
Tinjauan Pustaka Pengembangan
Probiotik Unggas Berbasis Bakteri Asal Tembolok Ayam Menggunakan Nanoteknologi
Abstrak
Penggunaan antibiotik pemacu
pertumbuhan (antibiotic growth promoters/AGP) dalam industri perunggasan
semakin dibatasi karena kontribusinya terhadap resistensi antimikroba dan
implikasi kesehatan masyarakat. Probiotik menjadi alternatif strategis,
khususnya bakteri asam laktat (BAL) asal tembolok ayam sebagai mikroba indigenous
dengan potensi host-specific probiotic. Namun, aplikasi BAL konvensional
masih terkendala oleh penurunan viabilitas, stabilitas rendah selama
penyimpanan dan pemrosesan pakan, serta efektivitas kolonisasi usus yang belum
optimal. Pendekatan nanoteknologi—terutama nanoenkapsulasi menggunakan biopolimer
food-grade—menawarkan solusi untuk meningkatkan perlindungan,
bioavailabilitas, dan pelepasan terkontrol bakteri hidup di saluran pencernaan.
Tinjauan pustaka ini merangkum dan menganalisis perkembangan mutakhir probiotik
unggas berbasis BAL asal tembolok ayam yang dikombinasikan dengan
nanoteknologi, mencakup isolasi dan karakterisasi, sistem dan metode
nanoenkapsulasi, evaluasi in vitro dan in vivo, aspek keamanan,
serta implikasinya bagi produksi unggas berkelanjutan dalam kerangka One
Health.
Kata kunci: probiotik unggas; tembolok ayam;
bakteri asam laktat; nanoenkapsulasi; nanoteknologi
1.
Pendahuluan
Industri
perunggasan modern berada pada persimpangan antara kebutuhan peningkatan
produksi protein hewani, efisiensi biaya, dan tuntutan global terhadap keamanan
pangan serta keberlanjutan. Selama beberapa dekade, AGP digunakan luas untuk
meningkatkan performa pertumbuhan dan efisiensi pakan. Seiring meningkatnya
bukti ilmiah mengenai hubungan AGP dengan resistensi antimikroba (AMR), banyak
negara memberlakukan pembatasan atau pelarangan AGP. Kondisi ini mendorong pencarian
alternatif berbasis sains yang efektif, aman, dan berkelanjutan.
Probiotik didefinisikan sebagai
mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah memadai memberikan
manfaat kesehatan bagi inang. Pada unggas, probiotik berperan menjaga keseimbangan
mikrobiota usus, meningkatkan integritas mukosa, memodulasi sistem imun, serta
menekan kolonisasi patogen enterik. Di antara berbagai sumber probiotik, BAL
asal tembolok ayam memiliki keunggulan ekologis sebagai mikroba indigenous yang
telah beradaptasi dengan fisiologi unggas.
Tembolok
merupakan kompartemen awal saluran pencernaan unggas yang berfungsi sebagai
tempat penyimpanan pakan dan fermentasi awal. Dominasi Lactobacillus spp. pada tembolok
menciptakan lingkungan asam yang menghambat patogen. Meski potensinya besar,
keterbatasan teknologi formulasi menyebabkan probiotik BAL tembolok belum
diaplikasikan secara optimal di lapangan.
2. Tembolok Ayam sebagai Niche
Mikroba Probiotik
2.1 Research Gap Ekologi
Mikroba Tembolok Ayam
Tembolok ayam merupakan kompartemen
awal saluran pencernaan unggas yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara pakan dan lokasi fermentasi awal. Berbagai studi menunjukkan bahwa
mikrobiota tembolok didominasi oleh bakteri asam laktat (BAL), terutama dari
genus Lactobacillus, seperti L. reuteri, L. salivarius, L. johnsonii,
dan L. crispatus. Shokryazdan et al. (2017), Oakley et al.
(2014), dan Roto et al. (2016) melaporkan bahwa dominasi BAL di tembolok
berperan dalam pembentukan lingkungan asam (pH 4,0–5,5) yang menghambat
pertumbuhan patogen enterik sejak tahap awal pencernaan.
Studi
metagenomik berbasis 16S rRNA menunjukkan bahwa komposisi mikrobiota tembolok
relatif lebih stabil dibandingkan sekum dan ileum, terutama pada ayam yang
diberi pakan standar tanpa AGP (Oakley & Kogut, 2016; Xiao et al.,
2021). Stabilitas ini menjadikan tembolok sebagai sumber mikroba indigenous
yang ideal untuk dikembangkan sebagai probiotik unggas.
Meskipun
berbagai studi metagenomik telah mengonfirmasi dominasi bakteri asam laktat
(BAL) di tembolok ayam, sebagian besar penelitian masih bersifat deskriptif dan
belum mengaitkan dinamika ekologi mikroba tembolok dengan fungsi probiotik
spesifik yang relevan secara aplikatif. Mayoritas
studi fokus pada identifikasi taksonomi berbasis 16S rRNA, sementara hubungan
antara komposisi mikrobiota tembolok, aktivitas metabolik (misalnya produksi
asam organik dan bakteriosin), serta dampaknya terhadap kolonisasi usus distal
belum dievaluasi secara sistematis.
Selain itu, pengaruh faktor
eksternal seperti formulasi pakan, sistem pemeliharaan, dan status penggunaan
AGP terhadap stabilitas komunitas BAL tembolok masih jarang dianalisis secara
komparatif lintas studi. Akibatnya, potensi tembolok sebagai sumber probiotik
unggas berbasis mikroba indigenous belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam desain
probiotik yang berbasis ekologi mikroba (ecology-driven probiotic design).
Kesenjangan ini menunjukkan
perlunya pendekatan yang mengintegrasikan analisis ekologi mikroba tembolok
dengan karakterisasi fungsional isolat sebagai kandidat probiotik unggas.
2.2 Research Gap BAL
Tembolok sebagai Host-Specific Probiotic
BAL asal tembolok memiliki
keunggulan ekologis berupa adaptasi fisiologis terhadap suhu tubuh unggas,
komposisi pakan, dan dinamika pH saluran cerna. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa isolat BAL tembolok memiliki kemampuan adhesi lebih tinggi pada sel
epitel usus ayam dibandingkan isolat non-indigenous (Jin et al., 1997;
Musikasang et al., 2009; Arsi et al., 2015).
Selain itu, BAL tembolok diketahui
menghasilkan metabolit bioaktif seperti asam laktat, asam asetat, hidrogen
peroksida, dan bakteriosin yang efektif menekan Salmonella spp., Escherichia
coli, dan Clostridium perfringens secara in vitro. Namun,
efektivitas in vivo sering kali lebih rendah akibat penurunan viabilitas
selama perjalanan melalui saluran cerna, sehingga memerlukan teknologi
formulasi lanjutan.
Walaupun sejumlah penelitian
melaporkan bahwa BAL asal tembolok memiliki kemampuan adhesi dan aktivitas
antagonistik yang lebih baik dibandingkan isolat non-indigenous, sebagian besar
bukti tersebut masih berasal dari uji in vitro dan belum konsisten
direplikasi pada skala in vivo. Tidak banyak studi yang secara langsung
membandingkan kinerja isolat BAL tembolok vs isolat komersial dalam formulasi
dan kondisi pemeliharaan yang identik.
Lebih jauh, mekanisme molekuler
yang mendasari keunggulan host-specificity BAL tembolok—seperti ekspresi
protein adhesin, interaksi dengan mukin usus, dan respons imun lokal—masih
kurang dieksplorasi. Tantangan lain adalah rendahnya viabilitas dan daya
kolonisasi isolat unggulan saat diaplikasikan dalam bentuk konvensional, yang
menyebabkan potensi biologisnya tidak terefleksikan secara optimal di lapangan.
Kesenjangan ini menegaskan perlunya inovasi
teknologi formulasi yang mampu mempertahankan keunggulan ekologis BAL tembolok
hingga mencapai lokasi target di saluran pencernaan.
3.
Mekanisme Kerja Probiotik Unggas dan Tantangan Aplikasi Konvensional
3.1 Research
Gap Mekanisme Kerja Probiotik
Probiotik
unggas bekerja melalui beberapa mekanisme utama, yaitu competitive exclusion,
produksi senyawa antimikroba, peningkatan integritas mukosa usus, serta
modulasi sistem imun. Studi in vitro oleh Tejero-Sariñena et al.
(2012), Zhang et al. (2016), dan Peng et al. (2020) menunjukkan bahwa
BAL mampu menghambat adhesi patogen pada sel epitel melalui kompetisi reseptor.
Secara in
vivo, mekanisme ini dikonfirmasi oleh peningkatan tinggi vili, rasio
vili:kript, serta penurunan kolonisasi patogen pada ayam broiler yang diberi
probiotik (Mountzouris et al., 2015; Abd El-Hack et al., 2020;
Gadde et al., 2023). Namun, konsistensi hasil sangat dipengaruhi oleh stabilitas
dan dosis bakteri hidup yang mencapai usus.
Mekanisme
kerja probiotik unggas telah dijelaskan secara luas, mencakup competitive
exclusion, modulasi imun, dan perbaikan morfologi usus. Namun, sebagian besar kajian
mekanistik tidak mempertimbangkan pengaruh sistem penghantaran (delivery
system) terhadap ekspresi efek biologis tersebut. Dengan kata lain, mekanisme
probiotik sering dianalisis seolah-olah bakteri selalu mencapai usus dalam
kondisi hidup dan aktif, yang tidak mencerminkan kondisi aplikasi lapangan.
Selain itu, keterkaitan antara
dosis efektif probiotik, tingkat kelangsungan hidup bakteri, dan respons
biologis inang masih belum terstandarisasi, sehingga menyulitkan replikasi dan
perbandingan antarstudi.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa
pemahaman mekanisme kerja probiotik unggas perlu dikaji ulang dengan
mempertimbangkan faktor viabilitas dan teknologi penghantaran bakteri hidup.
3.2 Research Gap Kesenjangan
In Vitro–In Vivo
Berbagai penelitian in vitro
menunjukkan bahwa isolat BAL unggas memiliki toleransi pH asam dan empedu yang
baik. Namun, uji in vivo sering menunjukkan penurunan efektivitas akibat
kematian bakteri selama penyimpanan dan proses pencernaan (Kailasapathy, 2002;
Tripathi & Giri, 2014; Markowiak & Śliżewska, 2018). Kesenjangan antara
hasil in vitro dan in vivo inilah yang menjadi tantangan utama
aplikasi probiotik unggas konvensional.
Perbedaan signifikan antara hasil
uji in vitro dan in vivo merupakan salah satu tantangan terbesar dalam
pengembangan probiotik unggas. Sebagian besar isolat BAL menunjukkan toleransi
pH dan empedu yang baik secara in vitro, tetapi gagal mempertahankan viabilitas
dan efektivitas biologisnya pada uji in vivo. Hal ini menunjukkan bahwa model
in vitro yang digunakan saat ini belum sepenuhnya merepresentasikan
kompleksitas kondisi saluran pencernaan unggas.
Lebih lanjut, sedikit penelitian
yang secara eksplisit dirancang untuk menjembatani kesenjangan in vitro–in vivo
melalui pendekatan teknologi formulasi, sehingga kegagalan probiotik sering
disalahartikan sebagai kelemahan isolat, bukan keterbatasan sistem
penghantarannya.
Kesenjangan ini menggarisbawahi kebutuhan
mendesak akan pendekatan teknologi yang mampu menerjemahkan potensi in vitro
menjadi efektivitas in vivo yang konsisten.
4. Nanoteknologi dalam Pengembangan
Probiotik Unggas
4.1 Research Gap Prinsip
Nanoenkapsulasi
Nanoenkapsulasi merupakan teknik
pelapisan mikroorganisme hidup dalam matriks nanopartikel untuk melindungi dari
stres lingkungan dan memungkinkan pelepasan terkontrol. Anal &
Singh (2007), de Vos et al. (2010), dan Silva et al. (2020)
menunjukkan bahwa nanoenkapsulasi secara signifikan meningkatkan viabilitas
probiotik selama penyimpanan dan paparan pH lambung simulasi.
Meskipun
nanoenkapsulasi telah terbukti meningkatkan viabilitas probiotik pada berbagai
sistem pangan dan kesehatan manusia, aplikasinya pada probiotik unggas—terutama
BAL asal tembolok ayam—masih sangat terbatas. Sebagian besar studi menggunakan isolat probiotik
komersial atau non-indigenous, sehingga potensi sinergi antara host-specific
probiotic dan nanoenkapsulasi belum dieksplorasi secara mendalam.
Selain itu, mekanisme pelepasan
terkontrol probiotik nanoenkapsulasi di saluran cerna unggas masih jarang
dikaji secara fisiologis, khususnya terkait perbedaan transit time dan pH
antarsegmen saluran pencernaan unggas.
Kesenjangan ini membuka peluang
penelitian untuk mengoptimalkan nanoenkapsulasi yang dirancang spesifik bagi
fisiologi unggas.

Gambar 1. Sekema Pengembangan Probiotik
Unggas Berbasis Nanoteknologi Menggunakan Bakteri Asal tembolok Ayam
4.2 Research Gap Sistem dan
Bahan Nanoenkapsulasi
Biopolimer food-grade
seperti kitosan–alginat, whey protein–alginat, dan nanostructured lipid
carriers (NLC) banyak digunakan karena sifat biokompatibel dan
biodegradabelnya. Studi Wang et al. (2021), Zhang et al. (2023), dan
Rahman et al. (2024) menunjukkan bahwa sistem NLC memberikan
perlindungan optimal terhadap stres oksidatif dan termal, serta meningkatkan
pelepasan bakteri di usus halus.
Berbagai biopolimer food-grade
telah digunakan dalam nanoenkapsulasi probiotik, namun pemilihan bahan masih
didominasi oleh pertimbangan teknologi, bukan interaksi biologis dengan mikroba
dan inang. Masih sedikit studi yang mengevaluasi bagaimana jenis matriks nano
memengaruhi viabilitas, kemampuan adhesi, dan fungsi imunomodulator probiotik
unggas secara in vivo.
Selain itu, aspek keamanan jangka
panjang, biodegradasi, dan potensi akumulasi nanopartikel pada unggas serta
implikasinya terhadap keamanan pangan manusia masih belum banyak dilaporkan.
Kesenjangan ini menunjukkan perlunya
pendekatan seleksi bahan nanoenkapsulasi berbasis keamanan, efektivitas
biologis, dan prinsip One Health.
4.3 Research
Gap Metode Nanoenkapsulasi dan Karakterisasi
Metode ionic
gelation banyak digunakan karena prosesnya sederhana dan tidak memerlukan
pelarut organik berbahaya. Sebaliknya, spray drying berbasis nanoemulsi
lebih sesuai untuk skala industri meskipun berisiko menurunkan viabilitas jika
tidak dioptimalkan. Karakterisasi nanopartikel melalui DLS, SEM/TEM, dan uji
pelepasan simulasi saluran cerna menjadi parameter kunci dalam evaluasi kualitas
produk.
Walaupun berbagai metode
nanoenkapsulasi telah dikembangkan, belum ada standar metodologi yang secara
khusus dioptimalkan untuk probiotik unggas. Perbandingan antar-metode sering
kali hanya didasarkan pada ukuran partikel dan viabilitas awal, tanpa
mengaitkannya dengan kinerja biologis jangka panjang pada unggas hidup.
Selain itu, hubungan antara
parameter fisik nanopartikel (ukuran, muatan permukaan, efisiensi enkapsulasi)
dan outcome biologis in vivo masih belum terelucidasi secara
komprehensif.
Kesenjangan ini menuntut integrasi
karakterisasi fisik nanopartikel dengan evaluasi biologis fungsional.
5. Evaluasi Biologis Probiotik
Nanoenkapsulasi
5.1 Research Gap Evaluasi In
Vitro
Berbagai studi in vitro menunjukkan
bahwa probiotik nanoenkapsulasi memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap pH 2–3
dan garam empedu dibandingkan probiotik non-enkapsulasi (Cook et al.,
2012; Silva et al., 2020; Wang et al., 2021). Selain
itu, aktivitas antagonistik terhadap patogen tetap terjaga pasca-enkapsulasi.
Meskipun uji in
vitro menunjukkan peningkatan ketahanan probiotik nanoenkapsulasi, sebagian
besar studi masih menggunakan model uji statis yang tidak merepresentasikan
dinamika saluran cerna unggas. Selain itu, korelasi kuantitatif antara hasil
uji in vitro dan performa in vivo masih jarang dianalisis secara
sistematis.
Kesenjangan ini menekankan perlunya
pengembangan model in vitro yang lebih prediktif terhadap kondisi in vivo
unggas.
5.2 Research Gap Evaluasi In
Vivo
Uji in vivo pada ayam
broiler menunjukkan bahwa probiotik nanoenkapsulasi meningkatkan pertambahan
bobot badan, memperbaiki FCR, dan menurunkan prevalensi Salmonella di
usus (Zhang et al., 2023; Rahman et al., 2024). Efek ini lebih
konsisten dibandingkan probiotik konvensional, menunjukkan keunggulan nyata
nanoenkapsulasi dalam menjembatani kesenjangan in vitro–in vivo.
Uji in vivo probiotik
nanoenkapsulasi pada unggas masih relatif terbatas dan umumnya berfokus pada
parameter performa produksi, seperti pertambahan bobot badan dan FCR. Parameter
mikrobiota usus, ekspresi gen imun, serta dampak jangka panjang terhadap
kesehatan usus dan resistensi penyakit masih belum banyak dieksplorasi.
Kesenjangan
ini menunjukkan perlunya evaluasi in vivo yang lebih komprehensif dan
multidimensional.
5.3 Research Gap Implikasi
Biologis dan Kesehatan Usus
Peningkatan tinggi vili, ekspresi
mukin, serta kadar IgA mukosal yang lebih tinggi pada kelompok nanoenkapsulasi
menunjukkan bahwa teknologi ini tidak hanya meningkatkan viabilitas bakteri,
tetapi juga efektivitas biologisnya secara fungsional.
Meskipun beberapa studi melaporkan
perbaikan morfologi usus dan respons imun, mekanisme hubungan sebab-akibat
antara sistem nanoenkapsulasi, viabilitas probiotik, dan outcome kesehatan usus
belum sepenuhnya dipahami. Selain itu, implikasi penggunaan probiotik
nanoenkapsulasi terhadap pengurangan penggunaan antibiotik dan kontribusinya
terhadap mitigasi AMR dalam kerangka One Health masih jarang dianalisis
secara eksplisit.
Kesenjangan ini membuka ruang penelitian
untuk menilai dampak strategis probiotik nanoenkapsulasi dalam sistem produksi
unggas berkelanjutan.
6.
Implikasi dan Perspektif One Health
Integrasi
bakteri indigenous unggas dengan nanoteknologi memperkuat konsep host-specific
probiotic dan mendukung produksi unggas bebas AGP. Pendekatan ini sejalan
dengan prinsip One Health karena berkontribusi terhadap pengendalian resistensi
antimikroba, keamanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Ringkasan
penelitian mutakhir terkait pengembangan probiotik unggas berbasis
nanoteknologi disajikan pada Tabel 1. Tabel tersebut menunjukkan bahwa meskipun
nanoenkapsulasi probiotik telah banyak diteliti, pemanfaatan bakteri asam
laktat indigenous asal tembolok ayam sebagai host-specific probiotic masih
sangat terbatas, sehingga membuka peluang penelitian lebih lanjut.
Tabel 1. Ringkasan Penelitian Mutakhir
Pengembangan Probiotik Unggas Berbasis Nanoteknologi
|
No
|
Peneliti & Tahun
|
Sumber Isolat Probiotik
|
Sistem Nanoenkapsulasi
|
Metode
|
Parameter Utama
|
Temuan Kunci
|
Keterbatasan
|
|
1
|
Anal & Singh (2007)
|
Lactobacillus spp.
(komersial)
|
Alginat–kitosan
|
Ionic gelation
|
Viabilitas, pH, empedu
|
Nanoenkapsulasi
meningkatkan ketahanan terhadap pH asam
|
Belum spesifik unggas
|
|
2
|
de Vos et al. (2010)
|
Probiotik pangan
|
Biopolimer food-grade
|
Beragam
|
Stabilitas & pelepasan
|
Pelepasan terkontrol meningkatkan
bioavailabilitas
|
Fokus pangan manusia
|
|
3
|
Shokryazdan et al. (2017)
|
Saluran cerna ayam
|
Tanpa nano
|
Konvensional
|
Adhesi, antagonisme
|
BAL unggas efektif menekan patogen
|
Viabilitas rendah di lapangan
|
|
4
|
Markowiak & Śliżewska (2018)
|
Probiotik ternak
|
Tanpa nano
|
Review
|
Kesehatan usus
|
Probiotik meningkatkan performa unggas
|
Tidak membahas teknologi formulasi
|
|
5
|
Silva et al. (2020)
|
BAL pangan & ternak
|
Nanoalginat, NLC
|
Emulsion & gelation
|
Ukuran partikel, viabilitas
|
Nanoteknologi meningkatkan stabilitas
probiotik
|
Minim uji
in vivo unggas
|
|
6
|
Wang et al. (2021)
|
Lactobacillus spp.
|
NLC
|
Nanoemulsi
|
Viabilitas & penyimpanan
|
Stabilitas probiotik meningkat signifikan
|
Sumber bakteri non-indigenous
|
|
7
|
Abd El-Hack et al. (2022)
|
Probiotik unggas
|
Mikro–nano carrier
|
Spray drying
|
Performa & FCR
|
Probiotik meningkatkan FCR ayam broiler
|
Nano belum spesifik
|
|
8
|
Zhang et al. (2023)
|
BAL unggas
|
Kitosan–alginat nano
|
Ionic gelation
|
Mikrobiota & IgA
|
Nanoenkapsulasi meningkatkan respon imun
|
Skala laboratorium
|
|
9
|
Rahman et al. (2024)
|
Saluran cerna ayam
|
Nanolipid carrier
|
Emulsion
|
Patogen enterik
|
Penurunan Salmonella signifikan
|
Belum spesifik tembolok
|
|
10
|
Potensi riset ini
|
BAL asal tembolok ayam
|
Biopolimer nano food-grade
|
Nanoenkapsulasi terintegrasi
|
Viabilitas, kolonisasi, performa, AMR
|
Host-specific probiotic lebih stabil &
efektif
|
Perlu
validasi lapang skala besar
|
7. Kesimpulan
Pengembangan probiotik unggas berbasis nanoenkapsulasi
bakteri asal tembolok ayam merupakan pendekatan inovatif dan prospektif.
Teknologi ini berpotensi menghasilkan probiotik generasi baru yang lebih
stabil, efektif, dan aman sebagai alternatif AGP dalam industri perunggasan
modern.
Daftar
Pustaka
- FAO/WHO. (2002). Guidelines
for the evaluation of probiotics in food. FAO/WHO Working Group
Report.
- Fuller, R. (1989). Probiotics
in man and animals. Journal of Applied Bacteriology, 66, 365–378.
- Angelakis, E. (2017). Weight
gain by gut microbiota manipulation in productive animals. Microbial
Pathogenesis, 106, 162–170.
- Mountzouris, K. C., et al.
(2015). Probiotic inclusion levels in poultry diets. Animal Nutrition,
1, 1–10.
- de
Vos, P., et al. (2010).
Encapsulation for preservation of functionality and targeted delivery of
bioactive food components. International Dairy Journal, 20,
292–302.
- Anal, A. K., & Singh, H.
(2007). Recent advances in microencapsulation of probiotics. Food
Science and Technology, 18, 240–251.
- Silva,
D. R., et al. (2020).
Nanotechnology-based delivery systems for probiotics. Trends in Food
Science & Technology, 99, 156–168.
- Wang, Y., et al. (2021).
Nanoencapsulation of probiotics for animal nutrition. Animal Feed
Science and Technology, 276, 114926.
- Markowiak, P., &
Śliżewska, K. (2018). The role of probiotics in animal nutrition. Animals,
8(12), 1–21.
- Shokryazdan, P., et al.
(2017). Probiotics: From isolation to application in poultry. Journal
of Animal Physiology and Animal Nutrition, 101, 219–236.
#ProbiotikUnggas
#NanoteknologiPakan
#AGPFreePoultry
#KesehatanUsusAyam
#OneHealthVet