Mangga Miyazaki yang diproduksi di Jepang telah dipublikasikan di TV Jepang pada tanggal 18 Juni 2007. Pada publikasi tersebut telah diceritakan kelezatan rasanya, kandungan gizinya sampai dengan bagaimana cara mengupasnya dalam suatu program yang menarik.
Setelah melihat tayangan tersebut ingin sekali mendapatkannya. Dalam waktu kurang dari satu jam telah dapat di peroleh di supermarket di wilayah Meguro-ku, Tokyo. Rasanya memang sangat manis, aromanya wangi meskipun wanginya tidak sekhas mangga Aromanis, bentuknya lonjong mencirikan bentuk asli buah mangga, warna kulitnya merah berbecak menarik, daging buahnya empuk dengan kandungan air yang cukup.
Sebuah mangga Miyazaki dikemas dalam satu kotak plastik seperti pada gambar diatas. Di supermarket tersebut mangga Miyazaki seberat 350 gram berharga 3.980 yen. Jadi harga per kilogramnya 11.371 yen atau 830.000 rupiah. Sedangkan harga mangga impor di Jepang bervariasi antara 820 yen sampai dengan 2.250 yen per kilogram. Berat satu buah mangga impor berkisar 160 gram dan 450 gram, perbandingan besarnya dapat dilihat pada gambar diatas.
Tentu kita akan bertanya apakah mangga tersebut akan laku dijual dan mampu bersaing dengan mangga impor yang harganya lebih murah. Yang jelas mereka mempunyai segmen pasar untuk produk-produk bermutu meskipun dengan harga selangit. Biasanya dikirim sebagai omeyage atau hadiah. Ini pelajaran untuk kita, agar berlomba meningkatkan mutu poduk mangga kita sehingga mampu memasuki pasar Jepang yang mempunyai daya beli tinggi, diiringi standar mutu tinggi, dengan selera konsumen yang tinggi pula.
Tuesday, 19 June 2007
Si Merah Manis Mangga Hadiah
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
08:24
3
comments
Labels: Pasar Produk Pertanian
Sunday, 17 June 2007
Shock! Pestisida Neonicotinoid Diduga Jadi Penyebab Runtuhnya Koloni Lebah Madu di 35 Negara Bagian AS
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia
dikejutkan oleh fenomena misterius: koloni lebah madu tiba-tiba menghilang
secara massal. Lebah pekerja yang biasanya memenuhi sarang tiba-tiba lenyap,
meninggalkan ratu, telur, dan madu tanpa penjaga. Fenomena ini pertama kali menarik perhatian global
setelah laporan dari seorang peternak lebah di Amerika Serikat yang mengalami
kerugian luar biasa besar.
Para ilmuwan kemudian menyadari bahwa masalah ini bukan sekadar kematian
serangga biasa. Kehilangan lebah dalam jumlah besar dapat mengguncang sistem
pangan dunia karena banyak tanaman bergantung pada lebah untuk proses
penyerbukan.
Awal Mula Terungkapnya Misteri Koloni Lebah yang Hilang
Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh seorang peternak lebah Amerika
bernama David Hackenberg pada tahun 2006. Ia menemukan bahwa sebagian besar
lebah pekerja di peternakannya menghilang secara misterius. Dari sekitar 3.200
koloni lebah yang dimilikinya, sekitar 75% mengalami kerugian besar.
Hackenberg kemudian melaporkan fenomena tersebut kepada para peneliti di Pennsylvania
State University. Tidak lama setelah laporan itu muncul, peternak lebah lain di
berbagai wilayah Amerika Serikat juga melaporkan kejadian serupa.
Investigasi lebih lanjut menunjukkan bahwa lebih dari 35 negara bagian di
Amerika Serikat mengalami fenomena yang sama, dengan tingkat kehilangan koloni
antara 35% hingga 90% pada beberapa peternakan lebah.
Fenomena ini kemudian dikenal sebagai: Colony Collapse Disorder (CCD)
CCD menjadi salah satu krisis ekologis
terbesar dalam dunia perlebahan modern.
Mengapa Lebah Sangat Penting bagi Kehidupan Manusia?
Lebah bukan hanya penghasil madu. Mereka
adalah penyerbuk utama bagi banyak tanaman pangan. Diperkirakan lebih dari sepertiga
produksi pangan dunia bergantung pada penyerbukan oleh serangga, terutama
lebah.
Tanaman yang sangat bergantung pada lebah antara lain:
- apel
- almond
- jeruk
- berbagai buah beri
- sayuran
- tanaman biji-bijian tertentu
Tanpa lebah, produktivitas tanaman tersebut
dapat menurun drastis. Karena itu, kematian massal lebah tidak hanya menjadi
masalah bagi peternak lebah, tetapi juga bagi:
- petani buah
- petani sayur
- petani tanaman biji
- industri pangan global.
Dugaan Penyebab: Pestisida Neonicotinoid
Salah satu faktor yang paling banyak diteliti
sebagai penyebab CCD adalah pestisida Neonicotinoid.
Neonicotinoid merupakan kelompok insektisida
modern yang bekerja dengan cara menyerang sistem saraf serangga, mirip
dengan cara kerja nikotin pada reseptor saraf. Pestisida ini banyak digunakan untuk melindungi tanaman
dari hama seperti kutu daun dan kumbang.
Meskipun namanya mirip dengan nikotin, neonicotinoid tidak mengandung
nikotin dari tembakau. Namun mekanisme kerjanya serupa, yaitu:
- mengganggu sistem saraf serangga
- menyebabkan gangguan orientasi
- menurunkan kemampuan mencari makan
- melemahkan sistem imun serangga.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan
neonicotinoid dapat menyebabkan lebah kehilangan kemampuan navigasi, sehingga
tidak mampu menemukan jalan kembali ke sarangnya.
Akibatnya, lebah pekerja mati di luar sarang dan koloni akhirnya runtuh.
“Perfect Storm”: Bukan Satu Penyebab Tunggal
Walaupun pestisida sering disorot sebagai
penyebab utama, banyak ilmuwan menilai bahwa CCD kemungkinan merupakan kombinasi
beberapa faktor.
Penelitian di Pennsylvania State University
menunjukkan bahwa koloni lebah yang terkena CCD sering memiliki berbagai
masalah sekaligus, seperti:
- infeksi
virus, termasuk virus kelumpuhan lebah Israel
- parasit seperti tungau Varroa
- infeksi jamur
- paparan pestisida
- kekurangan nutrisi
- stres lingkungan.
Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai “perfect
storm”, yaitu gabungan berbagai tekanan lingkungan yang akhirnya menyebabkan
koloni lebah runtuh.
Dampak Global bagi Ekosistem dan Pangan
Kematian lebah tidak hanya berdampak pada
produksi madu. Dampaknya jauh lebih luas:
- Penurunan produksi buah dan sayuran
- Gangguan keseimbangan ekosistem
- Kerugian
ekonomi bagi petani dan peternak lebah
- Ancaman terhadap ketahanan pangan dunia
Di Amerika Serikat saja, jasa penyerbukan oleh lebah diperkirakan bernilai miliaran
dolar setiap tahun.
Jika populasi lebah terus menurun, banyak tanaman pangan akan mengalami
penurunan hasil panen.
Upaya Menyelamatkan Lebah
Karena pentingnya lebah bagi ekosistem,
berbagai negara mulai mengambil langkah untuk melindungi serangga ini, antara
lain:
- pembatasan penggunaan pestisida tertentu
- pengembangan pertanian ramah penyerbuk
- penanaman tanaman berbunga untuk sumber pakan
lebah
- penelitian
tentang kesehatan koloni lebah.
Beberapa negara bahkan telah melarang sebagian pestisida neonicotinoid
setelah muncul bukti bahwa bahan kimia tersebut berpotensi membahayakan lebah.
Pelajaran Penting bagi Masa Depan
Kisah runtuhnya koloni lebah memberi pelajaran penting bagi manusia: ekosistem
sangat rapuh dan saling terhubung.
Serangga kecil seperti lebah ternyata memiliki peran besar dalam menjaga
rantai produksi pangan dunia. Ketika keseimbangan alam terganggu—baik oleh
pestisida, penyakit, atau perubahan lingkungan—dampaknya bisa merambat hingga
ke meja makan manusia.
Melindungi lebah berarti juga melindungi ketahanan pangan dan keberlanjutan
ekosistem bumi.
Referensi
- vanEngelsdorp D. et al. 2007. Colony Collapse
Disorder: A Descriptive Study.
- Cox-Foster D. et al. 2007. A Metagenomic
Survey of Microbes in Honey Bee Colony Collapse Disorder. Science.
- Pennsylvania State University – Honey Bee
Collapse Research.
- Reports on colony losses across the United
States.
- Reports on pesticide impacts on bee behavior.
#LebahMadu
#Neonicotinoid
#ColonyCollapseDisorder
#KrisisPenyerbuk
#KetahananPangan
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
10:44
0
comments
Friday, 15 June 2007
Jepang Fokus ke Bahan Bakar Bioethanol
Jepang sedang membidik bioethanol sebagai bahan bakar untuk mencegah ketergantungan energi yang diimpor dari luar negeri. Meskipun produksi biethanol di Jepang baru tahap awal, terdapat langkah-langkah penting baik umum maupun sektor swasta untuk menggunakan teknologi Jepang dalam rangka meningkatkan produksi bahan bakar berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Para ahli mengatakan bahwa agar dapat bersaing dengan produk impor, produksi bioethanol dalam negeri perlu waktu bertahun-tahun. Akan tetapi mereka juga berkata bahwa Jepang akan terdepan dalam menerapkan teknologi fermentasi dan teknologi konservasi energi.
Pengembangan proses pembuatan bioethanol yang efisien dengan hasil besar akan membantu Jepang dalam menurunkan ketergantungan terhadap sumber energi dari luar negeri. Dan pada saat yang bersamaan dapat mengurangi pencemaran udara yang dipersyaratkan oleh Protokol Kyoto.
Bioethanol adalah alkohol yang dibuat dari fermentasi bahan organic seperti jagung, tebu, jerami gandum atau padi dalam suatu proses yang mirip dengan pembuatan bir. Hasil akhirnya dicampur dengan bensin untuk mengurangi polutan gas buang kendaraan termasuk diantaranya karbodioksida.
Emisi karbondioksida yang dihasilkan pembakaran bioethanol sama dengan pembakaran bensin. Akan tetapi dengan bioethanol, karbondioksida akan digunakan oleh tanaman tebu, jagung, padi, gandum dsb. ketika terjadi fotosintesis pada tumbuhan. Hal tersebut menyebabkan bioethanol menjadi sangat menarik dalam mencari jalan keluar dalam mengurangi emisi; yang dapat menurunkan emisi 6% dibawah 1990 seperti yang dipersyaratkan Protokol Kyoto. Akan tetapi para pembuat kebijakan dan para peneliti menyatakan masih terdapat kekurangan bioethanol.
Dua produsen bioethanol terbesar adalah Brazil dan Amerika Serikat, Brazil memproduksi bioethanol dari tebu, sedangkan Amerika Serikat dari Jagung. Peningkatan permintaan bioethanol akan menarik perhatian, dalam waktu dekat mereka akan kekurangan gula dan jagung untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan.
Masalah besar lain adalah bahwa akan diperlukan jumlah besar bahan bakar fosil untuk membuat bioethanol dalam pabrik dan pengapalan bioethanol ke Jepang.
Honda Motor Co. telah bekerjasama dengan the Kyoto-based Research Institute of Innovative Technology for the Earth (RITE) untuk memproduksi bioethanol dengan bahan jerami padi dan sampah pertanian lain yang dapat diperoleh di Jepang. Jepang relative baru dalam masalah bahan bakar bioethanol ini, akan tetapi Honda yang beraliansi dengan RITE telah memulai pekerjaannya pada musim gugur tahun lalu, dan telah memperoleh hasil yang menjanjikan.
Sampai sekarang dalam proses fermentasi, bahan yang kurang murni akan mengganggu kerja yeast bacteria dalam merubah glukosa dalam jerami padi menjadi alkohol sehingga produk ethanol yang diperoleh sedikit. RITE telah mendapatkan solusi dengan cara menggantikan Yeast bacteria dengan Coryne bacteria hasil rekayasa genetika yang dapat bekerja dengan baik terhadap kondisi bahan yang kurang murni. Penemuan pertama kali oleh Honda dan RITE ini dapat meningkatkan produk ethanol 20 kali lebih banyak. Menurut Mr. Yoshikazu Fujisawa Pimpinan Senior Honda R&D dalam metode baru ini 1 kg jerami padi dapat menghasilkan sekitar 200 gram alkohol.
Pemerintah juga mendanai penelitian bagaimana cara merubah limbah pertanian menjadi bioethanol. Tahun lalu diperkirakan terdapat 6 pilot project yang menghasilkan 30 kiloliter ethanol. Satu diantara projek tersebut dilakukan oleh Mitsui Enginering & Shipbuilding Co. Perusahaan tersebut telah memproduksi ethanol dari limbah kayu di Okayama Prefecture sejak tahun 2005 menggunakan enzyme yang dikembangkan oleh Finland ‘S VTT Technical Research Center. Bahan baku lainnya termasuk gandum, sorghum dan tebu.
Pada awal bulan ini pemerintah juga telah meresmikan dua proyek baru di Hokkaido dan Niigata Prefecture. Proyek tersebut diharapkan setiap tahunnya dapat memproduksi 31.000 kiloliter bioethanol yang terbuat dari beras dan gandum selama lebih dari 5 tahun.
Masalah sangat sensitif apabila produk bahan makanan digunakan untuk keperluan selain sebagai makanan. Jepang adalah salah satu negara industri yang swasembada pangannya rendah, hanya dapat mencukupi sendiri 40% dari kebutuhan kalorinya. Maka dari itu, hal ini akan mendorong Jepang untuk memproduksi bahan bakar yang berasal dari bagian tanaman padi yang tidak dapat dimakan.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
12:02
1 comments
Labels: Bio-fuel
Sunday, 3 June 2007
Pertukaran Pelajar di Gunma Prefecture
Pada tanggal 17 Mei 2007 telah dilakukan penerimaan Pertukaran Pelajar Sekolah Pertanian di Gunama Prefecture yang kesepuluh. Para pelajar berasal dari lima negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina dan Mongolia. Dalam program Asian Agricultural High School Student Overseas Study program ini, setiap negara mengirimkan 3 pelajar kelas II untuk belajar di Gunma Prefectural Agricultural High School. Di Sekolah Pertanian Seta Norin Koko mereka menimba ilmu pertanian baik teori maupun praktek selama setahun. Pada gambar diatas 3 pelajar Indonesia Santy Andriyani, Ummi Safrida Harahap, dan Mahmudianshah didampingi Atase Pertanian KBRI Tokyo diterima oleh Gubernur Gunma Prefecture.
Setiap pelajar dijemput oleh orang tua angkat masing-masing yang bertempat tinggal di sekitar Sekolah Pertanian tempat mereka belajar.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
22:51
0
comments
Promosi Buah Tropis Indonesia di Tokyo
Bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla sedang memeriksa buah tropis Indonesia sambil mencoba kopi Indonesia yang sedang dipromosikan di Tokyo Jepang.
Pada tanggal 24-26 Mei 2007 telah diselenggarakan Pameran Kerajinan Indonesia di Wiswa Duta Besar RI, 5-2-9 Higashi-Gotanda, Sinagawa-ku, Tokyo. Departemen Pertanian ikut berpratisipasi memamerkan buah-buah tropis Indonesia kepada para pengunjung yang diantaranya pengusaha buah-buahan yang diundang. Pada gambar Ibu Rossi Anton Apriyantono (tengah) sedang menerangkan kepada Princess Takamado (kiri) tentang kelezatan buah tropis Indonesia yang masih segar diantaranya pisang Barangan asal Sumatera Utara yang sangat lezat. Princess Takamado berkenan membawa pulang buah tropis asal Indonesia tersebut yang diserahkan oleh Ibu Rossi Anton Apriyantono.
Selain buah juga dipamerkan tanaman hias asal Indonesia. Seusai pameran terdapat pengusaha AN Corporation yang berminat untuk mengimpor feather leaf dari Indonesia. Pada saat ini baru satu pengusaha Indonesia yang menyambut permintaan bayer Jepang tersebut. Atase Pertanian KBRI Jepang siap memfasilitasi terealisasinya ekspor tanaman hias asal Indonesia.
Pada hari penutupan Pameran Ny. Perdana Menteri Sintaro Abe (berpakaian putih) tertarik untuk mencicipi salak Indonesia disaksikan oleh Ibu Hj. Mufidah Yusuf Kalla dan Ibu Rossi Anton Apriyantono. Ny. Sintaro Abe berkenan membawa pulang bunga Anggrek asal Indonesia yang diserahkan oleh Ibu Rossi Anton Apriyantono.
Perusahaan Buah-buahan yang diundang pada Pameran Dekranas
1. Itochu Corporation
2-5-1 Kita-Aoyama, Minato-ku, Tokyo 107-8077
Telephone: +813-3497-6241
Fax: +813-3497-6233
2. Ikeda International Co. Ltd.
3-47-12 Honmachi, Shibuya-ku, Tokyo 151
Telephone: +813-3320-8186
Fax: +813-3497-6233
3. Kanematsu Corporation
2-2-1 Shibaura, Minato-ku, Tokyo 105-8005
Telephone: +813-5440-9580
Fax: +813-5440-6559
4. Matsuda Sangyo Co. Ltd.
6F Shinjuku Nomura Building,
1-28-2 Nishisinjuku, Shinjuku-ku, Tokyo 183-0558
Telephone: +813-3346-2311
Fax: +813-3348-2428
5. Royal Co. Ltd.
Kyoka Group, KN Ginza Bldg 5F
1-15-6 Ginza, Chuo-ku, Tokyo 104-0061
6. Nissin Food Products Company Ltd.
4-1-1 Nishinakajima, Yodogawa-ku, Osaka, 532-8524 Telephone: 66 3057711 Fax: 66 3041288
7. XanGo Japan K.K.
Kioi-cho Kelton Bldg 5F, Kioi-cho 4-5, Chiyoda-ku, Tokyo 102-0094
Telephone : 03-4590-3535
Fax. : 03-4590-3536
8. NISSHIN TRADING CO., LTD. (Nisshin Tsusho K.K.)
1-3-4, Nishiazabu, Minato-ku, Tokyo 106-0031
Telephone : +81-3-5785-3920
Fax. : +81-3-5785-3929
9. H AND T CO., LTD. (Eichi Ando Ti Y.K.)
204 Parkside Nanei, 4-1-12, Nagai-Higashi, Sumiyoshi-ku, Osaka 558-0004
Telephone : +81-6-6697-2083
Fax.: +81-6-6697-2093
10. KATAYAMA RINGO CO., LTD. (Katayama Ringo Y.K.)
396, Kanda, Katada, Hirosaki, Aomori 036-8052 Telephone : +81-172-33-7321 Fax. : +81-172-33-7322
11. H AND T CO., LTD. (Eichi Ando Ti Y.K.)
204 Parkside Nanei, 4-1-12, Nagai-Higashi, Sumiyoshi-ku, Osaka 558-0004 Telephone : +81-6-6697-2083 Fax. : +81-6-6697-2093
12. P.K. SIAM CO., LTD. (Pi Kei Saiam Y.K.)
4-11-9, Kinshi, Sumida-ku, Tokyo 130-0013 Telephone : +81-3-3625-7080 Fax. : +81-3-3625-7090
13. TANGO TRADING CO., Ltd (K.K. Tango Tsusho)
408, 25-36, Higashi, Shibuya-ku, Tokyo 150-0011 Telephone : +81-3-5778-4692 Fax. : +81-3-5778-4693
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
11:37
1 comments
Labels: Promosi Produk Pertanian
