Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 16 February 2026

Different Ramadan Again? Here Are the Scientific Facts Behind the Global Unified Hijri Calendar (KHGT) That Could Unite Muslims Worldwide!

 


Toward Muslim Unity: Understanding the Global Unified Hijri Calendar (GUHC) in the Observance of Ramadan


Islam is a religion that upholds order and knowledge. Amid today’s advances in space technology, Muslims are presented with a revolutionary methodological innovation: The Global Unified Hijri Calendar (GUHC). This concept is not merely a timekeeping tool, but a scientific effort to realize unity in worship among Muslims around the world.

 

What Is KHGT?


Scientifically, GUHC is a calendrical system that establishes the principle of one day, one date worldwide. Based on the outcomes of the International Congress on the Global Islamic Calendar held in Turkey (2016), this system seeks to unify the Islamic calendar so that there will no longer be differences among countries in starting Ramadan or celebrating Eid.

Its scientific foundation rests on robust astronomical criteria:


Global Imkanur Rukyat (Global Crescent Visibility):
If the crescent (hilal) meets the visibility criteria anywhere on Earth before 00:00 GMT, then the entire world is considered to have entered a new lunar month.

Strict Parameters:
The minimum requirements for the new month are a crescent altitude of at least 5 degrees and an elongation (angular distance between the Moon and the Sun) of at least 8 degrees.

The Growth of the Crescent:
Scientifically, the crescent continues to grow over time. If in Indonesia the crescent is not yet visible (because sunset occurs earlier), a few hours later it will certainly be higher and visible in western regions of the Earth such as the Americas. GUHC recognizes the crescent’s visibility in the western hemisphere as valid for residents in the eastern hemisphere (including Indonesia).

 

The Challenge of Ramadan 1447 AH (2026 CE)


In 2026, we face a dynamic scientific situation. According to GUHC calculations, 1 Ramadan 1447 AH falls on Wednesday, 18 February 2026.

Why might this differ from the government/MABIMS prediction (19 February)?

Astronomically, at sunset on 17 February, the crescent’s altitude in Indonesia remains low (below the local 3-degree criterion). However, in the western hemisphere (such as Alaska or the Americas), the crescent’s altitude is significantly higher and satisfies the international 5-degree criterion. For proponents of GUHC, a verified sighting in another part of the world is valid for all Muslims globally.

 

Why Is KHGT Important for Da’wah?


From a da’wah perspective, implementing a single global calendar carries profound significance:

Certainty in Worship (Hifz ad-Din):
With a global astronomical calculation system, worship schedules can be predicted with high precision decades in advance. This facilitates international planning for ‘umrah, hajj, and zakat distribution.

Manifestation of Muslim Unity:
Just as Muslims face a single Ka‘bah in prayer, GUHC invites Muslims to begin fasting and celebrate Eid on the same day, removing geographical boundaries that have long caused differences.

Islam as Pro-Science:
These differences are not theological divisions, but developments in methodological ijtihad. They demonstrate that Islam remains open to modern space research for the benefit of humanity.

 

Conclusion

Differences in determining the beginning of a lunar month constitute a scientific domain that should be approached with maturity and mutual respect (tasamuh). However, moving toward a single global calendar represents a grand vision to demonstrate the strength and unity of the Muslim world in the modern era.

May we observe Ramadan with devotion, guided by knowledge and conviction.

 

#GlobalHijriCalendar
#GUHC
#Ramadan1447AH
#AstronomicalCalculation
#MuslimUnity

Ramadhan Bisa Dihitung Presisi! Ini Analisis Astronomis Awal Puasa dengan Model Yallop–Odeh

 


ANALISIS ASTRONOMIS PENENTUAN AWAL RAMADHAN

Pendekatan Koordinat Ekuatorial, Transformasi Horizon, Refraksi Atmosfer, dan Model Visibilitas Yallop–Odeh

 

Abstrak


Penentuan awal Ramadhan dalam kalender Hijriah merupakan persoalan astronomi terapan yang melibatkan mekanika benda langit, geometri bola langit, optika atmosfer, dan model empiris visibilitas hilal. Penelitian ini mengkaji penetapan awal bulan berbasis hisab astronomis dengan pendekatan koordinat ekuatorial, transformasi ke sistem horizon lokal, koreksi refraksi atmosfer, serta evaluasi visibilitas menggunakan model Yallop (1997) dan Odeh (2004). Analisis menunjukkan bahwa visibilitas hilal dapat dihitung secara presisi menggunakan data ephemeris modern dan kriteria kuantitatif tinggi hilal serta elongasi. Hasil kajian menegaskan bahwa perbedaan penentuan awal Ramadhan antarwilayah merupakan konsekuensi dari variasi geografis dan pilihan metodologi, bukan akibat ketidakpastian astronomi.

Kata kunci: hilal, visibilitas bulan sabit, hisab astronomi, Yallop model, Odeh model, kalender Hijriah.

 

1. Pendahuluan


Awal bulan Hijriah secara astronomis ditentukan oleh kemungkinan terlihatnya hilal (bulan sabit pertama) setelah konjungsi (ijtima’). Konjungsi terjadi ketika bujur ekliptika Bulan dan Matahari sama:



Namun konjungsi bukan penentu masuknya bulan baru. Secara observasional, bulan baru dimulai ketika hilal memenuhi kriteria visibilitas setelah matahari terbenam.

Dengan kemajuan ephemeris numerik (misalnya JPL DE430), posisi Bulan dan Matahari dapat dihitung dengan akurasi busur detik, sehingga ketidakpastian utama bukan pada posisi astronomis, melainkan pada model visibilitas optik di atmosfer bumi.

 

2. Metodologi

 

2.1 Data Astronomis

Posisi Bulan dan Matahari dihitung dalam sistem koordinat ekuatorial:

  • Asensio Rekta (α)
  • Deklinasi (δ)

Sudut jam (Hour Angle):



di mana LST adalah Local Sidereal Time.

 

2.2 Transformasi ke Koordinat Horizon

Tinggi hilal (altitude) dihitung dengan:



dengan:

  • = lintang pengamat
  • = deklinasi Bulan
  • = sudut jam Bulan

Azimut dihitung menggunakan:



Evaluasi dilakukan saat tinggi Matahari:



(termasuk refraksi dan semi-diameter Matahari).

 

2.3 Elongasi dan Iluminasi

Elongasi Bulan–Matahari:



Fraksi iluminasi:



2.4 Koreksi Refraksi Atmosfer

Refraksi atmosfer dihitung dengan pendekatan Bennett (1982):



(dalam menit busur)

Tinggi terkoreksi:



2.5 Model Visibilitas Yallop (1997)

Parameter Yallop:



di mana:

  • ARCV = beda tinggi Bulan–Matahari
  • W = lebar sabit
  • f(W) = fungsi polinomial empiris

Klasifikasi visibilitas:

q

Interpretasi

> 0.216

Mudah terlihat

-0.014 – 0.216

Terlihat dengan alat optik

< -0.160

Tidak mungkin terlihat

 

2.6 Model Odeh (2004)

Model regresi modern:



Jika V > 0 → mungkin terlihat.

Model ini berbasis >700 data observasi global.

 

3. Hasil dan Analisis


Simulasi menunjukkan bahwa visibilitas hilal sangat dipengaruhi oleh:

  1. Lintang geografis
  2. Perbedaan bujur (rotasi bumi 15° ≈ 1 jam)
  3. Waktu setelah konjungsi

Secara dinamis:



Hilal yang tidak memenuhi kriteria di wilayah timur dapat memenuhi kriteria beberapa jam kemudian di wilayah barat akibat pertambahan umur bulan dan elongasi.

Analisis model Yallop dan Odeh menunjukkan konsistensi tinggi dalam memprediksi batas visibilitas global.

 

4. Diskusi


Hasil menunjukkan bahwa:

  • Secara matematis, visibilitas hilal dapat dihitung dengan presisi tinggi.
  • Perbedaan awal Ramadhan antarnegara bukan akibat ketidakpastian astronomi.
  • Variasi terjadi karena perbedaan domain penerapan (lokal vs global).
  • Model visibilitas modern telah mengurangi subjektivitas rukyat tradisional.

Implikasi ilmiah: Kalender Hijriah dapat dibangun sepenuhnya berbasis hisab global dengan dasar fisika yang kuat.

 

5. Kesimpulan


Penentuan awal Ramadhan merupakan persoalan astronomi presisi tinggi yang melibatkan:

  • Mekanika benda langit
  • Transformasi geometri bola langit
  • Koreksi atmosfer
  • Model empiris visibilitas

Dengan ephemeris modern dan model Yallop–Odeh, awal bulan dapat diprediksi secara global dengan tingkat keandalan tinggi. Perbedaan yang terjadi bersifat metodologis, bukan astronomis.

 

Referensi


Bennett, G. (1982). The calculation of astronomical refraction in marine navigation. Journal of Navigation, 35(2), 255–259.


Meeus, J. (1998). Astronomical Algorithms. Willmann-Bell.


Montenbruck, O., & Pfleger, T. (2000). Astronomy on the Personal Computer. Springer.


Odeh, M. (2004). New Criterion for Lunar Crescent Visibility. Experimental Astronomy, 18, 39–64.


Yallop, B. D. (1997). A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon. HM Nautical Almanac Office.


Chapront-Touzé, M., & Chapront, J. (1988). ELP2000 Lunar Theory.


Standish, E. M. (1998). JPL Planetary and Lunar Ephemerides DE405/LE405.

 

#AwalRamadhan
#HisabAstronomi
#VisibilitasHilal
#KalenderHijriah
#ModelYallopOdeh

 

Ramadhan Beda Lagi? Ini Fakta Ilmiah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang Bisa Satukan Umat Islam Dunia!

 


Menuju Kesatuan Umat: Memahami Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam Ibadah Ramadhan

 

Islam adalah agama yang mengedepankan keteraturan dan ilmu pengetahuan. Di tengah kemajuan teknologi antariksa saat ini, umat Islam dihadapkan pada sebuah inovasi metodologis yang revolusioner: Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Konsep ini bukan sekadar alat hitung waktu, melainkan upaya saintifik untuk mewujudkan kesatuan ibadah umat Islam di seluruh dunia.


Apa Itu KHGT?

Secara ilmiah, KHGT adalah sistem penanggalan yang menetapkan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Berdasarkan hasil Muktamar Kalender Islam Global di Turki (2016), sistem ini berupaya menyatukan kalender Islam agar tidak ada lagi perbedaan memulai puasa atau hari raya antar negara.


Dasar ilmiahnya bertumpu pada kriteria astronomi yang kokoh:

Imkanur Rukyat Global: Jika hilal sudah memenuhi kriteria di titik mana pun di muka bumi sebelum pukul 00:00 GMT, maka seluruh dunia dianggap masuk bulan baru.

Parameter Ketat: Syarat masuk bulan baru adalah tinggi hilal minimal 5 derajat dan sudut elongasi (jarak Bulan-Matahari) minimal 8 derajat.

Realitas Pertumbuhan Hilal: Secara sains, hilal terus tumbuh seiring waktu. Jika di Indonesia hilal belum terlihat (karena matahari terbenam lebih awal), beberapa jam kemudian hilal tersebut pasti sudah lebih tinggi dan terlihat di wilayah barat bumi seperti Amerika. KHGT mengakui keberadaan hilal di wilayah barat ini sebagai dasar bagi penduduk di timur (Indonesia).


Tantangan Ramadhan 1447 H (2026 M)

Pada tahun 2026 ini, kita menghadapi dinamika ilmiah. Berdasarkan perhitungan KHGT, 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Mengapa bisa berbeda dengan prediksi pemerintah/MABIMS (19 Februari)?

Secara astronomis, pada magrib tanggal 17 Februari, posisi hilal di Indonesia masih rendah (di bawah kriteria lokal 3 derajat). Namun, di belahan bumi bagian Barat (seperti Alaska atau Amerika), posisi hilal sudah sangat tinggi dan memenuhi syarat internasional 5 derajat. Bagi penganut KHGT, laporan terlihatnya hilal di belahan bumi lain adalah sah bagi seluruh penduduk dunia.


Mengapa KHGT Penting bagi Dakwah?

Dalam kacamata dakwah, penerapan satu kalender global memiliki urgensi yang mendalam:

Kepastian Ibadah (Hifz ad-Din): Dengan sistem hisab global, kita bisa memprediksi jadwal ibadah hingga puluhan tahun ke depan secara presisi. Hal ini memudahkan perencanaan umrah, haji, dan distribusi zakat secara internasional.

Manifestasi Kesatuan Umat: Sebagaimana kita berkiblat pada satu Ka’bah, KHGT mengajak umat Islam untuk berpuasa dan berhari raya di hari yang sama, menghapus batas-batas geografis yang selama ini memicu perbedaan.

Islam yang Pro-Sains: Perbedaan ini bukanlah perpecahan akidah, melainkan perkembangan ijtihad metodologis. Ini membuktikan bahwa Islam selalu terbuka terhadap riset antariksa terkini untuk kemaslahatan umat.


Penutup

Perbedaan dalam penentuan awal bulan adalah ruang ilmiah yang harus disikapi dengan penuh kedewasaan (tasamuh). Namun, menuju satu kalender global adalah visi besar untuk menunjukkan kekuatan dan persatuan dunia Islam di era modern. Mari kita jalani ibadah Ramadhan dengan khusyuk, berbekal ilmu dan keyakinan.


#KalenderHijriah
#KHGT
#Ramadhan1447H
#HisabAstronomi
#PersatuanUmatIslam

Serunya Wisata Edukasi Kampung Coklat Blitar! Belajar Bikin Cokelat.

 



Wisata Edukasi Kampung Coklat Blitar: Surga Edukasi & Hiburan Cokelat di Jawa Timur

Wisata Edukasi Kampung Coklat adalah destinasi wisata unik dan menarik yang berlokasi di Jl. Banteng Blorok No.18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Sebagai salah satu tujuan wisata edukatif terpopuler di Blitar, tempat ini menawarkan pengalaman wisata yang edukatif sekaligus menyenangkan, khususnya bagi keluarga, pelajar, dan pencinta cokelat.

Konsep Wisata Edukasi

Kampung Coklat mengusung konsep edutainment — gabungan antara pendidikan dan hiburan. Wisata ini tidak hanya sekadar tempat rekreasi biasa, tetapi juga memberikan wawasan dan pembelajaran tentang proses budidaya tanaman kakao hingga pengolahan hasil panen menjadi berbagai produk cokelat siap konsumsi. Pengunjung diajak memahami mulai dari pembibitan tanaman kakao, pemetikan buah kakao, pengolahan biji kakao, hingga pembuatan aneka produk cokelat secara langsung.

Pengalaman Edukatif & Interaktif

Salah satu daya tarik utama Kampung Coklat adalah paket wisata edukasi yang dirancang sesuai dengan kebutuhan pendidikan berbagai jenjang usia, mulai dari PAUD/TK hingga universitas. Program pembelajaran mencakup pengalaman praktis menanam biji kakao, memecah buah kakao, serta melihat langsung proses cooking class atau pembuatan cokelat di tempat.


Fasilitas yang Menarik

Kampung Coklat dilengkapi berbagai fasilitas untuk kenyamanan dan hiburan pengunjung:

🎢 Wahana Permainan & Hiburan

Terdapat berbagai wahana seru seperti permainan anak, area selfie bertema cokelat, hingga atraksi baru seperti Perahu Ceria di sungai buatan — pengalaman santai menyusuri taman dengan suasana tropis yang asri.

🍫 Galeri Produk & Kuliner Cokelat

Pengunjung dapat mencicipi dan membeli aneka produk olahan cokelat seperti minuman cokelat panas, es krim cokelat, choco noodle, hingga berbagai oleh-oleh unik khas tempat ini.

📚 Paket Edukasi Terintegrasi Kurikulum

Paket wisata edukasi Kampung Coklat telah terintegrasi dengan Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), sehingga cocok untuk field trip sekolah maupun studi banding pelajar.

🅿️ Fasilitas Penunjang Lainnya

Tersedia area parkir luas, pusat informasi, outlet makanan/minuman, serta fasilitas publik lainnya yang membuat kunjungan jadi nyaman dan aman.


Jam Operasional & Tiket Masuk

Wisata ini buka setiap hari dengan jam operasional sebagai berikut:

  • Weekday (Senin–Jumat): 08.00–16.00 WIB

  • Weekend & Hari Libur: 08.00–18.00 WIB

Harga tiket masuk relatif terjangkau:

  • Tiket reguler mulai dari sekitar Rp 20.000/orang

  • Tiket terusan sekitar Rp 35.000/orang
    – Tiket ini sering kali juga mencakup paket edukasi atau diskon grup.


Kenapa Harus Berkunjung?

🌱 Edukasi dari Hulu ke Hilir

Tempat ini cocok bagi siapa pun yang ingin memahami lebih jauh tentang siklus hidup tanaman kakao, proses produksi cokelat, hingga pengembangan usaha kecil berbasis pertanian dan olahan pangan.

🍫 Wisata Keluarga & Anak

Dengan konsep yang interaktif dan penuh pengalaman langsung, Kampung Coklat menjadi pilihan liburan yang tepat untuk keluarga, anak sekolah atau mahasiswa yang ingin belajar sambil menikmati suasana baru.

📸 Spot Foto & Suasana Unik

Area wisata yang instagramable dengan tema cokelat dan suasana alam pedesaan membuatnya ideal untuk konten foto dan kenangan liburan bersama keluarga.


Dampak Positif bagi Komunitas Lokal

Wisata Edukasi Kampung Coklat tidak hanya menawarkan pengalaman bagi pengunjung, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Kehadiran destinasi edukasi ini membuka peluang usaha baru, membantu pemasaran hasil kakao petani lokal, serta meningkatkan kesempatan kerja bagi warga sekitar.


Kesimpulan

Kampung Coklat Blitar merupakan destinasi wisata edukatif yang menyajikan pengalaman belajar menarik di tengah nuansa cokelat — dari kebun hingga piring — lengkap dengan fasilitas hiburan dan kuliner yang memanjakan pengunjung dari segala usia. Wisata ini sangat direkomendasikan sebagai tujuan liburan edukatif, khususnya bagi keluarga dan pelajar yang ingin menambah wawasan sekaligus bersenang-senang.


#KampungCoklatBlitar
#WisataEdukasi
#WisataBlitar
#LiburanKeluarga
#WisataJawaTimur