Sinonim: Splenic fever, Charbon, Milztbrand, Radang Limpa, Wool Sorter’s disease
A.
PENDAHULUAN
Anthraks adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh Bacillus
anthracis, biasanya bersifat akut atau perakut pada berbagai jenis ternak
(pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya). Ditandai dengan demam tinggi yang
disertai dengan perubahan jaringan bersifat septisemia, infi ltrasi
serohemoragi pada jaringan subkutan dan subserosa, serta pembengkakan akut
limpa. Berbagai jenis hewan liar (rusa, kelinci, babi hutan dan sebagainya)
dapat pula terserang. Di Indonesia Anthraks menyebabkan banyak kematian pada
ternak, kehilangan tenaga kerja di sawah dan tenaga tarik, serta kehilangan
daging dan kulit karena ternak tidak boleh dipotong. Kerugian ditaksir sebesar
dua milyar rupiah per tahun.
B.
ETIOLOGI
Penyebab anthraks
adalah Bacillus anthracis. B.anthracis berbentuk batang lurus, dengan ujung
siku, membentuk rantai panjang dalam biakan. Dalam jaringan tubuh tidak pernah
terlihat rantai panjang, biasanya tersusun secara tunggal atau dalam rantai
pendek dari 2-6 organisme, berselubung (berkapsul), kadang-kadang satu selubung
melingkupi beberapa organisme. Selubung tersebut tampak jelas batasnya dan
dengan pewarnaan gram tidak berwarna atau berwarna lebih pucat dari tubuhnya.
Bakteri anthraks bersifat aerob, membentuk spora yang letaknya sentral bila
cukup oksigen. Tidak cukupnya oksigen di dalam tubuh penderita atau di dalam
bangkai yang tidak dibuka (diseksi), baik dalam darah maupun dalam jeroan, maka
spora tidak pernah dijumpai. Bakteri bersifat Gram-positif, dan mudah diwarnai
dengan zat-zat warna biasa.
Pada media agar,
bakteri anthraks membentuk koloni yang suram, tepinya tidak teratur, pada
pembesaran lemah menyerupai jalinan rambut bergelombang, yang sering kali
disebut caput medusa. Pada media cair mula- mula terjadi pertumbuhan di
permukaan, yang kemudian turun ke dasar tabung sebagai jonjot kapas, cairannya
tetap jernih. Spora tahan terhadap kekeringan untuk jangka waktu yang lama,
bahkan dalam tanah dengan kondisi tertentu dapat tahan sampai berpuluh-puluh
tahun, lain halnya dengan bentuk vegetatif B.anthracis mudah mati oleh suhu
pasteurisasi, desinfektan atau oleh proses pembusukan. Pemusnahan spora
B.anthracis dapat dilakukan dengan : uap basah bersuhu 90°C selama 45 menit,
air mendidih atau uap basah bersuhu 100°C selama 10 menit, dan panas kering
pada suhu 120°C selama satu jam. Meskipun anthraks tersebar di seluruh dunia
namun pada umumnya penyakit ini terdapat pada beberapa wilayah saja. Biasanya
penyakit ini timbul secara enzootik pada saat tertentu saja sepanjang tahun.
C.
EPIDEMIOLOGI
1.
Spesies Rentan
Menurut penelitian,
kerentanan hewan terhadap antraks dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai
berikut: a. Hewan pemamah biak, terutama sapi dan domba, kemudian kuda, rusa,
kerbau dan pemamah biak liar lain, marmut dan mencit (mouse) sangat rentan. b.
Babi tidak begitu rentan. c. Anjing, kucing, tikus (rat) dan sebagian besar
bangsa burung, relatif tidak rentan tetapi dapat diinfeksi secara buatan. d.
Hewan berdarah dingin (jenis reptilia), sama sekali tidak rentan (not
affected).
2.
Pengaruh Lingkungan
Anthraks banyak
terdapat di daerah pertanian, daerah tertentu yang basah dan lembab, serta
daerah banjir. Di daerah-daerah tersebut anthraks timbul secara enzootik hampir
setiap tahun dengan derajat yang berbedabeda. Daerah yang terserang anthraks
biasanya memiliki tanah berkapur dan kaya akan bahan-bahan organik. Di daerah
iklim panas lalat pengisap darah antara lain jenis Tabanus sp. dapat bertindak
sebagai pemindah penyakit. Wabah anthraks pada umumnya ada hubungannya dengan
tanah netral atau berkapur yang alkalis yang menjadi daerah inkubator bakteri
tersebut. Di daerah-daerah tersebut spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif bila
keadaan lingkungan serasi bagi pertumbuhannya.
3.
Sifat Penyakit
Enzootik hampir setiap
tahun dengan derajat yang berbeda-beda di daerah-daerah tertentu. Derajat sakit
(morbidity rate) tiap 10.000 populasi hewan dalam ancaman, tiap propinsi dalam
tahun 1975 menunjukan derajat yang paling tinggi di Jambi (53 tiap 10.000) dan
terendah di Jawa Barat (1 tiap 10.000). Dari laporan itupun dapat diketahui
bahwa 5 (lima) daerah mempunyai derajat sakit lebih rendah dari 50 tiap 10.000
populasi dalam ancaman dan hanya Jambi yang mempunyai angka ekstrim.
4.
Cara penularan
Pada hakekatnya anthraks
adalah “penyakit tanah” yang berarti bahwa penyebabnya terdapat didalam tanah,
kemudian bersama makanan atau minuman masuk ke dalam tubuh hewan. Pada manusia
infeksi dapat terjadi lewat kulit, mulut atau pernafasan. Anthraks tidak lazim
ditularkan dari hewan yang satu kepada yang lain secara langsung. Bakteri
anthraks bergerombol di dalam jaringan hewan penderita, yang dikeluarkan
melalui sekresi dan ekskresi menjelang kematiannya. Bila penderita anthraks
mati kemudian diseksi atau termakan burung atau hewan pemakan bangkai, maka
spora dengan cepat akan terbentuk dan mencemari tanah sekitarnya. Bila terjadi
demikian maka menjadi sulit untuk memusnahkannya. Hal tersebut menjadi lebih
sulit lagi, bila spora tersebut tersebar oleh adanya angin, air, pengolahan
tanah, rumput makanan ternak dan sebagainya. Di daerah iklim panas lalat
pengisap darah antara lain jenis Tabanus
sp. dapat bertindak sebagai pemindah penyakit. Masa tunas anthraks berkisar
antar 1-3 hari, kadang-kadang ada yang sampai 14 hari.
Infeksi alami terjadi
melalui : a. Saluran pencernaan b. Saluran pernafasan dan c. Permukaan kulit
yang terluka. Infeksi melalui saluran pencernaan lazim ditemui pada hewanhewan
dengan tertelannya spora, meskipun demikian cara infeksi yang lain dapat saja
terjadi. Pada manusia, biasanya infeksi berasal dari hewan melalui permukaan
kulit yang terluka, terutama pada manusia yang banyak berhubungan dengan hewan.
Infeksi melalui pernafasan mungkin terjadi pada pekerja penyortir bulu domba
(wool-sorter’s disease), sedangkan infeksi melalui saluran pencernaan terjadi
pada manusia yang makan daging asal hewan penderita anthraks.
5.
Faktor Predisposisi
Anthraks merupakan
penyakit yang menyerang pada mamalia. Faktor predisposisi terjadinya anthraks
antara lain hewan dalam kondisi kedinginan, kekurangan makanan, dan juga
keletihan terutama pada hewanhewan yang mengandung spora yang bersifat laten.
6.
Distribusi Penyakit
Di Indonesia berita
tentang suatu penyakit yang sangat menyerupai anthraks pada kerbau di daerah
Teluk Betung dimuat dalam ”Javasche Courant” tahun 1884. Kemudian berita yang
lebih jelas tentang berjangkitnya anthraks di beberapa daerah di Indonesia di
beritakan oleh”Kolonial Verslag”
antara tahun 1885 dan 1886. Kemudian antara tahun 1899 dan 1900 sampai 1914,
tahun 1927 sampai 1928, tahun 1930 tercatat kejadian-kejadian anthraks di
berbagai tempat di Jawa dan di luar Jawa.
Insidensi kasus di
Indonesia menurut Bulletin Veteriner tahun 1975 di Jabar, Sultra, NTT dan NTB;
tahun 1996 di Jambi, Sultra, Sulsel, NTB, NTT dan Jabar; 1977 di NTB ;1981 di
DKI Jakarta, Jabar, NTT dan NTB; 1982 di NTB, Jatim dan Sulsel; 1983 di DKI
Jakarta, NTB, NTT dan Sulsel; 1986 di NTB, Jabar dan Sumbar, 1988 -1993 di
NTB;1991 di Jogya, Bali dan NTB dan 1992 -1994 di NTB.
Kasus anthraks di Jawa
Tengah tahun 1990 tercatat 97 kasus pada manusia di kabupaten Semarang dan
Boyolali, di Jawa Barat pada tahun 1975 -1974 tercatat 36 kasus di kabupaten
Karawang, 30 kasus di kabupaten Purwakarta, di kabupaten Bekasi 22 kasus pada
tahun 1983 dan 25 kasus pada tahun 1985.
Laporan kasus anthraks
pada Januari tahun 2000 yang diduga telah terjadi tiga bulan sebelumnya,
menyatakan kasus terjadi pada penduduk desa Ciparungsari kecamatan Cempaka,
kabupaten Purwakarta, Jabar yang menjarah burung unta. (Struthio Camelus) milik
P.T. Cisada Kema Suri yang dimusnahkan karena tertular penyakit anthraks.
Laporan kasus anthraks
terakhir terjadi pada tahun 2012 di Kab. Boyolali dan Kab. Sragen (Jawa
Tengah), Kab. Maros dan Kab. Takalar (Sulawesi Selatan), yang menyerang sapi
potong dan sapi perah milik peternak.
D.
PENGENALAN PENYAKIT
1.
Gejala Klinis
Dikenal beberapa bentuk
anthraks, yaitu bentuk perakut, akut dan kronis.
Anthraks bentuk perakut
gejala penyakitnya sangat mendadak dan segera terjadi kematian karena ada
perdarahan otak. Gejala tersebut berupa sesak nafas, gemetar kemudian hewan
rebah. Pada beberapa kasus menunjukkan gejala kejang pada sapi, domba dan
kambing, mungkin terjadi kematian tanpa menunjukkan gejala-gejala penyakit
sebelumnya.
Antraks bentuk akut
pada sapi, kuda dan domba. Gejala penyakitnya mula-mula demam, penderita
gelisah, depresi, susah bernafas, detak jantung frekuen dan lemah, kejang, dan
kemudian penderita segera mati. Selama sakit berlangsung, demamnya dapat
mencapai 41,5oC, ruminasi berhenti, produksi susu berkurang, pada
ternak yang sedang bunting mungkin terjadi keguguran. Dari lubang-lubang alami
mungkin terjadi ekskreta berdarah.
Gejala anthraks pada
kuda dapat berupa demam, kedinginan, kolik yang berat, tidak ada nafsu makan,
depresi hebat, otot-otot lemah, diare berdarah, bengkak di daerah leher, dada,
perut bagian bawah, dan di bagian kelamin luar. Kematian pada kuda biasanya
terjadi sehari atau lebih lama bila dibandingkan dengan anthraks pada
ruminansia.
Antraks bentuk kronis
biasanya terdapat pada babi, tetapi kadangkadang terdapat juga pada sapi, kuda
dan anjing dengan lesi lokal yang terbatas pada lidah dan tenggorokan. Pada
satu kelompok babi yang terinfeksi, beberapa babi diantaranya mungkin mati
karena antraks akut tanpa menunjukan gejala penyakit sebelumnya. Beberapa babi
yang lain menunjukan pembengkakan yang cepat pada tenggorokan, yang pada
beberapa kasus menyebabkan kematian karena lemas. Kebanyakan babi dalam
kelompok itu mati karena anthraks kronis. Sedangkan babi dengan infeksi ringan,
berangsur-angsur akan sembuh. Bila babi tersebut disembelih, pada kelenjar
limfe servikal dan tonsil terdapat bakteri anthraks.
Pada kuda anthraks
menyebabkan kolik, mungkin karena torsi intestinal atau invaginasi, dengan
tidak disertai akumulasi feses dan gas. Sering juga disertai busung di daerah
leher, dada, bahu, dan faring. Busung tersebut berbeda dengan pembengkakan yang
disebabkan oleh purpura hemoragika, karena pembengkakannya cepat, ada rasa
nyeri, ada demam tinggi dan perbedaan lokalisasinya. Gejala gelisah jarang
terjadi tetapi selalu mengalami sesak nafas dan kebiruan. Penyakit tersebut
biasanya berakhir 8-36 jam, atau kadang-kadang sampai 3-8 hari.
Pada sapi, gejala
permulaan kurang jelas kecuali demam tinggi sampai 42oC. Biasanya
sapi-sapi tersebut terus digembalakan atau dipekerjakan. Dalam keadaan seperti
itu sapi dapat mendadak mati di kandang, di padang gembalaan atau saat sedang
dipekerjakan. Penyakit ini ditandai dengan gelisah pada saat mengunyah,
menanduk benda keras di sekitarnya, kemudian dapat diikuti dengan gejala
-gejala penyakit umum seperti hewan menjadi lemah, panas tubuh tidak merata,
paha gemetar. Nafsu makan hilang sama sekali, sekresi susu menurun atau
terhenti, tidak ada ruminasi, dan perut nampak agak kembung. Pada puncak
penyakit darah keluar melalui dubur, mulut, lubang hidung, dan urin bercampur
darah. Pada beberapa kasus terdapat bungkul-bungkul keras berisi cairan jernih
atau nanah, pada mukosa mulut terdapat bercak -bercak, lidah bengkak dan
kebiruan, serta nampak lidah keluar dari mulut.
Gejala-gejala umum
anthraks berupa pembengkakan di daerah leher, dada, sisi lambung, pinggang, dan
alat kelamin luar. Pembengkakan tersebut berkembang cepat dan meluas, bila
diraba panas konsistensinya lembek atau keras, sedang kulit di daerah tersebut
normal atau terdapat luka yang mengeluarkan eksudat cair yang berwarna kuning
muda. Pembengkakan pada leher sering berlanjut menyebabkan paryngitis dan
busung glottis, menyebabkan sesak nafas yang memberatkan penyakit. Pada selaput
lendir rektum terdapat pembengkakan berupa bungkul-bungkul. Pembengkakan
seperti itu juga dapat terjadi karena infeksi pada waktu eksplorasi rektal atau
pengosongan isi usus.
Pada beberapa kasus
sulit buang air, feses bercampur darah yang berwarna merah hitam dan jaringan
nekrotik yang mengelupas. Kadangkadang terdapat penyembulan rektum. Daerah
perineum bengkak, selaput lendir panas, pada selaput lendir vagina sering
terdapat busung gelatin.
Pada domba dan kambing,
biasanya bentuk perakut dengan perubahan apopleksi sereberal, terlihat
berputar-putar, gigi gemeretak dan mati hanya beberapa menit setelah darah
keluar dari lubang-lubang alami tubuh.
Pada kasus akut,
penyakit tersebut hanya berlangsung beberapa jam, dengan tanda-tanda seperti
gelisah, berputar-putar, respirasi berat dan cepat, frekuensi jantung
meningkat, feses dan urin bercampur darah, hipersalivasi, busung dan enteritis
jarang ditemukan.
Pada babi, gejala
penyakit berupa demam dan pharyngitis dengan kebengkakan pada daerah
subparotidea dan larynx yang berlangsung dengan cepat (anthraks angina).
Pembengkakan tersebut dapat meluas dari leher sampai ke dahi, muka dan dada,
menyebabkan kesulitan makan dan bernafas. Selaput lendir kebiruan, pada kulit
terdapat bercak merah, diare, disfagia (paralisis otot pipi), muntah dan sesak
nafas menyebabkan hewan mati lemas.
Pada kasus tanpa
pembengkakan leher, gejala penyakitnya mungkin hanya berupa lemah, tidak ada
nafsu makan dan menyendiri. Pada antraks lokal atau kronis hewan sering tampak
normal.
Pada anjing dan pemakan
daging (carnivora) lainnya, gejala penyakit berupa gastroenteritis dan
pharyngitis, tetapi kadang-kadang hanya demam. Setelah makan daging yang
mengandung bakteri anthraks, bibir dan lidah menjadi bengkak, atau timbul
bungkul-bungkul pada rahang atas. Kadang-kadang dapat terjadi infeksi umum
melalui erosi pada mukosa kerongkongan.
Pada manusia, sering
ditemukan bentuk (kutan). Karena serangannya bersifat lokal, dapat juga disebut
anthraks lokal. Pada luka tersebut terjadi rasa nyeri, yang diikuti dengan
pembentukan bungkul merah pucat (karbungkel) yang berkembang menjadi kehitaman
dengan cairan bening berwarna merah. Bila pecah akan meninggalkan jaringan
nekrotik. Bungkul berikutnya muncul berdekatan. Jaringan sekitarnya tegang,
bengkak dengan warna merah tua pada kulit sekitarnya. Bila dalam waktu
bersamaan gejala demam muncul, infeksi menjadi umum (generalis) dan pasien mati
karena septisemi.
Anthraks
bentuk kutan (kulit) ditandai dengan adanya
pembengkakan di berbagai tempat di bagian tubuh. Biasanya pada sapi dan kuda
yang terdapat luka atau lecet di daerah kulit yang kemudian tercemar oleh
bakteri anthraks, maka hewan tersebut akan terinfeksi anthraks. Manifestasi
gambaran klinis anthraks sebagaimana tersebut di atas ada kalanya berbeda-beda
tergantung pada perluasan penyakit dan jenis hewan yang terkena. Anthraks kulit
primer maupun sekunder jarang ditemukan. Penyakit ini biasanya berakhir setelah
10-36 jam, kadang-kadang sampai 2-5 hari. Anthraks kulit yang kronis dapat pula
terjadi pada sapi yang berlangsung selama 2-3 bulan. Hewan -hewan yang
menderita penyakit akan menjadi kurus dengan cepat. Anthraks bentuk usus
(intestinal) sering disertai haemoragik, kenyerian yang sangat didaerah perut
(kolik), muntah-muntah, kaku dan berakhir dengan kolaps dan kematian. Anthraks
bentuk pernafasan, terjadi pleuritis dan bronchopneumonia. Bentuk gabungan juga
bisa terjadi. Setelah infeksi usus, kemudian muncul kebengkakan bersifat busung
di bagian tubuh yang lain.
2.
Patologi Bangkai hewan yang mati karena anthraks dilarang untuk dibedah
Bangkai tersebut cepat
membusuk karena sepsis, dan terlihat sangat membengkak. Kekakuan bangkai (rigor
mortis) biasanya tidak ada atau tidak sempurna. Darah yang berwarna hitam
seperti aspal mungkin keluar dari lubang alami seperti hidung, mulut, telinga,
anus tampak bengkak, dan bangkai cepat membusuk. Mukosa warna kebiruan, sering
terdapat penyembulan rektum yang disertai perdarahan.
3.
Diagnosa
a.
Pemeriksaan mikroskopik langsung
Hewan yang masih dalam
keadan sakit atau baru saja mati, selama belum terjadi pembusukan, dilakukan
pemeriksaan mikroskopik sediaan ulas darah perifer dengan cara yang sederhana
dan tepat. Bakteri berbentuk batang besar, Gram positif, biasanya tersusun
tunggal, berpasangan atau berantai pendek. Tidak terdapat spora. Dengan
pewarnaan yang baik dapat dilihat adanya selubung (kapsul) Jika hewan sudah
mengalami pembusukan maka dari pemeriksaan mikroskopik sediaan ulas darah
perifer, agak sulit untuk membuat diagnosa yang tepat. Sejumlah bakteri
pembusuk memiliki bentuk yang mirip dengan anthraks (bakteri anthrakoid).
Biasanya bakteri-bakteri pembusuk itu agak panjang dan tersusun dalam rantai
yang lebih panjang.
b.
Pemeriksaan dengan pemupukan
Bahan mengandung
anthraks berupa darah atau jaringan lain yang berasal dari hewan sakit atau
baru saja mati, dengan mudah dapat dipupuk pada media buatan. Jika bahan sampel
berasal dari jaringan yang telah busuk, maka akan timbul berbagai kesulitan
karena (a) bakteri anthraks mudah mati oleh pembusukan, (b) bakteri-bakteri
anthrakoid akan ikut nampak dan tumbuh dengan baik.
c.
Pemeriksaan biologis
Hewan percobaan yang
terbaik adalah marmut. Meskipun mencit cukup baik, tetapi mencit sangat rentan
terhadap kontaminan lain. Setelah disuntik secara subkutan, marmut biasanya
mati dalam waktu 36-48 jam, paling lama pada hari kelima. Jaringan marmut
tersebut penuh dengan bakteri anthraks dan di bawah kulit tempat suntikan
terjadi infi ltrasi gelatin. Penyuntikan hewan percobaan adalah cara yang
paling tepat untuk membedakan bakteri anthraks dari bakteri anthrakoid.
d.
Pemeriksaan serologis
Pemeriksaan serologis
dapat dilakukan dengan Uji Ascoli dan Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Uji Ascoli Uji termopresipitasi Ascoli sangat berguna untuk menentukan jaringan
tercemar anthraks. Untuk uji Ascoli diperlukan serum presipitasi bertiter
tinggi. Jaringan tersangka dilakukan ekstraksi dengan air dengan cara
perebusan, atau dengan penambahan kloroform. Cairan jernih yang diperoleh
disebut presipitinogen mengandung protein anthraks, ditemukan secara
perlahan-lahan dengan serum presipitasi (presipitin) dalam tabung reaksi kecil.
Reaksi positif akan ditandai dengan terbentuknya cincin putih pada batas
pertemuan antara kedua cairan tersebut.
4.
Diagnosa Banding
Anthraks harus
dibedakan dari kematian mendadak oleh sebab lain. Pada sapi dan babi, terutama
oleh pasteurellosis yang disertai pembengkakan pada leher. Pada sapi dan domba
infeksi dengan Clostridia dapat menyebabkan kematian mendadak. Pada sapi perlu
diperhatikan pula penyakit-penyakit Ieptospirosis akut, anaplasmosis,
bacillary, hemoglobinuria, dan keracunan-keracunan oleh tanaman, timah atau
fosfor yang akut. Pada kuda, anemia infeksiosa yang akut, purpura
haemorrhagica, macam-macam kolik, keracunan timah, dan sun stroke, mempunyai
gejala-gejala serupa dengan anthraks. Pada babi, hog cholera akut, malignant
oedema bentuk pharyngeal mempunyai gejala-gejala serupa dengan anthraks. Pada
sapi dan kerbau dapat dikacaukan dengan keracunan, radang otak, penyakit
pencernaan bentuk jahat Aphtae Epizootica, Septicaemia Epizootica, Surra,
Piroplasmosis akut, Rinderpest, dan penyakit Jembrana. Pada kuda dapat
dikacaukan dengan Surra, terutama jika dilihat dari timbulnya busung.
5.
Pengambilan dan Pengiriman Spesimen
Larangan bedah bangkai
terhadap hewan yang mati tersangka anthraks dengan dasar:
a. Tidak memberi peluang
terbentuknya spora bakteri anthraks yang mungkin menyulitkan pemberantasan
penyakit.
b. Sangat berbahaya
bagi manusia yang melakukan seksi dan pembantu - pembantunya. Bahan pemeriksaan
yang perlu dikirimkan ke laboratorium diagnostik adalah sebagai berikut:
Hewan pemanah biak :
a. Sediaan ulas darah
diambil dari pembuluh darah tepi (vena pada telinga, pada metakarpal, atau
metatarsal). Dibuat tipis dan lebih dari satu kemudian dilakukan fi ksasi.
b. Olesan darah tepi
dari hewan yang sama pada kapas bergagang (cotton swab), sepotong kapur tulis,
atau sepotong kertas saring yang kemudian dimasukan ke dalam tabung reaksi.
Alat pengambilan bahan harus dalam keadaan steril sebelum dipakai dan
pengambilan dilakukan secara aseptik.
Bahan pemeriksaan
tersebut harus ditaruh dalam wadah yang kuat dan tertutup rapat untuk mencegah
kemungkinan pencemaran dalam perjalanan.
Pada babi, kuda hewan
lainnya
a. Sediaan ulas dari
jaringan tubuh dengan lesi yang jelas (dari kelenjar limfe submaxillaris dan
daerah kebengkakan)
b. Sediaan ulas darah
dari pembuluh darah tepi (dari kuda dan babi tidak dapat diharapkan ditemuinya B.anthracis dalam sediaan ulas darah).
c. Khusus untuk babi
jika perlu bisa dikirimkan kelenjar limfa cervicalis yang diawetkan dalam asam
borax (4%).
Bagi anthraks bentuk
kutan dapat dikirimkan :
a. Sediaan ulas dari
luka yang bersangkutan.
b. Olesan pada luka
yang sama memakai kapas bergagang atau yang lainnya (seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya).
Bila pengiriman bahan-bahan
tersebut diatas tidak memungkinkan maka pengiriman bahan berupa sisa-sisa
bagian tubuh hewan yang masih ditemukan tanpa bahan pengawet apapun masih dapat
dianjurkan, antara lain sepotong kulit, tulang, daging kering dan dendeng.
Bahan-bahan tersebut
dimaksudkan untuk pemeriksaan serologi. Bahan pemeriksaan tersebut diatas
dikirimkan ke laboratorium veteriner setempat (kecuali ada ketentuan khusus)
disertai surat pengantar berisi informasi selengkap mungkin. Hasil pengujian
ditembuskan kepada Kepala Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan
Hewan, dan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
E.
PENGENDALIAN
1.
Pengobatan
Pengobatan pada hewan
sakit diberikan suntikan antiserum dengan dosis kuratif 100-150 ml untuk hewan
besar dan 50-100 ml untuk hewan kecil. Penyuntikan antiserum homolog adalah IV
atau SC, sedang yang heterolog SC. Jika perlu penyuntikan pengobatan dapat
diulangi secukupnya. Antiserum yang diberikan lebih dini sesudah timbul gejala
sakit, kemungkinan untuk diperoleh hasil yang baik akan lebih besar. Hewan
tersangka sakit atau yang sekandang dengan hewan sakit, diberi suntikan
pencegahan dengan antiserum. Kekebalan pasif timbul seketika, akan tetapi
berlangsung tidak lebih lama dari 2 minggu. Pemberian antiserum untuk tujuan
pengobatan dapat dikombinasikan dengan pemberian antibiotik. Jika antiserum
tidak tersedia, dapat dicoba dengan obat-obatan tersebut di bawah ini.
Anthraks stadium awal
pada kuda dan sapi diobati dengan procain penicillin G dilarutkan dalam aquades
steril dengan dosis untuk hewan besar 6.000-20.000 IU/kg berat badan, IM tiap
hari. Streptomycin sebanyak 10 gram (untuk hewan besar dengan berat badan 400-
600 kg) setiap hari yang diberikan dalam dua dosis secara intramuskuler
dianggap lebih efektif dari penicillin, akan tetapi lebih baik dipakai
kombinasi penicillin - streptomycin.
Selain penicillin dapat
pula dipakai oxytetracycline. Untuk sapi dan kuda mula -mula 2 gm IV atau IM,
kemudian 1 g tiap hari selama 3-4 hari atau sampai sembuh. Oxytertracyclin
dapat diberikan dalam kombinasi dengan penicillin.
Antibiotika lain yang
dapat dipakai antara lain : chloramphanicol, erythromycin, atau sulfonamide
(sulfamethazine, sulfanilamide, sulfapyridine, sulfathiazole), tetapi obat-obatan
tersebut kurang ampuh dibandingkan dari penicillin atau tetracycline.
2.
Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan
a.
Pencegahan
Perlakuan terhadap
hewan yang dinyatakan berpenyakit anthraks dilarang untuk dipotong. Bagi daerah
bebas anthraks, tindakan pencegahan didasarkan pada pengaturan yang ketat
terhadap pemasukan hewan kedaerah tersebut. Anthraks pada hewan ternak dapat
dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi dilakukan pada semua hewan ternak di daerah
enzootik anthraks setiap tahun sekali, disertai cara-cara pengawasan dan
pengendalian yang ketat.
b.
Pengendalian dan Pemberantasan
Disamping pengobatan
dan pencegahan, diperlukan cara pengendalian khusus untuk mencegah perluasan
penyakit. Tindakan-tindakan tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Hewan yang
menderita anthraks harus diisolasi sehingga tidak dapat kontak dengan
hewan-hewan lain
(2) Pengisolasian
tersebut dilakukan di kandang atau di tempat dimana hewan tersebut ditemukan
sakit. Didekat tempat itu digali lubang sedalam 2 -2,5 meter, untuk menampung
sisa makanan dan feses dari kandang hewan yang sakit
(3) Setelah hewan mati,
sembuh atau setelah lubang itu terisi sampai 60 cm, lubang itu dipenuhi dengan
tanah yang segar
(4) Dilarang
menyembelih hewan yang sakit
(5) Hewan tersangka
tidak boleh meninggalkan halaman dimana ia berdiam sedangkan hewan yang lain
tidak boleh dibawa ketempat itu
(6) Jika diantara hewan
yang tersangka tersebut timbul gejala penyakit, maka hewan yang sakit tersebut
diasingkan menurut cara seperti ditentukan dalam poin 1 (7). Jika diantara
hewan yang tersangka dalam waktu 14 hari tidak ada yang sakit, hewan tersebut
dibebaskan kembali
(8) Di pintu-pintu yang
menuju halaman, dimana hewan yang sakit atau tersangka sakit diasingkan dipasang
papan bertuliskan ”Penyakit Hewan Menular Anthraks” disertai nama penyakit yang
dimengerti di daerah itu
(9) Bangkai hewan yang
mati karena anthraks harus segera dimusnahkan dengan dibakar habis atau dikubur
(poin 3 dan 4)
(10) Setelah penderita
mati atau sembuh, kandang dan semua perlengkapan yang tercemar harus dilakukan
disinfeksi
(11) Kandang dari bambu
atau alang-alang dan semua alat-alat yang tidak dapat didisinfeksi, harus
dibakar
(12) Dalam satu daerah,
penyakit dianggap telah berlalu setelah lewat masa 14 hari sejak matinya atau
sembuhnya penderita terakhir
(13) Untuk mencegah
perluasan penyakit melalui serangga, dipakai obat-obat pembunuh serangga
(14) Hewan yang mati
karena anthraks dicegah agar tidak dimakan oleh hewan pemakan bangkai
(15) Tindakan sanitasi
umum terhadap manusia yang kontak dengan hewan penderita penyakit dan untuk
mencegah perluasan penyakit.
3.
Pelaporan
Laporan kejadian
penyakit anthraks berisi informasi selengkap mungkin, disampaikan kepada Kepala
Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Dirjen
Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang dilengkapi dengan pengisian formulir yang
telah ditentukan, seperti:
(1) Laporan Dinas yang
membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan ke Pemerintah Daerah, dan ke Direktorat
Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, mengenai
terdapatnya kejadian anthraks
(2) Mengirim
bahan-bahan pemeriksaan penyakit ke laboratorium veteriner setempat untuk
peneguhan adanya penyakit (3) Pernyataan tentang terdapatnya/bebasnya suatu
daerah terhadap Anthraks oleh Kepala Pemerintah Daerah setelah adanya peneguhan
teknis.
F.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2011. The Merck
Veterinary Manual 11th Edition, Merek & CO, Inc Rahway, New Jersey, USA.
Anonim 2008. Office International des Epizooties (OIE). Manual of Standards for Diagnostic Test and Vaccines. List A and B. diseases of mammals, birds and bees. 6th Ed
Anonim 2004. Bovine
Medicine Diseases and Husbandry of Cattle 2nd Edition. Andrews AH, Blowey RW,
Boyd H, Eddy RG Ed. Blackwell Science Ltd. Blackwell Publishing Company
Australia.
Direktur Kesehatan
Hewan, 2012. Indeks Obat Hewan Indonesia Edisi VIII. Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, Jakarta Indonesia.
Plumb DC 1999.
Veterinary Drug Handbook. 3rd Edition. Iowa State University Press Ames.
Quinn PJ, Markey BK,
Carter ME, Donnelly WJC, Leonard FC and Maghire D 2002. Veterinary Microbiology
and Microbial Disease. Blackwell Science Ltd. Blackwell Publishing Company
Australia.
Radostids OM and Blood
DC 2007. Veterinary Medicine A Text Book of the Disease of Cattle, Sheep, Pigs,
Goats and Horses. 10th Edition. Bailiere Tindall. London England.
Smith BP 2002. Large
Animal Internal Medicine. Mosby An Affi liate of Elsevier Science, St Louis
London Philadelphia Sydney Toronto.
Subronto dan Tjahajati
2008. Ilmu Penyakit Ternak III (Mamalia) Farmakologi Veteriner: Farmakodinami
dan Farmakokinesis Farmakologi Klinis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Indonesia.
Subronto 2008. Ilmu
Penyakit Ternak I-b (Mamalia) Penyakit Kulit (Integumentum) Penyakit-penyakit
Bakterial, Viral, Klamidial, dan Prion. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta Indonesia.
SUMBER
Manual Penyakit Hewan Mamalia.
2014. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan. Kementerian Pertanian.
No comments:
Post a Comment