Tuesday, 16 October 2012
BREAKING: Rabies Experts from 12 Countries Unite in Yogyakarta—Revealing the Game-Changing Strategies That Are Saving Lives Across Asia!
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
00:52
0
comments
Labels: Rabies Elimination
Friday, 12 October 2012
Kebijakan Penggunaan Vaksin Flu Burung
I. PENDAHULUAN
1.Subtipe H5N1
2.Sifat immogenitas tinggi
3.Sifat antigenisitas dengan cakupan geografis yang luas
4.Sifat genetik dan antigenetik stabil
5.Tingkat proteksi yang tinggi terhadap uji tantang dengan beberapa isolat virus yang berbeda karakter genetik dan antigenetiknya.
Master seed baru untuk pembuatan vaksin AI di Indonesia antara lain:
a)A/Chicken/West Java/PWT-WIJ/2006. b)A/Chicken/Pekalongan /BBVW-208/2007. c)A/Chicken/Garut/BBVW-223/2007. d)A/Chicken/West Java (Nagrak)/30/2007.
b.Strategi Vaksinasi AI Pelaksanaan vaksinasi AI mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Peternakan Nomor 30099/PD.620/F/9/2009 yang dikeluarkan tanggal 30 September 2009 tentang kebijakan vaksin dan strategi vaksinasi yang dilaksanakan sebagai berikut:
a.Dilakukan hanya di daerah endemis dan berisiko tinggi, menerapkan strategi vaksinasi tertarget dengan cakupan vaksinasi di atas 80 % dari populasi terancam.
b.Pada sektor 1, 2 dan 3 skala besar, vaksinasi dilakukan secara swadaya dengan pengawasan Pemerintah.
c.Sedangkan pada ayam buras intensif (dikandangkan/dipelihara dalam pagar terus menerus) dan ayam ras petelur sektor 3 skala kecil (populasi s/d 5000 ekor) dilakukan oleh pemerintah (pusat dan daerah provinsi, kabupaten/kota).
d.Penggunaan vaksin inaktif diperlukan vaksinasi booster dan ulangan setiap 3 bulan.
e.Untuk mempertahankan kualitas vaksin harus diterapkan manajemen rantai dingin dari tingkat produsen sampai dengan pelaksanaan di lapangan.
f.Sero-monitoring harus dilakukan untuk mengetahui keberhasilan program vaksinasi;
g.Strategi vaksinasi harus diikuti dengan strategi pengendalian lainnya seperti perbaikan biosekuriti, depopulasi terbatas, surveilans, pengawasan lalu lintas unggas dan peningkatan kesadaran masyarakat;
h.Pada ayam buras dengan pemeliharaan umbaran tidak dilakukan vaksinasi tetapi ditingkatkan strategi pengendalian lainnya sebagaimana butir g di atas, dan diarahkan pada sistem pemeliharaan secara intensif.
i.Untuk daerah bebas dan daerah risiko rendah tidak dilakukan vaksinasi tetapi dilakukan tindakan pengendalian seperti perbaikan biosekuriti, depopulasi terbatas, surveilans, pengawasan lalu lintas unggas dan peningkatan kesadaran masyarakat.
II. MONITORING VIRUS DAN JEJARING LABORATORIUM
a) memantau perkembangan sirkulasi virus AI dan mendeteksi varian-varian virus baru;
1. secara rutin menerima dan memproses sampel AI dan hanya sampel yang telah diuji melalui tahap isolasi virus yang masuk dalam proses selanjutnya.
2. mengidentifikasi H5 hasil isolasi virus dari cairan allantois.
3. melakukan tahapan awal melalui prosedur normal yang biasa dilakukan dengan menggunakan hiperimun sera seperti NDV, H5, H7 dan H9.
4. Pre-screening Haemagglutinasi inhibition (HI) pada semua H5 positif dari cairan alantois dan mengirimkan data HI tersebut ke BBVet Wates - Yogyakarta.
6. Mengirimkan isolat yang terpilih ke BBvet Wates.
Setelah seluruh BPPV dan BBVet mengirimkan isolat yang terpilihnya, maka Balai Besar Veteriner Wates melakukan tahapan sebagai berikut :
1. Menganalisa data dari hasil pre-screen yang dilakukan oleh semua BPPV dan melakukan seleksi varian antigenik yang penting untuk uji selanjutnya.
2. Menguji antigenik kartografi pada isolat penting terpilih dan melakukan kembali analisa data.
3. Hasil analisa data dihasilkan Peta baru antigenik kartografi untuk Indonesia yang mampu mengidentifikasi antigenik variant yang signifikan.
4. Apabila kandidat strain untuk memperbaharui (update) vaksin dapat terindentifikasi dari varian antigenik, kemudian BBVet Wates harus mengirimkan cDNA kandidat strain untuk vaksin maupun challenge tersebut ke sekuensing patner (BPPV Bukittinggi, PUSVETMA, BBalitvet) untuk mensekuen gene HA. Sekuensing dilakukan untuk memastikan hasil kartografi di Indonesia.
III. SELEKSI VAKSIN BARU dan atau STRAIN TANTANG FLU BURUNG
Seleksi dilakukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui sebuah tim Nasional yang dibentuk oleh Direktur Kesehatan Hewan dengan mereview semua data (antigenik kartografi, epidemiologi dan analisa phylogenetic).
IV. HASIL
1. Terbentuknya jejaring laboratorium influenza virus monitoring (Network-IVM) yang berkesinambungan untuk memonitor virus AI yang bersirkulasi, berbagi sampel biologis dan data baik yang belum maupun yang sudah dianalisa.
2.Adanya peningkatan kemampuan laboratorium Direktorat Kesehatan Hewan untuk mendiagnosa dan mengkarakterisasi virus Avian Influenza.
3. Lebih dari 40 personel laboratorium yang telah terdidik baik didalam maupun luar negeri yang sesuai dengan standar Internasional yang siap mendeteksi virus influenza.
4. Lebih dari 300 virus AI yang sudah terkarakterisasi secara antigenik dan genetik yang sebagian telah di letakkan pada bank gen. Virus AI H5N1 yang saat ini beredar terkarakterisasi baik secara antigenik maupun genetik sebagai virus influenza unggas yang masih patogen (HPAI) H5N1 clade 2.1.3. Strain virus AI ini terus berkembang menjadi clade 2.1.3.1 mewakili Indonesia Timur; 2.1.3.2 Indonesia Tengah dan 2.1.3.3 mewakili Indonesia Barat. Hasil karakterisasi virus AI yang sebagian besar diisolasi th 2011 dan 2012 dari sektor 3, pasar unggas hidup dan lingkungan masih berada dalam posisi yang tetap H5N1 clade 2.1.3.
V.KAPASITAS PRODUKSI VAKSIN AI DI INDONESIA TAHUN 2012
2. Populasi Unggas Di Indonesia Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Statistika Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2011diperoleh data populasi unggas di Indonesia sebagai berikut :
Populasi Unggas dari Tahun 2009 – 2011
Jenis Unggas 2009 2010 2011
Ayam Broiler (000 ekor) 1.026.379 986.872 1.041.968
Ayam Layer (000 ekor) 111.413 105.210 110.300
Ayam Buras (000 ekor) 249.963 257.544 274.893
Itik/Duck (000 ekor) 35.867 39.840 49.392
3. Jumlah Kebutuhan vaksin AI per Tahun berdasarkan Populasi
a. Program vaksinasi AI dilakukan pada Broiler & Layer breeder sebanyak 5-6 kali vaksinasi / tahun.
b. Untuk broiler komersial pada umumnya hanya dilakukan 1 (satu) kali vaksinasi.
c. Rata-rata vaksinasi Al sebanyak 3 kali per tahun. d. Di daerah-daerah tertentu yang aman, saat ini ada yang tidak melakukan vaksinasi.
4. Data Produksi Vaksin AI yang sudah terealisir oleh Produsen Vaksin s/d Agustus 2012
Nama Perusahaam Produksi (Dosis/Bulan) Produksi (Dosis/Tahun)
PT. Medion Farma Jaya 10.025.000 120.300.000
PT. Vaksindo Satwa Nusantara 13.000.000 156.000.000
PT. Caprifarmindo Laboratories 35.051.667 420.620.004
Total Produksi 58.076.667 696.920.004
5. Kapasitas Produksi Vaksin AI Rata-Rata per Tahun sebagai berikut
PT. Medion Farma Jaya : 1.710.000.000
PT. Vaksindo Satwa Nusantara : 600.000.000
PT. Caprifarmindo Laboratories : 2.160.000.000
Total Produksi : 4.470.000.000
Sumber : Ditkeswan, Ditjen PKH
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
18:30
1 comments
Labels: Avian Influenza
Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan
Puncak Acara Hari Lahir dan Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012
Dalam catatan sejarah di bidang peternakan dan kesehatan hewan pada tanggal 26 Agustus 1836, Pemerintah Hindia Belanda untuk pertama kalinya menerbitkan sebuah ketetapan melalui plakat tentang larangan pemotongan sapi betina produktif sehingga momentum tersebut dijadikan pertimbangan para sesepuh, para pakar, organisasi profesi, asosiasi dan perusahaan di bidang peternakan serta kesepakatan bersama tanggal 26 Maret 2003 ditetapkan sebagai “Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan” dan tanggal 26 Agustus sampai dengan 26 September ditetapkan sebagai Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan.
|
1.
|
Beberapa
lauching yang telah
dihasilkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yakni:
|
||||||||
|
|
|
||||||||
|
2.
|
Penandatangan
MoU antara Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam
Sembawa dengan Peternak Ayam Lokal (PATANI dan HIMPULI)
|
||||||||
|
3.
|
Bazaar
dan pameran yang diikuti oleh lingkup UPT Lingkup Ditjen Peternakan dan
Kesehatan Hewan, Dinas/lembaga, Asosiasi, kelompok peternak dan perusahaan
yang bergerak di bidang peternakan dan kesehatan hewan sebanyak 42 stand
|
||||||||
|
4.
|
Sosialisasi
gerakan minum susu dan konsumsi daging kelinci yang dipimpin oleh Wakil Ketua
komisi IV
|
||||||||
|
5.
|
Penyerahan
buku Hari Jadi Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Bapak Sofyan Sudrajat,
Mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Dirjen Peternakan dan
Kesehatan Hewan
|
||||||||
|
6.
|
Dialog
interaktif bidang peternakan dengan moderator Dekan Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran, Iwan Setiawan, dan menampilkan narasumber Wakil
Ketua Komisi IV DPR, Ibnu Multhazam, Mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan
Hewan, Sofyan Sudrajat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Jawa
Barat, Wawan Ridwan, dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Syukur
Iwantoro dengan keluarga besar masyarakat peternakan dan kesehatan hewan
|
||||||||
|
7.
|
Pemberian
penghargaan kepada pegawai/aparatur yang berprestasi,
perusahaan/instansi/kelompok peternak, media cetak, pengamat yang banyak
menulis tentang peternakan di media
|
||||||||
|
8.
|
Senian
adu ketangkasan domba.
|
Sebagaimana amanat Menteri Pertanian RI yang disampaikan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam acara tersebut untuk kedepannya banyak tantangan yang harus dihadapi di bidang peternakan dan kesehatan hewan adalah swasembada daging sapi dan kerbau pada tahun 2014, swasembada susu yang dijadwalkan akan dapat dicapai pada tahun 2020, dan restrukturisasi perunggasan. Ditambahkan pula bahwa Indonesia harus mampu keluar dari jeratan impor produk peternakan sebesar Rp. 23 triliun setiap tahunnya dengan perincian sapi bakalan dan daging sapi saat ini diperkirakan berjumlah Rp. 5 triliun, unggas eksotik baik bibit, bahan pakan, teknologi dan bahan lainnya sebesar Rp. 11 triliun, dan produk susu baik dalam bentuk susu bubuk dan kental manis sebesar Rp. 7 triliun. Menteri Pertanian berharap momentum Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ini untuk bersama-sama mendorong keberhasilan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Sumber : Subbag Kerjasama dan Humas Bagian Perencanaan Ditjen PKH.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
17:28
0
comments
Labels: Avian Influenza
Wednesday, 12 September 2012
Inside the Genetic Evolution of H5N1 Avian Influenza: How a Deadly Virus Spread from Asia to the World
#H5N1Virus
#ViralGenetics
#PandemicRisk
#OneHealth
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
09:29
0
comments
Labels: Avian Influenza Genetics
Friday, 31 August 2012
Panduan Teknologi Peternakan Wagyu di Jepang
Jepang adalah salah satu negara yang masyarakatnya memiliki kualitas hidup yang tinggi. Tingkat konsumsi protein hewani sudah sangat baik, tingkat kesadaran pemerintah dan rakyat Jepang terhadap modal memajukan bangsa adalah dengan mencerdaskan SDM juga sangat baik, peningkatan SDM tidak bisa lepas dari asupan pangan asal ternak yang memiliki korelasi positif terhadap tingkat intelegensi SDM.
Kesadaran ini juga didukung dengan langkah nyata dalam upaya penyediaan pangan asal ternak yang cukup dan berkualitas. Namun karena keterbatasan lahan maka produksi daging dan susu dalam negeri belum mampu swasembada sehingga Jepang pun melakukan import dari negara lain. Produksi daging sapi dalam negeri hanya mampu memenuhi 42% dari kebutuhan, dan produksi daging tersebut 43%nya berasal dari daging sapi wagyu.
Jenis sapi wagyu memiliki kelas terbaik dan mendominasi konsusmi daging sapi di negeri ini. Hal ini lebih disebabkan karena jenis sapi ini memiliki kualitas perlemakan / marbling yang sangat baik (hingga skala 12), dan arah konsusmi masyarakat sudah mengarah kepada kenikmatan dan kesehatan pangan. Sehingga arah program pengembangan peternakan di Jepang khususnya sapi potong pun sudah berorientasi kearah kualitas, bukan hanya kuantitas.
Pada dasarnya perbedaan sapi dari Negara Amerika atau Australia dengan sapi wagyu ini adalah dari cita rasa, sapi barat mengandalakan cita rasa daging sebagai otot, tetapi wagyu menyuguhkan kehalusan citarasa yang lebih abstrak, dituangkan lewat metamorfosa lemak ke minyak. Maka, dipilihlah sapi yang paling empuk dagingnya dan kurang berkembang ototnya tetapi berpotensi besar dikembangkan lemaknya. Dan perlemakan yang unggul ini lebih dominan disebabkan faktor genetik, terutama pada wagyu berbulu hitam (Japanese black). Selain itu daging sapi wagyu ini memiliki kadar lemak baik yang lebih tinggi hingga mencapai 52%.
Jepang memiliki 4 jenis sapi potong yang biasa disebut Wagyu yaitu Japanese black, Japanese brown, Japanese shorthorn dan Japanese polled. Keempat jenis sapi wagyu tersebut memilki keunggulan dan ciri khas masing-masing. Japanese black merupakan produsen "marbled beef” yang paling bagus, dengan penampilan fisik mencapai tinggi 147 cm dengan berat 720 kg untuk jantan dan tinggi 130 cm dengan BB 450 kg untuk betina.
Berbeda halnya dengan sapi Japanese brown memilki karakter yang lebih tahan terhadap suhu tinggi dan adaptasi terhadap pakan kasarpun tinggi, tetapi kualitas daging yang dihasil rendah dibanding Javanese black, dan ferformance fisiknya mencapai tinggi 153 dengan BB 1 ton untuk jantan dan betinanya memiliki tinggi 134 cm dengan BB 600 kg.
Sapi Japanese shorthorn memiliki karakter kualitas daging yang memiliki serat tebal dan kualitas perlemakan yang rendah jika dibandingkan dengan sapi Javanese black, tetapi kelebihannya mampu memanfaatkan pakan kasar secara lebih efisien dan mampu beradapatasi pada iklim di daerah bagian utara Jepang serta kemampuan adaptasi terhadap metoda pengembalaan di padangan (performan jantan : 145 cm tinggi dan 1 ton BB, performance betina tinggi : 130 cm dan 580 kg BB.
Lain lagi halnya dengan sapi jenis Japanese polled merupakan sapi yang memiliki karakter lebih kuat dibanding Japanese black namun kualitas daging dan perlemakan yang rendah, adapun penampilan fisik untuk jantan mencapai tinggi 137 cm dengan BB 800 kg sedangkan sapi betina tinggi sekitar 122 cm dan BB 450 kg.
Persentase jenis sapi penyuplai daging di Jepang, Wagyu menempati urutan teratas sebanyak 43%, nomor dua dairy breed sebanyak 31%, nomor tiga cross breed sebanyak 24%, sedangkan yang lain hanya 2%.
Harga karkas per kg di Jepang, karkas Wagyu menempati urutan teratas (termahal) yakni 1.500 yen per kg, nomor dua Cross breed yakni 1.100 yen per kg, sedangkan yang termurah dairy breed dengan harga 600 yen per kg.
Peningkatan Produksi Ternak
Seperti dijelaskan diatas, Jepang memiliki sumber daya lahan yang terbatas dibanding banyak negara lainnya, dengan luasan sekitar 378 ribu km2 (Luas Indonesia 205% dari luasan Jepang). Populasi penduduk mencapai 127 juta dan terletak pada zona daerah beriklim sedang dan dingin serta merupakan daerah pegunungan, sehingga menjadi titik kritis dalam upaya untuk memajukan usaha pembibitan ternak dan meningkatkan kapasitas dalam pengembangan teknologi.
Pengembangan usaha pembibitan ternak yang dilakukan melalui peningkatan kemampuan genetik ternak, sehingga dengan harapan dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dengan yang rendah. Inilah yang menjadi arah dalam pengembangan dunia peternakan di Jepang dewasa ini. Sehingga program peningkatan produktivitas ternak sangatlah penting. Pengertian peningkatan produktivitas ternak yaitu dapat meningkatkan pendapatan peternak dan menyuplai produk peternakan dengan stabil dan aman untuk masyarakat melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produk.
1. Peningkatan Kualitas
a)Perbandingan daging sapi yang berkualitas tinggi: 39.4% (1995) menjadi 48.1 % (2007)
b)Fat (%) : 3,44 (1975) menjadi 3,99 (205)
c)SNF(%): 8,18 (1975) menjadi 8,79 (2005)
Peningkatan kualitas ini memiliki dampak pada peternak yaitu dapat meningkatkan nilai tambah pada produk peternakan, dan dapat meningkatkan keuntungan pada usaha peternakan. Sedangkan pada tingkat konsumen dapat mengkonsumsi produk peternakan yang disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Peningkatan kuantitas
a)Penambahan berat badan/ hari untuk sapi potong 0,60 kg (1975) menjadi 0,73 kg (2005)
b)Produksi susu/ekor untuk sapi perah dari 4,5 kg (1975) menjadi 7,9 kg (2005)
Tentunya peningkatan kuantitas inipun memberi keuntungan bagi peternak yaitu dapat menurunkan biaya produksi pada produk peternakan dan perbaikan pada usaha peternakan cadangkan bagi konsumen tentunya memberi jaminan suplai pada produk peternakan secara stabil dan dapat membelinya dengan harga yang rasional.
Teknologi Pakan
Selain faktor genetik yang merupakan hasil dari proses yang begitu panjang, tentunya keunggulan genetik tersebut tidak akan tampil secara optimal ketika pakan sebagai faktor dominan diabaikan. Bahkan di Jepang pengelolaan peternakan dilakukan secara modern meskipun di tingkat peternak kecil, sangat familiar dengan teknologi mekanisasi.
Pemanfaat lahan di Jepang terdiri dari 66% hutan, 12,6% lahan pertanian, 4,9% lahan untuk bangunan, 3,6% wilayah air, 3,5% jalan dan 9% Iain2. Sedangkah pembagian lahan pertanian terdiri dari 38,1% pady field, 21,1% forage crops, 13% sayuran, gandum-ganduman 6,2%, buah 6% dan Iain2 15,5%.
Dengan pemanfaatan lahan sekitar 21% (901.500 ha) untuk tanaman pakan, dapat memproduksi TDN sebanyak 4.305 ton sedangkan kebutuhan mencapai 5.546 ton sehingga mampu memenuhi hingga 78% dari kebutuhan roughage berbeda halnya dengan bahan-bahan campuran konsentrat yang hampir 90% dipenuhi oleh import.
Terdapat tiga sistem pemeliharaan yang banyak ditemui di Negara Jepang:
1.Dua puluh empat jam sapi berada di pengembalaan, dengan system rotasi paddock.
Teduhan hanya pohon secara alami. Bahkan banyak peternak yang tidak menambahkan konsentrat pada ternaknya, namun mineral block disebarkan di pengembalaan guna mengantisipasi rendahnya unsur mikro pada rumput padangan. Sistem inipun terbagi menjadi 2 metoda yang banyak diterapkan oleh peternak di Jepang, yaitu :
a) Sistem rotasi dengan rata-rata luasan pengembalaan hanya berkisar 0,5 ha (grazing 3 bulan dan housing 5-6 bulan)
b) Sistem tradisional continuous grazing seluas 2 ha ditempatkan beberapa ekor sapi berdasarkan daya tampung padang pengembalaannya (grazing 1 bulan dan housing 7-8 bulan).
Biaya produksi untuk menghasilkan calf pada metoda tradisional lebih tinggi dibanding dengan metoda rotasi, sehingga sekarang banyak peternak beralih pada system rotasi yang memanfaatkan solar electrical fence.
2.Dua puluh empat jam sapi berada di kandang, pada sistem ini tentunya kualitas permablingan akan lebih baik.
Pada sistem ini pemberian pakan biasanya terdiri dari dua cara :
a)Menggunakan complete feed, yang merupakan campuran dari silase, hay dan konsentrat, bahkan banyak peternak yang memfermentasi kembali complete feednya melalui penerapan teknologi silase.
b)Pemberian hay / silase terpisah dengan konsentrat. Namun dari kedua cara tersebut mineral blok senantiasa tersedia dikandang.
3.Sistem angon, kandang berada disisi padang pengembalaan, jika merasa kepanasan/kedinginan sapi dengan sendirinya kembali ke kandang.
SUMBER :
Hesti Natalia, Perkembangan Teknologi Peternakan di negeri Sakura. Infofeed Volume 2 No. 2 Juli 21012. Hal. 28-29.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
11:18
0
comments
Labels: Teknologi Peternakan Wagyu




