Reverse
Zoonosis Virus Hepatitis B Manusia pada Primata Liar: Bukti Spillover
Antropogenik di Amazon Brasil dan Implikasinya bagi Pendekatan One Health.
ABSTRAK
Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas
manusia telah meningkatkan risiko perpindahan patogen lintas spesies. Salah
satu fenomena yang semakin mendapat perhatian adalah reverse zoonosis
atau anthroponosis, yaitu penularan patogen dari manusia ke satwa liar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberadaan Virus Hepatitis B (HBV)
manusia pada primata Dunia Baru (New World primates) yang hidup di
berbagai kawasan Amazon Brasil dengan tingkat gangguan antropogenik yang
berbeda. Sebanyak 88 individu primata liar yang mewakili 28 spesies diperiksa
menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi DNA
HBV. Sampel yang positif kemudian dianalisis secara molekuler melalui
sekuensing dan kajian filogenetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
prevalensi HBV mencapai 35% pada primata yang hidup di wilayah yang mengalami
deforestasi dan aktivitas manusia yang tinggi, sedangkan tidak ditemukan
infeksi pada primata yang berasal dari kawasan hutan primer yang relatif tidak
terganggu. Analisis genetik mengungkapkan bahwa genotipe HBV yang ditemukan
pada primata identik dengan galur HBV yang beredar pada populasi manusia
setempat. Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa degradasi lingkungan dan
peningkatan kontak manusia-satwa liar telah memfasilitasi terjadinya spillover
patogen manusia ke satwa liar. Selain menimbulkan kekhawatiran terhadap
kesehatan konservasi primata, terbentuknya reservoir liar HBV juga berpotensi
meningkatkan risiko spillback ke manusia di masa mendatang. Penelitian
ini menegaskan pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan
manusia, hewan, dan lingkungan dalam upaya pengendalian penyakit infeksi.
Kata Kunci:
reverse zoonosis, Virus Hepatitis B, primata Dunia Baru, deforestasi Amazon,
spillover antropogenik, One Health.
1. PENDAHULUAN
Virus
Hepatitis B (HBV) merupakan salah satu patogen manusia yang paling penting
secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa ratusan
juta orang hidup dengan infeksi HBV kronis yang dapat berkembang menjadi
sirosis hati, gagal hati, maupun karsinoma hepatoseluler (WHO, 2024). Meskipun
program vaksinasi telah berhasil menurunkan insiden penyakit di berbagai
negara, HBV masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan.
Selama
beberapa dekade, penelitian penyakit infeksi lebih banyak berfokus pada
zoonosis, yaitu perpindahan patogen dari hewan ke manusia. Namun, dalam
beberapa tahun terakhir perhatian ilmiah mulai beralih kepada fenomena
sebaliknya yang dikenal sebagai reverse zoonosis atau anthroponosis,
yakni perpindahan agen infeksi dari manusia ke hewan (Messenger et al., 2014). Fenomena ini menjadi semakin penting karena
aktivitas manusia yang mengubah ekosistem alami meningkatkan peluang kontak
antara manusia dan satwa liar.
Amazon Brasil merupakan salah satu wilayah dengan tingkat
keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun, kawasan ini mengalami tekanan
besar akibat deforestasi, pembangunan jalan, penebangan hutan, pertambangan,
dan ekspansi pertanian (Fearnside, 2017). Aktivitas tersebut menyebabkan
fragmentasi habitat dan meningkatkan interaksi antara manusia, hewan domestik,
dan satwa liar.
Primata non-manusia (non-human primates; NHP)
merupakan kelompok satwa yang sangat rentan terhadap infeksi patogen manusia
karena memiliki kedekatan filogenetik dengan manusia (Gilardi et al., 2015).
Berbagai patogen manusia telah dilaporkan menginfeksi primata liar, termasuk
virus pernapasan, virus campak, virus herpes, bakteri enterik, dan parasit
usus. Akan tetapi, bukti mengenai infeksi HBV manusia pada primata Dunia Baru
yang hidup bebas di alam masih sangat terbatas.
Keberadaan HBV pada populasi primata liar memiliki
implikasi yang luas. Selain berpotensi mengancam kesehatan satwa liar, infeksi
tersebut dapat menyebabkan terbentuknya reservoir satwa liar yang mampu
mempertahankan sirkulasi virus dalam jangka panjang. Reservoir
tersebut berpotensi menjadi sumber infeksi ulang (spillback) ke manusia
maupun hewan lain.
Penelitian
ini bertujuan untuk:
- Menentukan
prevalensi HBV pada primata liar di Amazon Brasil.
- Membandingkan
tingkat infeksi antara kawasan yang mengalami gangguan antropogenik dan
kawasan hutan primer yang relatif utuh.
- Mengidentifikasi
hubungan genetik antara HBV yang ditemukan pada primata dengan galur HBV
yang beredar pada manusia setempat.
- Mengevaluasi
implikasi konservasi dan kesehatan masyarakat dari terjadinya reverse
zoonosis HBV.
2. METODOLOGI
2.1 Desain Penelitian
Penelitian
ini menggunakan desain observasional potong lintang (cross-sectional study)
dengan pendekatan epidemiologi molekuler untuk mendeteksi keberadaan HBV pada
populasi primata liar.
2.2 Lokasi Penelitian
Pengambilan
sampel dilakukan di berbagai wilayah Amazon Brasil yang dibagi menjadi dua
kategori lingkungan:
a. Kawasan Terganggu oleh Aktivitas Manusia
Wilayah
ini dicirikan oleh:
- Tingkat deforestasi yang
tinggi.
- Kehadiran jalan dan
infrastruktur.
- Aktivitas pertanian dan
peternakan.
- Kedekatan dengan permukiman
manusia.
b.
Kawasan Hutan Primer yang Relatif Utuh
Wilayah
ini memiliki karakteristik:
- Tutupan
hutan yang masih baik.
- Kepadatan penduduk manusia
yang sangat rendah.
- Minim
aktivitas eksploitasi sumber daya alam.
- Kontak manusia-satwa liar yang
terbatas.
2.3 Pengumpulan
Sampel
Sebanyak
88 individu primata liar yang mewakili 28 spesies dikumpulkan sebagai sampel
penelitian.
Sampel
biologis yang diperoleh meliputi:
- Darah perifer.
- Jaringan hati.
Seluruh
prosedur pengambilan sampel dilakukan sesuai standar etika penelitian satwa
liar dan prinsip kesejahteraan hewan.
2.4 Deteksi HBV
DNA virus diekstraksi menggunakan protokol standar
laboratorium virologi molekuler.
Deteksi HBV dilakukan melalui metode PCR yang menargetkan
wilayah genom virus yang konservatif. Hasil PCR divisualisasikan menggunakan
elektroforesis gel agarosa.
2.5 Analisis Genetik
Sampel yang menunjukkan hasil PCR positif menjalani:
- Sekuensing DNA.
- Analisis filogenetik.
- Perbandingan dengan database
genotipe HBV manusia yang beredar di wilayah yang sama.
Pohon
filogenetik dibangun menggunakan metode Maximum Likelihood untuk
menentukan hubungan evolusioner antara isolat primata dan isolat manusia.
2.6 Analisis Data
Data
prevalensi dianalisis secara deskriptif.
Perbandingan
prevalensi antara kelompok lingkungan dilakukan menggunakan uji statistik yang
sesuai untuk menentukan hubungan antara tingkat gangguan antropogenik dan
kejadian infeksi HBV.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Prevalensi HBV pada Primata Liar
Dari 88 individu primata yang diperiksa, HBV terdeteksi
secara eksklusif pada kelompok yang hidup di wilayah dengan aktivitas manusia
yang tinggi.
Temuan
utama menunjukkan bahwa:
- Prevalensi
HBV mencapai 35% pada kawasan terganggu.
- Prevalensi HBV sebesar 0% pada
kawasan hutan primer yang relatif utuh.
Perbedaan
yang sangat mencolok ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara aktivitas
manusia dan keberadaan HBV pada primata liar.
Hasil
tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa perubahan
penggunaan lahan dan degradasi habitat meningkatkan peluang transmisi patogen
antarspesies (Daszak et al., 2020).
3.2 Bukti Reverse
Zoonosis
Tidak
ditemukannya HBV pada primata dari kawasan terpencil merupakan indikasi kuat
bahwa virus tersebut bukan bagian dari siklus alami satwa liar di wilayah
tersebut.
Sebaliknya,
tingginya prevalensi pada daerah yang mengalami gangguan manusia menunjukkan
bahwa virus kemungkinan besar berasal dari sumber antropogenik.
Beberapa mekanisme yang memungkinkan terjadinya penularan
meliputi:
- Kontaminasi sumber air oleh
limbah manusia.
- Paparan terhadap sampah
domestik.
- Kontak
langsung antara manusia dan primata.
- Interaksi
di daerah perbatasan antara hutan dan permukiman.
Temuan ini memperkuat konsep bahwa manusia dapat menjadi
sumber penting penyebaran penyakit pada satwa liar.
3.3 Kesesuaian Genotipe antara Manusia dan Primata
Analisis molekuler menunjukkan bahwa genotipe HBV yang
ditemukan pada primata identik dengan genotipe yang beredar pada manusia lokal.
Kesesuaian
genetik tersebut memberikan bukti yang sangat kuat bahwa:
- Virus
berasal dari populasi manusia setempat.
- Infeksi tidak berasal dari
reservoir satwa liar kuno.
- Terjadi transmisi lintas
spesies dalam periode yang relatif baru.
Temuan
ini konsisten dengan teori epidemiologi molekuler yang menyatakan bahwa
kemiripan genom yang tinggi merupakan indikator kuat adanya transmisi langsung
antarhost (Wolfe et al., 2007).
Gambar
1.
A. Hubungan filogenetik di antara semua genus primata
yang dipertimbangkan dalam penelitian ini berdasarkan penelitian Perelman dkk. (2011).
B. Peta wilayah utara Amerika
Selatan yang menunjukkan lokasi pengambilan sampel. Warna merah mewakili hutan
Amazon yang lebat dan warna hijau menunjukkan area terbuka, termasuk area
deforestasi antropogenik (sumber: NASA Observatory). Diagram lingkaran menunjukkan
persentase primata yang diambil sampelnya dan dinyatakan positif HBV di daerah
terpencil Sungai Japura (kiri) dan Amazon Barat Daya (kanan). Warna abu-abu
menunjukkan reaksi PCR negatif, dan warna merah menunjukkan reaksi PCR positif.
Setiap kelompok diagram lingkaran mewakili individu dalam genus primata yang
sesuai yang ditunjukkan di sebelah kiri pada bagian A.
3.4 Dampak terhadap
Konservasi Satwa Liar
Infeksi
HBV pada primata liar menimbulkan sejumlah kekhawatiran konservasi.
Pertama,
dampak klinis HBV terhadap primata Dunia Baru masih belum diketahui secara
pasti. Pada manusia, HBV dapat
menyebabkan hepatitis kronis dan kerusakan hati progresif.
Jika mekanisme patogenesis serupa terjadi pada primata,
maka infeksi ini dapat berkontribusi terhadap:
- Penurunan kesehatan individu.
- Gangguan reproduksi.
- Peningkatan mortalitas.
- Penurunan viabilitas populasi.
Penelitian histopatologi dan pemantauan jangka panjang
sangat diperlukan untuk memahami konsekuensi biologis infeksi tersebut.
3.5 Risiko Terbentuknya Reservoir Satwa Liar
Salah satu implikasi paling penting dari penelitian ini
adalah kemungkinan terbentuknya reservoir satwa liar baru bagi HBV.
Reservoir
satwa liar dapat:
- Mempertahankan
virus dalam jangka panjang.
- Menjadi sumber infeksi ulang
bagi manusia.
- Menyulitkan
upaya eliminasi HBV secara global.
Fenomena serupa telah diamati pada berbagai penyakit
infeksi lain yang berhasil beradaptasi pada populasi satwa liar setelah berasal
dari manusia.
3.6 Risiko Spillback ke Manusia
Beberapa spesies primata yang teridentifikasi positif HBV
diketahui sering diperdagangkan secara ilegal sebagai hewan peliharaan eksotik.
Kondisi ini menciptakan peluang terjadinya spillback,
yaitu perpindahan kembali patogen dari satwa liar ke manusia.
Risiko
tersebut menjadi lebih besar apabila:
- Virus mengalami mutasi adaptif
pada host baru.
- Terjadi
peningkatan replikasi virus dalam populasi primata.
- Kontak manusia dengan primata
meningkat melalui perdagangan ilegal satwa liar.
Oleh
karena itu, pengawasan kesehatan satwa liar perlu menjadi bagian integral dari
strategi pengendalian hepatitis B.
3.7 Implikasi One
Health
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak
dapat dipisahkan.
Deforestasi
yang menghilangkan penghalang ekologis alami telah menciptakan kondisi yang
memungkinkan perpindahan patogen dari manusia ke satwa liar.
Pendekatan One Health menjadi sangat relevan karena mampu
mengintegrasikan:
- Konservasi lingkungan.
- Kesehatan satwa liar.
- Kesehatan masyarakat.
- Pengendalian penyakit infeksi.
Investasi
dalam perlindungan habitat alami dapat memberikan manfaat ganda, yaitu menjaga
keanekaragaman hayati sekaligus mengurangi risiko munculnya penyakit infeksi
baru.
4. KESIMPULAN
Penelitian
ini memberikan bukti kuat bahwa Virus Hepatitis B manusia telah mengalami reverse
zoonosis ke populasi primata liar di Amazon Brasil. Tingkat prevalensi
sebesar 35% pada kawasan yang mengalami gangguan antropogenik dan tidak
ditemukannya infeksi pada kawasan hutan primer menunjukkan hubungan yang erat
antara degradasi lingkungan dan transmisi lintas spesies.
Analisis
filogenetik yang menunjukkan kesesuaian genotipe antara isolat primata dan
manusia memperkuat kesimpulan bahwa infeksi tersebut berasal dari populasi
manusia lokal. Temuan ini mengindikasikan bahwa aktivitas manusia tidak hanya
meningkatkan risiko zoonosis, tetapi juga dapat menciptakan reservoir baru bagi
patogen manusia pada satwa liar.
Pendekatan
One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan
sangat diperlukan untuk mencegah terbentuknya siklus penularan baru yang dapat
mengancam konservasi satwa liar maupun kesehatan masyarakat global. Penelitian
lanjutan diperlukan untuk memahami dampak klinis HBV pada primata Dunia Baru
dan mengevaluasi risiko spillback ke populasi manusia.
5. DAFTAR REFERENSI
Daszak,
P., Olival, K. J., & Li, H. (2020). A strategy to prevent future epidemics
similar to the 2019-nCoV outbreak. Biosafety and Health, 2(1), 6–8.
Fearnside,
P. M. (2017). Deforestation of the Brazilian Amazon. In Oxford Research
Encyclopedia of Environmental Science. Oxford University Press.
Gilardi,
K. V. K., Gillespie, T. R., Leendertz, F. H., Macfie, E. J., Travis, D. A.,
& Whittier, C. A. (2015). Best practice guidelines for health monitoring
and disease control in great ape populations. IUCN Species Survival
Commission, Gland, Switzerland.
Messenger,
A. M., Barnes, A. N., & Gray, G. C. (2014). Reverse zoonotic disease
transmission (zooanthroponosis): A systematic review of seldom-documented human
biological threats to animals. PLoS ONE, 9(2), e89055.
WHO.
(2024). Global Hepatitis Report 2024. World Health Organization, Geneva.
Wolfe,
N. D., Dunavan, C. P., & Diamond, J. (2007). Origins of major human
infectious diseases. Nature, 447(7142), 279–283.
World
Health Organization. (2024). Hepatitis B Fact Sheet. Geneva: WHO.
Jones,
K. E., Patel, N. G., Levy, M. A., Storeygard, A., Balk, D., Gittleman, J. L.,
& Daszak, P. (2008). Global trends in emerging infectious diseases. Nature,
451(7181), 990–993.
Plowright,
R. K., Reaser, J. K., Locke, H., Woodley, S. J., Patz, J. A., Becker, D. J.,
Oppler, G., Hudson, P. J., & Tabor, G. M. (2021). Land use-induced
spillover: A call to action to safeguard environmental, animal, and human
health. The Lancet Planetary Health, 5(4), e237–e245.
Kock,
R. A., Karesh, W. B., & Veas, F. (2020). Wildlife, biodiversity and the
evolving One Health paradigm. One Health, 9, 100103.
SUMBER:
Jean
P. Boubli, Hani R. El Bizri, Luan F. Botelho-Souza, Chrysoula Gubili,1 Stephen
J. Martin,1 Maisa da S. Arau´ jo, Tommy C. Burch, Mariluce R. Messias, Alcione
de O. dos Santos, Luiz S. Ozaki, Andre´ V. C. Pereira, Tony H. Katsuragawa, Ana
Maı´sa Passos-Silva, Luiz H. S. Gil, Izeni P. Farias, Juan M. V. Salcedo, and
Deusilene Vieira. 2026. First Report of Human Hepatitis B Virus (HBV) in Wild
Neotropical Primates. EcoHealth. https://doi.org/10.1007/s10393-026-01787-5
#HepatitisB
#ReverseZoonosis
#OneHealth
#PrimataAmazon
#KesehatanGlobal

No comments:
Post a Comment