G-8 Environment Ministers Meeting telah diselenggarakan di Kobe dari tanggal 24 sampai dengan 26 Mei 2008. Pertemuan ini diketuai oleh Dr. Ichiro Kamoshita, Minister of Environment, Jepang, dengan dihadiri oleh segenap perwakilan negara anggota G-8 dan Outreach berjumlah total 18 negara, termasuk Indonesia. Pertemuan ini dihadiri pula oleh perwakilan lembaga-lembaga regional/internasional antara lain Global Environment Facility (GEF), GLOBE, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), United Nation Environment Programme (UNEP), World Bank, Secretariat of Basel Convention dan Secretariat of UNFCCC.
Menteri Lingkungan Hidup Jepang Dr. Ichiro Kamoshita selaku pimpinan sidang pada pembukaan menyampaikan bahwa masalah lingkungan yang dihadapi oleh komunitas internasional saat ini telah mendorong setiap negara untuk lebih meningkatkan upayanya pada setiap level baik nasional, regional maupun global, serta menekankan pentingnya kerjasama internasional dalam pelaksanaannya. Masalah lingkungan juga merupakan salah satu tema utama yang akan dibahas dalam Pertemuan tingkat Kepala Negara/Pemerintahan G-8 di Toyako, Hokkaido, yang dijadwalkan pada tanggal tanggal 7-9 Juli 2008. Karenanya, hasil pertemuan tingkat menteri di Kobe ini akan menjadi bahan masukan untuk Pertemuan tingkat Kepala Negara/Pemerintahan G-8 di Toyako, Hokkaido tersebut.
Tiga tema utama yang dibahas dalam pertemuan adalah climate change , biodiversity dan Reduce, Reuse & Recycle (3Rs).
Hasil-hasil pembahasan pertemuan G-8 dan Outreach countries antara lain:
1. Climate Change
a. Pentingnya transisi ke low carbon societies guna mencapai tujuan jangka panjang menuju realisasi tujuan akhir UNFCCC. Dalam hal ini, negara-negara maju harus berada di lini depan dalam upaya mengurangi reduksi emisi global hingga separuh pada tahun 2050. Guna mencapai low carbon societies, seluruh negara perlu melakukan inovasi dalam gaya hidup, pola konsumsi dan produksi, serta infrastruktur sosial, disamping inovasi teknologi;
b. Upaya kerjasama antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang, antara lain meliputi alih teknologi, dukungan finansial dan pengembangan kapasitas guna meningkatkan aktivitas mitigasi dan adaptasi di negara-negara berkembang. Dalam hal mitigasi, diakui perlunya penggunaan carbon markets dan public-private partnership (PPP), serta mekanisme pendanaan yang mendukung;
c. Dalam hal negosiasi kerangka pasca 2012, diakui pentingnya menyelesaikan proses negosiasi sejalan dengan Bali Action Plan selambat-lambatnya Desember 2009. Dalam hal penetapan mid-term target yang efektif, diperlukan komitmen dan langkah nyata oleh negara-negara maju, serta langkah nyata oleh negara-negara berkembang. Dalam hal ini, masih terdapat negara-negara yang memperlihatkan keenganannya untuk memberikan komitmennya secara jelas dan pasti, contohnya AS. Sebaliknya, negara-negara Eropa terutama Jerman memperlihatkan kesan kesiapannya;
d. Terdapat dukungan luas untuk menindaklanjuti hasil pertemuan ini yang dikenal sebagai “Kobe Initiative”, antara lain pengembangan jaringan internasional dalam low carbon societies, analisa potensi bottom-up sectoral mitigation, peningkatan co-benefit dalam kebijakan terkait, dan dukungan pengembangan kapasitas bagi negara-negara berkembang untuk penemuan-untuk dan pengumpulan data berdasarkan measurablity, reportability, and verifiability.
2. Biodiversity
a. Pentingnya langkah-langkah peningkatan biodiversity lebih lanjut, termasuk pengembangan dan implementasi Rencana Aksi dan Strategi Biodiversity Nasional guna mencapai target biodiversity 2010;
b. Perlunya pelaksanaan pendekatan ilmiah dalam aktivitas riset biodiversity, termasuk proses monitoring, penilaian (assesment), dan penyediaan informasi;
c. Dalam hal pemanfaatan biodiversity secara berkelanjutan, diakui pentingnya merealisasikan konservasi biodiversity dan pengelolaan sumber alam secara berkelanjutan di alam sekunder seperti Satoyama di Jepang, termasuk lahan pertanian dan ekosistem di sekitarnya;
d. Pentingnya menanggulangi masalah illegal logging yang dipandang membawa kerugian besar terhadap biodiversity dan emisi tinggi gas rumah kaca. Dalam kaitan ini, diakui pula perlunya tindakan efektif baik dari negara pengimpor maupun pengekspor untuk tidak memasukkan illegal logged timber dari/ke pasar internasional;
e. Penekanan perlunya peningkatan keterlibatan seluruh aktor sosial termasuk aktor sektor swasta dalam memfasilitasi konservasi dan pemanfaatan biodiversity secara berkelanjutan;
f. Penekanan bahwa climate change mempunyai dampak besar terhadap biodiversity, bahkan kehidupan manusia. Karenanya, perlu perhatian terhadap keterkaitan climate change dan biodiversity;
g. Terdapat kesepakatan atas “Kobe Call for Action for Biodiversity” termasuk Satoyama Initiative yang diusulkan Jepang, guna upaya lebih lanjut mengatasi tantangan dalam hal biodiversity.
3. 3Rs
a. Diakui perlunya peningkatan langkah-langkah 3Rs dan resource productivity guna mencapai pembangunan secara berkelanjutan di negara-negara G-8 dan yang lainnya. Selain penanganan sampah secara tepat dan proses recycle (daur ulang), prioritas utama juga diletakkan pada reduksi sampah. Salah satu upaya misalnya mengurangi penggunaan disposable plastic bags. Negara-negara G-8 dan non G-8 mengakui keterkaitan kuat antara peningkatan pengelolaan sampah secara tepat dan 3Rs, dengan upaya reduksi emisi gas rumah kaca;
b. Dalam upaya pengembangan kapasitas guna mencapai pengelolaan sampah secara tepat di negara-negara berkembang, diakui perlunya kerjasama lebih lanjut antara 3R Initiative dan Basel Convention;
c. Diakui pula pentingnya dukungan teknik dan finansial mencapai pengembangan kapasitas dalam pelaksanaan 3Rs di negara-negara berkembang;
d. Terdapat kesepakatan terhadap Kobe 3R Action Plan dan melaporkan perkembangannya di tahun 2011. Jepang telah meluncurkan “New Action Plan towards a Global Zero Waste Society”, yang diharapkan dapat mendorong kerjasama internasional lebih lanjut berdasarkan spirit Kobe 3R Action Plan.
Secara umum, pertemuan berjalan dengan lancar dan efektif. Seluruh delegasi, baik G-8 maupun Outreach countries, termasuk Indonesia, mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangannya terhadap ketiga isu yang dibahas, yaitu biodiversity, 3Rs dan climate change. Satu hal yang menarik terjadi di persidangan adalah terdapatnya perubahan format pertemuan atas kesepakatan bersama G-8 dan Outreach countries. Awalnya pertemuan senantiasa menggunakan format dimana negara anggota G-8 yang mendapat kesempatan memberikan pandangan mereka, diikuti dengan Outreach countries, dan lembaga-lembaga regional/internasional terkait. Namun, hal ini kemudian berubah dan kesempatan berbicara diberikan kepada partisipan siapa saja, tanpa memperhatikan urutan sebagaimana sebelumnya. Hal ini di sisi lain juga memperlihatkan kesan bahwa masalah lingkungan sudah sedemikian mendesaknya sehingga pembahasan dan proses negosiasi harus cepat dilakukan dan kesempatan menyampaikan pendapat saat ini terbuka bagi siapa saja atau negara mana saja yang memberikan perhatiannya terhadap masalah lingkungan.
Terdapatnya beberapa hal yang menjadi pending issues, utamanya persoalan sharing burden and balanced responsibility dalam upaya reduksi emisi gas rumah kaca, serta kepastian negara-negara maju untuk menetapkan mid-term target reduksi emisi masing-masing. Hal ini antara lain juga menyiratkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan/posisi antar negara-negara maju yang tergabung dalam G-8 dan Outreach countries, termasuk Indonesia. Dari pembahasan, terkesan bahwa di satu sisi, beberapa negara maju seperti Jerman dan Perancis, memperlihatkan kesiapannya dalam upaya pencapaian/realisasi target reduksi emisi dalam jangka panjang maupun jangka menengah. Namun di sisi lain, AS masih memperlihatkan keenganannya untuk memberikan komitmen utamanya dalam hal penentuan mid-term target reduksi emisi.
Jepang sebagai tuan rumah sekaligus pimpinan sidang nampaknya berusaha mengambil peran termasuk dengan meluncurkan Kobe Initiative. Akan tetapi posisi Jepang terlihat lebih di tengah dan “kurang” berhasil mendorong negara maju lainnya, khususnya AS, dalam hal penentuan mid-term target reduksi emisi. Sebaliknya, posisi Outreach countries yang dimotori oleh Afrika Selatan, China, Brazil dan India serta Indonesia, berusaha keras mendorong negara-negara maju agar menunjukkan komitmennya dalam upaya realisasi target reduksi emisi. Hasil pertemuan di Kobe, termasuk pending issues ini, kiranya akan disampaikan dan dibahas dalam G-8 Summit di Hokkaido, bulan Juli 2008 mendatang.
Saturday, 31 May 2008
G-8 Environment Ministers Meeting di Kobe 24-26 Mei 2008
Posted by
Dr. Pudjiatmoko
at
11:53
0
comments
Labels: Global Warming
Thursday, 3 April 2008
Gleneagles-Dialogue on Climate Change, Clean Energy and Sustainable Development 4th Ministerial Meeting Chiba, JAPAN 14-16 March, 2008
Chairs’ Conclusions
The Ministerial Meeting of the Dialogue on Climate Change, Clean Energy and Sustainable Development was launched at G8 summit at Gleneagles 2005. The first meeting was held in London in Oct. and Nov. 2005, followed by the second meeting in Monterey in Oct. 2006 and the third meeting in Berlin in Sep. 2007.
During the past sessions of the Dialogue, the following general understandings had been shared, with the assistance of the inputs from the IEA and the World Bank;
• Both the development of new technologies and the deployment of existing technologies are equally important. Cooperation between developed and developing countries, and between public and private sectors is essential.
• Future investment is needed on a large scale. A wide range of policies should be implemented in a clear and predictable way in order to mobilize private investment.
• It is necessary to deal with sustainable development and climate change at the same time. Adaptation and reducing emissions from deforestation are also important.
It had been acknowledged that these discussions during the Dialogues in the past are useful inputs and complementary to the process under the UNFCCC for the post-2012 framework.
In order to wrap up these past 2-year discussions and prepare a report to the G8 Hokkaido Toyako Summit, the 4th meeting was held in Chiba from the 14th to the 16th of March 2008, and focused on the issues on Technology, Finance and Investments, and post-2012 framework.
This meeting was attended by ministers and senior officials responsible for energy and environment issues from G8, from Australia, Brazil, China, India, Indonesia, Korea, Mexico, Nigeria, Poland, South Africa, Spain and Slovenia as current presidency of the EU. We were joined by senior officials from international organizations including the International Energy Agency, the World Bank, Regional Development Banks, and business groups from the World Business Council for Sustainable Development, Nippon Keidanren and the World Economic Forum, non-governmental organizations as well as legislators from the GLOBE.
Regarding the following issues discussed at this Dialogue,
Technology
[Energy Efficiency and Clean Energy]
Acknowledged the importance of improving energy efficiency, as one of the lowest cost and most effective means to immediately reduce GHG emissions, on a global scale including through cooperative sectoral approach, international partnership, and domestic actions for each country.
Highlighted the necessity of technology deployment and transfer to developing countries.
Acknowledged the importance of capacity building and discussed the role of IPR (Intellectual Property Rights).
Noted that countries which decided to choose the option for nuclear energy recognized the contribution of nuclear power to emission reduction while those which decided otherwise expressed their concern about security.
Noted the importance of renewable energy.
[Innovative Technology]
Exchanged information on international initiatives to develop innovative technologies.
Shared the necessity of expanding and strengthening international cooperation and sharing road maps on technology RD & D.
Emphasized the importance of CCS.
[Sectoral Approach]
Provided experiences based on sectoral approach (e.g., APP).
Discussed the effectiveness of sectoral approach and recognized the necessity to continue further discussion in order to reach common understanding.
Emphasized the principle of common but differentiated responsibility and respective capability in the context of sectoral approach.
[The Role of the IEA]
Appreciate the work of IEA and pointed out challenges to be addressed (including data collection and the future role of IEA).
[Activities by Private Sector]
Appreciated business initiatives for implementation of sector-based activities (including data collection).
Finance
[International Financial Mechanism for Mitigation and Adaptation]
Appreciated the work of the World Bank and Regional Development Banks under the framework for clean energy and development and encouraged them to continue and enhanced these efforts.
Appreciated the initiatives by Japan, UK and US to create a new multilateral fund for climate change in collaboration with the World Bank.
Exchanged views on governance of international funding arrangements.
Acknowledged to coordinate various existing and new funds in order to avoid duplication.
Recognized the need to prioritize financial support for adaptation to the most vulnerable countries such as Least Developed Countries and Small Islands Developing States.
Noted the importance of exploring innovative financial mechanisms.
Noted a Multinational Fund for Climate Change to support mitigation and adaptation activities proposed by Mexico.
Noted the necessity of scaling up CDM while recognizing the need for improvement.
Acknowledged the importance of mainstreaming mitigation and adaptation into development policy.
Recognized the importance of maximizing co-benefits (e.g. air pollution reduction) in financial assistance.
Reaffirmed the necessity to give appropriate incentives for preventing deforestation and forest degradation.
[Mobilization of Private Investment]
Recognized the importance of mobilization of private investment and the role of governments to remove the obstacles for investment.
Discussed the relationship between carbon markets and private investments.
Post-2012 Framework
[Long-term Goal]
Acknowledged the importance of sharing a long-term goal.
Shared the common understanding of the necessity to move toward sustainable low-carbon societies.
Pointed out the necessity to identify a long-term policy which functions as a reliable and clear signal to the private sector.
[Mid-term Goal]
Reaffirmed the principle of common but differentiated responsibilities and respective capabilities as a premise of the discussion.
Noted the necessity to take into consideration the change of global situation from 1992 to 2008.
Recognized to necessity to ensure equity to realize sustainable development and effective emission reduction.
Shared the necessity to continue substantial discussion on sectoral approach, with the understanding that it does not replace quantified national target for GHGs emissions reductions.
[Global Actions]
Noted developed countries will take the lead in combating climate change while ensuring the comparability of efforts among them.
Acknowledged developing countries will take measurable, reportable and verifiable actions with support from developed countries.
Shared that adaptation and mitigation are equally important, and technology and finance are necessary ways to achieve them.
Recognized in particular the unique role that the countries at the Gleneagles Dialogue can play in terms of initiatives and cooperation leading to emission reduction.
Noted the importance of carbon market role.
Acknowledged the importance of counter measures for deforestation and forest degradation particularly for developing countries.
[Road to Copenhagen]
Appreciated the fruits of this dialogue (substantial contribution to the agreement on Bali Action Plan) and expected it to become a useful contribution to the discussion in the AWGLCA under the Convention.
Highlighted the value of this dialogue and other such dialogues in contributing to a successful outcome in Copenhagen.
Posted by
Dr. Pudjiatmoko
at
16:20
0
comments
Labels: Global Warming
Tuesday, 1 April 2008
Penanganan sumber air akibat perubahan iklim
Dalam rangka mengamati penanganan sumber air akibat perubahan iklim telah dilaksanakan Special Symposium ”Climate Change and Water”-Towards the 1st Asia-Pacific Water Summit and Beyond- yang diselenggarakan oleh Japan Water Forum di JETRO Headquarters Tokyo, Ark Mori Building 5F, Tokyo.
Kata perubahan iklim dunia untuk masa mendatang tidak tepat. Karena perubahan terjadi secara drastis pada saat tertentu. Perubahan dimaksud merupakan suatu yang jelas dan dapat diukur dengan cepat. Sedangkan perubahan pada iklim tidak seperti dimaksud tersebut, sehingga kata yang paling tepat atau realistis adalah evolusi iklim.
Evolusi iklim dan efek yang ditimbulkannya terhadap air telah diketahui oleh manusia. Manusia telah tahu bagaimana untuk beradaptasi terhadap perubahan ini. Evolusi iklim bukan merupakan penyebab pertama kekurangan air. Manusia telah belajar keadaan alam ini setiap hari sehingga tentunya manusia dapat mengetahui alam ini secara baik.
Kekurangan air diakibatkan oleh pertumbuhan demografis, pertumbuhan populasi penduduk yang alami serta penyebaran penduduk yang tidak merata pada permukaan planet. Pertambahan satu milyar lebih manusia setiap 10 – 12 tahun akan menjadi masalah yang tidak mudah mengambil jalan keluarnya, dan dapat menyebabkan tertundanya pencapaian sasaran pengembangan melinium. Ditambah lagi sebagian besar dari populasi yang banyak ini bertempat tinggal di kota-kota besar dan di daerah pantai, hal ini telah menciptakan wilayah baru yang sulit memperoleh sumber air.
Di kota-kota tersebut ketersediaan air tidak sesuai dengan kebutuhan manusia akibat evolusi ini. Banyak kota-kota besar yang telah atau akan menderita kekurangan air selama abad ini akibat tidak terdapat peraturan mengenai langkah-langkah yang harus diambil untuk menangani masalah genting secara cepat. Pada dewasa ini, strategi yang penting adalah memetakan sumber air dan pertumbuhan penduduk.
Apabila kegiatan manusia tidak memperhatikan mutu air akan menimbulkan masalah kehidupan manusia. Kegiatan utama seperti kegiatan yang dilakukan dalam bidang perindustrian dan pertanian. Kegiatan yang dikhawatirkan adalah kegiatan yang dapat menimbulkan kontaminasi air yang dapat mengancam terpenuhinya kebutuhan air yang berasal dari sumber air alami tanpa perlakuan dan pemurnian. Hal tersebut akan menyebabkan kesulitan mendapatkan air dalam jumlah banyak.Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka penghemat air adalah menghentikan pembuangan sampah dalam segala bentuknya. Artinya semua sampah harus didaur ulang untuk diambil manfaat sebanyak-banyaknya. Kita harus melakukan usaha penggunaan air lebih sedikit mungkin dimanapun berada dan untuk kegiatan apapun.
Beberapa tindakan yang perlu dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, swasta dan masyarakat umum adalah sebagai berikut:
a.Mencegah terjadinya kerusakan kronis tempat sumber air melalui pencegahan polusi air terhadap bahan kimia dan bahan lain yang menimbulkan rusaknya kualitas air sungai dan mata air.
b.Mencegah dan memerangi polusi akibat kecelakaan transportasi, kebakaran, ledakan, kerusakan pipa dan sebagainya.
c.Menjaga dan mengawasi tempat pengolahan sumber air bersih.
d.Memonitor sumber air secara berkala baik mutu maupun jumlah air di setiap sumber air.
e.Mengatur sumber air dengan cara menjaga fasilitas umum, dan mengatur pemenuhan kebutuhan air untuk jangka waktu lama.
f.Menghemat penggunaan air dengan cara mencegah hilangnya air pada saluran air dan memonitor penggunaan air PAM (ledeng).
Posted by
Dr. Pudjiatmoko
at
10:04
0
comments
Labels: Global Warming
Monday, 31 March 2008
Perubahan Iklim Dunia
• Meningkatnya pemanasan : Sebelas dari dua belas tahun terakhir merupakan tahun-tahun terhangat dalam temperatur permukaan global sejak 1850. Tingkatpemanasan rata-rata selama lima puluh tahun terakhir hampir dua kali lipat dari rata-rata seratus tahun terakhir. Temperatur rata-rata global naik sebesar 0.74 °C selama abad ke-20, dimana pemanasan lebih dirasakan pada daerah daratan daripada lautan.
• Jumlah karbondioksida yang lebih banyak di atmosfer : Karbondioksida adalah penyebab paling dominan terhadap adanya perubahan iklim saat ini dan konsentrasinya di atmosfer telah naik dari masa pra-industri yaitu 278 ppm (parts-permillion) menjadi 379 ppm pada tahun 2005.
• Lebih banyak air, tetapi penyebarannya tidak merata : Adanya peningkatan presipitasi pada beberapa dekade terakhir telah diamati di bagian Timur dari Amerika Utara dan Amerika Selatan, Eropa Utara, Asia Utara serta Asia Tengah. Tetapi pada daerah Sahel, Mediteranian, Afrika Selatan dan sebagian Asia Selatan mengalami pengurangan presipitasi. Sejak tahun 1970 telah terjadi kekeringan yang lebih kuat dan lebih lama.
• Kenaikan muka laut : Saat ini dilaporkan tengah terjadi kenaikan muka laut dari abad ke-19 hingga abad ke-20, dan kenaikannya pada abad 20 adalah sebesar 0.17 meter. Pengamatan geologi mengindikasikan bahwa kenaikan muka laut pada 2000 tahun sebelumnya jauh lebih sedikit daripada kenaikan muka laut pada abad 20. Temperatur rata-rata laut global telah meningkat pada kedalaman paling sedikit 3000 meter.
• Pengurangan tutupan salju : Tutupan salju semakin sedikit di beberapa daerah, terutama pada saat musim semi. Sejak 1900, luasan maksimum daerah yang tertutup salju pada musim dingin/semi telah berkurang sekitar 7% pada Belahan Bumi Utara dan sungai-sungai akan lebih lambat membeku (5.8 hari lebih lambat daripada satu abad yang lalu) dan mencair lebih cepat 6.5 hari.
• Gletser yang mencair : Pegunungan gletser dan tutupan salju rata-rata berkurang pada kedua belahan bumi dan memiliki kontribusi terhadap kenaikan muka laut sebesar 0.77 milimeter per tahun sejak 1993 – 2003. Berkurangnya lapisan es di Greenland dan Antartika berkontribusi sebesar 0.4 mm pertahun untuk kenaikan muka laut (antara 1993 – 2003).
• Benua Arktik menghangat : Temperatur rata-rata Benua Arktik mengalami peningkatan hingga mencapai dua kali lipat dari temperatur rata-rata seratus tahun terakhir. Data satelit yang diambil sejak 1978 menunjukkan bahwa luasan laut es rata-rata di Arktik telah berkurang sebesar 2.7% per dekade.
Proyeksi-proyeksi saat ini mengindikasikan percepatan pemanasan
• Emisi gas rumah kaca (GRK) yang kontinu pada atau di atas tingkat kecepatannya saat ini akan menyebabkan pemanasan lebih lanjut dan memicu perubahan-perubahan lain pada sistem iklim global selama abad ke-21 yang dampaknya lebih besar daripada yang diamati pada abad ke-20.
• Tingkat pemanasan bergantung kepada tingkat emisi : Jika konsentrasi karbondioksida stabil pada 550 ppm – dua kali lipat dari masa pra-industri – pemanasan rata-rata diperkirakan mencapai 2-4.5 °C, dengan perkiraan terbaik adalah 3 °C atau 5.4 °C. Untuk dua dekade ke depan diperkirakan tingkat pemanasan sebesar 0.2 °C per dekade dengan skenario yang tidak memasukkan pengurangan emisi GRK.
• GRK lain turut berperan dalam pemanasan dan jika dampak dari kombinasi GRK tersebut setara dengan dampak karbondioksida 650 ppm, iklim global akan memanas sebesar 3.6 °C, sedangkan angka 750 ppm akan mengakibatkan terjadinya pemanasan sebesar 4.3 °C. Proyeksi bergantung kepada beberapa faktor seperti pertumbuhan ekonomi, populasi, perkembangan teknologi dan faktor lainnya.
Akibat yang lebih besar
• Temperatur global yang lebih panas telah menyebabkan perubahan besar pada sistem alami bumi. Sekitar 20-30% spesies tumbuhan dan hewan terancam punah jika peningkatan temperatur rata-rata global melebihi 1.5 – 2.5 °C.
• Peningkatan temperatur sebesar 3 °C selama abad ini akan memberikan dampak negatif bagi keanekaragaman ekosistem (biodiversity) yang berperan dalam kehidupan manusia seperti penyediaan makanan dan air.
• Temperatur yang lebih panas menyebabkan musim semi yang datang lebih awal, peningkatan runoff dan debit sungai yang bersumber dari gletser/salju, “penghijauan” vegetasi dan migrasi burung-burung. Banyak hewan serta tumbuhan yang berpindah ke lintang yang lebih tinggi.
• Bertambahnya presipitasi di daerah-daerah lintang tinggi : Peningkatan presipitasi lebih banyak terjadi pada daerah lintang tinggi sedangkan pengurangan presipitasi banyak terjadi di daratan-daratan subtropis.
• Perhitungan model untuk kenaikan muka laut akibat perluasan lautan dan melelehnya gletser pada akhir abad ini (dibandingkan dengan nilai pada 1989-1999) telah berkurang dari perhitungan awal menjadi 18-58 cm. Bagaimanapun, angka yang besar tidak dapat dikeluarkan apabila pengamatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah lapisan es seiring dengan peningkatan temperatur.
• Penyusutan/pengurangan lapisan es di Greenland diproyeksi akan berkontribusi terhadap naiknya muka laut pada abad ke-22 dan lapisan es tersebut akan habis/hilang jika pemanasan global rata-rata sebesar 1.9-4.6 °C terus berlangsung selama 10 abad. Hal ini akan menyebabkan kenaikan muka laut sebesar 7 meter.
Penyebab terjadinya perubahan iklim
Perubahan iklim menunjuk pada adanya perubahan pada iklim yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia yang mengubah komposisi atmosfer global dan juga terhadap variabilitas iklim alami yang diamati selama periode waktu tertentu.
United Nations Framework Convention on Climate Change Fakta Singkat (Quick Facts)
• Selubung alami GRK di atmosfer menjaga bumi cukup hangat untuk kehidupan – saat ini dalam taraf nyaman sebesar 15°C.
• Emisi GRK yang disebabkan oleh kegiatan manusia telah mengakibatkan adanya penebalan selubung tersebut, sehingga banyak panas yang terperangkap dan memicu timbulnya pemanasan global.
• Bahan bakar fosil adalah sumber emisi GRK terbesar dari aktivitas manusia.
• Temperatur rata-rata bumi cukup stabil dalam 10.000 tahun terakhir dan bervariasi kurang dari 1°C, sehingga peradaban manusia dapat berkembang pesat hingga saat ini dengan temperatur nyaman sebesar 15oC. Tetapi kesuksesan perkembangan peradaban manusia menimbulkan resiko keseimbangan iklim bumi.
• “Selubung” GRK yang terbentuk secara alami di lapisan troposfer - kurang lebih 1% dari komposisi atmosfer keseluruhan – memiliki fungsi yang vital untuk iklim di bumi. Ketika energi matahari dalam bentuk gelombang tampak masuk dan menghangatkan permukaan bumi, bumi yang jauh lebih dingin daripada matahari kemudian mengemisikan energi tersebut kembali ke angkasa dalam bentuk gelombang inframerah atau thermal, radiasi. GRK akan menghalangi radiasi inframerah tersebut agar tidak kembali ke angkasa. “Efek GRK alami” ini menyebabkan temperatur bumi lebih panas 30oC daripada temperatur bumi seharusnya, hal ini tentu saja sangat penting bagi kehidupan manusia.
• Masalah yang kini dihadapi manusia adalah sejak dimulainya revolusi industri 250 tahun yang lalu, emisi GRK semakin meningkat dan menebalkan selubung GRK di atmosfer dengan laju peningkatan yang signifikan. Hal tersebut telah mengakibatkan adanya perubahan paling besar pada komposisi atmosfer selama 650.000 tahun. Iklim global akan terus mengalami pemanasan dengan laju yang cepat dalam dekade-dekade yang akan datang kecuali jika ada usaha untuk mengurangi emisi GRK ke atmosfer.
Efek gas rumah kaca yang semakin besar
• Hal yang menyebabkan emisi GRK menjadi masalah yang besar adalah karena dalam jangka panjang, bumi harus melepaskan energi dengan laju yang sama ketika bumi menerima energi dari matahari. Selubung GRK yang lebih tebal akan membantu untuk mengurangi hilangnya energi ke angkasa, sehingga sistem iklim harus menyesuaikan diri untuk mengembalikan keseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar. Proses ini disebut sebagai “efek GRK yang semakin besar”.
• Iklim menyesuaikan diri terhadap selubung GRK yang lebih tebal dengan “pemanasan global” pada permukaan bumi dan pada atmosfer bagian bawah. Kenaikan temperatur tersebut diikuti oleh perubahan-perubahan lain, seperti tutupan awan dan pola angin. Beberapa perubahan ini dapat mendukung terjadinya pemanasan (timbal balik positif), sedangkan yang lainnya melakukan hal yang berlawanan (timbal balik negatif). Berbagai interaksi tersebut sangat menyulitkan para ahli untuk menentukan secara tepat bagaimana iklim akan berubah dalam beberapa dekade ke depan.
Emisi gas rumah kaca (GRK)
• Bahan bakar fosil yang dibentuk dari jasad tumbuhan dan hewan yang telah lama mati merupakan sumber tunggal penyebab GRK dari aktivitas manusia. Pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi melepaskan milyaran ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya (yang seharusnya tetap berada jauh di dalam kerak bumi), juga metana dan nitrous oksida dalam jumlah besar. Akan lebih banyak karbondioksida yang dilepaskan ke atmosfer ketika pohon-pohon ditebang dan tidak ditanami kembali.
• Sementara itu, ternak-ternak dalam jumlah besar akan mengemisikan metana, begitu pula pertanian dan pembuangan limbah, sebab penggunaan pupuk dapat menghasilkan nitrous oksida. Gas-gas dengan waktu hidup/waktu tinggal yang lama seperti CFC, HFC dan PFC, yang digunakan pada alat pendingin ruangan dan lemari pendingin (kulkas) juga merupakan gas yang berbahaya jika berada di atmosfer. Kegiatan-kegiatan manusia yang mengemisikan GRK ke atmosfer saat ini sangat banyak dilakukan dan sangat esensial dalam ekonomi global serta merupakan bagian dari gaya hidup manusia saat ini.
Penilaian ilmu pengetahuan : The Intergovernmental Panel on Climate Change
• PBB, melalui program lingkungan PBB (United Nations Environment Programme) dan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization, WMO) membentuk The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 1988 untuk meneliti dan menganalisa isu-isu ilmu pengetahuan yang muncul. Sejak 1990 setiap lima atau enam tahun IPCC telah mengeluarkan laporan-laporan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan melalui pengamatan dan prediksi untuk mengetahui kecenderungannya di masa depan.
• IPCC tidak melakukan penelitian baru, tetapi tugas IPCC adalah untuk membuat rancangan kebijakan yang sesuai dengan isu-isu dan literatur di seluruh dunia tentang aspek ilmu pengetahuan, teknik dan sosioekonomi dari perubahan iklim. Laporan-laporan IPCC disusun oleh ribuan ahli dari seluruh bagian di dunia.
• Laporan penelitian ke empat (The Fourth Assessment Report) dikeluarkan pada 2007, dalam empat bagian yang masing-masing bagiannya disusun oleh kelompok kerja yang berbeda-beda.
• Dalam menyiapkan laporan, konsep naskahnya diedarkan kepada ahli-ahli dengan bidang keahlian yang berbeda-beda. Komentar dari para ahli tersebut lalu akan ditampung oleh penulis di IPCC yang kemudian menyiapkan tinjauan kedua bagi pemerintah-pemerintah dunia dan kepada semua penulis serta peninjau ahli. Pemerintah-pemerintah dan para peninjau ahli dapat memberikan masukan namun terbatas pada keakuratan dan kelengkapan kandungan dari ilmu pengetahuan/teknis/sosioeknomi dan keseimbangan dari keseluruhan konsep naskah laporan. Dokumen akhir merupakan gabungan dari pandangan banyak pihak baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknisnya.
• Setiap laporan memiliki ikhtisar untuk pembuat kebijakan, yang disetujui oleh delegasi pemerintahan negara-negara anggota IPCC pada saat sidang paripurna kelompok kerja yang menyusun laporan tersebut. Penulis utama laporan akan hadir dan siap untuk menjelaskan fakta-fakta ilmiah yang mendukung pernyataan pada ikhtisar. Perubahan hanya dapat dilakukan jika ada persetujuan dengan penulis utama, untuk memastikan kekonsistenan dengan aspek ilmu pengetahuan serta teknisnya. Ikhtisar juga menunjukkan adanya persetujuan untuk isi/penemuan pada laporan : Pernyataan dari pemerintah peserta bahwa terdapat cukup bukti-bukti ilmiah dari seluruh dunia untuk mendukung pernyataan pada dokumen laporan.
Iklim bumi yang berubah
Pemanasan yang terjadi pada sistem iklim bumi merupakan hal yang jelas terasa, seiring dengan banyaknya bukti dari pengamatan kenaikan temperatur udara dan laut, pencairan salju dan es di berbagai tempat di dunia, dan naiknya permukaan laut global.
“Climate Change 2007”
Intergovernmental Panel on Climate Change
Fakta Singkat (Quick Facts)
• Tingkat pemanasan pada temperatur permukaan bumi rata-rata pada 50 tahun terakhir hampir mendekati dua kali lipat dari rata-ratanya pada 100 tahun terakhir.
• Selama 100 tahun terakhir, temperatur permukaan bumi rata-rata naik sekitar 0.74°C. Jika konsentrasi GRK dominan di atmosfer, karbondioksida, meningkat dua kali lipat dari masa pra-industri, hal ini akan memacu pemanasan rata-rata mencapai 3°C.
• Akhir tahun 1990an dan awal abad 21 merupakan tahun-tahun terpanas sejak adanya arsip data modern.
• Lapisan es pada Benua Arktik rata-rata telah berkurang sebanyak 2.7% per dekade.
• Perubahan yang telah diukur oleh para ilmuwan pada atmosfer, lautan, permukaan es dan gletser menunjukkan bahwa bumi telah mengalami pemanasan akibat dari adanya emisi GRK di masa lalu. Perubahan-perubahan tersebut merupakan bagian dari pola yang konsisten dan bukti dari adanya gelombang panas (heat waves) yang lebih besar, pola angin baru, kekeringan yang lebih parah di beberapa daerah, bertambahnya presipitasi di daerah lainnya, melelehnya gletser dan es di Arktik serta naiknya muka laut.
• IPCC menemukan bahwa, selama 100 tahun terakhir (1906-2005) temperatur permukaan bumi rata-rata telah naik sekitar 0.74°C, dengan pemanasan yang lebih besar pada daratan dibandingkan lautan. Tingkat pemanasan rata-rata selama 50 tahun terakhir hampir dua kali lipat dari yang terjadi pada 100 tahun terakhir. Akhir tahun 1990an dan awal abad 21 merupakan tahun-tahun terpanas sejak adanya arsip data modern. Peningkatan pemanasan sebesar 0.2°C diproyeksikan akan terjadi untuk setiap dekade pada dua dekade kedepan. Proyeksi tersebut dilakukan dengan beberapa skenario yang tidak memasukkan pengurangan emisi GRK. Besar pemanasan yang akan terjadi setelahnya akan tergantung kepada jumlah GRK yang diemisikan ke atmosfer.
• Jika konsentrasi GRK dominan di atmosfer, karbondioksida, bertambah hingga dua kali lipat dibandingkan konsntrasinya pada masa pra-industri maka pemanasan rata-rata akan meningkat mencapai 2-4.5 °C (3.6-8.1 °F). GRK lainnya turut pula berperan dalam pemanasan tersebut dan menurut beberapa skenario, kombinasi dampak dari gas-gas ini akan menjadi dua kali lipat pada paruh kedua abad ini.
• Konsentrasi karbondioksida di atmosfer saat ini, menurut pengukuran pada udara yang terperangkap pada inti es, jauh lebih besar dibandingkan dengan 650.000 tahun terakhir.
• Salah satu dampak yang paling besar dari pemanasan global adalah naiknya permukaan laut. Permukaan laut naik sekitar 17 cm selama abad 20.
Pengamatan geologi mengindikasikan bahwa kenaikan muka laut ini jauh lebih besar dibandingkan yang terjadi pada 2000 tahun yang lalu.
• Pada daerah dengan iklim sedang, banyak gunung-gunung gletser yang mencair, dan tutupan salju semakin berkurang, terutama pada musim semi. Selama abad 20, luasan maksimum daerah yang tertutup salju pada musim dingin/semi telah berkurang sekitar 7% pada Belahan Bumi Utara. Kemudian waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan sungai dan danau pun cukup bervariasi, tetapi sejak 150 tahun terakhir telah semakin lambat menjadi 5.8 hari per abad dan mencair lebih cepat 6.5 hari per abad.
Dampak di masa depan
Banyak sistem alam , pada semua benua dan di beberapa lautan, terpengaruh oleh perubahan iklim regional, terutama adanya kenaikan temperatur.
“Climate Change 2007”
Intergovernmental Panel on Climate Change
Fakta Singkat (Quick Fact)
• Komunitas-komunitas kurang mampu adalah yang paling rentan terhadap dampak dari perubahan iklim.
• Tinggi muka laut rata-rata global diproyeksikan naik sebesar 28-58 cm akibat adanya perluasan lautan dan pencairan gletser pada akhir abad 21 (dibandingkan dengan tinggi muka laut pada 1989-1999).
• 20-30% spesies akan menghadapi resiko kepunahan lebih besar.
• Akan terjadi gelombang panas yang lebih kuat, pola-pola angin baru, kekeringan yang semakin parah di beberapa daerah dan bertambahnya presipitasi di daerah lainnya.
Temperatur yang lebih tinggi, mendatangkan lebih banyak resiko
• Pada semua daerah di dunia, semakin tinggi kenaikan temperatur maka akan semakin besar pula resiko terjadinya bencana. Iklim tidak bereaksi terhadap emisi secara cepat, tetapi bertahun-tahun di atmosfer. Dan karena adanya efek penundaan dari lautan – yang menyerap dan melepaskan panas lebih lama daripada atmosfer – temperatur permukaan tidak langsung merespon emisi GRK. Sehingga, perubahan iklim akan terus berlangsung selama ratusan tahun setelah konsentrasi atmosfer mencapai kestabilan.
Perubahan merugikan dalam siklus hidrologi
• Kenaikan temperatur telah mempercepat siklus hidrologi. Atmosfer yang lebih hangat akan menyimpan lebih banyak uap air, sehingga menjadi kurang stabil dan menghasilkan lebih banyak presipitasi, terutama dalam bentuk hujan lebat. Panas yang lebuh besar juga mempercepat proses evaporasi. Dampak dari perubahan-perubahan tersebut dalam siklus air adalah menurunnua kuantitas dan kualitas air bersih di dunia. Sementara itu, pola angin dan jejak badai juga akan berubah. Intensitas siklon tropis akan semakin meningkat (namun tidak berpengaruh terhadap frekuensi siklon tropis), dengan kecepatan angin maksimum yang bertambah dan hujan yang semakin lebat.
Meningkatnya Resiko Kesehatan
• Perubahan iklim akan mengubah distribusi nyamuk-nyamuk malaria dan penyakit-penyakit menular lainnya, sehingga mempengaruhi distribusi musiman penyakit alergi akibat serbuk sari dan meningkatkan resiko penyakit-penyakit pada saat gelombang panas (heat waves). Sedangkan, tentu saja seharusnya akan lebih sedikit kematian yang disebabkan oleh udara dingin.
Kenaikan muka laut
• Prediksi paling baik untuk kenaikan muka laut akibat perluasan lautan dan pencairan gletser pada akhir abad 21 (dibandingkan dengan keadaan pada 1989-1999) adalah 28-58 cm. Hal ini akan menyebabkan memburuknya bencana banjir di daerah pantai dan erosi.
• Kenaikan muka laut yang besar hingga 1 meter pada 2100 tidak dapat dibenarkan apabila lapisan es terus mencair seiring dengan kenaikan temperatur. Saat ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa lapisan es di Antartika dan Greenland perlahan berkurang dan berkontribusi terhadap kenaikan muka laut. Sekitar 125.000 tahun yang lalu, ketika daerah kutub lebih hangat daripada saat ini selama periode waktu tertentu, pencairan es kutub telah menyebabkan muka laut naik mencapai 4-6 meter. Kenaikan muka laut memiliki kelembaman besar dan akan terus berlangsung selama berabad-abad.
• Lautan juga akan mengalami kenaikan temperatur, yang tentu saja berpengaruh terhadap kehidupan bawah laut. Selama 4 dekade terakhir, sebagai contoh, plankton di Atlantik Utara telah bermigrasi ke arah kutub sebanyak 10 derajat lintang. Selain itu juga, lautan mengalami proses pengasaman seiring dengan diserapnya lebih banyak karbondioksida. Hal ini akan menyebabkan batu karang, keong laut dan spesies lainnya kehilangan kemampuan untuk membentuk cangkang atau kerangka.
Menimpa yang paling rentan
• Komunitas yang paling miskin akan menjadi yang paling rentan terhadap dampak dari perubahan iklim, sebab mereka akan sulit untuk melakukan usaha untuk mencegah dan mengatasi dampak dari perubahan iklim dengan kurangnya kemampuan. Beberapa komunitas yang paling rentan adalah buruh tani, suku-suku asli dan orang-orang yang tinggal di tepi pantai.
Dampak regional
Akan sangat sulit untuk mengantisipasi perubahan iklim pada skala regional daripada skala global. Namun, telah dilakukan langkah-langkah untuk itu, dan para ahli telah menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
• Afrika - Sangat rentan terhadap perubahan iklim dan variabilitas iklim karena banyaknya kelaparan, kelembagaan yang lemah, bencana dan konflik. Kekeringan telah menyebar dan semakin intensif terjadi sejak tahun 1970, dan daerah Sahel serta Afrika Selatan menjadi lebih kering selama abad ke-20. Ketersediaan air dan produksi agrikultur sangat terancam oleh keadaan ini. Hasil panen di beberapa negara Afrika dapat turun hingga 50% pada 2020, dan beberapa daerah pertanian besar akan terpaksa berhenti berproduksi. Hutan, padang rumput dan ekosistem alami lainnya telah berubah, terutama di bagian Selatan Afrika. Kemudian pada tahun 2080, jumlah daratan arid dan semi-arid akan meluas sebesar 5-8%.
• Antartika – Benua ini merupakan daerah yang sulit untuk dianalisa dan diprediksi. Kecuali pemanasan di Antartika Peninsula, temperatur dan salju yang turun di benua ini terhitung relatif konstan pada 50 tahun terakhir. Benua Antartika memiliki hampir 90% dari air bersih di bumi, sehingga para peneliti mengawasi dengan cermat jika ada tanda-tanda pencairan gletser maupun lapisan es pada benua ini.
• Arktik – Temperatur rata-rata di Arktik telah mengalami peningkatan dua kali lebih cepat dari rata-rata global dalam 100 tahun terakhir. Luasan rata-rata laut es di Arktik telah berkurang sebanyak 2.7% per dekade dan banyak daerah di lautan Arktik yang kehilangan “es sepanjang tahun”nya pada akhir abad ke-21 jika emisi yang dikeluarkan oleh manusia mencapai prediksi maksimum saat ini. Arktik juga sangat penting sebab perubahan di daerah ini akan memberikan implikasi skala global. Sebagai contoh, ketika es dan salju mencair, albedo (reflektifitas) bumi akan menurun, sehingga memerangkap panas yang seharusnya dipantulkan dan memanaskan permukaan bumi lebih besar dari kondisi normal.
• Asia – Lebih dari satu milyar orang dapat terpengaruh oleh adanya kekurangan persediaan air, terutama di lembah sungai-sungai besar pada 2050. Pencairan gletser di Himalaya, yang diprediksi akan meningkatkan kejadian banjir dan longsor, akan mempengaruhi sumber daya air pada dua hingga tiga dekade kedepan. Daerah pantai, terutama daerah mega-delta regions yang padat penduduk, akan beresiko terkena banjir akibat kenaikan muka laut, dan juga dari luapan sungai.
• Australia dan New Zealand – Meningkatnya tekanan dalam ketersediaan air dan pertanian, ekosistem alami yang berubah, tutupan salju musiman yang semakin berkurang dan berkurangnya gletser. Selama beberapa dekade terakhir telah terjadi lebih banyak gelombang panas, sedikit hujan es dan lebih banyak hujan di bagian barat laut Australia dan barat daya New Zealand; sedikit hujan di bagian selatan dan timur Australia serta timur laut New Zealand; dan peningkatan intensitas kekeringan Australia. Iklim pada abad 21 akan lebih panas dengan frekuensi dan intensitas gelombang panas, kebakaran, banjir, tanah longsor, kekeringan dan storm surge yang lebih besar.
• Amerika Latin – Hutan tropis di bagian timur Amazon dan bagian selatan serta Meksiko tengah diprediksi akan berubah menjadi savana. Sebagian daerah bagian timur laut Brazil serta sebagian besar Meksiko tengah dan utara akan menjadi lebih kering (arid) disebabkan oleh kombinasi antara perubahan iklim dan manajemen lahan oleh manusia. Pada 2050, 50% dari lahan pertanian diperkirakan akan perlahan berubah menjadi gurun dan mengalami salinitasi.
• Amerika Utara – Perubahan iklim akan mempengaruhi sumber daya air, sedangkan saat ini sumber daya air telah terdesak oleh kebutuhan penggunaan air dari pertanian, industri dan kota-kota. Kenaikan temperatur akan lebih lanjut mengurangi jumlah salju di pegunungan dan meningkatkan evaporasi, sehingga mengubah ketersediaan air musiman. Penurunan muka air di danau-danau serta sungai-sungai besar akan mempengaruhi kualitas air, navigasi, rekreasi dan kapasitas pembangkit listrik tenaga air. Kebakaran hutan dan menjangkitnya serangga akan terus berkembang dengan memanasnya bumi dan tanah yang kering. Selama abad ke-21, kecenderungan bagi spesies-spesies untuk berpindah ke utara dan ke ketinggian akan menyusun ulang ekosistem Amerika Utara.
• Negara-Negara di Pulau Kecil – Sangat rentan terhadap perubahan iklim, luasnya yang terbatas mengakibatkan mudah terjadi bencana alam, terutama berkaitan dengan naiknya muka laut dan ancaman terhadap ketersediaan air bersih.
Pengurangan emisi penyebab perubahan iklim
Dalam konteks perubahan iklim, mitigasi merupakan intervensi manusia dalam mengurangi sumber atau penambah gas rumah kaca (GRK)
United Nations Framework Convention on Climate Change
• Tanpa adanya aksi khusus dari pemerintah setempat, 6 emisi GRK utama yaitu karbon dioksida, metana, nitrogen dioksida, sulfur heksaflorida, PFCs dan HFCs akan meningkat dengan drastis. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan emisi gas-gas tersebut sebanyak 70 persen, antara tahun 1970 dan 2004.
• Dengan menerapkan kebijakan ketat mengenai perubahan iklim, pemerintah dapat memperlambat dan menurunkan tren emisi dari grk ini, dan juga menstabilkan tingkat kandungan dari grk ini di atmosfer. Sebagai contohnya,menstabilkan GRK pada 445-490 ppm dan merupakan target yang paling ambisius, untuk dapat mencapai target tersebut pada tahun 2015 tidak ada lagi peningkatan gas CO2 hal ini akan menurunkan 50-85 persen dari level tahun 2000 (2000 levels) pada tahun 2050. Hal ini dapat membatasi peningkatan temperatur rata-rata global pada 2-2.4 °C pre-industrial levels.
• Menstabilkan GRK pada level 535-590 ppm akan tercapai bila tidak ada lagi peningkatan emisi CO2 sepanjang tahun 2010-2030 dan akan memberikan pengaruh sebesar -30 persen hingga +5 persen dari level tahun 2000 (2000 levels) pada tahun 2050. Hal ini dapat membatasi peningkatan temperatur rata-rata global pada 2.8-3.2°C. Jika masih terjadi peningkatan gas CO2 setelah tahun 2030, pemanasan akan terus meningkat. Sebagai perbandingan pada tahun 2000, level GRK sekitar 379 ppm.
• Usaha dari mitigasi perubahan iklim akan dirasakan lebih dari 2 - 3 dekade mendatang. Mitigasi ini sangat menentukan dan berpengaruh secara luas terhadap peningkatan suhu rata-rata global dan dampak dari terjadinya perubahan iklim dapat dihindari. Sebaiknya peraturan perubahan iklim didesign sebagai bagian atau parsel pembangunan berkelanjutan dan IPCC akan menkonfirmasi bahwa pembangunan berkelanjutan dapat mengurangi emisi grk dan mengurangi pengaruh-pengaruh dari perubahan iklim.
Pengurangan emisi membutuhkan kerjasama dari seluruh sektor ekonomi
• Pada perubahan iklim, tidak ada satu pun solusi tunggal yang dapat mengatasinya. IPCC berkesimpulan bahwa tidak ada satupun solusi tunggal dari sektor ekonomi maupun teknologi yang feasible dan dapat mengurangi emisi grk dari sektor-sektor lainnya. Dan dalam waktu yang sama, secara jelas bahwa koordinasi di tingkat international sangat dibutuhkan untuk memanfaatkan semua fungsi dari clean teknologi dan efisiensi energi
• Energi, dibutuhkan investasi sebesar US$ 20 triliun untuk meningkatkan infrastruktur energi dunia dari sekarang hingga 2030 sehingga dapat memenuhi peningkatan kebutuhan akan energi yang akan meningkat sebesar 60 persen pada waktu yang bersamaan (International Energy Agency) dan biaya tambahan investasi untuk mengurangi emisi GRK diperkirakan akan bertambah sekitar 5-10 persen. Ketika supply dan demand energy ini terpenuhi, maka akan menentukan terkendalinya perubahan iklim atau tidak. Efforts dari mitigasi perubahan iklim akan dirasakan lebih dari 2 - 3 dekade mendatang. Mitigasi ini sangat menentukan dan berpengaruh secara luas terhadap peningkatan suhu rata-rata global dan dampak dari terjadinya perubahan iklim dapat dihindari.
o Menyebar-luaskan teknologi ramah iklim sangatlah mendesak. Dalam mitigasi perubahan iklim, kehadiran clean teknologi dibutuhkan untuk secara bertahap diterapkan dan disebar-luaskan oleh sektor-sektor swasta, termasuk kerjasama teknologi antara industri-industri dan negara-negara berkembang, serta pengembangan akan inovasi dan teknologi terbaru yang berkelanjutan sangatlah diperlukan.
o Teknologi yang semakin bersih dan efisiensi energi dapat memberikan win-win solution, dengan tetap membiarkan pertumbuhan ekonomi berjalan dan terus melakukan upaya mengatasi perubahan iklim. Dengan terus berlanjutnya dominasi bahan bakar fosil dalam energi global, efisiensi energi, bahan bakar fosil bersih dan teknologi penangkap dan penyimpan karbon sangatlah dibutuhkan dalam melanjutkan pertumbuhan ekonomi tanpa mempengaruhi dalam upaya mengatasi merubahan iklim.
o Energi terbarukan dapat sangat membantu. Berdasarkan unep dan new energy finance, investasi dalan bidang energi ini terus mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir, khususnya investasi pada angin, solar, dan biofuel. Hal ini memperlihatkan adanya kedewasaan teknologi, insentifitas kebijakan dan keinginan investor itu sendiri. Dalam hal ini investor menganggap bahwa adanya ketersediaan energi untuk ditingkatkan skalanya dan kenyataan bahwa energi terbarukan dapat menjadi suatu bagian yang lebih besar dalam campuran energi global tanpa menunggu perkembangan teknologi lebih lanjut.
o Untuk dapat memenuhi tantangan dari mitigasi ini di seluruh dunia, peningkatan skala sangat perlu untuk dipromosikan dan selanjutnya difusi teknologi perlu mendapatkan bantuan, termasuk didalamnya mempererat kerjasama antara pihak industri dengan negara-negara berkembang. Untuk merealisasikan hal ini pemerintah harus berkonsentrasi dan memberikan support berupa kemudahan pasar, bersih dan predictable playing field bagi sektor swasta.
o Pemerintah harus mempromosikan jenis-jenis pilihan energi - dalam hal ini mendorong penggunaan teknologi dengan bahanbakar gas alam lebih dari penggunaan bahan bakar fosil sama halnya dengan penggunaan teknologi berbasis energi terbarukan, seperti penggunaan pembangkit air (large-hydro), pembakaran biomassa, dan geothermal. Sumber terbarukan lainnya seperti penggunaan solar pada pendingin udara, penggunaan energi gelombang dan nanotechnology pada solar sel, meskipun semuanya masih memerlukan pengembangan teknologi dan pemasaran lebih lanjut. Pilihan lainnya adalah penggunaan teknologi penangkap dan penyimpan karbon, teknologi ini ikut terlibat dalam penangkapan CO2 sebelum dilepaskan ke atmosfer, memindahkannya ke tempat yang lebih aman dan mengisolasinya dari atmosfer, contohnya adalah mennyimpannya dalam lampisan formasi batuan.
• Gedung-gedung, diperkirakan sekitar 30 persen dari emisi yang diproyeksikan berasal dari sektor perumahan dan perdagangan, dan merupakan ratio tertinggi dari seluruh sektor berdasarkan studi yang dilakukan ipcc. Dengan melakukan net economic benefit, pada tahun 2030 emisi dari sektor ini dapat dikurangi. Konsumsi energi dan penambahan energi terpasang pada geung-gedung dapat dikurangi dari sebagian besar teknologi yang ada, seperti penggunaan alat-alat dengan rancang solar pasif, alat-alat dan penerangan dengan efisiensi tinggi, sistem pendingin dan ventilasi dengan efisiensi tinggi, pemanas air tenaga matahari, insulasi, material bangungan dengan reflektifitas tinggi dan pemasangan kaca multilapis. Kebijakan pemerintahan pada penetapan peralatan standar dan pembangunan kode energi dapat memberikan rangsangan dan informasi pada aktifitas perdagangan di areanya.
• Transportasi, dengan teknologi, emisi dari injeksi langsung dari turbocharge diesel dapat dikurangi dan meningkatkan baterai pada kendaraan, untuk meningkatkan pengereman regeneratif dan meningkatkan efisiensi pada sistem penggerak kereta, dan untuk menyeimbangkan bodi sayap dan unducted turbofan pada sistem pendorong pesawat. Biofuel juga mempunyai potensi untuk wmenggantikan sebagian besar proporsi dari minyak bumi pada alat transportasi. Menyediakan sistem transportas publik dan mempromosikan transportasi tak bermotor juga dapat mengurangi emisi. Strategi manajemen untuk mengurangi kemacetan jalan raya dan polusi udara juga sangat efektif dalam mengurangi perjalanan dengan menggunakan kendaraan sendiri.
• Industri, potensi terbesar untuk mengurangi emisi industri ada pada industri baja, semen, pulp dan kertas, dan kontrol pada gas-gas non-CO2 seperti HFC-23 dari pembentukan HCFC-22, pfcs dari proses peleburan alumunium dan semikonduktor, sulfur heksaklorida dari penggunaan switchgear listrik dan proses pembentukan magnesium, dan metana dan nitrogen oksida dari industri kimia dan makanan.
• Pertanian, penyitaan Karbon di dalam tanah mempunyai nilai potensi mitigasi sebesar 89 persen di bidang pertanian. Sisanya adalah peningkatan manajemen daerah pertanian dan peternakan (misalnya meningkatkan praktek agronomis, penggunaan nutrisi, waktu tanam dan manajemen sisa pertanian), mengembalikan kondisi tanah organik yang digunakan sebagai lahan produksi dan mengembalikan kondisi tanah yang rusak menjadi lahan yang produktif, peningkatkan manajemen pengairan dan persawahan, walaupun nilainya rendah tapi merupakan pengurangan karbon yang signifikan, perubahan tata guna lahan (misalnya mengganti daerah pertanian menjadi daerah padang rumput) dan agro-forestry, serta meningkatkan peternakan dan manajemen pemupukan.
• Kehutanan, saat ini hal yang menarik dari sektor ini adalah tingginya tingkat deforestasi. Dengan melakukan penanaman hutan baru, pengurangan GRK secara pasti dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah. sekitar 65 persen dari total mitigasi tertuju pada hutan-hutan tropis dan 50 persen dapat dilakukan dengan menghindari deforestasi. Dalam Jangka waktu yang lama, cara terbaik untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan hutan dalam mengikat karbon yaitu dengan menerapkan manajemen hutan yang berkelanjutan, yang juga dapat memberikan keuntungan sosial dan lingkungan. Pendekatan yang komprehensif pada manajemen kehutanan dapat menjamin hasil hutan tahunan, serat atau energi yang sesuai dengan isu perubahan iklim, mempertahankan biodiversity dan memajukan pembangunan yang berkelanjutan.
• Sampah, pembuangan sampah memberikan sekitar 5 persen dari total emisi GRK. Dengan Teknologi, pengurangan emsisi secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan gas yang dihasilkan dari pembuangan sampah, dan juga meningkatkan penerapan dan perencanaan manajemen air sampah pada tempat pembuangan akhir. Melakukan pengontrolan terhadap sampah-sampah organic, teknologi insenerasi dan memperluas daerah sanitasi dapat menghindari terbentuknya gas-gas ini di lokasi pertama. Dengan melakukan hal ini diperkirakan 20-30 persen proyeksi emisi dari sampah pada tahun 2030 dapat dikurangi dengan biaya yang negatif dan 30-50 persennya dengan biaya yang rendah.
Politik dan Ekonomi dalam Mengurangi Emisi
Kebijakan-kebijakan yang secara nyata atau implicit menyediakan nilai terhadap karbon, dapat merangsang bagi produser maupun konsumer berinventasi secara signifikan dalam produk-produk, teknologi dan proses-proses dengan GRK rendah.
"Climate Change 2007," Intergovernmental Panel on Climate Change
Politik
• Pemerintah, otoritas negara mempunyai peran utama dalam memotivasi sektor swasta untuk berinvestasi dalam mengembangkan inovasi teknologi dengan menyediakan perusahaan-perusahaan tersebut rangsangan yang jelas, dapat diramalkan, jangka panjang dan sehat.
• Kebijakan-kebijakan yang dapat meledak (backfire), kebijakan pemerintah dapat juga menjadi kontra produktif. Pemberian subsidi secara langsung dan tidak langsung pada penggunaan bahan bakar fosil dan pertanian menjadi hal yang terus berlangsung, meskipun penggunaan bahan bakar batubara mengalami penurunan lebih dari beberapa dekade oleh negara-negara industri.
• Kebijakan dengan cakupan yang luas, kesuksesan pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang mempunyai cakupan luas dalam isu perubahan iklim dilihat dari standarisasi dan regulasi, pajak dan denda, ijin perdagangan, perjanjian hibah, subsidi, rangsangan pendanaan, penelitian dan pengembangan program serta instrumen informasi. Kebijakan yang sangat efektif akan berbeda-beda di tiap negaranya.
• Kebijakan-kebijakan untuk memandu investasi, kebijakan-kebijakan pemerintah dan keputusan investasi di sektor swasta sangatlah diperlukan untuk mendapatkan nilai sebesar US$20 triliun yang harus di investasikan dalam pembangunan infrastruktur energi dari sekarang hingga tahun 2030, sehingga dapat berpengaruh pada emisi GRK.
• Menghilangkan pembatas dalam berinovasi, untuk menjadikan kebijakan-kebijakan tersebut menjadi efektif, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus dalam mengidentifikasi dan menghilangkan batasan dalam berinovasi. Hal ini dapat berupa harga pasar yang tidak sesuai seperti tingkat polusi, rangsangan yang salah sasaran, keuntungan pihak-pihak tertentu, ketidak efektifan pada agen-agen regulator dan tidak benarnya informasi.
• Pendekatan Holistic, karena tidak ada satu pun sektor ataupun teknologi yang dapat memenuhi seluruh tantangan mitigasi perubahan ikli, pendekatan yang terbaik adalah memakai portofolio kebijakan yang beragam untuk seluruh sektor.
Ekonomi
• Ahli ekonomi menggunakan model untuk mengestimasi pengaruh usaha pengurangan emsisi terhadap ekonomi. Model ekonomi menggunakan banyak asumsi-asumsi, yang sangat berpengaruh pada hasil perhitungan model mengenai biaya untuk menstabilkan level dari GRK. Asumsi yang menjadi kunci mengikutkan ratio pengurangan; dasar-dasar emisi yang berhubungan dengan perubahan teknologi dan penghasil emisi; stabilisasi target dan level; dan tersedianya portofolio teknologi yang tersedia.
• Berdasarkan studi yang dilakukan terdapat indikasi bahwa ekonomi memberikan pengaruh besar terhadap mitigasi emisi GRK pada beberapa dekade mendatang.
• Model ekonomi memberikan estimasi biaya yang rendah ketika menggunakan dasar dengan peningkatan emisi secara perlahan dan mekanisme yang fleksibel dari protokol kyoto secara penuh telah diterapkan. Selain itu, jika adanya penambahan pendapatan dari pajak emisi atau skema emisi, biaya akan menjadi lebih rendah. Dan jika penambahan pendapatan tersebut digunakan untuk mendorong teknologi berkarbon rendah dan menghilangkan batasan mitigasi, biaya tersebut akan semakin rendah lagi. Beberapa model bahkan memberikan GDP positif karena diasumsikan bahwa ekonomi tidak berfungsi optimal dan kebijakan-kebijakan mengenai perubahan iklim dapat membantu mengurangi ketidak sempurnaan ekonomi.
• Banyak model-model ekonomi memberikan hasil bahwa biaya untuk mengurangi emisi mengisyaratkan adanya pengurangan GDP ("GDP loss"). Sebagai contoh, pada tahun 2030 biaya rata-rata makro ekonomi global untuk menjamin GRK berada pada level 445-710 ppm berada pada kisaran 3 persenhingga mendekati 0.6 persen GDP. Hal ini berarti adanya pengurangan pada ratio pertumbuhan GDP tahunan kurang dari 0.12 persen hingga kurang dari 0.06 persen. Pengurangan yang kecil ini seharusnya dibandingkan dengan proyeksi bahwa ekonomi global akan mengalami pertumbuhan yang pesat pada beberapa dekade mendatang.
• Ahli-ahli ekonomi menggunakan analisis cost-benefit untuk mebandingkan biaya tindakan (action) dengan biaya tanpa tindakan (inaction) (yaitu, kerusakan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim). Mereka mengkuantifikasi kerusakan oleh perubahan iklim sebagai biaya sosial dari karbon dan potongannya hingga akhir. Biaya sosial tersebut merupakan biaya-biaya yang tidak dikenali dalam ekonomi, misalnya biaya karena peningkatan kekeringan, badai dan banjir yang tidak termasuk ke dalam harga yang harus dibayarkan untuk membakar bahan bakar fosil tetapi mereka memasukkannya ke dalam biaya sosial. Akan tetapi, selama adanya ketidak pastian yang besar dalam mengkuatifikasi kerusakan non-market, sulit untuk dapat mengestimasi biaya sosial dari karbon dengan tingkat kepercayaan tertentu. Sebagai hasilnya, estimasi dalam bentuk literatur merupakan keputusan tepat dan mudah untuk dimengerti.
• Dengan membandingkan estimasi biaya sosial karbon dengan harga karbon pada level mitigasi yang berbeda memperlihatkan bahwa biaya sosial karbon paling tidak sebanding atau bahkan lebih tinggi dari harga karbon bahkan untuk skenario paling keras yang dikeluarkan oleh IPCC. Dengan kata lain, biaya dalam menstabilkan konsentrasi GRK cenderung sebanding atau bahkan lebih rendah dari biaya tanpa tindakan (inaction).
• Perlu diingat bahwa kebijakan mengenai iklim dapat membawa bermacam-macam keuntungan bagi banyak pihak yang mungkin tidakmtermasuk ke dalam estimasi biaya. Hal ini seperti inovasi teknologi, pembaharuan pajak, penambahan pekerja, peningkatan keamanan energi dan keuntungan dari kesehatan karena adanya pengurangan polusi. Sebagai hasilnya, Kebijakan iklim menawarkan co-benefit yang besar, sehingga dapat menawarkan kebijakan pengurangan emisi GRK tanpa adanya penyesalan, dengan pertambahan keuntungan yang besar walaupun bila pengaruh manusia terhadap perubahan iklim berubah menjadi lebih kecil dari hasil proyeksi.
Adaptation is an adjustment in natural or human systems in response to actual or expected climatic stimuli or their effects, which moderates harm or exploits beneficial opportunities. Intergovernmental Panel on Climate Change
Manusia telah terlibat dalam kondisi perubahan iklim selama ratusan tahun ini, Perubahan iklim yang terjadi pada Bumi ini merupakan kejadian dengan tingkat perubahan yang lebih cepat dibandingkan kejadian-kejadian lainnya selama 10.000 tahun terakhir.
Dampak dari perubahan iklim telah dirasakan oleh negara-negara, komunitas dan ekosistem dengan ketahanan yang rendah, Resiko yang terkait dengan perubahan iklim adalah nyata dan telah terjadi di beberapa sistem dan sektor penting yang berhubungan kelangsungan hidup manusia, termasuk sumber daya air, ketahanan pangan dan kesehatan. Negara-negara berkembang mempunyai tingkat resiko yang tinggi terkena dampak perubahan iklim ini. Pada komunitas dengan ketahanan paling rendah, pengaruh perubahan iklim langsung berhadapan dengan kelangsungan hidup manusia. Dampak kehancuran, kenaikan temperatur dan kenaikan muka air laut akan memperparah dan berdampak pada siapapun, khususnya kemisikinan.
Mengatasi ketidakpastian masa depan, adaptasi merupakan proses dalam suatu lingkungan sosial yang membuat diri mereka sendiri dapat mengatasi ketidakpastian masa depan. Pilihan dalam adaptasi ini sangat banyak dari teknologi seperti pertahanan terhadap kenaikan muka air tanah atau rumah anti banjir, tingkat perilaku dari setiap individu seperti menghemat air ketika terjadi kekeringan. Strategi adaptasi lainnya termasuk sistem peringatan dini untuk peristiwa luar biasa, meningkatkan manajemen resiko, opsi-opsi asuransi dan konservasi keanekaragaman hayati untuk mengurangi pengaruh dari perubahan iklim pada manusia.
Negara-negara yang berkontribusi dalam perubahan iklim hasrus membangun suatu strategi untuk mengatasi dampak dari perubahan iklim tersebut, sekarang dan untuk beberapa tahun mendatang. Karena itu, seluruh negara berkembang harus memberikan aksi yang kongkrit, cepat dan prioritas yang tinggi. Komuniatas internasional mengidentifikasisumber daya, sarana dan prasarana, dan pendekatan dalam membantu upaya ini.
Pembangunan yang berkelanjutan adalah hal yang vital, berdasarkan IPCC, ketahanan di masa depan tidak tergantung hanya pada perubahan iklim saja tapi juga pada kemampuan mengejar pembangunan. Dengan pembangunan yang berkelanjutan, ketahanan dapat ditingkatkan dan untuk menjadikannya berhasil adaptasi seharusnya diterapkan dalam konteks perencanaan pembangunan berkelanjutan secara nasional dan internasional.
Perlunya Tindakan Dini
Dengan adanya tindakan sedini mungkin, peningkatan peramalan iklim musiman, ketahanan pangan, suplai air bersih, respon darurat dan bencana, sistem peringatan dini kelaparan dan cakupan dari asuransi dapat mengurangi kehancuran dari perubahan iklim di masa yang akan datang dan juga menghasilkan banyak keuntungan berguna.
Kemampuan beradaptasi, Meskipun adaptasi terhadap perubahan iklim sangat penting bagi seluruh negara, hal ini menjadi sangat penting bagi negara-negara berkembang yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor dengan pengaruh iklim yang tinggi, seperti pertanian, dan sangat sulit beradapatasi dibandingkan dengan negara-negara industri.
Menghindari kerugian ekonomi, tanpa upaya yang sesuaim peningkatan temperatur sebesar 2.5°C akan berpengaruh pada penurunan GDP sebesar 0.5-2 persen, dan kerugian yang lebih besar akan dirasakan pada negara-negara berkembang. Seperti contohnya, Sierra Leone memperkirakan proteksi penuh pada daerah pesisir pantai akan membutuhkan dana sekitar US$1.100 juta, dan merupakan 17 persen dari GDPnya. Dengan membuat proyek pembangunan lebih tahan pada pengaruh perubahan iklim diperlukan peningkatan biaya sekitar 5-20 persen di seluruh bagian.
Pembatasan bantuan dalam perencanaan selama ini, estimasi memperlihatkan bahwa hanya sebagian kecil dari bantuan pendanaan proyek pembangunan yang tidak memasukkan resiko iklim dalam perencanaannya.
Penundaan berarti resiko yang lebih besar, penundaan dalam menerapkan adaptasi, termasuk penundaan dalam bantuan dan dana dalam adaptasi di negara-negara berkembang, secara langsung meningkatkan biaya dan bahaya yang lebih besar pada manusia di masa depan. Banyak peristiwa seperti kekeringan, keanehan monsun atau kerugian dari mecairnya lapisan es, dapat membuat ketahanan populasi bergeser dalam skala yang besar dan terjadinya konflik yang besar dalam berkompetisi mendapatkan kelangkaan sumber daya seperti air, makanan dan energi.
Pentingnya strategi penyesuaian, Adaptasi, pada tingkatan nasional adalah adanya inisiasi dalam menerapkan strategi adaptasi secara efektif, termasuk peningkatan berbasis scientific dalam pengambilan keputusan, sarana dan metode dalam pelaksanaan adaptasi, pendidikan, training dan kedaran publik (termasuk anak-anak) terhadap adaptasi ini, pengembangan kemampuan individu maupun institusi, pengembangan dan transfer teknologi, dan dorongan pada strategi penangana untuk skala lokal. Selain itu, dimungkinkannya inisiasi dalam adaptasi yang memasukkan kerangka undang-undang dan regulator kedalam tindakan-tindakan sehingga dapat mudah untuk diterapkan. Dengan menggunakan perubahan iklim sebagai penggerak dalam suatu kegiatan dengan keuntungan yang berlipat dapat menjadi katalisator dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan dan tentunya memberikan kontribusi terhadap objektivitas dari adaptasi ini.
Sumber daya dalam adaptasi
Pendanaan yang berkelanjutan dalam adaotasi, tanpa adanya target pendanaan, adaptasi akan menjadi tidak efektif dalam mencapai sasaran dan pendanaan juga akan menjadi lebih besar, seperti adanya bantuan darurat yang mungkin tidak termasuk dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan dan juga sangat memakan biaya. Pemerintahan yang merupakan anggota UNFCCC telah membuat kesempatan pendanaan melalui Global Environment Facility Trust Fund dan tiga pendanaan khusus yaitu the Least Developed Countries Fund, the Special Climate Change Fund and the Adaptation Fund dalam naungan Protokol Kyoto.
Contoh-contoh dalam pendanaan
Adaptasi memasukkan drainase parsial dari danau glasial Tsho Rolpa di Nepal, yang merubah strategi kehidupan dengan adanya pencairan permafrost oleh Inuit di Nunavut, Canada, dan meningkatkan penggunaan alat pembuat salju pada industri ski di Europe, Australia dan America utara.
Dalam mengantisipasi perubahan iklim di masa yang akan datang, para penyusun rencana telah mempertimbangkan kenaikan muka air laut dalam desain infrastruktur seperti Confederation Bridge di Canada di Manajemen zona Coastal di USA dan Netherlands.
Pergeseran glasial dan banjirnya danau glasial menjadi masalah utama yang berkaitan dengan perubahan iklim di Bhutan, GEF project yang diterapkan oleh UNDP adalah meningkatakan kemampuan penyesuaian di lembah Punakha-Wangdi dan Chamkar dengan memperkuat kemampuan manajemen bencana, artifisial penurunan air di danau Thortormi, dan pemasangan sistem peringatan dini.
Di Colombia, Proyek Adaptasi National yang terintegrasi mendorong dilakukannya langkah-langkah adaptasi di Las Hermosas Massif di tengah pegunungan Andes, termasuk mengatur manajemen pengairan untuk pembangkit tenaga air dan memberikan servis perbaikan lingkungan pada ekosistem pegunungan.
Kiribati merupakan salah satu negara dengan ketahanan yang paling lemah, dengan 33 atol yang tersebar di pasifik tengah dan utara. Program Adaptasi memberikan kepada komunitas dengan ketahanan yang rendah berupa informasi dan kemampuan penyesuaian yang berguna, termasuk peningkatan manajemen, konservasi, perbaikan berkelanjutan terhadap keanekaragaman hayati, meningkatkan proteksi dan manajemen hutan bakau dan terumbu karang, menguatkan kemampuan pemerintah dalam perencanaan ekonomi terhadap adaptasi yang terintegrasi.
DI Mozambique, GEF project mengintegrasikan iklim dengan penerapan manajemen lahan yang berkelanjutan untuk mengurangi dampakj dari peristiwa cuaca yang ekstrim pada populasi dan ekosistem.
UNDP dan World Bank mengeluarkan GEF projects untuk memberikan bantuan pada komunitas Afrika dalam menaksir resiko pada kekeringan, banjir di semenanjung dan resiko kesehatan.
Konvensi PBB mengenai Perubahan dan Protokol Kyoto
"I firmly believe that today all countries recognize that climate change, in particular, requires a long-term global response, in line with the latest scientific findings, and compatible with economic and social development."
United Nations Secretary-General Ban Ki-moon
Upaya Internasional mengenai perubahan iklim terbentuknya United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Protokol Kyoto. Kedua perjanjian ini merupakan wakil tanggung jawab internasional dalam mengumpulkan bukti, memenuhi dan mengkonfirmasi ulang kepada Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahwa adanya perubahan iklim dan semakin membesar ketika adanya aktifitas manusia.
Pada konvensi 9 Mei 1992 banyak negara setuju mengenai isu perubahan iklim dan dimasukkan ke dalam bahasan pada 21 Maret 1994. Ketika mereka memasukkan isu perubahan iklim ke dalam Konvensi, negara-negara di dunia sadar bahwa tidak cukup hanya dituangkan ke dalam suatu ketetapan saja. Pada konferensi pertama yang dilaksanakan di Berlin, Jerman pada awal tahun 1995, babak baru pembahasan telah dituangkan ke dalam suatu diskusi serius dengan komitmen yang lebih detail.
Setelah 2-3 tahun negosiasi yang intensif, kelanjutan dari konvensi dilaksanakan di Kyoto, Jepang pada Desember 1997. Terbentuklah Protokol Kyoto yang secara syah mensetujui target pengurangan emisi CO2 sebesar 55 persen dari tahun 1990 oelh negara-negara industri, dengan membuat suatu mekanisme yang membantu negara-negara tersebut mencapai target. Protokol Kyoto menjadi lebih kuat pada 18 November 2004 setelah 55 anggota meratifikasi emisinya termasuk negara-negara industri.
Komitmen di bawah UNFCCC
Kerangka kerja umum - UNFCCC membuat kerangka kerja keseluruhan dalam upaya memenuhi tantangan perubahan iklim. Pada dasarnya target dari Konvensi adalah menstabilkan konsentrasi GRK pada level yang dapat menghindari kerusakan pada sistem iklim. Konvensi mempunyai anggota mendekati jumlah negara di dunia pada Juni 2007, yaitu 191 negara yang meratifikasi emisinya. Negara-negara ini kemudian menjadi anggota dari Konvensi.
Pelaporan Emisi - Seluruh anggota dari Konvensi setuju berkomitmen pada point-point perihal perubahan iklim. Seluruh anggota harus membuat dan secara periode memberikan laporan khusus yang disebut dengan "national communication" (NC). NC ini harus berisi informasi emisi GRK masing-masing dan menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menerapkan komitmen dari Konvensi.
Program Nasional - Konvensi mengharuskan seluruh anggotanya menerapkan program secara nasional dan langkah-langkah dalam menkontrol emisi GRK dan mengatasi pengaruh dari perubahan iklim. Anggota juga harus setuju untuk mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi ramah-iklim, mendorong pendidikan dan kesadaran publik pada perubahan iklim serta dampaknya, manajemen berkelanjutan pada sektor kehutanan dan ekositemnya yang dapat menyerap CO2 di Atmosfer, dan bekerjasama antara seluruh anggotan dalam masalah ini.
Komitmen negara-negara industri - Negara - negara industri, yang disebut sebagai anggota Annex I mempunyai komitmen-komitmen tambahan. Seluruh anggotanya setuju untuk membuat kebijakan dan langkah-langkah untuk mencapai tujuan mengembalikan emisi GRK mereka ke kondisi pada tahun 1990 pada tahun 2000. Anggota Annex I juga harus memberikan NC secara berkala dan memberikan laporan tahunan terpisah mengenai emisi GRK mereka.
Penggunaan teknologi bersama - Negara-negara maju (disebut sebagai Annex II) juga harus mendorong dan menfasilitasi transfer teknologi yang ramah iklim kepada negara-negara berkembang dan negara yang mengalami transisi ekonomi. Mereka juga harus memberikan pendanaan untuk membantu negara-negara berkembang menerapkan komitmen mereka melalu Global Environment Facility yang melayani mekanisme pendanaan dan kerjasama biateral maupun multilateral.
Komitmen di bawah Protokol Kyoto
Menstabilkan Gas Rumah Kaca - Pada tahun 1997 Protokol Kyoto memberikan objektif dari Konvensi adalah menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer pada level aman, yaitu level dimana tidak akan mempengaruhi sistem iklim. Dalam mengejar tujuan ini, Protokkol Kyoto membuat dan memastikan banyak komitmen yang telah tercantum di bawah Konvensi. Hanya anggota dari Konvensi yang hanya bisa menjadi anggota dari Protokol Kyoto.
Menentukan target baru negara-negara maju - Meskipun seluruh anggota setuju untuk menerapkan komitmen yang telah ada di bawah Konvensi, hanya anggota dari Annex I yang mempunyai target baru di bawah Protokol, Secara spesifik, hanya anggota dari Annex I yang terikat dalam target emisi dalam kerangka waktu 2008-2012.
Sarana baru untuk mengurangi emisi - Untuk membantu negara-negara industri mencapai targetnya dan mendorong pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang, Protokol Kyoto mengadopsi 3 mekanisme inovasi, yaitu Clean Development Mechanism, Jaint Implementation, dan Perdangan Emisi.
Pemenuhan Pemantauan (Monitoring Compliance) - Untuk membantu dalam menerapkan mekanisme dan mendorong pemenuhan target emisi oleh anggota Annex I. Protokol Kyoto menguatkan prosedur dan review Konvensi, dan membuat suatu sistem database elektronik (disebut National Registry) untuk memonitor transaksi di bawah mekanisme Kyoto. Dan juga membangun komite compliance yang mempunyai otoritas dalam menentukan dan menerapkan konsekuensi badi non-compliance.
Mekanisme dalam Mengurangi Emisi
The international carbon market which has emerged as a result of the Kyoto Protocol allows for cost-effective emission reductions for industrialized countries, thereby lowering the cost of compliance, while greening economic growth and generating funding for adaptation for developing countries.
Yvo de Boer, Executive Secretary United Nations Framework Convention on Climate Change
• Harga Karbon, harga karbon merupakan biaya untuk emisi GRK yang diberikan kepada perusahaan perseorangan maupun rumah tangga untuk mengurangi emisi dan merangsang penelitian serta pengembangan teknologi rendah karbon.
• Membalut emisi, Hal utama dalam Protokol Kyoto adalah adanya syarat bahwa seluruh negara setuju dan berkomitmen untuk mengurangi emisi dan terikat dalam suatu hukum international (dengan kata lain dibalut). Pemakaian, atau pembebanan dari balutan ini membuat adanya komoditas yaitu unit emisi, yang dapat diperdagangkan. Kemampuan perdagangan unit emisi ini memberikan negara atau perusahaan beberapa fleksibitas dalam memenuhi target kebutuhan akan pengurangan emisi, sehingga mengurangi biaya ekonomi dan menyediakan pasar yang berbasis pada memberikan rangsangan dalam mengurangi emisi.
• Fleksibilitas Mekanisme, pada prinsipnya pengurangan emisi memberikan keuntungan yang sama antara lokasi yang satu dengan lokasi yang lain. Dalam Protokol Kyoto terdapat 3 Fleksibilitas mekanisme, yaitu perdagangan emisi, Clean Development Mechanism (CDM), dan Kerjasama penerapan. Mekanisme-mekanisme ini dirancang untuk merangsang investasi pada negara-negara non-industri atau negara yang mengalami transisi ekonomi dan bermaksud untuk emngurangi emisi dengan cara ekonomi yang efektif.
Perdagangan Emisi
• Komoditas emisi, negara-negara yang berkomitmen kuat untuk mengurangi emisi dibawah Protokol Kyoto dapat mendapatkan unit emisi dari negara lain dengan komitmen yang sama dan menggunakannya untuk mencapai target emisi masing-masing negara. Hal ini memperbolehkan seluruh negara menggunakan kesempatan untuk mengurangi emisi dengan biaya yang rendah. Komponen yang paling penting dalam perdagangan emisi di bawah Protokol Kyoto adalah catatan transaksi internasional, software untuk memastikan keamanan transfer pengurangan unit emisi antara tiap negara. Catatan traksaksi masih dalam percobaan dan diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2008 yang merupakan periode pertama komitmen.
• Membuat pasar baru, Protokol Kyoto telah menyediakan dorongan untuk membuat skema European Union Emissions Trading, yang merupakan pasar karbon terbesar di dunia. Terdapat juga pasar karbon lainnya, di luar Protokol, termasuk pasar regional mencakup produsen listrik di 7 negara bagian timur Amerika. Pasar lainnya didirikan di bagian barat Amerika dan Australia juga mempertimbangkan penerapan sistem cap-and-trade. Lainnya masih dalam tingkat diskusi. Beberapa orang meramalkan adanya keterkaitan antara bermacam-macamnya pasar karbon cap-and-trade dalam mendapatkan efisiensi dan biaya penyimpanan.
Clean Development Mechanism (CDM)
• Merangsang pembangunan berkelanjutan, CDM memberikan rangsangan pada pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi, dengan memberikan negara-negara industri fleksibilitas dalam mencapai target reduksi emisinya.
• Pengurangan emisi di negara-negara berkembang, mekanisme ini memberikan projek pengurangan emisi di negara-negara berkembang untuk mendapatkan sertifikat unit pengurangan emisi yang mempunyai ekivalen dengan 1 ton CO2. Selanjutnya partisipan tersebut dapat menjualnya kepada pembeli dari negar-negara industri. Ragam projek ini dari ladang angin (wind farms) hingga pembangkit listrik tenaga air dan juga termasuk proyek efisiensi energi. Proyek ini harus mempunyai kualifikasi dalam perancangan proses registrasi yang ketat untuk memastikan kebenaran, tingkat pengurangan emisi yang dapat terjadi bila tanpa adanya proyek ini.
• Program Pertumbuhan, skema kredit dan investasi pertama di dunia dalam bidang ini, diawasi oleh pejabat eksekutif, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada negara-negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto. Sekitar 645 proyek (pada 2 mei 2007) telah didaftarkan oleh lebih dari 44 negara, meliputi banyak sektor, dari energi terbarukan hingga pertanian dan industri kosmetik. proyek-proyek ini diharapkan dapat mengumpulkan 810 juta CERs pada akhir periode komitmen pertama pada tahun 2012. ketika proyek dibidang pipeline disetujui, angka CERs yang diharapkan dapat mencapai 1.9 miliar.
Joint Implementation
• Pembangunan dengan offsetting emisi, mekanisme penerapan bersama, negara dengan komitmen penguranga emisi di bawah Protokol Kyoto dan di libatkan dalam proyek pengurangan emisi di negara lainnya den
