Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 2 January 2008

Mengolah Lahan Marginal, Menjaga Masa Depan Pangan Indonesia: Pelajaran Penting dari SAS 2007 Tokyo



Pada hari Sabtu tanggal 29 Desember 2007 telah dilaksanakan Seminar on Agricultural Sciences (SAS) 2007 bertempat di Balai Indonesia / Sekolah Republik Indonesia - Tokyo, Jepang, pada pukul 12.30-16.10 JST. Kegiatan SAS ini sebetulnya merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Indonesian Agricultural Sciences (IASA) sejak 2005 sebagai pengganti SAB (Symposium on Agriculture and Biochemical Sciences) yang diselenggarakan bersama oleh IASA sebagai perhimpunan ilmu-ilmu pertanian Indonesia dan BIOCHE sebagai perhimpunan ilmu-ilmu biokimia Indonesia, dan sebelumnya sempat diselenggarakan selama 6 kali sejak pendiriannya. Pada tahun ini, IASA bekerja sama dengan PPI Jepang Koordinator Daerah Kanto (PPI Kanto) menyelenggarakan SAS 2007, kegiatan ini didukung juga oleh Atase Pertanian KBRI Tokyo. Bentuk kerjasama antara IASA dan PPI Kanto ini dituangkan dengan pembentukan kepanitiaan yang diambil dari personil dari masing-masing kepengurusan.


Acara diawali dengan makan siang bersama, lalu seminar dimulai pada pukul 13.30 JST atau 11.30 WIB dengan pengantar laporan dari Ketua Panitia, Arief Darmawan, MSc., mahasiswa program Doktor bidang kehutanan (GIS) University of Tokyo, Jepang, dan dilanjutkan arahan dari Atase Pertanian KBRI Tokyo, drh. Pudjiatmoko, PhD.


Seminar diselenggarakan dalam bentuk diskusi panel dengan menampilkan 3 orang pembicara yaitu Dr. Nono Carsono, Dr. Irwandi Jaswir dan Dr. Arman Wijonarko. Seminar yang bertemakan “Mencermati perjalanan program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) dalam lingkup kajian terbatas peningkatan produksi pertanian, pendekatan pangan dan pengelolaan lahan marginal” yang diharapkan mencari jawaban atas pertanyaan yaitu “Dapatkah kajian produksi, pangan dan lahan marginal mendukung pembangunan pertanian khususnya dalam program RPPK ?”, dipandu oleh moderator Tatang Sopian, MAgr, mahasiswa program Doktor bidang pertanian (bioteknologi tanaman) pada Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Jepang.


Pemaparan Materi Seminar

 

Materi seminar disampaikan secara berurutan dari pembicara termuda yaitu Dr. Nono Carsono, dilanjutkan oleh Dr. Irwandi Jaswir yang telah memiliki publikasi artikel jurnal internasional sebanyak kurang lebih 40 buah dan terakhir disampaikan oleh pembicara tertua yaitu Dr. Arman Wijonarko dengan selisih usia 5 tahun dari pembicara termuda.


Dr. Nono Carsono yang merupakan staf pengajar pemuliaan tanaman Universitas Padjadjaran dan juga peneliti program post-doktoral pada National Institute of Agro-biological Science (NIAS), Tsukuba, Jepang, membawakan makalah yang berjudul “Peran pemuliaan tanaman dalam upaya meningkatkan produksi pertanian di Indonesia“. Dalam presentasi makalahnya, Dr. Nono Carsono menguraikan bahwa benih ataupun bibit sebagai produk akhir dari suatu program pemuliaan tanaman dan pada umumnya memiliki karakteristik keunggulan tertentu, mempunyai peranan yang vital sebagai penentu batas-atas produktivitas dan dalam menjamin keberhasilan budidaya tanaman.


Disebutkan pula olehnya bahwa sampai saat ini, upaya perbaikan genetik tanaman di Indonesia masih terbatas melalui metode pemuliaan tanaman konvensional, seperti persilangan, seleksi dan mutasi, dan masih belum secara optimal memanfaatkan aneka teknologi pemuliaan modern yang saat ini sangat pesat perkembangannya di negara-negara maju. Diuraikan lebih lanjut pula bahwa tujuan pemuliaan masih berkisar pada upaya peningkatan produktivitas, ketahanan terhadap hama - penyakit utama dan toleransi terhadap cekaman lingkungan (Al, Fe, kadar garam, dll), sedangkan pemuliaan ke arah kualitas karakter masih terbatas.


Lebih jauh disinggung pula oleh Dr. Nono Carsono bahwa pada umumnya kegiatan pemuliaan di Indonesia masih didominasi oleh lembaga-lembaga pemerintah, sedangkan pihak swasta masih terbatas dalam upaya propagasi (perbanyakan) tanaman dan relatif sedikit yang sudah mengembangkan divisi R & D-nya, demikian pula disebutkan bahwa riset pemuliaan molekuler masih sangat terbatas. Menurut Dr. Nono Carsono, pemberlakuan UU No. 29 tahun 2000 dapat memberikan perlindungan dan hak khusus bagi pelaku riset pemuliaan dan memberi peluang untuk berkembangnya industri perbenihan kompetitif yang berbasis riset pemuliaan.


Dr. Irwandi Jaswir yang merupakan seorang Associate Professor pada Departemen Bioteknologi, International Islamic University, Kualalumpur, Malaysia dan juga peneliti tamu pada National Food Research Institute (NFRI), Tsukuba, Jepang, membawakan makalah yang berjudul “Pendekatan konsumsi gizi dalam memenuhi kebutuhan pangan“. Ia menyampaikan bahwa kendati menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, posisi Indonesia berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dirilis United Nation Development Programme masih memprihatinkan. Ditunjukkan olehnya bahwa data tahun 2005 yang baru saja dikeluarkan badan PBB tersebut menunjukkan Indonesia kini berada di rangking 107 dari 177 negara di dunia. Rendahnya IPM Indonesia ini menurutnya jelas sangat berkaitan dengan pelbagai masalah berkaitan gizi yang dihadapi Bangsa Indonesia.


Menurut Dr. Irwandi Jaswir permasalahan gizi dewasa ini terbagi atas dua bagian yaitu gizi buruk yang banyak diderita negara-negara Dunia Ketiga, serta ‘gizi berlebih’ atau yang juga disebut ‘New World Syndrome’ yang banyak dijumpai di negara-negara maju. Keduanya menyumbang kepada meningkatnya berbagai penyakit serta permasalahan kesehatan lainnya, serta secara nyata menurunkan produktivitas dan GDP suatu bangsa. Dr. Irwandi Jaswir memandang bahwa sebagai sebuah negara berkembang, Indonesia tergolong ‘unik’, karena menghadapi kedua permasalahan tersebut sekaligus, dan diperkirakan olehnya bahwa masalah gizi dan kesehatan di masa mendatang jelas akan semakin kompleks dan akan menjadi tantangan utama pembangunan bidang kesehatan. Oleh karena itu, menurutnya kesadaran akan pentingnya pengetahuan seputar gizi seimbang, piramida makanan, menu sehat dan pola hidup sehat dirasakan menjadi semakin penting.


Dr. Irwandi Jaswir yang juga merupakan lulusan sarjana bidang teknologi pangan dan gizi Institut Pertanian Bogor ini, tidak lupa juga memberikan masukan kepada rekan-rekan mahasiswa dan peneliti bahwa trend riset-riset berkaitan pangan dan gizi di negara-negara maju, seperti Jepang, yang semakin spesifik dan komprehensif seharusnya bisa dijadikan pedoman dan perbandingan untuk sama-sama ikut andil, baik langsung ataupun tidak, memberi jalan penyelesaian terhadap berbagai masalah gizi di tanah air.


Dr. Arman Wijonarko yang merupakan staf pengajar entomologi Universitas Gadjah Mada dan juga peneliti tamu pada Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) menyampaikan pemaparan hasil kerja penelitiannya berjudul “Pengembangan pertanian di lahan pasir pantai“. Dalam presentasinya, Dr. Arman Wijonarko mencoba menggambarkan potensi lahan pantai yang belum termanfaatkan dan berpeluang dipergunakan dalam pengembangan pertanian. Disebutkan oleh Dr. Arman Wijonarko bahwa Indonesia memiliki hampir 20 juta hektar lahan pantai yang sebagian besar belum dimanfaatkan dan masih merupakan tanah kosong. Dalam contoh kasus disebutkan olehnya bahwa bentangan pantai selatan Pulau Jawa sendiri tidak kurang dari 110.000 kilometer panjangnya, yang juga belum dimanfaatkan secara optimal, dibandingkan dengan pantai bagian utara Pulau Jawa, dan kondisi ini disebutkan juga mencerminkan kondisi sosial masyarakat pantai selatan Pulau Jawa yang relatif masih tertinggal dibandingkan dengan daerah pantai yang lain.


Menurut Dr. Arman Wijonarko, dengan adanya bencana Tsunami yang juga menimpa pantai selatan Pulau Jawa dan pantai barat Pulau Sumatra, membuat kawasan pantai kembali menjadi pusat perhatian, khususnya bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Selama ini pengembangan kawasan pantai selatan masih terbatas pada bidang usaha perikanan, baik untuk tangkap maupun tambak, hanya sayangnya menurutnya pembangunan kawasan pantai selatan Pulau Jawa sebagai sentra hortikultura belum banyak dikaji. Oleh karena itulah maka penelitian ini dilakukan oleh timnya dengan maksud untuk mencoba mengkaji potensi perubahan kawasan pantai selatan Pulau Jawa sebagai sentra pertanian baru dan sekaligus upaya nyata pemberdayaan masyarakat pantai yang berkelanjutan.


Kondisi Seminar dan Peserta

 

Seminar diakhiri dengan diskusi dengan dibukanya 3 kesempatan penanya yang di antaranya menyinggung tentang analisis kebijakan terkait ketiga materi yang disampaikan oleh para pembicara tersebut, lalu pertanyaan lain terkait food security sehubungan dengan produksi dan perdagangan internasional, juga pertanyaan terkait dengan sulitnya kemungkinan pelaksanaan penelitian pangan dan gizi yang cenderung high-tech, di samping itu pula muncul pertanyaan terkait peluang dilakukannya kajian di lahan-lahan gambut seperti di Kalimantan selain di lahan pantai dan juga muncul pertanyaan kajian umum tentang isu di tanah air terkait System of Rice Intensification (SRI) yang sukses dilakukan di wilayah timur Indonesia namun kurang sukses di wilayah barat Indonesia khususnya Pulau Jawa. Rangkaian seminar ditutup secara resmi pada pukul 16.10 JST atau 14.10 WIB oleh Wakil Ketua Umum IASA, Syahmir Ramadan Siregar, pelajar dari Tokyo University of Agriculture (TUA) yang sekaligus mengumumkan rencana penyelenggaraan Symposium on Agricultural Sciences (SAS) 2008 mendatang.


Secara umum seminar ini mampu menarik peserta yang cukup banyak dibandingkan penyelenggaraan SAS 2006 tahun lalu. Pendaftar yang telah terlebih dahulu menyampaikan keinginannya untuk mengikuti acara ini mencapai 34 orang di luar panitia dan undangan. Sehingga dari partisipasi keseluruhannya dapat mencapai angka lebih dari 50 orang. Pelajar-pelajar Indonesia yang berpartisipasi, berasal dari beberapa universitas, di antaranya yaitu: University of Tokyo, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Tokyo University of Agriculture, Ritsumeikan University-Kyoto, National Graduate Institute for Policy Science (GRIPS), Takushoku University dan Hoshi University. Umumnya para peserta yang telah mendaftar ini, dapat hadir sejak makan siang sebelum acara dimulai, sehingga acara seminar dapat dimulai tepat pada waktunya.


Kondisi peserta pun tampak tidak terlalu jenuh dengan materi-materi yang disampaikan oleh pembicara, hal ini diduga terkait dengan bervariasinya topik yang disampaikan oleh ketiga pembicara, di samping beberapa ‘intermezzo’ candaan yang disampaikan oleh para pembicara menyelingi materi yang disampaikannya.


#KetahananPangan
#LahanMarginal
#ProduksiPangan
#RevitalisasiPertanian
#SAS2007

Sunday, 2 December 2007

Sebatang Pohon Anggur di Pot Rp 300.000,-

 

Pohon Anggur Vitis Vinivera L. ditanam dalam pot telah berbuah dipasarkan di Pocket Farm Doki-doki Ibaraki Prefecture, Jepang dengan harga Rp 300.000,- per pot.

Penampilan dari Vitis Vinivera L. ini khas

1.Buah seragam, dalam dompolan tubuh sempurna, dengan tangkai kuat.

2.Butiran buah berbentuk bulat besar, berwarna merah dan kulitnya agak keras.

3.Rasa buah manis dan segar.

Harga Pisang di Tokyo Bikin Geleng Kepala!

Kami telah melakukan pemantauan empat jenis kemasan pisang yang dijual di toko pengecer di Jepang.



Di toko pengecer besar di wilayah Shinagawa-ku Tokyo, pisang Cavendish berukuran 180 gram per buah produk dari Negara Amerika Latin, kemasan seberat 750 gram dijual dengan harga 350 yen. Pisang Cavendish berukuran 160 gram per buah dari Negara Asia Tenggara kemasan seberat 900 gram berharga 350 yen. Sedangkan di toko pengecer kecil di wilayah Shinagawa-ku juga pisang Cavendish berukuran 170 gram per buah dari negara yang sama dengan kemasan seberat 750 gram dijual dengan harga lebih murah hanya 100 yen.

Pisang monkey (60 gram per buah) asal dari Negara Asia Tenggara yang hanya seberat 550 gram dapat dijual dengan harga 220 yen.

Pisang yang dijual di pengecer kecil ini tercatat lebih rendah dari pada di pengecer besar. Hal ini menunjukkan adanya variasi harga pada produk buah impor tersebut di berbagai toko pengecer di Tokyo.

Pisang yang setengah matang dibungkus plastik transparan tanpa lubang sedangkan pisang yang sudah masak dibungkus plastik dengan 3 lubang berdiameter 0,8 cm.



Pisang organik sesuai standar Jepang, kemasannya berlabel JAS seperti diatas.



Pada bungkus plastik juga diberi label Vessel-ID dan PH-ID.


Pada pisang Monkey ditemple 2 buah lebel kertas nama perusahaan pada kulit pisang. Sedangkan label kertas nama pisang Cavendish ditempel diatas plastik pembungkus. Sedangkan pisang Cavendish yang baru diimpor plastiknya sudah terdapat tulisan nama perusahaannya.

Selain label tersebut produk yang baru masuk juga diberikan label keterangan mengenai 5 macam kelebihan pisang tersebut yaitu pertama ditanam di daerah pegunungan yang ternama, kedua ditanam di daerah dengan ketinggian 500 m, ketiga berasal dari pulau yang banyak terdapat guano sehingga tidak menggunakan pupuk kimia, keempat pengairan menggunakan air yang bersih, kelima warna kulit bagus tanpa treatment bahan kimia.

Seminar Teh Indonesia di KBRI Tokyo

Untuk memperkenalkan dan mempromosikan teh Indonesia KBRI bekerjasama dengan Perusahaan Java Tea telah melaksanakan Seminar Teh di Loby KBRI pada tanggal 18 November 2007. Seminar berlangsung dari pikul 13:00 sampai dengan pukul 17:00, dihadiri oleh 86 orang peserta yang berasal dari kota Tokyo dan sekitarnya.

Dalam seminar telah disampaikan tentang sejarah teh, cara minum teh dan cara menanam teh di perkebunan di Indonesia. Prof. Dr. Masashi Omori dari Otsuma Woman’s University, Department of Food Science menyampaikan khasiat teh untuk kesehatan badan kepada para peserta seminar.

Pada kesempatan itu juga diperagakan cara menghidangkan teh agar dapat diperoleh rasa yang paling enak. Disamping itu para peserta telah menyaksikan pertunjukan tarian Indonesia dan memperoleh kursus bahasa Indonesia cuma-cuma secara kilat, Seluruh peserta terlihat sangat antusias mengikuti program tersebut sampai seminar usai.

Gambar-gambar suasana seminar teh terdapat dibawah.


Profesor Omori sedang menjelaskan khasiat teh


Peragaan cara menghidangkan teh yang benar


Para peserta seminar antusias mengikuti seminar

Friday, 19 October 2007

Waspadai Flu Burung! Perlu Pengendalian dan Penanggulangan yang Efektif

Avian influenza (AI) adalah penyakit pada unggas disebabkan oleh virus yang menyerang ayam, kalkun, itik, angsa dan spesies unggas lain terutama burung migrasi. Gejala yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari infeksi tanpa gejala atau gejala ringan sampai dengan akut hingga terjadi kematian. Gejala klinis bervariasi tergantung beberapa faktor antara lain virus yang menginfeksi, spesies hewan, umur, jenis kelamin, penyakit lain dan lingkungan kandang.

Avian influenza lazim disebut flu burung, yang ganas dapat muncul dengan tiba-tiba di kandang, dan banyak ayam yang mati tanpa gejala yang termonitor seperti depresi, lesu, bulu rontok dan panas. Kerabang telur yang diproduksi lembek dan segera diikuti pemberhentian produksi. Muka dan pial kebiruan, kaki kemerahan dan udem. Ayam mengalami diare dan terlihat sangat haus. Pernapasan terlihat berat. Terjadi perdarahan pada kulit yang tanpa bulu. Kematian bervariasi dari 50% sampai dengan 100%.

Pada flu burung bentuk yang kurang ganas, gejala pernapasan terlihat menonjol. Gejala klinis lain yang dapat terlihat depresi, menurun jumlah konsumsi makanan, batuk, bersin dan keluar cairan dari mata dan hidung.

Agen penyebab flu burung

Virus fowl plaque pertama kali diketahui pada tahun 1878 sebagai penyebab penyakit pada ayam di Italia. Pada tahun 1955 virus tersebut dimasukkan ke dalam virus influenza, anggota famili Orthomyxoviridae. Virus influenza yang telah membentuk famili tersebut dibagi menjadi influenza tipe A, B atau C berdasarkan perbedaan antigen nucleoprotein dan protein matrix yang terdapat pada partikel virus.

Partikel virus ini mempunyai lapisan luar yang mengandung glicoproptein yang berperan dalam aktivitas aglutinasi, disebut antigen hemagglutinin (HA) dan neuramidase (NA). Perbedaan kedua antigen itu digunakan untuk mengindentifikasi serotipe virus influenza dengan inisial huruf H (untuk antigen hemaglutinin) dan N (untuk antigen neuramidase), disertai angka dibelakangnya, salah satu contoh H5N1.

Virus avian influenza –yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan flu burung- termasuk dalam tipe A. Di antara virus influenza tipe A terdapat 15 jenis antigen hemaglutinin (H1 sampai dengan H15) dan 9 jenis antigen neuramidase (N1 sampai dengan N9). Virus influenza yang biasa menyerang ternak (kuda, babi dan unggas) termasuk kedalam tipe A, perlu dicatat bahwa virus tipe A merupakan tipe yang dapat menimbulkan wabah pada manusia. Tipe B dan C menyerang manusia, tetapi tidak menyerang ternak.

Keganasan flu burung

Berdasarkan pada gejala klinis yang ditimbulkan, virus flu burung diklasifikasi menjadi dua yaitu low pathologenic (LPAI) yang bersifat kurang ganas dan highly pathologenic (HPAI) yang bersifat ganas. Sebagian besar virus flu burung termasuk LPAI. Gejala yang ditimbulkan jenis virus ini ringan yaitu berupa gejala saluran pernapasan ringan, depresi, penurunan produksi telur pada ayam petelur.

Tetapi beberapa galur LPAI dapat mengalalmi mutasi dilapangan menjadi virus HPAI. Virus yang sangat ganas menyebabkan highly pathogenic avian influenza (HPAI) yang dapat menyebabkan kematian mencapai 100%. Diantaranya termasuk ke dalam subtipe H5 dan H7. Akan tetapi tidak semua virus dalam subtipe tersebut menyebabkan HPAI.

Tanda-tanda HPAI pada unggas adalah mati tiba-tiba tanpa gejala klinis atau bisa terlihat ayam lemas, terjadi penurunan produksi telur, kerabang telur melunak, pembengkakan dikepala, kebiruan pada pial kepala, kemerahan pada kaki, keluar ingus, batuk, bersin dan diare.

Aspek kekebalan

Pada umumnya zat kebal tubuh yang ditimbulkan karena imunisasi atau infeksi virus alami dapat menangkal serangan infeksi virus yang kedua. Prinsip serangan sistem kekebalan pada penyakit flu burung tertuju pada hemagglutinin virus. Gen virus flu burung ini mudah mengalami mutasi yang dapat membuat perubahan karakter virus.

Sebagai hasil mutasi gen terjadi perubahan komposisi asam amino hemaglutinin virus ini secara konstan, sehingga perlindungan penderita yang terinfeksi virus flu burung menurun secara perlahan-lahan. Keadaan ini disebut antigenic drift. Perubahan yang perlahan-lahan ini tidak merubah kedudukan ikatan antibodi dengan antigen. Mutasi asam amino individual semacam itu tidak menimbulkan wabah. Sehingga hanya kehilangan kekebalan sebagian pada suatu populasi dan beberapa infeksi yang terjadi hanya menimimbulkan gejala ringan.

Akan tetapi jika seluruh bagian hemaglutinin baru terdapat di dalam virus, dapat menimbulkan wabah yang luas ke seluruh dunia. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi perlindungan kekebalan yang tersisa untuk melawan infeksi virus baru tersebut. Keadaan ini disebut antigenic shift. Pada suatu keadaan tertentu dapat terjadi dua strain virus menginfeksi sebuah sel. Pertukaran segmen gen antara virus asal manusia dan virus asal unggas dapat terjadi dan akan menghasilkan virus reassortant baru.

Pertukaran partikel RNA terjadi pada proses pembentukan nucleocapsid virus baru. Sehingga diperoleh virus dengan selubung luar protein berasal dari suatu virus dengan partikel RNA baru yang berbeda dengan induknya. Virus ini dapat sangat berbahaya. Salah satu pandemik yang diyakini sebagai hasil reassortment antara influenza manusia dan burung adalah terjadi pada tahun 1918 dan menelan korban 20 juta orang meninggal.

Babi dinilai oleh para ahli sebagai tempat reassortment gen virus flu burung. Oleh karena itu memberikan hewan mati terinfeksi kepada babi dapat memunimbulkan virus flu burung baru yang ganas. Untuk mencegah keadaan seperti ini maka dianjurkan agar ayam yang terinfeksi atau mati karena terinfeksi flu burung harus dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar.

Robert Webster dari rumah sakit anak di Memphis, Amerika Serikat menyatakan virus flu dari manusia dapat menular ke babi dan virus flu burung dari unggas juga dapat menular ke babi. Pada tubuh babi kedua virus tersebut dapat bermutasi atau saling bertukar gen dan menjadi subtipe virus baru.

Pembentukan subtipe virus baru itu memungkinkan terjadinya penularan virus dari hewan ke manusia. Penularan dengan cara itu sangat mungkin terjadi di Cina karena lokasi peternakan ayam, babi dan permukinan manusia berdekatan. Di Indonesia perlu diatur agar peternakan ayam harus jauh dari peternakan babi untuk mencegah terjadinya reassortment gen virus flu burung dan flu manusia.

Pencegahan dan pengendalian penyakit

Usaha pencegahan penyakit yang paling terdepan adalah tindakan Biosekuriti di peternakan. Biosekuriti bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit ke dalam suatu peternakan. Tindakan biosekuriti harus dilaksanakan dengan ketat agar penyakit tidak menyebar pada suatu kelompok ayam dalam peternakan. Langkah yang perlu dilaksanakan dalam rangka mencegah atau mengurangi penyebaran virus adalah sebagai berikut:

1. Selalu menerapkan filosofi manajemen flock all-in all-out.
2. Menempatkan fasilitas kandang jauh dari saluran air yang biasa digunakan oleh unggas air liar, itik dan angsa.
3. Pagar peternakan harus ditutup rapat dan pada pintu masuk ditulis larangan masuk bagi orang yang tidak berkepentingan.
4. Hanya orang atau kendaraan berkepentingan yang diizinkan masuk peternakan. Pegawai dilarang mengunjungi peternakan lain atau pergi ke pasar burung. Mengurangi jumlah tamu kedalam peternakan seketat mungkin. Disediakan tempat parkir kendaraan yang terpisah jauh dari kawasan peternakan. Melakukan pencatatan keluar masuk kendaraan.
5. Ayam dijaga supaya tidak kontak atau menggunakan air yang mungkin sudah terkontaminasi dengan burung atau unggas liar. Mencegah burung liar masuk kedalam kandang dengan cara segera memperbaiki dinding kandang yang berlubang. Dilakukan pencegahan tikus masuk kedalam kandang.
6. Ayam bibit ditempatkan jauh dari lingkungan luar. Peternakan ayam jauh dari pemukiman dan peternakan lain.
7. Makanan ayam pada kandang terbuka akan menarik burung liar. Sehingga harus dihindari makanan tumpah dari tempatnya.
8. Ayam dikelompokkan dan ditempatkan dalam kandang yang terpisah berdasarkan umur.
9. Disediakan baju bersih dan peralatan yang sudah didesinfeksi bagi pegawai peternakan. Pekerja kandang mengenakan coverall, sarung tangan, masker, tutup kepala dan sepatu boot. Didepan pintu masuk kandang harus selalu disediakan bak desinfeksi alas kaki.
10. Pekerja kandang menangani atau masuk kandang ayam umur muda terlebih dahulu.
11. Jangan meminjamkan atau meminjam peralatan dari peternakan lain. Semua peralatan dan kendaraan harus didesinfeksi sebelum masuk atau keluar peternakan.
12. Melaksanakan penanganan sampah atau limbah dengan baik. Karena Avian Influenza dapat ditularkan melalui kotoran ayam. Sehingga perlu ditangani dengan baik.
13. Ayam yang sakit atau mati harus dikeluarkan dibakar diinsenerator, jangan sampai keluar peternakan. Diambil contoh ayam yang sakit atau mati, dikirim ke laboratorium untuk didiagnosa dengan teliti.

Vaksin yang digunakan selama ini dapat mencegah influenza pada beberapa spesies termasuk unggas. Akan tetapi perlu diketahui bahwa diantara 15 subtipe virus flu burung tidak terjadi proteksi silang. Karena tidak dapat diprediksi tipe mana yang akan menginfeksi ayam disuatu peternakan, vaksinasi dengan satu subtipe tidak menjamin dapat mencegah infeksi.

Program vaksinasi disertai tindak karantina yang ketat dapat mengendalikan penyakit bentuk ringan. Tetapi pada penyakit tipe ganas, tindak karantina yang ketat dan depopulasi cepat terhadap ayam-ayam yang tertular merupakan metoda yang efektif untuk menanggulangi flu burung. Semua ayam terinfeksi dan tertular dimusnahkan dengan cara dibakar, sehingga sumber bibit penyakit hilang dari peternakan di Indonesia.

Mengingat sifat virus flu burung yang mudah mutasi seperti diterangkan diatas, perlu pengendalian dan pemberantasan secara terencana dan terpadu untuk menghindari kemungkinan munculnya virus subtipe baru.

Berdasarkan sifat virus tersebut maka penangan virus harus hati-hati, dan diusahakan berada dalam suatu laboratorium yang aman dan terkontrol sehingga virus tersebut terkendali dengan baik dan tidak berbahaya. Dengan beberapa kendala tersebut diatas, perlu dilakukan monitoring perkembangan penyakit ini di lapangan dan penelitian pembuatan vaksin generasi baru menggunakan inovasi biologi molekuler.

SUMBER:
Infovet edisi 116, tahun 2004.
(Drh. Pudjiatmoko, Ph.D. Ilmuwan dari Masyarakat Ilmuwan dan Tekhnolog Indonesia (MITI))