Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, 28 December 2008

Guide to Agricultural Investment in Indonesia (2)

Government Incentives


 
Import Duties

All investment projects of PMA as well as PMDN projects which are approved by the investment coordinating Board or by the Office of Investment in the respective districts, including existing PMA and PMDN companies expanding their projects to produce similar product(s) in excess of 30% of installed capacities or diversifying their products, will be granted the following facilities:

1. Relief from import duty so that the final tariffs become 5%. In the case of tariffs of import duty which are mentioned in the Indonesian Customs Tariff Book (BTBMI) being 5% or lower, the effective tariffs shall be those in BTBMI:

a. On the importation of capital goods namely machinery, equipments, spare parts and auxiliary equipments for and import period of 2 (two) years, started from the date of stipulation of the decisions on import duty relief.

b. On the importation of goods and materials or raw materials regardless of their types and composition, which are used as materials or components to produce finished goods for the purpose of 2 (two) years full production (accumulated production time).

2. Exemption from the transfer of ownership fee for ship registration deed / certificate made for the first time in Indonesia.

Tax Facilities

1. The government has introduced a tax bill No’s 16, 17, 18, 19 and 20 of 2000 and applied since January 2001. Based on this tax law, the domestic and foreign investors will be granted tax allowances in certain sector and / or area as follows:

a. An investment tax allowance in the form of taxable income reduction as much as 30% of the realized investment spread in 6 (six) years.

b. Accelerated depreciation and amortization.

c. A loss carried forward facility for period of no more than 10(ten) years.

d. A 10% income tax on dividends, and possibly being lower if stipulated in the provisions of an existing particular tax treaty.

2. The government has also introduced provisions No’s 146 of 2000 and 12 of 2000 of 2001 on the importation and or delivery of selected taxable goods, and or the provision of selected taxable services as well as the importation and or delivery of selected strategic goods which are exempted from for certain industries or sectors and or location of projects which are considered a national priority in terms of exports and the development of remote areas, the government will provide tax incentives.

Export Manufacturing

There are many incentives provided for exporting manufacture products. Some of these incentives are as follows:

1. Restitution (drawback) of import on the importation of goods and materials needed to manufacture the exported finishes products.

2. Exemption from value added tax and sales tax on luxury goods and materials purchased domestically, to be used in the manufacturing of the exported products.

3. The company can import raw materials required regardless of the availability of comparable domestic products.

Bonded Zones

The industries companies which are located in the bonded areas are provided with many intensives as follows:

1. Exemption from import duty, excise, income tax of Article 22, value added tax on luxury goods on the importation of capital goods and equipment including raw materials for the production process.

2. Allow to divert their products amounted to 50% of their export (in term of value) for the final products, and 100% of their exports (in term of value) for other than final products to the Indonesian customs area, through normal import procedure including payment of customs duties.

3. Allowed to sell scrap or waste to Indonesian custom area as long as it contains at the highest tolerance of 5% of the amount of the material used in the production process.

Allowed to lend their own machineries and equipments to their subcontractors located outside bonded zones for no longer than 2 (two) years in order to further process their own products.

Exemption of value added tax and sales tax on luxury goods on the delivery of products for further processing from bonded zones to their subcontractors outside the bonded zones or the other way around as well as among companies in these areas.

To be continued.

Source: Guide to Agricultural Investment and Trade Opportunities in Indonesia,Ministry of Agriculture, the Republic of Indonesia

Friday, 26 December 2008

Fakta dan data Trainee di Jepang

  1. Interaksi selama trainee melakukan pelatihan di Jepang kadangkala menimbulkan problematika yang memerlukan penyelesaian oleh berbagai kalangan. Dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang ada, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Tokyo telah bekerjasama dengan Working Group for Technology Transfer (WGTT), melakukan serangkaian kegiatan untuk mengumpulkan fakta dan data di beberapa tempat di Jepang.

    Pada gambar sebelah Bapak Dubes Dr. H. Jusuf Anwar, SH. MA. dan Ibu beserta 3 anggota Darmawanita KBRI Tokyo sedang bersilaturahim dengan Trainee bidang pengolahan ikan di Kesenuma, Prefektur Miyagi.

    Dibawah ini disajikan fakta dan data yang berhasil dikumpulkan oleh WGTT yang didukung oleh BI Perwakilan Tokyo dalam bentuk ringkas dan padat:

    1. Di Jepang terdapat dua skema pelatihan bagi tenaga kerja asing yakni Industrial Training Program (ITP) dan Technical Internship Program (TIP).

    2. Gabungan skema ITP (maksimum 1 tahun) dan skema TIP (dua tahun), mereka bisa melakukan program pelatihan selama 3 tahun di Jepang.

    3. Tahun pertama sebagai kenshusei dengan uang saku sekitar 80.000 yen per bulan. Dua tahun kemudian sebagai Jishusei dengan gaji sekitar 90.000 - 100.000 yen per bulan.

    4. Terdapat 14 negara yang mengirimkan tenaga kerjanya ke Jepang, dan China menduduki urutan pertama dalam jumlah trainee yang dikirim ke Jepang.

    5. Keuntung program pelatihan di Jepang ini adalah: (i) meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan teknik tenaga kerja Indonesia; (ii) memperbaiki etos kerja tenaga kerja Indonesia sehingga lebih produktif.

    6. Terdapat 3 organisasi penyalur Trainee di Jepang yaitu (1) Association for International Manpower Development of Medium and Small Enterprises (IMM Japan); (2) Japan Indonesian Association for Economy Cooperation (JIAEC); dan (3) Japan Vocational Ability Development Association (JAVADA).

    7. Program pengiriman Trainee Indonesia yang pertama kali dilakukan pada tahun 1992.
    Sampai dengan tahun 2006 Indonesia sudah mengirimkan sekitar 75.000 orang trainee ke Jepang, lima tahun terakhir sekitar 5.200 orang per tahun.

    8. Terdapat 7 bidang pekerjaan yakni (1) Pertanian, (2) Perikanan, (3) Konstruksi, (4) Industri pengolahan makanan, (5) Industri Tekstil, (6) Industri Mesin dan Barang Logam, (7) Industri lainnya seperti furniture, percetakan, pengecatan dan pengemasan. Secara keseluruhan, jenis pekerjaan yang tersedia untuk para trainee mencakup 62 jenis pekerjaan dengan 114 sub tahapan pekerjaan tertentu (selective work).

    9. Seleksi di Indonesia terdapat dua tahapan:

    Tahap pertama:
    Seleksi di daerah yang dipusatkan di tingkat propinsi bekerjasama dengan pihak Kantor Wilayah Depnaker. Persyaratannya: (i) Usia antara 18 - 40 tahun, (ii) Pendidikan SLTA dengan telah mengikuti pembekalan minimal 480 jam di BLK, (iii) Berkelakuan baik, sehat jasmani dan rohani, (iv) Lulus seleksi wawancara dan uji kesehatan.

    Tahap ke dua:
    Mengikuti pelatihan sebelum berangkat ke Jepang. Prosesnya sebagai berikut: (i) Pelatihan diberikan kepada calon peserta trainee yang telah lulus seleksi dan diterima oleh perusahaan penyalur trainee yang terdapat di Indonesia, (ii) In housing training selama kurang lebih 4 bulan yang dilaksanakan oleh perusahaan penyalur trainee. Lokasinya diantaranya di Bekasi, Lembang, Bali.

    10. Selama proses pelatihan di Indonesia para calon peserta trainee memperoleh fasilitas akomodasi dan makan yang biayanya telah diperhitungkan dengan penghasilan mereka selama 3 tahun kedepan sebagai trainee di Jepang.

    11. Proses off the job training di Jepang sekitar 1 bulan sebelum ditempatkan di perusahaan-perusahaan (Saitama dan Chiba). Para calon trainee diberikan pelajaran lanjutan bahasa Jepang dan pengenalan kebudayaan dan adat-istiadat masyarakat Jepang. Pada saat ini belum menerima uang saku, hanya diberikan akomodasi.

    12. Tahun pertama sebagai trainee (kenshusei), selama 11 bulan efektif pihak perusahaan memberikan kesempatan kepada para trainee untuk memperoleh informsi tambahan terkait dengan pekerjaan misalnya tentang keselamatan dan kesehatan kerja (3 K).

    13. Penyuluhan mengenai keselamatan dan kesehat kerja pada minggu pertama bulan Juli mengingat motto 3 K " Lalai satu detik akan mengakibatkan cacat seumur hidup ".

    14. Selama tahun pertama ini para trainee menerima uang saku (allowance) diterima bersih, sektor pertanian sekitar 60.000 yen, dan sektor industri rata-rata berkisar 80.000 yen perbulan.

    15. Pihak perusahaan berkewajiban menyediakan akomodasi bagi para trainee dan pembayaran allowance umumnya sekitar tanggal 25 setiap bulannya.

    16. Jam kerja satu hari adalah 8 jam (40 jam per minggu) umumnya dimulai dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 17.00 sore.

    17. Pekerjaan yang mereka lakukan berbeda dengan keinginan mereka sewaktu mengisi formulir jenis pekerjaan yang diinginkan pada saat in housing training di Indonesia.

    18. Program pelatihan yang diselenggarakan perusahaan penyalur hanya terbatas pada kursus bahasa Jepang.

    19. Ketidakpastian masa depan setelah kembali ke Indonesia, tenaga kerja yang dapat ditampung di perusahaan Jepang di Indonesia jumlahnya masih sangat terbatas. Selain itu, gaji yang ditawarkan perusahaan Jepang yang ada di Indonesia relatif rendah (walaupun sudah sesuai dengan standar gaji Indonesia) sehingga kurang menarik.

    20. Banyak diantara para trainee yang berkeinginan berwiraswasta setelah kembali ke Indonesia, tetapi sebagian besar dari mereka menyatakan kurang memperoleh informasi tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk memulai usaha mereka dan tidak memiliki pengetahuan untuk merencanakan keuangan mereka.

    21. Sampai saat ini belum tampak lembaga keuangan yang menunjang keinginan mereka untuk berwiraswasta tersebut.

    Sumber: Merajut Masa Depan dari Negeri Sakura, WGTT.

Wednesday, 24 December 2008

Petani Inovatif Asal Fukushima Jepang

Petani yang inovatif ini bernama Pak Saito Yasuyuki, bertempat tinggal di kota Fukushima, Prefektur Fukushima. Pada salah satu green housenya, dia biasa menanam timun sayur. Kali ini Mr. Saito Yasuyuki mencoba menggunakan tanah yang telah ditreatment dengan Zeolit untuk menanam sayur Kyonatsu. Dia menjelaskan kepada kami yang datang bersilaturahim di tempat kediamannya. Kami dari Deptan, KBRI Tokyo perusahaan Nitto Funka Kogyo Co. Ltd. mengunjungi pertaniannya pada tanggal 24 Desember 2008. Menurutnya, sayuran Kyonatsu biasa dijadikan bahan untuk masakan Nabe, sayur-sayuran direbus bersama-sama jamur dan ikan. Dimakan mentahpun enak.

Petani ini pandai meyakinkan orang lain termasuk kami, Staf Khusus Menteri Pertanian Peningkatan Daya Saing dan Inovasi Pertanian Dr. Rudi Lumanto dan Kepala Biro Perencanaan Departemen Pertanian Dr. Mappaona yang didampingi Perusahaan Nitto Funka Kogyo Co. Ltd. Sayuran yang dia budidayakan merupakan sayuran tanpa menggunakan pestisida sehingga aman untuk dimakan mentah. Untuk meyakinkan dengan cekatan dia mencabut sayuran Konatsu dan memberikan contoh memakannya tanpa dicuci. Para tamupun mengikuti termasuk Bapak Mappaona seperti tampak pada Gambar samping. “Kono yasai wa oishii desu” (Sayuran ini enak), kata Bapak Kepala Biro menggunakan bahasa Jepang dengan fasih. Diraba dengan jari tekstur sayur ini memang terasa lembut, ketika dikunyah dilidah terasa lembut dan enak.

Petani ini percaya diri sehingga dapat menyampaikan pengalaman dan hasil penelitiannya dengan lancar kepada Pejabat dari Deptan RI, dengan gaya yang meyakinkan. Dia biasa menanam mentimun, kali ini dia mencoba menanam sayur Kyonatsu mengunakan tanah yang telah ditreatment dengan zeolit. Meskipun baru sekali tanam, menurut penilaian para tamu hasil panen sayurnya sangat bagus. Tetapi menurut petani inovatif ini masih perlu menunggu beberapa kali percobaan yang memakan waktu sekitar tiga tahun untuk memperoleh hasil panenan yang bermutu terbaik. Tampak pada gambar, Mr. Saito bersemangat menerangkan kepada kami dengan mimik muka dan gerakan tangannya yang atraktif.
Istrinya diaktifkan dalam mengelola pertaniannya, tampak dia sedang melakukan persiapan pembenihan. Dia merasa bangga dengan produk pertanian yang mereka hasilkan. Penyemaian benih Kabocha (pumpkin) mereka berdua siapkan sendiri. Kabocha ini termasuk genus Cucurbita dan famili Cucurbitaceae, biasa digoreng dengan tepung menjadi tempura yang banyak disukai turis asing yang rasanya manis-gurih. Orang Jepang sendiri tentu juga suka dengan rasa kelezatan ini terutama setelah dicelupkan ke dalam kecap Jepun.



Penyemaian benih kyuri (mentimun Jepang) juga mereka siapkan sendiri. Dia bercerita pada suatu waktu, seorang ibu datang di kebun mentimunnya dengan anaknya yang masih sekolah di SD. Kata sang ibu tersebut kepada Mr. Saito "Saya mohon maaf ya Pak Saito, anak kami tidak suka makan sayur". Sejurus kemudian Pak Saito petani inovatif memetikan mentimun yang berukuran sedang, lalu diberikan kepada sang anak, dengan berkata:"Coba sedikit saja ini timun istimewa". Setelah dimakan, sang anak berkata:"Kok ngasihnya sedikit, rasanya enak". Si Ibu tersenyum simpul, dan Petani Inovatif meyakinkan bahwa sebagai petani dia berusaha untuk memproduksi hasil pertanian yang rasanya enak sehingga disukai oleh anak-anak yang tidak suka sayur.

Media penumbuh telah disiapkan untuk ditanami bibit yang sudah cukup umur.














 

Green house dilengkapi dengan pengatur temperature secara otomatis. Tampak tempatur dalam ruang pembenihan dipertahankan suhunya 30,8-35,4 derajat C.












 

Biasa menyiapkan pupuk kandang dan media penumbuh sendiri. Tampak Pak Saito sedang memperlihatkan kepada kami media yang berbahan dasar dari zeolit.












 

Petani Inovatif melakukan pengujian mutu tanahnya sendiri. Tampak peralatan untuk mengecek kwalitas tanahnya berupa Kit Dr. Soil. Dengan alat ini petani dapat menguji kesuburan atau kandungan unsur hara tanah pertaniannya. Dia juga rajin mendiskusikannya hasil pengujiannya dengan dosen di Universitas Tehnik dan Pertanian Tokyo.



 





Melihat teladan petani Inovatif di Jepang ini, Bapak Rudi Lumanto dan Bapak Mappaona ingin segera melangkah ke depan mendorong Deptan menerbitkan buku tentang inovasi petani Indonesia dalam melakukan usaha taninya. Kemudian petani kita bina untuk selalu melakukan inovasi baru agar dapat bersaing dengan petani dari manca negara dalam menyediakan produk yang bermutu baik dan aman untuk dikonsumsi. Semoga di Indonesia dimasa mendatang akan semakin banyak petani inovatif seiring dengan program peningkatan pembangunan SDM bidang pertanian melalui pelatihan petani muda Indonesia di Jepang.

Tuesday, 23 December 2008

Diet sarapan pagi dengan sebuah pisang

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia banyak sekali menghasilkan pisang dengan berbagai jenis. Pisang Ambon sudah menjadi buah meja yang sering kita temui ada di rumah makan.

Sebuah pisang Ambon punya nilai gizi 3 kali sebuah apel sedang. Pisang mengandung sejumlah besar karbohidrat yang tidak dapat dilarutkan yang disebut Resistent Starch. Resistent starch mempunyai kemampuan merangsang pembakaran lemak. Pisang mengandung enzim yang dapat membantu mempercepat pencernaan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu yang diperlukan usus bekerja untuk mencerna makanan, sehingga lebih cocok dalam metabolisme penurunan berat badan. Pisang ditambah dengan air akan mempercepat atau menghilangkan gejala sembelit.

Karena keunggulan dari buah pisang tersbut dewasa ini masyarakat Jepang sedang ngetren diet sarapan pagi dengan satu buah pisang, sehingga terdapat kecenderungan kebutuhan pisang di Jepang meningkat. Bagi produsen pisang silahkan meningkatkan produksinya dan diekspor ke Jepang, kalau dari Indonesia tanpa bea masuk lho...

Bagi yang ingin menurunkan berat badan silahkan mencoba diet yang sedang populer ini sebagai berikut:


1. Sarapan pagi dengan satu buah pisang.
2. Makan siang dan malam seperti biasa, tetapi jangan sampai kenyang.
3. Cukup minum air putih dengan suhu kamar, tidak dingin dan tidak panas.
4. Kunyah makanan dengan sempurna dan nikmati rasanya.
5. Boleh makan makanan ringan pukul 3 sore tetapi jangan makan es krim, donut dan keripik kentang, serta jangan makan dessert ketika makan malam.
6. Tidurlah lebih awal, berhenti makan 4 jam sebelum tidur.
7. Berolah raga secukupnya, tidak dipaksakan.


Sumber: Morning Banana Diet

Saturday, 20 December 2008

Tahun 2008 Indonesia Swasembada Beras

Lebih dari 24 tahun menunggu, akhirnya swasembada beras tercapai juga. Swasembada tahun 2008 ini berbeda dibandingkan tahun 1984 karena swasembada kali ini tanpa sedikit pun dibarengi impor beras. Lain cerita pada 1984, di mana swasembada masih dibarengi dengan impor beras 414.300 ton. Mengapa kita bisa swasembada beras?

Pertanyaan ini penting diajukan sebagai refleksi sekaligus pijakan dalam upaya mempertahankan swasembada beras 2009 dan pada tahun-tahun yang akan datang.

Perlu diingatkan bahwa sejak munculnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, tidak ada lagi kemampuan pemerintah mengontrol budidaya pertanian. Petani bebas memilih komoditas apa yang akan mereka tanam tanpa ada tekanan atau paksaan untuk menanam komoditas tertentu yang diinginkan pemerintah.

Sejak itu, impor beras terus meningkat dan puncaknya tahun 1999, di mana impor beras mencapai 4,7 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Melalui UU itu pula, era ”liberalisasi” budidaya pertanian dimulai karena tidak ada kendali pemerintah atas usaha tani. Satu-satunya faktor yang menjadi acuan petani memilih komoditas yang akan mereka tanam adalah faktor keuntungan.

Mudah diingat bahwa tahun 2007/2008 terjadi lonjakan harga komodita, baik di pasar domestik maupun internasional. Harga beras di Thailand bahkan melambung hingga 800 dollar AS per ton, beras Vietnam mencapai 600 dollar AS per ton. Begitu pula harga beras China, India, dan Pakistan melonjak. Lonjakan harga komoditas memicu ketakutan di antara negara-negara pengekspor beras.

China, India, dan Pakistan bahkan menghentikan ekspor sementara waktu. Akibatnya, suplai beras ke pasar dunia merosot. Melihat gejala buruk itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen meningkatkan produksi tanaman pangan, di antaranya beras, jagung, dan kedelai.

Peningkatan produktivitas

Salah satu insentif yang diberikan pemerintah adalah menaikkan harga pembelian pemerintah untuk gabah dan beras, baik di tingkat petani maupun usaha penggilingan. Dengan begitu, diharapkan keuntungan petani meningkat dan muncul kegairahan untuk menanam padi. Luas tanam padi musim hujan periode Oktober 2007-Maret 2008 mencapai 7,86 juta hektar atau 3,4 persen di atas pencapaian luas tanam pada periode sama 2006/2007.

Ada beberapa faktor penting dalam mendukung peningkatan produktivitas, antara lain iklim kondusif, benih unggul, pupuk, suplai air, serangan hama penyakit, dan pengelolaan pascapanen.

Beberapa hal yang telah pemerintah lakukan sehingga swasembada beras tercapai adalah sebagai berikut:

1. Pemberian bantuan penggunaan benih varietas unggul menjadi salah satu pilihan melalui program Program Peningkatan Produksi Beras (P2BN),. Pada musim tanam 2008 pemerintah mengalokasikan bantuan benih padi dalam APBN sebanyak 37.500 ton dengan sasaran areal tanam 1,5 juta hektar. Disediakan juga bantuan benih dalam bentuk Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), cadangan benih nasional, dan bantuan benih dalam bentuk subsidi harga kepada petani.

2. Peningkatan luas tanam padi hibrida ditingkatkan dengan memberikan bantuan benih hibrida sebanyak 1.285 ton dengan sasaran luas tanam 86.000 ton untuk tahun ini.

3. Perbaikan distribusi pupuk untuk mengurangi akibat kelangkaan suplai pupuk tahun 2007/2008. Dari 5,8 juta ton kebutuhan pupuk urea, pemerintah hanya mampu mengalokasikan 4,3 juta ton pada musim tanam tahun 2008.

4. Perbaikan system irigasi sehingga stabilitas suplai air cukup baik. Musim tanam padi Oktober 2007-September 2008 yang menjadi basis penghitungan produksi padi 2008 nyaris tanpa ada gangguan suplai air yang berarti.

5. Melakukan usaha perbaikan pasca panen. Musim panen 2008, Departemen Pertanian memperbaiki kualitas panen dengan memperkecil potensi kehilangan hasil. Deptan mengalokasikan dana Rp 80 miliar untuk meningkatkan kualitas gabah petani dalam program gerakan pengamanan pascapanen. Dana itu untuk pembelian peralatan pertanian pascapanen, pendampingan, dan pengawalan. Alat-alat itu berupa sabit bergerigi (103.000 buah), alat perontok padi manual (1.000), alat perontok padi mekanik (400), dan 40.000 terpal ukuran 8 meter x 8 meter.

6. Jaminan pasar oleh Perum Bulog semakin memantapkan petani untuk menanam padi. Peningkatan pembelian beras Bulog tahun 2007 yang mencapai 1,76 juta ton dan tahun 2008 sebanyak 3,1 juta ton. Hal ini membuat petani bersemangat untuk menanam padi. Maka dari itu untuk masa mendatang perlu diperhatikan jaminan pasar oleh Bulog untuk mendorong stabilisasi harga beras di tingkat petani, pada level yang stabil tinggi.

7. Pemerintah dapat melakukan penanggulangan hama dan penyakit. Pada musim tanam di musim hujan 2007/2008, ada serangan tikus, hama penggerak batang, tungro, kresek, dan blas yang terjadi pada 208.931 ha atau di atas serangan hama yang terjadi pada musim tanam di musim hujan 2006/2007 yang hanya 143.312 ha.

8. Bencana banjir 2007/2008 lebih banyak terjadi pada tanaman padi muda sehingga replanting bisa segera dilakukan dan luas lahan puso dapat diminimalkan. Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Deptan menunjukkan, bencana banjir dan kekeringan musim tanam Oktober 2007-Maret 2008 hanya merendam tanaman padi seluas 335.056 hektar. Bandingkan dengan musim tanam 2006/2007 yang mencapai 485.868 ha.

9. Untuk masa mendatang pemerintah harus melakukan pengendalian laju konversi lahan. Tanpa menghentikan itu, swasembada beras hanya akan berlangsung sesaat karena lahan untuk penanaman padi semakin menyempit sementara jumlah penduduk semakin besar. Sehingga impor beras menjadi tak terelakan lagi.

Sumber : Kompas Selasa, 16 Desember 2008