Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, 15 March 2025

Bahaya Konsumsi Konten Kualitas Rendah



Waspada Brain Rot:

Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan

 

Data menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 5,7 jam per hari menggunakan gadget, menjadikan negara kita sebagai pengguna perangkat digital terlama di dunia pada tahun 2024 menurut laporan “State of Mobile” dari Data.AI. Terlalu banyak menatap layar gadget, menurut Laurie Ann Manwell, seorang Psikolog di Kanada yang mempelajari kecanduan dan kesehatan mental, dapat berdampak negatif pada perhatian, konsentrasi, pembelajaran, memori, pengaturan emosi, dan fungsi sosial.

 

Dengan durasi penggunaan gadget yang begitu tinggi, pola konsumsi konten online masyarakat pun mengalami lonjakan signifikan. Sayangnya, tingginya intensitas ini tidak selalu diiringi dengan kualitas konten yang dikonsumsi. Sebaliknya, konten singkat, dangkal, dan sensasional semakin mendominasi, menciptakan tantangan baru bagi kesehatan mental dan kemampuan berpikir manusia.

 

Di tengah realitas ini, istilah ‘Brain Rot’ mendapat perhatian khusus. Bahkan, istilah ini dinobatkan sebagai kata terpopuler oleh Oxford setelah melalui voting publik yang melibatkan 37.000 orang. Awalnya, Brain Rot digunakan oleh Henry David Thoreau dalam bukunya Walden pada 1854 untuk mengkritik masyarakat yang cenderung menghindari pemikiran mendalam dan lebih memilih hal-hal dangkal. Thoreau melihat fenomena ini sebagai tanda penurunan daya mental dan intelektual. Kini, istilah tersebut mengalami evolusi makna di era digital.

 

Dalam konteks modern, Brain Rot merujuk pada kondisi penurunan mental akibat konsumsi konten berkualitas rendah atau receh secara berlebihan di dunia maya. Fenomena ini sering ditemukan di platform seperti TikTok, yang sangat populer di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Konten singkat yang dangkal, paparan visual berlebihan, judul menyesatkan, informasi tidak valid, tayangan mengejutkan, hingga konten berbahaya yang mudah ditiru semuanya berkontribusi pada terbentuknya kondisi ini. Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan stimulasi instan dan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis serta mendalam.

 

Bahaya dan Gejala Brain Rot

 

Fenomena Brain Rot di era digital tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga berpotensi merusak fungsi otak secara keseluruhan. Brain Rot dapat menjadi pemicu disfungsi kognitif dan emosional, yang berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup. Berikut beberapa bahaya yang mengancam:

 

·   Kemunduran Kognitif

Paparan konten instan secara berlebihan menurunkan kemampuan otak untuk memproses informasi kompleks. Ini mengurangi daya analisis, pemecahan masalah, dan kreativitas.

 

·   Gangguan Regulasi Emosi

Overstimulasi dari konten visual dan auditori memperburuk pengaturan emosi. Pengguna menjadi lebih mudah cemas, depresi, atau bahkan agresif. Paparan berulang terhadap konten yang merangsang adrenalin membuat otak sulit mengatur ulang kondisi tenang.

 

·   Ketergantungan pada Dopamin Instan

Konten berkualitas rendah sering kali dirancang untuk memicu pelepasan dopamin sesaat, menciptakan efek kecanduan. Ini mengurangi motivasi untuk mencari sumber kesenangan yang lebih bermakna, seperti belajar atau berinteraksi sosial nyata.

 

·   Pengaruh pada Perkembangan Anak dan Remaja

Otak yang sedang berkembang sangat rentan terhadap dampak negatif Brain Rot. Anak-anak dan remaja yang terlalu banyak terpapar konten instan mungkin mengalami gangguan perkembangan sosial, kesulitan membentuk identitas diri, dan penurunan kemampuan belajar.

 


Berikut gejala Brain Rot yang perlu dikenali agar bisa segera diatasi:

·Kesulitan berkonsentrasi: sulit fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan perhatian mendalam, sering kali disertai kebiasaan multitasking yang kurang efektif.

·Disorientasi mental: kesulitan memahami konteks situasi atau lingkungan, sehingga mudah merasa bingung.

·Gangguan memori: menurunnya kemampuan untuk menyimpan informasi jangka pendek, terutama untuk hal-hal yang baru terjadi.

·Penurunan perawatan diri: rutinitas dasar seperti makan teratur, menjaga kebersihan tubuh, atau tidur cukup menjadi terabaikan.

·Perubahan emosi yang tidak stabil: mudah tersinggung, merasa cemas tanpa alasan jelas, atau bahkan kehilangan motivasi terhadap hal-hal yang dulu disukai.

·Kesulitan bersosialisasi: mengurangi interaksi tatap muka, merasa canggung saat berada di lingkungan sosial, hingga berisiko mengalami isolasi sosial.

·Kemampuan pengambilan keputusan melemah: sulit mempertimbangkan pilihan secara rasional dan cenderung mengambil keputusan secara impulsif tanpa pertimbangan matang.

 

Bagaimana cara mencegahnya?

 


Untuk mencegah Brain Rot, penting untuk mengambil langkah-langkah yang tepat. Batasi durasi penggunaan layar setiap hari sesuai rekomendasi, yaitu tidak lebih dari 2 jam untuk anak-anak dan maksimal 4 jam untuk orang dewasa di luar keperluan pekerjaan. Langkah ini dapat membantu mengurangi kelelahan mata dan mental.

 

Selanjutnya, pilihlah konten dengan bijak dengan cara menghindari aplikasi atau konten yang memicu stres atau adiksi, dan fokuslah pada konten yang edukatif, inspiratif, atau membantu pengembangan diri. Detoksifikasi digital secara berkala juga sangat penting. Kurangi penggunaan perangkat digital selama beberapa waktu untuk melakukan refleksi diri atau menikmati aktivitas tanpa interaksi dengan perangkat digital.

 

Ciptakan lingkungan digital yang sehat dengan mengatur notifikasi agar tidak mengganggu, mengkurasi media sosial untuk hanya menampilkan konten yang mendukung kesejahteraan, dan memanfaatkan fitur pembatasan waktu pada aplikasi tertentu. Komitmen untuk menetapkan waktu bebas layar, seperti sebelum tidur atau saat makan, dapat membantu menciptakan kebiasaan yang lebih sehat.

 

Selain itu, isi waktu dengan aktivitas yang lebih bermakna. Alihkan perhatian dari perangkat digital dengan kegiatan seperti meditasi, olahraga, membaca buku, atau belajar keterampilan baru seperti memainkan alat musik atau mempelajari bahasa asing. Berinteraksi dengan keluarga, bermain dengan hewan peliharaan, atau menghabiskan waktu di alam juga efektif untuk menjaga keseimbangan emosional.

 

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, kita dapat menciptakan gaya hidup digital yang lebih seimbang. Selain melindungi kesehatan mental dan fisik, ini juga meningkatkan fokus, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan di tengah derasnya arus informasi yang terus berkembang.

 

SUMBER

Elsi Yuliyanti. Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan. DKIS Cirebon. 6 Januari 2025

 

No comments: