Negara Asal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
INFORMASI PERTANIAN DAN KESEHATAN HEWAN
Skin Design: Kisi Karunia
Base Code:
Free Blogger Skins
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
13:11
0
comments
Pulau Timor bagian Barat Provinsi Nua Tenggara Timur mempunyai kedekatan baik wilayah maupun kekerabatan penduduk di sepanjang perbatasan dengan Timor-Leste. Pada September 2019, Timor-Leste telah melaporkan Wabah Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) di negaranya.
Untuk langkah pencegagan masuknya ASF dari Timor Leste ke Indonesia maka perlu mempelajari perkembangan kondisi dan situasi ASF di Timor-Leste. Di sini disampaikan hasil kajian yang dilaporkan oleh Dominic Smitha dan kawan-kawan.
Ringkasan
Timor-Leste merupakan negara dimana babi dipelihara oleh lebih dari 70 persen rumah tangga. Pada September 2019 negara tersebut menjadi negara Asia kesebelas yang melaporkan Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF). Pada penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa di Timor-Leste konsumsi daging babi nasional rendah, terapi babi memiliki nilai moneter yang luar biasa untuk peternak kecil. Nilai populasi babi hidup secara nasional sekitar USD160 juta - lebih yang terkumpul dari USD 1.000 per rumah tangga pemelihara babi. Karenanya, babi berfungsi untuk melindungi keluarga dari tekanan ekonomi, terutama untuk biaya kesehatan dan pendidikan. Meskipun bukan penyakit zoonosis (yang dapat ditularkan ke manusia), potensi ASF menimbulkan dampak negatif yang besar bagi peternak kecil di Timor-Leste tidak dapat diremehkan. Disimpulkan bahwa Timor-Leste menghadapi tantangan yang sangat berat dalam merespon wabah ASF sehingga mempunyai alasan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan bantuan internasional.
1. Pendahuluan
Ketika kematian babi massal terdeteksi di Timor-Leste selama September 2019, akhirnya dikonfirmasi dengan uji laboratorium bahwa kematian massal tersebut disebabkan oleh Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF). Respon cepat telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian dan Perikanan (MAF) Timor-Leste yaitu memberitahukan kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada tanggal 27 September, yang dilakukan dalam waktu 24 jam setelah positif ASF. Setelah itu OIE mencatat hasil laporan terdapat 100 wabah di dalam kota Dili yang terdiri dari 405 kasus dengan tingkat fatalitas kasus 100%, meskipun sebuah sumber berita pemerintah melaporkan 2145 kasus di kota Dili, Ermera, Lautein dan Manatutu. Penyebaran ASF yang cepat dan konsisten dengan gambaran epidemiologis di wilayah tersebut.
ASF pertama kali dilaporkan di Tiongkok pada Agustus 2018 dan sekarang di beberapa negara Asia. ASF adalah penyakit virus sangat menular, belum ada vaksin, disebarkan oleh babi hidup atau mati, daging babi mentah dan matang, vektor dan fomites. ASF menempatkan 50% dari kawanan babi global dalam risiko di China saja dan meskipun bukan zoonosis, dampak ASF pada kehidupan dan mata pencaharian peternak babi dan rantai nilai babi baik di dalam maupun di luar negara-negara Asia yang terkena dampak tidak dapat diremehkan.
Pada bulan September 2019, ketika Kementerian Pertanian dan Perikanan (MAF) memulai investigasi awal, sedang dilakukan pekerjaan lapangan putaran ketiga untuk tahun 2019, mengumpulkan data untuk mengevaluasi peluang terkena ASF bagi peternak kecil di negara tersebut. Sehubungan dengan kemunculan ASF dan permintaan untuk memberikan tanggapan, di sini digambarkan dampak ASF yang potensial dan sangat merugiÄ·an peternak kecil di Timor-Leste. Untuk memberikan analisis ini tepat waktu, digunakan literatur yang ada dan temuan terbaru dari penelitian observasional, partisipatif dan kualitatif lainnya di empat kota.
2. Peternakan babi di Timor-Leste merupakan peternakan skala kecil dimana lebih dari 70% rumah tangga memelihara babi
Di seluruh China dan sebagian besar Asia Tenggara, usaha peternakan babi skala menengah hingga besar menyumbang setidaknya 20% dari total populasi babi [6], dengan kecenderungan umum menuju komersialisasi sektor yang telah dipercepat oleh efek ASF di seluruh sebagian besar wilayah.
Timor-Leste secara signifikan berbeda dengan semua negara Asia yang terkena dampak lainnya di mana hampir seluruh kawanan babi nasional dipelihara oleh peternak kecil; rata-rata jumlah babi yang dipelihara per rumah tangga adalah kurang dari tiga ekor. Gambaran lain yang relatif unik dari sektor babi di Timor-Leste adalah bahwa babi dipelihara oleh sejumlah besar rumah tangga baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Sektor pemeliharaan babi terdiri dari sekitar 142.000 (72%) rumah tangga di negara ini. Di sebagian besar masyarakat pedesaan, setidaknya 75% rumah tangga memelihara babi. Di Timor-Leste, lebih dari di banyak negara lain, bahwa kematian akibat ASF akan menimpa pada peternak kecil baik di lingkungan perkotaan maupun pedesaan.
3. Babi mahal dan nilai peternakan babi nasional adalah sekitar USD 160 juta
Bagi keluarga peternak kecil mengganti babi baru dari luar memerlukan biaya yang cukup banyak. Berdasarkan data lapangan serta informasi yang dikumpulkan oleh Cargill, hewan hidup berharga sekitar USD 150 per babi, USD 600 per babi penggemukan (dengan asumsi berat rata-rata 60 kg) dan USD 500 per babi. Pada sensus terakhir, populasi babi nasional hampir 420.000 dengan ukuran rata-rata jumlah babi per rumah tangga 2,86 ekor. Dengan asumsi distribusi jenis babi dalam kawanan khas sistem produksi berbasis peternakan kecil di Asia, dapat diasumsikan data : 15% merupakan ternak induk, 45% anak babi dan sisanya 40% adalah babi penyapih dan babi penggemukan. Berdasarkan nilai-nilai unit ini, nilai ternak babi nasional lebih dari USD 160 juta. Ini menyiratkan nilai rumah tangga per pemeliharaan babi lebih dari USD 1.000, yang merupakan stok tabungan yang sangat penting mengingat PDB per kapita adalah sekitar USD 1.200 dan lebih dari 70% populasi hidup dengan kurang dari USD 3,20 per hari.
4. Babi bernilai ekonomi dalam upacara adat
Babi terutama digunakan untuk tujuan sosiokultural dan seremonial, babi tidak hanya bernilai simbolis bagi petani kecil di Timor-Leste. Sementara konsumsi daging babi di Timor-Leste di luar upacara adat dilaporkan sangat rendah, fokus pada data konsumsi terlalu sederhana; dampak kematian babi pada mata pencaharian peternak kecil di negara ini sangat tinggi. Ini dijelaskan dengan nilai babi hidup dan tak tergantikannya babi hidup untuk upacara adat utama.
Temuan baru-baru ini mengungkapkan bahwa ketika rumah tangga mereka tidak dapat menyediakan babi hidup mereka sendiri untuk upacara adat, mereka harus membelinya dengan uang dari anggaran pendidikan, makanan, dan kesehatan mereka. Akibatnya, meskipun ASF bukan zoonosis, ASF menimbulkan tantangan One Health di Timor-Leste. Di antara dampak lainnya, kematian babi menimbulkan dampak tidak langsung terhadap ketahanan pangan dan gizi rumah tangga. Di sebuah negara dengan tingkat kekerdilan anak melebihi 50%, masalah ini menjadi perhatian serius.
5. Peternakan Babi _back yard_ menyangga keluarga dari tekanan ekonomi
Telah diperoleh data juga yang menggambarkan babi sebagai tabungan ternak yang penting, yang dapat dijual untuk menutupi kebutuhan darurat keluarga atau untuk menutupi pengeluaran yang tidak terduga terutama biaya yang terkait dengan pendidikan anak-anak. Babi secara signifikan lebih berharga daripada ternak ayam atau kambing karena babi beranak lebih cepat daripada sapi, jadi sering kali merupakan komoditas ternak pilihan pertama untuk memperbaiki tekanan keuangan.
Membangun kembali peternakan babi secara nasional setelah wabah ASF bisa dikendalikan akan membutuhkan waktu yang lama. Karena peternak babi kemungkinan akan memerlukan pengadaan babi untuk tujuan restocking, kenaikan harga anak babi dan pengadaan babi dalam jangka pendek-menengah dapat menambah dan memperpanjang dampak negatif ASF terhadap mata pencaharian para peternak kecil. Sebagian besar pembahasan internasional tentang wabah ASF di Timor-Leste telah fokus pada kedekatan jarak, dan potensi penularan kepada peternakan babi komersial di negara tetangga Australia dan Indonesia. Ini tentu saja merupakan keprihatinan yang wajar. Telah disoroti di sini kemungkinan ASF sangat nyata berdampak besar dan negatif pada mata pencaharian dan keamanan pangan bagi kelompok menengah ke bawah..
6. Timor-Leste menghadapi banyak tantangan dalam merespon Demam Babi Afrika
Banyak tantangan bagi Timor-Leste dalam merespon ASF.
Pertama, ASF bisa sulit dibedakan dari Classical Swine Fever (CSF), yang endemik di Timor-Leste. Sementara kematian babi yang memicu penyelidikan wabah pada bulan September jauh lebih tinggi dalam jumlah dan tingkat daripada MAF telah melihat dengan CSF, tanda-tanda klinis yang tumpang tindih dapat menjelaskan mengapa hanya 41% dari sampel yang awalnya diuji untuk ASF adalah positif.
Langkah-langkah tindak lanjut akan mencakup identifikasi genotipe virus ASF dan pengembangan definisi kasus lokal, terutama menyoroti setiap titik perbedaan antara ASF dan genotipe khusus CSF yang beredar di Timor-Leste.
Kedua, Timor-Leste tidak memiliki kapasitas untuk melakukan tes definitif untuk ASF sehingga sampel harus dikirim ke laboratorium Australia.
Ketiga, penularan ASF akan didorong oleh karakteristik peternakan babi nasional. Ini termasuk kepadatan ternak babi di seluruh negeri, dominasi sistem _freerange_ dan ketergantungan yang besar pada pemberian makan dengan sampah rumah tangga.
Menurut Kinerja OIE dari Analisis Kesenjangan Layanan Veteriner, seluruh layanan veteriner di Timor-Leste sangat kekurangan sumber daya dalam semua hal: keuangan, fisik dan manusia, baik dalam jumlah staf maupun kapasitas teknis mereka.
Faktor-faktor di atas dikombinasikan dengan karakteristik patogen dan nilai babi untuk Timor-Leste menggambarkan potensi kehancuran peternakan babi.
Terdapat alasan kuat untuk dukungan yang tepat waktu dan tepat sasaran bagi Pemerintah Timor-Leste dari Komunitas Internasional, tidak hanya untuk melindungi negara dari ancaman ASF, tetapi juga untuk mencegah potensi krisis di seluruh negara.
SUMBER:
Dominic Smitha, Tarni Cooper, Abrao Pereirac, Joanita Bendita da Costa Jong. 2019. Counting the cost: The potential impact of African Swine Fever on smallholders in Timor-Leste. One Health 8 (2019) 100109.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
22:59
0
comments
Labels: African Swine Fever
Kolaborasi United Against Rabies Merayakan Satu Tahun Kemajuan Menuju Nol Kematian Akibat Rabies pada Manusia pada Tahun 2030
Sejak peluncuran inisiatif "Zero by 30" pada tahun 2018, kolaborasi United Against Rabies telah mencapai kemajuan signifikan dalam mendukung, melibatkan, dan memberdayakan negara-negara untuk mencapai tujuan eliminasi rabies pada tahun 2030. Laporan kemajuan tahunan pertama, yang dirilis hari ini bertepatan dengan Hari Rabies Sedunia, menguraikan dampak kolaboratif bertahap dari keempat mitra dalam mempromosikan pendekatan One Health dan mencapai tiga tujuan Rencana Strategis Global.
Dalam 16 bulan terakhir saja, lebih dari 2 juta dosis vaksin rabies anjing yang terjamin kualitasnya telah dikirimkan ke 133 negara di Asia dan Afrika; lebih dari 450 tenaga kesehatan telah dilatih di 70 dari 89 negara tempat rabies pada manusia terjadi, dan lebih dari 200 acara edukasi dan kesadaran telah diselenggarakan di 62 negara.
Memfasilitasi Akses ke Vaksin, Obat-obatan, dan Edukasi
Dalam mendukung tujuan pertama Rencana Strategis, yaitu mengeliminasi rabies melalui penggunaan efektif vaksin, obat-obatan, alat, dan teknologi, kolaborasi UAR telah memungkinkan implementasi tindakan konkret di negara-negara untuk menangani rabies pada sumbernya, yaitu anjing yang terinfeksi. Pada tahun 2018, upaya ini mencakup:
1. Meningkatkan akses ke vaksin rabies anjing berkualitas tinggi, dengan mengirimkan lebih dari 2 juta dosis ke 13 negara di Asia dan Afrika melalui Bank Vaksin Rabies OIE.
2. Meningkatkan penanganan kasus gigitan anjing yang berpotensi terpapar rabies manusia, dengan mengadakan pelatihan bagi lebih dari 450 tenaga kesehatan di 70 dari 89 negara tempat rabies pada manusia terjadi, yang diselenggarakan oleh WHO dan mitra UAR lainnya.
3. Meningkatkan edukasi dan kesadaran tentang rabies, melalui webinar Hari Rabies Sedunia yang diorganisasi oleh FAO dan mitra UAR lainnya, serta hampir 200 acara pada Hari Rabies Sedunia yang terdaftar di situs web GARC dari 62 negara, yang menarik perhatian signifikan melalui media cetak, digital, dan saluran media sosial. Lokakarya pengembangan kapasitas dalam komunikasi juga diselenggarakan oleh OIE.
Memberikan Panduan, Kebijakan, dan Alat Pemantauan yang Jelas kepada Negara-negara
Untuk memperluas cakupan tindakan, kelompok ini memberikan panduan kebijakan untuk kerangka tata kelola yang efektif dalam eliminasi rabies. Dalam 16 bulan terakhir, pekerjaan ini mencakup:
1. Memperbarui manual teknis dan standar oleh OIE dan WHO untuk menyelaraskan panduan di sektor kesehatan hewan dan manusia.
2. Melakukan penilaian kemajuan menuju eliminasi rabies oleh jaringan rabies regional di lebih dari 67 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa 12 negara telah menghasilkan rencana aksi nasional yang komprehensif atau diperbarui.
3. Memfasilitasi kegiatan pelatihan di 14 negara bersama dengan pelatihan lain dan pengujian profisiensi FAO, yang menyebabkan 80 negara melaporkan kerangka kerja nasional yang disahkan untuk eliminasi rabies.
Kolaborasi UAR mendukung harmonisasi data untuk meningkatkan pemantauan global dengan rencana menghubungkan platform data WHO, OIE, dan GARC. Selain itu, alat baru untuk mengevaluasi aktivitas rabies sedang dikembangkan untuk analisis data yang mendalam dan terperinci.
Mempertahankan Komitmen dan Sumber Daya Negara
Keterlibatan masyarakat, komitmen politik, dan koordinasi antara aktor utama sangat penting untuk mengeliminasi rabies, sebagaimana dibuktikan oleh kemajuan terkini.
Sejak 2018, kolaborasi UAR telah meningkatkan keterlibatan dengan komunitas rabies global dan negara-negara individu. Komitmen terhadap “Zero by 30” terus meningkat dan harus tetap berlanjut.
Kolaborasi UAR telah mengidentifikasi 60 mitra pengembangan dan berupaya melibatkan semua pemangku kepentingan dalam komunitas rabies, termasuk institusi pemerintah, aktor non-negara, akademisi, organisasi internasional, dan negara-negara individu. Upaya yang terkoordinasi dalam advokasi dan investasi global dan nasional telah dimulai.
Kemajuan yang dicapai sejak 2018 sangat menggembirakan. Tantangannya adalah terus memperkuat dukungan komunitas di tingkat akar rumput, subnasional, dan nasional, serta mempertahankan komitmen politik untuk membebaskan setiap negara dari kematian manusia akibat rabies yang ditularkan melalui anjing.
Tentang "Zero by 30"
Rabies sepenuhnya dapat dicegah, dan vaksin, obat-obatan, alat, serta teknologi telah lama tersedia untuk mencegah kematian akibat rabies yang ditularkan oleh anjing. Namun, rabies masih membunuh sekitar 60.000 orang setiap tahun, dengan lebih dari 40% di antaranya adalah anak-anak, terutama di daerah pedesaan di negara-negara dengan kondisi ekonomi kurang berkembang di Afrika dan Asia. Dari semua kasus pada manusia, hingga 99% ditularkan melalui gigitan anjing yang terinfeksi.
Rencana Strategis Global, yang diluncurkan pada Juni 2018, menargetkan reservoir rabies pada anjing dan menyelaraskan upaya untuk mencegah rabies pada manusia serta memperkuat sistem kesehatan hewan dan manusia. Rencana ini menempatkan negara-negara di pusat perhatian dengan dukungan internasional yang diperbarui untuk melakukan perubahan sosial yang diperlukan, melalui pendekatan pragmatis dengan tiga tujuan:
1. Mengeliminasi rabies melalui penggunaan efektif vaksin, obat-obatan, alat, dan teknologi.
2. Menghasilkan, menginovasi, dan mengukur dampak langkah pengendalian rabies; menyediakan panduan, kebijakan efektif, dan tata kelola; serta menghasilkan data yang andal untuk pengambilan keputusan yang efektif.
3. Mempertahankan komitmen dan sumber daya negara.
Dengan mengimplementasikan Rencana ini, negara-negara yang terkena dampak akan bergerak lebih dekat ke Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 3.3, "Pada tahun 2030, mengakhiri epidemi penyakit tropis yang terabaikan," dan membuat kemajuan menuju pencapaian SDG 3.8 tentang cakupan kesehatan universal.
1. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE), Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), dan Aliansi Global untuk Pengendalian Rabies (GARC).
2. Tripartit (FAO, OIE, WHO) mengakui dalam pendekatan "One Health" bahwa kesehatan manusia terkait dengan kesehatan hewan dan lingkungan. Mereka telah mengidentifikasi rabies sebagai salah satu dari tiga prioritas untuk menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan risiko yang efektif.
3. Negara-negara seperti Benin, Eritrea, Indonesia, Kenya, Lesotho, Malaysia, Myanmar, Namibia, Filipina, Singapura, Togo, Tunisia, dan Zimbabwe.
SUMBER:
WHO International
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
12:40
0
comments
Labels: World Rabies Day