Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tuesday, 23 September 2025

GRK dari Pertanian: Antara Ancaman dan Solusi

 


Emisi Gas Rumah Kaca Global Menurut Sektor (gambar atas)

 


Pertanian adalah tulang punggung pangan dunia, tetapi di balik fungsinya yang vital, sektor ini juga menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah besar. Menurut berbagai laporan internasional, pertanian, kehutanan, dan tata guna lahan menyumbang 13–21% dari total emisi GRK global. Kontribusi ini tidak hanya datang dari kegiatan langsung di lahan pertanian, melainkan juga dari perubahan tata guna lahan, penggunaan pupuk, serta sistem peternakan yang kompleks.

 

Gas utama yang dilepaskan dari sektor ini adalah metana (CH₄) dan dinitrogen oksida (N₂O). Keduanya jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO₂) dalam memerangkap panas di atmosfer. Emisi metana, misalnya, sebagian besar berasal dari fermentasi enterik pada ternak ruminansia seperti sapi dan domba, serta dari budidaya padi sawah yang tergenang air. Sementara itu, emisi N₂O sebagian besar dipicu oleh penggunaan pupuk nitrogen, baik organik maupun sintetis, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan konsentrasi GRK secara signifikan.

 

Perubahan tata guna lahan juga menyumbang porsi besar. Penebangan hutan untuk dijadikan lahan pertanian melepas cadangan karbon yang tersimpan selama ratusan tahun. Metode tebang dan bakar memperburuk keadaan karena pelepasan langsung karbon dan partikel ke udara, sekaligus merusak kemampuan tanah untuk menyerap karbon.

 

Peternakan menjadi sorotan utama karena kontribusinya yang sangat besar. Produksi daging sapi dan domba, misalnya, memiliki intensitas emisi tertinggi dibandingkan sumber pangan lainnya. Hewan ruminansia mengeluarkan metana dalam jumlah besar melalui proses pencernaannya, sementara lahan luas dibutuhkan untuk pakan ternak, terutama jagung dan kedelai. Ironisnya, meskipun peternakan mengonsumsi hampir 30% air tawar global dan luas lahan yang masif, kontribusinya terhadap kalori global hanya sekitar 18%.

 

Budidaya padi juga berperan signifikan. Sawah yang terus-menerus digenangi air menciptakan kondisi anaerobik yang ideal bagi mikroba penghasil metana. Tidak heran jika padi menjadi penyumbang hampir setengah emisi GRK dari lahan pertanian. Namun, penelitian menunjukkan bahwa praktik sederhana seperti sistem irigasi berselang atau penggunaan varietas padi baru dapat menurunkan emisi hingga 90% sekaligus meningkatkan hasil panen.

 

Dari sisi pupuk, produksi dan penggunaannya menyumbang sekitar 5% dari total emisi global. Pabrik pupuk mengeluarkan CO₂ dalam proses produksinya, sementara penggunaan berlebih di lahan memicu pelepasan N₂O yang daya pemanasan globalnya 300 kali lebih kuat dibandingkan CO₂.

 

Namun, ancaman ini bukan tanpa solusi. Konsep pertanian cerdas iklim menawarkan beragam strategi mitigasi. Pada level lahan, praktik seperti pertanian presisi, pengolahan tanah konservasi, penggunaan biochar, serta manajemen air dan pupuk yang efisien terbukti mampu menekan emisi. Di sektor peternakan, pendekatan inovatif mulai dikembangkan, mulai dari seleksi genetik hewan, pemberian pakan aditif, hingga eksplorasi rumput laut sebagai bahan tambahan untuk mengurangi produksi metana.

 

Selain itu, perubahan pola konsumsi juga memiliki dampak besar. Mengurangi limbah pangan, beralih pada pola makan berbasis nabati, atau mengganti sebagian konsumsi daging ruminansia dengan unggas atau ikan, dapat menurunkan jejak karbon pangan secara drastis. Bahkan, studi terbaru menunjukkan bahwa pola makan vegan mampu mengurangi emisi hingga 75%.

 

Secara global, sistem pangan melepaskan sekitar 16,2 miliar ton setara CO₂ pada 2022—naik 10% dibandingkan tahun 2000. Tanpa perubahan signifikan, angka ini diperkirakan akan meningkat 30–40% pada 2050 seiring bertambahnya populasi dan perubahan pola makan.

 

Artinya, masa depan iklim sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengelola pertanian dan konsumsi pangan. Dengan langkah-langkah inovatif, kebijakan tepat, serta perubahan gaya hidup masyarakat, sektor pangan bisa bertransformasi dari penyumbang besar emisi menjadi bagian dari solusi.

 

Kesimpulan

 

Pertanian tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan bumi. Jika terus dibiarkan, sistem pangan akan melepaskan 30–40% lebih banyak emisi pada 2050. Namun, dengan teknologi ramah lingkungan, kebijakan yang berpihak pada iklim, serta perubahan gaya hidup masyarakat, sektor ini justru dapat menjadi bagian dari solusi. Masa depan iklim global ada di tangan bagaimana kita mengolah sawah, memberi makan ternak, dan—yang terpenting—mengatur pola makan di meja makan kita.

Monday, 22 September 2025

Terkuak! Mengapa Pangan Diam-Diam Jadi Senjata Paling Penting bagi Ketahanan Nasional

 

Pangan Adalah Senjata Rahasia Ketahanan Nasional


Pangan adalah kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Tanpa pangan yang cukup, aman, dan bergizi, kesehatan publik, produktivitas kerja, hingga stabilitas sosial-politik akan terganggu. Inilah sebabnya mengapa isu pangan tidak bisa hanya dipandang dari sisi dapur rumah tangga, melainkan menjadi bagian penting dari ketahanan nasional. Negara yang tidak mampu menjamin kebutuhan pangan warganya akan menghadapi risiko melemahnya fungsi sosial, ekonomi, bahkan keamanan nasional.

 

Krisis Pangan Global dan Tantangan Indonesia

 

Di tingkat global, masalah pangan masih jauh dari selesai. Menurut laporan FAO tahun 2023–2024, ratusan juta orang di dunia masih hidup dalam kondisi rawan pangan, dengan puluhan juta di antaranya mengalami kelaparan akut. Gambaran ini menunjukkan betapa gentingnya persoalan pangan sebagai isu kemanusiaan lintas batas.

 

Indonesia sendiri memang mencatat kemajuan. Prevalensi kekurangan gizi menurun dan beberapa indikator seperti Global Hunger Index memperlihatkan perbaikan. Namun, tantangan baru juga muncul. Indonesia kini menghadapi triple burden of malnutrition: kekurangan gizi, kelebihan gizi (obesitas), dan defisiensi mikronutrien yang masih tinggi. Masalah distribusi pangan, ketidakmerataan akses, serta kualitas gizi menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

 

Lebih jauh lagi, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat. Data Bank Dunia dan BPS memperkirakan sekitar 28–29 persen tenaga kerja Indonesia menggantungkan hidup pada pertanian, sementara kontribusinya terhadap PDB nasional berada pada kisaran 12–13 persen. Dengan demikian, pangan tidak hanya menjadi urusan dapur, tetapi juga penopang utama ekonomi pedesaan dan fondasi ketahanan sosial bangsa.

 

Namun, tantangan domestik juga kian kompleks. Perubahan iklim yang memicu kekeringan dan banjir, fenomena El Niño atau La Niña, volatilitas harga pangan global, hingga konflik geopolitik di berbagai belahan dunia telah terbukti mampu mengganggu ketersediaan pangan nasional. Laporan Food Security Information Network menegaskan bahwa kombinasi faktor iklim dan konflik menjadi pemicu utama krisis pangan dunia.

 

Implikasi Pangan bagi Ketahanan Nasional

 

Dampak kerawanan pangan tidak bisa diremehkan. Dari sisi kesehatan publik, kurangnya asupan gizi yang cukup akan menurunkan kualitas hidup, meningkatkan beban layanan kesehatan, dan melemahkan modal manusia dalam jangka panjang. Dari sisi sosial-politik, sejarah menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan kerap memicu keresahan sosial, bahkan kerusuhan di beberapa negara.

 

Kedaulatan pangan juga menjadi isu strategis. Ketergantungan pada impor beras, kedelai, atau pangan olahan membuat Indonesia rentan terhadap guncangan global. Krisis pasokan atau lonjakan harga di luar negeri bisa langsung menimbulkan efek domino di dalam negeri. Bagi jutaan rumah tangga petani, gangguan pada produksi pangan berarti ancaman kemiskinan pedesaan yang lebih parah dan meningkatnya ketimpangan sosial.

 

Singkatnya, pangan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga pertahanan dan keamanan negara. Seperti halnya energi atau militer, pangan adalah sektor strategis yang menentukan keberlangsungan bangsa.

 

Penyebab Utama Kerawanan Pangan

 

Ada empat faktor besar yang kerap menjadi penyebab kerawanan pangan. Pertama, perubahan iklim yang memicu gagal panen dan perubahan pola hama serta penyakit tanaman. Kedua, konflik dan gangguan rantai pasok yang membuat suplai terhambat dan harga melonjak. Ketiga, krisis ekonomi dan inflasi pangan yang menurunkan daya beli masyarakat. Keempat, kelemahan infrastruktur dan perlindungan sosial, yang menyebabkan distribusi tidak merata serta tingginya kehilangan hasil panen.

 

Jalan Keluar: Kebijakan Prioritas

 

Untuk mengatasi kerentanan ini, diperlukan langkah-langkah kebijakan yang terarah. Pertama, memperkuat ketahanan rantai pasok domestik melalui investasi irigasi, cold storage, dan perbaikan logistik distribusi. Kedua, mendorong diversifikasi pangan dan peningkatan gizi melalui fortifikasi, edukasi konsumsi pangan lokal, dan intervensi gizi berbasis komunitas. Ketiga, memperkuat proteksi sosial proaktif berupa subsidi pangan atau bantuan tunai bagi kelompok rentan ketika harga melonjak. Keempat, mengembangkan pertanian tangguh iklim melalui praktik agro-ekologi, penggunaan varietas tahan kekeringan, hingga asuransi pertanian. Kelima, meningkatkan sistem data dan peringatan dini agar pemerintah mampu merespons cepat dinamika harga dan ketersediaan pangan.

 

Kesimpulan

 

Pangan adalah jantung dari ketahanan nasional. Menjaga ketersediaan dan akses pangan yang cukup, aman, dan bergizi bukan sekadar urusan teknis pertanian, melainkan misi strategis bangsa. Sebagaimana energi dan pertahanan, pangan adalah sektor vital yang menentukan apakah suatu negara mampu berdiri tegak menghadapi guncangan global atau tidak. Maka, urgensi pembahasan pangan harus terus menjadi perhatian utama, agar Indonesia mampu membangun ketahanan nasional yang kokoh dan berkelanjutan.


#KetahananPangan 

#PanganNasional 

#KedaulatanPangan 

#GiziBangsa 

#KeamananPangan

Kesabaran Ayah Mengubah Autisme Jadi Prestasi


 

Mendampingi anak yang didiagnosis autisme adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan, ujian, dan air mata. Namun di balik kesulitan itu, tersimpan juga harapan dan hikmah yang luar biasa. Seorang ayah di Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, membuktikan bahwa dengan cinta, ketekunan, dan kesabaran, segala keterbatasan bisa berubah menjadi kekuatan.

 

Dialah Hariyanto (64), seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan. Anak keduanya, Lutfan Haidi (27), dulu divonis memiliki IQ rendah, bahkan dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Namun, berkat pendampingan penuh kasih sayang dari sang ayah, kini Lutfan tumbuh menjadi individu mandiri dan berhasil meniti karier di dunia kerja. Sebuah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju keajaiban Allah bagi hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

 

Perjuangan Sehari-hari Sang Ayah

 

Hari-hari Hariyanto dulu bukanlah hal yang mudah. Ketika anak lain bisa dengan cepat memahami pelajaran sekolah, Lutfan membutuhkan waktu berkali-kali lipat lebih lama. Hariyanto dengan sabar mendampingi anaknya belajar membaca huruf demi huruf, angka demi angka, meskipun harus diulang-ulang tanpa henti. Saat emosi anaknya meledak karena merasa frustasi, ia merangkul dan menenangkan, bukan memarahinya.

 

Di rumah, ia melatih Lutfan untuk mandiri dengan cara sederhana: membiasakan membereskan tempat tidur, membantu menyapu halaman, hingga menyiapkan kebutuhan pribadinya. Tugas-tugas kecil itu melatih disiplin sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri. Hariyanto percaya, kemandirian harus dimulai dari hal-hal yang tampak sepele.

 

Tak hanya itu, ia juga berusaha mengarahkan anaknya menemukan bakat dan minat. Melihat Lutfan memiliki ketelitian dalam bekerja manual, ia terus mendukungnya hingga sang anak mampu bekerja dengan baik di dunia nyata. Perjalanan ini panjang, penuh peluh dan doa, namun akhirnya berbuah manis.

 

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa diuji dengan sesuatu dari anak-anaknya, lalu ia bersabar, maka anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini seolah menjadi peneguh hati bagi Hariyanto. Ia yakin setiap tetes kesabarannya tidak akan sia-sia di hadapan Allah.

 

Hikmah bagi Orang Tua

 

Perjuangan ini memberi pesan penting bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi serupa. Jangan pernah merasa kalah sebelum berjuang. Ingatlah firman Allah: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

 

Setiap anak adalah amanah dan titipan Allah. Mungkin mereka hadir dengan cara yang berbeda, dengan tantangan yang unik, tetapi selalu ada hikmah besar di baliknya. Ketekunan, doa, dan cinta tanpa syarat dari orang tua mampu menumbuhkan kekuatan luar biasa pada anak-anak tersebut.

 

Hariyanto telah menunjukkan bahwa dengan iman, kesabaran, dan kasih sayang, anak dengan autisme pun bisa meraih kesuksesan.  Kini, anak yang dulu didiagnosis autisme dan IQ rendah bekerja sebagai content moderator di perusahaan raksasa teknologi, bernama ByteDance, induk perusahaan TikTok.

 

Pesan buat orang tua

 

Bagi setiap orang tua, janganlah memandang anak dengan autisme atau keterbatasan lain sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju surga. Kesabaran dalam mendidik, keikhlasan dalam merawat, dan ketulusan dalam mencintai mereka adalah amal jariyah yang nilainya tak ternilai di sisi Allah. Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, lalu ia bersabar, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Maka, mari kita hadapi setiap ujian dengan hati yang lapang. Jadikan perjuangan bersama anak-anak istimewa ini sebagai ladang pahala yang mengalir tanpa henti. Sebab bisa jadi, merekalah tiket kita menuju ridha Allah dan surga-Nya yang abadi.

 

SUMBER:

Kisah Inspiratif dari MAS24: Perjuangan Seorang Ayah Dampingi Anak dengan Autisme hingga Sukses di Dunia Kerja. Tugu Jatim. https://tugujatim.id/kisah-inspiratif-dari-mas24-perjuangan-seorang-ayah-dampingi-anak-dengan-autisme-hingga-sukses-di-dunia-kerja/


Serat Super Kecil Mengubah Dunia Teknologi

 



Nanofiber: Serat Super Kecil yang Mengubah Dunia Teknologi dan Kesehatan

 

Bayangkan sebuah serat yang begitu tipis sehingga ukurannya 10.000 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia, namun memiliki kekuatan dan potensi aplikasi yang luar biasa. Inilah nanofiber, atau nanoserat, bahan futuristik yang sedang merevolusi berbagai bidang mulai dari medis hingga teknologi energi. Sifatnya yang unik membuat nanofiber mampu berinteraksi dengan lingkungan secara lebih efektif, membuka peluang baru bagi inovasi ilmiah dan industri.

 

Apa Itu Nanofiber?

 

Nanofiber adalah serat dengan diameter dalam skala nanometer, biasanya kurang dari 1.000 nm. Meski sangat tipis, panjangnya bisa jauh lebih besar, menciptakan struktur yang memanjang namun ringan. Nanofiber dapat dibuat dari beragam material, termasuk polimer sintetis, karbon, logam, dan keramik, sehingga fleksibilitas penggunaannya hampir tak terbatas.

 

Karakteristik Utama Nanofiber

 

Nanofiber memiliki sejumlah keunggulan unik yang membedakannya dari serat biasa:

  • Ukuran Nano: Diameter sangat kecil memungkinkan interaksi yang lebih besar dengan lingkungan sekitarnya.
  • Rasio Luas Permukaan terhadap Volume Tinggi: Membuat nanofiber efektif dalam menyerap zat, mengikat molekul, atau menyalurkan energi.
  • Kekuatan Mekanis yang Baik: Beberapa jenis nanofiber memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan serat mikroskopis.
  • Porositas Tinggi: Struktur berpori memudahkan penggunaan sebagai filter atau media penghantaran obat.
  • Konduktivitas yang Dapat Disesuaikan: Bergantung pada materialnya, nanofiber bisa menjadi isolator atau konduktor listrik dan panas.

 

Bagaimana Nanofiber Dibuat?

 

Berbagai metode canggih digunakan untuk menghasilkan nanofiber:

  • Electrospinning: Teknik paling populer yang menggunakan medan listrik untuk “menarik” larutan polimer menjadi serat ultra-halus.
  • Self-assembly: Serat terbentuk secara spontan melalui interaksi molekuler.
  • Template synthesis: Menggunakan cetakan nanopori untuk membuat serat dengan diameter seragam.

 

Aplikasi Nanofiber dalam Kehidupan Sehari-hari


Sifat nanofiber yang unik memungkinkan penerapan di berbagai bidang:

  • Kesehatan dan Medis: Digunakan dalam pembalut luka, rekayasa jaringan, dan sistem penghantaran obat, termasuk liposom komposit yang dapat mengatur aktivitas sel T dan menekan proliferasi limfosit.
  • Filter Udara dan Air: Struktur berpori nanofiber efektif menyaring partikel halus, termasuk virus dan polutan mikro.
  • Tekstil dan Pakaian: Kain fungsional antibakteri dan tahan air kini dapat diproduksi menggunakan nanoserat.
  • Energi: Nanofiber berperan dalam baterai, superkapasitor, dan sel bahan bakar berperforma tinggi.
  • Elektronika: Digunakan untuk sensor fleksibel dan perangkat elektronik miniatur.

 

Dengan terus berkembangnya penelitian dan teknologi, nanofiber diprediksi akan menjadi komponen kunci dalam inovasi industri, kesehatan, dan teknologi masa depan.

 

Kesimpulan

 

Nanofiber bukan sekadar serat super tipis. Karakteristik uniknya—dari porositas tinggi, kekuatan mekanis, hingga luas permukaan nano—memberikan peluang luar biasa untuk inovasi di berbagai bidang. Dari pengobatan hingga energi, nanofiber menawarkan solusi yang efisien, fleksibel, dan berkelanjutan. Dengan potensi aplikasinya yang luas, bahan ini membuka pintu bagi teknologi masa depan yang lebih aman, canggih, dan ramah lingkungan.

Potensi Bahan Tanaman sebagai Antivirus Norovirus (Bagian III)

 



Pengaruh Ekstrak Tumbuhan pada Norovirus

 

Ekstrak tumbuhan merupakan gudang molekul aktif yang sangat beragam, banyak di antaranya memiliki sifat antimikroba. Meski laporan tentang aktivitas antivirus ekstrak tumbuhan masih terbatas, sejumlah penelitian menunjukkan potensi nyata mereka dalam menonaktifkan norovirus dan virus penggantinya.

 

Salah satu contoh menonjol adalah ekstrak biji anggur (GSE). Penelitian menunjukkan GSE mampu menurunkan kemampuan norovirus untuk menempel pada sel inang dan merusak protein kapsid virus. Pada dosis yang lebih tinggi, partikel virus bahkan mengalami deformasi total. Hasil ini menegaskan bahwa GSE dapat secara langsung merusak struktur virus sehingga virus kehilangan daya infeksinya.

 

Selain biji anggur, ekstrak tumbuhan lain seperti biji murbei, kesemek, pial, kopi, dan teh hijau juga menunjukkan efek antivirus. Beberapa ekstrak mampu menghambat infektivitas virus sejak awal replikasi, sementara yang lain bekerja dengan mencegah virus menempel ke sel inang. Teh hijau, misalnya, mengandung katekin yang mampu mengikat reseptor virus secara non-spesifik sehingga mencegah infeksi. Aktivitas antivirus teh hijau bahkan meningkat setelah disimpan beberapa jam atau diberi perlakuan panas ringan, membuka peluang untuk penggunaannya dalam keamanan pangan.

 

Penelitian juga menyoroti peran ekstrak herbal lain, seperti cengkeh, jahe, dan berbagai tanaman obat Korea. Ekstrak ini dapat menurunkan titer virus secara signifikan, menunjukkan bahwa senyawa aktif di dalamnya mampu bekerja secara efektif terhadap virus pengganti norovirus. Bahkan beberapa ekstrak cuka, capsaicin dari cabai, dan ekstrak polisakarida dari Houttuynia cordata menunjukkan kemampuan menonaktifkan virus dengan cara mengubah bentuk partikel dan menghalangi penetrasi ke dalam sel target.

 

Beberapa ekstrak, seperti dari Hibiscus sabdariffa dan Lindera obtusiloba, menunjukkan efektivitas tinggi meskipun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya jelas. Mereka mampu menurunkan infektivitas virus hingga tingkat yang tidak terdeteksi dalam waktu tertentu, menegaskan potensi fitokimia sebagai agen antivirus alami.

 

Secara keseluruhan, studi-studi ini menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan tidak hanya memiliki efek antivirus, tetapi juga bekerja melalui berbagai mekanisme: merusak kapsid, menghambat pengikatan virus ke sel, atau mengganggu tahap awal replikasi virus. Hal ini menjadikan ekstrak tumbuhan kandidat yang menarik untuk pengembangan pengobatan alami maupun peningkatan keamanan pangan.

 

Potensi Aplikasi Fitokimia Tumbuhan sebagai Antivirus Norovirus

 

Berdasarkan bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian in vitro dan in situ, jelas bahwa ekstrak tumbuhan, jus buah, dan senyawa bioaktif tumbuhan memiliki potensi signifikan dalam menonaktifkan norovirus dan pengganti norovirus (misalnya MNV dan FCV). Mekanisme utama yang diidentifikasi meliputi denaturasi protein kapsid virus, penghambatan pengikatan virus ke sel inang, dan gangguan pada fase awal replikasi virus.

 

Ekstrak biji anggur (GSE), ekstrak murbei (MSE), teh hijau (GTE), ekstrak kesemek, dan Houttuynia cordata adalah contoh ekstrak tumbuhan yang terbukti secara langsung merusak kapsid virus atau menghambat pengikatan virus ke sel target. Selain itu, senyawa bioaktif seperti carvacrol, timol, citral, aloin, emodin, katekin, polifenol delima, myricetin, L-epicatechin, dan kurkumin menunjukkan aktivitas antivirus yang kuat dengan efektivitas tergantung pada dosis dan waktu paparan. Jus buah seperti delima, cranberry, blueberry, dan raspberry hitam juga menurunkan titer virus, yang kemungkinan besar terjadi melalui gangguan pada adsorpsi virus dan internalisasi ke dalam sel inang.

 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa senyawa dan ekstrak tumbuhan mampu bekerja sinergis, misalnya GTE yang mengalami penuaan menghasilkan turunan katekin yang lebih efektif, atau kombinasi ekstrak teh hijau dan karagenan dalam lapisan edible film. Efek sinergis ini meningkatkan potensi penggunaan fitokimia tumbuhan sebagai agen antivirus alami dalam aplikasi industri makanan.

Secara praktis, fitokimia tumbuhan telah dieksplorasi untuk digunakan dalam pengawetan makanan dan kemasan aktif. Beberapa strategi yang menjanjikan meliputi:

 

1.     Edible film dan pelapis aktif: Film yang dibuat dari kitosan atau polimer lain yang dilengkapi ekstrak tumbuhan atau minyak atsiri (misalnya GTE, GSE) mampu menurunkan infektivitas MNV hingga tingkat yang tidak terdeteksi. Film ini dapat diaplikasikan pada buah, sayuran, keju, daging, dan produk ikan tanpa mengubah sifat fisikokimia makanan.

 

2.     Enkapsulasi minyak atsiri: Mikro- atau nanoenkapsulasi minyak atsiri dalam matriks polimer, protein, lemak, atau gom meningkatkan stabilitas dan efektivitas antimikroba mereka. Teknologi ini memungkinkan penggunaan minyak atsiri sebagai agen pengawet alami yang aman (GRAS) untuk berbagai produk makanan.

 

3.     Jus dan ekstrak sebagai agen kontrol virus: Jus delima, blueberry, raspberry hitam, dan murbei menunjukkan aktivitas antivirus yang bergantung pada dosis dan waktu paparan. Produk ini berpotensi digunakan sebagai aditif alami atau sebagai bagian dari strategi pengendalian virus dalam rantai pasok pangan, termasuk dalam kondisi simulasi lambung dan matriks makanan kompleks.

 

4.     Aplikasi sinergis: Penggunaan kombinasi senyawa atau ekstrak (misalnya GTE yang dipanaskan ringan bersama karagenan) dapat meningkatkan efektivitas antivirus, menunjukkan bahwa strategi sinergis lebih menguntungkan dibandingkan penggunaan satu senyawa saja.

 

Secara keseluruhan, fitokimia tumbuhan menawarkan alternatif alami untuk pengendalian norovirus dalam makanan, memberikan potensi ganda: meningkatkan keamanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Temuan ini mendorong pengembangan produk pengawetan makanan inovatif yang berbasis tanaman, termasuk edible film, pelapis aktif, dan aditif makanan, sambil mempertahankan kualitas organoleptik dan nutrisi makanan.

 

Kesimpulan dari Bagian I - III

 

Norovirus sangat tahan terhadap faktor lingkungan, sehingga dapat ditularkan secara efisien melalui makanan, air, atau permukaan benda yang terkontaminasi, dan menimbulkan potensi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

 

Metabolit antivirus asal tumbuhan memiliki keunggulan penting dibandingkan pengawet sintetis yang digunakan sebagai desinfektan makanan segar karena efektif pada dosis yang aman, tersedia secara umum, dan menggunakan ketidakmampuan mikroorganisme untuk menjadi resisten terhadap viroid nabati.

 

Sebagai metabolit sekunder tumbuhan, minyak atsiri, dan ekstrak tumbuhan merupakan bagian dari sistem pertahanannya terhadap patogen. Oleh karena itu, mereka sering menunjukkan aktivitas antimikroba, termasuk antivirus.

 

Spektrum aktivitas metabolit tanaman beragam. Efektivitas sediaan tanaman dan kemungkinan penggunaannya dalam memerangi virus usus seperti norovirus terutama bergantung pada komposisi kualitatif dan kuantitatif fitokimia aktif biologis, dan konsentrasinya dalam makanan.

 

SUMBER:

Bahan Tanaman Menjadi Antimikroba Norovirus

https://atanitokyo.blogspot.com/2022/10/potensi-bahan-tanaman-sebagai-antivirus.html