Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Pasar Produk Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pasar Produk Pertanian. Show all posts

Friday, 25 July 2008

Mengenal Budidaya dan Pemasaran Mangga Apel dari Kumamoto, Jepang

Pertanian Mangga Apel di pertanian milik Mr. Keiichi Ueno terletak di wilayah Jepang Selatan, jarang sekali turun salju, ketinggian 50 m di atas permukaan air laut. Alamatnya 5064 Nonoshima, Koshi-shi, Kumamoto 861-1103. Dalam kegiatan budidaya mangga ini keluarga Ueno dibantu oleh petani muda magang dari Indonesia Sdr. Ramdan Triwiguno yang berasal dari Garut, Jawa Barat.

Disebut mangga apel karena warnanya merah-kuning mirip warna apel. Aromanya harum, rasanya manis. Bibit pohon mangga ini diperoleh dari Okinawa, biasa dibeli 10.000 yen per pohon. Pohon mangga di tanam dalam green house yang dilengkapi dengan pembuka dan penutup dinding dan van secara otomatis untuk pengaturan suhu. Suhu dijaga sekitar 24 – 30 C. Mangga ditanam dengan jarak antar pohon 4 m. Di atas lahan seluas 4000 m2 dibudidayakan 450 pohon mangga, 150 pohon berumur 6 tahun, 150 pohon berumur 8 tahun dan 150 pohon berumur 10 tahun.

Untuk memudahkan dalam perawatan dan pemanenan mangga, tinggi pohon dipertahankan sekitar 2 m dengan cara memangkas cabang dahan pohon secara teratur. Untuk mengatur jumlah buah supaya besarnya seragam, setiap cabang dahan pohon yang akan mengeluarkan buah diusahakan hanya berranting dua. Untuk menjaga mangga menyebar merata dengan posisi mudah dijangkau untuk perawatannya, setiap ranting pohon yang terdapat mangga digantung dengan tali.

Untuk membuat mangga matang dipohon dengan kwalitas bagus, setiap mangga disangga dengan jaring lentur yang digantung dengan tali yang dilengkapi dengan pengait. Mangga yang sudah matang akan terlepas dari tangkainya dan tetap terbungkus jaring lentur yang tetap menggantung. Dengan demikian kulit mangga yang telah matang tersebut tetap mulus dan tidak rusak. Pada masa panen tiba, pengambilan mangga matang dilakukan setiap hari.

Satu pohon mangga dapat menghasilkan 150 – 200 buah. Masa panen mangga pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Mangga dipilih sehingga berukuran seragam dengan mutu prima, dikemas dalam kardus yang kuat, rapih dan bercorak menarik. Harga sebuah mangga seberat 350 gram sekitar 2.000 yen, ada juga yang mencapai 2.500 yen.

Cara pemasarannya sangat mudah yaitu dengan memenuhi pesanan per telepon atau fax. Para pemesan sudah tahu benar mutu mangga apel dari Kumamoto ini, mereka memesan untuk dikirimkan ke relasi dan handai tolannya sebagai hadiah. Mr. Ueno petani mangga ini mengirimkan ke alamat yang dipesan pembelinya menggunakan Takyubin (jasa pengiriman barang). Satu paket isi dua buah harganya 4000 yen sedangkan yang isi 5 buah 7.500 yen.

Untuk memenuhi permintaan masyarakat sekitarnya di dekat rumahnya juga disediakan kios mangga untuk melayani mereka yang datang langsung ke tempat pertaniannya. Setiap musim panen mangga laris terjual habis, Mr. Keiichi Ueno sering mengucapkan permohonan maaf kepada pelanggan karena tidak dapat mengirimkan pesanannya.

Mangga-mangga RI yang rasanya eunak, dipersilahkan bersaing sejak 1 Juli tahun ini (2008) masuk pasar Jepang bebas bea masuk, jangan disia-siakan kesempatan ini.


Dinding green house dapat dibuka tutup untuk mengatur suhu udara yang disertai dengan van
















Tangkai mangga digantung dengan tali menggunakan pengait warna hijau agar posisi mangga mudah dijangkau dalam pemeliharaan dan pemanenan
















Setiap mangga yang sudah besar dibungkus dengan jaring lentur agar dapat menghasilkan mangga yang matang, kulit mulus warna merah-kuning merata
















Satu paket isi 5 buah mangka seharga 7.500 yen bisa dikirim ke seluruh penjuru Jepang menggunakan jasa pengiriman Takyubin
















Kios mangga apel di dekat rumah untuk masyarakat sekitar Kumamoto

Monday, 30 June 2008

Mangga Mini Jepun

Mangga mini hari ini di supermarket daerah Meguro, Tokyo dijual 980 yen atau sekitar 80 ribu rupiah. Mangga mini berukuran tiga kali ibu jari. Beratnya antara 35,0 - 60,0 gram per buah. Berat bijinya 2,5 - 3,5 gram. Warna kulitnya sebagian besar merah terdapat kuning sebagian kecil. Rasanya manis, aromanya seperti mangga tropis pada umumnya.







Tuesday, 18 March 2008

Ornamental Garden Plant Companies



PT. Agro Duasatu Gemilang
Address : Randu Agung 100 Malang, East Java, Indonesia
Ph. (62-0341) 426956
Mobile. + 62-818665019
Product : Ornamental Garden Plant

CV. ASA Indonesia
Address : Taman Setia Budi Blok YY No.16 Medan, North Sumatera, Indonesia
Ph. (62-61) 8201239, 77822967
Fax. (62-61) 8451867
Email : info@asaindonesia.com
Product : Palm, Raphis xelsa, seeding, Bougenville, phoenix

CV. ARJUNA FLORA
Jl. Raya Arjuno Rt.06/10 Junggo
Tulungrejo, Kota Batu 65336
East Java, Indonesia
Phone : + 62 – 341 – 512357
Fax. : + 62 – 341 – 595123
Email : arjunaflora@yahoo.com
Product :
Zephyrantes Bulb
Fresh cut flower
Heat proceed purple sweet potato (Beniimo)
Sandersonia aurantiaca tuber

PT. ALAM INDAH BUNGA NUSANTARA
Address : Jl. Raya Mariwati Km. 5 Desa Kawung Luwuk – Sukaresmi
Cipanas – Cianjur 43254
Phone : + 62 – 263 581610
+ 62 – 263 580182
Fax : + 62 – 581611
Email : ichwanzaza@yahoo.com
Web : www.abn-flowers.com
Product :
Cut Flowers
Krisan
Anyelir
Ornamental Plant
Filler Flower


TROPICA GREENERIES
Address :
Jl. Betung IX No. 345 Pondok Bambu
Jakarta 13430, Indonesia
Phone : + 62 – 21 8615704
Mobile : + 62 – 8129454024
Email : info@Tropicagreeneries.com
Web : www.tropicagreeneries.com

PT. Ekakarya Graha Flora
Pusat Niaga Roxy Mas
Jl. KH. Hasyim Ashari Blok D3 No. 8,
Jakarta 10150 - Indonesia
Telp. : +62 (021) 6385 6231
Fax. : +62 (021) 6385 6232, 6385 8531
Email : ekamarketing@cbn.net.id
marketing@grahaflora.com
Web : www.grahaflora.com

Product :
Anthurium
Dendrobium
Phalaenopsis
Rose

PT. Inti Matahari
Address : Graha Promosi Bunga Potong & Tanaman Hias
Rawa Belong Kav. D3
Jl. Sulaiman No.46, Jakarta – Indonesia
Phone : 62-21 68422565
Mobile : +62811956293

PT. Saung Mirwan
Address : Jl. Gadog Cikopo Selatan, Desa Sukamanah, Mega Mendung
PO. BOX 181, Bogor, West Java, Indonesia, 16001
Ph. (0251) 241269, 241268
Product : Flora

PT. Melrimba Sentra Agrotama
Head Office:
Gedung Puri Megapolitan
Jl. Cinere Raya No. 1A
Limo 16514, Depok
Indonesia
Tel: +6221 754-5102, +6221 754-5068
Fax: +6221 754-0660
Email: info@melrimba.com

Products : lily, Phalaenopsis, Calla Lily, Anthurium, foliages

Friday, 14 March 2008

Petunjuk Memasuki Pasar Jepang


Hasil kajian kami terhadap pasar Jepang, dapat diambil pelajaran beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh pengusaha eksportir dalam memasuki pasar Jepang. Tujuh hal penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1.Pola Permintaan

a.Pengusaha Jepang biasanya mengimpor pertama kali dalam jumlah relatif kecil. Mereka melakukan kajian dan penilaian terhadap konsistensi mutu dan jumlah produk yang dikirimkan, ketepatan waktu pengiriman dan kelancaran komunikasi. Dari hasil kajian tersebut pengusaha akan menentukan apakah hubungan dagang perlu dikembangkan sehingga menguntungkan. Pada saat pengusaha Jepang telah percaya dengan partner bisnisnya maka mereka akan meningkatkan ekspornya secara berangsur-angsur.

b.Produk yang diminta harus sesuai dengan contoh yang disepakati. Apabila barang yang dikirim berbeda dengan contoh yang disepakati akan menimbulkan rasa kecewa. Memerlukan waktu lama untuk menghilangkan rasa kecewa tersebut.

2.Selera konsumen

a.Konsumen sangat sangat memperhatikan mutu produk. Mereka tahu tentang nilai gizi makanan dan keamanan makanan. Sehingga mereka tidak mau mengkonsumsi makanan yang belum diketahui nilai gizi dan keamanannya.

b.Lidah orang Jepang mempunyai perbendaharaan rasa yang sangat luas, mereka ingin mencoba berbagai macam rasa makanan yang lezat-lezat. Mereka menggunakan panca inderanya terlibih dahulu sebelum menentukan pilihan makanannya yang terlezat. Indera penglihatan sangat berperan, makanan dengan penampilan paling indah biasanya yang mereka pilih.

c.Konsumen negara Sakura termasuk paling teliti dalam memilih barang yang paling murah. Mereka biasa mengetahui produk apa dan dimana dilakukan penjualan dengan harga murah.

d.Konsumen sangat memperhatikan perkembangan teknologi baru, dan mereka ingin menggunakan produk inovasi baru tersebut untuk kenyamanan atau keenakan.

3.Jadwal Pengapalan

a.Pengiriman barang haris tepat waktu. Mereka telah menjadwalkan ditribusi produk tersebut sesuai dengan musim di Jepang. Keterlambatan pengiriman akan mengganggu distribusi tersebut sehingga mereka dapat membatalkan kontrak atau meminta eksportir membayar denda.

b.Apabila terjadi kerusakan setelah tiba di gudang importir, eksportir harus mengakui kesalahan itu dan menggantinya. Hal ini dilakukan untuk menjaga hubungan bisnis jangka panjang.

4.Distribusi

Terdapat dua macam sistem distribusi di Jepang yaitu

a. Importir-Wholesaler-Retailer-Konsumen. Sistem ini diterapkan untuk komoditi playwood kertas dan lain-lain.

b. Importir –Retailer-Konsumen (Spermarket, Department Store, dan lain-lain. Sistem ini diterapkan untuk produk bahan makanan.
Untuk komoditi pertanian kopi, karet, coklat dan lain-lainnya melakukan kegiatan impor pada umumnya kelompok pengusaha besar Jepang atau yang dikenal dengan nama ”Sogo Shosa”. Mereka yang mendistribusikan komoditi yang diimpor kepada Wholesaler.

5.Budaya Bisnis Jepang

a.Orang Jepang sangat menghargai senioritas. Mereka yang sudah senior diposisikan menjadi nara sumber yang banyak pengalamannya, sehingga apa yang dikatakan seniornya merupakan suara perusahaan yang harus didengar dan dipenuhi untuk dikerjakan untuk kemajuan perusaannya. Para senior dipasang terdepan dalam negosiasi dagang.

b.Pengusaha Jepang sangat memerlukan referensi dari seseorang yang sudah dikenalnya.

c.Dalam memulai bisnisnya dengan mitra baru pengusaha Jepang sangat berhati-hati sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat memperoleh mutu yang diinginkan, dengan cara memberikan bimbingan teknis atau transfer knowhow.

6.Promosi

Para pesaing dari lain negara sangat aktif mengirimkan katalog dan contoh produk kepada para importir Jepang, disamping juga aktif mengikuti pameran dagang di Jepang. Jumlah pengusaha yang melakukan tersebut sangat terbatas dibanding pengusaha Asing, maka perlu dilakukan usaha-usaha sebagai berikut:

a.Para pengusaha harus aktif mencari informasi jadwal kegiatan pameran atau expo di Jepang

b.Untuk efisien biaya pameran pengusaha perlu bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mempromosikan produknya di maca negara.

c.Pengusaha eksportir sangat dianjurkan mengirimkan profile perusahaanya berupa leaflet beserta katalog produknya kepada pengusaha importir di Jepang.
d.Leaflet dan katalog selain ditulis dalam bahasa Ingris alangkah baiknya disertai dengan bahasa Jepang agar lebih menarik dan mudah dipahami.

7.Sistem Komunikasi

a.Sangat lazim dalam perkenalan orang Jepang dengan cara tukar kartu nama. Wajib tukar-kartu nama bagi perkenalan pertama, sehingga apabila berkunjung ke Jepang harus mempersiapkan kartu nama secukupnya.

b.Pengusaha Jepang akan memberikan penghargaan tinggi apabila kita mengerti dan menggunakan bahasa mereka.

c.Apabila berkomunikasi lewat surat, faksimili dan email sebaiknya ditujukan langsung ke Divisi atau bagian yang sesuai. Hindari untuk menulis nama perusahaan atau alamat saja. Contohnya, Attention: Product import Manager.

d.Usahakan secepatnya membalas surat permintaan bisnis menggunakan bahasa Inggris atau jepang. Dianjurkan kita sabar menunggu jawaban mereka dan hindari meminta jawaban secepatnya.

e.Pengusaha Jepang akan menghargai kita apabila dalam suatu pertemuan bisnis atau negosiasi bisnis mitranya mencatat hal-hal yang dibicarakan dan mempersiapkan data dengan baik.

(Sumber: Mengenal Pasar Jepang, KBRI Tokyo, 2006)

Sunday, 9 March 2008

Harga jahe di pasar Jepang

Gambar 1. Penampilan luar Jahe (tipe A sebelah kanan, tipe B sebelah kiri)














Gambar 2. Warna bagian dalam Jahe (tipe A sebelah kanan, tipe B sebelah kiri)
















Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae.

Jahe banyak terlihat dijajakan di supermarket di Tokyo yang banyak dikunjungi oleh pelanggan. Supermarket ini menyediakan berbagai bahan makanan dan bahan dasar bumbu seperti jahe. Jahe termasuk bahan makanan yang banyak dikonsumsi orang Jepang terutama ketika makan Susi (nasi dengan ikan segar) dan juga untuk penyedap makanan lainnya.

Di sebuah supermarket di Tokyo 400 gram jahe bermutu bagus berharga 200 yen atau sekitar 16.000 rupiah. Sedangkan jahe yang kurang bagus dengan berat yang sama dipasang harga lebih murah, hanya 150 yen.

Bila diperhatikan lebih seksama terlihat jelas perbedaan jahe yang dihargai 200 yen (tipe A) dengan jahe yang dihargai 150 yen (tipe B).

Perbedaan kedua jenis jahe tersebut sebagai berikut.
1.Jahe tipe A penampilan luar berwarna cerah, mengkilat dan menarik (Gambar 2. jahe bagian kanan). Coba dibandingkan dengan jahe tipe B sebelah kiri yang warna kulitnya agak kusam.
2.Jahe tipe A ketika diiris melintang penampang dalam jahe berwarna kuning (Gambar 3. bagian kanan). Dan bandingkan dengan jahe B yang disebelah kiri warnanya pucat.
3.Jahe tipe A mempunyai serat lebih lembut dibanding jahe tipe B.
4. Jahe tipe A mempunyai aroma harum lebih kuat dibanding jahe tipe B.

Pada kemasan lazim dicantumkan nama negara asal jahe tersebut. Semoga petani dari negara kita dapat memproduksi jahe dengan tipe A sehingga dapat memperoleh harga jual yang bagus ini.

Bagaimana cara mencapainya ?
1)Mencegah cemaran mikroorganisme.
2)Menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul.
3)Pembakuan standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe guna mendukung GAP (Good Agricultural Practices).

Saturday, 9 February 2008

Jeruk Mini Kinkan dimakan beserta kulitnya



Di Jepang jeruk yang berukuran mini ini disebut Kinkan. Di tempat lain dinamakan Meiwa Kumquat. Dalam bahasa latin disebut Fortunella crassifolia. Termasuk dalam Family Rutaceae.


Kinkan merupakan jeruk berukuran mini berwarna kuning-orenye dengan volume rata-rata 8 sentimeter kubik dan berat rata-rata 12 gram per buah.

Kulitnya tipis sekali dengan ketebalan hanya 1 milimeter. Di dalam sebuah Kinkan terdapat 4-6 biji buah dengan ukuran 10x5x4 milimeter.

Keistimewaan buah ini dapat dimakan bersama kulitnya.

Rasanya seperti jeruk biasa ditambah rasa khas kulit jeruk yang lebih segar.

Daging Jeruk beserta kulitnya selain dimakan langsung juga bisa dijadikan bahan selai untuk roti.

Jeruk ini diproduksi di Propinsi Yamazaki, Jepang. Di supermarket harga Kinkan 248 yen untuk setiap bungkus seberat 300 gram. Mulai bulan Desember tahun lalu sampai sekarang sudah dijual di beberapa supermarket.

Ingin ekspor ke Jepang? Buatlah inovasi baru, turunkan jumlah bijinya atau hilangkan bijinya sama sekali biar dapat memanjakan konsumen.

Friday, 1 February 2008

Agro & Food Expo 2008

INVITATION

AGRO & FOOD EXPO 2008

The 8th International Exhibition & Business Forum on Agriculture & Food Products


May 22 – 25, 2008
(4 days exhibition)

VENUE

Semanggi Expo
Sudirman Centre Business District
Jl. Jenderal Sudirman, South Jakarta
Jakarta
INDONESIA

Exhibition Hours
10:00 AM – 08:00 PM

Incorprating with:

1.Indonesia Plantation Show 2008
2.Fruits & Vegetables Show 2008
3.Floral Gardener Show 2008
4.Agriculture Machinery show 2008
5.Packaging Technology Show 2008

Supported by
1.Ministry of Agriculture of Indonesia
2.Ministry of Industry of Indonesia
3.Ministry of Trade of Indonesia
4.Ministry of Marine and Fishery
5.Ministry of Forestry
6.GAMMI (Indonesian Association of Food and Beverage
7.POM (Indonesia Agency for Food and Drug Control)
8.ASOHI (Indonesia Association for Animal Drug)
9.ASPERAPI (Indonesia Association of Exhibition & Convention Organizers)


ORGANIZER
Agro & Food Expo 2008 is organized by PT. Wahyu Promo Citra, a Professional exhibition organizer company with over 20 years experience of organizing both national and international trade and consumers exhibition, member of Indonesia Exhibition Companies Association (IECA)
Address:
Rawabambu I
Jl. A No. 1 Pasar Minggu
Jakarta 12520

Phone : (62-21) 7892938 (Hunting)
Fax : (62-21) 7812164

E-mail : wpcitra@dnet.net.id or agro@wahyupromo.com
Web: www.wahyupromo.com/agro

Monday, 21 January 2008

Jepang impor telur asin

Jepang telah mengimpor telur asin. Berat telur asin per butir rata-rata 70 gram. Setiap butirnya dikemas dalam plastik tanpa udara. Kemasan tersebut dikumpulkan menjadi satu kemasan plastik yang berisi 6 butir. Satu kemasan terakhir tersebut dijual dengan harga 500 yen di pasar Okachimasi, Tokyo.

Berat telur seragam, rasa asin sedang, warna kulit telur lebih pucat dari pada telur asin Brebes. Warna kuning telur terlihat kuning cerah menunjukan masih segar. Dengan memenuhi persyaratan kwalitas dan Kwantitas yang diminta Jepang diharapkan telur asin Brebes yang warna kulitnya lebih hijau dan tebal dapat bersaing dengan telur tersebut.

Monday, 14 January 2008

Regulasi impor rempah-rempah di Jepang

1. Tinjauan Pasar Jepang

Orang Jepang banyak menggunakan rempah-rempah (HS.090..) Karena dianggap selain untuk menambah cita rasa makanan juga untuk melancarkan pencernaan. Sehingga Jepang mengimpor rempah-rempah dalam jumlah cukup signifikan. Bentuk rempah-rempah yang biasa digunakan rumah tangga di Jepang adalah dalam bentuk powder (bubuk) dan pasta yang dikemas dalam tube dan dalam kemasan lainnya.

Rempah-rempah yang paling banyak digunakan orang Jepang adalah olahan wasabi (green horseradish), mustard, lada hitam, lada putih, cabe bubuk, bumbu kari. Sedangkan rempah-rempah lainnya yang juga biasa diimpor adalah: cardamom (kapulaga), cinnamon (kayu manis), cloves (cengkeh), coriander (ketumbar), nutmeg (pala), turmeric (kunyit) dan biji vanilla.

Produksi dari rempah-rempah yang dapat diimpor dikategorikan dalam 2 kategori yaitu produk yang sudah diolah (processed) dan semi olahan (semi-processed). Produk yang sudah diolah (final) adalah produk yang sudah dimasukkan kedalam kemasan dan siap untuk dipasarkan sedangkan pada produk semi olahan, rempah-rempah mentah (belum diolah) yang dicampur dengan rempah-rempah lainnya untuk diolah kembali oleh industri makanan. Informasi dari the Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) permintaan akan rempah-rempah semi olahan peningkatannya cukup proposional.
Jepang mengimpor rempah dari beberapa negara, yang terbanyak dari Malaysia sedangkan Indonesia berada pada urutan ke 4 setelah China dan India. Jenis komoditi rempah-rempah yang mempunyai nilai dan volume terbesar adalah lada dan cabe bubuk. Impor dari Indonesia yang paling banyak adalah pala, lada dan kunyit.

2. Peraturan Impor

Peraturan dan prosedur impor rempah-rempah untuk makanan mengacu pada the Plant Protection Law and the Food Sanitation Law.

a. Plant Protection Law

Bertujuan untuk mengimpor dan mengekspor tumbuh-tumbuhan, seperti pada tanaman domestic diawasi dari penggunaan pestisida yang membahayakan, dan menjaga dari penyebaran penyakit tanaman. Sedangkan rempah-rempah yang diimpor dari luar negeri diwajibkan untuk menjalani pengawasan impor (karantina tanaman) sebagaimana ditentukan dalam peraturan ini.

Saat pengimporan, aplikasi Pengawasan Karantina Impor berikut sertifikat pengawasan yang dikeluarkan oleh pemerintah di Negara pengekspor harus diserahkan pada pos karantina tanaman saat kedatangan. Jika dalam pengawasan ditemukan serangga yang berbahaya, barang yang dipesan akan dikapalkan kembali ke Negara pengekspor. Namun, kunyit dan biji lada yang dikeringkan dibebaskan dari the Plant Protection Law, sama seperti rempah-rempah yang dikeringkan dan sudah dikemas untuk eceran.

b. Food Sanitation Law

Bertujuan untuk mencegah dari kondisi yang tidak sehat dan membahayakan yang mungkin timbul dari makanan dan minuman dan untuk meningkatkan dan mempromosikan sanitasi
kepada masyarakat.

Saat pengimporan, rempah-rempah diajukan ke pos karantina di pelabuhan pada saat melalui bea dan cukai berikut lampiran formulir Pemberitahuan Importasi Makanan.
Jika pengawasan kesehatan dianggap perlu sebagai hasil pengujian pada pemberitahuan dari importasi makanan, rempah-rempah akan diperiksa di bonded area dan importasi rempah-rempah diijinkan hanya apabila telah lolos uji. Pengawasan sanitari mungkin akan dibebaskan jika rempah-rempah sudah diawasi secara sukarela oleh organisasi pengawas domestik yang ditunjuk dan organisasi pengawas umum di negara pengekspor.

3. Prosedur dan Peraturan Penjualan

Pada saat spices dikemas dalam kemasan untuk eceran di Jepang, berikut adalah informasi yang diperlukan pada pelabelan untuk semua produk sesuai dengan Food Sanitary Law the Measurement Law and the Law Concerning Standarization and Forestry Products :

a. Nama produk
b. Bahan baku (Jika hanya satu bahan yang digunakan, dapat diabaikan)
c. Berat bersih
d. Tanggal kadaluarsa
e. Bahan tambahan (jika ada)
f. Metode penyimpanan
g. Nama dan alamat importer atau distributor
h. Negara asal (Jika spices langsung diimpor) Label harus dicantumkan pada kemasan dan dapat terlihat tanpa harus membuka kemasan atau pembungkus.

4. Rekomendasi

Saat eksportir mempertimbangkan untuk memperkenalkan produknya ke Jepang, sangat perlu untuk membentuk sistim kerjasama dengan importer Jepang atau pabrik/industri rempah-rempah yang mengerti secara baik pasar rempah-rempah Jepang, konsumen yang membutuhkan, system distribusi, dan peraturan yang berlaku. Melalui komunikasi yang terbuka dengan importer domestik dan industri rempah-rempah, eksportir akan mengetahui dan memahami kebutuhan konsumen Jepang dan memperoleh petunjuk dan cara yang lebih efektif untuk memperkenalkan produknya.

Pada saat merencanakan untuk menjual rempah-rempah dan hanya sedikit mengetahui pasar Jepang, dimana di negara tersebut rempah-rempah digunakan dalam jumlah besar dan harus melayani begitu banyak referensi.

Jika alasan-alasan mengapa spices diterima dan dapat dipakai di Jepang, pengenalan pasar sangat bermanfaat untuk studi lebih lanjut. Jika spices digunakan untuk memelihara kesehatan dimana pasar, eksportir membangun sebuah kesempatan untuk memperkenalkan rempah-rempah kepada pasar Jepang, dimana para konsumen akan berorientasi pada peningkatan kesehatan.

5. Organisasi Terkait

Instansi pemerintah terkait :

a. Food Industry Promotion Division General Food Policy Bureau Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries 1-2-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-3502-8111

b. Plant Protection Division Agricultural Production Bureau Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries 1-2-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-3502-8111

c. Plicy Planning Division, Departement of Food Sanitation Ministry of Health, Labor and Welfare 1-2-2 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-5253-1111
d. Weight and Measures Administration Council Industrial Science and Technology Policy and Environtment Bureau Ministry of Economy, Trade and Industry 1-1 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013, Phone : +81-03-3501-8111

Organisasi perdagangan terkait:

a. Japan Flavor & Fragrance Manufactures’ Association (JFFMA)
Ninjin Bldg, 6F, 4-7-1 Nihonbashihon-cho, Chou-ku Tokyo 103-0023, Phone +81-03-3663-2471

b. Ali Nippon Spice Association (ANSA)
c/o Tokyo Sales Office,K, Kobayashi & Co, Ltd. 2-13-1 Nishigahara, Kita-ku, Tokyo 114-0024, Phone : +81- 03-3940-2791

c. Japan Mustard Co-operative
c/o Nihon Shokuryo Shinbun Co, Ltd. 1-9-9 Yaesu, Chou-ku, Tokyo 103-0028, Phone : +81-03-3271- 4815

d. Japan Dried Vegetables Association (JDVA)
M-1 Bldg, 3F,3-4-1 Nihonbashi Kayaba-cho, Chuo-ku, Tokyo 103-0025, Phone : +81-03-3669-0286

Industri rempah-rempah dan Importir:

a. House Food Industrial Co, Ltd
6-3 Kioi-cho, Chiyoda-ku, Tokyo 102-8560, Phone : +81-03-3668-0551

b. S&B Food Inc
18-6 Nihonbashi Kabuto-cho, Chuo-ku, Tokyo 103-0026, Phone : +81-03-3668- 0551

c. Yasuma Co, Ltd.
5-23-2 Nishi-Gotanda, Shinagawa-ku, Tokyo 141-0031, Phone : +81-03-3490-5211

d. Gaban Spice Co, Ltd
Tsukiji Shimizu Bldg, 3F, 3-7-10 Tsukiji, Chou-ku, Tokyo 104-0045, Phone : +81-03-3345-6741

e. Kaneka Sun Spice Co, Ltd.
1-10-19 Juso-Higashi, Yodogawa-ku, Osaka-shi, Osaka 532-0023, Phone : +81-06-6306-0311

f. Amari Koshin Shokuhin Co, Ltd.
13-295 Shin-machi, Fushimi-ku, Kyoto-shi, Kyoto Pref, 612-8081, Phone : +81-075-621-2447

Sumber Referensi : Japan External Trade Organization (JETRO)

Sunday, 6 January 2008

Studi Banding Produk Perikanan dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Propinsi DKI Jakarta


Disambut dengan ramah oleh petugas Pasar Pelelangan Ikan Tsukiji

1. Pada tanggal 20 – 25 Agustus 2007 empat pejabat dari Propinsi DKI yaitu Bapak Aliman A’at SE Ketua Komisi B DPRD Propinsi DKI Jakarta, Bapak Riyadi S.Sos, M.M. Kepala UPT Pelabuhan Perikanan dan PPI, Bapak Ir. Sarjoni, M.M. Kepala Seksi Evaluasi Program, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta, Bapak Nugroho S.E., M.M. Kepala Seksi Penyusunan Program, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta telah melakukan kunjungan kerja ke Jepang.

2. Tujuan kunjungan ke Jepang adalah studi banding dalam rangka pengembangan pengolahan sumber daya perikanan dan kelautan di Provinsi DKI Jakarta.
3. Tempat yang telah dikunjungi adalah Pelelangan ikan Tsukiji; Japan Fish Trader Association; Pabrik Sosis Ikan Hachioji General Plant Nissui; Ishinomaki Fishing Port; Fisheries Research Center; dan Oyster Factory.

4. Pada kunjungan ke Tsukiji Market dipandu oleh Mr. Uchiyama pensiunan dari Ministry of Agriculture, Fisheries and Forestry (MAFF) yang diperbantukan di Pasar Pelelangan ikan Tsukuji. Mr. Uchiyama menyampaikan peraturan untuk pengunjung ke pasar pelelangan ikan ini harus mengenakan tanda pengenal khusus, tidak diperbolehkan memegang ikan yang dipasarkan, tidak boleh memotret menggunakan blitz, dan harus hati-hati di dalam pasar ikan karena banyak hilir mudik kendaraan pengangkut ikan.


Suasana Pelelangan ikan di Pasar Lelang Tsukiji

5. Ikan yang dipasarkan di Jepang sebagian besar melaui proses pelelangan di Tokyo, Osaka, Shizuoka, Ichinomaki dan 55 pusat penjualan yang tersebar di seluruh di Jepang.
6. Ikan yang berasal dari Luar negeri dilakukan pemeriksaan di pelabuhan pemasukan oleh Devisi Sanitasi, Departemen Kesehatan (MHLW).
7. Harga ikan di Pasar lelang Tsukiji menjadi acuan untuk harga ikan di pasar-pasar ikan yang lebih kecil.
8. Jumlah ikan yang terjual di pasar pelelangan ikan Tsukiji adalah 2.400 ton per hari, merupakan jumlah yang terbesar di dunia. Jumlahnya 80 kali yang dipasarkan di Muara Baru (30 ton) per hari. Jumlah sebanyak itu disiapkan untuk 12 juta penduduk Tokyo dan 33 juta orang yang bertempat tinggal di sekitar Tokyo.

9. Pasar Pelelangan Ikan yang dikelola oleh pemerintah pusat tidak ada, Pasar pelelangan ikan dikelola oleh pemerintah daerah masing-masing. Sedangkan perizinannya diberikan oleh MAFF.
10. Luas tempat pelelangan ikan tuna beku 3000 m2, sedangkan untuk pelelangan tuna segar 900 m2. Pemerintah daerah tidak berorentasi untuk memperoleh keuntungan. Sewa tempat penjualan di pasar ikan 530 yen per m2 per bulan. Pengelola pasar memperoleh 0,25% dari omset per bulan penjualan ikan oleh took-toko di dalam pasar ikan.

11. Pada kunjungan ke Japan Fish Trader Association (JFTA) diterima oleh Mr. Akio Kamimura Executive Managing Director. Mr. Kamimura yang sudah berpengalaman di bidang pemasaran ikan selama 10 tahun diangkat oleh rapat anggota Asosiasi. Pada kesempatan itu beliau menjelaskan kepada delegasi RI tentang organisasi dan aktivitas JFTA.
12. JFTA mempunyai 53 anggota yang terdiri dari para pedagang besar, pengusaha hasil laut, dan Koperasi perikanan. JFTA beroperasi menggunakan dana yang berasal dari iuran para anggota.

13. Peran JFTA adalah sebagai loket atau penghubung anatara pedagang ikan dan para stake holder lainnya. Karena prinsipnya bahwa satu Asosiasi kecil peran dalam menyelesaikan suatu masalah lebih dipercaya dari pada sebuah perusahaan Besar.
14. Kegiatan JFTA adalah membuat data produk perikanan yang diimpor dan yang diekspor oleh pengusaha di Jepang dan data lain yang berhubungan dengan data perdagangan ikan. Data tersebut harus memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Jepang terlebih dahulu. Setelah itu baru dapat disebar-luaskan kepada para anggota secara cuma-cuma. Sedangkan kepada kalangan di luar anggota dikenakan biaya.

15. Selain itu JFTA membantu untuk mencari jalan keluar apabila terdapat masalah yang menimpa para anggotanya termasuk memfasilitasi pertemuan dengan Kedutaan Besar.
16. JFTA juga melakukan pemeriksaan atau penelitian yang berhubungan dengan proses sanitasi ke negara pengekspor ikan sperti Vietnam, China dan Thailand.
17. Apabila terdapat perusahaan yang akan mengimpor ikan dari memperkenalkan dan memfasilitasi dalam negosiasinya. Tetapi JFTA tidak terlibat langsung dalam perdagangan ikan ini.

18. Kesan terhadap Indonesia, Mr. Akio Kamimura menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang baik dalam perdagangan ikan dunia, hanya pada akhir tahun lalu (2006) dan awal tahun ini (2007) terdapat maslah residu AOZ pada udang yang diekspor ke Jepang. Harapan dari pedagnag importir di Jepang memperoleh informasi mengenai perkembangan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan para peternak udang di Indonesia. Peran dari JFTA yang penting tentang informasi pasar.

19. Jawaban dari pihak Indonesia yang disampaikan oleh , Bapak Riyadi S.Sos, M.M. Kepala UPT Pelabuhan Perikanan adalah sebagai berikut. Pemerintah Indonesia telah melakukan peningkatan metoda pengujian mutu produk perikanan dan termasuk udang. Pemerintah Provinsi DKI telah melakukan pengujian yang menggunakan metoda sesuai dengan persyaratan yang diperlukan oleh negara pengimpor.
20. Kabar sementara dari Pemerintah propinsi DKI adalah hasil penangkapan ikan tuna menurun begitu pula produksi udang juga menurun.

21. Jepang siap untuk menerima berbagai macam ikan dari Indonesia termasuk ikan teri dan lain-lain yang penting memenuhi persyaratan mutu yang diminta oleh Jepang. Bukan ikan segar saja yang disantap orang Jepang, ikan yang sudah diolahpun konsumen Jepang siap untuk menikmatinya. Konsumen Jepang sudah mulai menyukai makanan ikan siap saji. Konsumsi ikan seorang Jepang setahun sebanyak 63 kg, sedangkan konsumsi penduduk Indonesia baru mencapai 36 kg.

22. Pihak Indonesia akan memperkenalkan Bandeng Presto agar bisa masuk ke Jepang.
23. Negara tidak mensubsidi kepada para pedagang ikan, tetapi apabila mereka menginginkan untuk dilakukan penelitian terhadap suatu masalah penting yang segera ditangani maka pemerintah akan memberikan bantuan anggaran penelitian tersebut.
24. Berhubungan dengan ekspor produk perikanan untuk pertama kali, Mr. Akio Kamimura menyarankan agar memberikan 4 informasi penting yaitu kemampuan penyediaan jumlah produk, mutu produk, kesinambungan produksi, dan harga yang ditawarkan.

25. Selain dari Indonesia Jepang juga mengimpor ikan dari Argentina, Chlili, Peru, Australia dan negara lainnya. Sedangkan Jepang mengekspor produk ikan ke Hongkong, Singapore, Taiwan. JFTA juga melakukan observasi kondisi pelabuhan, pabrik pengolahan ikan dsb. Jepang juga mengekspor ikan cakalang ke Indonesia sebagai bahan ikan kaleng.
26. JFTA telah menyelesaikan masalah tentang a) Ikan salmon yang mengandung garam tinggi yang berasal dari Norvegia, b) Udang yang berasal dari China, setelah sampai di lapangan ternyata berbeda. Selain masalah Sanitary and Phytosanitary juga ditangani masalah penting lain yang berhungan dengan perdagangan ikan.

27. Pada saat berkunjung ke Hachioji General Plant Nissui disambut oleh Mr. Masahiro Yoshioka General Manager dan Mr. Yamamoto. Beliau menjelaskan tentang sejarah pendirian Pabrik tersebut sampai dengan inovasi teknologi terbaru yang dikembangkan oleh Nissui dalam memproduksi makanan olahan yang berasal dari ikan.

28. Pabrik di dirikan pada tahun 1962, kemudian dilakukan pembangunan tambahan pada tahun 1981 dan terakhir dilakukan pengembangan pada tahun 2006. Hachioji dipilih sebagai lokasi pabrik karena tempatnya yang strategis dalam transportasi menuju ke kota-kota besar yang berpenduduk padat. Untuk memenuhi persyaratan lingkungan, pabrik telah mengembangkan teknologi sehingga tidak mencemari lingkungan baik suara, bau enak, sampah dan jumlah pegawai yang banyak.

29. Luas pabrik 69.263 m2 dengan jumlah pegawai tetap 400 orang, kalau ditambah jumlah pegawai tidak tetap menjadi 1.200 orang. Pabrik ini mempunyai 4 cabang di Kyoto, Nagoya, Hyogo dan Miyagi.
30. Produk yang dihasilkan oleh pabrik ini adalah Sosis ikan, Chikua, Kepiting buatan, bakso ikan, dan pilaf (nasi goreng) serta pasta ikan sebagai bahan baku pembuatan makanan olahan. Permintaan produk tersebut akhir-akhir ini mengalami peningkatan seiring dengan kecenderungan penduduk di beberapa negara di dunia cenderung menyukai makanan yang berasal dari ikan dengan alasan untuk menjaga kesehatan. Produk andalan yang terbaru pabrik ini adalah Onigiri (Rice ball) bakar dalam bentuk beku, diakui menempati urutan nomor satu di Jepang.

31. Pabrik ini dalam inovasi mutu produknya, telah mengembangkan bahan olahan tanpa tambahan putih telur ayam. Putih telur ayam telah diketahui sebagai salah satu bahan yang digunakan untuk mengenyalkan produk ikan akan tetapi putih telur dapat menimbulkan alergi pada orang-orang tertentu. Maka dari itu pabrik ini telah mengembangkan teknologi terbaru sehingga untuk kekenyalan produk tidak perlu menggunakan putih telur lagi.

32. Teknologi terbaru yang telah dikembangkan adalah kemasan sosis ikan tanpa tali kawat pada kedua ujungnya sehingga efiseien dalam proses produksi sosis di pabrik maupun dalam pembukaan kemasan sosis oleh konsumen. Contoh dapat dilihat seperti gambar di bawah.


33. Pabrik ini selain mempunyai peralatan produksi yang canggih juga difasilitasi dengan Pusat Penelitian Bahan Makanan dengan bahan baku ikan se Jepang. Penelitian ditujukan pada Pengembangan mutu dan keamanan produk .

34. Dalam Standard ISO, pabrik ini telah mengantongi akreditasi ISO 9001 pada tahun 1999 dan ISO 14001 sejak tahun 2004.
35. Nissui mempunyai beberapa pabrik diluar negeri, Starfish di Thailand, Kantag di Australia dan Unisea di Alaska. Beberapa pabrik tersebut selain untuk produksi juga sebagai tempat latihan para pegawai Nissui dalam kesungguhan dan dedikasi kerja mereka di perusahaan pengolahan ikan. Nissui juga mempunyai kapal yang berada di Luar negeri, Yamamoto di Amerika Latin; A. Pollack di Amerika Utara; Alaska Ocean; Ocean Phonix; dan NBW (Eropa Utara)

36. Untuk memperoleh bahan prdoduksinya, Pabrik Nissui juga mengimpor pasta ikan (Surimi) dan Filet dari China dan Thailand.
37. Pada Kunjungan ke Pelabuhan Ikan Ishinomaki disambut dan dipandu oleh Mr. Tsunobu Kunio Kepala Pelabuhan Ishinomaki.
38. Pelabuhan ikan Ishinomaki merupakan pelabuhan nomor 3 terbesar di Jepang. Luas tempat Pelelangannya 625 X 30 m2. Dari 200 jenis ikan dan hasil laut yang dapat ditangkap, ikan yang menjadi andalan yang diturunkan dari kapal di pelabuhan ini yaitu Tuna dan Cakalang.

39. Hasil tangkapan ikan per hari berkisar antara 150 ton samapai dengan 3000 ton. Rata-rata tangkapan selama satu trahun sekitar 400 ton per hari.
40. Pada tempat pelelangan ikan ini telah dilengkapi peralatan baru untuk pembuatan es dimana bahan bakunya berasal dari air laut. Air laut tersebut disuling terlebih dahulu.
41. Ikan tuna Ishinomaki sebagian diekspor ke Thailand sebagai bahan makanan kaleng untuk manusia maupun binatang. Pada saat ini banyak kapal yang istirahat, sedangkan mulai bulan September kapal-kapal trawl mulai aktif kembali untuk menangkap ikan tuna.

42. Ikan yang terlihat pada saat pelelangan adalah Sea Peanaple (Koya), Anago (belut laut), dan Unagi.
43. Kunjungan ke Pabrik Kamaboko Ishinomaki diterima dan dipandu oleh Presiden Direktur Pabrik tersebut
44. Di pabrik ini dipresentasikan proses pembuatan kamaboko dan dilanjutkan dengan peninjauan proses pembuatan di pabrik kamaboko.
45. Pabrik ini memproduksi 30 ribu buah kamaboko per hari. Untuk menjaga mutu Kamaboko tetap terbaik, perusahaan melakukan penelitian terus menerus tentang rasa, kekenyalan, kebersihan, peredaran udara dsb.

46. Produk yang didinginkan perlakuannya dipanggang atau dikukus atau dibungkus dengan kain yang mengikat air. Kalau digoreng perlu diperhatikan waktu penggorengannya jangan terlalu lama.
47. Penangkapan ikan menggunakan trawl diperuntukan laut dalam. Ikan merah atau kikiji.
48. Sebanyak 90% bahan baku diimpor dari luar negeri. Balida dari USA, sedangkan ikan kakap dari Thailand.

Tuna Bluefine termahal pada lelang perdana tahun 2008




Pasar lelang ikan Tsukiji merupakan pasar lelang terkenal di Jepang, letaknya di kota Tokyo. Sekitar 2.900 ikor ikan tuna baik yang ditangkap di perairan Jepang maupun dari luar negeri dilelang di pasar ini. Bel dibunyikan tanda dimulainya pelelangan ikan dan akhirnya suara keraspun terdengar diumumkan harga ikan yang telah disepakati oleh pembeli.

Lelang perdana awal tahun di pasar lelang Tsukuji pada Sabtu 5 Januari 2008 harga seekor ikan Tuna mencapai 6,02 juta yen. Harga ini termahal selama lima tahun terakhir untuk seekor ikan tuna Bluefin seberat 267 kg.

Tuna yang ditangkap di perariran Aomori Prefecture tersebut dibeli oleh pemilik perusahaan restoran sushi yang pusatnya di Hongkong. Jadi harga per kg ikan tuna ini mencapai 22.000 yen.

Harga tuna rekor tertinggi tercatat pada tahun 2001 yaitu 20,2 juta yen atau 100 ribu yen per kg untuk ikan tuna seberat 202 kg yang ditangkap di perairan yang sama di Oma kota yang terletak di bagian utara Honshu.

”Saya belum pernah mendengar harga tertinggi pada lelang pertama awal tahun dibeli oleh seorang yang berasal dari Hongkong” kata salah seorang yang ikut lelang pada pagi hari itu. Perusahaan restoran sushi tersebut juga mempunyai restoran di Tokyo.

Jepang merupakan konsumen terbesar ikan tuna di dunia. Akan tetapi ditengah-tengah ketatnya pengawasan penangkapan ikan tuna ini dan juga kenaikan harga bahan bakar telah membuat Jepang mengalami kesulitan dalam menstabilkan antara supply dan permintaan.

Quota tangkapan internasional untuk ikan bluefin dan southern blufin diturunkan secara bertahap untuk melindungi dan mempertahankan sumber ikan tuna di laut bebas. Kenaikan ongkos bahan bakar yang diikuti terpaan harga minyak bumi tertinggi telah mengakibatkan bertambah banyak kapal Jepang yang tidak melakukan penangkapan ikan tuna lagi.

Permintaan terhadap ikan tuna dari negara Asia lain juga mengalami peningkatan secara cepat, para pedagang China berani membayar dengan harga yang lebih mahal.

Di pasar Tsukiji, harga ikan tuna tangkapan tahun ini dibanding tahun sebelumnya mengalami peningkatan rata-rata sekitar 20-30%. Hal ini disebabkan impor ikan tuna budidaya dari Kroasia, Spanyol dan negara lainnya telah menurun secara drastis sejak penurunan suplai terakhir.

”Pengiriman ikan tuna ke Jepang akan berkurang” kata salah seorang peserta lelang di pasar tersebut. ”Jika harga ikan tuna tetap tinggi karena penurunan supply, selanjutnya konsumen Jepang akan menjauhkan diri dari ikan”. (Sumber: The Japan Times, 6 Januari 2008)

Sunday, 2 December 2007

Sebatang pohon anggur di pot 304.000 rupiah



Pohon Anggur Vitis Vinivera L. ditanam dalam pot telah berbuah dipasarkan di Pocket Farm Doki-doki Ibaraki Prefecture dengan harga Rp 304.000,- per pot.

Penampilan dari Vitis Vinivera L. ini khas:
1.Buah seragam, dalam dompolan tubuh sempurna, dengan tangkai kuat.
2.Butiran buah berbentuk bulat besar, berwarna merah dan kulitnya agak keras.
3.Rasa buah manis dan segar.

Harga Pisang di Tokyo

Pada tanggal 1 Desember 2007 telah dipantau empat kemasan pisang yang dijual di toko pengecer di Jepang.

Di toko pengecer besar di wilayah Shinagawa-ku Tokyo, pisang Cavendish berukuran 180 gram per buah produk dari Negara Amerika Latin, kemasan seberat 750 gram dijual dengan harga 350 yen. Pisang Cavendish berukuran 160 gram per buah dari Negara Asia Tenggara kemasan seberat 900 gram berharga 350 yen. Sedangkan di toko pengecer kecil di wilayah Shinagawa-ku juga pisang Cavendish berukuran 170 gram per buah dari negara yang sama dengan kemasan seberat 750 gram dijual dengan harga murah hanya 100 yen.

Pisang monkey (60 gram per buah) asal dari Negara Asia Tenggara yang hanya seberat 550 gram dapat dijual dengan harga 220 yen.

Pisang yang dijual dipengecer kecil ini jauh lebih murah dari pada dipengecer besar. Sepertinya tidak terdapat keseragaman harga untuk buah produk impor ini di toko pengecer di kota Tokyo.

Pisang yang setengah matang dibungkus plastik transparan rapat sedangkan pisang yang sudah masak dibungkus plastik yang terdapat 3 lubang dengan garis tengah 0,8 cm.


Pisang organik yang telah memenuhi standar Jepang pada plastik kemasannya ditempeli label JAS seperti diatas


Pada bungkus plastik juga diberi label Vessel-ID dan PH-ID.

Pada pisang Monkey ditemple 2 buah lebel kertas nama perusahaan pada kulit pisang. Sedangkan label kertas nama pisang cavendish ditempel diatas plastik pembungkus. Sedangkan pisang Cavendish yang baru diimpor plastiknya sudah terdapat tulisan nama perusahaannya.

Selain label tersebut produk yang baru masuk juga diberikan label keterangan mengenai 5 macam kelebihan pisang tersebut yaitu pertama ditanam di daerah pegunungan yang ternama, kedua ditanam di daerah dengan ketinggian 500 m, ketiga berasal dari pulau yang banyak terdapat guano sehingga tidak menggunakan pupuk kimia, keempat pengairan menggunakan air yang bersih, kelima warna kulit bagus tanpa treatment bahan kimia.

Wednesday, 25 July 2007

Young Japanese visibly staying away from fish consumption


Although Japanese are generally called the people of a fish diet, they had not eaten fish in such a large amount until the end of the World War II. The mainstay in the Japanese food life had been rice, sweet potatoes and vegetables. Probably they had been eating about one horse mackerel once a week at best. But fish consumption became active since 1960, partly helped by high economic growth starting around that time. Japanese fish consumption reached a peak in the period from 1998 to 2001, with the consumption starting to decline in 2002. At present, the generation of so-called “baby boomers” tends to eat fish, supporting the overall consumption volume.

However, the generation will diminish as aging of this generation advances, with fish consumption also falling off. On the other hand, the tendency of young people of not eating fish is deemed to continue, showing a clear contrast with the rest of world where consumption of fish began increasing.

On the trade front, Japan’s overall imports of fishery products in 2005 totaled 1.6 trillion yen, down 1.6% from previous year, while those in January – September 2006 only edged up 0.7%. The import volume of mainstay fresh, frozen and chilled products in 2005 dropped 4.4% to 2,29 million tons, with their import value staying at 1.17 trillions yen. The volume in January-September 2006 came to 1.46 million tons, with value also 1.3%. By contrast, import unit price are considered to have surged about 10%.

Japan’s export of fisheries product, which had generally stayed at a round 10% of imports volume, exceeded 20% in 2006, while domestic production volume did not grow. Here can see the trend in seafood trade is beginning to change in the same way as the consumption trend in the seafood trade is beginning to change (Isaribi no. 54, 2007)

Tuesday, 19 June 2007

Si merah manis mangga hadiah


Mangga Miyazaki yang diproduksi di Jepang telah dipublikasikan di TV Jepang pada tanggal 18 Juni 2007. Pada publikasi tersebut telah diceritakan kelezatan rasanya, kandungan gizinya sampai dengan bagaimana cara mengupasnya dalam suatu program yang menarik.

Setelah melihat tayangan tersebut ingin sekali mendapatkannya. Dalam waktu kurang dari satu jam telah dapat di peroleh di supermarket di wilayah Meguro-ku, Tokyo. Rasanya memang sangat manis, aromanya wangi meskipun wanginya tidak sekhas mangga Aromanis, bentuknya lonjong mencirikan bentuk asli buah mangga, warna kulitnya merah berbecak menarik, daging buahnya empuk dengan kandungan air yang cukup.

Sebuah mangga Miyazaki dikemas dalam satu kotak plastik seperti pada gambar diatas. Di supermarket tersebut mangga Miyazaki seberat 350 gram berharga 3.980 yen. Jadi harga per kilogramnya 11.371 yen atau 830.000 rupiah. Sedangkan harga mangga impor di Jepang bervariasi antara 820 yen sampai dengan 2.250 yen per kilogram.
Berat satu buah mangga impor berkisar 160 gram dan 450 gram, perbandingan besarnya dapat dilihat pada gambar diatas.

Tentu kita akan bertanya apakah mangga tersebut akan laku dijual dan mampu bersaing dengan mangga impor yang harganya lebih murah. Yang jelas mereka mempunyai segmen pasar untuk produk-produk bermutu meskipun dengan harga selangit. Biasanya dikirim sebagai omeyage atau hadiah. Ini pelajaran untuk kita, agar berlomba meningkatkan mutu poduk mangga kita sehingga mampu memasuki pasar Jepang yang mempunyai daya beli tinggi, diiringi standar mutu tinggi, dengan selera konsumen yang tinggi pula.

Tuesday, 24 April 2007

Musim panen mangga di manca negara

Jepang memproduksi mangga hanya pada bulan Juni dan Juli. Karena kebutuhan buah mangga tersebut sepanjang tahun maka Jepang mengimpor mangga dari beberapa negara lain. Pemasukan mangga ke Jepang sesuai dengan musim panen mangga negara pengekspor. Musim panen mangga di Philipina pada bulan Maret-Agustus. Malaysia memetik mangga pada bulan Agustus-September. Brazil memanen mangga pada bulan Oktober-Maret. Thailand menuai hasil pohon mangga pada bulan Maret-Juni. Waktu pemanenan mangga Mexico pada bulan April-Agustus, Australia pada Desember-Maret, India pada April-Mei, Taiwan pada Mei-Juni. Indonesia kalau mau memasukan mangga ke Jepang silahkan memilih pada bulan mana yang paling cocok untuk mengirim mangga terbaiknya. Yang penting dapat mempersiapkan mutu mangga yang memenuhi persyaratan dan standard Jepang serta dapat mensuplai secara berkesinambungan.

Wednesday, 11 April 2007

Hasil survei produksi kedelai MAFF Japan

Survei statistik manejemen pertanian dan ongkos produksi kedelai tahun 2005 menunjukan bahwa total ongkos produksi per 10 a tahun 2005 mencapai 64.916 yen, mengalami penurunan sebanyak 0,5% dibanding tahun sebelumnya. Total ongkos produksi setiap 60 kg sebanyak 21.884 yen, mengalami penurunan 22,3% dibanding tahun sebelumnya disebabkan terdapat kenaikan hasil panen untuk setiap 10 a.

Penurunan total ongkos produksi 10a berdasarkan penurunan ongkos pegawai karena penurunan jam kerja akibat peningkatan skala usaha, meskipun terdapat kenaikan sewa dan ongkos, biaya benih dan penyemaian, biaya tenaga, penyinaran, pemanasan dan sebagainya. Pendapatan kotor setiap 10 a sebesar 42.103 yen, menurun 7,5%, meskipun hasil panen meningkat tetapi harganya merosot.

Monday, 9 April 2007

STUDI BANDING PASAR IKAN TOKYO DAN OSAKA 17 - 20 JULI 2006

Latar Belakang

Indonesia belum mempunyai pasar ikan yang representatif, padahal potensi produksinya melimpah. Di sisi lain, tingkat konsumsi ikan masyarakat masih rendah, padahal dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat dari mengkonsumsi ikan yang berkualitas adalah untuk menyehatkan, mencerdaskan dan menguatkan. Untuk menunjang hal tersebut, Departemen Kelautan dan Perikanan mengembangkan program untuk menguatkan sisi permintaan melalui program GEMARIKAN dan sekaligus menguatkan sisi supply melalui perbaikan sarana pemasaran yang memenuhi aspek keamanan pangan dan sekaligus perbaikan efisiensi distribusi sehingga ikan yang berkualitas baik dapat terjangkau harganya.

Pemasaran hasil perikanan di Indonesia selama ini melalui rantai yang panjang, dimana harga penjualan yang diterima pembudidaya atau nelayan rendah tetapi harga pembelian oleh konsumen relatif tinggi. Akibatnya ikan menjadi kurang menarik. Selain itu, lelang hasil perikanan di Indonesia belum berkembang sehingga posisi produsen baik nelayan penangkap ataupun pembudidaya serta pengembangan sistem lelang hasil perikanan tidak mendapatkan harga jual yang menarik. Untuk itu Departemen Kelautan dan Perikanan turut mendukung pengembangan program lelang bagi hasil perikanan mengingat melalui lelang yang baik, akan dapat diperoleh harga yang adil. Diharapkan dengan berkembangnya sistem lelang maka distribusi marjin dapat lebih proporsional sehingga memberikan kesejahteraan yang berkeadilan kepada masing-masing pihak yang terlibat.

Dalam rangka penguatan dan pengembangan pasar hasil perikanan dalam negeri, Direktorat Pemasaran Dalam Negeri – Ditjen P2HP bekerjasama dengan PD Pasar Jaya untuk membangun pasar ikan higienis di kompleks Pasar Induk Hortikultura Kramat Jati Jakarta. Direncanakan, pasar ikan tersebut menjadi pasar grosir yang representatif di Jakarta dengan menjual produk yang berkualitas baik. Sistem lelang akan dicoba untuk diintrodusir di pasar tersebut guna mendukung penentuan harga yang adil.

Dalam rangka persiapan pembangunan tersebut di atas, guna meningkatkan wawasan dan wacana bagi para pejabat terkait, Departemen Kelautan dan Perikanan dan PD Pasar Jaya menugaskan beberapa pejabatnya untuk melakukan studi tentang pemasaran ikan di Jepang 17 – 20 Juli 2006.

Tujuan Kunjungan
Mempelajari kebijakan, fasilitas dan sistem pemasaran domestik hasil perikanan di kedua negara.

Delegasi ke Jepang
Ketua : Dr. Victor PH Nikijuluw (Sesditjen P2HP - DKP)
Anggota:
1. Ir. Artati Widiarti, MA (Kasubdit Analisis dan Informasi Pasar DN - DKP)
2. Drs. Eddy Setiabudi, MS (Kasubdit Sarana & Prasarana Pemasaran -DKP)
3. Ir. Nurochmansyah, M.Si (Kasubdit Kelembagaan Pemasaran DN - DKP)
4. Drs. H. Sumardiono, MM (Manajer Umum dan Humas, PD Pasar Jaya)
5. Drs. Benny Kelana Jaya, MM (Manajer Area 16, Kramat Jati PD Pasar Jaya)
6. Prayudi Budi Utomo, SPi (Kasi Kerjasama – Ditjen P2HPDKP)
7. Ir. Afliana Salaen, MSi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi NTT


Laporan Hasil Kunjungan di Jepang :

1. Courtesy Call ke Kedutaan Besar RI Tokyo
Kunjungan diterima oleh Drh. Pudjiatmoko, Ph.D Atase Pertanian membicarakan maksud dan tujuan kunjungan serta pengaturan selama kunjungan di Jepang.

2. Kunjungan ke Fisheries Agency, Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries, diterima oleh Mr. Kenji KAGAWA, Policy Coordinator for Fisheries Trade, Fisheries Processing and Marketing Division dan Mr. Toshiyuki KUBODERA, Assistant Director Fisheries Processing Industries and Marketing Divisio