Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 13 September 2025

Dunia Panik! Pakar Global Berbondong ke Brasil Cari Solusi Flu Burung

 

Brasil mendadak menjadi sorotan dunia. Selama tiga hari, 9–11 September 2025, sekitar 500 pakar dari berbagai belahan dunia berkumpul di sana untuk membahas ancaman flu burung yang kini menyebar tanpa batas. Untuk pertama kalinya, dialog global multisektoral digelar—mempertemukan pemerintah, ilmuwan, industri, dan organisasi internasional—dengan satu tujuan mendesak: mencari solusi nyata menghadapi panzootik flu burung yang kian mengancam kesehatan hewan, manusia, perdagangan, hingga ketahanan pangan global.

 

Dalam respons yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap penyebaran flu burung patogenisitas tinggi (HPAI) yang cepat di seluruh dunia, para pemangku kepentingan dan pakar dari seluruh sektor perunggasan, kesehatan masyarakat, sains, dan kebijakan berkumpul di Brasil dalam sebuah pertemuan penting pada 9-11 September 2025. Dialog multisektoral global pertama ini bertujuan untuk membentuk pertahanan terkoordinasi terhadap ancaman yang semakin meningkat terhadap kesehatan hewan dan manusia serta mata pencaharian pertanian.

 

Avian Influenza (AI), umumnya dikenal sebagai flu burung, adalah penyakit virus yang sangat menular yang terutama menginfeksi unggas. Virus ini termasuk dalam famili influenza Tipe A, yang dikenal karena kemampuannya bermutasi dan berubah dengan cepat. Sejak 2020, HPAI telah berkembang pesat di berbagai benua, menghancurkan populasi unggas, berdampak pada keanekaragaman hayati, perdagangan, dan ketahanan pangan, serta menimbulkan kekhawatiran akan potensinya memicu pandemi pada manusia. Para ahli memperingatkan bahwa panzootik influenza burung yang saat ini beredar kini telah menyebar luas dan merupakan salah satu ancaman pandemi paling serius. Influenza burung telah menyebar ke 83 spesies mamalia, termasuk sapi perah dan satwa liar, dan menimbulkan risiko yang terus berkembang pesat.

 

“Flu burung bukan lagi ancaman sporadis; kini telah menjadi tantangan global,” kata Beth Bechdol, Wakil Direktur Jenderal FAO. “Tidak ada satu negara atau sektor pun yang dapat mengatasi ancaman ini sendirian—dan kegagalan bukanlah suatu pilihan. Kolaborasi praktis berbasis sains seperti ini sangat penting untuk melindungi sistem pertanian pangan, mata pencaharian, dan kesehatan masyarakat kita,” tambahnya. Diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Peternakan Brasil, acara "Menangani flu burung patogenisitas tinggi bersama – Dialog sains, kebijakan, dan sektor swasta global" mempertemukan sekitar 500 pakar dan pengambil keputusan untuk menggalang kolaborasi dan investasi multisektoral.

 

Perwakilan dari sektor swasta, termasuk asosiasi industri yang terlibat dalam produksi unggas dan penyediaan layanan kesehatan hewan, juga bergabung dengan para pemimpin pemerintah dan ilmiah untuk pertama kalinya dalam dialog global semacam ini—memberikan kesempatan untuk lebih memahami tantangan sektor swasta, mengakui upaya berkelanjutan mereka, dan menyoroti solusi yang telah mereka terapkan untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh flu burung.

 

Para pakar dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika – banyak di antaranya merupakan anggota Jaringan Keahlian OFFLU tentang Influenza Hewan dari FAO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) – juga berpartisipasi dalam dialog ini. “Menangani flu burung membutuhkan upaya kolektif yang menyatukan negara, sektor produktif, komunitas ilmiah, dan organisasi internasional. Tantangan ini harus dihadapi dengan transparansi penuh, karena hanya dengan cara inilah kita dapat membangun kepercayaan dan menjaga ketahanan pangan global,” ujar Carlos Favaro, Menteri Pertanian dan Peternakan Brasil. “Saya ingin menekankan bahwa tahun ini, ketika flu burung terdeteksi di sebuah peternakan komersial, Brasil menunjukkan perbedaan yang signifikan. Respons kami yang cepat dan efektif menunjukkan kekuatan dan kredibilitas sistem sanitasi Brasil.”

 

TEMA PRIORITAS

 

Acara ini bertujuan untuk mengembangkan Strategi Global untuk Pencegahan dan Pengendalian HPAI, yang baru-baru ini diluncurkan oleh FAO bekerja sama dengan WOAH. Strategi ini bertujuan untuk mendukung pengembangan dan implementasi rencana aksi nasional dan regional sekaligus memperkuat upaya global untuk mengurangi risiko lintas batas dan pandemi.

 

Acara tiga hari ini berfokus pada:

• Mengidentifikasi strategi pencegahan dan pengendalian HPAI yang efektif—terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan sistem peternakan unggas informal,

• Mempromosikan sistem peringatan dini, strategi vaksinasi, dan langkah-langkah biosekuriti,

• Meningkatkan koordinasi multisektoral berdasarkan pendekatan Satu Kesehatan,

• Berbagi solusi inovatif dan siap pakai di lapangan untuk diagnostik, surveilans, dan respons wabah.

 

Thanawat Tiensin, Kepala Dokter Hewan FAO dan Direktur Divisi Produksi dan Kesehatan Hewan, merangkum pendekatan FAO dalam sambutannya: “Peningkatan surveilans, biosekuriti, dan vaksinasi jika diperlukan, dikombinasikan dengan pengendalian penyakit yang cepat, merupakan kunci untuk mengendalikan penyakit ini. Pada saat yang sama, transformasi produksi unggas yang berkelanjutan menawarkan pendekatan dan perlindungan baru untuk mencegah kerugian akibat penyakit unggas. Diperlukan pendekatan holistik dan kemitraan dengan sektor swasta untuk secara efektif mengurangi risiko flu burung bagi generasi mendatang.”

 

"Perdebatan seputar Flu Burung merupakan masalah kerja sama internasional dan membutuhkan upaya bersama dari semua negara," ujar Ricardo Santin, presiden Asosiasi Protein Hewani Brasil dan Dewan Unggas Internasional. "Ini merupakan isu yang berdampak langsung pada arus perdagangan dan, akibatnya, pada inflasi dan ketahanan pangan global. Ini adalah isu sensitif yang harus dipandu oleh pengetahuan dan sains, dan yang menuntut revisi konsep dan paradigma."


#FluBurung 

#KesehatanGlobal 

#OneHealth 

#KetahananPangan 

#IndustriUnggas


Terungkapnya Clade Baru Virus Flu Burung H5N1


Pada akhir tahun 2012, peternak itik di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur dikejutkan oleh wabah misterius. Ribuan itik mati mendadak, sebagian besar masih berusia muda. Gejala yang muncul cukup aneh: ada itik yang kepalanya terpuntir (tortikolis), matanya memutih, hingga lumpuh dan mati. Pada itik dewasa, dampaknya lebih banyak berupa penurunan produksi telur.

 

Balai Besar Veteriner Wates segera turun tangan melakukan investigasi. Tim lapangan mengumpulkan sampel dari jaringan tubuh, usapan tenggorok, kotoran, bahkan bulu itik. Hasil uji laboratorium menunjukkan, penyebab utamanya bukan bakteri atau jamur, melainkan virus flu burung tipe H5N1.

 

Mengapa Kasus Ini Mengherankan?

 

Sejak tahun 2003, Indonesia sudah akrab dengan virus flu burung H5N1 clade 2.1 yang terutama menyerang ayam. Itik selama ini relatif lebih tahan, sehingga kasus kematian massal jarang terjadi. Namun, dalam wabah 2012 ini, justru itik yang paling terpukul. Rata-rata tingkat kematian mencapai hampir 40%, bahkan di beberapa lokasi mencapai 100%.

 

Yang lebih mengejutkan, hasil analisis genetik menunjukkan virus yang menyerang itik tersebut bukan berasal dari clade lama (2.1), melainkan dari clade baru: 2.3.2.1. Virus ini sebelumnya belum pernah terdeteksi di Indonesia. Dengan kata lain, ada kemungkinan telah terjadi “pendatang baru” dalam peta flu burung nasional.

 

Bukti dari Laboratorium

 

Pemeriksaan jaringan otak itik yang mati memperlihatkan adanya kerusakan saraf parah, peradangan, dan jejak antigen virus yang menempel di sel-sel otak. Semua ini menegaskan bahwa virus H5N1 memang menyerang sistem saraf itik dengan ganas.

 

Analisis DNA memperlihatkan bahwa virus tersebut punya kemiripan 97–98% dengan virus clade 2.3.2.1 yang beredar di luar negeri, sementara kesamaannya dengan virus lama clade 2.1 di Indonesia hanya sekitar 91–93%. Artinya, virus ini kemungkinan besar datang dari luar, bukan hasil mutasi dari virus lokal.

 

Implikasi bagi Indonesia

 

Penemuan clade baru ini menjadi alarm penting. Selama hampir satu dekade, Indonesia “hanya” bergulat dengan virus H5N1 clade 2.1. Kini, munculnya clade 2.3.2.1 membuka potensi ancaman baru: apakah virus ini bisa menyebar ke ayam atau bahkan menular ke manusia? Pertanyaan ini membutuhkan riset lanjutan.

 

Selain itu, kasus ini juga mengingatkan pentingnya sistem pengawasan penyakit hewan. Lalu lintas unggas, baik itik maupun produk turunannya, bisa menjadi jalur masuk dan penyebaran virus baru. Tanpa pengawasan ketat, virus ini berpotensi meluas ke wilayah lain di Indonesia.

 

Kesimpulan

 

Wabah pada itik di Jawa pada tahun 2012 bukan sekadar kejadian lokal, melainkan penanda munculnya clade baru flu burung H5N1 di Indonesia. Fakta ini menegaskan bahwa virus flu burung terus berevolusi, menembus batas spesies, dan siap menghadirkan ancaman baru jika tidak diawasi dengan baik.

 

Langkah selanjutnya sangat jelas: riset lebih mendalam, pengawasan lebih ketat, serta kolaborasi antarpeternak, pemerintah, dan ilmuwan untuk mencegah wabah lebih besar di masa depan.

Friday, 12 September 2025

Flu Burung Mengancam,Dunia Satukan Kekuatan di Brazil

 



Flu Burung Mengguncang Dunia: 

Brasil Jadi Pusat Pertemuan Global Menentukan Masa Depan Pangan dan Kesehatan

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Brasil menjadi tuan rumah pertemuan global yang mempertemukan lebih dari 500 pakar dari seluruh dunia—mulai dari pejabat pemerintah, ilmuwan, pakar kesehatan masyarakat, hingga pelaku industri unggas. Mereka berkumpul dalam sebuah forum bersejarah untuk membahas ancaman flu burung (avian influenza) yang kini kian tak terbendung, merenggut jutaan populasi unggas, mengancam keanekaragaman hayati, hingga menimbulkan potensi bahaya pandemi bagi manusia.

 

Ratusan pakar dari berbagai bidang—pemerintah, kesehatan masyarakat, pertanian, ilmu pengetahuan, hingga sektor swasta—berkumpul di Brasil pada 9-11 September 2025 dalam sebuah dialog global bersejarah untuk menghadapi ancaman flu burung (avian influenza) yang kini berkembang menjadi krisis lintas benua.

 

Pertemuan tiga hari yang diselenggarakan oleh FAO bersama Kementerian Pertanian dan Peternakan Brasil ini menjadi forum multisektoral pertama di dunia yang sepenuhnya berfokus pada pengendalian HPAI (high pathogenicity avian influenza), sebuah penyakit menular yang tidak hanya meluluhlantakkan populasi unggas dan mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga menimbulkan risiko serius bagi kesehatan manusia serta ketahanan pangan global.

 

Brasil dipilih bukan tanpa alasan—sebagai eksportir unggas terbesar dunia, negara ini berada di garis depan pengawasan, terlebih setelah kasus H5N1 sempat terdeteksi di salah satu peternakan komersial awal tahun ini dan berhasil dikendalikan dengan cepat, menunjukkan ketangguhan sistem kesehatan hewan nasionalnya.

 

Diskusi yang berlangsung mencakup penguatan sistem surveilans dan peringatan dini, perluasan akses vaksinasi dan biosekuriti, dukungan bagi negara berpendapatan rendah dan peternak kecil, serta kolaborasi lintas sektor dalam kerangka One Health. Untuk pertama kalinya pula, sektor swasta—termasuk asosiasi industri, produsen unggas, dan penyedia layanan kesehatan hewan—ikut duduk bersama, menegaskan bahwa ancaman flu burung bukan hanya persoalan kesehatan, melainkan juga menyangkut perdagangan, inflasi, dan pasokan pangan dunia.

 

Strategi global yang baru diluncurkan FAO dan WOAH menekankan pentingnya transparansi, koordinasi lintas batas, serta investasi berkelanjutan agar dunia dapat menekan risiko pandemi berikutnya. Melalui dialog yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, Brasil menjadi panggung lahirnya kesepahaman baru: bahwa hanya dengan kerja sama erat antarnegara, ilmuwan, dan sektor swasta, ancaman flu burung dapat dikendalikan demi melindungi sistem pangan, kesehatan, dan masa depan umat manusia.

 

Kesimpulan

Pertemuan bersejarah di Brasil ini menegaskan satu hal penting: ancaman flu burung bukan lagi persoalan satu negara atau satu sektor, melainkan tantangan global yang membutuhkan solidaritas, transparansi, dan aksi bersama. Dengan keterlibatan pemerintah, ilmuwan, organisasi internasional, dan sektor swasta, dunia kini memiliki peluang lebih besar untuk mencegah krisis kesehatan dan pangan berikutnya. Jika semangat kolaborasi ini terus dijaga, maka harapan untuk melindungi ketahanan pangan, kesehatan publik, dan masa depan generasi mendatang tetap terbuka lebar.

Thursday, 11 September 2025

Teknologi Revolusioner: Potensi Super Enzim Alami

 

Protein ditentukan oleh urutan asam aminonya.

 


Teknologi Mutakhir Generasi Baru Membuka Potensi Super Enzim Alami

 

Bayangkan sebuah dunia di mana rahasia kehidupan terkecil bisa diubah menjadi solusi terbesar bagi manusia: dari roti yang tetap lembut lebih lama, hingga bakteri laut dalam yang menyimpan “mesin biologis” tahan panas ekstrem. Semua itu dimungkinkan berkat enzim—protein mungil dengan kemampuan luar biasa yang bekerja sebagai katalisator reaksi kimia. Kini, berkat terobosan teknologi terbaru, para ilmuwan mampu mengungkap “kekuatan super” enzim yang tersembunyi di mikroba langka dan ekstremofil tanpa perlu menumbuhkannya di laboratorium. Teknologi ini bukan hanya membuka pintu bagi penemuan ilmiah yang menakjubkan, tetapi juga berpotensi mengubah masa depan pangan, kesehatan, dan lingkungan secara revolusioner.

 

Enzim adalah protein yang memandu (mengkatalisis) reaksi kimia yang sangat spesifik. Enzim memainkan peran penting dalam semua bentuk kehidupan. Beberapa enzim menjalankan fungsi biologi sehari-hari seperti mencerna makanan, beberapa berperan penting dalam pertumbuhan, beberapa berperan sebagai perlindungan terhadap racun, dan beberapa di antaranya memberi organisme "kekuatan super" yang unik. Misalnya, terdapat enzim pada tumbuhan yang disebut RuBisCO yang memungkinkan mereka mengubah energi matahari menjadi bahan penyusun dasar makanan, yaitu gula. Terdapat enzim pada bakteri tertentu yang memungkinkan mereka mengubah gas nitrogen dari atmosfer menjadi bentuk yang dapat digunakan untuk mendukung semua kehidupan di bumi. 


Meskipun manusia menghasilkan berbagai enzim sendiri, selama ribuan tahun kita telah menemukan cara untuk memanfaatkan enzim dari mikroorganisme, jauh sebelum enzim tersebut teridentifikasi. Awalnya, hal ini dilakukan dengan menggabungkan tepung atau anggur dengan ragi atau bakteri alami yang tumbuh di alam, untuk menghasilkan produk fermentasi seperti anggur atau yogurt. Namun, pada abad terakhir ini kita telah mempelajari cara mengisolasi dan memproduksi enzim itu sendiri serta menggunakannya secara langsung dalam proses ini. Misalnya, enzim “amilase”, yang biasanya ditemukan dalam air liur dan digunakan untuk mulai memecah pati yang kita makan, digunakan untuk memodifikasi pati dalam tepung roti agar tidak cepat mengkristal dan membuat roti “basi”.

 

Enzim yang disebut amilase memungkinkan roti iris dinikmati lebih lama setelah dibeli tanpa menjadi basi.

 

Mikroba alami (bakteri dan jamur) merupakan sumber enzim yang kaya dan bermanfaat, tetapi hingga saat ini hanya sebagian kecil dari potensi keanekaragaman tersebut yang dapat diakses karena diperlukan kemampuan untuk menumbuhkan organisme di laboratorium guna mempelajarinya dan memahami kemampuannya. Dunia ini penuh dengan organisme yang tidak dapat ditumbuhkan di laboratorium, setidaknya tanpa teknik yang sangat khusus. Hal ini terutama berlaku untuk organisme yang hidup di lingkungan yang sangat tidak biasa seperti ventilasi panas laut dalam atau di air atau tanah yang sangat asin. Istilah umum untuk organisme yang hidup di lingkungan yang keras ini adalah "ekstremofil" dan mereka menarik karena enzim mereka telah berevolusi untuk dapat "beroperasi" dalam kondisi yang tidak biasa seperti suhu tinggi atau lingkungan yang sangat asam.

 

Penemuan Teknologi Baru

 

Ada sebuah perusahaan yang berbasis di Jepang bernama bitBiome yang telah mengembangkan cara baru untuk menemukan enzim "super power" yang dihasilkan oleh ekstremofil atau kategori mikroba eksotis lainnya, tanpa perlu menumbuhkan organisme tersebut di laboratorium. Teknologi mereka dimulai dengan teknik penyortiran mikroskopis yang memungkinkan mereka mengisolasi sel bakteri tunggal dari sampel lingkungan atau biologis campuran. Mereka kemudian dapat menggunakan teknologi yang baru dikembangkan untuk membuat banyak salinan DNA bakteri tersebut dan mengurutkannya, semuanya tanpa harus menumbuhkan lebih banyak bakteri yang telah diisolasi. Kemudian mereka menggunakan kombinasi genetika evolusioner, bio dan kimia-informatika, serta kecerdasan buatan untuk membandingkan urutan dan memprediksi karakteristik tiga dimensi protein baru ini dengan informasi serupa yang tersedia di basis data publik dan privat yang mencakup urutan yang diketahui atau protein yang diminati. Urutan yang dikumpulkan bitBiome disimpan oleh basis data mereka, yang sekarang menampung sekitar 2,4 miliar urutan dari lebih dari 1 juta organisme. Dengan teknologi pengurutan mereka, basis data ini tumbuh lebih dari 1 miliar urutan per tahun. AI berperan penting dalam membantu mengidentifikasi enzim yang tampaknya berbeda dengan aktivitas target yang serupa.

 

Protein memiliki struktur tiga dimensi yang rumit yang ditentukan oleh urutan asam amino yang dikodekan oleh DNA dalam suatu gen. Gambar disediakan oleh bitBiome

 

Hal ini juga memungkinkan mereka untuk mengevaluasi fungsi enzim atau protein yang baru diidentifikasi ini. Bahkan dengan AI, proses penemuan dan "penambangan" ini mustahil dilakukan tanpa kemampuan untuk mengurutkan sel-sel individual. Hal ini karena teknik umum bergantung pada teknologi pengurutan yang telah berusia puluhan tahun yang disebut shotgun metagenomics, yang seringkali melewatkan populasi bakteri dari sampel kompleks. Akibat kekurangan teknologi yang ada ini, kita masih belum mengidentifikasi lebih dari 99% spesies bakteri yang ditemukan di planet kita.

 

Aplikasi Teknologi

 

Ada banyak aplikasi potensial untuk metode penemuan enzim baru ini, termasuk biomanufaktur, remediasi limbah atau toksin, daur ulang tekstil dan plastik yang berkelanjutan, dan produksi aditif makanan alami. Meskipun bitBiome saat ini berfokus pada kemitraan dengan perusahaan yang mencari enzim baru atau yang telah ditingkatkan untuk dikembangkan, mereka juga memiliki lini produk internal tempat mereka mengembangkan rangkaian enzim, protein, atau bahan mereka sendiri untuk aplikasi komersial. bitBiome juga menawarkan pengurutan sel tunggal mereka kepada perusahaan dan peneliti akademis yang ingin menganalisis populasi mikroba pada tingkat sel tunggal. Penelitian semacam ini sangat penting, terutama dalam memahami mikrobioma usus, tetapi juga untuk memahami populasi mikroba kompleks di dalam tanah, misalnya, di antara akar tanaman yang sedang tumbuh. Bakteri telah lama dipahami berinteraksi dengan lingkungannya secara negatif maupun positif, mulai dari H. pylori, bakteri usus yang menyebabkan tukak lambung, hingga Lactobacillus, yang dikenal membantu kesehatan usus.

 

Teknologi bitBiome yang memungkinkan pengurutan sel tunggal merupakan alat baru yang berharga untuk mempelajari mikrobioma usus manusia.

 

Kemitraan

 

bitBiome telah meraih kesuksesan dengan sejumlah mitra, termasuk Ajinomoto, perusahaan Jepang yang telah menyediakan enzim untuk industri pengolahan makanan selama beberapa dekade. Teknologi enzim pangan Ajinomoto berkontribusi pada peningkatan produktivitas pangan, pengurangan biaya, dan penggunaan sumber daya pangan yang lebih efisien. Kolaborasi antara bitBiome dan Ajinomoto difokuskan pada pemanfaatan teknologi milik bitBiome untuk menemukan enzim yang benar-benar baru dengan fungsi dan aplikasi inovatif di mana solusi yang memadai belum tersedia hingga saat ini.

 

Akan sangat menarik untuk melihat fungsi dan kemampuan baru apa yang dapat ditemukan dan bagaimana hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh bioekonomi yang sedang berkembang.

 

Kesimpulan

 

Penemuan teknologi baru yang dikembangkan oleh bitBiome membuka babak baru dalam memahami dan memanfaatkan enzim alami. Dengan kemampuan mengurutkan DNA dari sel tunggal mikroba, bahkan dari organisme yang sulit ditumbuhkan di laboratorium, para ilmuwan kini dapat mengeksplorasi keragaman enzim yang sebelumnya tak terjangkau. Enzim-enzim “berkekuatan super” dari ekstremofil maupun mikroba eksotis lainnya berpotensi menjadi kunci bagi inovasi besar di bidang pangan, kesehatan, energi, hingga lingkungan. Di tengah tantangan global seperti krisis pangan dan keberlanjutan, teknologi ini menghadirkan harapan baru: menjadikan kekuatan alam yang tersembunyi sebagai solusi nyata bagi masa depan manusia.

 

SUMBER:

Steven Sawage. 9 September 2025. Next Generation Technologies To Unlock Nature’s Enzyme Superpowers

https://www.forbes.com/sites/stevensavage/2025/09/09/next-generation-technologies-to-unlock-natures-enzyme-superpowers/

Wednesday, 10 September 2025

Kesamaan Epitop Manusia & Babi Terungkap! Fakta Molekuler Mengejutkan yang Ubah Dunia Medis!

 


Tahukah Anda bahwa manusia dan babi ternyata punya “titik persamaan” yang mengejutkan di dalam tubuhnya? Bukan sekadar bentuk organ atau susunan gen, melainkan pada bagian super kecil dari protein yang disebut epitop. Fakta menarik ini terungkap dari sebuah penelitian berjudul “Pengenalan Epitope dalam Model Perbandingan Manusia–Babi pada Materi yang Difiksasi dan Diinklusikan” yang dilaporkan oleh Carla Rossana Scalia dan rekan-rekannya dalam Journal of Histochemistry & Cytochemistry tahun 2015.

 

Epitop bisa dibayangkan seperti kunci gembok—potongan mini protein yang menjadi tempat antibodi menempel. Jika cocok, antibodi bisa “mengunci” protein itu dan memberi sinyal pada tubuh bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

 

Yang mengejutkan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa banyak antibodi manusia ternyata bisa menempel juga pada epitop milik babi, meski struktur proteinnya tidak seratus persen sama. Artinya, di balik daging dan kulit yang jelas berbeda, manusia dan babi menyimpan kesamaan molekuler yang begitu dekat. Temuan ini bukan hanya membuat para peneliti tercengang, tetapi juga membuka jalan baru bagi riset medis—mulai dari diagnosis kanker yang lebih tepat hingga pemanfaatan jaringan babi sebagai pengganti jaringan manusia dalam laboratorium.

 

Mengintip Dunia Protein Lewat Imunohistokimia

 

Dalam dunia kedokteran modern, salah satu teknik penting yang digunakan dokter dan peneliti adalah imunohistokimia (IHC). Teknik ini memungkinkan kita melihat bagaimana protein tertentu bekerja di dalam jaringan tubuh. Biasanya, jaringan diawetkan dengan formalin dan dimasukkan ke dalam parafin agar bisa dipotong tipis, lalu diamati di bawah mikroskop.

 

IHC sangat membantu, terutama dalam mendiagnosis penyakit seperti kanker. Namun, ada satu masalah besar: antibodi yang digunakan sebagai “alat pelacak” protein kadang tidak bekerja akurat. Ada yang salah mengenali target, ada pula yang tidak bisa menempel pada protein sasaran. Hal inilah yang membuat para peneliti mencari cara baru untuk meningkatkan akurasi uji ini.

 

Mengapa Babi Jadi “Cermin Biologis” Manusia?

 

Cara paling ketat untuk menguji antibodi adalah menggunakan hewan percobaan yang gennya dimodifikasi, tetapi ini mahal dan rumit. Lalu muncul ide: bagaimana jika ada hewan lain yang mirip manusia, sehingga bisa dipakai sebagai pengganti?

 

Di sinilah babi masuk ke panggung. Hewan ini bukan hanya mirip secara anatomi, tetapi juga secara genetik. Lebih dari 80% gen babi serupa dengan manusia, bahkan beberapa proteinnya identik 100%. Tidak heran kalau babi sejak lama dipakai dalam penelitian medis dan kini bahkan dilirik sebagai calon donor organ dalam transplantasi.

 

Antibodi Manusia Diuji pada Jaringan Babi

 

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mencoba menguji ratusan antibodi manusia pada jaringan babi yang sudah difiksasi dan diinklusikan parafin—proses standar yang sama seperti pada jaringan manusia.

 

Hasilnya mengejutkan. Sekitar setengah dari antibodi yang dicoba berhasil menempel dengan baik pada jaringan babi, menghasilkan pola pewarnaan yang hampir identik dengan jaringan manusia. Bahkan, protein-protein penting seperti aktin dan BCL2 yang berperan dalam struktur sel dan kematian sel terprogram dapat dikenali dengan sangat baik.

 

Namun, tidak semua berjalan mulus. Beberapa antibodi menunjukkan perbedaan kecil: ada yang menempel di inti sel babi saja, padahal pada manusia menempel juga di sitoplasma. Ada pula antibodi yang bekerja di jaringan saraf babi, tetapi tidak pada manusia. Artinya, meskipun banyak kesamaan, perbedaan kecil dalam struktur protein tetap bisa mengubah hasil.

 

Epitop: Kunci Kecil dengan Peran Besar

 

Antibodi mengenali epitop, yaitu potongan kecil dari protein yang menjadi titik menempel. Menariknya, antibodi manusia ternyata bisa mengenali epitop babi meskipun tingkat kemiripannya hanya sekitar 60%. Ini menunjukkan adanya toleransi cukup besar terhadap variasi urutan protein.

 

Sebagian besar antibodi yang tahan terhadap proses fiksasi memang lebih mudah mengenali epitop linear—bagian protein yang lurus dan stabil—dibanding epitop yang bentuknya lebih kompleks. Hal inilah yang menjelaskan mengapa antibodi masih bisa bekerja meski protein babi dan manusia tidak 100% identik.

 

Jaringan Babi Sebagai Kontrol Kualitas

 

Temuan paling menarik dari penelitian tersebut adalah bahwa jaringan babi bisa dipakai sebagai bahan kontrol kualitas dalam uji IHC. Selama ini, laboratorium menggunakan jaringan manusia untuk memastikan akurasi uji, tetapi ketersediaannya terbatas dan sering terhambat masalah etika.

 

Dengan menggunakan jaringan babi dari rumah pemotongan hewan, laboratorium bisa mendapatkan kontrol yang murah, mudah diperoleh, dan lebih seragam. Bahkan untuk organ yang jarang tersedia dari manusia—seperti otak, jantung, atau kelenjar endokrin—jaringan babi bisa menjadi solusi praktis.

 

Menatap Masa Depan: Babi Sebagai Jembatan Riset Medis

 

Penelitian tersebut membuka pandangan baru bahwa babi bukan hanya hewan ternak biasa, melainkan jembatan biologis yang bisa membantu manusia memahami dunia molekuler. Dengan kemiripan yang sangat tinggi, jaringan babi berpotensi mempercepat riset medis, meningkatkan akurasi diagnosis, dan bahkan mendukung pengembangan terapi baru.

 

Ke depan, keterbukaan informasi dari produsen antibodi tentang target epitop akan semakin penting. Dengan begitu, para peneliti bisa memilih antibodi yang paling tepat, tidak hanya untuk diagnosis pada manusia, tetapi juga untuk penelitian lintas spesies.

 

Artikel ini menegaskan satu hal menarik: di balik perbedaan bentuk luar, manusia dan babi ternyata berbagi rahasia molekuler yang sangat dekat. Rahasia kecil bernama epitop ini bisa menjadi kunci besar bagi masa depan dunia kedokteran.

 

Pada akhirnya, penelitian tersebut memberi pesan mengejutkan: babi bukan sekadar hewan ternak yang kita kenal sehari-hari, melainkan “kembaran molekuler” yang menyimpan rahasia besar tentang tubuh manusia. Kesamaan epitop antara manusia dan babi membuka pintu baru bagi riset medis, dari meningkatkan akurasi diagnosis hingga membuka jalan menuju transplantasi organ lintas spesies. Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi “apakah babi mirip manusia?” melainkan “sejauh mana kita berani memanfaatkan kesamaan ini untuk menyelamatkan jutaan nyawa manusia?”


Akhirnya, setelah satu dekade penuh upaya, transplantasi organ lintas spesies berhasil diwujudkan. Massachusetts General Hospital (MGH) di AS berhasil melakukan transplantasi ginjal babi hasil rekayasa genetik pada pasien gagal ginjal stadium akhir berusia 62 tahun. Hal ini menandai tonggak penting dalam bidang xenotransplantasi. Ginjal yang telah dimodifikasi melalui 69 perubahan genetik dengan teknologi CRISPR-Cas9 yang disediakan oleh perusahaan eGenesis dan dirancang agar lebih kompatibel dengan tubuh manusia serta aman dari virus bawaan babi. Operasi yang berlangsung empat jam di bawah protokol khusus FDA ini dilengkapi dengan terapi imunosupresan canggih untuk mencegah penolakan organ. Keberhasilan ini membuka harapan baru bagi lebih dari 100.000 pasien di AS yang menunggu donor organ, sekaligus memberi jalan menuju solusi berkelanjutan bagi krisis global kekurangan organ.


Sumber:

1.Rahasia Epitop: Kesamaan Mengejutkan Manusia dan Babi, Jurnal Atani Tokyo ( https://atanitokyo.blogspot.com/2025/01/pengenalan-epitop-dalam-model.html )

2.Sukses transplatasi ginjal babi ke manusia ( https://atanitokyo.blogspot.com/2025/01/keberhasilan-transplantasi-ginjal-babi.html) 


#Epitope 

#Immunohistochemistry 

#Antibody 

#Biomedical 

#Translational