Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 27 February 2025

Terungkap! 10 Negara dengan TFP Pertanian Tertinggi di Dunia — Indonesia Peringkat Berapa?

 



Indeks Total Factor Productivity (TFP) Sektor Pertanian


No

Negara

Produksi Utama

Produksi 2023 (Juta Ton)

Indeks TFP (USDA 2022)

1

Saudi Arabia

Pertanian Vertikal

-

175.382

2

Kazakstan

Gandum, Bijian

-

131.592

3

Tiongkok

Beras, Gandum, Telur

1,6 milyar (Beras dan Gandum), 64% (telur global)

113.777

4

Rusia

Gandum, barley

11% (Gandum global)

113.150

5

India

Gandum, beras, susu sapi

127 (susu sapi), 26% (Beras dan gandum global)

112.342

6

Indonesia

Minyak sawit, kakao, kopi

409 (Minyak Sawit)

107.352

7

Australia

Gandum, daging sapi

-

103.689

8

Amerika Serikat

Jagung, susu sapi, daging

103 (susu sapi). 1,2 miliar (daging)

100.609

9

Brazil

Minyak sawit, kedelai, tebu

409 (Sawit), 39% (tebu global)

96.594

10

Uni Eropa

Susu sapi, gula bit

34 (Jerman susu sapi), 188 (Gula bit)

-

 

Indeks Total Factor Productivity (TFP) adalah salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi dalam penggunaan faktor-faktor produksi (seperti tenaga kerja, modal, dan bahan baku) dalam menghasilkan output di suatu sektor, termasuk sektor pertanian. TFP menghitung perubahan output yang tidak dapat dijelaskan oleh peningkatan jumlah faktor produksi, sehingga dapat dianggap sebagai ukuran dari kemajuan teknologi, peningkatan efisiensi, atau inovasi dalam proses produksi.

 

Konsep TFP dalam Sektor Pertanian

 

Di sektor pertanian, TFP mengukur seberapa efisien sektor tersebut dalam menggunakan input untuk menghasilkan produk pertanian. Sektor pertanian sangat bergantung pada faktor-faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja, modal, pupuk, dan teknologi. TFP yang tinggi menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat menghasilkan lebih banyak produk dengan jumlah input yang lebih sedikit, yang mencerminkan peningkatan teknologi atau efisiensi.

 

Penghitungan TFP

 

Untuk menghitung TFP, kita biasanya menggunakan metode proyeksi atau fungsi produksi yang menggabungkan input dan output sektor pertanian. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah dengan menggabungkan fungsi produksi Cobb-Douglas, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

 

Y=A×Lα×Kβ

 

Di mana:

  • Y = output (misalnya nilai produk pertanian)

  • L = tenaga kerja

  • K = modal (misalnya mesin, alat, pupuk, dll.)

  • A = teknologi atau faktor yang memengaruhi efisiensi (yang merupakan TFP)

  • α adalah elastisitas output terhadap tenaga kerja (biasanya diestimasi berdasarkan data)

  • β adalah elastisitas output terhadap modal (biasanya diestimasi berdasarkan data)

 

Pada persamaan Cobb Douglas jumlah dari elastisitas faktor input dapat menunjukkan tingkat tambahan hasil dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Jika α + β = 1 terdapat tambahan hasil yang konstan atas skala produksi, (Constant return to scale)

b. Jika α + β > 1 terdapat tambahan hasil yang meningkat atas skala produksi, (Increasing return to scale).

c. Jika α + β <1 terdapat tambahan hasil yang menurun atas skala produksi, (Decreasing return to scale).

 

Indeks TFP dihitung berdasarkan perubahan dalam output yang tidak dijelaskan oleh perubahan dalam input. Secara matematis, perubahan TFP dapat dihitung dengan menggunakan persentase perubahan dalam output yang tidak dijelaskan oleh perubahan dalam input.

 

Faktor yang Memengaruhi TFP Sektor Pertanian

 

1.Kemajuan Teknologi

Inovasi dalam teknik pertanian, seperti penggunaan benih unggul, teknologi irigasi, atau mesin pertanian, dapat meningkatkan hasil produksi tanpa menambah jumlah input yang signifikan.

2.Perubahan dalam Sumber Daya Alam

Misalnya, perubahan dalam kualitas tanah, penggunaan air, atau pemanfaatan sumber daya alam lainnya dapat mempengaruhi produktivitas.

3.Peningkatan Keterampilan Tenaga Kerja

Pendidikan dan pelatihan untuk petani atau tenaga kerja di sektor pertanian dapat meningkatkan efisiensi mereka dalam menggunakan input.

4.Akses ke Infrastruktur

Akses ke infrastruktur yang lebih baik, seperti jalan, fasilitas penyimpanan, dan sistem distribusi, juga dapat meningkatkan efisiensi produksi.

5.Kebijakan Pemerintah

Kebijakan yang mendukung sektor pertanian, seperti subsidi atau investasi dalam penelitian dan pengembangan, dapat mendorong pertumbuhan TFP.

 

Peran TFP dalam Kebijakan Pertanian

 

Indeks TFP sangat berguna dalam mengevaluasi dan merencanakan kebijakan pertanian. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi TFP, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor pertanian. Selain itu, analisis TFP juga dapat membantu mengidentifikasi potensi kesenjangan dalam penggunaan teknologi atau sumber daya yang perlu diatasi untuk meningkatkan produktivitas.

 

Secara keseluruhan, TFP sektor pertanian mencerminkan tidak hanya perkembangan teknologi tetapi juga efisiensi dalam mengelola sumber daya. Dengan memonitor TFP, kita bisa menilai apakah sektor pertanian berkembang dengan baik atau apakah ada tantangan besar yang harus diatasi untuk mencapainya.

#TFP
#Pertanian
#Produktivitas
#DataUSDA
#AgricultureEfficiency


Terungkap! Rahasia Jepang Jadi Raksasa Sains & Inovasi Dunia—Bikin Negara Lain Minder

 


Jepang dikenal sebagai salah satu negara yang paling inovatif di dunia, dengan pencapaian luar biasa dalam bidang sains dan teknologi. Berdasarkan survei terbaru yang diterbitkan oleh Biro Statistik Jepang pada Desember 2023, pengeluaran Jepang untuk penelitian dan pengembangan (R&D) pada tahun 2022 mencapai ¥20,70 triliun. Ini adalah kenaikan sebesar 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya, dan menghabiskan 3,65% dari produk domestik bruto (PDB) mereka. Dari angka ini, sebagian besar dana R&D, yaitu 73,1%, berasal dari sektor swasta, yang menunjukkan betapa kuatnya peran perusahaan Jepang dalam mendorong inovasi. Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan bisnis di Jepang menginvestasikan ¥15,13 triliun untuk R&D pada tahun 2022, meningkat 6,4% dari tahun sebelumnya. Tak heran jika Jepang menempati posisi kelima dalam Nature Index 2023 dan menjadi rumah bagi banyak peneliti pemenang Nobel.

 

Namun, di balik angka-angka ini terdapat sistem yang sangat terstruktur dan kolaboratif yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan di Jepang. Pemerintah Jepang, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi (MEXT), memainkan peran penting sebagai pendana utama serta koordinator kebijakan sains dan teknologi. Sektor swasta juga berkolaborasi dengan berbagai lembaga pemerintah untuk mencapai kemajuan ilmiah yang pesat. Kantor Kabinet Jepang, misalnya, memimpin kerjasama internasional dalam bidang sains, seperti dalam forum G7, dan mengkoordinasikan berbagai proyek R&D besar, seperti Program R&D Moonshot.

 

Salah satu kebijakan penting yang diterapkan Jepang adalah Rencana Dasar Sains, Teknologi, dan Inovasi Ke-6, yang menetapkan prioritas besar untuk tahun 2021-2025. Dalam rencana ini, Jepang mengidentifikasi tiga pilar utama: pertama, reformasi struktur sosial dengan pemanfaatan teknologi digital, kedua, penguatan kapasitas riset di berbagai sektor, dan ketiga, pengembangan sumber daya manusia, dengan fokus pada peningkatan "kemampuan untuk mengeksplorasi ide" serta "mindset pembelajaran berkelanjutan."

 

Dalam hal pendanaan R&D, Jepang memiliki empat lembaga utama yang bertanggung jawab untuk mengalokasikan dana publik kompetitif. Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), misalnya, menyediakan hibah penelitian yang mendukung penelitian ilmiah dasar dan menawarkan beasiswa untuk kolaborasi internasional. Sementara itu, Japan Science and Technology Agency (JST) bertugas untuk menyediakan pendanaan yang lebih terfokus pada kebijakan sains dan inovasi nasional. Di bidang medis, Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) mendanai penelitian mulai dari riset dasar hingga uji klinis, sementara New Energy and Industrial Technology Development Organisation (NEDO) memfokuskan pendanaan pada teknologi industri dan komersialisasi inovasi.

 

Pendekatan Jepang dalam sains juga menekankan pentingnya institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian nasional dalam menciptakan inovasi. Negara ini memiliki 86 universitas nasional, 102 universitas negeri, dan 622 universitas swasta, serta 27 institusi penelitian nasional. Di bawah kepemimpinan kementerian yang berbeda, setiap institusi ini berperan sebagai pusat inovasi yang mendukung kebutuhan masyarakat dan negara. Inisiatif World Premier International Research Centre (WPI) misalnya, bertujuan untuk mendirikan pusat riset kelas dunia yang dapat menarik peneliti terbaik dari seluruh dunia. Saat ini, ada 17 pusat WPI di Jepang, di mana sekitar 40% penelitinya berasal dari luar negeri, dan bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar utama.

 

Melalui sistem yang terorganisir dan kolaboratif ini, Jepang berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penelitian dan inovasi. Negara ini tidak hanya berfokus pada kemajuan ilmiah domestik, tetapi juga aktif dalam memperluas jangkauan riset global dengan menjalin kerjasama internasional. Dengan demikian, Jepang menjadi contoh inspiratif bagi negara-negara lain yang ingin mengembangkan ekosistem sains dan inovasi yang kuat, baik di sektor publik maupun swasta.

 

Melihat keberhasilan Jepang dalam sains dan teknologi, banyak pelajaran yang dapat diambil oleh negara-negara lain dalam membangun infrastruktur penelitian yang mendukung kemajuan ilmiah. Fokus pada peningkatan kolaborasi, penyediaan pendanaan yang cukup, dan pengembangan sumber daya manusia merupakan langkah-langkah penting yang dapat dijadikan contoh oleh Indonesia dalam riset dan inovasi di bidang pertanian untuk mencapai kemajuan serupa.

 

SUMBER

Pudjiatmoko. Pembelajaran dari Sistem Sains dan Inovasi di Jepang. Tabloid Sinar Tani. 26 Februari 2025. https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/kolom/24943-Pembelajaran-dari-Sistem-Sains-dan-Inovasi-di-Jepang.


#SainsJepang 

#InovasiJepang 

#RisetGlobal 

#TeknologiMaju 

#BelajarDariJepang