Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Magang Petani Muda Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Magang Petani Muda Indonesia. Show all posts

Friday, 25 April 2008

Petani Muda Magang di Gunma selama setahun

Pada tanggal 25 April 2008 telah dilakukan acara penerimaan 11 petani muda magang asal Indonesia melakukan pelatihan di Gunma Prefecture. Salah satu petani muda tersebut I Ketut Suartika yang berasal dari Sangeh, Bali akan menimba teknik peternakan sapi di Gunma sejak April 2008. Baru selesai mengikuti pembekalan selama 10 hari di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Gunma Sdr. Ketut memperoleh kesempatan rileks sejenak di Taman Bunga Misato Shibazakura Koen yang letaknya tidak jauh dari SPMA Gunma (Gambar sebelah). Taman ini menyajikan pemandangan indah berupa hamparan aneka warna bunga Shibazakura yang dapat bertahan hidup selama sebulan. Taman dibuka untuk umum dari tanggal 5 April sampai dengan 6 Mei 2008.




Selama setahun Sdr. Ketut akan menimba teknik bertani ala Jepang, belajar beternak sapi di peternakan milik Mr. Morita. Sapi jenis ini setelah berumur 20 bulan berat-badannya bisa mencapai rata-rata 800 kg per ekor, harganya sekitar 450-500 yen per kg berat hidup. Sapi yang dipelihara sekarang tinggal separuhnya yaitu 150 ekor. Mr. Morita sengaja menurunkan jumlah sapi yang dipelihara karena harga makanan sekarang sangat tinggi, terutama jagung sebagai salah satu bahan makanan utamanya. Dia menduga harga jagung yang meningkat ini disebabkan jagung juga diserap pasar sebagai bahan pembuatan biofuel.








Fasilitas di kandang sapi
1.Tempat pemberian makanan sapi
2.Tempat minum sapi secara otomatis.
3.Terlihat Bahan makanan sapi dari jerami.
4.Tempat penyimpanan makanan.
5.Terlihat makanan dengan bahan pokok berasal dari jagung.
6.Tempat pengolahan kotoran menjadi kompos.
7.Bahan alas kandang sapi dari gergajian kayu.
8.Terlihat sapi berumur 8 bulan (gambar tengah)
9.Sapi berumur 20 bulan (gambar bawah) dengan berat 800 kg per ekor siap untuk dijual.

Thursday, 26 April 2007

PERTEMUAN IKATAN ALUMNI MAGANG JEPANG

Program Magang bagi Pemudatani Indonesia di Jepang sampai dengan saat ini telah meluluskan 935 orang (XXIII angkatan) yang berasal dari berbagai propinsi/kabupaten di tanah air. Hasil dari kegiatan magang dipandang cukup berhasil dalam mengembangkan pembangunan pertanian di tanah air. Beberapa di antaranya bahkan sudah berhasil mengembangkan kemitraan usaha dengan pengusaha besar. Dasar pelaksanaan kegiatan Pertemuan Tahunan ini adalah Nota Kesepakatan Bersama (MOU) yang ditandatangani oleh pihak Departemen Pertanian cq. Badan Pengembangan SDM Pertanian (Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian) dengan Japan Agricultural Exchange Council/JAEC-Tokyo (Director The Japan Agricultural Exchange Council) pada tanggal 23 Januari 2003.

Dasar pelaksanaan kegiatan Pertemuan Tahunan ini adalah Nota Kesepakatan Bersama (MOU) yang ditandatangani oleh pihak Departemen Pertanian cq. Badan Pengembangan SDM Pertanian (Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian) dengan Japan Agricultural Exchange Council /JAEC-Tokyo (Director The Japan Agricultural Exchange Council) pada tanggal 23 Januari 2003. Hasil Pertemuan Tahunan 2006 yang dilaksanakan di Bangkok Thailand disepakati bahwa kegiatan Pertemuan Tahunan 2007 (The Joint Annual Meeting of ASEAN Country on 2007) dilaksanakan di Indonesia paling lambat minggu pertama Februari 2007. Pertemuan Tahunan (Annual Meeting) dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 6 s.d. 9 Februari 2007.

Pertemuan bertujuan untuk :

(1) Menyatukan pemahaman dan pandangan yang sama antara pihak Indonesia dalam hal ini Badan Pengembangan SDM Pertanian dengan pihak Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) dalam pelaksanaan kegiatan program magang dalam jangka waktu tertentu sebagaimana yang tuangkan dalam Nota Kesepakatan (MOU);

(2) Mendapatkan informasi dari delegasi negara peserta untuk perkembangan permagangan dan pemecahan masalah yang dihadapi. Hasil dari pertemuan ini adalah tercapainya kesepakatan bersama antara Badan Pengembangan SDM Pertanian dan pihak Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) mengenai Program Magang bagi Pemudatani Indonesia di Jepang dalam jangka waktu tertentu sebagaimana yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU).

Peserta Joint Annual Meeting berasal dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Dari Indonesia dihadiri oleh Kepala Badan SDM Pertanian DR. Ato Suprapto, Kapusbanglatan, Ir. Heri Suliyanto MBA, Atase Pertanian RI di KBRI Tokyo, DR. Pudjiatmoko, para pejabat terkait dari Pusbanglatan, pejabat Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat, dan pengurus IKAMAJA.

Selain itu undangan yang hadir selama Joint Annual Meeting terdiri dari:
1. Kepala BBDAH Kayuambon Lembang;
2. Ketua KTNA Nasional;
3. Pengurus IKAMAJA Nasional;
4. Staf Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Pertanian;
5. Anggota IKAMAJA.

Kegiatan ini telah berhasil memfasilitasi Joint Annual Meeting 2007 untuk mencapai tujuannya yakni menyamakan persepsi tentang pelaksanaan magang Jepang tahun 2006 terhadap permasalahan yang terjadi dan memperoleh masukan dari pengalaman negara peserta lainnya dalam melaksanakan program magang yang sama. Kegiatan ini berhasil memulai tekad meningkatkan pelaksanaan program magang Jepang baik dari pihak Indonesia maupun dari pihak JAEC.

LAPORAN MASING-MASING NEGARA

1. INDONESIA

Masalah yang timbul dan pemecahan yang sedang dan akan diambil untuk memperbaiki kelancaran program magang. Problem-problem yang timbul dalam pelaksanaan magang Jepang adalah:

a. Proses seleksi calon peserta dinilai belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Syarat bahwa calon peserta magang haruslah seorang petani sering dilanggar. Monitoring evaluasi dari petugas pusat terhadap pelaksanaan seleksi di daerah tidak dapat dilakukan terhadap semua daerah. Hal ini disebabkan oleh jumlah petugas dan dana yang terbatas.

b. Pelatihan orientasi dan persiapan keberangkatan dinilai kurang berhasil menempa mental dan disiplin calon peserta magang. Iklim selama pelatihan dinilai terlalu lembek dan longgar jika dibandingkan dengan keadaan ril yang akan mereka hadapi di Jepang. Akibatnya, sesampai di Jepang peserta magang merasa kaget dan stress sehingga muncul pikiran bahwa mereka diperlakukan sebagai tenaga kerja paksa.

c. Kemampuan bahasa sering menjadi hambatan dalam kelancaran interaksi antara peserta magang dengan induk semang. Masalah seperti tidak tersedianya waktu untuk melaksanakan sholat dan sulitnya memperoleh makanan halal hanya terjadi di sebagian kecil induk semang. Jika kemampuan bahasa Jepang memadai, hal ini akan dapat dihindari.

d. Persepsi induk semang dan peserta magang tentang magang sangat berbeda. Induk semang menganggap bahwa magang itu kerja penuh. Sedangkan peserta menganggap magang itu belajar, diskusi, pendampingan, dan bekerja. Perbedaan persepsi ini menjadi penghalang semangat kerja.

e. Waktu kerja peserta magang sering melebihi waktu yang disepakati antara JAEC dengan AAHRD yaitu 50 jam per minggu. Kerja lembur tidak pernah diatur secara jelas.

f. Uang saku yang diperoleh peserta Magang Jepang relative lebih kecil dibanding dengan program magang yang dikelola oleh instansi lain dari Indonesia. Keadaan ini tidak jarang menimbulkan ketidaknyamanan bagi peserta magang.

g. Ketidaksesuaian antara usahatani yang dikelola di tanah air dengan yang ditemui di Jepang menjadi kendala pada awal kegiatan magang dan pada saat magang berakhir. Peserta magang tidak tahu harus mengembangkan usahatani apa di kampung halaman karena yang dialami selama magang sangat berbeda jauh dengan usahatani orangtuanya atau usahataninya.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, Indonesia mengajukan beberapa rekomendasi yaitu:

a. Sampai dengan berakhirnya MOU antara JAEC dan Badan Pengembangan SDM Pertanian tahun 2008, proses seleksi dan pelatihan akan melibatkan IKAMAJA. Dengan pengalamannya selama magang di Jepang, diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas seleksi dan materi pelatihan.

b. Memperbaiki sebagian isi MMU sehingga sesuai dengan harapan peserta magang. Hal-hal yang telah diatur dengan jelas akan disosialisasikan kepada peserta magang maupun induk semang. Sedangkan hal-hal yang dapat menimbulkan persepsi yang berbeda akan diusulkan untuk diperbaiki MMU nya.

c. Setelah MOU antara JAEC dan Badan Pengembangan SDM Pertanian berakhir tahun 2008, maka diusulkan MOU baru akan dibuat antara IKAMAJA dengan JAEC. Badan Pengembangan SDM Pertanian bertindak sebagai fasilitator dan evaluator.

2. FILIPINA

Filipina yang diwakili oleh Ms. Solidad B. Fernando menyajikan program kerja yang sedang dilaksanakan bagi para peserta magang. Para peserta magang yang telah kembali akan menerima bantuan untuk memulai atau memperluas usaha tani mereka. Proyek ini membantu peserta magang mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan yang mereka dapatkan selama di Jepang. JAECAAP (perkumpulan alumni magang Jepang Filipina) yang telah tersebar di 16 daerah memonitor pelaksanaan hal tersebut. Filipina juga menjelaskan beberapa persoalan yang sedang dihadapi oleh mereka.

Seperti minimnya pendanaan untuk orientasi calon peserta magang sehingga kadang-kadang peserta harus mencari sendiri sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga non pemerintah. Juga karena topan yang melanda Filipina baru-baru ini, lemahnya sistem monitoring yang dilakukan pimpinan daerah dan JAECAAP, dan keharusan mempunyai kontrak penjualan dengan pembeli prospektif menyebabkan pembayaran kembali bantuan yang telah diterima para eks magang agak tersendat.

Kerja yang dilakukan pemerintah Filipina sekarang adalah mengadakan pertemuan rutin antara pengurus JAECAAP dan pemimpin daerah untuk pengumpulan pembayaran bantuan yang telah diterima, mendorong anggota JAECAAP menjadi anggota Dewan Pertanian dan Perikanan. Pada level nasional, JAECAAP diharapkan lebih memperkuat monitoring bantuan yang telah diberikan dan rencana bekerjasama dengan organisasi sosial dan nirlaba untuk mencari sumber pendanaan untuk kegiatan-kegiatan JAECAAP seperti Rotary Club, Lions, Kiwanis, Philippine Jaycees.

3. THAILAND

Ms. Ratana sebagai Kepala Perwakilan Delegasi Thailand menerangkan keadaan negerinya yang terkenal sebagai negara yang berbasis pertanian tetapi walau demikian sumbangan bagi Pendapatan Nasional Bruto hanya 8,6 % dari total keseluruhan dan jumlah petani mengalami penurunan karena harga yang tidak stabil dan kecilnya keuntungan. Maka dari itu para petani muda adalah target dari pembangunan ilmu dan kemampuan sebagai penerus masa depan pertanian. Banyak langkah yang telah dan sedang dilakukan untuk memfokuskan target itu.

Salah satu langkah yang telah lama dilakukan adalah kerjasama dengan JAEC sejak tahun 1983 untuk mendidik petani muda belajar di luar negeri khususnya Jepang. Kemampuan bahasa, adaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, dan lemahnya peran asosiasi alumni magang adalah masalah yang kini dihadapi oleh Thailand. Walaupun demikian manfaat yang diperoleh sangat besar seperti pendidikan manajemen pertanian yang sama sekali baru, transfer ilmu dari alumni ke komunitas mereka, dan banyak alumni sukses membangun pertanian mereka.

4. MALAYSIA

Malaysia yang diwakili oleh Mohd. Hussin Bin Yunus dalam country report-nya menjelaskan latar belakang kerjasama antara Malaysia dan JAEC. Sejak awal mula diadakannya kerjasama, tujuan, orientasi peserta hingga seleksi kandidat petani yang akan dikirim. Mr. Hussin juga menjelaskan sistem pengawasan yang dilakukan berjenjang oleh pemerintah hingga kunjungan langsung ke tempat para pemuda magang melakukan aktivitasnya di Jepang. Malaysia tidak melepaskan begitu saja para pemuda magang yang baru kembali, tetapi menyediakan dan memberikan dukungan untuk para petani demi mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat.

Pemerintah Malaysia untuk tahun 2007 ini sebelum memberangkatkan para pemuda akan lebih meningkatkan lagi kualitas peserta seperti pemantapan di tempat para alumni selama sebulan, cara penggunaan mesin-mesin pertanian, lebih memperkenalkan budaya Jepang agar mereka lebih mudah beradaptasi. Pihak Malaysia juga mengharapkan pengertian yang mendalam dari host farmer tentang budaya dan agama yang dianut pemuda Malaysia. JAEC juga diharapkan agar memberitahukan host farmer agar tetap komit pada MOU. Penyediaan penerjemah yang tidak hanya pandai berbahasa Melayu, tetapi juga paham tentang budaya dan adat para peserta.

DISKUSI JAEC DENGAN DELEGASI PESERTA

Rapat antara JAEC dengan delegasi Indonesia berlangsung di Ruang Eksekutif Hotel Grand Aquila pada tanggal 7 Februari 2007. Rapat yang berlangsung dari pukul 09.00 s.d. 12.00 tersebut dihadiri oleh dari pihak Indonesia: Kepala Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian, Kepala Bidang Pelatihan Non-Aparatur, Kepala Subbidang Permagangan Petani, Kepala Subbidang Agribisnis, Ketua IKAMAJA Nasional, dan Atase Pertanian Jepang, dari JAEC dihadiri oleh Direktur Executif dan Chief International Cooperation Section.

Rapat difasilitasi seorang penerjemah Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia. Rapat membahas hal-hal yang disampaikan pada country report sewaktu sidang hari pertama tanggal 6 Februari 2007 yaitu mengenai proses seleksi calon peserta magang, pelatihan orientasi dan persiapan menjelang keberangkatan ke Jepang, kemampuan bahasa dan komunikasi Bahasa Jepang, persepsi induk semang, waktu kerja, uang saku, dan ketidak sesuaian antara usahatani peserta magang di tempat asalnya dengan kegiatan magang di Jepang.

Berdasarkan rapat yang sangat alot tersebut disepakati beberapa hal sebagai berikut:

1. Indonesia akan memperbaiki sistem seleksi dan meningkatkan kontrol terhadap pelaksanaan seleksi tersebut. Pusabanglatan diminta lebih aktif mensosialisasikan pedoman seleksi kepada pemerintah daerah (Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten).

2. Sesuai dengan latarbelakang diadakannya magang Jepang ini, bahwa peserta magang haruslah mereka yang telah menjadi petani dan mempunyai prospek menjadi pemimpin pertanian di lingkungannya. Pihak JAEC sangat menyayangkan jika peserta yang dikirim tersebut tidak banyak tahu tentang pertanian.

3. Demikian juga sistem pelatihan orientasi hendaknya mampu memberikan kondisi yang mirip dengan kondisi yang akan dihadapi oleh peserta magang di Jepang. Kondisi dimaksud antara lain disiplin, pekerjaan yang menuntut kerja pagi hingga malam hari untuk waktu-waktu panen dan tertentu.

4. Kedepan, pelatihan orientasi dan pemantapan akan mengikutsertakan IKAMAJA secara aktif, sehingga pengalaman alumni magang dapat disampaikan kepada calon magang. Berdasarkan pengalaman mereka selama di Jepang, akan membantu melihat siapa diantara calon tersebut yang tidak akan kuat menghadapi situasi magang di Jepang.

5. Magang tidak boleh disamakan dengan program kerja yang mempeoleh bayaran lebih tinggi. Allowance (uang saku) tidak diartikan sebagai bayaran. Peserta magang harus mengerti bahwa mereka pergi ke Jepang untuk mencari ilmu, pengetahuan, pengalaman, belajar pertanian, budaya dan kebiasaan orang Jepang.

6. Masalah keterbatasan bahasa Jepang hendaknya dilihat dari dua sisi. Dari sisi peserta mereka hendaknya terus meningkatkan keterampilan berbahasa Jepang dengan cara mencoba kalimat yang sangat sederhana, belajar melalui photo, bermain dengan anak-anak di Jepang dsb. Dari pihak induk semang diminta pengertiannya bahwa belajar bahasa Jepang bagi anak-anak peserta magang tidaklah mudah. Jangan diartikan bahwa mereka melawan atau membangkang tetapi semata-mata karena kurang mengerti saja.

7. Bekerja melebihi waktu 50 jam kerja seminggu juga dibahas. Pihak JAEC menjelaskan bahwa terkadang pada hari-hari tertentu jam kerja melebih 8 jam kerja, hal itu hanya karena sifat dari pekerjaan di pertanian yang tidak bisa dibuat seperti jam kantor. Ada juga saatnya para peserta magang bekerja kurang dari 8 jam per hari. JAEC tetap memperhatikan saran agar otosan tidak memberikan pekerjaan yang terlalu berat bagi peserta magang.

8. Kesesuaian antara komoditas yang diinginkan dengan yang dialami di Jepang disepakati bahwa pihak JAEC berusaha seoptimal mungkin menyesuaian antara pilihan pertama, kedua, dan ketiga. Dimohon agar peserta menyusun pilihannya secara benar dan tidak mengadakan perubahan setelah dokumen dikirim.

9. Secara umum kedua belah pihak (JAEC dan Indonesia) setuju tetap meneruskan program magang ini dengan terus mengadakan perbaikan dari masing-masing pihak.

10. Untuk program tahun 2007, JAEC dan Indonesia menyetujui pengiriman magang sebanyak 12 orang. Dokumen detail item, telah disepakati antara kedua belah pihak dengan sedikit perbaikan. Sebelumnya detail item ditandatangani oleh Kepala Badan PSDMP sekarang boleh ditandatangani oleh Kepala Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian.

Wednesday, 25 April 2007

LSM mitra kerja program magang petani muda di Jepang

1. The Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) Tokyo

Profile organisasi
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program The Asian Young Leaders Training Program sejak tahun 1983. Jumlah anggotanya 387 orang.

Nama Ketua : Shinichiro Asao
Nama Sekretaris : Hisaki Horiuchi
Alamat : Meiji-Seimei-Kamata-Ekimae Building 6F 39-2, Kamata 4-chome, Ota-ku, Tokyo 144-0052
Telpon : 03-5703-0251
Fax : 03-5703-0255
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut :
Organisasi cukup profesional dalam mengelola program petani magang. Setiap tahun dilakukan evaluasi memalui pertemuan annual meeting yang dilaksanakan di negara pengirim trainee secara bergiliran. Peserta pertemuan adalah Pengurus JAEC dan pejabat kementerian Pertanian negara pengirim trainee.

Anggaran tahun ini menurun sehingga diharapkan sejak tahun 2007 negara pengirim trainee dihimbau untuk menyiapkan dana tiket trainee pulang-pergi ke Jepang. Sementara yang ikut dalam program ini adalah Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand. Ada negara lain yang berminat untuk mengikuti program ini adalah Vietnam, Myanmar dan Laos. Indonesia harus siap untuk berbenah diri.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah Petani muda Indonesia telah mengikuti program petani magang ini sejak tahun 1990 Yang jumlah pesertanya sekitar 15 orang per tahun.

2. The Japan Agricultural Exchange Council Fukui Prefecture

Profile organisasi
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program petani magang sejak tahun 1990. Anggota organisasi ini terdapat 118 orang.

Nama Ketua : Hisaichi Shirasaki
Nama Sekretaris : Shingi Minami
Alamat : 14-22 Gojoho, Ono-shi, Fukui Pref. 912-0421
Telpon : 0779-64-1501
Fax : 0779-64-1219
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Fukui. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee dapat berkomunikasi dengan semua anggota keluarga Host Familinya.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah telah terjalin kerjasama program petani magang Indonesia Jepang dimana jumlah pesertanya sekitar 2-7 orang per tahun..

3. The Niigata Agricultural Exchange Council (NAEC)

Profile organisasi
Organisasi ini telah menyelenggarakan program Petani magang sejak tahun 1995, dimana jumlah anggotanya terdapat 79 orang.

Nama Ketua : Toshiharu Morohashi
Nama Sekretaris : Joichi Kawakami, Nobutoshi Ikegu
Alamat : Kenshinren No.2 Bunshitsu, 1-86 Higashinakadori, Niigata-shi, Niigata Pref. 951-8116
Telpon : 025-223-2186
Fax : 025-223-2401
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Niigata. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee mempunyai kemauan belajar dalam bidang pertanian.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah petani muda Indonesia telah mengikuti program petani dengan jumlah peserta sekitar 7 orang per tahun..

4. The Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) of Gunma

Profile organisasi
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program petani magang sejak tahun 1996, Jumlah anggota organisasi ini sebanyak 199 orang.

Nama Ketua : Takao Otake
Nama Sekretaris : Eiichi Noguchi
Alamat : Gardenhills 2-105,
674-1 Hisanaga, Fujimi-mura, Seta-gun, Gunma Pref. 371-0116
Telpon : 027-288-2902
Fax : 027-288-8524
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Gunma. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee mempunyai kemauan belajar dalam bidang pertanian dan dapat berkomunikasi dengan baik.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah petani muda Indonesia telah mengikuti program petani magang sejak tahun 1999 dengan jumlah pesertanya sekitar 15 orang per tahun.

5. Kumamoto Agricultural Exchange Association (KIA)

Profile organisasi :
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program Petani magang sejak tahun 1997. Jumlah anggotanya terdapat 90 orang.

Nama Ketua : Tsumoru Aoki
Nama Sekretaris : Daisaku Tojiri, Kenichi Takehara
Alamat : 17-15 Suigenji 3-chome, Kumamoto-shi, Kumamoto Pref. 862-0950
Telpon : 096-387-1122
Fax : 096-383-7630
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Gunma. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee dapat berkomunikasi dengan baik dan mengikuti peraturan pemerintah Jepang.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah petani muda Indonesia telah mengikuti program petani magang dengan jumlah pesertanya sekitar 5-10 orang per tahun.

Thursday, 19 April 2007

Pertemuan Nasional IKAMAJA ke II di Lembang, Bandung 8-11 November 2006


IKAMAJA adalah Ikatan Alumni Magang Petani Muda Indonesia di Jepang. Anggotanya adalah para petani yang pernah melakukan magang pada pertanian di Jepang sejak tahun 1984. Banyak diantara mereka yang telah penjadi petani yang berhasil dan ada yang menjadi Petani Teladan, Kepala Desa dan bahkan menjadi anggota DPRD.
Pertemuan Nasional IKAMAJA ke II dilaksanakan pada tanggal 8-11 November 2006 di Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Tani Mandiri desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Bandung. Tempat tersebut merupakan Pertanian milik Bapak Isak Ketua IKAMAJA yang akan menjadi tempat pelatihan para petani di Jawa Barat.
Tema Pertemuan Nasional II adalah Meningkatkan kesejahteraan IKAMAJA Melalui Kelembagaan dan Profesionalisme.
Pertemuan dihadiri oleh menteri Pertanian, Kepala Badan Pengembangan SDM, Komisi IV DPR RI Bapak Umul, Kepala Dinas Tanaman Pangan Jawa Barat Bapak Asep Abdi, Atase Pertanian Perwakilan KBRI Tokyo, Pudjiatmoko dan 42 anggota IKAMAJA yang berasal dari 18 propinsi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dilakukan penandatangan MOU antara IKAMAJA dan PT. Emaralindo Hijau Lestari kerjasama dalam agribisnis disaksikan oleh Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pengembangan SDM.
Selesai penandatanganan MOU dilanjutkan penandatanganan Prasasti berdirinya P4S Tani Mandiri pada tanggal 9 November 2006.
Telah dilakukan temu wicara Mentan, Komisi IV DPR, Atase Pertanian KBRI Tokyo, Kepala Badan Pengembangan SDM, Wakil Gubernur Jabar dengan anggota IKAMAJA, yang diliput oleh stasiun TVRI.
Dalam temu wicara Menteri Pertanian menyampaikan bahwa petani muda IKAMAJA harus percaya diri dan bangga akan kemampuannya dalam memproduksi hasil pertanian, mengolah dan memasarkannya. Departemen Pertanian akan memberikan fasilitas sarana fisik dan computer untuk kelancaran berjalannya kegiatan pelatihan. Pada tahun 2009 ditargetkan terdapat 2 P4S di setiap kabupaten. Departemen Pertanian akan mengusahakan kredit tanpa agunan dengan bunga lebih rendah 2,5%.
Komisi IV DPR RI yang diwakili Bapak Umul menyampaikan bahwa Komisi IV akan memperjuangkan anggaran untuk memberikan fasilitas yang diperlukan P4S. Untuk mensosialisasi IKAMAJA beliau menawarkan agar beraudiensi dengan Komisi IV DPR RI.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia menyampaikan bahwa pihaknya akan mendorong dan memfasilitasi semua kegiatan yang berhubungan dengan pelatihan dan penyuluhan pertanian. Indonesia saat ini masih kekurangan 44.000 penyuluh pertanian.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Jawa Barat menyampaikan bahwa Pemerintah daerah akan mendukung sepenuhnya kegiatan pelatihan pertanian di Jawa Barat.
Dalam temu wicara disampaikan oleh Atase Pertanian bahwa Jepang maju dalam bidang pertanian karena di dukung oleh R and D perguruan tinggi dan lembaga penelitian.
Dalam temu wicara disampaikan oleh Ketua IKAMAJA bahwa mengharapkan agar P4S memperoleh fasilitas dari Deptan agar dapat mengembangkan kemaqmpuannya.
Dalam dialog, para anggota IKAMAJA telah menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
Mereka mengharapkan pemerintah tetap meneruskan program magang yang telah berjalan sejak tahun 1984.
Anggota IKAMAJA memohon fasilitas dari Departemen Pertanian dalam penyelenggaraan pertemuan nasional.
Untuk kelancaran kegiatan IKAMAJA mereka mengharapkan pemberian fasilitas-fasilitas dari Departemen Pertanian
Mereka memohon agar Balai pendidikan dan latihan Deptan terbuka untuk menerima pelatihan dari anggota IKAMAJA.
Mereka memohon bantuan untuk memperoleh modal kredit dengan mudah.
Meskipun di tempat mereka belum terbentuk P4S tetapi secara tidak langsung mereka telah menjadi penyuluh swakarsa karena mereka telah memberikan penerangan ke masyarakat disekitarnya.
Mereka mengucapkan terimakasih atas diberikannya bantuan kepada keluarga yang tertimpa musibah tsunami.
Lima hal penting yang perlu diperhatikan dalam program magang pemuda petani adalah sebagai berikut:
Metoda perekrutan calon petani muda magang dilaksanakan dengan professional.
Preorientasi yang dilaksanakan di Indonesia diberikan pembekalan yang cukup mengenai bahasa, budaya, adat-istiadat Jepang.
Orang tua angkat diusahakan paham tentang budaya Indonesia.
Masa orientasi dan pembekalan di Jepang harus cukup memadai agar siap ditempatkan di pertanian Jepang.
Untuk memperlancar persiapan mereka berusaha pertanian di Indonesia, sebaiknya dipersiapkan program pasca magang dengan baik. Mereka diberikan surat keterangan tentang keahlian bidang pertanian untuk disampaikan kepada para kepala pemerintah daerah.
Hasil diskusi dengan orang tua angkat dari Gunma Mr. Yamasaki, orang tua angkat petani muda di Jepang telah merintis program magang pertama kali dengan cara melakukan pengkajian di berbagai negara yang terlibat dalam IAEA (International Agricultural Exchange Association). Setelah itu mereka mendirikan IAEA Jepang. Hal ini dapat dijadikan bahan kajian untuk pengembangan kegiatan IKAMAJA di Indonesia.
Dalam pertemuan telah dibahas persiapan Kongres IKAMAJA II di PENAS-Palembang pada tahun 2007.
Pada Pertemuan Nasional kali ini dijelaskan juga tentang pengetahuan mengenai Skim usaha tani yang disampaikan oleh PT. Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Bank Syariah Mandiri.
Dalam seminar telah disampaikan Sumber-sumber Pembiayaan untuk Pengembangan Sektor Pertanian oleh Dr. Endang S. Thohari.

Monday, 9 April 2007

Penutupan Pelatihan Trainee Petani Muda di Propinsi Gunma Jepang 22-23 Maret 2007

Pelatihan Trainee Petani Muda di Jepang telah dilakukan dari tahun 1984 yang diprakarsai kerjasama antara departemen Pertanian dan Japan Agricultural Exchange Council (JAEC). Jumlah Petani Muda yang dikirimkan ke Jepang untuk menimba teknik pertanian setiap tahun sekitar 50 orang. Pada tahun ini terdapat 43 orang yang terdiri dari 41 orang laki-laki dan 2 orang perempuhan petani yang berusia sekitar 22 – 26 tahun. Mereka berpendidikan SMU sampai dengan sarjana dan telah berpengalaman bertani antar 3- 6 tahun.
Jumlah alumninya sampai sekarang 912 orang, mereka bergabung dalam suatu organisasi yang dinamakan Ikatan Alumni Magang Jepang (IKAMAJA). Dalam ikatan organisasi ini mereka telah berperan dalam memberikan kontribusi pembangun pertanian melalui penyuluhan petani swadaya yang dilakukannya kepada masyarakat petani di sekitarnya.
Sebelum berangkat ke Jepang mereka diberikan pembekalan selama satu tenengah bulan di Bogor dan Lembang Bandung meliputi pelajaran Bahasa Jepang, Adat istiadat dan Budaya Jepang dan Tekhnik Pertanian modern.
Sebanyak 10 orang petani muda asal Indonesia telah melakukan pelatihan selama sepuluh hari di Norindai (Universitas Pertanian dan kehutanan di Gunma). Mereka bergabung dengan 19 orang trainee yang berasal dari Philipina.
Selama seminggu dari tanggal 14 – 22 Maret 2007, mereka memperoleh pelajaran bahasa Jepang teknik bertanam dalam green house dan cara pengolahan tanah. Pelajaran disampaikan dengan bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Selama pelatihan ini mereka bertempat tinggal dalam asrama Universitas Pertanian dan Kehutanan Gunma.
Dalam sambutan penutupan Atase Pertanian telah memberikan dorongan kepada mereka agar belajar, berlatih dan bekerja dengan giat, mengikuti peraturan yang berlaku di tempat pelatihan. Meskipun kita harus beradaptasi dengan lingkungan tempat berlatih tetapi kita tetap menjunjung tinggi budaya Indonesia dan agama yang kita peluk termasuk melaksanakan peribadahan sesuai dengan agamanya masing-masing. Bagi yang beragama Islam tetap mendirikan ibadah sholat wajib dan tidak mengikuti mereka meminum sake dsb.
Mereka dihimbau agar selalu melakukan pencatatan apa yang telah dipelajari dan apa yang telah mereka amati agar dapat menulis buku pegangan untuk dipakai ketika kembali ke Indonesia. Mereka diberikan target setelah kembali ke Indonesia, mereka bisa mengembangkan teknik pertanian di daerahnya. Untuk menyemangatinya diberikan contoh petani sukses di Lembang yang telah terbukti dapat menghasilkan produk sayur brokoli dan tomat bermutu baik yang dapat menembus pasar swalayan besar di Bandung dan Jakarta .
Dengan tercetaknya petani muda yang terampil dan kreatif dapat mengisi tenaga petani yang belakangan ini telah mengalami penurunan jumlah petani muda karena banyak pindah kekota untuk bekerja di sektor informal di kota-kota besar.
Program pelatihan petani magang ini dapat ditingkatkan lagi agar jumlah petani terampil dan inovatif dapat dikembangkan lagi untuk mendukung peningkatan tehnik pertanian Indonesia dan pada gilirannya akan meningkatkan produk pertanian baik untuk swasembada pangan maupun untuk peningkatan devisa negara dengan cara mengekspor produk pertanian yang bermutu ke manca negara.
Pada kesempatan mendatang pada bulan Juli 2007 para petani Jepang akan berkunjung ke Pertemuan Nasional Masyarakat Petani di Palembang.

The Joint Annual Meeting 2007 of ASEAN Young Farmers Leaders Training Program in Japan, Bandung 5-9 February 2007

Pertemuan dilaksanakan di Hotel Grand Aquila, Bandung pada tanggal 5 - 9 Pebruari 2007. Pertemuan ini dihadiri oleh 2 delegasi dari Malaysia, 4 orang dari Thailand, orang Philipina, dan 4 orang dari Indonesia termasuk Atase Pertanian Tokyo. Dalam pembukaan dihadiri oleh perwakilan dari Indonesia terdiri dari Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Departemen Pertanian Dr. Ato Suprapto, Kepala Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian Ir. Heri Suliyanto, MBA dan 2 orang stafnya, Atase Pertanian Tokyo Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Ketua KTNA dan Ketua IKAMAJA serta para anggota IKAMAJA.
Pertemuan dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Departemen Pertanian Dr. Ato Suprapto. Dalam sambutannya beliau menyebutkan pertemuan ini merupakan forum untuk bertukar pengalaman dan kerjasama dalam mengevaluasi program tahun 2006 yang lewat dan membuat rencana program yang akan dilaksanakan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Beliau menegaskan bahwa program pelatihan petani magagang ini sangat membantu dalam program revitalisasi pertanian di Indonesia. Para petani muda yang kembali ketanah airnya setelah memperoleh ilmu bertani dan teknologi pertanian dari Jepang dapat meningkatkan produktivitas dan kwalitas hasil pertanian di negaranya.
Sambutan Executive Director Mr. Hisaki Horiuchi tentang Program implementation for Year 2007
Masalah penting yang perlu diperhatikan adalah banyak trainee lebih tertarik memperoleh upah yang banyak dari pada belajar dalam bidang pertanian yang merupakan tujuan utama kedatangan ke Jepang. Sehingga terdapat beberapa trainee melarikan diri untuk memperoleh pekerjaan di tempat lain. Apabila kejadian ini berkelamjutan JAEC akan mengakhiri program training pertanian ini. JAEC sangat mengharap pihak yang berwenang pada instansi di Departemen Pertanian untuk segera menangani masalah ini dengan baik.
JAEC bertugas membantu MAFF dalam melaksanakan program training pertanian ini. JAEC mengharap pemerintah negara peserta trainee memberikan masukan maupun permintaan yang berkaitan dengan program tahun ini sebelum Maret.
Karena bantuan MAFF Jepang makin tahun makin menurun maka kami mengharapkan pengertian setiap negara untuk mempersiapkan bantuan mandiri dalam pelaksanaan program ini.
JAEC mengharapkan para calon Trainee disiapkan dengan baik di negaranya dengan cara menseleksi dengan metoda yang baik sehingga mereka dapat belajar dan berlatih di Jepang sampai akhir program.
JAEC akan melanjutkan program ini dengan melakukan perbaikan pada program mendatang.
Presentasi Mr. Ryoji Sakamoto dari JAEC

Para calon trainee haris diseleksi dengan cara yang baik sehingga diperoleh trainee yang benar-benar ingin belajar pertanian di Jepang.
Mereka harus mempunyai pengalaman bertani yang cukup sehingga tidak canggung lagi untuk berlatih dan belajar di lingkungan pertanian di pelosok di Jepang.
Mereka harus mempunyai motivasi yang kuat berlatih bertani di Jepang dan juga mempunyai rasa tertarik kepada adat dan budaya internasional.
Mereka harus mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat Jepang.
Mereka harus berbadan sehat sehingga mampu melakukan proses pembelajaran dan berlatih bertani di pertanian di Jepang.
Setelah sampai di Jepang, sebelum berlatih mereka diberikan pelajaran bahasa Jepang selama seminggu.
Mereka diberikan pelatihan penggunaan peralatan mesin pertanian seperti mesin tanam, penyemprot, dan alat pemanen.
Mereka diberikan pelajaran teori bertani secara berkala di pusat pelatihan.
Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar sambil bekerja di pertanian di Jepang (Learning by doing).
Country Report Indonesia
Program magang petani di Jepang telah memberikan sumbangan yang cukup besar dalam menyediakan tenaga terampil bidang pertanian terutama dalam mengisi bidang manajemen agribisnis. Meskipun persentasinya masih sedikit tetapi alumni magang petani ini telah mempunyai reputasi yang baik di kalangan masyarakat di Indonesia terutama dikalangan masyarakat petani. Beberpa diantara mereka telah terpilih menjadi pemimpin organisasi sosial maupun institusi ekonomi seperti koperasi dan usaha agribisnis. Dan diantara mereka ada yang menjadi Kepala Desa dan bahkan ada yang menduduki kursi anggota DPRD.
Untuk mempertahankan kwalitas calon petani magang Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Deptan telah melaksanakan seleksi dengan ketat secara berjenjang dari tingkat desa, Kabupaten dan sampai tingkat Pusat. Petani muda yang telah mempunyai pengalaman di bimbing oleh Pusat Pelatihan Pertanian di daerah. Diantara mereka diambil 1-3 orang untuk dikirim ke pusat. Calon petani magang yang berasal dari 32 propinsi dilatih di Pusat Pelatihan di Bogor dengan kurikulum sesuai dengan pertanian di Jepang meliputi Bahasa Jepang, Budaya Jepang, mekanisasi pertanian, praktek lapangan. Selain itu mereka dipantau kesehatannya dan dilakukan pengecekan kesehatannya menjelang keberangkatan.
Masalah yang dihadapi para trainee yang berasal dari Indonesia terutama adalah kemampuan berbahasa Jepang, perbedaan persepsi tentang program magang, seleksi trainee didaerah kurang bagus, motivasi berlatih yang kurang, maslah makanan dan shalat, waktu kerja yang panjang, uang saku yang kecil, kecocokan antara trainee dan orang tua angkat.
Sekembalinya mereka ke Indonesia, Badan Pengembangan SDM akan memfasilitasi agar mereka dapat berkarya di masyarakat pertanian di daerahnya dengan cara menjembatani mereka dengan pemerintah daerah.

Country Report Thailand

Program pengembangan pemuda telah dilaksanakan sejak tahun 1982. Kementerian Pertanian dan Koperasi telah memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia petani muda sebagai strategi pengembangan pertanian nasional. Lima strategi yang dipergunakan dalam Rencana Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional ke 10 adalah sebagai berikut: Strategi I, membentuk kelompok petani muda dalam sekolah dengan dukungan Jaringan IT untuk informasi pertanian; Strategi II, mengembangkan petani muda di luar sekolah dengan cara membentuk kelompok petani muda dan membekali mereka dengan pengetahuan dasar bertani; Strategi III, Mengembangkan kelompok petani muda dalam sekolah dan luar sekolah dengan cara memberikan pengetahuan perencanaan dan manajemen pertanian, pemasaran dan agribisnis; Startegi IV, mengembangkan petani muda menjadi enterpreneur dengan cara membekali mereka tehnik berdagang dan bantuan dana; Strategi V, memperkuat jaringan petani muda dengan cara mendorong kerjasama dengan kelompok pemuda lain dan membantu pertemuan petani muda dibeberapa kesempatan.
Thailand pertamakali melaksanakan Program ASEAN Young Farmers Leaders Training Program in Japan pada tahun 1983. Jumlah trainee yang telah melakukan pelatihan di Jepang sampai tahun 2007 sebanyak 365 orang.
Sebanyak 60% dari ex-trainee bekerja sebagai petani part time, 38% sebagai petani full time dan sisanya bekerja di sektor lain.
Masalah yang dihadapi para trainee angkatan tahun 2006-2007 terutama masalah kemampuan berbahasa Jepang, kemudian masalah penyesuaian dengan masyarakat dan lingkungan baru.
Perkumpulan alumni magang petani di Thailand belum begitu kuat. Tetapi mereka telah mengakui mendapat banyak manfaat dari pelatihan magang petani di Jepang. Para alumni magang telah mendapatkan pengalaman teknologi pertanian Jepang, dan mengenal kehidupan pertanian di Jepang; mereka memperoleh budaya kerja disiplin, manajemen pertanian dan jadwal kerja yang baik; selain dapat mengaplikasi teknologi pertanian maju mereka juga telah menjadi penyuluh yang menyebarkan pengetahuan bidang pertania kepada masyarakat sekitarnya; diantara mereka telah banyak yang sukses mengembangkan agribisnes.
Pelajaran yang dapat diambil dalam program training tahun 2006 adalah pentingnya prosedur seleksi para calon trainee. Telah disebarluaskan pengumuman penerimaan calon trainee ini lewat media massa sehingga dapat diperoleh calon trainee yang berkwalitas. Motivasi dan kemampuan antara para trainee dengan staf departemen Pertanian dan JAEC sangat penting dalam mengurangi masalah di lapangan.
Program training ini sangat penting dan berharharga dalam pengembangan sumber daya manusia bidang pertanian. Program training ini telah mempererat hubungan negara peserta dengan Jepang.
Country Report Philipina
Training petani muda Philipina disponsori oleh JAEC dan National Fishery Council (NAFC) di Philipina yang bekerja sama dengan JAEC Alumni Association of the Philippines (JAECAAP).
Program tahun 2006-2007 terdapat 17 trainee yang akan segera pulang pada tanggal 25 Pebruari 2007. Setiba di Philipina , mereka akan memperoleh pelatihan enterpreneur selama dua minggu untuk mempersiapkan rencana mereka dalam project re-entry yang akan dilaksanakan di daerahnya masing-masing.
Program tahun 2007-2008 terdapat 18 trainee yang terpilih dari 39 calon, dan akan segera dilakukan Pre-Deaprture Orientation Course (PDOC) selama 75 hari sebelum diberangkatkan ke Jepang.
Perjanjian baru yang telah disepakati yang akan segera dilaksanakan untuk program 2007-2008 adalah NAFC akan menanggung biaya tiket pesawat terbang; biaya pemeriksaan kesehatan trainee 2 bulan sebelum pergi ke Jepang dibiayai oleh orang tua angkat petani Jepang; JAEC mempersiapkan Profil keluarga orang tua angkat petani Jepang.
JAECAAP BOD telah melakukan pertemuan sepuluh kali pada tahun 2006 untuk membuat pedoman seleksi pelatihan petani muda di Jepang. Pedoman tersebut telah disebar luaskan ke Ketua JAECAAP Propinsi , dan kordinator program training di daerah. JAECAAP BOD memperketat seleksi calon trainee di tingkat propinsi. Program homestay dipersingkat dari 60 hari menjadi 50 hari untuk mengurangi biaya pelatihan.
Pada bulan September 2006 JAEC memilih JAECAAP melaksanakan proyek yang dibiayai JICA yang bernama ”Pilot project for Better income by Organic-based Vegetable production” dari tahun 2007 sampai dengan 2009.
Terdapat 4 kali seleksi calon trainee. Seleksi pertama dilakukan di tingkat daerah oleh MAFC daerah. Seleksi kedua dilakukan ujian di tingkat propinsi untuk memilih sepuluh orang teratas, Seleksi ketiga ditingkat regional mengikuti program homestay dilakukan oleh JAECAAP BOD. Seleksi ke empat mereka harus lulus evaluasi lapangan yang dilakukan oleh NAFC, yang lulus akan masuk ke program Pre-departure orientation Course (PDOC).
Perbaikan pelaksanaan proyek ini melalui beberapa hal : a. Ujian saringan masuk babak kwalifikasi di tingkat propinsi dan regional; b. Jumlah program hime stay di philipina turun dari 60 hari menjadi 50 hari untuk penghematan biaya; c. JAECAAP dilibatkan lebih banyak dalam membuat soal ujian, d. distribusi dan pengecekan kertas ujian; e. Orang tua angkat anggota JAECAAP mengirimkan jadwal aktifitas calon trainee; d. Kertas evaluasi berisi hal yang berkaitan dengan kelakuan dan tabiat Trainee, keinginan berlatih pertanian, hubungan masyarakat, ketrampilan dan kepemimpinan, Kemampuan berbahasa Jepang.
Sejak 2004 biaya homestay dan latihan sebelum pergi ke Jepang ditanggung oleh calon peserta training dan ada juga yang ditanggung oleh Dinas pertanian daerah dan propinsi.
NAFC bekerja sama dengan JAECAAP dan Da RFUs/LGUs mendorong terbentuknya forum kunsultasi Luzon, Visayas, dan Mindanau.
Country Report Malaysia
Program training petani muda pertama kali dilakukan pada tahun 1985-1986 disponsori oleh Association for International Cooperation for Agriculture and Forestry (AICAF) bekerjasama dengan Ministry of Agriculture Malaysia. Pada tahun 1988 AICAF digantikan oleh JAEC. Dan mulai tahun 1991 dilakukan MOU yang diperpanjang setiap 5 tahun.
Tujuan program magang petani muda ini adalah untuk memberikan kesempatan pemimpin petani muda malaysia untuk belajar teknik bertani, ketrampilan manejemen, dan kemampuan hidup, bekerja dan belajar dalam masyarakat petani di Jepang.
Sejak tahun 1985 sampai dengan tahun 2006 petani magang malaysia terdapat 245 orang.
Seleksi calon trainee dilaksanakan kementerian Pertanian. Setiap dinas pertanian negara bagian menirimkan calonnya untuk diseleksi. Panitia yang berasal dari Kantor dinas pertanian yang menangani Pelatihan Petani. Sebelum seleksi final beberpa orang panitia dari Dinas Pertanian melakukan datang ke pertanian untuk memverifikasi keabsahan informasim yang diberikan. Sebelum masuk ke proyek Pertanian mereka harus melewati wawancara. Setelah lulus seleksi akhir mereka akan diberikan pembekalan oleh Panitia dari Kementerian Pertanian dan pemeriksaan kesehatan. Para peserta yang dinyatakan lulus beserta cadangannya dikirimkan ke Kementerian pertanian untuk dilanjutkan ke JAEC. Nama calon yang telah lulus akan dikirimkan ke JAEC.
Mereka yang telah lulus diberikan pembekalan pada Pre-departure Orientation Course (PDOC) . Tujuan PDOC ini ada 6 yaitu: a. Untuk memberikan pemahaman maksud tujuan program pelatihan petani muda; b. Untuk memberikan pengetahuan dasar bahasa Jepang dan percakapan’ c. Memberikan kemampuan calon trainee dapat berinteraksi dan beradaptasi ketika melakukan pelatihan di Jepang; d. Membekali calon peserta trainee dengan pengetahuan program pengembangan pertanian Malaysia; e. Menyiapkan pengetahuan dasar dan ketrampilan mengendarai traktor agar dapat melaksanakan tugas training di Jepang; f. Membekali ajaran agama Islam, nilai dan budaya Islam.
Untuk tahun 2006 terseleksi 10 orang dari 18 orang pendaftar dan diberikan Pre-departure Orientation program di Farm Mechanization Training Center (FMTC) di Serdang dari 3 Januari – 30 Maret 2006. Belajar bahasa Jepang dilaksanakan selama 284 jam dengan guru seorang Jepang dan 2 orang Malaysia. Mereka diajarkan juga tentang adat-istiadat dan budaya jepang. Diundang 10 orang alumni training untuk memberikan pengalamannya selama di Jepang. Biaya yang diperlukan untuk PDOC tersebut sebanyak RM. 55,000,- ( 1,980,000 yen )
Pada tahun 2006 terdapat 8 peserta trainee yang dikirim ke Jepang. Terdapat satu peserta yang pulang 3 hari setelah kedatangannya karena tidak mampu beradaptasi dengan orang tua angkatnya.
Setelah menyelesaikan training di Jepang mereka dimonitor perkembangannya oleh SDOA dan Devisi Pengembangan, Investasi dan Konsultasi DOA. Termasuk didalamnya melakukan kunjungan, pertemuan dan diskusi di negeri Sembilan, Johor, Kelantan, dan Kedah.
Mereka akan diberikan arahan, pelatihan, dan bantuan sarana pertanian, pestisida, pupuk, dan pompa air. DOA juga memberikan supervisi peternakan sapi, ayam, dan budidaya ikan. Penyeluhan akan diberikan oleh instasi yang terkait.
Untuk mengevaluasi perkembangan kegiatan mereka selain dilakukan kunjungan juga dilakukan pertemuan tahuanan, workshop dan seminar yang dilakukan oleh Divisi Pengembangan, Investasi dan Konsultasi DOA.
Dari 245 alumni training dari tahun 1985-2004, 146 orang masih aktif bekerja di pertanian dan pekerjaan yang berhubungan dengan bidang pertanian. Sisanya sebagai pekerja Kerajaan Malaysia dan perusahaan swasta atau bekerja di bidang selain bidang pertanian.
Untuk perbaikan program training akan dilakukan beberapa perbaikan dalam PDOC yaitu: a. Sebelum ke PDOC mereka akan melakukan magang di pertanian milik alumni Training selama 1 bulan; b. Penambahan 4 jam waktu belajar bahasa Jepang; c. Perbaikan pelatihan dasar pengoperasian dan pemeliharaan traktor; d. Mengundang semua para alimni training pada saat PDOC untuk memberikan pengalamannya selama training di Jepang; e. Melatih mereka mencoba makanan Jepang dan mengetahui budaya Jepang untuk mempermudah adaptasi ketika di Jepang; f. Melakukan kunjungan ke Pertanian Komersial sayur-sayuran, padi, bunga untuk mengenalkan teknologi baru kepada mereka.
Dalam Pertemuan bilateral Indonesia dengan JAEC Indonesia dihasilkan suatu kesepakatan bahwa program magang petani muda yang berakhir pada tahun 2008 akan dilanjutkan lagi.

PELEPASAN DAN PENERIMAAN PETANI MAGANG DI FUKUI 29-30 MARET 2007

Dalam rangka penerimaan petani muda magang di propinsi Fukui, pada tanggal 29 Maret 2007 telah dilakukan pertemuan di Kantor Gubernur Fukui Prefecture. Pertemuan dihadiri oleh Kepala Bidang Pertanian Fukui Prefecture Mr. Kawaguchi Yoshio dan 3 orang Stafnya, Atase Pertanian KBRI Tokyo, Ketua Asosiasi Petani Fukui JAEC Mr. Hisaichi Shirasaki, 5 trainee yang baru datang, 6 trainee yang mau pulang dan orang tua angkat petani.

Di Kantor gumbernur Dalam pertemuan tersebut Ketua Asosiasi Petani Fukui JAEC Mr. Hisaichi Shirasaki menyampaikan bahwa Tahun ini bantuan dari Propinsi tidak ada tetapi kami telah memperoleh Fasilitas pelatihan petani di Pusat Pengujian Pertanian, Pusat Pengujian peternakan, Pusat Pengujian Hortikultura, Pusat Penghijauan hutan, Pusat Pengolahan makanan. Selain diberikan fasilitas tempat belajar juga diberikan bantuan guru untuk pelatihan mereka. Meskipn teknik pertanian berbeda Mr. Hisaichi Shirasaki mengharap para trainee yang pulang dapat meningkatkan pertanian di negaranya untuk menjadi petani seperti di Jepang. Kepada para trainee yang baru datang diharapkan belajar dan berlatih dengan baik.

Dalam kunjungan ke Kantor Gubernur Fukui Prefecture, Kepala Bidang Pertanian Mr. Kawaguchi Yoshio menyampaikan bahwa dari tahun 1982 telah diterima 143 trainee Indonesia yang telah belajar di Fukui. Selain Indonesia juga diterima trainee dari negara Thailand, Belanda, Swis, dan Jerman. Beliau merasa senang telah melihat 6 orang trainee dari Indonesia telah belajar dengan sukses. Beliau bercerita bahwa penduduk berumur yang terpanjang baik laki-laki maupun perempuhan se Jepang berasal dari Fukui. Hal ini karena mereka makan produk pertanian dan perikanan yang berasal dari Fukui dengan mutu baik dan jumlah yang cukup. Maka dari itu produk tersebut perlu dipertahankan. Beras Koshihikari yang rasanya paling enak berasal dari Fukui, tahun ini 50 tahun dari ditemukannya. Maka dari itu beliau mengajak agar para trainee belajar mengenai produk pertanian yang bagus-bagus ini dengan sebaik-baiknya.

Wakil dari orang tua angkat menyampaikan terimakasih atas bantuan KBRI dalam memfasilitasi kedatangan petani magang dari Indonesia. Semoga petani magang angkatan ini akan sukses melakukan pelatihan selama satu tahun di Fukui Prefecture.

Atase Pertanian menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya kepada induk semang petani magang, pengurus Asosiasi Petani Fukui, dan pemerintah daerah Propinsi Fukui serta Sekolah Pertanian dan Kehutanan Fukui yang telah memberikan bantuan moril maupun materiil sehingga telah terselenggaranya training petani magang di Fukui berjalan dengan lancar dan sukses. Atase Pertanian juga menyerahkan para traine kepada induk semang untuk dididik dengan baik sehingga setahun kemudian mereka dapat memperoleh ilmu yang cukup untuk membangun pertanian di Indonesia. Tahun ini Indonesia telah berbenah dalam menyeleksi para trainee. Seleksi telah dilakukan secara bertahap sehingga diharapkan memperoleh para trainee yang lebih baik kwalitasnya dari tahun-tahun sebelumnya. Atase Pertanian juga menghimbau agar para induk semang tetap menjaga hubungan komunikasi dengan para alumni trainee agar dapat ditingkatkan kerjasama dalam bidang produksi maupun distribusi produk pertanian untuk membangun kemakmuran bersama.

Dalam kesempatan ini pada tanggal 30 Maret 2007 Atase pertanian selanjutnya melakukan kunjungan ke pabrik penggilingan padi Mr. Toshiyaki Buto. Pabrik penggilingannya yang terdiri dari 3 unit mempunyai kapasitas 15 ton per hari. Keluarga Mr. Toshiyaki Buto mengolah lahan seluas 10 ha. Sedangkan 20 ha milik petani lain pengolahannya menggunakan peralatan tanam dan panen milik Mr. Buto. Mesin penggilingan dan pabrik memperoleh bantuan dari pemerintah daerah Propinsi dan Kabupaten sebanyak 60% hibah. Mesin pemisah mutu beras seharga 7 juta yen dan dilengkapi mesin pemilih pasir seharga 3 juta yen. Beliau juga mempunyai pabrik pengolahan mochi dengan kapasitas 1,5 ton per hari. Harga mesin penumbuk mochi 4 juta yen.

Atase Pertanian telah melakukan kunjungan ke peternakan Sapi pedaging jenis FH dan F one dengan populasi 120 ekor. Harga seekor pedet umur seminggu FH 50 ribu yen, F one 75 ribu yen sedangkan Yagyu 100 ribu yen. Makanannya berupa rumput kering dicampur dengan jagung dan konsentrat. Sebagai alas kandang adalah tahi gergajian atau sekam. Kotorannya dibiarkan selama satu bulan lalu dikumpulkan untuk dijadikan kompos yang pemrosesannya dilakukan di ruang pembuatan kompos disamping kandang. Berat Badan Sapi menjelang dijual sekitar 700 kg, sedangkan harga F one sekitar 1000 yen per kg Berat Badan.

Atase Pertanian juga telah melakukan kunjungan ke Pertanian Mr. Yamada Yutaka. Luas pertanian umeboshi yang dikelolanya 2 ha. Untuk Pemerah Umeboshi digunakan daun Shishou atau perila sebanyak 1 ton per tahun yang dipanen pada bulan Juli. Umeboshi yang berwarna hijau kekuningan dipanen menggunakan net warna hijau, lalu diolah dengan garam 20%, dilakukan grading menjadi 3 macam, grade A, B dan C kemudian diberi warna pemerah menggunakan cairan daun Shishou konsentrasi 20%. Umeboshi dipasarkan melalui koperasi JA atau dijual sendiri. Harga Umeboshi grade A berharga 980 yen per kemasan 500 gram di Toko pengecer. Menurut pengakuannya 40%nya adalah harga produk petani.

Para Trainee yang mau kembali ke Indonesia semua dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani. Mereka telah mempresentasikan pengalaman belajar dan berlatih selama di Jepang di depan tim penilai yang terdiri dari para orang tua angkat dan Asosiasi Petani Fukui, masing-masing diberikan waktu selama 10 menit. Semuanya dinilai telah siap untuk kembali ke daerahnya masing-masing untuk bertani sesuai dengan ketrampilan bertani yang mereka miliki dan kondisi lahan serta komoditi yang cocok di daerahnya masing-masing. Mereka memperoleh sertifikat pelatihan yang ditandatangani oleh Ketua JAEC Fukui. Kunjungan ke Kantor Gubernur Fukui telah diberitakan dalam surat Kabar Fukui.