Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 19 September 2025

Dunia di Ambang Bencana! 820 Juta Orang Kelaparan di Tengah Krisis Iklim yang Kian Menggila!



Ketahanan Pangan Dunia Terancam: 820 Juta Orang Kelaparan di Tengah Krisis Iklim


Bagaimana mungkin dunia yang semakin maju justru kembali menghadapi kelaparan massal? Laporan FAO tahun 2018 tentang Kondisi Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia mengungkap kenyataan pahit: lebih dari 820 juta orang kini hidup dalam kekurangan pangan kronis, jumlah yang sama seperti satu dekade lalu. Ironisnya, tantangan ini datang di tengah agenda global yang bercita-cita menghapus kelaparan pada 2030 melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, perubahan iklim, konflik, serta gizi ganda – kekurangan dan kelebihan gizi yang hadir bersamaan – membuat perjuangan menciptakan dunia bebas kelaparan semakin berat.

 

Laporan tahunan Kondisi Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia menandai lahirnya cara baru dalam memantau kemajuan menuju dunia tanpa kelaparan dan malnutrisi, sesuai dengan target Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Agenda ini menempatkan isu pangan dan gizi sebagai inti dari pembangunan global, khususnya melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-2: memastikan akses pangan yang aman, bergizi, dan cukup bagi semua orang (Target 2.1), serta menghapuskan segala bentuk malnutrisi (Target 2.2). Namun, keberhasilan SDG2 sejatinya saling terkait dengan tujuan lain, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, akses air bersih dan sanitasi, hingga terciptanya keadilan sosial dan perdamaian. Dengan kata lain, pangan bukan hanya soal perut kenyang, tetapi juga fondasi bagi keberlangsungan hidup dan pembangunan manusia.

 

Sayangnya, bukti menunjukkan bahwa kelaparan global justru meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 820 juta orang kini hidup dalam kondisi kekurangan pangan kronis, angka yang kembali menyerupai situasi satu dekade lalu. Tren ini terlihat jelas di Afrika dan Amerika Selatan, bahkan di Asia yang sebelumnya menunjukkan perbaikan, penurunan angka kekurangan gizi kini melambat signifikan. Jika kondisi ini dibiarkan, dunia terancam gagal mencapai target menghapus kelaparan pada tahun 2030.

 

Di sisi lain, meski kasus stunting pada anak terus menurun dan praktik pemberian ASI eksklusif meningkat, masalah gizi masih jauh dari kata tuntas. Obesitas pada orang dewasa terus merangkak naik, sementara satu dari tiga perempuan usia reproduksi mengalami anemia. Kondisi gizi ganda ini – kekurangan dan kelebihan gizi yang terjadi bersamaan – menciptakan risiko serius bagi kesehatan generasi mendatang. Anak yang mengalami wasting (berat badan rendah dibanding tinggi badan) berisiko lebih tinggi mengalami kematian, sementara kekurangan gizi pada ibu dan bayi dapat meninggalkan “jejak metabolisme” yang meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular di kemudian hari. Ironisnya, keterbatasan akses pada makanan sehat justru membuat keluarga rawan pangan lebih rentan terhadap obesitas, karena mereka bergantung pada makanan murah yang tinggi kalori namun miskin gizi.

 

Lebih jauh lagi, perubahan iklim kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ketahanan pangan global. Variabilitas iklim dan kejadian ekstrem – seperti kekeringan panjang, banjir, dan badai – terbukti menggerus pencapaian yang selama ini diperoleh dalam memerangi kelaparan. Dampaknya dirasakan di semua aspek ketahanan pangan: ketersediaan, akses, pemanfaatan, hingga stabilitas pangan. Bagi masyarakat miskin yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam, guncangan iklim ini semakin memperbesar kerentanan mereka.

 

Untuk menjawab tantangan tersebut, laporan global menyerukan tindakan nyata: memperkuat ketahanan iklim sebagai bagian dari kebijakan pangan, kesehatan, dan pembangunan. Upaya ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan platform kebijakan global seperti Perjanjian Paris 2015 tentang perubahan iklim, Kerangka Kerja Sendai tentang pengurangan risiko bencana, hingga Decade of Action on Nutrition 2016–2025. Hanya dengan kolaborasi lintas sektor – lingkungan, pertanian, kesehatan, dan pembangunan – dunia dapat membangun sistem pangan yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.

 

Kesimpulannya, ketahanan pangan dan gizi bukan hanya soal memberi makan orang lapar, tetapi juga menciptakan sistem pangan yang sehat dan berkeadilan di tengah tantangan global. Dengan memperkuat pemantauan, mempercepat aksi, dan mengintegrasikan kebijakan, kita masih memiliki peluang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari hak paling dasar: memperoleh pangan bergizi dan kehidupan yang sehat.

 

SUMBER

Building climate resilience for food security and nutrition. https://www.climate-chance.org/en/library/climate-resilience-food-security-nutrition/


#KrisisPangan 

#KelaparanGlobal 

#KrisisIklim 

#SDG2 

#KetahananPangan

Rahasia Kaya Terbongkar! Ternyata Bukan Gaji Besar, Tapi Mindset yang Menentukan Hidupmu

 

 

Pernahkah kamu melihat ada orang yang gajinya biasa saja, tapi hidupnya tenang, tagihan lancar, dan masih bisa liburan? Sementara ada juga yang penghasilannya dua kali lipat lebih besar, tapi selalu pusing setiap akhir bulan. Logikanya, makin besar pemasukan harusnya makin aman. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Di sinilah pelajarannya: bukan soal seberapa banyak uang yang dimiliki, melainkan bagaimana cara kita memperlakukan uang.


Allah ﷻ sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

Sesungguhnya orang-orang yang memboroskan (harta), mereka itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)

Ayat ini menegaskan, sebesar apa pun gaji yang kita dapatkan, kalau cara mengelolanya salah, maka akan habis begitu saja.

 

Bagi kebanyakan orang, uang ibarat air dalam ember bocor: baru masuk lewat gaji, langsung habis untuk bayar listrik, sewa, cicilan, jajan, dan kebutuhan lainnya. Belum separuh bulan, saldo sudah menipis. Sebaliknya, orang yang berhasil membangun kekayaan memperlakukan uang seperti tanaman. Mereka bukan hanya memikirkan kebutuhan hari ini, tapi juga bagaimana uang itu bisa tumbuh dan kembali dalam jumlah lebih besar.

 

Rasulullah bersabda:

Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara, (salah satunya) tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi, no. 2417)

Hadits ini menunjukkan pentingnya kesadaran terhadap arus masuk dan keluar harta, bukan sekadar banyaknya penghasilan.

 

Contoh sederhana, ketika mendapat bonus, hadiah atau gaji ke 14, kebanyakan orang langsung berpikir: “Enaknya beli apa ya?” Sedangkan orang kaya berpikir: “Bagaimana caranya uang ini bisa menghasilkan uang lagi buat saya?” Itu bukan berarti mereka pelit atau tidak menikmati hidup. Mereka sadar, uang sebaiknya diberdayakan, bukan sekadar dihabiskan.

 

Kebiasaan ini pernah diteladankan oleh Sahabat Rasulullah , Utsman bin ‘Affan radhiyallahu‘anhu. Beliau adalah seorang pedagang sukses yang hartanya melimpah. Namun, Utsman tidak sekadar menimbun kekayaan. Ia menggunakan hartanya untuk kebaikan, seperti membeli sumur Raumah untuk kaum Muslimin dan membiayai persiapan pasukan dalam perang Tabuk. Hartanya bertambah berkah justru karena diperlakukan dengan bijak dan penuh kebermanfaatan.

 

Yang menarik, banyak orang kaya dulunya hidup biasa saja. Mereka bukan pewaris harta atau anak konglomerat. Mereka membangun kekayaan dari nol dengan disiplin, keputusan kecil yang konsisten, dan pola pikir yang benar. Prinsip mereka sederhana: kalau belum bisa mengelola uang sedikit, jangan harap bisa mengelola uang besar.

 

Salah satu kebiasaan penting mereka adalah sadar ke mana uang mengalir. Bukan berarti pelit, tapi mereka selalu mempertimbangkan konsekuensi setiap pengeluaran. Misalnya, membeli rokok Rp30.000 setiap hari mungkin terlihat sepele. Namun kalau dikalikan sebulan, jumlahnya Rp900.000. Uang itu bisa dialihkan untuk tabungan atau investasi.


Rasulullah bersabda:

Barangsiapa merasa cukup dengan yang halal, Allah akan mencukupkannya. Barangsiapa menjaga diri dari meminta-minta, Allah akan menjaganya. Dan barangsiapa bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan pengendalian diri dan kesabaran dalam membelanjakan harta—inti dari mindset keuangan yang sehat.

 

Selain itu, orang kaya pandai menunda kesenangan. Mereka tidak buru-buru beli mobil dengan cara berutang. Mereka lebih memilih menumbuhkan uang lewat investasi. Jika hasilnya sudah cukup, barulah mereka membeli mobil dengan tenang tanpa cicilan.

 

Pada akhirnya, semua berawal dari langkah kecil. Mulailah dengan mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menunda satu kesenangan kecil untuk dialihkan ke tabungan. Tanyakan pada diri sendiri sebelum membeli sesuatu: “Apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya ingin terlihat keren?”

 

Kesimpulan

Menjadi kaya bukan soal besarnya gaji, tetapi bagaimana cara kamu memperlakukan uang. Al-Qur’an dan Hadits telah mengajarkan untuk menjauhi pemborosan, hidup sederhana, dan memastikan harta digunakan pada jalan yang bermanfaat. Teladan sahabat seperti Utsman bin ‘Affan menunjukkan bahwa kekayaan sejati datang dari cara mengelola harta dengan bijak dan penuh keberkahan.

 

Mulailah dari langkah kecil: catat pengeluaran, bedakan kebutuhan dan keinginan, serta biasakan menunda kesenangan kecil untuk ditabung atau diinvestasikan. Itulah kunci perubahan. Jika kamu mempraktikkannya secara konsisten, insya Allah rezeki yang sedikit bisa menjadi berkah, dan rezeki yang banyak bisa menjadi jalan menuju kebebasan finansial sekaligus keberkahan hidup.


#mindsetkaya 

#kelolakeuangan 

#rezekiberkah 

#edukasifinansial 

#tipsislami

Wednesday, 17 September 2025

Harga Pangan Turun, Tapi Inflasi Masih Menggigit! Ada Apa dengan Ekonomi Dunia?

 

Pembaruan Ketahanan Pangan Global: Menyimak Tren Terbaru Bank Dunia

 

Bank Dunia kembali merilis pembaruan kondisi ketahanan pangan global pada 13 Juni 2025. Laporan ini menyoroti dinamika harga pangan internasional, inflasi pangan domestik, hingga tantangan mendasar yang masih menghantui sistem pangan dunia. Temuan dan kesimpulan dalam laporan ini tidak selalu mencerminkan pandangan resmi Dewan Direksi Bank Dunia ataupun pemerintah yang mereka wakili, tetapi memberikan gambaran berharga mengenai arah perkembangan pangan global.

 

Sejak pembaruan terakhir pada 16 Mei 2025, indeks harga pertanian dan sereal tercatat turun tipis 1 persen, sementara indeks harga ekspor relatif stabil. Penurunan harga ini didorong oleh peningkatan pasokan komoditas pangan di pasar internasional. Data terbaru Bank Dunia juga mengindikasikan tren berkelanjutan penurunan harga pangan global. Namun, di balik kabar baik di tingkat global, inflasi harga pangan domestik justru tetap tinggi di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah.

 

Laporan AMIS Market Monitor edisi Juni 2025 menegaskan bahwa pasokan global gandum, jagung, beras, dan kedelai masih relatif stabil dalam jangka pendek, sehingga risiko gangguan besar pasokan belum terlihat. Meski begitu, realitas di lapangan menunjukkan bahwa harga pangan tetap menjadi beban bagi banyak rumah tangga, terutama di negara-negara rentan. Bank Dunia menekankan bahwa selain konflik dan cuaca ekstrem, faktor inefisiensi transportasi di Afrika masih menjadi penyebab persisten kelaparan di wilayah tersebut.

 

Pembaruan ini juga bertepatan dengan peringatan 50 tahun International Food Policy Research Institute (IFPRI). Dalam laporannya, IFPRI merefleksikan perjalanan sistem pangan global selama lima dekade terakhir—mulai dari capaian yang berhasil diraih hingga kegagalan dalam memenuhi kebutuhan pangan dunia. Refleksi ini mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan, tetapi juga soal akses, distribusi, dan efisiensi sistem pangan.

 

Tren Harga

 


Dari sisi tren harga, sejak pertengahan Mei 2025 harga jagung dan beras turun masing-masing 4 persen dan 1 persen, sedangkan gandum justru naik 3 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harga gandum merosot hingga 20 persen, sementara beras turun 31 persen. Namun, bila ditarik lebih jauh ke Januari 2020, harga jagung tercatat masih 13 persen lebih tinggi, beras naik 2 persen, sementara gandum sedikit lebih rendah 4 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa volatilitas harga pangan tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai.

 

Inflasi Harga

 


Di tingkat domestik, inflasi harga pangan masih membebani banyak negara. Data terbaru (Februari–Mei 2025) memperlihatkan bahwa lebih dari 5 persen inflasi pangan terjadi di 76,5 persen negara berpendapatan rendah, 54,5 persen negara berpendapatan menengah bawah, 45 persen negara menengah atas, dan bahkan 14,5 persen negara berpendapatan tinggi. Menariknya, dalam 60 persen dari 161 negara yang memiliki data lengkap, inflasi pangan riil melampaui inflasi keseluruhan. Artinya, harga pangan meningkat lebih cepat dibanding harga barang dan jasa lainnya, sehingga daya beli masyarakat semakin tertekan.

 

Secara keseluruhan, pembaruan Bank Dunia ini memberikan dua pesan utama. Pertama, pasar global relatif stabil dengan pasokan yang terjaga. Kedua, tantangan justru lebih nyata di tingkat domestik, terutama bagi negara miskin dan berkembang, di mana inflasi pangan tinggi dapat memperburuk kerawanan pangan. Kondisi ini menegaskan perlunya upaya kolaboratif lintas sektor—mulai dari stabilisasi harga, investasi infrastruktur, hingga perbaikan sistem distribusi—agar ketahanan pangan global dapat benar-benar terwujud, bukan hanya di atas kertas, tetapi juga di meja makan setiap keluarga.

 

SUMBER

World Bank.

https://thedocs.worldbank.org/en/doc/40ebbf38f5a6b68bfc11e5273e1405d4-0090012022/related/Food-Security-Update-117-June-13-2025-2.pdf


#KetahananPangan 

#InflasiPangan 

#HargaPangan 

#BankDunia 

#EkonomiGlobal

Ketahanan Pangan Global di Ambang Krisis: Perubahan Iklim, Konflik, dan Masa Depan Makanan Dunia

 

 

Ketahanan Pangan Global di Tengah Perubahan Iklim


Jumlah orang yang mengalami kerawanan pangan akut meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019 tercatat 135 juta orang, sementara pada Juni 2022 jumlah itu melonjak menjadi 345 juta orang di 82 negara. Lonjakan ini dipicu oleh perang di Ukraina, gangguan rantai pasokan, serta dampak ekonomi berkepanjangan dari pandemi COVID-19 yang mendorong harga pangan ke titik tertinggi sepanjang masa.

 

Selain faktor geopolitik dan ekonomi, perubahan iklim juga menjadi penyebab utama memburuknya ketahanan pangan. Pemanasan global mengubah pola cuaca, meningkatkan risiko gelombang panas, curah hujan ekstrem, dan kekeringan berkepanjangan. Pada 2021, kenaikan harga komoditas pangan akibat iklim menjadi faktor penting yang mendorong sekitar 30 juta orang tambahan di negara-negara berpenghasilan rendah masuk ke dalam kondisi rawan pangan.

 

Ironisnya, sistem pangan global justru berkontribusi besar terhadap krisis iklim. Diperkirakan sepertiga emisi gas rumah kaca berasal dari sistem pangan, menempati posisi kedua setelah sektor energi. Sistem ini juga menjadi sumber utama emisi metana serta penyebab hilangnya keanekaragaman hayati.

 

Populasi yang Paling Rentan

 

Dampak perubahan iklim terhadap pangan tidak dirasakan secara merata. Sekitar 80% populasi dunia yang paling berisiko gagal panen dan kelaparan berada di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Di wilayah ini, mayoritas keluarga petani hidup dalam kondisi miskin dan sangat rentan.

 

Kekeringan parah akibat El Niño atau perubahan iklim seringkali mendorong jutaan orang jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan. Bahkan negara berpendapatan menengah seperti Filipina dan Vietnam pun menghadapi tantangan besar, karena petani di sana banyak yang hidup di ambang kemiskinan. Kenaikan harga pangan pun menghantam keras konsumen perkotaan miskin yang harus mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk membeli makanan.

 

Dampak Perubahan Iklim terhadap Pertanian

 

Peningkatan suhu dan konsentrasi CO₂ memang dapat memberikan sedikit keuntungan pada pertumbuhan tanaman dalam kondisi tertentu. Namun, manfaat itu dibayangi oleh dampak negatif yang lebih besar, seperti percepatan hilangnya air dari tanah dan tanaman, meningkatnya frekuensi banjir, badai, tekanan panas, serta serangan hama dan penyakit.

 

Risiko ini semakin besar di wilayah yang sudah menghadapi keterbatasan air. Jika suhu global naik lebih dari 2°C, adaptasi akan menjadi semakin sulit dan mahal. Negara dengan suhu tinggi, seperti di Sahel (Afrika) dan Asia Selatan, akan menghadapi penurunan hasil panen signifikan, terutama pada komoditas penting seperti gandum. Tanpa solusi yang tepat, jutaan orang akan jatuh miskin; diperkirakan 43 juta orang di Afrika dapat hidup di bawah garis kemiskinan pada 2030 akibat penurunan hasil pertanian.

 

Strategi Adaptasi Pertanian

 

Untuk menghadapi tantangan ini, sektor pertanian perlu beradaptasi dengan perubahan iklim melalui inovasi sosial, ekonomi, dan teknologi. Beberapa strategi utama antara lain:

  • Efisiensi penggunaan air. Mengoptimalkan penggunaan air dengan teknologi irigasi cerdas, sensor kelembapan tanah, dan pemantauan satelit. Praktik seperti pembasahan dan pengeringan sawah secara bergantian terbukti menghemat air sekaligus mengurangi emisi metana.
  • Diversifikasi tanaman. Petani dianjurkan beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan dan membutuhkan lebih sedikit air, misalnya jagung atau kacang-kacangan. Meski demikian, transisi ini tidak mudah karena terkait tradisi dan pola konsumsi masyarakat yang sudah mengakar.
  • Peningkatan kesehatan tanah. Tanah yang kaya karbon organik mampu menahan air lebih lama, meningkatkan kesuburan, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Praktik seperti tidak mengolah tanah, menggunakan tanaman penutup, dan rotasi tanaman dapat membantu pemulihan tanah.

SARAN-SARAN:

  1. Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu memperkuat regulasi dan dukungan bagi praktik pertanian berkelanjutan, termasuk investasi pada teknologi irigasi cerdas, sistem pemantauan iklim, serta infrastruktur yang mendukung ketahanan pangan.
  1. Petani dan komunitas lokal perlu diberi akses pada pelatihan, penyuluhan, serta insentif agar mampu mengadopsi teknik pertanian adaptif seperti rotasi tanaman, penggunaan benih tahan kekeringan, dan pengelolaan tanah yang lebih sehat.
  1. Kerja sama internasional harus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan lintas batas, baik melalui transfer teknologi, pendanaan, maupun kebijakan global yang mendukung pertanian rendah emisi dan pengurangan pemborosan pangan.
  1. Penelitian dan inovasi perlu terus dikembangkan untuk mencari solusi berbasis alam serta teknologi baru yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan dampak negatif terhadap lingkungan.

Solusi berbasis alam seperti ini diperkirakan dapat menyumbang hingga 37% mitigasi perubahan iklim yang dibutuhkan untuk mencapai target Perjanjian Paris. Namun, penerapan di lapangan membutuhkan dukungan kebijakan, penyuluhan, dan pelatihan bagi para petani, terutama di wilayah dengan lahan sempit.

 

Peran Bank Dunia dalam Membangun Ketahanan Pangan

 

Bank Dunia melalui Rencana Aksi Perubahan Iklim (2021–2025) memperkuat dukungan bagi pertanian cerdas iklim di seluruh rantai pasok pangan. Upaya ini mencakup intervensi kebijakan, peningkatan produktivitas, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.

 

Selain itu, Bank Dunia juga membantu negara-negara dalam mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan, serta mengelola risiko bencana seperti banjir dan kekeringan. Contohnya, proyek di Niger yang mendistribusikan benih tahan kekeringan, memperluas irigasi efisien, dan menerapkan teknik konservasi lahan. Hingga kini, lebih dari 336.000 petani telah terbantu dalam mengelola lahan secara berkelanjutan di hampir 80.000 hektar wilayah pertanian.

 

KESIMPULAN

 

Ketahanan pangan global menghadapi tantangan yang semakin besar akibat kombinasi faktor geopolitik, ekonomi, dan perubahan iklim. Lonjakan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan akut menunjukkan betapa rapuhnya sistem pangan dunia. Perubahan iklim menjadi faktor yang memperburuk kondisi ini, dengan dampak berupa kekeringan, banjir, gelombang panas, hingga serangan hama dan penyakit tanaman.

 

Populasi paling rentan adalah mereka yang tinggal di wilayah miskin dan bergantung pada pertanian, terutama di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Tanpa upaya serius untuk beradaptasi, perubahan iklim berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan dan mendorong jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan, khususnya jika suhu global terus meningkat di atas 2°C.

 

Meski demikian, terdapat peluang untuk memperbaiki kondisi ini melalui strategi adaptasi. Efisiensi penggunaan air, diversifikasi tanaman, dan peningkatan kesehatan tanah menjadi kunci untuk menjaga produktivitas sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Inisiatif seperti yang dilakukan Bank Dunia menunjukkan bahwa transformasi menuju pertanian cerdas iklim bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga mendesak untuk keberlanjutan pangan global.


Dengan langkah-langkah tersebut, dunia masih memiliki peluang untuk memperkuat ketahanan pangan, melindungi kelompok rentan, dan memastikan sistem pangan global yang lebih adil, tangguh, serta berkelanjutan di tengah perubahan iklim.


#KetahananPangan 

#PerubahanIklim 

#KrisisPangan 

#PertanianBerkelanjutan 

#PanganGlobal

Ingin Ingatan Tajam?: Otak Anda Bekerja Seperti Ini! Kenali 4 Tahap Pemrosesan Informasi.

 

Kenali 4 Tahap Pemrosesan Informasi ala Robert Gagne

 

Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi, mulai dari suara, gambar, kata-kata, hingga berbagai peristiwa di sekitar kita. Namun, tidak semua informasi itu langsung tersimpan dalam ingatan. Ada proses tertentu yang membuat sebagian informasi bisa bertahan lama, sementara sebagian lainnya cepat terlupakan. Proses inilah yang disebut pemrosesan informasi.

 

Robert Gagne, seorang tokoh dalam bidang psikologi pendidikan, menjelaskan bahwa otak manusia bekerja melalui beberapa tahap untuk menerima, mengolah, menyimpan, dan kemudian mengingat kembali informasi. Menurutnya, ada empat tahap utama dalam pemrosesan informasi: receiving, acquisition, storage, dan retrieval.

 

1. Receiving the Stimulus

Tahap pertama adalah menerima stimulus. Pada fase ini, seseorang mulai memperhatikan rangsangan tertentu dari lingkungan. Stimulus bisa berupa suara, gambar, gerakan, sentuhan, atau bahkan kata-kata yang didengar. Pancaindra menjadi pintu masuk utama informasi sebelum akhirnya diteruskan ke otak. Di sini, individu berusaha memahami makna stimulus tersebut sesuai dengan cara pandangnya.

 

2. Stage of Acquisition

Tahap berikutnya adalah penguasaan atau acquisition. Pada tahap ini, informasi baru yang masuk akan dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Otak memilih secara selektif mana informasi yang penting untuk disimpan, mana yang cukup disimpan sementara, dan mana yang tidak relevan sehingga dibuang. Informasi penting biasanya masuk ke dalam memori jangka panjang, sedangkan informasi sementara hanya berada di memori jangka pendek.

 

3. Storage

Tahap ketiga adalah penyimpanan atau storage. Pada fase ini, informasi yang telah dipilih akan “diendapkan” dalam memori. Informasi disusun berdasarkan kategori tertentu sehingga lebih mudah ditemukan kembali saat dibutuhkan. Penyimpanan ini bisa berlangsung dalam waktu singkat maupun lama, tergantung seberapa kuat informasi tersebut diproses dan diulang.

 

4. Retrieval

Tahap terakhir adalah retrieval, yaitu kemampuan mengingat atau memanggil kembali informasi yang telah disimpan. Proses ini terjadi ketika seseorang membutuhkan informasi tertentu untuk menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, atau sekadar mengingat peristiwa masa lalu. Kadang, informasi bisa hilang atau sulit diakses. Untuk mengatasinya, otak perlu dirangsang dengan informasi baru yang terkait, sehingga memori lama dapat kembali muncul secara terorganisir.


#PsikologiPendidikan 

#RobertGagne

#ProsesBelajar 

#CaraOtakBekerja 

#PemrosesanInformasi