Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 19 June 2008

Training Executive Group Sustainable Indonesian Fisheries Product Competitiveness Japan, 7 - 14 June 2008

Participants of Training Executive Group Sustainable Indonesian Fisheries Product Competitiveness:

1. Prof. Dr. Martani Huseini, Director General of Fisheries Product Processing and Marketing, Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF).
2. Ir. Sahut Parulian Hutagalung, M.Sc. Director of Foreign market Development, Directorate General of Fisheries Product Processing and Marketing, MMAF
3. Ir. Sadullah Muhdi, MBA, Director of Domestic marketing,Directorate General of Fisheries Product Processing and Marketing, MMAF
4. Ir. Nazori Djazuli, M.Sc. Director of Standardization and Accreditation, Directorate General of Fisheries Product Processing and Marketing, MMAF
5. Ir. Saifuddin, M.M.A. Director of Planning Bureau, Secretariat General of MMAF
6. Dr. Soen'an Hadipoernomo, M.Ed., Director of Data, Statistic, and Information Center, Secretariat General of MMAF
7. Ir. Soenaryanto, M.Sc., Director of Aquaculture Business and Services, Directorate General of Aquaculture, MMAF
8. Ir. Ibrahim Ismail, Director of Fishing Business enterprise, Directorate General of Cupture Fisheries
9. Wahyu Widayat, M.Sc., Deputy Director for Export Development, Directorate of Foreign Market Development, Directorate General of Fisheries Product Processing and Marketing, MMAF

Wednesday, 18 June 2008

Home Staff KBRI Tokyo, 17 Juni 2008

Home staff Kedutaan Besar Republik Indonesia, Tokyo bersatu-padu di halaman Wisma Duta KBRI Tokyo

Keterangan Gambar:

Berdiri deretan belakang dari kanan ke kiri: Mayor Indra Sakti (P. Atase Pertahanan), Hidayat B.S (Kepala Unit Komunikasi), Sigit Witjaksono (Fungsi Ekonomi), Toffery P.S (Fungsi Ekonomi), Rima Meilasari (Fungsi Politik), Nazria Tanius (Bagian Adminstrasi), Siti Barkah (Fungsi Penerangan), Dewi Justica Meidiwaty (Fungsi Politik), I Gusti Putu A. (Fungsi Protokol dan Konsuler), Yudhono Irawan (Fungsi Protokol dan Konsuler), Devi Noviadi (BPKRT), Syachrul Nugroho (P. Atase Perhubungan)

Duduk deretan depan dari kanan ke kiri: Sri Murniningtyas (Atase Kehutanan), Achmad Sigit (Atase Perindustrian), Tulus Budhianto (Atase Perdagangan), Dr. B. Jarot Jatmika (Atase Keuangan), Kol. Neno Hamriono (Atase Pertahanan), Ardi Hermawan (Koordinator Fungsi Politik), Ronny P. Yuliantoro (Wakepri), Prof. Dr. H. Jusuf Anwar, SH. MA. (Duta Besar), Amir Radjab H.(Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler), M. Abas Ridwan (Koordinator Fungsi Ekonomi), Drh. Pudjiatmoko, Ph.D (Atase Pertanian), Mirza Iskandar (Atase Imigrasi), Nelson Barus (Atase Perhubungan), Prof. Dr. Edison Munaf (Atase Pendidikan)

Tuesday, 17 June 2008

Inilah Rahasia Apel Tsugaru: Varietas Manis Favorit Jepang yang Matang Super Cepat dan Penuh Kejutan!




Berikut adalah rincian taksonomi apel Tsugaru:

  • Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

  • Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

  • Kelas: Dicotyledonae (Tumbuhan berbiji keping dua)

  • Ordo: Rosales (Ordo Mawar-mawaran)

  • Famili: Rosaceae (Suku Mawar-mawaran)

  • Genus: Malus (Apel)

  • Spesies: Malus domestica

  • Kultivar: Tsugaru

Luas areal tanah yang dipergunakan untuk kebun apel di Jepang sekitar 42.000 ha. Hasil survei kultivar apel produk pertanian pada tahun 2005 yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) memperlihatkan bahwa separuh kebun apel ditanami kultivar Fuji dengan luas sekitar 21.607 ha. Kemudian luas kebun apel yang kedua ditanami kultivar Tsugaru, 5.975 ha, diikuti kultivar Orin seluas 3.853 ha dan kultivar Jonagold seluas 3.462 ha. Gabungan luas areal tanaman apel dari keempat kultivar apel ini sekitar 83% dari luas seluruh kebun apel di Jepang. Kultivar apel yang lain Hakuto (862 ha), Mutsu (802 ha), Senshu (661 ha), Jonathan (585 ha), Yoko (390 ha), Shinano sweet (381 ha), dan varietas lain (3.508 ha).

Sejarah

Tsugaru merupakan hasil seleksi antara persilangan bibit dari ”Golden Delicious” dan dibiakan oleh Aomori Prefectural Apple Experiment Station. Pada 1970 diberi nama sementara ”Aomori no. 2” dan kemudian pada 1975 secara resmi diberi nama ”Tsugaru” dan diregister dengan nama ini. Pada waktu itu induknya tidak diketahui karena ketika persilangan dilakukan labelnya hilang, akan tetapi hasil analisis genetik belakangan telah dapat dilacak ternyata berinduk ”Kogyoku”.

Karakteristik pohon

Karakteristik pohon Tsugaru sedang, penampilan pohonnya tipe menyebar. Rontok buah pada bulan Juni sedang, sedangkan pada sebelum panen rontok banyak, sehingga perlu diberikan obat kimia anti-rontok buah. Kultivar ini sifat untuk dapat menghasilkan buah dua kali setahun lemah. Perakarannya lemah sehingga besar kemungkinan pohonnya menjadi kurang kuat.

Waktu berbunga sedang, dan waktu matang cepat. Setelah berbunga untuk menghasilkan buah matang memerlukan waktu 115 - 125 hari. Waktu buah matang di Suzaka, Prefektur Nagano jatuh pada akhir Agustus sampai awal bulan September. Apel Tsugaru mudah terserang oleh black spot dan sedikit tahan terhadap Alternaria leaf Spot dan sedikit rentan terhadap powdery mildew.

Karakteristik buah

Berat buah sekitar 300 gram, menggemukan dan sangat produktif. Bentuknya bulat sampai lonjong, berwarna merah sampai coklat kemerahan gelap. Belang jelas dengan warna dasar hijau kekuningan. Pada masa perubahan warna buah apabila lokasi tanaman bersuhu diatas 20 C, warna kulit buahnya akan menjadi kurang sempurna.

Buahnya sangat manis dan rasa asam tidak kuat, mengandung banyak sari buah dan rasanya enak. Daging buah berwarna putih kekuningan dan bagus. Kandungan gula sekitar 13 - 14%, keasaman 0,3% dan kekerasan daging buah sekitar 13 pounds. Kultivar apel ini dapat disimpan selama 14 hari pada suhu normal dan sekitar 20 – 30 hari pada cold storage.

Yang perlu diperhatikan

Kultivar ini tidak bisa ditanam di daerah dataran rendah dengan temperatur tinggi karena akan menimbulkan warna apel yang tidak stabil dan akan tidak menghasilkan buah dengan mutu baik. Diperlukan penggunaan obat kimia anti-rontok buah, pohon harus ditanam dengan cara sedemikian rupa sehingga mudah membudidayakannya.


SUMBER: Farming Japan, Vol 42-3, 2008

#ApelTsugaru 
#BuahJepang 
#Hortikultura 
#KultivarApel 
#Aomori


Sunday, 15 June 2008

Terungkap! Rahasia Apel Fuji: Kultivar Paling Populer di Jepang dengan Rasa Super Manis dan Ketahanan Tinggi!

Luas areal tanah yang dipergunakan untuk kebun apel di Jepang sekitar 42.000 ha. Hasil survei kultivar apel produk pertanian pada tahun 2005 yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) memperlihatkan bahwa separuh kebun apel ditanami kultivar Fuji dengan luas sekitar 21.607 ha. Kemudian luas kebun apel yang kedua ditanami kultivar Tsugaru, 5.975 ha, diikuti kultivar Orin seluas 3.853 ha dan kultivar Jonagold seluas 3.462 ha. Gabungan luas areal tanaman apel dari keempat kultivar apel ini sekitar 83% dari luas seluruh kebun apel di Jepang. Kultivar apel yang lain Hakuto (862 ha), Mutsu (802 ha), Senshu (661 ha), Jonathan (585 ha), Yoko (390 ha), Shinano sweet (381 ha), dan varietas lain (3.508 ha).

 

Berikut adalah rincian taksonomi apel Fuji:

  • Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

  • Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

  • Kelas: Dicotyledonae (Tumbuhan berbiji keping dua)

  • Ordo: Rosales (Ordo Mawar-mawaran)

  • Famili: Rosaceae (Suku Mawar-mawaran)

  • Genus: Malus (Apel)

  • Spesies: Malus domestica (atau Malus sylvestris Mill)

 

Apel Fuji adalah hasil persilangan antara apel Red Delicious dan Virginia Ralls Genet. Varietas ini sangat populer di Jepang, China, negara-negara Asia lainnya, dan Amerika Serikat.

 

Sejarah

Kultivar Fuji merupakan hasil persilangan antara Ralls janet (Kakko) dengan Red Delicious yang dikembangkan oleh The Fruit Tree Research Station (sekarang National Institute of Fruit Tree Science) MAFF, Jepang. Kultivar ini diberi nama Fuji pada tahun 1962 dan diregister dalam Register Pertanian dan Kehutanan sebagai Apel no. 1 Norin. Kultivar ini sekarang selain disukai di tempat asalnya Jepang juga telah populer di banyak negara di dunia.

Karakteristik pohon

Pohon kultivar Fuji mempunyai ciri-ciri kuat, penampilan bertipe sedang sedikit menyebar. Banyaknya buah yang rontok pada bulan Juni dan sebelum panen nol atau hanya sedikit sekali. Kultivar ini mempunyai ciri kuat menghasilkan buah dua kali setahun. Karena pohonnya kuat sekali sehingga mudah tumbuh berlebihan.

Waktu berbunga sedang, dan waktu matang lambat; varietas ini setelah berbunga untuk menghasilkan buah yang matang memerlukan waktu 175 - 190 hari. Waktu buah matang di Prefektur Shizuoka dan Nagano jatuh mulai awal dan pertengahan bulan November. Apel Fuji mudah terserang oleh black spot dan sedikit sensitive terhadap Alternaria leaf Spot dan internal bark necrosis.

Karakteristik buah

Berat buah sekitar 300 gram, ukurannya seragam dan sangat produktif. Bentuknya bulat sampai lonjong, berwarna merah sampai coklat kemerahan gelap. Belang jelas dengan warna dasar kuning. Keadaan fusarium layu dan bentuk buah tidak bagus sering terjadi pada beberapa tahun.

Buahnya sangat manis dengan rasa asam sedang, mengandung banyak sari buah dan rasanya enak. Daging buah berwarna putih kekuningan, keras dan agak kasar. Cenderung mengandung banyak air. Kandungan gula sekitar 15%, keasaman 0,4 – 0,5% dan kekerasan daging buah sekitar 15 pon. Kultivar apel ini dapat disimpan lama, sekitar 90 hari pada suhu normal dan sekitar 150 hari dalam ruang pendingin.

Sumber : Farming Japan Vol 42-3, 2008.


#ApelFuji 

#BuahJepang 

#Hortikultura 

#KultivarApel 

#Pertanian

Petunjuk ekspor hasil pertanian

Seiring dengan dinamika pasar yang terus berkembang, batas negara atau wilayah bukan lagi dipandang sebagai penghalang, akan tetapi merupakan peluang yang harus siap dimanfaatkan. Produk pertanian dengan sejuta ragam, akan siap dikembangkan untuk memanfaatkan peluang pasar, bahkan menciptakan pasar.

Catatan ini dimaksudkan sebagai petunjuk awal yang berisikan petunjuk praktis pelaksanaan ekspor komoditi pertanian. Implementasinya dalam dunia perdagangan internasional yang tentunya masih perlu disesuaikan dengan ketentuan negara yang dituju dan keinginan pembeli. Petunjuk pelaksanaan ekspor yang dapat dipelajari adalah sebagai berikut:

I. Penyiapan dokumen hasil pertanian

Dokumen yang perlu disiapkan dan instansi yang menerbitkan/mengeluarkan adalah sebagai berikut:

1. Phytosanitary Certificate diterbitkan oleh Unit Pelaksana Teknis Badan Karantina Pertanian yang ada di Bandar Udara dan Pelabuhan (Bila diperlukan)

2. Fumigation Certificate diterbitkan oleh Perusahaan Fumigasi yang ditunjuk Badan Karantina (Bila diperlukan)

3. Wood Packing Certificate diterbitkan oleh Perusahaan yang sudah diregistrasi Badan Karantina Pertanian (Bila diperlukan)

4. Quality Certificate, Test Certificate dan Chemical Analysis diterbitkan oleh Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (Bila diperlukan)

5. Certificate of Quality, Certificate of weight, Chemical analysis dan Survey report/Inspection Certificate diterbitkan oleh Independent Surveyor yang disyahkan pemerintah (Bila diperlukan)

6. Veterinary Certificate diterbitkan oleh Dinas Peternakan (Bila diperlukan)

7. Certificate of Origin / Surat Keterangan Asal diterbitkan oleh Instansi yang membidangi perdagangan pada propinsi, kabupaten/kota atau instansi lain yang telah ditetapkan oleh Menteri Perdagangan

8. Packing List dikeluarkan oleh Ekspotir dan Perusahaan Jasa angkutan

9. Pemberitahuan Ekspor Barang dikeluarkan oleh Eksportir

10. Surat Setoran Bea Cukai dikeluarkan oleh Bank

11. Surat Setoran Pajak dikeluarkan oleh Bank

12. Surat Ijin Memuat Barang dikeluarkan Ditjen Bea dan Cukai

II. Penyiapan Dokumen Perusahaan / Eksportir

Dokumen Instansi yang diperlukan dan Instansi yang Menerbitkan / Mengeluarkan adalah sebagai berikut:

1. Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dikeluarkan oleh Bupati/Walikota

2. Tanda Daftar Perdagangan (TDP) dikeluarkan oleh Kantor Daftar Perusahaan

3. Nomor Pokok Wajib Pajak (N.P.W.P) dikeluarkan oleh Kantor Inspeksi Pajak

III. Proses Kontrak Dagang


1. Eksportir mempromosikan komoditas ekspor melalui media
promosi seperti pameran dagang, internet, dll.

2. Impotir yang berminat mengirimkan Surat Permintaan Harga
(Letter of Inquiry) kepada Eksportir

3. Eksportir yang siap memenuhi permintaan menjawab Letter of Inquiry dengan mengirimkan Offer Sheet.

4. Importir yang berminat akan mengirimkan Order Sheet kepada Eksportir

5. Eksportir menyampaikan Sales's Contract kepada Importir

6. Importir yang menyetujui akan memberikan Sales’s Confirmation

IV. Jenis Pembayaran

1. Letter of Credit (L/C)

2. Non L/C (Cash against Document /CAD, Wesel dll )

V. Alternatif Pengiriman Barang

1. Menggunakan jasa angkutan laut
Dokumen yang dierbitkan oleh perusahaan jasa angkuta laut berupa Bill of Lading

2. Menggunakan Jasa angkutan udara
Dokumen yang dikeluarkan oleh perusahaan jasa angkutan udara berupa Air Waybill

VI. Proses Pembukaan Letter of Credit (L/C)

1. Setelah Importir memberikan konfirmasi terhadap Sales's Contract yang diajukan Eksportir, Importir mengajukan aplikasi pembukaan L/C kepada Bank Pembuka (Opening Bank).

2. Opening Bank akan mengeluarkan L/C Confirmation dan meminta kepada Bank koresponden /Advising Bank yang ada di negara Eksportir untuk meneruskan L/C tersebut kepada Eksportir.

3. Advising Bank akan menyampaikan L/C Advice kepada Eksportir yang akan menjadi jaminan untuk pembayaran bila barang sudah dikirim dan diterima oleh Importir.

VII. Proses Pengiriman Barang Menggunakan Kapal Laut

1. Eksportir menyerahkan barang kepada perusahaan pelayaran (Shipping Company) berikut copy dokumen pendukung (Pajak Ekspor, Pajak Ekspor Tambahan /PET, Pemberitahuan Ekspor Barang/PEB dll)

2. Shipping Company menyerahkan dokumen pengiriman barang (Shipping Document) kepada Eksportir.

3. Eksportir mengirimkan Shipping Document melalui Bank koresponden untuk disampaikan kepada Importir melalui Opening Bank di negara Importir.

4. Shipping Document akan digunakan oleh Importir untuk menerima barang di pelabuhan tujuan.


Sumber: Direktorat Pemasaran Internasional, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Deptan