staf tempat penitipan anak dan anak-anak yang dititipkan, serta keadaan fasilitas tempat itu sendiri. Banyak tempat penitipan anak menerima kunjungan sepanjang tahun, tetapi ekspektasi umum adalah menelepon setiap tempat penitipan anak antara bulan Mei dan September untuk menjadwalkan kunjungan dengan tempat penitipan anak tersebut. Sebagian besar tempat penitipan anak menerima aplikasi dari Oktober hingga Desember tahun sebelum anak mulai masuk. Orang tua harus menyiapkan semua dokumen anak sebelum mendaftar. Sudah merupakan hal yang umum ketika orang tua mendaftarkan anak-anaknya ke beberapa tempat penitipan anak untuk mendapatkan peluang yang lebih baik untuk mendapatkan tempat.

 

Dalam beberapa kasus, tidak ada wawancara sebelum penerimaan anak. Wawancara sebelum penerimaan terutama untuk mengkonfirmasi isi dokumen lamaran dan menanyakan tentang perlunya pengasuhan anak untuk keluarga. Sebagian besar pemerintah kota akan mengirimi orang tua surat penawaran melalui pos sekitar bulan Januari atau Februari. Ada beberapa sekolah yang tidak menghubungi orang tua jika orang tua gagal dalam proses seleksi, jadi ada baiknya orang tua mengecek terlebih dahulu apakah akan ada pemberitahuan atau tidak, dan kapan akan dikirimkan. Jika orang tua terpilih untuk masuk, pastikan untuk mengkonfirmasi jadwal sesi informasi dan wawancara. Jika orang tua tidak diterima, orang tua harus mencari tempat penitipan anak yang memiliki proses aplikasi kedua atau tempat penitipan anak yang tanpa izin.

 

Hoikuen terus dianggap sebagai fasilitas penitipan anak daripada lembaga pendidikan. Fungsi utamanya adalah untuk mengakomodasi anak-anak saat mereka terpisah dari orang tuanya. Intinya, tujuan utama hoikuen adalah menjaga anak-anak tetap aman dan terpelihara (melalui program gizi sekolah umum), dan pendidikan dapat dilihat sebagai tujuan sekunder. Saat ini, hoikuen publik dan swasta tersedia, tanpa perbedaan biaya yang mencolok. Alih-alih membebankan satu biaya standar, biaya dapat bervariasi dan ditentukan oleh pendapatan keluarga dan jumlah pajak yang dibayar orang tua atau wali (Boocock, 1989).

 

Gambar 1 Suasana di Hoikuen

Gambar 1 merupakan suasana di salah satu hoikuen di kota Suzuka, prefektur Mie Jepang.

Para siswa melakukan kegiatan bersama staf di tempat penitipan anak. Kegiatan di halaman hoikuen tersebut dilakukan bersama-sama dalam bimbingan serta pemantauan dari sensei. Dengan bertambahnya jumlah ibu yang terus bekerja setelah melahirkan, hoikuen atau nursery school (tempat penitipan anak) sangat membantu setiap keluarga di Jepang. Hoikuen disebut juga Nursery School atau Day Care, biasanya ini diperuntukkan bagi ibu yang bekerja. Karena disini, para ibu bekerja bisa menitipkan anaknya dari usia 6 bulan hingga 6 tahun (tergantung peraturan setiap Hoikuen di setiap kota). Meski tidak ada batasan mengenai jumlah anak yang diasuh dalam satu ruang kelas, namun terdapat rasio standar minimum yang dianjurkan yakni 1:3 untuk anak usia dibawah 1 tahun; 1:6 untuk anak usia 1-3 tahun; 1:20 untuk anak usia 3-4 tahun; dan 1:30 untuk anak usia diatas 4 tahun (Chesky, 2011).

 

Saat di hoikuen, orang tua tidak perlu menyediakan bekal makan siang, karena pihak sekolah yang menyediakannya. Hal tersebut dikarenakan fungsi utamanya adalah untuk menampung, menjaga, serta memperhatihan gizi ketika terpisah dengan orang tuanya (Velliaris dan Willis, 2013). Oleh karena itu, hampir semua hoikuen bekerjasama dengan dokter, suster dan ahli nutrisi. Hoikuen tidak mempunyai seragam khusus dan tidak ada target akademis yang harus dicapai anak. Secara akademis, di hoikuen rata-rata anak akan lebih diajarkan tentang fun activity seperti prakarya, olahraga, mendongeng, musik dan sebagainya. Sehingga, dalam hal pelajaran, akan dirasa lebih kurang dari youchien. Pendidikan hoikuen bertujuan untuk mengajari anak menjalin hubungan sosial yang baik dan benar, sedangkan youchien bertujuan untuk membangun landasan hidup yang kuat (Juliandi, 2014).

 

Pembelajaran yang berbasis fun activity tersebut meningkatkan kemampuan fisik (motorik) anak. Meskipun berbasis fun activity namun setidaknya terdapat tujuh dasar kemampuan fisik anak yang perlu untuk diperhatikan, yaitu (1) lari 25 m, (2) melompat, (3) melempar bola, (4) mengangkat badan, (5) melompat dengan dua kaki dalam jarak yang sama urutan, (6) menangkap bola, dan (7) berlari pada lintasan tertentu pulang pergi (Murni, dkk, 2017). Kegiatan yang melibatkan fisik menjadi salah satu program untuk mencegah penyakit dan menjamin kehidupan sehat di usia dini (Traveras, dkk, 2005). Hal tersebut juga sejalan dengan tujuan pembelajaran di hoikuen yakni membantu tumbuh kembang anak baik secara fisik ataupun mental.

 

Youchien (幼稚園)

Youchien terbuka untuk anak-anak terlepas dari status pekerjaan orang tua mereka. Jamnya seringkali lebih pendek, dengan liburan panjang yang sesuai dengan tahun ajaran reguler. Ini karena lebih berbasis pendidikan dan dianggap sebagai langkah menuju sistem pendidikan reguler, daripada dimaksudkan agar sesuai dengan jam kerja orang tua. Berbeda dengan hoikuen, awalnya youchien atau taman kanak-kanak Jepang dirancang untuk anak-anak orang kaya (Boocock, 1989: 44–45). Youchien pertama di Jepang dibuka di Tokyo pada tahun 1876 sebagai entitas publik, dan youchien swasta pertama dibuka 4 tahun kemudian. Saat ini, youchien swasta adalah pusat swasta non-wajib yang melayani anak-anak dari usia 3 hingga 6 tahun dan beroperasi antara 4 dan 5 jam per hari kerja. Dua jenis youchien termasuk program 2 tahun untuk anak usia 4 hingga 6 tahun, dan program 3 tahun untuk anak usia 3 hingga 6 tahun (Holloway dan Yamamoto, 2003).

 

Youchien biasanya dibagi menjadi tiga tingkat kelas, yaitu anak usia 3 hingga 4 tahun, 4 hingga 5 tahun dan 5 hingga 6 tahun. Meskipun tidak ada syarat rasio minimum adult-to-child, sebagian besar mempertahankan jumlah di bawah 30 siswa per kelas (Velliaris dan Willis, 2013). Kadang-kadang, kelas akan memiliki lebih dari satu guru, paling sering di kelas termuda. Sementara tujuan utama hoikuen adalah untuk menjaga keamanan dan gizi anak-anak, youchien dipertimbangkan lebih mendidik karena ada fokus akademik yang lebih besar (Boocock, 1989). Artinya, tujuan primer youchien adalah mempersiapkan anak-anak untuk sekolah dasar Jepang. Youchien cenderung sebagai entitas independen dan tidak dianggap sebagai bagian dari sekolah dasar. Namun, terkadang merek berdampingan dengan SD, SMP dan SMA, dan dalam beberapa kasus, universitas, semua di bawah payung lembaga pendidikan berbadan hukum. Sekolah-sekolah ini sering dibangun di situs yang sama, pengaturan disebut sebagai 'pendidikan yang konsisten' (Boocock, 1989).

 

Cenderung ada banyak persaingan di antara youchien, dan jumlah pelamar melebihi jumlah bukaan, sistem undian dapat digunakan. Untuk masuk, beberapa youchien melakukan sistem seleksi wawancara dan ujian masuk lainnya yang mengharuskan anak mampu menyebutkan dan menulis nama mereka sendiri. Biaya sekolah youchien swasta mungkin dua kali lebih mahal daripada youchien negeri dan seringkali kurikulumnya didasarkan pada tema dan ditetapkan oleh masing-masing sekolah, seperti youchien berbasis seni, youchien berbasis alam atau youchien berbasis agama.

 

Youchien disebut juga Kindergarten atau Taman Kanak-Kanak. Youchien lebih didedikasikan untuk tujuan pendidikan. Jadi youchien memiliki lebih banyak pelajaran dibandingkan dengan hoikuen. Anak-anak di sekolah youchien juga diharuskan membawa makan siang sendiri walaupun terkadang youchien menyiapkan bekal sekolah dan belajar matematika, pendidikan jasmani, menulis dan membaca, serta mata pelajaran lainnya. Di Youchien, anak-anak harus mengenakan seragam sekolah.

 

Gambar 2 Suasana Siswa Youchien di Kelas

Gambar 2 merupakan suasana siswa salah satu youchien di kota Mito prefektur Ibaraki Jepang saat berada di kelas ketika kunjungan orang tua diadakan.

Para siswa mengenakan seragam berwarna biru, berdasarkan gambar terlihat sensei sedang memberikan bimbingan, dan para orang tua melihat anak-anak mereka dari samping. Hal tersebut sesuai dengan Ulfa (2014) yang menyatakan bahwa guru mendorong anak untuk berani mencoba dan memberikan pujian jika menunjukkan kemajuan, meski hanya sedikit.

 

Pendidikan youchien di Jepang didasari oleh tiga hal, antara lain: 1) anak-anak mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin; 2) anak-anak belajar melalui bermain; 3) anak-anak berkembang sesuai sifat dan karakter masing-masing. Disamping itu pendidikan di Jepang juga menjunjung pembelajarn karakter. Untuk melatih keberanian, orang tua tidak diperkenankan menunggu di sekolah. Melalui sistem tersebut, anak-anak terlatih mandiri dan berani memasuki lingkungan baru (Mulyadi, 2019).

 

Gambar 3 Suasana Belajar Siswa Youchien di Kelas

Gambar 3 terlihat sensei (guru) sedang menjelaskan tentang salah satu huruf hiragana di papan tulis.

Para siswa menyimak penjelasan tentang huruf hiragana tersebut. Menurut teori pembelajaran montessori, anak usia 3-6 tahun kepekaan indrawinya semakin tinggi (Fitriawan, 2016). Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikannya agar anak mampu berkembang sesuai perkembangannya. Lebih lanjut teori montessori sejalan dengan teori tokoh Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang sangat menyakini dengan prinsip asih (mengasihi), asah (memahirkan), dan asuh (membimbing) (Soeratman, 1985).

 

Gambar 4 Siswa Youchien Latihan Menulis Huruf Hiragana

Gambar 4 menunjukkan seorang siswa youchien sedang latihan menulis salah satu huruf hiragana.

Setelah menyimak penjelasan sensei tentang huruf hiragana, masing-masing siswa kemudian berlatih menulis huruf hiragana di buku tulisnya. Para siswa di youchien diajarkan bahasa nasional (Jepang), sopan santun, komunikasi dengan orang lain, serta kerjasama dengan orang lain (teamwork) dan rasa tanggung jawab (Velliaris dan Willis, 2013). Selain itu, hasil karya anak-anak yang terbaik juga akan dipajang dengan tujuan mengajarkan pentingnya menghargai karya orang lain (Ulfa, 2014).

 

Gambar 5 Bus Sekolah

Biaya yang dibutuhkan untuk youchien lebih banyak. Hal tersebut, dikarenakan pihak sekolah biasanya menetapkan biaya tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku di sekolah tersebut. Biaya tersebut meliputi PIBG, buku, seragam, dan sebagainya (Abdullah, 2021). Tidak seperti kebanyakan hoikuen (terutama di kota), anak-anak yang pergi ke youchien dapat dijemput dengan bus jika sekolah jauh dari rumah mereka. Ini mungkin dikenakan biaya tambahan. Selalu ada guru di dalam bus sehingga orang tua dapat merasa yakin bahwa anak-anaknya aman dan selalu diawasi.

 

SIMPULAN

Perbedaan utama antara hoikuen dan youchien adalah aspek pengasuhan anak dan aspek pendidikan. Hoikuen dapat dimulai dari usia yang lebih muda dan lebih fokus pada pengasuhan anak secara umum, sedangkan youchien dimulai dari usia yang lebih tua dan mencakup topik dan aktivitas berbasis pendidikan yang lebih luas. Secara akademis, di hoikuen rata-rata anak akan lebih diajarkan tentang fun activity seperti prakarya, olahraga, mendongeng, musik dan sebagainya. Sehingga, dalam hal pelajaran, akan dirasa lebih kurang dari youchien. Youchien lebih didedikasikan untuk tujuan pendidikan. Di Youchien, anak-anak harus mengenakan seragam sekolah, selain itu mereka juga belajar materi dasar berupa matematika, pendidikan jasmani, menulis dan membaca, serta mata pelajaran lainnya.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penelitian. Pihak-pihak tersebut yakni informan FED sebagai warga negara Indonesia di Jepang, serta teman-teman rekan sejawat yang membantu memberikan referensi dan saran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Afifah Binti. 2021. Kajian Perbandingn Terhadap Isu dan Perhatian dalam Pendidikan Awal Kanak-Kanak di Malaysia dan Jepun. Jurnal Al-Sirat, 1(17).

Asmaradayana. 2011. Lawatan ke Yocien Haziq. Di akses melalui tautan, http://asmaradayana.blogspot.com/2011/05/lawatan-ke-yochien-haziq.html.

Barham, T., Macours, K., & Maluccio, J. 2013. Boys’ Cognitive Skill Formation and Physical Growth: Long-Term Experimental Evidence on Critical Ages for Early Childhood Interventions. American Economic Review: Papers & Proceedings, 103(3), 467-471.

Barnett, Steven. 1995. Long Term Effects of Early Childhood Programs on Cognitive and School Outcomes. The Future of Children 5(3): 25–50.

Boocock SS. 1989. Controlled Diversity: an Overview of the Japanese Preschool System. Journal of Japanese Studies 15(1): 41–65.

Chesky, A.K. 2011. Hoikuen or Yochien: Past, Present, and Future of Japanese Early Childhood Education. Childhood Education 87(4): 239–243.

Fitriawan, Fuad. 2016. Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Melalui Prinsip Pendidikan Montessori Pada Anak Usia Dini. Qalamuna-Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama 8(2).

Gallahue, D., & Ozmun, J. 2006. Understanding Motor Development: Infants ,Children, Adolescents, Adults. Boston: McGraw Hill.

Galupe, S.W. (2020). Kyle's First Visit To His Hoikuen [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=Oy-5whR0RfI.

Hayashi A., Tobin J. 2017. Reforming the Japanese Preschool System: An Ethnographic Case Study of Policy Implementation. Arizona State University.

Holloway SD and Yamamoto Y. 2003. Early childhood education teachers in Japan. In: Saracho ON and Spodek B (eds) Studying Teachers in Early Childhood Settings. Greenwich, CT: Information Age, pp.181–209.

Juliandi, Putri. 2014. Pendidikan Anak Ala Jepang. Jakarta: Gramedia.

Listyarti, Retno. 2012. Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif dan Kreatif. Jakarta: Erlangga.

Maria Montessori, 2016, Rahasia Masa Kanak-kanak, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Maunah, Binti. 2016. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Kalimedia.

Mulyadi, Budi, 2014. Model Pendidikan Karakter dalam Masyarakat Jepang. Jurnal Izumi, 3(1), 69-80.

Mulyadi, Budi. 2019. Model Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Dan Anak Usia Sekolah Dasar di Jepang. Kiryoku, 3(3)2019.

Murni, Ramlia, Yudianto Sujanaa, Dyah Yuni Kurniawati, Matsuri. 2017. Adopting Physical Activities and Physical Skills of Japanese Early Childhood Model. Atlantis Press: Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), vol. 58.

Soeratman. 1985. D. Ki Hajar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Sutrisno, H., 2002. Metodologi Reserch. Yogyakarta: Andi Ofset.

Taveras, E.M., Rifas-Shiman, S.L., Berkey, C.S., Rockett, H.R.H., Field, A.E., Frazier, A.L., Colditz, G.A., Gillman, M. W. 2005. Family Dinner and Adolescent Overweight. Obesity Research, 13, 900-906.

Triharjaningrum, A., dkk. 2007. Peranan Orang Tua dan Praktisi Dalam Membantu Tumbuh Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren Pendidikan. Jakarta: Prenada.

Uemaru, Yuna & Yurika Akashi. 2015. An Introduction to Japanese Preschool Education. Di akses melalui tautan, https://blog.littlelives.com/an-introduction-to-japanese-preschool-education-556477b84d2f.

Ulfa, R. A. 2014. Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Melalui Prinsip Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (BPKL) Pada Pendidikan Anak Usia Dini. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan Dan Keagamaan, 9(2), 207-222.

Velliaris, D. M., and Willis, C.R. 2013. School Choice for Transnational Parents in Tokyo. Journal of Research in International Education,12(3)228-238.

Venture, Alex. 2023. Japanese Kindergarten School (Youchien) 幼稚園 [Video].Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=FERa0XjzC1I.

 

SUMBER:

Yenny Jeine Wahani. 2023. Konsep Hoikuen dan Youchien di Jepang.  Journal of Education Research, 4 (4), 2023, Pages 1785-1792

Monday, 9 June 2025

Teladan Panglima Besar Jenderal Sudirman



Jenderal Sudirman Panglima Besar yang Tak Pernah Menyerah

 

Jenderal Sudirman adalah salah satu pahlawan paling dihormati dalam sejarah Indonesia. Ia merupakan Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama, yang dikenal karena keberanian, kesetiaan, dan semangat juangnya dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa. Mengenang perjuangannya bukan hanya mengenang sejarah, tapi juga menanamkan semangat patriotisme kepada generasi muda.

 

Awal Kehidupan: Dari Seorang Guru Menjadi Seorang Pejuang

Sudirman lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Sejak kecil, ia dikenal rajin, tekun, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain. Ia bersekolah di sekolah pribumi, lalu melanjutkan ke sekolah milik Taman Siswa dan Muhammadiyah. Meski tidak sempat menyelesaikan pendidikan guru secara formal, Sudirman tetap diangkat menjadi guru di sekolah dasar Muhammadiyah di Cilacap. Ia juga aktif di organisasi Pramuka Hizbul Wathan dan menjadi sosok yang sangat dihormati di lingkungan sekitarnya.

 

Masa Penjajahan Jepang: Menjadi Komandan PETA

Pada masa pendudukan Jepang, Sudirman bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Karena wibawanya yang besar dan kepemimpinannya yang menonjol, ia diangkat menjadi komandan (daidanco). Inilah awal keterlibatannya dalam dunia militer yang kelak membentuknya menjadi pemimpin besar.

 

Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Sudirman menjadi salah satu tokoh penting yang mengambil alih senjata dari pasukan Jepang. Ia kemudian menjadi Komandan Batalyon di Kroya dan terus naik pangkat berkat keuletan dan keberaniannya.

 

Menjadi Panglima Besar TNI

Pada November 1945, setelah melalui pemungutan suara, Sudirman terpilih sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI. Tak lama setelah itu, ia memimpin pertempuran hebat melawan pasukan Sekutu dan Belanda di Ambarawa. Kemenangan dalam pertempuran tersebut membuat Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi Jenderal dan Panglima Besar TKR pada 18 Desember 1945, meskipun usianya saat itu masih 29 tahun.

 

Perang Gerilya: Melawan Penjajah Meski Sakit

Perjuangan Jenderal Sudirman tak berhenti sampai di situ. Ketika Belanda kembali menyerang melalui Agresi Militer II pada akhir tahun 1948, Sudirman, yang saat itu tengah menderita sakit tuberkulosis (TBC), tetap memimpin perang gerilya. Ia menolak menyerah dan memilih bergerilya bersama pasukannya ke pelosok-pelosok Jawa. Dalam kondisi fisik yang lemah, ia tetap memimpin selama tujuh bulan penuh, berpindah-pindah tempat demi mempertahankan kemerdekaan.

 

Perang gerilya ini menunjukkan semangat pantang menyerah Jenderal Sudirman. Ia menjadi simbol perlawanan yang teguh dan setia pada rakyat serta Tanah Air. Ketika Belanda akhirnya bersedia mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1949, Sudirman telah memberi bukti nyata bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tapi diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

 

Akhir Hayat Sang Pahlawan

Kondisi kesehatan Sudirman semakin menurun akibat perjuangan panjang dalam perang dan penyakit TBC yang dideritanya. Ia sempat dirawat di Panti Rapih Yogyakarta dan kemudian dipindahkan ke Magelang. Pada 29 Januari 1950, Jenderal Sudirman wafat pada usia 34 tahun.

 

Kabar wafatnya disiarkan langsung oleh RRI, dan rakyat Indonesia berduka. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ribuan rakyat ikut mengiringi kepergiannya, tanda betapa besar rasa hormat dan cinta mereka kepada sang panglima.

 

Teladan Bagi Generasi Muda

Kisah hidup Jenderal Sudirman adalah contoh nyata bahwa siapa pun bisa menjadi pahlawan jika memiliki tekad, keberanian, dan semangat juang. Ia memulai karier sebagai guru sederhana, namun dengan semangat yang tak pernah padam, ia menjadi panglima besar yang dikenang sepanjang masa.

 

Bagi generasi muda, terutama pelajar Indonesia, kisah ini mengajarkan pentingnya cinta Tanah Air, tanggung jawab, dan pengorbanan demi bangsa. Mari kita terus mengenang jasa Jenderal Sudirman dan menjadikannya inspirasi dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

Sunday, 8 June 2025

Vaksin DNA



Vaksin DNA bekerja dengan cara mengantarkan DNA yang mengkode antigen tertentu ke dalam tubuh, sehingga mendorong sel-sel tubuh untuk memproduksi antigen tersebut. Antigen ini kemudian memicu respons imun, serupa dengan vaksin tradisional.

 

Berikut ini penjelasan rinci mengenai mekanismenya:

 

  1. Pengantaran dan Penyerapan:
  • Vaksin DNA umumnya diberikan melalui injeksi intramuskular (i.m.), alat penembak gen (gene gun), atau metode lainnya.
  • DNA, biasanya dalam bentuk plasmid, masuk ke dalam sel-sel jaringan tempat injeksi dilakukan.
  • DNA ini diserap oleh berbagai jenis sel, termasuk sel otot dan sel penyaji antigen (APC) seperti sel dendritik dan makrofag.
  1. Ekspresi Gen dan Produksi Antigen:
  • Setelah berada di dalam sel, DNA plasmid ditranskripsi menjadi RNA duta (mRNA).
  • mRNA tersebut kemudian diterjemahkan menjadi protein antigen target, yaitu protein spesifik yang dirancang untuk memicu respons imun.
  • Antigen ini diproduksi di dalam sel inang.
  1. Penyajian Antigen:
  • Antigen yang dihasilkan kemudian diproses dan disajikan di permukaan sel, biasanya oleh molekul MHC (major histocompatibility complex).
  • MHC kelas I, yang terdapat pada semua sel berinti, menyajikan antigen kepada sel T sitotoksik, yang dapat menghancurkan sel-sel yang mengandung antigen target.
  • MHC kelas II, yang terutama terdapat pada APC, menyajikan antigen kepada sel T helper, yang akan membantu mengaktifkan sel-sel imun lainnya.
  1. Respons Imun:
  • Kompleks antigen-MHC di permukaan sel akan berinteraksi dengan sel T (baik T helper maupun T sitotoksik).
  • Interaksi ini mengaktifkan sistem imun, yang kemudian menghasilkan antibodi dan mengaktifkan sel T yang dapat mengenali serta menghancurkan antigen.
  • Respons imun juga dapat melibatkan aktivasi sel B, yang memproduksi antibodi untuk menetralkan antigen target.
  1. Pembentukan Memori Imun:
  • Respons imun terhadap vaksin DNA juga dapat menghasilkan sel memori, yang memberikan perlindungan jangka panjang terhadap paparan antigen di masa depan.
  • Sel memori ini dapat dengan cepat diaktifkan dan memulai respons imun bila tubuh kembali menemukan antigen yang sama.


Kesimpulan:

Secara sederhana, vaksin DNA bekerja dengan memberikan "cetak biru" kepada tubuh untuk memproduksi antigen tertentu, yang kemudian akan memicu respons imun yang kuat dan tahan lama terhadap antigen tersebut.

 

Vaksin Inaktif


Vaksin inaktif (atau vaksin mati) adalah jenis vaksin yang mengandung patogen (seperti virus atau bakteri) yang telah dimatikan atau diinaktivasi, sehingga tidak dapat bereplikasi atau menyebabkan penyakit. Sebaliknya, vaksin hidup menggunakan patogen yang masih hidup (namun hampir selalu dilemahkan atau attenuated). Patogen untuk vaksin inaktif dikembangkan dalam kondisi yang terkontrol dan dimatikan sebagai upaya untuk mengurangi infektivitas, sehingga mencegah infeksi akibat vaksin tersebut (1).

 

Vaksin inaktif pertama kali dikembangkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk penyakit kolera, pes, dan tifus (2). Pada tahun 1897, ilmuwan Jepang mengembangkan vaksin inaktif untuk penyakit pes. Pada tahun 1950-an, Jonas Salk menciptakan vaksin inaktif untuk virus polio, yang menjadi vaksin pertama yang aman dan efektif melawan penyakit polio. Saat ini, vaksin inaktif tersedia untuk berbagai patogen, termasuk influenza, polio (IPV), rabies, hepatitis A, CoronaVac, Covaxin, dan pertusis (3)(4).

 

Karena patogen yang diinaktivasi cenderung menghasilkan respons imun yang lebih lemah dibandingkan patogen hidup, beberapa vaksin inaktif memerlukan adjuvan imunologis serta suntikan penguat (booster) berulang untuk menghasilkan respons imun yang efektif terhadap patogen tersebut (1)(5)(6). Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya lebih disukai untuk individu yang sehat, karena satu dosis biasanya cukup aman dan sangat efektif. Namun, beberapa orang tidak dapat menerima vaksin hidup karena patogen masih terlalu berisiko bagi mereka (misalnya, lansia atau individu dengan imunodefisiensi). Bagi kelompok ini, vaksin inaktif dapat memberikan perlindungan [butuh referensi].

 

Mekanisme

Partikel patogen dimusnahkan dan tidak dapat bereplikasi, namun tetap mempertahankan sebagian integritasnya agar dapat dikenali oleh sistem imun dan memicu respons imun adaptif (7)(8). Bila diproduksi dengan benar, vaksin ini tidak menimbulkan infeksi, namun proses inaktivasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan partikel patogen tetap utuh dan infeksius.

 

Ketika vaksin disuntikkan, antigen akan diambil oleh sel penyaji antigen (antigen-presenting cell/APC) dan dibawa ke kelenjar getah bening regional pada individu yang divaksinasi. APC akan menampilkan bagian dari antigen tersebut (epitop) di permukaannya bersama molekul kompleks histokompatibilitas utama (MHC). APC kemudian dapat berinteraksi dengan dan mengaktivasi sel T. Sel T penolong (helper T cell) yang dihasilkan akan merangsang respons imun yang dimediasi antibodi atau sel, dan membentuk respons adaptif yang spesifik terhadap antigen (9)(10). Proses ini membentuk memori imunologis terhadap patogen tertentu dan memungkinkan sistem imun merespons lebih cepat dan efektif saat terpapar kembali (7)(9)(10).

 

Vaksin inaktif cenderung menghasilkan respons imun yang terutama dimediasi oleh antibodi (3)(11). Namun, pemilihan adjuvan yang tepat dapat memungkinkan vaksin inaktif untuk merangsang respons imun yang lebih kuat yang dimediasi oleh sel (1)(8).

 

Dampak Sosial

Penggunaan vaksin inaktif telah membantu mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit seperti tetanus, difteri, dan pertusis, sehingga menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan stabil. Kesehatan masyarakat meningkat, terutama di negara maju yang memiliki cakupan vaksinasi tinggi, sehingga tercapai kekebalan kelompok (herd immunity) (12).

 

Penurunan angka kejadian penyakit seperti polio, hepatitis A, dan influenza mengurangi jumlah penderita penyakit yang melemahkan, sehingga meningkatkan produktivitas sosial. Keluarga tidak lagi harus merawat anggota keluarga yang menderita penyakit berat, dan anak-anak dapat bersekolah tanpa ketakutan tertular penyakit. Vaksin inaktif turut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan masyarakat, sehingga vaksinasi menjadi praktik yang normal, seperti vaksin flu tahunan dan imunisasi anak rutin, terutama di negara-negara maju (12).

 

Jenis

Vaksin inaktif dapat dibedakan berdasarkan metode yang digunakan untuk mematikan patogen (5)(1):

  • Vaksin patogen utuh yang diinaktivasi, diproduksi dengan mematikan seluruh patogen menggunakan panas, bahan kimia, atau radiasi (6), meskipun hanya formaldehida dan beta-propiolakton yang secara luas digunakan dalam vaksin manusia (13)(14).
  • Vaksin virus terpecah (split virus), diproduksi dengan menggunakan deterjen untuk mengganggu selubung virus (5)(15). Teknik ini umum digunakan dalam pengembangan banyak vaksin influenza (16).

 

Sebagian kecil sumber menggunakan istilah vaksin inaktif secara luas untuk mencakup semua vaksin non-hidup. Berdasarkan definisi ini, vaksin inaktif juga mencakup vaksin subunit dan vaksin toksoid (3)(9).

 

Contoh

Jenis vaksin inaktif meliputi (17):

  • Viral:
    • Vaksin polio suntik (vaksin Salk)
    • Vaksin hepatitis A
    • Vaksin rabies
    • Sebagian besar vaksin influenza
    • Vaksin ensefalitis akibat gigitan kutu (tick-borne encephalitis)
    • Beberapa vaksin COVID-19: CoronaVac, Covaxin, QazVac, Sinopharm BIBP, Sinopharm WIBP, TURKOVAC, CoviVac
  • Bakterial:
    • Vaksin tifus suntik
    • Vaksin kolera
    • Vaksin pes
    • Vaksin pertusis sel utuh (whole-cell pertussis)

 

Kelebihan dan Kekurangan

 

Kelebihan:

  • Patogen yang diinaktivasi lebih stabil dibandingkan patogen hidup. Stabilitas ini memudahkan penyimpanan dan distribusi vaksin inaktif (9)(18)(19).
  • Tidak seperti vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktif tidak dapat kembali menjadi bentuk virulen dan menyebabkan penyakit (7)(11). Misalnya, terdapat beberapa kasus langka di mana virus polio hidup dalam vaksin oral polio (OPV) menjadi virulen kembali, sehingga vaksin polio inaktif (IPV) menggantikan OPV di banyak negara yang telah mengendalikan transmisi virus polio liar (7)(10).
  • Tidak seperti vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktif tidak bereplikasi dan tidak dikontraindikasikan untuk individu dengan gangguan sistem imun (7)(8)(9).
  • Tidak seperti vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktivasi tidak dapat bereplikasi dan tidak dikontraindikasikan bagi individu dengan gangguan sistem imun (7)(8)(9).

 

Kekurangan

·    Vaksin inaktivasi memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam menghasilkan respons imun yang kuat untuk memberikan kekebalan jangka panjang dibandingkan dengan vaksin hidup yang dilemahkan. Oleh karena itu, adjuvan dan suntikan penguat (booster) sering kali diperlukan untuk membentuk dan mempertahankan kekebalan yang protektif (3)(11)(18).

·   

P   Ada pembuatan vaksin yang berasal dari organisme utuh yang dimatikan, patogen harus dikultur terlebih dahulu dan kemudian diinaktivasi. Proses ini memperlambat produksi vaksin jika dibandingkan dengan vaksin genetik (7)(10)(9).

·  

    Vaksin inaktivasi cenderung menghasilkan kekebalan yang kurang tahan lama, sehingga sering kali membutuhkan beberapa dosis, yang dapat menjadi tantangan dalam kesehatan masyarakat. Sebagai contoh, vaksin influenza memerlukan pembaruan dan pemberian ulang setiap tahun, sementara vaksin hepatitis A biasanya memerlukan dua dosis yang diberikan dalam rentang waktu enam bulan.

 

 

Referensi

  1. Petrovsky N, Aguilar JC (October 2004). "Vaccine adjuvants: current state and future trends". Immunology and Cell Biology. 82 (5): 488–496. doi:10.1111/j.0818-9641.2004.01272.xPMID 15479434S2CID 154670.
  2. Plotkin SA, Plotkin SL (October 2011). "The development of vaccines: how the past led to the future". Nature Reviews. Microbiology. 9 (12) (published 2011-10-03): 889–893. doi:10.1038/nrmicro2668PMID 21963800S2CID 32506969.
  3.  Wodi AP, Morelli V (2021). "Chapter 1: Principles of Vaccination" (PDF). In Hall E, Wodi AP, Hamborsky J, Morelli V, Schilllie S (eds.). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (14th ed.). Washington, D.C.: Public Health Foundation, Centers for Disease Control and Prevention.
  4. Brown, Jonathan (1997). The History of Medicine: A Scandalously Short Introduction (1st ed.). W.W. Norton & Company. pp. 1–530. ISBN 978-0-393-31611-7.
  5.  WHO Expert Committee on Biological Standardization (19 June 2019). "Influenza". World Health Organization (WHO). Retrieved 22 October 2021.
  6.  "Types of Vaccines". Vaccines.gov. U.S. Department of Health and Human Services. 23 July 2013. Archived from the original on 9 June 2013. Retrieved 16 May 2016.
  7.  Vetter V, Denizer G, Friedland LR, Krishnan J, Shapiro M (March 2018). "Understanding modern-day vaccines: what you need to know". Annals of Medicine. 50 (2): 110–120. doi:10.1080/07853890.2017.1407035PMID 29172780S2CID 25514266.
  8.  Slifka MK, Amanna I (May 2014). "How advances in immunology provide insight into improving vaccine efficacy". Vaccine. 32 (25): 2948–2957. doi:10.1016/j.vaccine.2014.03.078PMC 4096845PMID 24709587.
  9.  Pollard AJ, Bijker EM (February 2021). "A guide to vaccinology: from basic principles to new developments". Nature Reviews. Immunology. 21 (2): 83–100. doi:10.1038/s41577-020-00479-7PMC 7754704PMID 33353987.
  10.  Karch CP, Burkhard P (November 2016). "Vaccine technologies: From whole organisms to rationally designed protein assemblies". Biochemical Pharmacology. 120: 1–14. doi:10.1016/j.bcp.2016.05.001PMC 5079805PMID 27157411.
  11.  Pecetta, Simone; Ahmed, S. Sohail; Ellis, Ronald; Rappuoli, Rino (2023). "Technologies for Making New Vaccines". Plotkin's Vaccines. pp. 1350–1373.e9. doi:10.1016/B978-0-323-79058-1.00067-0ISBN 978-0-323-79058-1.
  12.  Oshinsky, David M. (2005). Polio: An American Story. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-515294-4.[page needed]
  13. Sanders B, Koldijk M, Schuitemaker H (2015). "Inactivated Viral Vaccines". Vaccine Analysis: Strategies, Principles, and Control. pp. 45–80. doi:10.1007/978-3-662-45024-6_2ISBN 978-3-662-45023-9PMC 7189890S2CID 81212732.
  14. Hotez, Peter J.; Bottazzi, Maria Elena (27 January 2022). "Whole Inactivated Virus and Protein-Based COVID-19 Vaccines". Annual Review of Medicine. 73 (1): 55–64. doi:10.1146/annurev-med-042420-113212ISSN 0066-4219PMID 34637324S2CID 238747462.
  15. Chen J, Wang J, Zhang J, Ly H (2021). "Advances in Development and Application of Influenza Vaccines". Frontiers in Immunology. 12: 711997. doi:10.3389/fimmu.2021.711997PMC 8313855PMID 34326849.
  16. Gemmill I, Young K, et al. (National Advisory Committee on Immunization (NACI)) (May 2018). "Summary of the NACI literature review on the comparative effectiveness and immunogenicity of subunit and split virus inactivated influenza vaccines in older adults". Can Commun Dis Rep. 44 (6): 129–133. doi:10.14745/ccdr.v44i06a02PMC 6449119.
  17. Ghaffar A, Haqqi T. "Immunization". Immunology. The Board of Trustees of the University of South Carolina. Archived from the original on 26 February 2014. Retrieved 2009-03-10.
  18.  Clem AS (January 2011). "Fundamentals of vaccine immunology". Journal of Global Infectious Diseases. 3 (1): 73–78. doi:10.4103/0974-777X.77299PMC 3068582PMID 21572612.
  19. "Inactivated whole-cell (killed antigen) vaccines - WHO Vaccine Safety Basics". vaccine-safety-training.org. World Health Organization (WHO). Retrieved 2021-11-11.