Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 23 August 2008

DNA Test for Prevention of IUU Fishing

OPRT will carry out testing and analysis of DNA of tunas landed in Japan as one of its projects for fiscal 2008. The project, entrusted by the Fisheries Agency, the Government of Japan, will be implemented jointly with the National Research Institute of Far Seas Fisheries.

Until last year, OPRT has been conducting tuna DNA testing and analysis independently. The project was enlarged this year as a government-entrusted program, by increasing the number of cases of testing and analysis. Especially,testing of processed frozen tunas shipped by container vessels, which have been increasing in recent years, will be reinforced. The purpose of this project is to prevent imports into Japan of tunas cought in violation of resource management measures of regional fisheries management organizations, by analyzing tuna DNA and verifying tuna species and the areas of catch.

It is also aimed to enable Japan, as a responsible tuna fishing and consuming nation, to contribute to ensuring the effectiveness of resource management measures implemented by regional fisheries management organizations.

Previously, there was a case of exposure by DNA testing that bigeye tunas caught in the Atlantic were landed in Japan under false reporting as tunas from the Pacific. In this respect, therefore, DNA testing and analysis at the time of landing will have an important and effective role in preventing illegal, unregulated and unreported (IUU) fishing activities.

Source: OPRT NewsLetter International August 2008, No. 20

Friday, 22 August 2008

World Major Tuna Longliners Suspend Fishing

Distant-water tuna longline fishing organizations of Japan, Korea, The Chinese Taipei and China held a meeting in Tokyo on June 27, 2008 to exchange views on the present situation now surrounding tuna fisheries.

At the meeting, the four organizations (Japan Tuna Fisheries Cooperative organization, Taiwan Deep Sea Boat Owners and Exporters Association, Korea Overseas Fisheries Association (Tuna Longline Fisheries Committee) and China Fisheries Association (Distant Water Fisheries Branch)) reached the common recognition that "tuna catches have been on decreasing trend in recent years because of the declining resources" and "it has become increasingly difficult to continue tuna fishing because of the rapid fuel price hikes lately.

The four organizations agreed to jointly implement the following actions in order to recover and conserve tuna resources and thereby to maintain the deep sea tuna longline fisheries.

1. We, the four organizations continue to address the regional fisheries management organizations, fisheries management authorities of each country, distributors and consumers about the urgent need to introduce measures necessary for eliminating the treat against tuna resources caused by the rapid increase of large scale purse seine fishing as well as inadequately managed tuna farming.

2. We appeal to the public the critical situation facing the deep sea tuna longline fisheries. We are determined to suspend our fishing operation in order recover tuna resources.

3. We do our best to develop and foster the frozen sashimi tuna market in each of our countries and also to develop new markets in the USA, The EU, and other countries in order to promote stable supply-demand structure.

(Based on OPRT survey, about 400 tuna longline fishing vessels, which account for about one third of all the 1,200 tuna longline fishing vessels in the world, including the vessels registered with the four organizations, are expected to take part in the planned fishing suspension. In point of the fact, 200 vessels from the Chinese Taipei are already suspending their tuna fishing operation).

Resource: OPRT Newsletter international, August 2008, No. 20

Thursday, 21 August 2008

Pelatihan Pertanian di Prefektur Ibaraki, Jepang

Setelah praktek bertani di pertanian orang tua angkat masing-masing selama 4 bulan lebih, tanggal 18 -27 Agustus 2008, para trainee pertanian program JAEC kembali mengikuti pelajaran pertanian di kelas bertempat di Koibuchi Gakuen Prefektur Ibaraki. Gambar di sebelah kiri terlihat keceriaan sebelas pemuda petani Indonesia yang sedang menimba ilmu teknologi pertanian seusai kuliah di ruang kelas yaitu Sdr. Maulana Yusuf (asal DKI), Syaipul Rahman Bin Daim (Kalsel), Agus Ali Nurdin (Jabar), Dadan Ramdani Nugraha (Jabar), Muhamad Najib (Jambi), I Made Dedy Sudiantara (Bali), Yuki Aramdhani (Jabar), Erwin (Sumut), Aep Komarudin (Jabar), Husnul Muhlis (Kalsel) dan Saeroji (Jatim).

Apa cita-ciata mereka setelah kembali ke Indonesia? Cita-cita mereka mulia semua.

Maulana Yusuf: Mengembangkan pertanian dengan miniru atau mempraktekan gaya Jepang. Ingin mengembangkan padi, sayuran dan ternak baik sebagai produsen maupun penjual hasil pertanian tersebut.

Syaiful Rahman: Mengembangkan tehnik pertanian yang telah dipelajari di Jepang dengan mempraktekan di daerahnya untuk kemajuan bangsa dan negara.

Muhamad Najib : membeli tanah untuk mengembangkan ilmu yang didapat dan membangun kebun. Pada gilirannya akan membangun rumah.

Agus Ali Nurdin : Memproduksi sayuran dan padi organik. Juga membuat perusahaan atau distributor sayuran dan beras organik.

Aep Komarudin : Ingin menjadi pembudidaya sayuran dan membuat pengepakan sendiri.

Erwin : Membangun pengolahan hasil pertanian di daerah khususnya padi kemudian mengembangkan produk lain.

Dadan Ramdani Nugraha : Memajukan usaha yang sudah berjalan agar lebih maju dengan bekal pengalaman dari program training ini.

I Made Dedy Sudiantara : Ingin bergerak dibidang peternakan babi dan sapi sekaligus pemasarannya.

Gambar sebelah kiri suasana belajar ketika Ogawa Sensei sedang mengajar ilmu tanah dan pemupukan. Pelajaran disampaikan dalam bahasa Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Yuki Aramdhani : Bercita-cita meneruskan usaha yang sudah ada dan berusaha mengembangkan lagi. Dan juga mempraktekan ilmu yang dipelajari di Jepang.

Saeroji : Berusaha membantu membangun bangsa dalam memperbaiki pertanian, di desa, Kecamatan, Kabupaten dan Negara dengan cara memperbaiki usaha tani yang telah dilaksanakan. Menyampaikan ilmu yang diperoleh kepada kawan-kawan dan kelompok tani, Gapoktan, KTNA dan juga pemuda-pemuda tani.

Husnul Muchlis : Memajukan usaha tani sendiri dulu lalu membantu usaha tani masyarakat disekitar.


Kendala dari sebagian besar mereka hadapi dalam mengikuti pelatihan ini adalah bahasa Jepang. Kata mereka kalau bisa belajar bahasa Jepang yang cukup lama ketika sebelum berangkat ke Jepang.

Kami bersyukur kalau sekarang sudah bisa komunikasi cukup baik, hanya kadang-kadang salah paham. Kalau salah paham ini yang membuat kita malu, kata seorang trainee.

Budaya malu memang baek, tetapi jangan dipertahankan terus-menurus yang bikin kinerja belajar dan berlatih kita menurun.

Ja... Ganbarimashou.

Saturday, 9 August 2008

Agricultural Output

Agricultural Output in 2005 (Municipality Estimates)

Kagoshima was the 2nd largest agricultural producing prefecture, due to an increase in livestock production. Outline of Survey Results.

1.Agricultural output by prefectures.

Despite there being an increase in agricultural output of livestock production in 2005, because the value of vegetables and fruits decreased due to lowering prices, there was a change in the high ranking prefectures of agricultural production compared with last year.

Though Hokkaido remained 1st, Kagoshima prefecture (related highly to livestock production) came in 2nd (4th last year), then in order, Ibaraki (3rd last year), Chiba ( 2nd last year), and Aichi ( 5th last year).

The amount of agricultural output in the top 5 prefectures shared 30 % of the national total.

2.Looking at the largest agricultural production by prefecture in its major categories, Niigata produced 190.3 billion yen (9.4 % of national total) in rice, Chiba produced 165.3 billion yen (8.2 %) in vegetables, Aomori produced 72.2 billion yen (10.0 %) in fruits, Aichi produced 73.1 billion yen (18.0 %) in flowers, Hokkaido produced 70.3 billion yen (23.2 %) in industrial crops. The largest livestock output was in Hokkaido, amounting to 501.8 billion yen (18.6 %).

Sources:
A weekly update of news from the Japanese
Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries
International Policy Planning Division, Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries 1-2-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo, 100-8950


The English documents are published on the following URL: http://www.maff.go.jp/esokuhou/index.html

Kebijakan Industri Pertanian Republik Rakyat China

Sementara diadakannya pembangunan industri berskala besar, produksi industri pertanian juga dikembangkan secara menyeluruh. Sejak tahun 1952 sampai tahun 1978, industri pertanian RRC menyediakan akumulasi yang sangat besar sejumlah 800 milyar yuan Renminbi untuk industrilisasi ekonomi rakyat, industri pertanian serta pembangunan irigasi di tanah pertanian yang terkait dan sarana teknologi industri pertamain semuanya mendapat perkembangan yang besar. Sejak tahun 1978, RRC melancarkan penyesuaian keseluruhan terhadap kebijakan pedesaan, dan menyusun serangkaian kebijakan pedoman untuk meningkatkan perkembangan industri pertanian.

Kebijakan yang paling utama ialah pelaksanaan Sistem tanggungjawab kontrak keluarga yang dikaitkan dengan hasil produksi, dengan prasyarat alat-alat produksi, misalnya tanah dimiliki oleh kolektif, keluarga petani mengkontrak tanah untuk pengelolaan, pengkontrak mengikuti peraturan kontrak, kecuali membayar pajak kepada negara dan membayar suatu persentase tertentu kepada kolektif, semua produksi dan pendapatan lainnya dimiliki oleh pengkontrak sendiri. Pola perkembangan industri pertanian tersebut membangkitkan antusiasi produk petani yang luas, wajah pedesaan mengalamai perubahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kontrak keluarga bukan hanya mendorong perkembangan keseluruhan usaha pertumbuhan, juga mendorong bangkitnya dan perkembangan usaha budidaya keluarga dan perusahaan pedesaan dan kecamatan. Sementara itu, sejumlah besar tenaga kerja yang tersisa dibebaskan dari tanah, masing-masing menuju kota, dan menyediakan sumber tenaga kerja yang memadai untuk pembangunan perkembangan kota.

China melalui upaya sendiri, dengan menggunakan tanah garapan yang hanya menduduki 7% dari total luasnya seluruh dunia, menghidupi populasi sebanyak 22% total jumlah penduduk seluruh dunia. pada tahun 1997, volume produksi bahan pangan Tiongkok mencapai 492 juta ton, katun 4,3 juta ton, berbagai jenis bahan minyak 21,5 juta ton, daging 53,54 juta ton, dan hasil perairan 35,61 juta ton, semua angka mutlaknya menduduki tempat terdepan dunia. di antara berbagai bagian industri pertanian, produksi bahan pangan memelihara kecenderungan pertumbuhan yang stabil, pertumbuhan ekonomi selalu berkembang pesar, lebih-lebih industri hutan, penggembalaan dan perikanan berkembang dengan sangat cepat, dengan demikian, terjaminlah kebutuhan perkembangan ekonomi negara dan peningkatan terus-menerusnya taraf kehidupan rakyat.

Volume total ekonomi penduduk China telah mencapai skala yang sangat besar, pada tahun 1997, GDP Tiongkok telah mencapai 7 trilyun 477 milyar 200 juta yuan Renminbi, atau 903 milyar dolar Amerika, dan menjadi salah satu di antara 10 terdepan urutan daftar berbagai negara seluruh dunia. Akan tetapi, karena jumlah populasi Tiongkok sangat besar, dan dasarnya agak rendah, taraf volume total ekonomi rakyat perkapita tetap sangat rendah, China tetap adalah satu negara berkembang yang berpendapatan relatif rendah.

Dalam kaitan ketahanan pangan, dapat dikaji reformasi kebijakan pertanian RRC yang dimulai tahun 1994 yang disebut Economic and Technological Development Zone (ETDZ). Sasaran ETDZ adalah meningkatkan:
a) efisiensi proses produksi pertanian,
b) mengenalkan sistem produksi massal untuk alternaif beras seperti hortikultura dan akuakultura,
c) menguasai dan meningkatkan performa teknologi yang sudah ada di masyarakat petani, dan
d) mengembangkan teknologi baru terutama dalam bidang pembibitan, pupuk, dan pestisida ramah lingkungan.

Apa yang dilakukan China kelihatan sederhana, tapi pemerinah Beijing melakukannya secara bertahap dengan urutan prioritas yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten. Hasilnya, kurang dari satu dekade, RRC berhasil mandiri dan swasembada pangan. Bahkan, produk-produk pertanian China kini mulai diekspor dan mendapat pasaran luas di negara-negara berkembang.

Berdasarkan tinjauan ekonomi dari 117 negara, China berada pada peringkat ke 49 dari seluruh ekonomi dunia, menurut Laporan Kompetitif Global 2005-2006, yang dikeluarkan oleh WEF. Pada tahun 2004, ekonomi China berada pada peringkat ke 46, dan tahun 2003, berada pada peringkat ke 33.

Inflasi tidak ada masalah di RRC pada tahun 2001, tapi, karena mungkin menjadi terlalu panas pada tahun 2004, inflasi yang didapat secara signifikan dan peringkat RRC pada indikator ini berpindah dari lima pada tahun 2001, ke 58 pada tahun 2005.