Hari Sejuta Pohon Sedunia: Menanam
Pohon, Menjaga Iklim, dan Merawat Masa Depan Bumi.
Pendahuluan
Setiap tanggal 10 Januari,
Indonesia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon, sebuah momentum
yang mengingatkan kita bahwa pohon bukan sekadar bagian dari lanskap yang
membuat lingkungan terlihat hijau dan indah. Pohon merupakan komponen penting
ekosistem yang menopang kehidupan manusia, satwa, tanah, air, dan atmosfer.
Karena itu, gerakan menanam dan merawat pohon sesungguhnya bukan sekadar
kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun lingkungan yang
sehat, sejuk, nyaman, produktif, dan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
Di Indonesia, gerakan ini memiliki
sejarah penting. Gerakan Satu Juta Pohon dicanangkan oleh Presiden Soeharto
di Jakarta pada 10 Januari 1993, dengan ajakan kepada seluruh lapisan
masyarakat untuk menanam pohon dalam jumlah besar, bahkan melampaui satu juta
pohon di setiap provinsi. Semangat tersebut relevan hingga sekarang karena
tantangan lingkungan telah berkembang dari sekadar kerusakan hutan menjadi
persoalan yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, kehilangan
keanekaragaman hayati, degradasi tanah, krisis air, banjir, kekeringan,
kebakaran hutan dan lahan, hingga meningkatnya suhu perkotaan.
Lebih dari tiga dekade setelah
gerakan tersebut dicanangkan, pesan dasarnya tetap sama: menanam pohon
berarti menanam kehidupan. Namun, ilmu pengetahuan modern memberikan
pemahaman yang lebih luas. Kita sekarang mengetahui bahwa keberhasilan
penghijauan tidak cukup diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam. Yang jauh
lebih penting adalah berapa banyak pohon yang mampu tumbuh sehat, bertahan
dalam jangka panjang, membentuk ekosistem yang berfungsi, menyimpan karbon,
menjaga tata air, menyediakan habitat, serta memberikan manfaat sosial dan
ekonomi bagi masyarakat.
Pohon dan Mesin Kehidupan di Bumi
Pohon dapat dipandang sebagai salah satu "mesin
biologis" paling penting di planet ini. Melalui fotosintesis, tumbuhan
menggunakan energi cahaya matahari untuk mengubah karbon dioksida dan air
menjadi bahan organik yang digunakan untuk membangun tubuh tumbuhan, sekaligus
menghasilkan oksigen.
Secara sederhana, proses tersebut dapat digambarkan
melalui persamaan:
6CO₂ + 6H₂O + energi cahaya → C₆H₁₂O₆ + 6O₂
Karbon dioksida dari atmosfer menjadi sumber karbon bagi
pembentukan biomassa. Sebagian karbon kemudian disimpan dalam batang, cabang,
daun, akar, dan bahan organik tanah. Dengan demikian, ekosistem hutan berperan sebagai salah
satu penyimpan karbon alami.
Namun, penting dipahami bahwa pohon bukan
satu-satunya solusi perubahan iklim. Penanaman pohon tidak dapat
menggantikan kebutuhan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil,
meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan energi terbarukan, mengendalikan
deforestasi, serta mengurangi emisi dari industri dan transportasi. Hutan dan
ekosistem daratan merupakan bagian dari strategi mitigasi yang harus berjalan
bersama pengurangan emisi dari sumbernya.
IPCC menempatkan perlindungan,
pengelolaan berkelanjutan, dan restorasi hutan sebagai bagian penting dari
pilihan mitigasi berbasis lahan. Langkah tersebut juga dapat memberikan manfaat
bagi keanekaragaman hayati, kualitas air, kesuburan tanah, ketahanan terhadap
bencana, dan kesejahteraan masyarakat apabila dirancang dengan tepat.
Pohon Tidak Hanya Menghasilkan
Oksigen
Sering kali manfaat pohon
disederhanakan menjadi "menghasilkan oksigen". Pernyataan tersebut
benar, tetapi sebenarnya baru sebagian kecil dari fungsi ekologis pohon.
Pohon juga berperan dalam menyerap
karbon, mengatur siklus air, melindungi tanah, menyediakan habitat, mengurangi
suhu lingkungan, serta membentuk mikroklimat. Kanopi pohon dapat mengurangi
radiasi matahari yang langsung mencapai permukaan tanah. Proses
evapotranspirasi juga membantu mendinginkan lingkungan.
Di wilayah perkotaan, pepohonan
menjadi semakin penting. Permukaan beton, aspal, dan bangunan menyerap serta
memancarkan kembali panas sehingga menciptakan fenomena urban heat island.
Penanaman pohon yang tepat dapat membantu mengurangi panas lokal dan
meningkatkan kenyamanan termal masyarakat. IPCC menyatakan bahwa penghijauan
perkotaan dengan pohon dan vegetasi dapat memberikan efek pendinginan lokal.
Pohon juga membantu mengendalikan
limpasan air hujan. Tajuk menahan sebagian air hujan, sementara akar dan bahan
organik tanah meningkatkan kemampuan tanah menyerap air. Karena itu, kawasan
dengan vegetasi yang baik dapat membantu memperlambat aliran permukaan dan
mengurangi tekanan terhadap sistem drainase.
Ekosistem hutan di daerah hulu
memiliki fungsi yang lebih besar lagi. Hutan
membantu mengatur aliran air dan, dalam banyak kondisi, mengurangi risiko
banjir dengan menyimpan air dan memperlambat alirannya.
Pohon sebagai Pelindung Tanah dari
Erosi
Tanah merupakan sumber daya yang
sangat penting bagi kehidupan, tetapi mudah mengalami degradasi apabila
kehilangan tutupan vegetasi.
Ketika hujan turun pada lahan
terbuka, energi butir hujan dapat memecah agregat tanah. Air kemudian membawa partikel tanah menuju sungai,
saluran, dan akhirnya ke wilayah hilir. Proses tersebut dapat menyebabkan erosi, sedimentasi,
pendangkalan sungai, dan penurunan produktivitas lahan.
Akar pohon memiliki fungsi penting
dalam memperkuat struktur tanah. Jaringan akar membantu mengikat partikel
tanah, sementara serasah daun dan bahan organik meningkatkan kemampuan tanah
menyimpan air. Karena itu, penghijauan daerah aliran sungai, lereng, kawasan
hulu, dan lahan kritis merupakan bagian penting dari konservasi tanah dan air.
Tetapi sekali lagi, menanam pohon
tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Jenis tanaman, kesesuaian lahan,
kemiringan, curah hujan, karakteristik tanah, tata air, serta kebutuhan
masyarakat harus dipertimbangkan.
Permasalahan Besar: Emisi Karbon dan
Perubahan Iklim
Salah satu alasan mengapa gerakan
menanam pohon tetap relevan adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di
atmosfer. Karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida menahan sebagian
radiasi panas di atmosfer dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
Indonesia menghadapi persoalan emisi
dari berbagai sektor. Sumbernya tidak hanya berasal dari industri, tetapi juga
dari energi, transportasi, pertanian, limbah, kehutanan, dan penggunaan lahan.
Data dalam Enhanced NDC Indonesia
menunjukkan bahwa target pengurangan emisi nasional telah ditingkatkan menjadi 31,89%
secara unconditional dibandingkan skenario business as usual pada
2030, dan dapat mencapai 43,20% secara conditional apabila tersedia
dukungan internasional berupa pendanaan, teknologi, dan peningkatan kapasitas.
Dengan demikian, persoalan perubahan
iklim tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu program. Diperlukan kombinasi
antara pengurangan emisi dan peningkatan penyerapan karbon.
Pembangkit Listrik dan Tantangan Transisi Energi
Sektor energi menjadi salah satu
sumber utama emisi karena masih bergantung pada bahan bakar fosil. Pembangkit listrik berbasis batu bara, misalnya,
menghasilkan emisi CO₂ dalam jumlah besar karena proses pembakaran bahan bakar
fosil.
Pointer yang digunakan dalam naskah ini menggambarkan
tiga kemungkinan skenario menuju 2050, yaitu Business as Usual (BAU), Market
Driven (MD), dan Green Transition (GT). Dalam ilustrasi tersebut,
skenario BAU menghasilkan emisi sekitar 1,3 miliar ton CO₂, dengan
sekitar 651 juta ton berasal dari pembangkit listrik. Skenario MD menurunkan emisi menjadi
sekitar 936 juta ton, sedangkan skenario GT sekitar 634 juta ton.
Angka tersebut harus diperlakukan
sebagai angka skenario/model, bukan sebagai kondisi aktual yang berlaku
secara otomatis pada 2050. Besarnya emisi masa depan sangat bergantung pada
pertumbuhan ekonomi, bauran energi, teknologi, kebijakan, elektrifikasi
transportasi, efisiensi energi, perkembangan energi terbarukan, dan perubahan
perilaku masyarakat.
Dokumen NDC Indonesia juga menunjukkan besarnya peran
sektor energi dan FOLU dalam strategi mitigasi. Dalam skenario NDC yang
terdokumentasi, FOLU memiliki kontribusi mitigasi yang sangat besar, bersama
sektor energi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa transisi energi dan
perlindungan ekosistem harus berjalan bersamaan.
Mengapa Hutan Menjadi Sangat
Strategis?
Hutan memiliki kemampuan menyerap
dan menyimpan karbon dalam biomassa serta tanah. Tetapi nilai hutan jauh lebih
besar daripada sekadar jumlah ton karbon yang dapat diserap.
Hutan merupakan rumah bagi berbagai
jenis tumbuhan, mamalia, burung, serangga, mikroorganisme, dan organisme
lainnya. Hutan juga menjadi bagian dari sistem tata air dan menyediakan
berbagai sumber pangan, bahan baku, obat-obatan, serta mata pencaharian masyarakat.
IPCC menegaskan bahwa hutan tropis
merupakan pengatur penting siklus karbon dan air serta merupakan salah satu
pusat keanekaragaman hayati dunia. Kerusakan hutan tropis karena itu bukan
hanya persoalan kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan fungsi ekologis dan
sosial yang jauh lebih luas.
Karena itu, menjaga pohon yang
sudah tumbuh sering kali sama pentingnya, bahkan lebih penting, daripada
sekadar menanam pohon baru.
Pohon besar yang telah tumbuh
puluhan tahun menyimpan karbon dalam biomassa yang tidak dapat langsung
digantikan oleh bibit baru. Ketika hutan alam ditebang, proses pemulihan fungsi
ekologisnya dapat membutuhkan waktu sangat panjang.
Indonesia's FOLU Net Sink 2030
Dalam konteks kebijakan nasional, perlindungan dan
pemulihan ekosistem menjadi semakin strategis melalui program Indonesia's
FOLU Net Sink 2030.
FOLU merupakan singkatan dari Forestry and Other Land
Use. Konsep net sink berarti sektor kehutanan dan penggunaan lahan
diharapkan mampu menyerap emisi lebih besar daripada emisi yang dilepaskannya.
Kebijakan Indonesia's FOLU Net Sink
2030 bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu pengelolaan hutan
berkelanjutan, tata kelola lingkungan, dan tata kelola karbon. Programnya
tidak hanya berupa penanaman pohon, tetapi juga mencakup pengurangan
deforestasi dan degradasi hutan, pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan,
restorasi gambut, konservasi keanekaragaman hayati, perhutanan sosial, serta
peningkatan serapan karbon.
Pemerintah menargetkan kondisi FOLU
Net Sink pada 2030 dengan kontribusi sektor kehutanan dan penggunaan lahan
sebagai penyerap bersih emisi. Strateginya antara lain menghindari deforestasi,
melakukan konservasi dan pengelolaan hutan secara lestari, melindungi serta
merestorasi gambut, dan meningkatkan penyerapan karbon.
Dengan demikian, Gerakan Satu
Juta Pohon dapat dipahami sebagai gerakan masyarakat yang memiliki hubungan
langsung dengan agenda konservasi, restorasi ekosistem, dan mitigasi perubahan
iklim nasional.
Dari "Menanam Pohon"
Menjadi "Menumbuhkan Ekosistem"
Inilah perubahan cara berpikir yang sangat penting.
Gerakan penghijauan seharusnya tidak berhenti pada
kegiatan: ambil bibit → buat lubang → tanam → foto → selesai.
Pendekatan seperti itu berisiko
menghasilkan tingkat kematian bibit yang tinggi. Penanaman yang tidak
memperhatikan kondisi ekologis juga dapat menyebabkan jenis tanaman tidak
tumbuh optimal, membutuhkan biaya pemeliharaan besar, atau bahkan mengganggu ekosistem
lokal.
Pendekatan yang lebih baik adalah:
pilih lokasi → identifikasi ekosistem → pilih spesies
yang sesuai → tanam → pelihara → pantau → ukur keberhasilan → lakukan
penyulaman → pastikan keberlanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak
lagi dihitung hanya berdasarkan jumlah bibit yang masuk ke tanah, tetapi
berdasarkan tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, peningkatan tutupan
vegetasi, fungsi ekologis, karbon yang tersimpan, dan manfaat bagi masyarakat.
IPCC juga mengingatkan bahwa restorasi dan penghijauan
dapat memiliki trade-off apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan
kebutuhan pangan, keanekaragaman hayati, air, dan penggunaan lahan. Restorasi
hutan alami dan ekosistem yang sesuai kondisi setempat pada umumnya memberikan
manfaat ekologis yang lebih luas dibandingkan pendekatan penanaman yang hanya
mengejar jumlah pohon.
Pohon Lokal untuk Ekosistem Lokal
Salah satu prinsip penting dalam gerakan penghijauan
modern adalah "right tree, right place"—jenis pohon yang tepat
pada tempat yang tepat.
Indonesia memiliki keanekaragaman
hayati yang sangat tinggi sehingga pemilihan spesies perlu memperhatikan
karakteristik ekosistem. Hutan mangrove, misalnya, memerlukan pendekatan
berbeda dengan hutan pegunungan, hutan rawa gambut, hutan dataran rendah, kawasan
pesisir, maupun ruang terbuka perkotaan.
Untuk restorasi ekosistem,
penggunaan jenis asli atau spesies yang sesuai dengan kondisi ekologis setempat
dapat membantu mempertahankan karakter biodiversitas lokal. Pada saat yang
sama, jenis pohon produktif dapat dipertimbangkan dalam sistem agroforestri
apabila tujuannya juga meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pendekatan seperti agroforestri
memungkinkan pohon, tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan bahkan ternak
dikelola dalam satu sistem yang saling mendukung. Dengan demikian, konservasi
tidak harus diposisikan berlawanan dengan ekonomi masyarakat.
Hutan dan Keanekaragaman Hayati
Pohon merupakan fondasi penting bagi
kehidupan satwa liar. Batang, cabang, daun, bunga, buah, dan akar
menyediakan berbagai sumber makanan serta tempat berlindung.
Satu pohon dengan struktur tajuk yang kompleks dapat
menyediakan habitat bagi berbagai organisme. Ketika pohon-pohon membentuk hutan,
terbentuk jaringan ekologis yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, penghijauan yang hanya
menggunakan satu jenis pohon dalam jumlah sangat besar tidak selalu identik
dengan restorasi ekosistem. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon; hutan adalah
komunitas kehidupan.
Restorasi yang baik harus berupaya
membangun kembali struktur dan fungsi ekosistem, termasuk interaksi antara
tumbuhan, hewan, mikroorganisme, tanah, air, dan manusia.
Pohon dan Ketahanan terhadap Banjir
serta Kekeringan
Perubahan iklim dapat meningkatkan
risiko kejadian ekstrem di berbagai wilayah. Hujan sangat lebat dapat
meningkatkan risiko banjir, sementara periode kering yang panjang dapat
memperbesar risiko kekeringan dan kebakaran.
Ekosistem yang sehat membantu
meningkatkan ketahanan terhadap kondisi tersebut. Hutan dan vegetasi dapat
memperlambat aliran air, meningkatkan infiltrasi, mengurangi erosi, dan
membantu mempertahankan kelembapan tanah.
Pada daerah aliran sungai,
rehabilitasi vegetasi di bagian hulu dapat menjadi bagian dari strategi
pengelolaan risiko banjir. Di wilayah perkotaan,
pepohonan dan ruang hijau dapat dikombinasikan dengan infrastruktur drainase
dan blue-green infrastructure.
Namun, vegetasi bukan pengganti infrastruktur
pengendalian banjir. Solusi terbaik adalah kombinasi antara konservasi
ekosistem, tata ruang, drainase yang baik, pengelolaan sungai, sistem
peringatan dini, dan pengurangan risiko berbasis masyarakat.
Gerakan Satu Juta Pohon sebagai
Gerakan Kesehatan
Lingkungan hijau juga memiliki
hubungan dengan kualitas hidup manusia.
Pepohonan membantu menyaring
sebagian partikulat dan polutan udara, menyediakan keteduhan, mengurangi panas,
serta menciptakan ruang untuk aktivitas fisik dan rekreasi. Kawasan hijau yang
dirancang dengan baik juga dapat meningkatkan kualitas ruang publik.
Dengan demikian, pohon bukan hanya
instrumen lingkungan, tetapi juga bagian dari infrastruktur kesehatan
masyarakat.
Kota yang memiliki taman, koridor
hijau, jalur pejalan kaki yang dinaungi pepohonan, serta ruang publik yang
nyaman pada dasarnya sedang membangun lingkungan yang lebih sehat bagi
masyarakat.
Menanam Pohon sebagai Investasi Ekonomi
Gerakan menanam pohon juga dapat
dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi hijau.
Pohon produktif dapat menghasilkan buah, kayu, rempah,
bahan obat, madu, pakan, dan berbagai produk non-kayu. Sistem agroforestri
dapat memberikan pendapatan sambil menjaga fungsi ekologis.
Ekowisata juga dapat berkembang ketika hutan dan lanskap
alami dipelihara dengan baik. Masyarakat dapat memperoleh pendapatan melalui
jasa pemandu, produk lokal, penginapan, kuliner, kerajinan, dan jasa
lingkungan.
Dengan demikian, paradigma yang perlu dibangun bukan:
lingkungan versus ekonomi,
melainkan:
lingkungan yang sehat sebagai fondasi ekonomi yang
berkelanjutan.
Apa yang Dapat Dilakukan Masyarakat?
Peringatan Hari Gerakan Satu Juta
Pohon dapat diubah menjadi gerakan nyata yang sederhana tetapi konsisten.
Masyarakat dapat memulai dengan
menanam pohon di halaman rumah, sekolah, kampus, kantor, fasilitas umum,
kawasan ibadah, bantaran sungai yang sesuai, lahan desa, dan ruang publik.
Tetapi kegiatan tersebut harus disertai pemeliharaan.
Satu pohon yang ditanam dan dirawat
selama sepuluh tahun jauh lebih bernilai daripada puluhan bibit yang ditanam
lalu mati beberapa minggu kemudian.
Sekolah dapat membuat "adopsi
pohon", yaitu setiap siswa tidak hanya menanam satu pohon tetapi
bertanggung jawab memantau pertumbuhannya. Desa dapat membuat peta pohon dan
menetapkan kawasan prioritas penghijauan. Pemerintah daerah dapat mengembangkan
koridor hijau dan ruang terbuka hijau berbasis ekologi.
Perusahaan dapat mengintegrasikan
penghijauan ke dalam program keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dengan
sistem pemantauan yang transparan. Perguruan tinggi dapat mengembangkan metode
pengukuran biomassa, karbon, biodiversitas, kualitas tanah, dan keberhasilan
restorasi.
Dari Gerakan Seremonial Menjadi Gerakan Berbasis Data
Salah satu kelemahan program penghijauan adalah
keberhasilan sering kali hanya dilaporkan berdasarkan jumlah bibit yang
ditanam.
Padahal indikator yang lebih bermakna antara lain:
- jumlah bibit
yang ditanam;
- persentase
kelangsungan hidup;
- pertambahan
diameter dan tinggi pohon;
- peningkatan
tutupan vegetasi;
- peningkatan
karbon biomassa;
- perbaikan
kualitas tanah;
- perbaikan
tata air;
- peningkatan
keanekaragaman hayati;
- pengurangan
suhu mikro;
- manfaat
ekonomi bagi masyarakat.
Teknologi penginderaan jauh, citra satelit, drone, GPS, remote
sensing, GIS, dan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memantau
perkembangan tutupan vegetasi.
Dengan demikian, gerakan satu juta pohon dapat
dikembangkan menjadi sistem pemantauan ekologi nasional berbasis data.
Lima Langkah Implementasi Gerakan Pohon yang Lebih
Efektif
Agar Gerakan Satu Juta Pohon benar-benar memberikan
dampak, pendekatannya dapat disederhanakan menjadi lima tahap.
1. Petakan lokasi
Tentukan lahan prioritas berdasarkan
tingkat degradasi, risiko erosi, kekurangan tutupan vegetasi, daerah tangkapan
air, kebutuhan ruang hijau, dan kepentingan konservasi.
2. Pilih spesies yang sesuai
Gunakan spesies yang sesuai dengan
ekosistem, kondisi tanah, ketersediaan air, tujuan rehabilitasi, serta
kebutuhan masyarakat.
3. Tanam dengan teknik yang benar
Waktu penanaman, jarak tanam,
kualitas bibit, lubang tanam, pemupukan awal, perlindungan dari gangguan
ternak, dan pengendalian gulma perlu diperhatikan.
4. Rawat dan sulam
Bibit yang mati harus diganti. Pemeliharaan pada tahun-tahun awal
sangat menentukan keberhasilan program.
5. Ukur hasilnya
Program harus memiliki indikator keberhasilan yang dapat
diverifikasi. Pohon yang hidup adalah output; ekosistem yang pulih adalah
outcome.
Tantangan yang Harus Diwaspadai
Gerakan penghijauan juga mempunyai
sejumlah risiko apabila dilakukan secara tidak tepat.
Penanaman monokultur dalam skala besar dapat mengurangi
keragaman habitat. Penanaman pada lokasi yang sebenarnya merupakan ekosistem
terbuka alami juga dapat mengubah karakter ekosistem tersebut. Sementara itu, penggunaan jenis yang
tidak sesuai dapat meningkatkan kebutuhan air atau pemeliharaan.
Karena itu, prinsip pentingnya
adalah restorasi berbasis ekosistem, bukan sekadar penghijauan berbasis
jumlah bibit.
IPCC menekankan bahwa manfaat
mitigasi berbasis lahan sangat bergantung pada konteks lokal. Intervensi yang
tepat dapat memberikan manfaat bagi biodiversitas, air, tanah, dan
kesejahteraan, tetapi desain yang keliru dapat menimbulkan konflik penggunaan lahan
dan dampak negatif terhadap ekosistem.
Agenda Gerakan Satu Juta Pohon 2026
dan Seterusnya
Memasuki dekade 2020-an, Gerakan
Satu Juta Pohon perlu mendapatkan bentuk baru yang lebih ilmiah dan terukur.
Gerakan tersebut dapat diarahkan
menjadi Gerakan Pohon Indonesia Berbasis Ekosistem, dengan lima agenda
utama.
Pertama, melindungi pohon dan hutan
yang masih ada. Pohon yang sudah besar tidak boleh dipandang
sama dengan bibit yang baru ditanam.
Kedua, memulihkan ekosistem yang
rusak. Kawasan hutan
terdegradasi, daerah aliran sungai, mangrove, gambut, lahan kritis, dan ruang
terbuka perkotaan memerlukan pendekatan yang berbeda.
Ketiga, memperluas agroforestri. Sistem produksi yang menggabungkan
pohon dan pertanian dapat menjadi jembatan antara konservasi dan ekonomi
masyarakat.
Keempat, membangun kota hijau. Penanaman pohon harus
diintegrasikan dengan tata ruang, transportasi, drainase, kesehatan, dan ruang
publik.
Kelima, membangun sistem monitoring karbon dan
biodiversitas. Setiap program penghijauan harus dapat
diketahui lokasinya, jenis tanamannya, tingkat keberhasilannya, serta manfaat
ekologisnya.
Pendekatan ini sejalan dengan arah FOLU Net Sink
Indonesia yang tidak hanya menekankan penanaman, tetapi juga pengurangan
deforestasi, rehabilitasi, restorasi gambut, konservasi biodiversitas,
perhutanan sosial, dan peningkatan serapan karbon.
Kesimpulan
Hari Gerakan Satu Juta Pohon bukan
sekadar hari untuk menanam pohon. Hari ini adalah momentum untuk mengevaluasi
hubungan manusia dengan alam.
Pohon membantu menyerap karbon, menghasilkan oksigen
melalui fotosintesis, mengatur tata air, mengurangi erosi, menyediakan habitat,
membantu mendinginkan lingkungan, dan mendukung kehidupan manusia serta satwa.
Hutan dan ekosistem daratan juga mempunyai peran penting dalam mitigasi
perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Namun, menghadapi perubahan iklim tidak cukup dengan
menanam pohon. Emisi harus dikurangi dari sumbernya, terutama melalui
transformasi sistem energi, peningkatan efisiensi, pengembangan energi rendah
karbon, transportasi berkelanjutan, pengelolaan industri yang lebih bersih,
serta perlindungan hutan dan ekosistem.
Karena itu, pesan Hari Sejuta Pohon
perlu diperluas dari:
"Mari menanam satu juta
pohon."
menjadi:
"Mari melindungi pohon yang
ada, menanam pohon yang tepat, merawatnya sampai tumbuh, memulihkan ekosistem,
dan memastikan manfaatnya dirasakan generasi mendatang."
Pada akhirnya, keberhasilan gerakan
ini bukan ditentukan oleh seberapa banyak bibit yang pernah ditanam, melainkan
oleh seberapa banyak kehidupan yang berhasil kita pulihkan.
Satu pohon mungkin tampak kecil jika
berdiri sendirian. Namun jutaan pohon yang tumbuh sehat, terhubung dalam
ekosistem yang berfungsi, dapat menjadi benteng alami bagi tanah, air,
keanekaragaman hayati, masyarakat, dan iklim. Itulah sebabnya menanam pohon
hari ini pada hakikatnya adalah investasi untuk kehidupan Indonesia dan masa
depan bumi.
Daftar Pustaka
- Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC). Climate Change 2022: Mitigation of
Climate Change, Chapter 7—Agriculture, Forestry and Other Land Uses.
- IPCC. Climate
Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability—Cross-Chapter Paper 7:
Tropical Forests.
- IPCC. Climate
Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability—Summary for
Policymakers.
- IPCC. Climate
Change 2023: Synthesis Report.
- Pemerintah
Indonesia. Enhanced Nationally Determined Contribution Republic of
Indonesia.
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Indonesia's
FOLU Net Sink 2030.
- Direktorat
Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan. Indonesia's FOLU Net
Sink 2030 dan Strategi Mitigasi Sektor Kehutanan.
#HariSejutaPohon
#Pohon
#PerubahanIklim
#FOLUNetSink
#Lingkungan

