Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Pencegahan Pandemi Zoonosis. Show all posts
Showing posts with label Pencegahan Pandemi Zoonosis. Show all posts

Friday, 14 March 2025

Ekosistem Sehat, Dunia Selamat! Senjata Rahasia Cegah Pandemi yang Selama Ini Terabaikan.

 

Dalam tiga dekade terakhir, dunia diguncang oleh kemunculan penyakit menular baru yang menyebar lintas spesies dan wilayah, mematikan ribuan orang, sekaligus mengguncang ekonomi global. Dari Ebola hingga SARS, dari HIV/AIDS hingga flu burung, ancaman ini kian nyata dan tak mengenal batas negara. Fakta mengejutkan menunjukkan bahwa hampir tiga perempat penyakit menular baru berasal dari hewan, terutama satwa liar. Di tengah ancaman yang terus berkembang, muncul pendekatan baru yang menjanjikan: medik konservasi, sebuah paradigma yang memadukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Pendekatan inilah yang mulai dilirik sebagai kunci untuk melindungi dunia dari pandemi berikutnya.


Pendahuluan

 

Dalam tiga dekade terakhir, penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia. Penyakit-penyakit ini seringkali menyebar ke wilayah yang lebih luas, berpindah dari satu spesies ke spesies lain, meningkat dalam keparahan, atau bahkan mengalami perubahan pada cara mereka menyebabkan penyakit. Patogen penyebab penyakit ini juga bisa beradaptasi atau berevolusi, menciptakan tantangan baru dalam pengendaliannya.

 

Beberapa penyakit menular baru yang muncul, meskipun relatif hanya menyerang sebagian kecil populasi, menimbulkan ancaman besar karena tingkat fatalitas yang tinggi dan belum ada vaksin atau terapi yang efektif. Penyakit seperti Ebola, encephalitis Nipah, atau demam Lassa telah menyebabkan kematian yang signifikan. Di sisi lain, HIV/AIDS dan virus influenza telah menjadi pandemi besar, menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa hampir 75% dari penyakit menular baru muncul bersifat zoonosis, yang berarti penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia. Upaya untuk melawan kemunculan penyakit-penyakit ini telah menjadi fokus penting dalam kesehatan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Namun, tantangan besar tetap ada, terutama karena banyaknya patogen yang belum teridentifikasi atau muncul dengan cara yang tak terduga.

 

Data global menunjukkan bahwa ada sekitar 50.000 spesies vertebrata, masing-masing dengan sekitar 20 jenis virus yang bersifat endemik. Dari hampir satu juta virus yang ada, 99,8% di antaranya masih menunggu untuk ditemukan. Potensi patogen ini bisa memicu zoonosis baru di masa mendatang. Setiap tahun, wabah baru yang disebabkan oleh patogen zoonotik terus bermunculan dengan dampak besar terhadap kesehatan manusia dan ekonomi global. Sebagai contoh, pada 2003, virus SARS yang berasal dari satwa liar menewaskan sekitar 700 orang dan menyebabkan kerugian ekonomi global hingga 50 milyar dolar.

 

Faktor-faktor sosio-ekonomi, lingkungan, dan ekologi dianggap sebagai pendorong utama kemunculan penyakit-penyakit ini. Meskipun belum ada penelitian komparatif yang mendalam tentang hubungan antara faktor-faktor ini, analisis terhadap 335 penyakit menular baru yang muncul antara tahun 1940 hingga 2004 menunjukkan bahwa penyebaran penyakit ini terjadi secara acak, tanpa pola yang jelas. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi wilayah-wilayah dunia yang sering menjadi sumber munculnya penyakit baru, yang sering disebut sebagai "hotspot." Ironisnya, meskipun wilayah-wilayah ini menjadi sumber penyakit, upaya pengawasan dan pelaporan di daerah tersebut seringkali sangat kurang.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian para peneliti juga semakin berkembang pada penyakit menular baru yang ditularkan oleh satwa liar, baik yang hidup di darat maupun laut, serta penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk. Penyakit menular yang ditularkan oleh satwa liar, yang tercatat meningkat pesat sejak tahun 1980-an, kini menjadi salah satu ancaman terbesar. Statistik menunjukkan bahwa 61,4% penyakit menular baru muncul ditularkan oleh hewan, dan 75,3% dari jumlah tersebut berasal dari satwa liar.

 

Proses perubahan yang terjadi pada penyakit-penyakit ini melibatkan banyak faktor, mulai dari peningkatan insidensi penyakit, perluasan wilayah geografis penyebaran, hingga perubahan virulensi patogen. Semua ini dipicu oleh perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia, seperti deforestasi, pertanian, urbanisasi, dan perubahan perilaku manusia. Perubahan ini menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi patogen untuk berkembang dan menyebar.

 

Oleh karena itu, pendekatan baru dalam penelitian penyakit menular baru muncul sangat dibutuhkan. Para peneliti kini semakin fokus pada pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mendasari kemunculan penyakit ini, serta mengembangkan model-model yang dapat memprediksi penyebarannya. Salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan adalah medik konservasi, yang memadukan ilmu kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang disebabkan oleh degradasi ekosistem.

 

Agenda Baru dan Perspektif Ke Depan

 

Konsep medik konservasi semakin diterima di kalangan ilmuwan dan praktisi kesehatan global, sebagai respon terhadap krisis biodiversitas dan perubahan iklim yang memengaruhi kesehatan manusia dan hewan. Disiplin ini melihat hubungan yang erat antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Medik konservasi menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman kesehatan global yang semakin kompleks.

 

Selain itu, konsep ecohealth, yang muncul pada akhir 1970-an, juga mulai diperkenalkan dalam penelitian kesehatan hewan. Ecohealth melihat bagaimana perubahan dalam ekosistem dapat memengaruhi kesehatan manusia dan hewan. Pendekatan ini menggabungkan berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran hewan, ekologi, ekonomi, dan ilmu sosial, untuk memahami dampak perubahan ekosistem terhadap kesehatan.

 

Dengan memasukkan medik konservasi dan ecohealth ke dalam penelitian dan kurikulum pendidikan kedokteran hewan, para dokter hewan akan lebih siap menghadapi tantangan penyakit menular baru yang muncul. Pendekatan ini membantu dokter hewan untuk memahami lebih dalam tentang kesehatan ekosistem dan dampak perubahan lingkungan terhadap penyebaran penyakit. Sebagai hasilnya, para profesional veteriner dapat berperan lebih aktif dalam melindungi kesehatan global melalui pendekatan yang lebih holistik dan transdisipliner.

 

Melihat perkembangan ini, sudah saatnya profesi dokter hewan mempersiapkan diri untuk memahami lebih dalam tentang paradigma kesehatan ekosistem dan dampak perubahan lingkungan. Pemahaman ini akan memberikan mereka alat yang lebih efektif dalam menghadapi ancaman penyakit menular baru, sekaligus mengintegrasikan prinsip-prinsip dasar kesehatan ekosistem dalam penelitian dan pendidikan kedokteran hewan. Dengan demikian, kita dapat memastikan masa depan yang lebih sehat dan aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan.

 

REFERENSI

 

1.Daszak P., Tabor G.M., Kilpatrick A.M., Epstein J., and Plowright R. (2004). Conservation Medicine and a New Agenda for Emerging Diseases. Ann. N.Y. Acad. Sci. 1026, 1-11.

 

2.Aguirre A.A. and Gomez A. (2009). Essential veterinary education in conservation medicine and ecosystem health: a global perspective. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz., 28(2), 597-603.

 

3.Jones K.E., Patel N.G., Levy M.A., Storeygard A., Balk D., Gittleman J.L. and Daszak P. (2008). Global trends in emerging infectious diseases. Nature 451, 990-993.

 

4.Bazzani R., Noronha L. and Sanchez A. (2009). An Ecosystem Approach to Human Health: Building a transdisciplinary and participatory research framework for the prevention of communicable diseases. http://www.globalforumhealth.org/forum8/forum8-cdrom/OralPre- sentations/Sanchez%20Bain20%%20F8-165.doc

 

5.Walter-Toews D. (2009). Commentary. Eco-Health: A primer for veterinarians. Can. Vet. J., Vol. 50, 519-521.

 

6.Walter-Toews D. (2009). Food, Global Environmental Change and Health: EcoHealth to the Rescue? McGill Journal of Medicine, 12(1), 85-89.

 

SUMBER

Blogvet. 5 Januari 2011

#PencegahanPandemi 

#PenyakitZoonosis 

#OneHealth 

#KesehatanEkosistem 

#KonservasiSatwaLiar

Friday, 30 September 2016

Indonesia Melawan Ancaman Pandemi Baru: Strategi Nasional Hadapi Penyakit Zoonosis Sebelum Terlambat!

Seiring dengan meningkatnya interaksi antara manusia, hewan dan lingkungan, ancaman pandemi baru bukan lagi tentang “jika terjadi”, karena sejarah mencatat kemunculan penyakit-penyakit zoonosis baru dari masa ke masa. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah “kapan dan bagaimana penyakit tersebut terjadi”.  Globalisasi yang mempercepat pergerakan lintas batas hewan dan manusia,  kegiatan intensifikasi pertanian, dan meningkatnya permintaan akan ternak yang mengubah ekosistem menjadi tantangan tersendiri bagi banyak negara, tak terkecuali bagi Indonesia yang diidentifikasi sebagai salah satu kantung atau hotspot bagi penyakitpenyakit menular baru di Asia.


Mengingat besarnya ancaman penyakit menular baru (emerging) dan yang muncul kembali (re-emerging) yang dihadapi Indonesia, tahun 2016 menandai arah gerak baru dari kemitraan Pemerintah Indonesia dengan FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD).  Bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, dan dengan dukungan dana dari United States Agency for International Development (USAID), FAO ECTAD meluncurkan Program Emerging Pandemic Threats  (EPT-2). Melibatkan para pemangku kepentingan lintas sektor, Program EPT-2 hadir untuk memerangi penyakit-penyakit yang berasal dari hewan yang dapat mengancam kesehatan manusia – langsung di sumbernya.


Dalam program yang akan berjalan selama empat tahun ke depan ini, FAO ECTAD akan mendampingi Pemerintah Indonesia dalam mendeteksi penyakit dengan lebih cepat, menindaklanjuti dengan tepat, dan memitigasi efeknya pada manusia dan hewan, ketahan dan keselamatan pangan. 


“Harapan saya agar Program EPT2 di Indonesia dapat berjalan dengan baik, karena kemungkinan terjadinya suatu pandemi dipengaruhi banyak faktor pemicunya, sehingga dibutuhkan koordinasi lintas sektoral, “ ujar drh. I Ketut Diarmita, MP., Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.


Program ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015 – 2019 tentang Peningkatan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, dan Rencana Strategis Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (2015-2019) pada sasaran mengenai pengamananan dan penanganan penyakit hewan baru (new emerging) dan yang muncul kembali (re-emerging); dan penguatan sistem surveilans penyakit dan sistem informasi kesehatan hewan nasional.


Hampir 75% dari penyakit emerging dan re-emerging yang menjangkiti manusia di abad 21 ini adalah zoonosis atau berasal dari hewan. Beberapa penyakit yang sudah menjadi ancaman yang nyata saat ini antara lain HIV/AIDS, Severe acute respiratory syndrome  (SARS), Middle East respiratory syndrome Corona Virus (MERS-CoV), virus flu burung H5N1, dan yang paling terbaru adalah virus Zika.


“Cepatnya penyakit-penyakit ini timbul dan menyebar dengan luas menjadi perhatian khusus bagi sektor kesehatan masyarakat, ekonomi dan pembangunan global. Program EPT-2 mendukung Indonesia untuk bersiap siaga menghadapi penyakitpenyakit zoonosis menular baru dan yang muncul kembali,” ujar Dr. James Mc Grane, Team Leader FAO ECTAD di Indonesia.

Sumber :

FAO ECTAD Indonesia News Letter, Edisi 01, Aug – Nov 2016.

#PandemiBaru 
#Zoonosis 
#OneHealth 
#KesehatanHewan 
#IndonesiaSiaga