Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 11 July 2025

Tugas Diplomat Mulia, Bukan Menjinjing !

 

Ketika mendengar kata diplomat, bayangan kita mungkin langsung melayang ke perundingan tingkat tinggi, gedung-gedung megah di ibu kota negara, atau pertemuan penting di forum internasional. Namun realitas di lapangan tak selalu semewah itu. Di balik tugas mulianya, banyak diplomat Indonesia justru masih harus menghadapi permintaan-permintaan tak masuk akal, bahkan terkesan melecehkan profesi. Dari menjinjing tas belanjaan hingga mengantar jemput keluarga pejabat yang melancong ke luar negeri, pekerjaan tambahan ini jelas bukan bagian dari tugas resmi mereka.

 

Padahal, Konvensi Wina 1961 dan regulasi resmi dari Kementerian Luar Negeri RI sudah tegas menyebutkan apa saja tugas seorang diplomat. Fokusnya adalah mewakili negara, melindungi WNI di luar negeri, mempromosikan kepentingan nasional, hingga menjalin kerja sama bilateral dan multilateral. Tak satu pun pasal menyebut bahwa diplomat harus menjadi asisten pribadi pejabat dan kerabatnya. Namun, praktik di lapangan tak selalu berjalan seideal aturan tertulis.

 

Banyak diplomat Indonesia, terutama yang bertugas di luar negeri, mengaku harus melayani urusan pribadi para pejabat, lengkap dengan permintaan yang kadang menyulitkan. Di tengah keterbatasan jumlah staf dan beban kerja yang berat, permintaan semacam ini menjadi beban tambahan yang tidak semestinya mereka tanggung. Terlebih lagi, kondisi geopolitik global yang makin kompleks, dari perang dagang hingga konflik bersenjata—membuat peran dan tanggung jawab diplomat semakin berat dan strategis.

 

Pada Juni 2025, misalnya, Kemenlu RI mengoordinasikan evakuasi WNI dari Iran akibat ketegangan militer antara Israel dan Amerika Serikat. Di balik layar, diplomat Indonesia berjibaku menyusun logistik, negosiasi dengan otoritas setempat, hingga memastikan keselamatan WNI. Semua itu dilakukan di tengah tekanan tinggi dan risiko besar. Sementara di waktu yang hampir bersamaan, muncul surat dari salah satu lembaga pemerintah yang meminta perwakilan diplomatik RI di luar negeri untuk mengurusi kepergian keluarga pejabat. Kontras yang menyedihkan.

 

Fenomena ini pun ramai diperbincangkan warganet. Bukan karena kasusnya baru, tetapi karena rasa lelah dan jengah yang selama ini terpendam mulai mengemuka. Banyak diplomat muda bersuara, meski masih secara anonim, tentang pengalaman melayani “rombongan keluarga besar” dari tanah air. “Kami paham tugas kami melayani WNI, tapi kadang permintaannya sungguh di luar batas,” ungkap salah satu diplomat muda sambil tersenyum getir.

 

Meski begitu, para diplomat tetap berpegang pada semangat pengabdian. Mereka berusaha melayani siapa pun warga negara Indonesia yang membutuhkan bantuan di luar negeri—baik pekerja migran, mahasiswa, hingga istri pejabat. Namun, jelas ada batasan antara pelayanan publik dan penyalahgunaan jabatan oleh segelintir orang yang merasa lebih berhak.

 

Sebagai profesi, diplomat memiliki tanggung jawab strategis dan mulia. Dalam kelas-kelas pelatihan diplomat, mereka dibekali kemampuan menyelesaikan konflik, menjalin hubungan internasional, serta menjaga nama baik bangsa. Benjamin Franklin pernah berkata, diplomat sejati adalah orang yang bijaksana, tenang, dan sabar, bahkan dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun.

 

Di Indonesia, pengertian diplomat dijelaskan secara formal dalam Peraturan Menteri Luar Negeri RI No. 6 Tahun 2024, yakni PNS yang bertugas melaksanakan kegiatan diplomasi dalam pelaksanaan politik luar negeri. Tugas utamanya terangkum dalam lima kata kunci: representing, promoting, protecting, negotiating, dan reporting.

 

Nazaruddin Nasution, mantan Duta Besar RI untuk Kamboja, menegaskan bahwa tugas seorang diplomat sangat serius dan tak bisa dipandang remeh. Saat menjabat sebagai Kuasa Usaha ad interim di KBRI Washington DC, ia menjadi penghubung langsung antara Presiden Bill Clinton dan Presiden Soeharto di masa krisis 1998. Dalam situasi itu, diplomat memegang peran kunci yang bisa menentukan arah sejarah bangsa.

 

Selain negosiasi dan perwakilan, pelindungan terhadap WNI menjadi salah satu pilar penting diplomasi. Nazaruddin mengenang perannya dalam peristiwa pembajakan pesawat Garuda di Bangkok pada 1981. Saat itu, diplomat Indonesia bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelamatkan 48 penumpang, termasuk WNI. Dalam kondisi genting, diplomasi yang tenang dan efektif menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari korban jiwa.

 

Kini, tantangan diplomasi tak hanya datang dari situasi konflik, tetapi juga dari ketimpangan persepsi tentang tugas diplomat itu sendiri. Ketika diplomat Indonesia harus fokus menyelamatkan WNI dari wilayah konflik seperti Myanmar, Afghanistan, atau Irak, masih ada yang memaksa mereka untuk melayani kebutuhan tur pelesiran keluarga pejabat. Ini jelas bertolak belakang dengan esensi profesi diplomasi yang seharusnya dihormati dan dijaga martabatnya.

 

Di kawasan yang lebih stabil seperti Eropa, Amerika, atau Asia-Pasifik, tugas diplomatik lebih banyak berkutat pada promosi kerja sama, fasilitasi bisnis, hingga perlindungan hak-hak warga negara. Namun tetap saja, kadang muncul intervensi dari pihak-pihak yang memanfaatkan posisi mereka untuk kepentingan pribadi.

 

Sudah saatnya kita sebagai bangsa merevisi cara pandang terhadap tugas diplomat. Mereka bukan pesuruh atau petugas serba bisa. Mereka adalah penjaga muka bangsa, perwakilan negara, pelindung warganya di luar negeri, dan penjuru penting diplomasi global. Jika bangsa ini ingin dihormati di mata dunia, hormatilah dulu para diplomatnya.


REFERENSI

Mahdi Muhammad, Kris Mada dan Nur Adji. 11 Juli 2025. Diplomat, Pelajarannya Berunding, Tugasnya Malah Menjinjing. https://www.kompas.id/artikel/tugas-diplomatik-dari-tugas-resmi-hingga-yang-tak-resmi

Trump Guncang Ekonomi Indonesia 32%



Tarif Trump 32%: Pukulan Diam-diam untuk Ekonomi Indonesia

 

Bayangkan Anda adalah eksportir furnitur rotan dari Cirebon. Produk Anda laku keras di Amerika, dijual seharga $1.000 per set. Tapi tiba-tiba, pemerintah Amerika mengenakan tarif 32% atas semua barang dari Indonesia. Artinya, importir Anda di Amerika harus membayar tambahan $320 untuk setiap set kursi yang Anda kirim. Harga totalnya di pelabuhan AS menjadi $1.320, sebelum bisa dijual ke pasar. Dan ini baru permulaan dari serangkaian dampak yang bisa mengguncang ekonomi Indonesia.

 

Kebijakan tarif tinggi ini adalah bagian dari strategi ekonomi Donald Trump sebagai Presiden AS. Dalam kampanyenya yang lalu, ia menegaskan rencana mengenakan tarif 10% untuk semua barang impor dan tarif tambahan 10% bagi negara-negara BRICS, termasuk Indonesia yang baru saja bergabung. Dengan demikian, produk Indonesia bisa dikenai tarif total hingga 42%. Bagi produk padat karya seperti alas kaki, furnitur, dan tekstil, ini bisa mematikan.

 

Siapa yang Menanggung Biaya Tarif Ini?

 

Tarif bukan sekadar beban angka di atas kertas. Dampaknya menjalar ke mana-mana. Secara teori, ada tiga pihak yang bisa menanggung tarif ini:

1. Eksportir Indonesia bisa menurunkan harga jual untuk menjaga harga akhir tetap kompetitif di pasar AS. Tapi itu berarti mengorbankan margin keuntungan yang sudah kecil.

2.  Importir Amerika bisa menyerap tarif, tetapi ini akan memotong laba mereka. Dari yang semula untung $1.000, menjadi hanya $680.

3. Konsumen Amerika bisa jadi sasaran akhir. Importir akan menaikkan harga jual menjadi $1.320 atau lebih, dan beban pun berpindah ke pembeli. Maka tak heran jika banyak pihak di AS menyebut tarif ini sebagai pajak tersembunyi untuk rakyat Amerika sendiri.

 

Alasan Trump: Bawa Pulang Industri ke Amerika

 

Trump mengklaim bahwa tarif ini akan membuat perusahaan asing berinvestasi dan membuka pabrik di AS. Tapi apakah realistis? Produksi barang-barang murah seperti Indomie, yang di Indonesia dijual seharga $0,20 per bungkus, bisa melonjak hingga $2 jika diproduksi di Amerika, karena tingginya biaya tenaga kerja dan regulasi yang ketat.

 

Fakta lainnya: hanya 9,7% pekerja AS yang bekerja di sektor manufaktur pada 2023, turun jauh dari 31% di tahun 1971. Amerika kini adalah negara jasa. Mereka unggul dalam perangkat lunak, layanan digital, pusat data, dan hiburan. Ekspor terbesar AS bukanlah barang, tetapi jasa tak kasat mata seperti Google, Netflix, dan teknologi keuangan.

 

Vietnam Bergerak Cepat, Indonesia Terlambat

 

Sementara Indonesia sibuk berandai-andai dan belum memiliki Duta Besar di Washington, Vietnam sudah menyelesaikan perundingan dagang dengan AS. Mereka mendapatkan tarif hanya 20%, dan dalam perjanjiannya, mereka tidak boleh mengenakan tarif tinggi untuk barang AS. Bahkan, Vietnam memberikan proyek $1,5 miliar kepada Trump dan jaringan bisnisnya, sebuah langkah diplomatik yang realistis, meski terdengar sinis.

 

Amerika pun menutup celah dengan mengenakan tarif transhipment sebesar 40%, untuk barang-barang yang "diputar" melalui Vietnam tapi sejatinya berasal dari Tiongkok. Strategi ini menegaskan satu hal: AS kini ingin memastikan setiap barang yang masuk benar-benar berasal dari negara asalnya, bukan sekadar "stempel negara lain".

 

Indonesia di Persimpangan Jalan: BRICS atau ASEAN?

 

Masalahnya, Indonesia seperti kehilangan arah. Kita bergabung dengan BRICS—klub negara-negara besar seperti Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil—dengan harapan tampil sebagai pemain global. Tapi di sana, Indonesia hanya ikan kecil di kolam besar. Berbeda dengan ASEAN, di mana Indonesia justru menjadi pemimpin regional yang disegani. Dengan populasi 700 juta jiwa dan pasar yang terintegrasi, ASEAN seharusnya bisa menjadi tameng dalam menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk dari Amerika.

 

Namun, Indonesia tampaknya terbuai oleh mimpi menjadi "pemimpin Global South" dan nostalgia akan gerakan NEFO (New Emerging Forces). Retorika geopolitik ini indah di pidato, tapi tidak membayar tagihan atau menurunkan tarif ekspor.

 

Mengapa Amerika Seenaknya? Karena Mereka Bisa

 

AS bisa memaksakan tarif tinggi karena mereka punya dua kekuatan besar: militer dan konsumen. Pasar domestik AS sangat besar dan konsumtif. Mereka adalah pasar raksasa untuk segala jenis barang—mulai dari boneka plastik hingga mobil listrik mewah. Bandingkan dengan Tiongkok yang besar tapi hemat. Mereka memproduksi segalanya, tapi menutup rapat keran konsumsinya. Sistem otoriter finansial Tiongkok tidak memberi ruang bagi konsumsi liar seperti di AS.

 

Pasar AS ibarat magnet: semua negara ingin menjual ke sana. Maka ketika Trump mengancam tarif, negara-negara pun panik.

 

QRIS dan Ancaman Amerika terhadap Sistem Pembayaran

 

Satu hal lagi yang luput dari perhatian publik: Amerika tidak senang Indonesia memakai QRIS, karena sistem ini tidak melibatkan Visa, Mastercard, dan jaringan pembayaran Amerika lainnya. Jika ASEAN menerapkan QRIS lintas negara, nilai triliunan rupiah bisa lepas dari genggaman AS. Maka tak heran jika Washington mulai memberi tekanan agar Indonesia tetap memakai sistem pembayaran buatan mereka.

 

Apa Solusi untuk Indonesia?

 

Patriotisme dan jargon "cinta tanah air" saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah diplomasi yang cerdas dan cepat. Indonesia harus segera menyusun strategi dagang yang konkret. Masuknya ke BRICS harus diimbangi dengan penguatan posisi di ASEAN. Kita juga perlu segera menempatkan duta besar di Washington dan membentuk tim negosiasi tarif yang kompeten dan agresif.

 

Jika tidak, maka ancaman tarif 42% bukan lagi sekadar ilustrasi. Ia bisa menjadi kenyataan yang membekukan ekspor, mematikan industri padat karya, dan menghantam jutaan lapangan kerja.

Di Balik Suntikan Vaksin




Fakta Mengejutkan tentang Tantangan Produksi Vaksin Skala Besar!

 

Semua orang bicara soal pentingnya vaksin—tapi tahukah Anda betapa rumit dan penuh tantangan proses pembuatannya? Efektivitas vaksin sebagai alat kesehatan masyarakat sangat bergantung pada distribusi luas ke jutaan orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun, di balik kemudahan satu kali suntik, tersembunyi proses produksi yang kompleks dan penuh hambatan: mulai dari teknologi canggih, penyimpanan ekstrem, hingga risiko kontaminasi. Artikel ini akan membongkar seluk-beluk produksi vaksin, dari tahap isolasi antigen hingga tantangan global rantai pasok—yang semuanya menentukan apakah vaksin bisa menyelamatkan jutaan nyawa atau gagal di tengah jalan.

 

Efektivitas vaksin sebagai alat kesehatan masyarakat bergantung pada pemberiannya secara luas kepada populasi besar, yang mencakup anak-anak dan dewasa. Hal ini memerlukan produksi vaksin dalam skala besar, suatu proses yang seringkali menghadirkan tantangan yang signifikan.

 

Tahapan Produksi Vaksin

 

Produksi vaksin melibatkan beberapa tahapan utama. Proses manufaktur ini meliputi:

• Persiapan Antigen (inaktivasi/atenuasi): Tahap ini berfokus pada pembuatan komponen antigen vaksin. Ini dapat melibatkan inaktivasi/pembunuhan patogen (misalnya, Hepatitis A, flu), pelemahannya, atau produksi komponen antigenik spesifik.

• Pemurnian: Antigen yang telah disiapkan kemudian dimurnikan untuk menghilangkan bahan yang tidak diinginkan dan memastikan kualitas serta keamanannya.

• Formulasi: Antigen yang telah dimurnikan dikombinasikan dengan bahan-bahan lain, seperti adjuvan (untuk meningkatkan respons imun), stabilisator (untuk mempertahankan potensi vaksin), dan pengawet (untuk mencegah kontaminasi bakteri), untuk membuat sediaan vaksin akhir.

 

Tantangan dalam produksi vaksin skala besar

 

Produksi vaksin menggunakan beragam teknologi yang beragam dan terus berkembang, mulai dari metode tradisional hingga pendekatan mutakhir seperti partikel mirip virus, vaksin mRNA, dan sistem berbasis tanaman.

 

Pengembangan vaksin modern memanfaatkan teknologi-teknologi baru ini untuk menciptakan vaksin yang lebih aman dan lebih efektif sekaligus meningkatkan stabilitas, formulasi, dan pengiriman [1].

 

Teknologi vaksin baru, seperti vaksin berbasis vektor virus dan asam nukleat, sangat penting untuk memungkinkan pengembangan yang cepat dan produksi skala besar guna memerangi ancaman pandemi dan bakteri yang resistan antibiotik [2] secara efektif.

 

Masing-masing teknologi baru ini menghadirkan tantangan dan keunggulan unik terkait keamanan, biaya, dan skalabilitas. Tantangan utama meliputi kompleksitas manufaktur, optimalisasi pengujian, dan keterbatasan kapasitas manufaktur global [3].

 

Misalnya, penggunaan vaksin berbasis mRNA secara global (misalnya, Pfizer, Moderna) saat ini dibatasi oleh persyaratan penyimpanan ultradingin. Hal ini menyoroti perlunya strategi untuk meningkatkan stabilitas pada suhu yang lebih tinggi, terutama untuk negara-negara dengan sumber daya terbatas [4]. Kegagalan dalam menangani masalah rantai pasokan vaksin secara memadai dapat secara signifikan mengurangi dampak dari vaksin yang paling efektif sekalipun [5].

 

Produksi antigen mikroba

 

Tahap awal produksi vaksin melibatkan pembuatan antigen dari mikroba target. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai metode.

 

Virus, misalnya, dapat dikultur dalam sel primer, seperti telur ayam (seperti dalam produksi vaksin influenza), atau dalam galur sel atau sel manusia yang dikultur (misalnya, untuk Hepatitis A). Antigen bakteri, seperti yang digunakan dalam vaksin Haemophilus influenzae tipe b, seringkali diproduksi dalam bioreaktor.

 

Atau, antigen tersebut dapat berupa toksin atau toksoid yang berasal dari organisme (misalnya, difteri atau tetanus), atau dapat terdiri dari komponen spesifik mikroorganisme. Komponen-komponen ini, termasuk protein atau bagian lain, dapat diproduksi menggunakan teknologi rekombinan dalam sistem seperti khamir, bakteri, atau kultur sel. Vaksin hidup yang dilemahkan dibuat dengan melemahkan bakteri atau virus menggunakan metode seperti perlakuan kimia atau panas (misalnya, MMR, demam kuning).

 

Isolasi antigen

 

Setelah pembuatan antigen, antigen diisolasi dari sel atau media tempat antigen tersebut diproduksi. Virus hidup yang dilemahkan mungkin memerlukan pemurnian lebih lanjut yang minimal.

 

Namun, protein rekombinan biasanya menjalani prosedur pemurnian yang ekstensif, seringkali melibatkan ultrafiltrasi dan berbagai bentuk kromatografi kolom, sebelum layak untuk diberikan.

 

Adjuvan, penstabil, dan pengawet vaksin

 

Proses pengembangan dan produksi vaksin dapat menjadi tantangan karena potensi inkompatibilitas dan interaksi antara berbagai antigen dan komponen vaksin lainnya.

 

Setelah produksi dan pemurnian antigen, vaksin diformulasikan dengan menggabungkan antigen dengan adjuvan, penstabil, dan pengawet.

 

Adjuvan ditambahkan untuk meningkatkan respons imun terhadap antigen. Misalnya, adjuvan aluminium mencapai peningkatan ini dengan memodulasi fungsi sel sentinel, seperti makrofag dan sel dendritik, yang menginduksi polarisasi dan aktivasinya [6]. Stabilisator seperti laktalbumin hidrolisat-sukrosa (LS) atau trehalosa dihidrat (TD) memperpanjang masa simpan vaksin dengan mempertahankan titer virus yang dibutuhkan untuk periode yang lebih lama selama rekonstitusi [7].

 

Pengawet juga penting untuk meningkatkan masa simpan produk. Selain itu, pengawet seperti 2-fenoksietanol sangat penting untuk mencegah kontaminasi mikroba dalam vial vaksin multidosis [8].

 

Kontrol kualitas dan keamanan dalam pembuatan vaksin

 

Produk harus dilindungi dari kontaminasi udara, air, dan manusia. Sebaliknya, lingkungan harus dilindungi dari tumpahan antigen.

Oleh karena itu, perhatian yang cermat terhadap integritas produk dan keamanan lingkungan sangat penting dalam seluruh proses pembuatan vaksin.

 

REFERENSI

1.     Josefsberg, J., & Buckland, B. (2012). Vaccine process technology. Biotechnology and Bioengineering, 109. https://doi.org/10.1002/bit.24493.

2.     Rauch, S., Jasny, E., Schmidt, K., & Petsch, B. (2018). New Vaccine Technologies to Combat Outbreak Situations. Frontiers in Immunology, 9. https://doi.org/10.3389/fimmu.2018.01963.

3.     Ejeta, F. (2022). Challenges of Developing Novel Vaccines and Large Scale Production Issues. J Drug Res Dev, 8(2), 2470-1009. https://doi.org/10.16966/2470-1009.171.

4.     Uddin, M., & Roni, M. (2021). Challenges of Storage and Stability of mRNA-Based COVID-19 Vaccines. Vaccines, 9. https://doi.org/10.3390/vaccines9091033.

5.     Lee, B., & Haidari, L. (2017). The importance of vaccine supply chains to everyone in the vaccine world. Vaccine, 35 35 Pt A, 4475-4479. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2017.05.096.

6.     Danielsson, R., & Eriksson, H. (2021). Aluminium adjuvants in vaccines - A way to modulate the immune response. Seminars in cell & developmental biology. https://doi.org/10.1016/j.semcdb.2020.12.008.

7.     Sarkar, J., Sreenivasa, B., Singh, R., Dhar, P., & Bandyopadhyay, S. (2003). Comparative efficacy of various chemical stabilizers on the thermostability of a live-attenuated peste des petits ruminants (PPR) vaccine. Vaccine, 21 32, 4728-35. https://doi.org/10.1016/S0264-410X(03)00512-7.

8.     Khandke, L., Yang, C., Krylova, K., Jansen, K., & Rashidbaigi, A. (2011). Preservative of choice for Prev(e)nar 13™ in a multi-dose formulation. Vaccine, 29 41, 7144-53. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2011.05.074.

 

SUMBER:

Dr. Luis Vaschetto, Ph.D. Vaccine Production. https://www.news-medical.net/health/Vaccine-Production.aspx

Tuesday, 8 July 2025

Badai Geopolitik Ancam Stabilitas Finansial



Risiko geopolitik pada tahun 2025: Dari fragmentasi hingga kejatuhan finansial

 

Tahun 2025 menandai babak baru dalam ketidakpastian global. Ketegangan antarnegara memanas, konflik bersenjata bereskalasi diam-diam, dan ekonomi dunia perlahan terdorong ke tepi jurang krisis. Perang drone antara India dan Pakistan hanya salah satu tanda dari gelombang risiko geopolitik yang kini membayangi stabilitas keuangan internasional. Di tengah badai ini, bank dan lembaga keuangan menghadapi tekanan multidimensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari disrupsi rantai pasok dan sanksi mendadak, hingga ancaman siber dan kebijakan tarif yang tak terduga. Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah krisis akan terjadi”, tetapi “seberapa siap kita saat badai itu akhirnya datang?”

 

Ekonomi global menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya saat tatanan dunia berubah dari periode yang relatif tenang dalam beberapa dekade terakhir menjadi periode dengan ketegangan dan ketidakstabilan yang meningkat. Pakistan dan India adalah contoh terbaru, yang memicu perang pesawat nirawak pertama antara negara-negara bersenjata nuklir.

 

Akibatnya, geopolitik telah menjadi simpul Gordian bagi lembaga keuangan untuk diurai. CRO semakin menghadapi tantangan multidimensi, yang semakin rumit oleh misinformasi yang dihasilkan AI, ancaman dunia maya, dan rapuhnya rantai pasokan global. Setiap upaya untuk mengatasi tantangan ini akan mengharuskan bank untuk mengadopsi pendekatan manajemen risiko yang holistik dan tangkas, mengintegrasikan risiko geopolitik ke dalam strategi bisnis secara keseluruhan, dan meningkatkan ketahanan operasional.

 

Guncangan dan ketegangan geopolitik dapat secara langsung memengaruhi posisi keuangan bank melalui peningkatan risiko kredit, pasar, operasional, likuiditas, dan pendanaan. Misalnya, risiko geopolitik dan fragmentasi yang disebabkan oleh tarif, sanksi, atau bahkan perang langsung, dapat menyebabkan penurunan kualitas aset yang cepat karena kepercayaan antarnegara terkikis. Lebih jauh lagi, meningkatnya jumlah serangan siber dapat meningkatkan risiko operasional dan reputasi bank serta berdampak negatif pada profitabilitas. Memang, hasil Kuesioner Penilaian Risiko EBA menunjukkan bahwa pangsa bank UE/EEA yang menghadapi serangan siber yang berhasil hampir tiga kali lipat sejak 2022.

 

Kecepatan risiko

 

Risiko geopolitik bukan lagi sekadar tren makro yang bergerak lambat; kini berkembang dengan kecepatan yang mengejutkan. Kecepatan penyebaran dan pembesaran dimensi risiko oleh satu peristiwa dapat dengan cepat mengekspos lembaga keuangan yang masih bergantung pada teknologi risiko lama.

 

Salah satu contoh paling jelas pada tahun 2025 adalah sifat kebijakan perdagangan AS yang tidak menentu, di mana pengumuman tarif yang tiba-tiba – seperti yang disebut “Tariff Tuesday” yang menargetkan Kanada, Tiongkok, dan Meksiko – telah mengejutkan pasar dan mengganggu arus keuangan lintas batas. Ketidakpastian ini telah mendinginkan sentimen investor dan mempersulit perencanaan ke depan bagi perusahaan, dengan implikasi langsung terhadap eksposur kredit bank, risiko likuiditas, dan alokasi modal. Bagi CRO, bukan hanya luasnya risiko geopolitik yang menjadi tantangan, tetapi juga kecepatannya yaitu timbulnya guncangan kebijakan, sanksi, dan tindakan balasan yang cepat sehingga tidak banyak waktu untuk melakukan kalibrasi ulang. Laju yang semakin cepat ini menuntut perubahan bertahap dalam cara risiko dipantau dan dikelola, beralih dari penilaian yang melihat ke belakang ke sistem peringatan dini yang dinamis, perencanaan skenario waktu nyata, dan siklus keputusan yang lebih cepat.

 

Risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko rekanan…semuanya menjadi fokus utama ketika prospek pertumbuhan ekonomi mengalami hambatan.

 

Dalam laporan penelitian Asosiasi Manajemen Risiko terbaru, yang diterbitkan November lalu bekerja sama dengan Oliver Wyman, CRO mencatat bahwa sebagai respons terhadap kecepatan risiko, masing-masing lembaga menerapkan indikator peringatan dini dan batasan risiko baru, analisis skenario yang ditingkatkan, manajemen krisis, dan rencana respons insiden.

 

Untuk memperkuat kemampuan peringatan dini mereka, lembaga keuangan mengadopsi alat pemindaian cakrawala dan agregator berita. Alat seperti ini membantu tim risiko untuk terus memantau perkembangan politik global dan perubahan peraturan secara waktu nyata dan berupaya mempertahankan posisi terdepan.

 

Pengujian stres yang dinamis

 

CRO menyadari bahwa mereka harus mengubah pengujian stres dan perencanaan skenario dari latihan rutin menjadi pilar ketahanan yang dinamis dan berwawasan ke depan untuk secara efektif mengatasi ancaman risiko geopolitik yang meningkat.


Ini berarti mengembangkan skenario yang ketat dan berdampak tinggi yang melampaui preseden historis untuk mengantisipasi spektrum penuh potensi guncangan geopolitik – seperti sanksi mendadak atau konflik regional – dan efek berjenjangnya pada likuiditas, operasi, dan reputasi.

 

CRO harus memanfaatkan analitik tingkat lanjut dan kecerdasan waktu nyata untuk memetakan kerentanan, menguji stres paparan kritis, dan mengungkap saling ketergantungan tersembunyi di seluruh lembaga dan mitranya. Dengan menanamkan wawasan ini ke dalam pengambilan keputusan strategis dan perencanaan krisis, CRO dapat memastikan organisasi mereka tidak hanya patuh, tetapi juga tangkas dan siap untuk bertahan dan beradaptasi dengan realitas dunia yang tidak menentu.

 

Penggunaan kerangka kerja ERM yang modern dan terintegrasi juga dapat membantu CRO mengurangi risiko di seluruh organisasi mereka. Ini termasuk menanamkan strategi mitigasi risiko seperti diversifikasi rantai pasokan dan kepatuhan peraturan ke dalam proses bisnis.

 

Rencana untuk ketahanan

 

Serangan siber dan risiko geopolitik merupakan dua area penting yang harus ditangani oleh CRO untuk membangun ketahanan, mengingat potensinya untuk menimbulkan malapetaka di pasar keuangan. Keduanya paling sering dikutip dalam survei Bank of England baru-baru ini.

 

Dalam pidato yang disampaikan pada bulan Januari 2025 oleh Carolyn Watkins, anggota eksternal Komite Kebijakan Keuangan di Bank of England, ia mengemukakan bahwa “ada rencana lebih baik daripada tidak ada rencana”, istilah yang digunakan oleh mantan Menteri Keuangan AS Timothy Geithner setelah terjadinya GFC.

 

Menurutnya, lembaga keuangan dapat mengurangi risiko geopolitik dengan berfokus pada tiga aspek:

1. Ketahanan: membangun ketahanan finansial dan operasional sejalan dengan meningkatnya lingkungan risiko geopolitik;

2. Diagnosis: fokus pada skenario yang mengungkap kerentanan paling penting dalam sistem keuangan, dan

3. Kesiapsiagaan: mulai dari menguji rencana pemulihan dan penyelesaian hingga kejadian siber yang bersifat permainan perang.

 

Risiko keuangan nonbank semakin penting dan merupakan aspek utama dari cara lembaga keuangan berpikir tentang peningkatan kekuatan pemodelan risiko mereka. Kredit swasta, atau perbankan bayangan, telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, mencapai $1,5 triliun pada awal tahun 2024. Menurut Morgan Stanley, kelas aset tersebut diperkirakan mencapai $2,8 triliun pada tahun 2028.

 

Untuk lebih siap menghadapi guncangan keuangan yang parah yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik, Bank of England meluncurkan SWES – Skenario Eksplorasi Seluruh Sistem – Bersama dengan lebih dari 50 Lembaga Keuangan. Seperti yang dijelaskan Watkins, hal ini memanfaatkan pemetaan kerentanan untuk mengidentifikasi ancaman paling penting bagi pasar inti Inggris dan memperkirakan di mana tindakan kolektif dapat memperkuat atau mengurangi dampaknya.

 

Salah satu pelajaran utama adalah bahwa ketahanan repo, dana pasar uang, dan pasar obligasi korporasi sangat penting untuk fungsi yang berkelanjutan, dan karenanya layak dipantau.

 

Tiga saluran transmisi

 

Otoritas Perbankan Eropa telah mengusulkan kerangka kerja yang disederhanakan untuk lebih memahami sifat risiko geopolitik yang saling terkait dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan. Risiko dunia nyata seperti serangan siber, penyitaan aset, dan tarif kemungkinan besar akan diperbesar melalui tiga saluran transmisi:

1. lingkungan politik,

2. pasar keuangan, dan

3. ekonomi riil; lihat di bawah pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Pengamatan, saluran transmisi, dan risiko stabilitas keuangan dari ketegangan geopolitik

 

Menurut EBA, intensitas dan cakupan dampak bergantung pada saluran transmisi. Misalnya, penerapan tarif dan sanksi menciptakan gesekan dalam aliran modal dan likuiditas, yang memicu disintermediasi pasar, yang karenanya investor menuntut pengembalian yang lebih tinggi untuk menutupi risiko tambahan.

 

Tarif telah menjadi pendorong utama volatilitas keuangan pada tahun 2025, dengan perubahan besar di pasar obligasi dan ekuitas yang disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan yang sedang berlangsung. Kebijakan tarif Presiden Trump menyebabkan aksi jual tajam pada Obligasi Negara AS setelah "Hari Pembebasan". Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun melonjak ke 4,592% pada bulan April, tertinggi sejak Februari sementara obligasi Treasury 30 tahun melonjak ke 4,9% setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyuarakan kekhawatiran tentang risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi dari tarif Gedung Putih.

 

Selain itu, dolar AS telah jatuh hampir 10% sejak Januari, dengan investor mengharapkan depresiasi lebih lanjut.


Penurunan ini disebabkan oleh pengumuman tarif yang beragam dan kekhawatiran atas potensi "krisis kepercayaan dolar."


Skala pergerakan ini di pasar valuta asing dan obligasi menyebabkan penetapan harga ulang aset yang memengaruhi neraca dan margin laba bank.

 

Risiko geopolitik: 3 prioritas teratas selama 12 bulan ke depan

 

CRO tidak memiliki ilusi tentang tingkat keparahan ketegangan geopolitik yang meningkat dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan global. Menurut survei manajemen risiko EY yang baru, 70% CRO percaya perubahan dalam kondisi geopolitik akan memengaruhi organisasi mereka. Mereka melihatnya sebagai prioritas ketiga terpenting bagi organisasi mereka (36%) selama 12 bulan ke depan, dibandingkan dengan tahun lalu ketika itu hanya menjadi risiko prioritas tertinggi ke-12 bagi CRO dan dewan direksi. Yang lebih terungkap adalah fakta bahwa 91% CRO dalam survei EY menilai kondisi geopolitik sebagai risiko lima teratas untuk tiga tahun ke depan. Hal ini dapat memengaruhi cara bank berpikir tentang eksposur klien global di seluruh kelas aset dan memerlukan perlindungan risiko yang lebih ketat yang berkaitan dengan aktivitas pinjaman, transaksi lintas batas, eksposur valuta asing, dll.

 

CRO bertindak di berbagai bidang untuk mempersiapkan potensi penurunan. Hampir dua pertiga (62%) mengurangi selera risiko atau membatasi pinjaman ke industri dan geografi berisiko tinggi tertentu, sementara lebih dari separuh (56%) memperketat standar pinjaman; hal ini terjadi karena risiko keuangan nonbank meningkat karena perluasan kredit swasta yang berkelanjutan. Kemajuan teknologi yang dipimpin oleh AI generatif dapat memberikan sedikit kenyamanan bagi para pemimpin risiko saat mereka mencari cara untuk membangun ketahanan operasional dan meningkatkan pemodelan skenario mereka.

 

Mengadopsi solusi teknologi yang lebih canggih ke dalam organisasi mereka akan membantu CRO dan organisasi mereka tetap berada di garis depan dalam hal menangani apa yang mereka lihat sebagai dua risiko paling penting yang muncul selama tiga tahun ke depan: ancaman keamanan siber dan ketersediaan serta integritas data.

 

Di era di mana turbulensi geopolitik dan ketidakpastian sistemik menjadi hal yang konstan, mandat untuk CRO jelas: membangun ketahanan tidak hanya untuk apa yang diketahui, tetapi juga untuk apa yang masih belum dapat diketahui.

 

SUMBER

James Williams on 6 June 2025. Geopolitical risk in 2025: From fragmentation to financial fallout. https://informaconnect.com/geopolitical-risk-in-2025-from-fragmentation-to-financial-fallout/

 

Gejala Penyakit Prostat

Gambar Ilustrasi. Bagian Struktur Anatomi Kelenjar Prostat normal dan bengkak

 

Gejala Penyakit Prostat: Kenali Sejak Dini, Cegah Dampaknya

 

Penyakit prostat adalah salah satu masalah kesehatan yang sering menyerang pria, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Prostat adalah kelenjar kecil berbentuk seperti kacang yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra—saluran tempat keluarnya urin dari tubuh. Ketika terjadi gangguan pada prostat, seperti pembesaran jinak (BPH), peradangan (prostatitis), atau bahkan kanker prostat, berbagai gejala bisa muncul dan memengaruhi kualitas hidup. Mengenali gejalanya sejak dini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan dengan tepat dan lebih efektif.

 

Gangguan Buang Air Kecil yang Mengganggu Aktivitas

 

Gejala paling umum dari penyakit prostat biasanya berkaitan dengan saluran kemih. Pria mungkin mulai merasa sering ingin buang air kecil, terutama pada malam hari—a kondisi yang dikenal sebagai nokturia. Selain itu, mereka mungkin mengalami kesulitan saat memulai atau menghentikan aliran urin, atau merasakan bahwa aliran urin menjadi lemah dan terputus-putus. Dalam beberapa kasus, buang air kecil terasa nyeri (disuria), atau bahkan ditemukan darah dalam urin (hematuria). Gejala-gejala ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal adanya gangguan prostat yang serius.

 

Gangguan Seksual yang Mengurangi Kualitas Hidup

 

Tak hanya saluran kemih, penyakit prostat juga bisa berdampak pada fungsi seksual. Beberapa pria melaporkan nyeri saat ejakulasi, yang tentu menimbulkan ketidaknyamanan dan kecemasan. Disfungsi ereksi juga dapat terjadi, yaitu kesulitan dalam mencapai atau mempertahankan ereksi. Selain itu, libido atau gairah seksual bisa menurun. Gejala ini seringkali diabaikan atau dianggap sebagai bagian dari proses penuaan, padahal bisa menjadi sinyal penting dari adanya masalah pada prostat.

 

Ketidaknyamanan di Bagian Panggul

 

Penyakit prostat juga bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri di area panggul, punggung bawah, pinggul, hingga perineum (bagian antara skrotum dan anus). Sensasi nyeri ini bisa datang dan pergi, atau menetap dalam waktu lama, dan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketidaknyamanan ini sering kali membuat penderita merasa lesu dan mudah lelah.

 

Gejala Umum yang Tidak Spesifik tetapi Perlu Diwaspadai

 

Beberapa gejala penyakit prostat bersifat umum dan mungkin tidak langsung dikaitkan dengan masalah prostat. Misalnya, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau kelelahan yang berkepanjangan tanpa sebab yang jelas. Walaupun gejala ini tidak spesifik, mereka tetap perlu diperhatikan, terutama jika muncul bersamaan dengan gejala urinaria atau seksual yang telah disebutkan sebelumnya.

 

Pentingnya Konsultasi dan Pemeriksaan Rutin

 

Karena gejala-gejala penyakit prostat bisa mirip dengan gangguan kesehatan lain, penting untuk tidak melakukan diagnosis sendiri. Berkonsultasilah dengan dokter jika Anda mengalami satu atau beberapa gejala tersebut. Pemeriksaan rutin, termasuk pemeriksaan colok dubur (DRE), tes PSA (antigen spesifik prostat), dan pemeriksaan penunjang lainnya, sangat membantu dalam mendeteksi gangguan prostat sejak dini. Semakin cepat masalah ditemukan, semakin besar peluang untuk mengatasinya dengan baik.

 

Dengan memahami gejala-gejala penyakit prostat dan pentingnya deteksi dini, kita bisa lebih waspada dan mengambil langkah-langkah tepat untuk menjaga kesehatan pria, terutama di usia lanjut. Jangan ragu untuk membicarakan masalah ini dengan tenaga medis—karena kesehatan prostat adalah bagian penting dari kualitas hidup pria secara keseluruhan.