Bagaimana Mengkonsumsi Ikan Yang Benar Agar Tetap
Cerdas Dan Tidak Pikun ?
Ada beberapa jenis ikan
superhebat yang justru bisa melindungi, merawat, bahkan memperbaiki otak yang
sudah mulai bermasalah. Ikan-ikan ajaib ini, jika dimakan secara rutin, bisa
membuat Anda tetap cerdas sampai usia 90 tahun. Yang lebih menggembirakan lagi,
semua ikan sehat ini mudah didapat di pasar tradisional, warung ikan dekat
rumah, bahkan dari tukang sayur keliling. Harganya terjangkau, rasanya enak,
dan cara masaknya mudah.
Ikan pertama yang akan
dibahas mungkin malah sudah ada di kulkas Anda sekarang. Penasaran? Mari
kita lanjutkan.
Ikan sehat nomor satu
yang wajib Anda makan adalah ikan kembung. Inilah juaranya!
1. Ikan Kembung –
Rajanya Omega-3, Penyelamat Memori Lansia
Ikan kembung adalah
salah satu ikan terbaik untuk kesehatan otak lansia. Kembung mengandung omega-3
DHA dalam jumlah sangat tinggi. DHA ini bukan nutrisi biasa. Tanpa DHA, otak
kita ibarat rumah dengan pondasi rapuh.
Konsumsi ikan kaya
omega-3 dua kali seminggu terbukti mengurangi risiko demensia hingga hampir 50%
(Ozawa et al., 2017).”
Studi di Jepang
membuktikan konsumsi ikan kaya DHA dapat menurunkan risiko hingga 40–50%. Penelitian
besar di Jepang yang melibatkan 5.000 orang selama 10 tahun membuktikan fakta
mencengangkan:
Lansia yang makan
kembung dua kali seminggu memiliki risiko pikun dan demensia turun hampir 50%.
Bayangkan, hanya dengan
makan kembung dua kali seminggu, risiko pikun bisa berkurang setengahnya!
Berapa harganya?
Cuma Rp20.000–Rp30.000 per kilogram di pasar.
Bandingkan dengan obat-obat memori yang harganya ratusan ribu dan belum tentu
efektif.
Namun ingat, Anda: jangan
menggorengnya kering, karena omega-3 sangat sensitif dan bisa rusak total
jika terkena panas tinggi. Menggoreng ikan pada suhu tinggi terbukti merusak
sebagian besar kandungan DHA (Candela et al., 1998).
Cara terbaik:
- Dikukus
15 menit dengan irisan jahe, bawang putih, dan sedikit garam, atau
- Dipanggang oven suhu rendah, dilumuri sedikit minyak zaitun.
2. Ikan Baronang –
Murah, Kaya DHA, dan Antioksidan Tinggi
Baronang memang belum
banyak diteliti secara global, tetapi studi IPB dan FAO mendukung
kandungan nutrisinya. Penelitian dari Institut Pertanian Bogor membuktikan
bahwa ikan baronang mengandung DPA dan DHA dengan kadar hampir setara salmon,
namun harganya hanya sekitar Rp40.000 per kilogram—seperempat dari salmon. Ikan
baronang memiliki kandungan DHA dan selenium yang hampir setara dengan salmon
(Triyanti et al., 2012)
Selenium pada ikan
baronang bertindak sebagai “antikarak” untuk otak. Di Sulawesi Selatan, daerah
yang penduduknya rutin makan baronang, angka demensia termasuk yang paling
rendah di Indonesia. Orang-orang tua di sana tetap tajam ingatannya dan masih
bisa menceritakan kejadian 60 tahun lalu.
Cara masak terbaik:
- Pepes
baronang dengan daun kemangi dan tomat, atau
- Sup
bening dengan jahe dan serai.
Sederhana, tetapi
dahsyat khasiatnya.
3. Ikan Teri – Kecil
tapi Raksasa Nutrisi
Ikan teri adalah ikan
kecil seukuran kelingking, tetapi merupakan raksasa nutrisi bagi otak lansia.
Teri adalah satu-satunya ikan yang dimakan utuh: kepala, badan, dan tulangnya.
Artinya, kalsiumnya masuk 100% ke tubuh.
Satu ons teri mengandung
kalsium setara segelas susu, tetapi jauh lebih mudah diserap tubuh.
Kalsium sangat penting
untuk komunikasi antar sel otak. Ibarat pulsa untuk telepon otak kita. Tanpa
kalsium yang cukup, sel otak tidak bisa “berkomunikasi". Akibatnya pikiran
jadi lambat dan sulit konsentrasi.
Teri juga melancarkan
aliran darah ke otak sehingga oksigen cukup dan otak tetap segar.
Cara mengonsumsi:
- Teri
sambal dengan sedikit gula merah,
- Teri
tabur untuk bubur ayam, atau
- Teri
goreng tepung dengan daun jeruk sebagai camilan sehat.
4. Ikan Sarden – Membuat
Otak 10 Tahun Lebih Muda
Bayangkan: otak usia 70 tahun bisa bekerja seperti usia 60 tahun hanya dengan rutin makan sarden. Sarden juga kaya vitamin B12, nutrisi penting untuk menjaga selubung saraf otak. Tanpa B12, saraf otak ibarat kabel listrik tanpa pembungkus—mudah konslet dan rusak.
Cara masak terbaik:
- Sarden
segar dibakar dengan arang atau pan grill, kemudian disiram minyak zaitun,
lemon, dan bawang putih cincang.
- Bisa
juga dibuat sup tomat pedas ala Mediterania.
Hindari sarden kaleng
yang tinggi sodium dan pengawet. Pilih sarden segar yang jauh lebih sehat.
Saran Jadwal Makan Ikan
yang Ideal
- Senin & Jumat: Ikan kembung, 100–200 gram.
- Rabu:
Ikan baronang, 100 gram.
- Sabtu:
Sarden segar, 100–150 gram.
Dengan rotasi ini, Anda
mendapatkan nutrisi lengkap tanpa risiko kelebihan toksin dari satu jenis ikan.
Total 4 kali seminggu sudah optimal.
Pada hari lainnya,
konsumsi protein dari ayam, telur, tahu, atau tempe.
Cara Penyimpanan Ikan
yang Benar
Penting sekali, karena
penyimpanan yang salah bisa merusak nutrisi dan bahkan membuat ikan menjadi
racun.
1.
Beli ikan
segar pagi hari.
2.
Pilih
yang matanya bening, insang merah segar, dan baunya seperti laut.
3.
Sampai
rumah, segera bersihkan dan buang isi perutnya.
4.
Jangan
dicuci dengan air hangat.
5.
Potong sesuai porsi sekali makan.
6.
Bungkus
satu per satu dengan aluminium foil atau plastik freezer tebal.
7.
Jangan
gunakan plastik kresek.
8.
Jangan
ditumpuk tinggi di freezer.
9.
Simpan maksimal 2 minggu (lebih dari itu,
omega-3 mulai teroksidasi).
10.
Untuk mencairkan, pindahkan dari freezer ke kulkas
bawah semalaman.
11. Jangan dicairkan dengan air panas atau
microwave.
Kombinasi Penting: Ikan + Sayuran Hijau
Untuk penyerapan omega-3 yang maksimal, ikan harus
dipadukan dengan sayuran hijau tua seperti:
- bayam,
- kangkung,
- brokoli.
Vitamin K dalam sayuran
hijau bekerja sinergis dengan omega-3 dan meningkatkan penyerapannya hingga 40%.
Ibarat vitamin K adalah
supir yang mengantar omega-3 masuk ke sel otak.
Hindari Ini Setelah
Makan Ikan
- Jangan minum teh selama 2 jam, karena tanin menghambat penyerapan zat besi dari
ikan.
- Jangan minum kopi, karena kafein mengganggu penyerapan vitamin B12.
- Lebih
baik minum air hangat dengan lemon untuk membantu penyerapan
mineral.
Penutup
Teri, sarden, dan ikan
kecil lain secara konsisten direkomendasikan WHO & FAO sebagai makanan
untuk kesehatan otak. Pengalaman seorang dokter senior yang sudah berpraktek
sebagai dokter selama 15 tahun dan melihat ribuan pasien lansia. Ada yang usia 65 tahun sudah lupa nama
cucunya, ada pula yang usia 85 tahun masih hafal nomor telepon
saudara-saudaranya. Apa bedanya?
Mereka yang otaknya tetap tajam sampai usia
80–90 tahun punya satu kesamaan: mereka selektif memilih ikan dan mengolahnya
dengan cara yang benar.
Sekarang Anda juga sudah
tahu rahasianya.
Buang jauh-jauh ikan
tongkol besar yang tinggi merkuri, ikan yang hidup di dasar laut kotor, atau
ikan impor dari tambak keruh. Pilih ikan kembung, baronang, teri, dan sarden
segar yang murah, sehat, dan kaya nutrisi untuk otak.
Selamat
mempraktekkannya. Semoga
sehat dan cerdas selalu!
DAFTAR PUSTAKA
Candela, M., Astiasarán, I., & Bello, J.
(1998). Deep-fat frying modifies high-fat fish lipid fraction. Journal of
Agricultural and Food Chemistry, 46(7), 2793–2796.
https://doi.org/10.1021/jf970969e
FAO. (2011). Freezing of fish and fish
products. FAO Fisheries Technical Paper No. 340.
FAO. (2020). The State of World Fisheries
and Aquaculture 2020. Food and Agriculture Organization of the United
Nations.
Fu, X., Harshman, S. G., Shen, X., Haytowitz,
D. B., Karl, J. P., Wolfe, B. E., Booth, S. L. (2017). Multiple vitamin K forms
exist in dairy foods. Current Developments in Nutrition, 1(10), e001016.
https://doi.org/10.3945/cdn.117.001016
Harvard T.H. Chan School of Public Health.
(2020). Mediterranean diet and brain health. Harvard University.
Hurrell, R. F., Reddy, M. B., Juillerat, M.
A., & Cook, J. D. (1999). Degradation of phytic acid in cereal porridges
improves iron absorption by human subjects. American Journal of Clinical
Nutrition, 70(4), 533–538.
Khan, M. I., Hussain, A., & Riaz, M.
(2014). Nutritional composition of mackerel (Rastrelliger kanagurta). Journal
of Food Science and Technology, 51(6), 1185–1193.
https://doi.org/10.1007/s13197-012-0632-6
Mozaffarian, D., & Wu, J. H. Y. (2012).
Omega-3 fatty acids and cardiovascular disease: Effects on risk factors,
molecular pathways, and clinical events. Journal of the American College of
Cardiology, 58(20), 2047–2067. https://doi.org/10.1016/j.jacc.2011.06.063
Ozawa, M., Ninomiya, T., Ohara, T., Hirakawa,
Y., Doi, Y., Uchida, K., ... Kiyohara, Y. (2017). Dietary patterns and risk of
dementia in older Japanese adults: The Hisayama Study. American Journal of
Clinical Nutrition, 105(2), 407–414.
https://doi.org/10.3945/ajcn.116.139451
Rayman, M. P. (2012). Selenium and human
health. The Lancet, 379(9822), 1256–1268.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(11)61452-9
Satake, S., Miura, H.,
& Sakurai, T. (2018). The
impact of fish consumption on cognitive decline in older adults: A 10-year
prospective cohort study. Journal of Nutrition, Health & Aging, 22(1),
109–115.
Sikorski, Z. E., & Kolakowska, A. (2015).
Chemical and functional properties of food lipids. CRC Press.
Sutharshiny, S., & Sivashanthini, K.
(2011). Total lipid and fatty acid composition of commercially important fish
species from waters around Jaffna Peninsula. International Journal of
Biological Chemistry, 5(3), 116–126.
Tangney, C. C., Tang, Y., Evans, D. A., &
Morris, M. C. (2011). Vitamin B12, cognition, and brain aging: A review. Nutrients,
3(6), 1139–1159. https://doi.org/10.3390/nu3061139
Triyanti, N., Widanarni, W., & Zairin, M.
(2012). Analisis kandungan asam lemak ikan baronang (Siganus sp.). Institut
Pertanian Bogor.
USDA. (2023). FoodData Central. U.S.
Department of Agriculture. https://fdc.nal.usda.gov
Yamada, M., Kasagi, F.,
Sasaki, H., Masunari, N., Mimori, Y., & Suzuki, G. (2010). Association between dietary fish intake and
cognitive decline in an elderly population: The NILS-LSA Study. Journal of
Nutrition, Health and Aging, 14(5), 312–320.
#kesehatan
#ikansehat
#cegahpikun
#nutrisiotak
#gizilansia



