A. PENGANTAR
Malignant catarrhal fever (MCF) atau Penyakit Ingusan merupakan
penyakit degeneratif dan limfoproliferatif yang bersifat sangat fatal dan
menyerang sapi, kerbau, rusa dan beberapa ruminansia liar lainnya. Biasanya
penyakit ini bersifat sporadic, meskioun tingkat morbiditas rendah namun tingkat
kematian sangat tinggi hingga mencapai 100%. Hewan yang peka terhadap penyakit
MCF antara lain berbagai bangsa sapi, kerbau, bison dan beberapa jenis rusa dan
babi.
Agen penyebab WA-MCF
pertama kali diisolasi dari wildebeest
oleh Plowright pada tahun 1960 dan selanjutnya disebut dengan Alcelaphine Herpesvirus-1 (AlHV-1). Penyakit MCF ditemukan pada sapi yang digembalakan
dengan sekawanan wildebeest di Afrika,
sehingga disebut wildebeest-associated
MCF (WA-MCF). Wildebeest (Connochaetes) adalah salah satu
mamalia herbivora anggota famili Bovidae yang tersebar di savana di pedalaman Afrika. Selanjutnya penyakit dengan gejala
klinis dan patologis serupa ditemukan di luar Afrika pada sapi yang dipelihara
berdekatan dengan domba, sehingga disebut sheep-associated
MCF (SA-MCF).
Hingga saat ini dikenal ada dua bentuk MCF, yakni MCF wildebeest (WA-MCF) dan MCF domba (SA-MCF)
yang secara klinis dan patologis tidak dapat dibedakan. WA-MCF terjadi pada
saat hewan peka kontak dengan hewan wildebeest
(Connochaetes sp) yang membawa virus
penyebab penyakit tanpa menunjukkan gejala klnis MCF. Bentuk ini banyak
ditemukan di Afrika yang merupakan habitat asli wildebeest dan di beberapa kebun binatang yang memelihara wildebeest. Agen penyebab WA-MCF telah
diisolasi dari wildebeest sebagai
virus herpes dan sekarang virus tersebut disebut dengan Alcelaphine Herpesvirus-1 (AlHV-1).
Sedangkan SA-MCF adalah bentuk MCF yang terjadi pada hewan peka yang
berkontak dengan domba yang secara epidemiologi diketahui sebagai hewan
reservoir. Namun Genome virus OVHV-2 ini telah secara lengkap disekuen. Selanjutnya
hasil pengujian biologi molekuler menunjukkan bahwa domba membawa virus
penyebab SA-MCF tanpa menunjukkan gejala klinis MCF. Virus penyebab SA-MCF
hingga saat ini belum dapat diisolasi, namun berdasarkan sel limfoblastoid yang
diisolasi dari kasus SA-MCF virus penyebab MCF disebut sebagai Ovine Herpesvirus-2 (OVHV-2).
Penyakit MCF ini masih
menjadi masalah di Indonesia, selain bersifat fatal, MCF juga sporadis dan
bahkan mewabah terutama pada sapi Bali yang digembalakan berdekatan dengan
domba. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap epidemiologi
penyakit dan belum tersedianya vaksin karena agen penyebabnya belum dapat
diisolasi.
B. ETIOLOGI
1. SIFAT FISIK DAN KIMIA VIRUS
Tidak ada data yang pasti tentang daya tahan virus pada suhu tertentu
tetapi virus sangat labil jika terkena panas matahari dan pada kondisi
lingkungan yang kering, akan tetapi virus dapat bertahan sampai 13 hari pada
kondisi lingkungan yang lembab dan stabil antara pH 5.5–8.5. Virus akan mati
dengan penambahan disinfektan, antara lain sodium hipokhlorite (3%). Cell-associated virus dapat bertahan di
luar sel selama 72 jam di luar induk semangnya
2. SIFAT BIOLOGI VIRUS
Ada dua bentuk MCF yang dikenal, yaitu wildebeest associated (WA-MCF) disebabkan oleh Alcelaphine Herpes
Virus 1 (AlHV-1) dan sheep associated
MCF (SA-MCF) yang belum dapat diisolasi virus penyebabnya. Meskipun demikian,
Ovine Herpes Virus-2 (OvHV-2) telah diketahui sebagai virus yang dimaksud.
Bentuk SA-MCF inilah yang terdapat di Indonesia dimana domba dianggap
paling berperan sebagai hewan reservoir. Walaupun ada dua bentuk MCF, akan
tetapi secara klinis dan patologis kedua bentuk MCF tersebut tidak dapat
dibedakan.
Secara klinis MCF terbagi atas bentuk perakut, bentuk intestinal, bentuk
kepala dan mata serta bentuk kronis/sub-klinis. Gejala klinis yang sering
dijumpai berupa demam, eksudat kental dari mata dan hidung, kekeruhan kornea,
diare, dan beberapa manifestasi gejala syaraf.
Gambaran pasca-mati yang umum diketahui adalah pembengkakan
limfoglandula superfi sial, petekhi pada trakhea, pneumonia, petekhi pada
mukosa abomasum dan kandung kemih serta enteritis.
Secara mikroskopis, peradangan pembuluh darah (vaskulitis) dianggap sebagai
ciri yang patognomonik untuk MCF disertai dengan peradangan non-supuratif pada
rete mirabile, otak, trakhea, paru-paru, jantung, hati, ginjal, kandung kemih,
abomasum, dan usus halus. Dewasa ini, pada saat virus penyebab SAMCF belum
dapat diisolasi, konfirmasi diagnosa untuk MCF masih mengacu pada gambaran
histopatologisnya.
3. Struktur genome dan klasifikasi virus MCF
Virus AIHV-1 dan OvHV-2 termasuk dalam Genus Rhadinovirus, Subfamily
Gammaherpesvirinae.
Hasil sekuen terbaru dari OvHV-2 yang berasal dari large granular
lymphocyte (LGL) cell line sapi mengindikasikan bahwa genome tersebut sangat
mirip dengan AlHV-1 dan bersifat co-linear dengan rhadinoviruses.
Genome mempunyai segmen unik 130 kbp tersusun dari terminal repeat 1.1 kbp (AlHV-1) atau 4.2 kbp (OvHV-2).
C. EPIDEMIOLOGI
1. Spesies rentan
Penyakit MCF secara umum dapat menyerang sapi dan hewan ungulata
lainnya, termasuk bison, rusa dan babi. Urutan kepekaan hewan terhadap MCF
berturut-turut adalah sapi Bali, sapi Bali persilangan, kerbau, sapi Ongole dan sapi Brahman.
Letak geografis kemungkinan juga mempengaruhi terjadinya kasus, misalnya
MCF klinik di Mataram dan Banyuwangi lebih tinggi daripada di Denpasar dan
Kendari. Seperti halnya pada kasus wabah ini, kasus penyakit lebih sering
terjadi pada musim hujan. Disamping itu faktor stres juga dianggap sebagai
faktor predisposisi bagi MCF.
2. Sifat Penyakit
Kejadian endemis MCF di Indonesia pernah dilaporkan pada sapi Bali dan
rusa (Cervus timorensis) di Timor
Barat, Nusa Tenggara Timur yang terjadi pada saat sekelompok domba dipindahkan
pada kelompok sapi Bali dan rusa yang belum pernah kontak dengan domba. Pada
saat itu tingkat kematian MCF pada 55 rusa mencapai 65%, sedangkan pada sapi
Bali mencapai 20%. Selain itu, wabah MCF pernah pula dilaporkan menyerang sapi
Bali yang didatangkan ke daerah transmigrasi di Propinsi Bengkulu yang telah
memiliki kelompok domba. Kejadian wabah MCF pada sapi dan kerbau yang dipakai
untuk penelitian pernah dilaporkan di Balai Penelitian Ternak (BALITNAK), Balai
Penelitian Veteriner (BALITVET) dan sekitarnya di Bogor, pada saat sapi dan
kerbau dipelihara di kandang yang berdekatan dengan kandang domba.
3. Cara Penularan
Penularan MCF terjadi terutama karena terjadi kontak langsung antara
hewan peka dan reservoir, namun pernah dilaporkan kasus SA-MCF terjadi pada
seekor sapi Bali yang dipelihara 100 meter dari kandang domba yang sedang
bunting dan beranak. Wabah WA-MCF juga dilaporkan pada sapi yang terpisah 100
meter dari wildebeest.
Namun demikian cara penularan dari domba ke sapi belum diketahui dengan
pasti dan kemungkinan besar penularan terjadi melalui sekresi hidung, mata dan
vagina. Penularan SA-MCF memiliki pola epidemiologi yang mirip dengan WA-MCF,
yakni domba berperan sebagai reservoir virus pada saat penularan penyakit.
Baik AIHV-1 dan OvHV-2 ditularkan melalui kontak atau aerosol. Anak wildebeest memperoleh virus AIHV-1 baik
secara vertikal dari induknya (in utero)
maupun secara horizontal dari sesama anak wildebeest.
Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa virus ini dapat diisolasi dari fetus
dan darah anak wildebeest umur satu minggu. Penularan diantara wildebeest
adalah melalui ekskresi hidung, dimana penularan secara vertikal dan horizontal
ini terutama terjadi pada anak wildebeest hingga berumur tiga bulan dan virus
bebas pada wildebeest yaitu ditemukan pada cairan mata dan sekresi hidung
sedangkan virus DNA OvHV-2 dapat dideteksi pada sampel yang berasal dari
saluran pencernaan, pernapasan dan uro-genital domba.
4. Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengauruhi terjadinya penyakit yaitu: peranan masing-masing
faktor yang mungkin berpengaruh, yaitu jenis bangsa hewan, kepekaan individu
hewan, status hewan (stres, infeksi, musim, daerah geografi , kontak dengan
hewan karier, strain virus yang berbeda dan lainlain.
5. Distribusi Penyakit
Di Indonesia, penyakit MCF dilaporkan untuk pertama kali pada tahun 1894
di Kediri, Jawa Timur dilaporkan pada tahun 1954. Di Indonesia kejadian MCF
sudah mendapat banyak perhatian, karena penyakit ini telah tersebar di hampir
seluruh kepulauan di Indonesia. Berkaitan dengan kejadian MCF di Indonesia
hingga saat ini terdapat dua kejadian, endemis dan epidemis.
Kejadian endemis lebih banyak dilaporkan daripada epidemis dan pada
umumnya terjadi dengan tingkat kejadian yang rendah. Sedangkan kejadian endemis dengan tingkat kejadian yang tinggi pernah
dilaporkan juga di beberapa daerah.
D. PENGENALAN PENYAKIT
1. GEJALA KLINIS
Diagnosa MCF yang dilakukan hanya berdasarkan pada gejala klinis dan
pasca-mati kurang tepat karena kasus sub-klinis dapat terjadi.
Bentuk MCF per-akut, intestinal, kepala dan mata, dan kronis/sub-klinis,
kesemuanya memberikan hasil patognomonik berupa vaskulitis pada organ tertentu,
dengan derajat keparahan lesi yang berbeda. Bentuk SA-MCF inilah yang terdapat
di Indonesia, yang dalam hal ini domba dianggap paling berperan sebagai hewan
reservoir.
Gejala klinis yang sering dijumpai berupa demam, eksudat kental dari
mata dan hidung, kekeruhan kornea, diare, pembengkakan limfoglandula superficial
dan beberapa manifestasi gejala syaraf.
2. PERUBAHAN HISTOPATOLOGI
Perubahan histopatologi MCF yang patognomonik adalah vaskulitis (peradangan
pada dinding pembuluh darah) yang berupa infi ltrasi limfosit dan makrofag dan
terkadang sedikit netrofi l dan sel plasma pada beberapa organ seperti mata,
otak, meningen, rete mirabile epidurale, ginjal, hati, kelenjar adrenal dan
pada kulit.
Sampel rete mirabile yang dikoleksi untuk uji histopatologi dianggap
paling mewakili untuk konfirmasi diagnosa MCF. Selain itu kasus infeksi alam
dan infeksi buatan yang didiagnosa sebagai MCF secara histopatologik
menunjukkan vaskulitis yang terdapat
pada organ-organ selain rete hampir selalu disertai dengan vaskulitis pada
rete. Sebaliknya vaskulitis pada rete belum tentu disertai vaskulitis pada
organ lain. Hal ini menunjukkan bahwa pada infeksi MCF vaskulitis mula-mula
berasal dari rete kemudian menyebar ke organ yang lain. Sampel yang positif
didiagnosa sebagai MCF dapat berasal dari hewan yang secara klinik sehat (MCF
sub-klinis).
Secara mikroskopis, vaskulitis pada kasus yang parah dinding pembuluh
darah dapat mengalami nekrosis dan hipertropi sehingga tejadi obstruksi lumen
pembuluh darah yang bersangkutan dan mengganggu sirkulasi darah dari dan ke
organ tersebut.
Lesi ringan dan lesi sedang secara histopatologik biasanya menunjukkan
hubungan yang erat dengan gejala klinik dan gambaran pasca matinya. Didapatnya
variasi lesi secara kualitatif maupun kuantitatif tersebut, merupakan bahan
pertimbangan bahwa lesi histopatologik SA-MCF di Indonesia mungkin dipengaruhi
oleh daerah geografi , bangsa hewan yang terserang, dan strain virus yang
berbeda. Infiltrasi dan proliferasi sel-sel limfosit pada vaskulitis pada MCF
terjadi sebelum timbulnya gejala klinik.
3. PATOGENESIS LESI
Patologi Anatomi dan Histopatologi pada MCF sangat berkorelasi satu sama
lain sehingga patogenesis penyakit dapat dijelaskan berdasarkan lesi tersebut.
Penyakit ditandai dengan masa inkubasi yang bervariasi, respon antibodi yang
sangat terbatas dan baik pada WA-MCF maupun SA- MCF, infektifitas pada kedua
bentuk MCF tersebut hanya dapat dideteksi dalam sel dan virus tidak pernah
ditemukan bebas di luar sel sehingga ini menjelaskan mengapa MCF tidak dapat
menular dari hewan yang terserang MCF ke hewan lainnya.
Karena dari rete mirabile epidurale ini keluar cabang-cabang antara lain
berupa arteri carotid cerebral dan arteri ophtalmic interna, kiranya sangat
beralasan jika infeksi awal yang ditandai vaskulitis pada rete kemudian
berkembang menjadi bentuk MCF klinik yang khas berupa meningoensefalitis disertai eksudat mukopurulen dari mata dan
hidung. Dinding pembuluh darah yang mengalami vaskulitis akan menebal sehingga
terjadi obstruksi lumen yang selanjutnya akan mengganggu sirkulasi darah,
terutama ke organ-organ yang mendapat suplai darah dari rete.
Ada beberapa hipotesis yang dianggap paling berperan dalam menimbulkan
vaskulitis yang bersifat non supuratif pada MCF, yaitu aksi sitolitik langsung
dari virus terhadap jaringan, reaksi imunologi dimana hewan yang terinfeksi
menjadi hipersensitif terhadap antigen yang bersangkutan, terbentuknya reaksi
immune complex, cell mediated immunity dan bahwa virus MCF menimbulkan
disfungsi dari sel-sel yang mengatur mekanisme sistem kekebalan.
Hasil penelitian dengan Polymerase
Chain Reaction (PCR) menunjukkan bahwa DNA virus penyebab SA-MCF dapat
dideteksi pada pheripheral blood leucocyite (PBL) dan beberapa sampel organ
serta sampel swab hidung, mata dan vagina domba.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut tempat perbanyakan OVHV-2 pada
anak domba kemungkinan adalah pada organ turbinat, kornea mata, kelenjar
lakrimalis, epitel mukosa hidung, tonsil, soft palate, laring, epitel pipi,
lidah, kantung kencing dan limfoglandula. Bahkan virus OVHV-2 dapat dideteksi
pada sekresi hidung anak domba yang baru berumur 1 hari. Hasil serupa juga
diperoleh pada WA-MCF.
Domba bunting dianggap sebagai hewan pembawa virus SA-MCF, dan bahwa di
Indonesia domba dapat beranak 2-3 kali dalam setahun maka diasumsikan mereka
secara terus menerus mensekresi virus. Hal inilah yang mendasari gagasan bahwa
pemisahan domba dari sapi atau kerbau merupakan satu-satunya kontrol yang
terbaik.
4. DIAGNOSA
SA-MCF sampai saat ini masih ditegakkan berdasarkan pada kombinasi data
epidemiologi dan gambaran klinilko-patologis penyakit. Untuk WA-MCF diagnosa
tentu saja juga dapat dikonfirmasi melalui uji serologi dan isolasi virus
AIHV-1.
Perkembangan teknik biologi molekular seperti PCR juga dimanfatkan untuk
mendiagnosa MCF, baik pada WA-MCF maupun SA-MCF. Pada WA-MCF isolasi virus
dapat dilakukan pada biakan sel sapi/domba yang berasal dari sel dari organ
thyroid, ginjal, paru dan limpa.
Keberadaan virus dapat dideteksi dengan pewarnaan imunofluoresen atau
imunoperoksidase, neutralisasi virus (VN) atau mikroskop elektron. Selain itu
terdapat beberapa uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap AIHV-1
terutama untuk WA-MCF: complement fixation
(CF), immunodiffusion (ID), counter immunoelectrophoresis (CIE), indirect immunoperoxidase (IIP). Indirect immunofl uorescence (IIF) dapat
mendeteksi respon imun terhadap infeksi virus herpes lain pada sapi, misalnya
bovine herpesvirus-1 pada infectious bovine rhinotracheitis (IBR), bovine
herpesvirus-2 (mammilitis) dan bovine herpesvirus-3 (DN 599, Movar).
Berhubung uji VN pada AIHV-1 sangat memakan waktu maka ada alternatif
lain untuk menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) menggunakan
antigen spesifi k yang sudah distandardisasi.
Uji serologi dengan IIF menunjukkan bahwa antibodi terhadap AIHV-1 dapat
dideteksi baik pada serum hewan yang terinfeksi WA-MCF maupun SA-MCF serta pada
serum dari domba yang bertindak sebagai reservoir.
Meskipun IIF tergolong non-spesifik, hal ini mengarah pada hipotesa
bahwa ada virus serupa yang bertanggungjawab pada infeksi WA-MCF maupun SA-MCF,
yang dibuktikan oleh melalui Western
Blotting dimana sejumlah antigen
AIHV-1 dapat dideteksi baik pada serum wildebeest maupun pada serum domba dari
kasus SA-MCF.
5. DIAGNOSA BANDING
Perubahan klinis dan patologis MCF yang patognomonik, berupa proliferasi
limfoid dan vaskulitis tidak selalu mudah untuk dikonfirmasi secara
histopatologis karena variasi lesi yang sangat besar di lapang. Oleh karena itu
perlu diperhatikan diagnosa banding terhadap beberapa penyakit yang dapat
dikelirukan dengan MCF antara lain rinderpest, haemorrhagic septicaemia,
infectious bovine rhinotracheitis (IBR), bovine virus diarrhoea-mucosal disease
(BVD-MD), trypanosomiasis (Surra), beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus
arbo, dan khusus pada sapi Bali, MCF harus dibedakan dari penyakit Jembrana dan
Rama Dewa.
E. PENGENDALIAN
Baik hewan reservoir maupun hewan peka MCF dapat menghasilkan respon
antibodi terhadap virus MCF dan fakta ini secara serologis merupakan perangkat
diagnosa yang cukup penting yang berguna sebagai data epidemiologi penyakit.
Antibodi yang dapat mengenali antigen AIHV-1 dapat dideteksi pada serum
domba karier dan pada sapi yang terserang MCF, ini menandakan bahwa agen yang
berperan pada SA-MCF berkaitan erat dengan virus AIHV-1.
Sementara itu, setelah usaha pengembangan vaksin untuk mencegah infeksi
MCF tidak membuahkan hasil, maka satu satunya cara untuk pengendalian MCF
hanyalah berdasarkan pada pemisahan hewan peka dari hewan reservoir (sapi
dipisahkan dari wildebeest dan alcelaphine antelopes untuk WA-MCF dan sapi dipisahkan
dari domba untuk SA-MCF).
Hasil sekuensing dari genome virus OvHV-2 yang berupa produksi virus
rekombinan AlHV-1 serta usaha uji tantang dengan virus OvHV-2 dan AIHV-1 secara
intra-nasal, dapat mengarah ke tahap terpenting dalam pengembangan strategi
vaksinasi untuk memproteksi hewan dari serangan MCF.
Screening antibodi dari cDNA expression libraries telah menuju pada
pemilihan kandidat antigen baik yang berasal dari AIHV-1 maupun OvHV-2. Kedua
studi tersebut mengidentifikasi klone cDNA yang mengkode area C-terminal dari
ORF73 yang bersifat antigenik pada domba yang positif mengandung OvHV-2 dan
pada kelinci dan wildebeest yang mengandung AIHV-1.
No comments:
Post a Comment