Penggantian
Tepung Ikan dengan Spirulina (Arthrospira platensis): Modulasi
Nutrigenomik terhadap Pertumbuhan, Kinerja Reproduksi, dan Metabolisme pada
Ikan Zebrafish
RINGKASAN
Peningkatan penggunaan tepung ikan dalam
pakan ikan budidaya telah menimbulkan kekhawatiran dari sisi lingkungan dan
ekonomi, karena praktik tersebut tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan pencarian bahan pakan
alternatif yang efisien sekaligus berkelanjutan.
Dalam penelitian ini, kami mengevaluasi apakah Spirulina, suatu mikroalga
yang kaya protein, dapat menggantikan tepung ikan dalam pakan ikan zebrafish,
yaitu spesies yang sering digunakan dalam penelitian ilmiah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggantian tepung ikan secara penuh dengan Spirulina
meningkatkan pertumbuhan dan kapasitas reproduksi ikan, sehingga menghasilkan
individu yang lebih besar dengan produksi telur yang lebih tinggi.
Selain itu, kami menemukan bahwa substitusi tersebut meningkatkan ekspresi
gen yang berkaitan dengan pertumbuhan otot dan metabolisme energi. Hasil ini
menunjukkan bahwa Spirulina dapat digunakan secara efektif dalam nutrisi ikan
budidaya, sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan melalui pengurangan
penggunaan sumber daya alam yang terbatas serta meningkatkan kinerja produksi
ikan.
ABSTRAK
Mikroalga yang kaya protein semakin diakui sebagai alternatif yang layak
untuk menggantikan tepung ikan (FM) dalam pakan akuakultur. Dalam penelitian
ini, kami mengevaluasi pengaruh penggantian sebagian maupun seluruh tepung ikan
dengan mikroalga Arthrospira platensis (Spirulina, SM) terhadap performa
pertumbuhan, parameter reproduksi, serta profil transkriptomik pada ikan
zebrafish.
Sebanyak enam pakan percobaan yang bersifat isoproteik dan isoenergetik
diformulasikan dengan tingkat penambahan SM yang meningkat (0, 10, 20, 30, 40,
dan 50 g kg⁻¹ pakan) sebagai pengganti tepung ikan. Ikan dibagi secara acak ke
dalam enam kelompok perlakuan (masing-masing lima ulangan) dan diberi pakan
selama 60 hari.
Pakan dengan kandungan 50 g kg⁻¹ SM menghasilkan bobot akhir, pertambahan
bobot, laju pertumbuhan spesifik, dan efisiensi protein tertinggi, serta
meningkatkan indeks gonadosomatik, jumlah telur per betina, tingkat
fertilisasi, dan tingkat penetasan dibandingkan dengan kelompok kontrol (0 g
kg⁻¹ SM).
Analisis transkriptomik RNA-Seq mengidentifikasi 2299 gen yang terekspresi
secara diferensial pada kelompok SM50, yang sebagian besar berasosiasi dengan
perkembangan otot dan metabolisme energi. Temuan ini memberikan wawasan baru
mengenai mekanisme molekuler yang terlibat serta menegaskan potensi Spirulina
sebagai bahan pakan alternatif yang berkelanjutan untuk nutrisi ikan budidaya.
Kata kunci: mikroalga; nutrisi akuakultur; RNA-Seq; transkriptomik
1. PENDAHULUAN
Tepung ikan (FM) secara luas digunakan sebagai sumber protein dalam pakan
akuakultur karena memiliki profil nutrisi yang sangat baik, yang mencakup asam
amino esensial, asam lemak, dan mineral, serta kandungan faktor antinutrisi
yang relatif rendah. Namun demikian, meskipun produksi globalnya relatif
stabil, pasokan tepung ikan masih belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan
industri akuakultur yang terus meningkat. Kondisi ini mendorong pencarian sumber
protein alternatif dalam formulasi pakan.
Meningkatnya tekanan terhadap sumber daya
laut, bersama dengan fluktuasi harga tepung ikan serta ketidakpastian dalam
rantai pasokan, semakin memperkuat urgensi untuk mengidentifikasi sumber
protein alternatif yang berkelanjutan dan layak secara ekonomi. Oleh karena
itu, diperlukan sumber protein baru sebagai pengganti tepung ikan guna menjamin
keberlanjutan perkembangan akuakultur.
Dalam konteks ini, mikroalga dianggap sebagai
alternatif yang menjanjikan untuk menggantikan tepung ikan karena memiliki
kandungan protein yang tinggi serta profil asam amino yang seimbang. Selain
itu, mikroalga memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sumber protein
konvensional, antara lain laju pertumbuhan yang cepat, kebutuhan lahan yang
minimal, serta kemampuan untuk dibudidayakan dalam berbagai kondisi lingkungan
tanpa bersaing dengan tanaman pangan lainnya. Mikroalga juga dapat diproduksi
sepanjang tahun dalam kondisi terkontrol, sehingga menyediakan rantai pasokan
yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Salah satu mikroalga yang paling menjanjikan
adalah Arthrospira platensis (Spirulina), yang termasuk dalam famili
Oscillatoriaceae dan banyak ditemukan di lingkungan perairan tawar maupun laut.
Spirulina memiliki kandungan protein yang tinggi (55–70%), profil asam amino
yang memadai, asam lemak esensial, serta menunjukkan sifat antioksidan dan
imunomodulator yang kuat.
Sifat-sifat tersebut memungkinkan Spirulina
mengatur sitokin inflamasi seperti IL-1β, IL-6, IL-10, dan TNF-α, sekaligus
memodulasi sistem pertahanan antioksidan. Selain manfaat nutrisinya, Spirulina
juga mengandung senyawa bioaktif unik seperti fikosianin, klorofil, dan
karotenoid, yang dapat memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.
Beberapa penelitian telah menunjukkan efek
positif dari penambahan Spirulina secara parsial terhadap pertumbuhan dan
kesehatan spesies akuakultur seperti ikan nila (Oreochromis niloticus),
ikan mas (Cyprinus carpio), dan trout pelangi (Oncorhynchus mykiss).
Namun demikian, sebagian besar penelitian tersebut terutama berfokus pada
respons pertumbuhan, dan hasilnya bervariasi tergantung pada spesies serta
formulasi pakan yang digunakan.
Parameter reproduksi, khususnya pada tingkat
inklusi Spirulina yang tinggi atau pada kondisi penggantian tepung ikan secara
penuh, masih relatif jarang diteliti.
Meskipun efek menguntungkan Spirulina
terhadap respons imun dan performa pertumbuhan telah banyak dilaporkan,
mekanisme molekuler yang mendasari respons ikan terhadap penggantian tepung
ikan dengan Spirulina masih belum sepenuhnya dipahami. Pemahaman mengenai mekanisme ini sangat penting untuk
mengoptimalkan formulasi pakan serta memprediksi potensi dampak jangka panjang
dari penggantian tepung ikan secara penuh.
Perkembangan teknologi RNA-Seq menyediakan alat yang sangat kuat untuk
menyelidiki bagaimana komponen nutrisi tertentu memengaruhi ekspresi gen dan
jalur metabolisme pada ikan. Pengetahuan ini dapat mendukung pengembangan
formulasi pakan akuakultur yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain itu, percobaan nutrisi yang menggunakan spesies akuakultur
tradisional sering kali memerlukan biaya yang tinggi serta durasi penelitian
yang panjang. Keterbatasan tersebut membatasi kemampuan untuk mengevaluasi
secara simultan parameter pertumbuhan dan reproduksi dalam kondisi yang
terkontrol.
Salah satu strategi untuk mengatasi tantangan tersebut adalah penggunaan
zebrafish (Danio rerio) sebagai model eksperimental, yang memungkinkan
penelitian akuakultur dilakukan dengan lebih cepat dan lebih hemat biaya.
Zebrafish memiliki sejumlah keunggulan, antara lain waktu generasi yang
singkat, karakteristik genetik yang telah dipelajari dengan baik, protokol
reproduksi yang telah mapan, serta kesesuaiannya untuk analisis molekuler
berkapasitas tinggi (high-throughput).
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh
penggantian tepung ikan dengan Spirulina terhadap kinerja pertumbuhan,
kapasitas reproduksi, serta ekspresi gen diferensial pada zebrafish.
Kami mengajukan hipotesis bahwa substitusi Spirulina dapat memodulasi
pertumbuhan dan reproduksi melalui jalur molekuler spesifik yang berkaitan
dengan metabolisme nutrisi dan respons imun.
2. BAHAN DAN METODE
2.1. Pernyataan Etik
Seluruh prosedur eksperimental yang digunakan dalam penelitian ini
dilaksanakan secara ketat sesuai dengan pedoman institusional Komite Etika
Eksperimen Hewan Universitas Federal Lavras (UFLA), Lavras, MG, Brasil, dengan
nomor protokol 108/18, serta mematuhi pedoman Dewan Nasional Pengendalian
Eksperimen Hewan (CONCEA) mengenai pemeliharaan dan penggunaan hewan
laboratorium.
2.2. Asal dan Pemeliharaan Zebrafish
Zebrafish juvenil tipe liar (wild-type), berumur 30 hari pasca
fertilisasi (days post-fertilization/dpf), diperoleh dari pemasok lokal dan
dipelihara di Central Animal House UFLA, tempat seluruh tahapan percobaan
dilaksanakan.
Sejak pemberian pakan pertama hingga awal percobaan, ikan dipelihara dalam
sistem akuakultur resirkulasi (recirculating aquaculture system / RAS)
sebagaimana dijelaskan oleh Carneiro et al. [20].
Setelah dua minggu masa aklimatisasi, ikan juvenil dengan bobot tubuh
rata-rata 160,14 ± 1,09 mg dipindahkan ke sistem percobaan yang terdiri atas 30
akuarium polikarbonat berkapasitas 3 L (11,5 cm × 34,5 cm × 15,5 cm) yang
disusun dalam rak khusus untuk spesies tersebut (Rack Hidrus, model ZEB-40,
Alesco, Monte Mor, São Paulo, Brasil).
Ikan dialokasikan secara acak ke dalam kelompok perlakuan menggunakan tabel
angka acak. Akuarium tersebut terhubung dengan sistem RAS yang
dilengkapi dengan pengendalian otomatis terhadap suhu, pH, dan konduktivitas.
Air dari akuarium mengalir secara gravitasi
menuju tangki filtrasi tipe sump yang dilengkapi dengan tiga filter kantong
polipropilena untuk menyaring partikel berukuran 100 µm serta tiga filter felt
untuk menahan partikel berukuran 50 µm. Air selanjutnya melewati filter
biologis yang berisi BioBalls dan cincin keramik, kemudian dipompa ke dalam
ruang yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet, sebelum akhirnya dikembalikan
kembali ke akuarium.
Selama periode uji pertumbuhan, ikan
dipelihara di bawah pencahayaan buatan dengan siklus 14 jam terang dan 10 jam
gelap. Suhu rata-rata
dipertahankan pada 27,8 ± 0,6 °C, pH pada 7,4 ± 0,3, sedangkan senyawa nitrogen
berada pada tingkat residu yang sangat rendah.
2.3. Pakan Percobaan
Enam jenis pakan diformulasikan dengan kandungan protein yang sama (isoproteik)
sebesar 320 g kg⁻¹ protein kasar dan energi yang sama (isoenergetik)
sebesar 17 MJ kg⁻¹ energi bruto, dengan tingkat penggantian tepung ikan (fish
meal / FM) yang berbeda menggunakan Arthrospira platensis (Spirulina, SM).
Serbuk Spirulina yang digunakan sebagai bahan suplementasi pakan merupakan
produk komersial (Commercial Spirulina Powder, Bernaqua) dengan kandungan
protein sebesar 72%.
Penggantian tepung ikan dilakukan hingga 100%, dengan pakan yang mengandung
0, 1, 2, 3, 4, dan 5% Spirulina (SM). Nilai kebutuhan protein kasar mengikuti
rekomendasi yang diusulkan oleh O’Brine et al. [21].
Seluruh pakan diproses menggunakan mesin ekstruder berdiameter 4–6 mm.
Setelah proses ekstrusi, pakan dikeringkan dalam oven sirkulasi udara paksa
pada suhu 55 °C selama 12 jam, kemudian dihancurkan menjadi ukuran yang sesuai
untuk ikan percobaan, dan disimpan pada suhu −20 °C hingga digunakan.
Komposisi proksimat pakan dan tepung Spirulina (Tabel 1) dianalisis
berdasarkan metodologi AOAC [22] yang meliputi:
- Protein kasar (Metode 984.13)
- Ekstrak eter / lemak kasar (Metode 920.39)
- Kadar air (Metode 930.15)
- Abu (Metode 942.05)
Energi bruto ditentukan menggunakan
kalorimeter bom (Model IKA C5000, IKA-Werke GmbH & Co. KG, Staufen,
Jerman).
Tabel 1. Bahan penyusun (g kg⁻¹) dan
komposisi proksimat (berdasarkan bobot basah) pakan untuk zebrafish juvenil (Danio
rerio) dengan peningkatan tingkat Spirulina sebagai pengganti tepung ikan.
Bahan Penyusun (g kg⁻¹)
|
Bahan |
0 |
10 |
20 |
30 |
40 |
50 |
|
Tepung ikan¹ |
50 |
40 |
30 |
20 |
10 |
0 |
|
Tepung kedelai² |
594,3 |
593,4 |
594,5 |
595,6 |
596,7 |
597,8 |
|
Spirulina³ |
0 |
10 |
20 |
30 |
40 |
50 |
|
Tepung jagung² |
312,4 |
323,4 |
318,2 |
313,0 |
307,7 |
302,5 |
|
Dikalsium fosfat⁴ |
26 |
22,2 |
23,5 |
24,8 |
26,12 |
27,4 |
|
Premiks⁵ |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
|
Garam⁴ |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
|
Batu kapur⁴ |
3 |
0,27 |
0,64 |
1 |
1,37 |
1,74 |
|
Minyak kedelai⁴ |
4,1 |
0,58 |
3 |
5,4 |
7,88 |
10,3 |
|
BHT⁶ |
0,2 |
0,2 |
0,2 |
0,2 |
0,2 |
0,2 |
Komposisi Teranalisis (g kg⁻¹)
|
Parameter |
0 |
10 |
20 |
30 |
40 |
50 |
|
Bahan kering |
887 |
886 |
879 |
889 |
879 |
889 |
|
Protein kasar |
323 |
322 |
321 |
325 |
321 |
326 |
|
Ekstrak eter (lemak kasar) |
34 |
53 |
41 |
42 |
42 |
48 |
|
Abu |
67 |
66 |
57 |
65 |
57 |
72 |
|
Energi bruto (MJ kg⁻¹) |
17,01 |
17,42 |
17,19 |
17,26 |
17,21 |
17,28 |
Keterangan
- Tepung ikan diperoleh dari Total Alimentos
(Archer Daniels Midland Company) — Três Corações, MG, Brasil.
- Tepung kedelai dan tepung jagung diperoleh dari
GEM Animal Nutrition — Acreúna, GO, Brasil.
- Komposisi
Spirulina (berdasarkan bahan kering, g kg⁻¹): bahan kering 877; protein
kasar 723; ekstrak eter 29,5; abu 47.
- Bahan-bahan diperoleh dari sumber komersial
lokal.
- Komposisi
premiks vitamin–mineral disajikan pada teks asli.
- BHT (butylated hydroxytoluene) digunakan sebagai
antioksidan.
- Analisis pakan dilakukan oleh ESALQLAB,
Universidade de São Paulo.
Pakan percobaan dialokasikan secara acak ke
dalam enam kelompok perlakuan, dengan masing-masing kelompok terdiri atas lima
ulangan, dan setiap ulangan berisi 15 ekor ikan. Ikan diberi pakan hingga mencapai kenyang semu (apparent
satiation) sebanyak tiga kali sehari, yaitu pada pukul 08.00, 11.00, dan
15.00, selama 60 hari.
2.4. Kinerja Pertumbuhan dan Reproduksi
Pada akhir periode uji pertumbuhan, seluruh ikan dari setiap akuarium
diambil dan dianestesi menggunakan larutan benzokain (250 mg L⁻¹). Selanjutnya,
ikan ditimbang dan diukur panjang tubuhnya secara individual.
Parameter yang dihitung meliputi:
- Bobot akhir (Final Weight, FW)
- Pertambahan bobot (Weight Gain, WG)
- Laju pertumbuhan spesifik (Specific Growth Rate,
SGR)
- Efisiensi pakan (Feed Efficiency, FE)
- Konsumsi pakan harian (Daily Feed Intake, DFI)
- Rasio efisiensi protein (Protein Efficiency
Ratio, PER)
- Panjang tubuh (Body Length, BL)
- Tingkat kelangsungan hidup
Rumus Perhitungan
Pertambahan bobot
WG (%) = [(bobot basah akhir − bobot basah
awal) / bobot basah awal] × 100
Laju pertumbuhan spesifik
SGR(%) = 100 \times \frac{\ln W_2 - \ln
W_1}{T_2 - T_1}
Efisiensi pakan
FE = (bobot akhir − bobot awal) / konsumsi
pakan
Konsumsi pakan harian
DFI (mg ikan⁻¹ hari⁻¹)
= [total konsumsi pakan (g) × 1000 / jumlah ikan] / jumlah hari
Rasio efisiensi protein
PER = (bobot akhir − bobot awal) / asupan protein
dengan:
asupan protein = konsumsi pakan × kandungan protein kasar.
Tingkat kelangsungan hidup
Kelangsungan hidup (%) = 100 × (jumlah ikan akhir / jumlah ikan awal)
Keterangan:
- W₁ dan W₂ = bobot awal dan bobot akhir (mg)
- T₂ − T₁ = jumlah hari percobaan
- ln = logaritma natural
Pada akhir percobaan pemberian pakan, 30 ekor
ikan dewasa (terdiri atas 15 betina dan 15 jantan) dipilih secara acak dari
setiap perlakuan. Ikan kemudian didistribusikan ke dalam tiga ulangan untuk
setiap perlakuan, dengan lima ekor betina dan lima ekor jantan ditempatkan pada
setiap akuarium.
Seluruh akuarium dipelihara dengan kondisi
pemeliharaan yang sama seperti pada percobaan pertumbuhan, kecuali adanya sekat
berlubang di bagian tengah akuarium yang mencegah kontak langsung antara ikan
jantan dan betina hingga saat pemijahan.
Ikan dipelihara dalam sistem tersebut selama
tiga minggu, dengan induksi pemijahan dilakukan satu kali setiap minggu sesuai
dengan prosedur yang dijelaskan oleh Carneiro et al. [20].
Pada akhir periode reproduksi, ikan betina
dieutanasia dan dilakukan pembedahan untuk pengambilan gonad.
Indeks Gonadosomatik
GSI(%) = \frac{\text{berat
gonad}}{\text{berat tubuh total}} \times 100
Parameter Reproduksi
Tingkat fertilisasi (%)
= (jumlah telur yang terfertilisasi /
rata-rata jumlah telur per betina) × 100
Tingkat penetasan (%)
= (jumlah telur yang menetas / rata-rata jumlah telur yang terfertilisasi)
× 100
2.5. Pembuatan Pustaka cDNA, Sekuensing, dan Pemrosesan
Data
Untuk analisis RNA-Seq, ikan dari kelompok kontrol (SM0) dan kelompok SM50
dianalisis. Setiap kelompok terdiri atas tiga ulangan, dengan dua ekor ikan
dikumpulkan pada setiap ulangan, sehingga total terdapat enam ekor ikan per
kelompok.
Fragmen jaringan otot diambil dari setiap sampel zebrafish, diawetkan dalam
RNA-Later (Thermo Fisher Scientific, Waltham, MA, USA), dan disimpan pada suhu
−80 °C hingga dilakukan analisis.
Isolasi RNA dilakukan menggunakan Omega E.Z.N.A.® Total RNA Kit II (Omega
Bio-tek, Norcross, GA, USA).
Pustaka transkriptom dibangun menggunakan
TruSeq RNA Library Preparation V2 kit (Illumina Inc., San Diego, CA, USA).
Setiap sampel diberi barcode, sehingga dihasilkan satu pustaka cDNA untuk
setiap sampel.
Pustaka tersebut kemudian disekuensing
menggunakan platform Illumina HiSeq 2500 dengan metode paired-end 2 × 150 bp.
Kualitas data sekuensing mentah (raw
sequencing data) dievaluasi menggunakan perangkat lunak FastQC (versi
0.10.1). Proses penyaringan data dilakukan menggunakan Trimmomatic v0.30, yang
meliputi:
- penghapusan sekuens primer dan adapter,
- pemotongan (truncation) paired-end reads
dengan kualitas ujung < 25,
- pemotongan menggunakan jendela geser (sliding
window) 4 bp dengan kualitas rata-rata < 25 berdasarkan algoritma
Phred.
2.6. Pemetaan, Identifikasi, dan Anotasi Gen
yang Diekspresikan Secara Diferensial
Reads yang telah diproses
dipetakan ke genom referensi zebrafish (DanRer10) menggunakan perangkat lunak
STAR v2.7.5b [23].
Jumlah reads yang berhasil dipetakan
dihitung menggunakan perangkat lunak FeatureCounts v1.6.4+galaxy2 [24].
Analisis ekspresi gen diferensial antara
kelompok SM0 dan SM50 dilakukan menggunakan perangkat lunak DESeq2
v2.11.40.6+galaxy1 [25].
Gen dengan nilai p yang telah disesuaikan (adjusted
p-value) < 0,05 dianggap sebagai gen yang diekspresikan secara
diferensial. Koreksi terhadap false discovery rate (FDR) dilakukan menggunakan
metode Hochberg dan Benjamini [26].
Ambang signifikansi yang digunakan adalah:
- FDR < 0,05
- |log₂ fold change| ≥ 1
Analisis pengayaan fungsional Gene Ontology
(GO) dilakukan dengan memetakan gen yang diekspresikan secara diferensial
(DEGs) ke dalam basis data GO. Istilah GO yang diperkaya dianalisis menggunakan
paket GOseq v1.50.0 [27].
Istilah Gene Ontology diklasifikasikan ke
dalam tiga kategori utama, yaitu:
- Cellular Component (CC) — komponen seluler
- Biological Process (BP) — proses biologis
- Molecular Function (MF) — fungsi molekuler
Analisis jalur (pathway analysis)
dilakukan menggunakan basis data KEGG (Kyoto Encyclopedia of Genes and Genomes)
[28]. Jalur metabolik dengan nilai p < 0,05 dianggap menunjukkan pengayaan
yang signifikan.
2.7. Analisis Statistik
Uji normalitas dan homogenitas varians
(homoskedastisitas) dilakukan menggunakan uji Shapiro–Wilk dan uji Levene.
Data dianalisis menggunakan analisis varians
(ANOVA). Apabila ditemukan
perbedaan yang signifikan, maka dilakukan uji lanjut Tukey untuk perbandingan
ganda antarperlakuan.
Analisis regresi linear dilakukan untuk mengevaluasi hubungan antara
kinerja pertumbuhan ikan dan tingkat penggantian tepung ikan dengan Spirulina.
Seluruh analisis dilakukan pada tingkat kepercayaan 95% (p < 0,05).
Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak:
- Minitab v18 (State College, PA, USA)
- R software (versi 4.4.1)
Tidak ada hewan, unit percobaan, maupun titik
data yang dikeluarkan dari analisis statistik; seluruh data yang dikumpulkan
dimasukkan dalam analisis akhir.
3. HASIL
3.1. Kinerja Pertumbuhan
Ikan dengan mudah menerima pakan percobaan, dan konsumsi pakan tidak
dipengaruhi oleh komposisi pakan (Tabel 2). Tingkat kelangsungan hidup juga
tidak dipengaruhi oleh perbedaan pakan percobaan, dengan nilai lebih dari 90%
pada seluruh kelompok.
Pada akhir periode percobaan, kinerja ikan yang diukur melalui bobot tubuh
akhir, pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, dan panjang tubuh total
menunjukkan peningkatan secara linear seiring dengan meningkatnya tingkat
Spirulina (SM) sebagai pengganti tepung ikan (FM) dalam pakan.
Efisiensi pakan dan rasio efisiensi protein juga menunjukkan kecenderungan
yang serupa dengan parameter pertumbuhan tersebut.
Tabel 2. Kinerja pertumbuhan dan tingkat
kelangsungan hidup zebrafish juvenil (Danio rerio) setelah sembilan
minggu pemberian pakan dengan berbagai tingkat Arthrospira platensis
(Spirulina) sebagai pengganti tepung ikan.
|
Parameter |
SM0 |
SM10 |
SM20 |
SM30 |
SM40 |
SM50 |
Nilai p |
R² |
|
IW |
160,46 ± 0,17 |
159,98 ± 0,51 |
159,80 ± 1,14 |
160,33 ± 0,21 |
160,56 ± 0,13 |
159,74 ± 0,66 |
– |
– |
|
FW |
391,57 ± 2,10ᵈ |
412,31 ± 15,48ᶜᵈ |
444,38 ± 13,77ᵇᶜ |
470,60 ± 17,23ᵃᵇ |
477,12 ± 11,99ᵃᵇ |
499,84 ± 10,99ᵃ |
<0,01 |
0,78 |
|
WG |
149,82 ± 4,43ᶜ |
157,79 ± 10,26ᵇᶜ |
187,89 ± 11,89ᵃᵇᶜ |
182,86 ± 11,07ᵃᵇᶜ |
197,16 ± 7,49ᵃᵇ |
212,85 ± 5,62ᵃ |
<0,01 |
0,77 |
|
SGR |
1,49 ± 0,10ᵈ |
1,57 ± 0,07ᶜᵈ |
1,70 ± 0,05ᵇᶜ |
1,79 ± 0,01ᵃᵇ |
1,81 ± 0,04ᵃᵇ |
1,90 ± 0,03ᵃ |
<0,01 |
0,78 |
|
FE |
0,42 ± 0,02ᵇ |
0,46 ± 0,03ᵃᵇ |
0,51 ± 0,03ᵃᵇ |
0,55 ± 0,02ᵃ |
0,56 ± 0,03ᵃ |
0,57 ± 0,02ᵃ |
<0,01 |
0,52 |
|
DFI |
9,17 ± 0,40 |
9,25 ± 0,55 |
9,34 ± 0,58 |
9,36 ± 0,27 |
9,44 ± 0,48 |
10,04 ± 0,50 |
0,82 |
0,10 |
|
PER |
1,29 ± 0,05ᵇ |
1,39 ± 0,10ᵃᵇ |
1,59 ± 0,10ᵃᵇ |
1,70 ± 0,06ᵃ |
1,75 ± 0,11ᵃ |
1,74 ± 0,06ᵃ |
<0,01 |
0,53 |
|
Kelangsungan hidup |
93,33 ± 5,44 |
91,67 ± 10,00 |
95,00 ± 6,38 |
95,00 ± 6,38 |
93,33 ± 9,43 |
95,00 ± 6,38 |
0,86 |
0,10 |
|
TL |
31,81 ± 0,22ᶜ |
32,16 ± 0,26ᶜ |
33,19 ± 0,61ᵇᶜ |
35,28 ± 0,42ᵃᵇ |
36,36 ± 0,51ᵃ |
36,67 ± 0,51ᵃ |
<0,01 |
0,86 |
Keterangan:
Data disajikan sebagai rata-rata ± galat baku rata-rata (standard error of the
mean). Nilai pada baris yang sama dengan huruf superskrip yang berbeda
menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) berdasarkan analisis
varians (ANOVA) yang diikuti dengan uji Tukey (p < 0,05).
Singkatan parameter:
- IW = bobot awal (initial weight, mg)
- FW = bobot akhir (final weight, mg)
- WG = pertambahan bobot (weight gain, %)
- SGR = laju pertumbuhan spesifik (specific
growth rate, %)
- FE = efisiensi pakan (feed efficiency)
- DFI =
konsumsi pakan (feed intake, mg ikan⁻¹ hari⁻¹)
- PER = rasio efisiensi protein (protein
efficiency ratio, %)
- Survival = tingkat kelangsungan hidup akhir (%)
- TL = panjang total (total length, mm)
3.2. Kinerja Reproduksi
Parameter reproduksi zebrafish yang diberi
pakan dengan berbagai tingkat Spirulina (SM) sebagai pengganti tepung ikan (FM)
dalam pakan disajikan pada Tabel 3.
Nilai indeks gonadosomatik (GSI) secara
signifikan lebih tinggi pada ikan betina yang diberi pakan SM50 dibandingkan
dengan ikan betina pada kelompok SM0. Produksi telur juga secara signifikan
lebih tinggi pada ikan betina yang diberi pakan SM50. Namun demikian, tidak
ditemukan perbedaan yang signifikan dalam jumlah produksi telur per betina
antara kelompok SM0 dengan kelompok SM10 dan SM20.
Pakan SM50 menghasilkan tingkat fertilisasi
tertinggi dibandingkan dengan perlakuan SM30 dan SM10. Tingkat penetasan telur
tertinggi diamati pada ikan yang diberi pakan SM40 dan SM50, sedangkan tingkat
penetasan terendah ditemukan pada ikan yang diberi pakan SM0.
Analisis principal component analysis (PCA)
mampu menjelaskan 98,1% dari total variabilitas data pada dua komponen utama
pertama (PC1: 85,5%; PC2: 12,6%).
Biplot PCA (Gambar 1) menunjukkan dua klaster
perlakuan utama yang dibatasi oleh elips klaster statistik k-means. Perlakuan
dengan tingkat inklusi Spirulina tertinggi (SM40 dan SM50) terletak pada
kuadran kiri atas dan berasosiasi dengan variabel kinerja pertumbuhan, yaitu
bobot akhir (FW), pertambahan bobot (WG), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan
panjang total tubuh (TL), serta indeks gonadosomatik (GSI), produksi telur
(EG), dan tingkat penetasan (HA).
Sebaliknya, perlakuan SM0, SM10, dan SM20
dikelompokkan pada kuadran kanan bawah, yang posisinya relatif jauh dari
variabel utama yang diamati. Perlakuan SM30 menempati
posisi intermediat, yang mengindikasikan adanya kinerja transisional di antara
kedua kelompok tersebut.
Variabel FW, WG, SGR, TL, GSI, EG, dan HA merupakan parameter yang
memberikan kontribusi terbesar terhadap pemisahan antar kelompok perlakuan,
sebagaimana ditunjukkan oleh besar dan arah nilai loading pada biplot.
Tabel 3. Parameter reproduksi zebrafish (Danio rerio)
yang diberi pakan dengan berbagai tingkat Arthrospira platensis (Spirulina)
sebagai pengganti tepung ikan selama sembilan minggu.
|
Pakan |
Indeks
Gonadosomatik (%) |
Produksi Telur |
Tingkat
Fertilisasi (%) |
Tingkat Penetasan
(%) |
|
SM0 |
6,31 ± 0,73ᵇ |
101,11 ± 10,07ᶜ |
77,43 ± 0,35ᵇᶜ |
58,60 ± 4,43ᵇ |
|
SM10 |
7,01 ± 0,80ᵃᵇ |
125,67 ± 4,17ᶜ |
85,37 ± 1,76ᵃᵇ |
65,97 ± 3,02ᵃᵇ |
|
SM20 |
7,50 ± 0,86ᵃᵇ |
124,56 ± 3,97ᶜ |
84,46 ± 0,20ᵃᵇᶜ |
68,65 ± 3,90ᵃᵇ |
|
SM30 |
9,36 ± 0,72ᵃᵇ |
144,22 ± 8,19ᵇᶜ |
75,97 ± 2,11ᶜ |
68,25 ± 1,63ᵃᵇ |
|
SM40 |
9,58 ± 0,31ᵃᵇ |
220,01 ± 37,29ᵃᵇ |
86,40 ± 3,29ᵃᵇ |
75,53 ± 2,56ᵃ |
|
SM50 |
10,01 ± 0,77ᵃ |
246,56 ± 17,03ᵃ |
88,41 ± 1,87ᵃ |
78,97 ± 0,89ᵃ |
Analisis Regresi Linear
Nilai p:
- Indeks gonadosomatik (GSI) < 0,01
- Produksi telur < 0,01
- Tingkat fertilisasi < 0,01
- Tingkat penetasan < 0,01
Koefisien determinasi (R²):
- GSI = 0,61
- Produksi telur = 0,72
- Tingkat fertilisasi = –
- Tingkat penetasan = 0,66
Keterangan:
Data disajikan sebagai rata-rata ± galat baku rata-rata
(standard error of the mean). Nilai pada kolom yang sama dengan huruf
superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05)
berdasarkan analisis varians (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Tukey (p <
0,05).
Gambar 1. Biplot Analisis Komponen Utama
(Principal Component Analysis/PCA) dari parameter pertumbuhan dan reproduksi
pada berbagai perlakuan pakan (SM0–SM50).
Titik-titik pada grafik menunjukkan perlakuan
pakan, sedangkan elips berwarna merepresentasikan klaster yang dihasilkan
melalui analisis k-means.
Panah menunjukkan nilai loading variabel, yaitu:
- FW (final weight) = bobot akhir
- WG (weight gain) = pertambahan bobot
- SGR (specific growth rate) = laju
pertumbuhan spesifik
- FE (feed efficiency) = efisiensi pakan
- PER (protein efficiency ratio) = rasio
efisiensi protein
- TL (total length) = panjang total tubuh
- GSI (gonadosomatic index) = indeks
gonadosomatik
- EG (egg production) = produksi telur
- FR (fertilization rate) = tingkat
fertilisasi
- HA (hatching rate) = tingkat penetasan
Komponen utama pertama (PC1) dan komponen utama kedua (PC2) masing-masing
menjelaskan 85,5% dan 12,6% dari total varians data.
3.3. Analisis RNA-Seq
Sebanyak 21.090.086 raw reads diperoleh untuk kelompok SM0,
sedangkan 39.292.076 reads diperoleh untuk kelompok SM50.
Setelah proses penyaringan (filtering), seluruh kumpulan data
menunjukkan kualitas rata-rata read di atas 30 berdasarkan skor Phred,
yang mengindikasikan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sekuens yang
diperoleh [29].
Selanjutnya, reads tersebut dipetakan
secara unik (uniquely mapped) ke genom referensi zebrafish
(GRCz10/danRer10, September 2014).
3.3.1. Profil Gen yang Diekspresikan Secara
Diferensial (DEGs)
Setelah jumlah reads yang berhasil
dipetakan dihitung, data dianalisis menggunakan paket DESeq2
(v.2.11.40.6+galaxy1) untuk melakukan analisis ekspresi gen diferensial (differential
gene expression/DEG).
Analisis principal component analysis (PCA)
terhadap data transkriptom yang telah dinormalisasi menggunakan DESeq2
menunjukkan adanya pengelompokan yang jelas pada ulangan biologis dalam
kelompok SM0 dan SM50, yang menandakan adanya profil transkripsi yang berbeda
secara nyata antara kedua perlakuan tersebut (Gambar 2).
Gambar 2. Analisis Komponen Utama (Principal
Component Analysis/PCA) pada sampel SM0 dan SM50.
Setiap lingkaran merepresentasikan satu
ulangan biologis individual (SM0_R berwarna biru muda, n = 3; SM50_R
berwarna merah muda, n = 3). Sumbu x dan y masing-masing menunjukkan PC1
(82,2% dari total varians) dan PC2 (7,9% dari total varians), yang
memperlihatkan pemisahan yang jelas antara dua kondisi percobaan.
Ketika membandingkan kelompok SM0 dan SM50,
teridentifikasi 2.299 gen yang diekspresikan secara diferensial (differentially
expressed genes/DEGs), yang terdiri atas 1.486 gen yang terekspresi
meningkat (upregulated) dan 813 gen yang terekspresi menurun (downregulated)
(log₂ FC > 1; FDR < 0,05) (Gambar 3).
Gambar 3. Volcano plot perbandingan antara
perlakuan SM50 dan SM0.
Gen yang mengalami penurunan ekspresi (downregulated)
ditunjukkan dengan titik berwarna biru muda (sian) (n = 813), sedangkan
gen yang mengalami peningkatan ekspresi (upregulated) ditunjukkan dengan
titik berwarna jingga muda (peach) (n = 1.486). Gen yang tidak
menunjukkan perbedaan ekspresi yang signifikan ditampilkan sebagai titik
berwarna abu-abu (n = 5.219).
Garis putus-putus vertikal menunjukkan batas
ambang perubahan ekspresi (log₂ fold-change), sedangkan garis
putus-putus horizontal menunjukkan batas signifikansi statistik (p = 0,05).
3.3.2. Anotasi Fungsional dan Analisis Jalur
pada Gen yang Diekspresikan Secara Diferensial (DEGs)
Analisis pengayaan Gene Ontology (GO)
menunjukkan bahwa gen yang diekspresikan secara diferensial (DEGs) yang
teridentifikasi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori fungsi utama,
yaitu:
- Biological Process (BP) — proses biologis
- Molecular Function (MF) — fungsi molekuler
- Cellular Component (CC) — komponen seluler
Sepuluh istilah GO teratas pada setiap
kategori, beserta jumlah gen yang terlibat dalam masing-masing proses,
disajikan pada Gambar 4.
Analisis pengayaan fungsional menunjukkan
dominasi istilah yang berkaitan dengan:
- perkembangan otot (muscle development),
- morfogenesis (morphogenesis),
- diferensiasi sel (cell differentiation) (GO:BP).
Selain itu, komponen seluler yang mengalami pengayaan meliputi:
- struktur sarkomer (sarcomere structure),
- mitokondria (GO:CC).
Sementara itu, fungsi molekuler yang mengalami pengayaan meliputi:
- aktivitas faktor transkripsi (transcription
factor activity),
- aktivitas oksidoreduktase (oxidoreductase
activity),
- pengikatan kalsium (calcium binding) (GO:MF).
Beberapa istilah GO yang paling representatif
di antaranya adalah:
- proses perkembangan seluler (cellular
developmental process) — 499 gen
- membran mitokondria (mitochondrial membrane)
— 173 gen
- aktivitas oksidoreduktase (oxidoreductase
activity) — 335 gen.
Gambar 4. Analisis fungsional gen yang
diekspresikan secara diferensial (DEGs) berdasarkan data RNA-Seq.
Hasil analisis ini merangkum sepuluh istilah
Gene Ontology (GO) yang paling diperkaya pada tiga kategori fungsi utama, yaitu
komponen seluler (cellular component), proses biologis (biological
process), dan fungsi molekuler (molecular function).
Analisis pengayaan fungsional berdasarkan
jalur KEGG menunjukkan beberapa jalur biologis yang dimodulasi secara
signifikan pada gen yang mengalami peningkatan ekspresi (upregulated)
pada kelompok SM50 (Gambar 5).
Jalur utama yang mengalami pengayaan berkaitan langsung dengan aktivitas
otot dan metabolisme energi, antara lain:
- kontraksi otot jantung (cardiac muscle
contraction),
- fosforilasi oksidatif (oxidative
phosphorylation),
- glikolisis/glukoneogenesis (glycolysis/gluconeogenesis),
- jalur pensinyalan kalsium (calcium signaling
pathway).
Di antara jalur KEGG yang menunjukkan
pengayaan paling signifikan, jalur ribosom menonjol secara khusus (Gambar 6A),
yang memperlihatkan dominasi gen pengode protein ribosomal yang mengalami
peningkatan ekspresi, mencakup baik subunit besar maupun subunit kecil ribosom.
Selain itu, jalur fosforilasi oksidatif juga
menunjukkan pengayaan yang signifikan (Gambar 6B), dengan peningkatan ekspresi
gen yang berasosiasi dengan subunit kompleks rantai transpor elektron
mitokondria I, III, IV, dan V.
Pola ekspresi ini mengindikasikan adanya
peningkatan produksi ATP melalui metabolisme oksidatif, yang berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan energi yang tinggi terkait dengan biosintesis protein dan
perkembangan jaringan otot.
Gambar 5. Diagram gelembung (bubble plot)
yang menggambarkan jalur-jalur utama yang mengalami pengayaan berdasarkan
analisis KEGG.
Sumbu Y menunjukkan jalur biologis yang
mengalami pengayaan, sedangkan sumbu X merepresentasikan skor pengayaan (enrichment
score).
Gambar 6. Peta jalur KEGG
yang menunjukkan ekspresi gen diferensial pada perlakuan SM50 dibandingkan
dengan SM0.
(A) Jalur ribosom:
Menampilkan peta subunit besar (bagian atas) dan subunit kecil (bagian bawah)
dari ribosom.
(B) Jalur fosforilasi oksidatif:
Menunjukkan kompleks I–V dari rantai transpor elektron mitokondria.
Pada kedua panel, gen diberi warna
berdasarkan nilai log₂ fold-change, yaitu:
- gradasi warna merah menunjukkan peningkatan
ekspresi gen (upregulation),
- gradasi warna hijau menunjukkan penurunan
ekspresi gen (downregulation),
- warna abu-abu menunjukkan perubahan ekspresi yang
tidak signifikan secara statistik.
Bilah warna pada pojok kanan atas merepresentasikan skala nilai log₂ fold-change.
4. PEMBAHASAN
4.1. Performa Pertumbuhan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggantian tepung ikan (fish
meal, FM) secara penuh dengan Spirulina secara signifikan meningkatkan
berat akhir, laju pertumbuhan spesifik, dan rasio efisiensi protein pada ikan
zebra (Danio rerio), tanpa adanya mortalitas maupun tanda-tanda klinis
selama periode percobaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa Spirulina aman dan dapat diterima dengan baik
dalam kondisi percobaan yang dilakukan, serta sejalan dengan laporan sebelumnya
yang menyatakan bahwa Spirulina memiliki efek meningkatkan pertumbuhan pada
berbagai spesies ikan [30–32].
Namun demikian, respons terhadap Spirulina
bersifat spesifik terhadap spesies. Pada ikan catla (Catla catla),
penggantian tepung ikan secara penuh dengan Spirulina, yang setara dengan
sekitar 30% inklusi dalam pakan, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap
pertumbuhan [33]. Demikian pula pada ikan mas (Cyprinus carpio),
penggantian tepung ikan secara penuh dengan Spirulina tidak menyebabkan
perubahan yang signifikan pada performa pertumbuhan [34].
Sebaliknya, pada ikan seabream perak (Rhabdosargus
sarba), pertumbuhan menurun ketika 75% tepung ikan digantikan, dan
penurunan tersebut menjadi lebih signifikan pada tingkat penggantian 100%.
Hasil tersebut juga disertai dengan penurunan konsumsi pakan pada tingkat
inklusi Spirulina yang lebih tinggi, yang mengindikasikan kemungkinan adanya
keterbatasan dalam palatabilitas dan/atau kecernaan pakan [35].
Selain itu, dalam penelitian pada ikan
seabream tersebut, Spirulina digunakan sebagai satu-satunya sumber protein pada
pakan dengan penggantian tepung ikan sebesar 100%. Sebaliknya, dalam penelitian
ini, meskipun tepung ikan digantikan sepenuhnya, Spirulina hanya menyumbang
sekitar 5% dari total komposisi pakan, sehingga berpotensi mengurangi efek
antinutrisi atau masalah palatabilitas yang mungkin muncul pada tingkat inklusi
yang lebih tinggi.
Peningkatan performa pertumbuhan yang diamati dalam penelitian ini dapat
dijelaskan melalui beberapa mekanisme.
Pertama, profil asam amino Spirulina, yang
mengandung seluruh asam amino esensial [36], mendukung sintesis protein dan
anabolisme otot. Hal ini sejalan dengan
nilai rasio efisiensi protein (PER) yang lebih tinggi yang diamati pada
penelitian ini.
Kedua, Spirulina mengandung lipid bermanfaat dan pigmen bioaktif, seperti
fikosianin (phycocyanin) dan karotenoid, yang memiliki aktivitas
antioksidan. Senyawa-senyawa ini dapat melindungi hepatosit serta
mengoptimalkan metabolisme hati, sehingga meningkatkan pemanfaatan protein
[37].
Selain itu, fikosianin juga dilaporkan berkaitan dengan peningkatan
aktivitas enzim pencernaan, yang dapat memperlancar proses pencernaan dan
penyerapan nutrien [38].
Spirulina juga dilaporkan mampu memodulasi mikrobiota usus, dengan
meningkatkan populasi bakteri yang berperan dalam hidrolisis peptida dan
metabolisme asam empedu, yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan
nutrien [39,40].
Mekanisme-mekanisme tersebut membantu menjelaskan pola yang diamati dalam
penelitian ini, di mana berat akhir (FW), pertambahan bobot (WG), laju
pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pakan (FE), dan rasio efisiensi protein
(PER) mulai menunjukkan peningkatan sejak perlakuan SM30, dengan nilai
tertinggi umumnya tercatat pada perlakuan SM40 dan SM50.
4.2. Performa Reproduksi
Keberhasilan reproduksi ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- nutrisi induk (broodstock nutrition),
- tingkat pemberian pakan (feeding rates),
- kepadatan tebar (stocking density),
- umur dan ukuran induk (age and size of
broodstock) [41,42].
Dalam penelitian ini, performa reproduksi
ikan zebra (Danio rerio) dipengaruhi secara signifikan oleh penggantian
tepung ikan dengan Spirulina dalam pakan.
Nilai indeks gonadosomatik (GSI) pada ikan
betina yang diberi pakan SM50 (10,1%) secara signifikan lebih tinggi
dibandingkan dengan ikan betina pada kelompok SM0 (6,31%).
Selain itu, terjadi peningkatan produksi
telur sekitar 2,5 kali lipat pada ikan betina yang diberi pakan dengan
kandungan Spirulina 50 g kg⁻¹, dibandingkan dengan ikan betina pada kelompok
SM0.
Hasil ini sejalan dengan laporan James et al.
[43], yang melaporkan bahwa ikan red swordtail (Xiphophorus helleri)
betina menunjukkan peningkatan nilai GSI sebagai respons terhadap peningkatan
kadar Spirulina dalam pakan.
Penulis yang sama juga melaporkan bahwa ikan
yang diberi pakan dengan kandungan Spirulina 8% menunjukkan bobot gonad hingga
empat kali lebih besar dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan dengan 0%
atau 3% Spirulina.
Peningkatan signifikan pada GSI, produksi
telur, dan tingkat penetasan yang diamati pada kelompok yang diberi Spirulina
(SM40 dan SM50) menunjukkan adanya peningkatan performa reproduksi yang
substansial.
Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengidentifikasi
beberapa mekanisme fisiologis utama. Sebagai contoh, Calabrò et al. [44]
melaporkan bahwa suplementasi Spirulina mempercepat pematangan seksual dan
secara signifikan meningkatkan ekspresi vitelogenin (vitellogenin, vtg),
yaitu protein prekursor utama kuning telur.
Melengkapi temuan tersebut, Coli et al. [30] melaporkan adanya peningkatan
signifikan pada diameter rata-rata oosit tahap IV pada ikan yang diberi pakan
dengan kandungan Spirulina 4–8%, yang mencerminkan peningkatan deposisi
vitelogenin tanpa mengubah distribusi tahapan pematangan oosit.
Sementara penelitian-penelitian tersebut menjelaskan mekanisme fisiologis,
temuan dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang jelas antara mekanisme
tersebut dengan hasil reproduksi yang terukur.
Secara khusus, peningkatan vitelogenesis yang
diamati dalam penelitian ini berkaitan dengan:
- peningkatan indeks gonadosomatik (GSI),
- produksi telur yang lebih tinggi,
- peningkatan tingkat penetasan telur.
Pengaruh positif Spirulina terhadap
keberhasilan penetasan tidak hanya terjadi pada ikan zebra; hasil serupa juga
dilaporkan pada spesies lain, seperti ikan cichlid ekor kuning (yellow-tail
cichlid) [45].
Dengan mengintegrasikan temuan penelitian ini
dengan hasil yang dilaporkan oleh Calabrò et al. [44] dan Coli et al. [30],
hasil penelitian ini mendukung penggunaan Spirulina sebagai bahan fungsional
dalam pakan induk ikan zebra.
Mekanisme utama yang mendasari efek tersebut
tampaknya berkaitan dengan peningkatan proses vitelogenesis, yang kemungkinan
dimediasi oleh kandungan karotenoid dan senyawa antioksidan dalam mikroalga
tersebut.
Analisis multivariat menggunakan principal
component analysis (PCA) juga menegaskan peningkatan ini, dengan menunjukkan
bahwa perlakuan dengan tingkat inklusi Spirulina tertinggi (SM40 dan SM50)
berkorelasi signifikan dengan peningkatan parameter pertumbuhan (FW, WG,
SGR, TL) serta parameter reproduksi (GSI, produksi telur, dan tingkat
penetasan).
Efek tersebut dapat dikaitkan dengan
komposisi nutrisi Spirulina, yang meliputi fikosianin, β-karoten, asam lemak
esensial, vitamin, dan mineral, yang diduga mendukung proses anabolik,
perkembangan gonad, dan viabilitas gamet melalui mekanisme antioksidan dan
imunomodulator [31,46].
Temuan ini konsisten dengan berbagai
penelitian sebelumnya pada berbagai spesies ikan [30,31,45,46], yang mendukung
penggunaan Spirulina sebagai bahan pakan fungsional untuk meningkatkan performa
reproduksi sekaligus pertumbuhan ikan secara keseluruhan.
4.3. Ekspresi Gen Diferensial
Kesehatan ikan serta pertumbuhan yang optimal
sangat berkaitan erat dengan kualitas nutrien yang dikonsumsi oleh ikan.
Pemahaman mengenai dampak nutrisi terhadap pertumbuhan dan sistem imun ikan
menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara
menggunakan pakan formulasi [47,48].
Sekuensing transkriptom merupakan alat yang
sangat berharga untuk mengkarakterisasi ekspresi gen yang mendasari berbagai
mekanisme biologis yang terlibat dalam pertumbuhan, reproduksi, imunitas, dan
respons terhadap stres pada ikan [47–49].
Dalam penelitian ini, analisis sekuensing
transkriptom mengidentifikasi 2.299 gen yang diekspresikan secara diferensial (differentially
expressed genes, DEGs), yang kemudian dikelompokkan berdasarkan istilah
Gene Ontology (GO) yang sesuai.
Analisis profil ekspresi gen diferensial pada
ikan yang diberi pakan Spirulina menunjukkan adanya regulasi positif terhadap
sejumlah gen penting yang berkaitan dengan perkembangan dan fungsi otot pada
ikan zebra (Danio rerio).
Dalam kategori GO Biological Process (BP),
beberapa proses seperti perkembangan struktur otot, diferensiasi sel, dan
perkembangan sel otot menunjukkan tingkat pengayaan yang signifikan. Hal ini mengindikasikan aktivasi jalur biologis
yang berkaitan dengan pembentukan serta pemeliharaan jaringan otot.
Analisis GO menunjukkan adanya aktivasi proses perkembangan otot, sementara
analisis jalur KEGG mengungkapkan peningkatan ekspresi pada jalur metabolisme
utama. Kedua temuan yang saling melengkapi ini menunjukkan adanya respons
anabolik yang terkoordinasi pada ikan zebra yang disuplementasi dengan
Spirulina.
Secara khusus, pengayaan pada jalur ribosom menunjukkan peningkatan
kapasitas translasi, yang merupakan kondisi fundamental untuk mendukung
sintesis protein struktural, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup organisme
[50,51].
Selain itu, jalur fosforilasi oksidatif juga menunjukkan aktivasi yang
signifikan, yang mengindikasikan peningkatan produksi ATP, suatu proses yang
sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi selama pertumbuhan dan
diferensiasi otot [52].
Jalur glikolisis/glukoneogenesis juga mengalami pengayaan, yang menunjukkan
adanya peningkatan aliran metabolisme glikolitik untuk menyediakan energi serta
intermediator metabolik yang diperlukan dalam biosintesis komponen seluler.
Lebih lanjut, suplementasi Spirulina pada ikan zebra meningkatkan regulasi
beberapa jalur biologis yang sangat penting bagi pertumbuhan otot dan
metabolisme energi seluler, antara lain:
- ribosom/translasi protein,
- fosforilasi oksidatif,
- organisasi sarkomer,
- pensinyalan kalsium,
- glikolisis/glukoneogenesis.
Hasil penelitian ini mendukung pemanfaatan
Spirulina sebagai bahan pakan fungsional yang berpotensi memberikan manfaat
bagi efisiensi produksi serta kesehatan ikan.
Karena sumbu biologis tersebut bersifat
terkonservasi pada berbagai spesies ikan teleostei [18,53], mekanisme yang
diidentifikasi dalam penelitian ini kemungkinan juga dapat diterapkan pada
spesies ikan yang memiliki nilai komersial tinggi, seperti ikan nila (Oreochromis
niloticus), ikan mas (Cyprinus carpio), dan kelompok salmonid.
Transkrip atau protein tertentu dari
jalur-jalur tersebut berpotensi digunakan sebagai biomarker kandidat untuk
membantu perumusan pakan yang lebih tepat serta pemantauan status nutrisi dalam
sistem produksi akuakultur.
Namun demikian, penelitian validasi lintas
spesies masih diperlukan untuk menentukan hubungan dosis–respons serta
mengevaluasi dampak jangka panjang, termasuk terhadap kinerja fungsional dan
ketahanan terhadap stres, dalam kondisi lingkungan yang relevan dengan sistem
budidaya.
REFERENSI
- Chiu, A.; Li, L.; Guo, S.; Bai, J.; Fedor, C.;
Naylor, R.L. Feed and fishmeal use in the production of carp and tilapia
in China. Aquaculture 2013, 414–415, 127–134.
- Nakagawa, H.; Sato, M.; Gatlin, D.M. Dietary
Supplements for the Health and Quality of Cultured Fish. CABI
Publishing: Oxfordshire, UK, 2007.
- Tacon, A.G.J.; Metian, M. Feed matters:
Satisfying the feed demand of aquaculture. Rev. Fish. Sci. Aquac. 2015,
23, 1–10.
- Glencross, B.; Ling, X.; Gatlin, D.; Kaushik, S.;
Øverland, M.; Newton, R.; Valente, L.M.P. A SWOT analysis of the use of
marine, grain, terrestrial-animal and novel protein ingredients in
aquaculture feeds. Rev. Fish. Sci. Aquac. 2024, 32,
396–434.
- Ahmad, A.; Hassan, W.S.; Banat, F. An overview of
microalgae biomass as a sustainable aquaculture feed ingredient: Food
security and circular economy. Bioengineered 2022, 13,
9521–9547.
- Eilam, Y.; Khattib, H.; Pintel, N.; Avni, D.
Microalgae—Sustainable source for alternative proteins and functional
ingredients promoting gut and liver health. Glob. Chall. 2023,
7, 2200177.
- Ali, S.S.; Al-Tohamy, R.; Al-Zahrani, M.;
Schagerl, M.; Kornaros, M.; Sun, J. Advancements and challenges in
microalgal protein production: A sustainable alternative to conventional
protein sources. Microb. Cell Factories 2025, 24, 61.
- Wu, Q.; Liu, L.; Miron, A.; Klímová, B.; Wan, D.;
Kuča, K. The antioxidant, immunomodulatory, and anti-inflammatory
activities of Spirulina: An overview. Arch. Toxicol. 2016, 90,
1817–1840.
- Abdelkhalek, N.K.M.; Ghazy, E.W.; Abdel-Daim,
M.M. Pharmacodynamic interaction of Spirulina platensis and
deltamethrin in freshwater fish Nile tilapia (Oreochromis niloticus):
Impact on lipid peroxidation and oxidative stress. Environ. Sci.
Pollut. Res. 2015, 22, 3023–3031.
- Güroy, B.; Güroy, D.; Bilen, S.; Kenanoğlu, O.N.;
Şahin, I.; Terzi, E.; Karadal, O.; Mantoğlu, S. Effect of dietary
Spirulina (Arthrospira platensis) on the growth performance,
immune-related gene expression and resistance to Vibrio anguillarum
in European seabass (Dicentrarchus labrax). Aquac. Res. 2022,
53, 2263–2274.
- Shokri, H.; Khosravi, A.; Taghavi, M. Efficacy
of Spirulina platensis on Immune Functions in Cancer Mice with Systemic
Candidiasis. University of Tehran: Tehran, Iran, 2014.
- Abdel-Daim, M.M.; Dawood, M.A.O.; Elbadawy, M.;
Aleya, L.; Alkahtani, S. Spirulina platensis reduced oxidative
damage induced by chlorpyrifos toxicity in Nile tilapia (Oreochromis
niloticus). Animals 2020, 10, 473.
- Awed, E.M.; Sadek, K.M.; Soliman, M.K.; Khalil,
R.H.; Younis, E.M.; Abdel-Warith, A.W.A.; Van Doan, H.; Dawood, M.A.O.;
Abdel-Latif, H.M.R. Spirulina platensis alleviated oxidative damage
in the gills, liver, and kidney of Nile tilapia intoxicated with sodium
sulphate. Animals 2020, 10, 2423.
- Belal, E.B.; Khalafalla, M.M.E.; El-Hais, A.M.A.
Use of Spirulina (Arthrospira fusiformis) for promoting growth of
Nile tilapia fingerlings. Afr. J. Microbiol. Res. 2012, 6,
6423–6431.
- Teimouri, M.; Amirkolaie, A.K.; Yeganeh, S. The
effects of Spirulina platensis meal as a feed supplement on growth
performance and pigmentation of rainbow trout (Oncorhynchus mykiss).
Aquaculture 2013, 396–399, 14–19.
- Ulloa, P.E.; Iturra, P.; Neira, R.; Araneda, C.
Zebrafish as a model organism for nutrition and growth: Toward comparative
studies of nutritional genomics applied to aquacultured fishes. Rev.
Fish Biol. Fish. 2011, 21, 649–666.
- Ribas, L.; Piferrer, F. The zebrafish (Danio
rerio) as a model organism, with emphasis on applications for finfish
aquaculture research. Rev. Aquac. 2014, 6, 209–240.
- Piferrer, F.; Ribas, L. The use of the zebrafish
as a model in fish aquaculture research. Fish Physiol. 2020,
38, 273–313.
- Choi, T.Y.; Choi, T.I.; Lee, Y.R.; Choe, S.K.;
Kim, C.H. Zebrafish as an animal model for biomedical research. Exp.
Mol. Med. 2021, 53, 310–317.
- Carneiro, W.F.; Castro, T.F.D.; Orlando, T.M.;
Meurer, F.; Paula, D.A.J.; Virote, B.C.R.; Vianna, A.R.C.B.; Murgas,
L.D.S. Replacing fish meal by Chlorella sp. meal: Effects on
zebrafish growth, reproductive performance, biochemical parameters and
digestive enzymes. Aquaculture 2020, 528, 735612.
- O’Brine, T.M.; Vrtelová, J.; Snellgrove, D.L.;
Davies, S.J.; Sloman, K.A. Growth, oxygen consumption, and behavioral
responses of Danio rerio to variation in dietary protein and lipid
levels. Zebrafish 2015, 12, 296–304.
- AOAC. Official Methods of Analysis of AOAC
International, 18th ed.; Association of Official Analytical Chemists:
Gaithersburg, MD, USA, 2005.
- Dobin, A.; Davis, C.A.; Schlesinger, F.; Drenkow,
J.; Zaleski, C.; Jha, S.; Batut, P.; Chaisson, M.; Gingeras, T.R. STAR:
Ultrafast universal RNA-Seq aligner. Bioinformatics 2013, 29,
15–21.
- Liao, Y.; Smyth, G.K.; Shi, W. FeatureCounts: An
efficient general-purpose program for assigning sequence reads to genomic
features. Bioinformatics 2014, 30, 923–930.
- Love, M.I.; Huber, W.; Anders, S. Moderated
estimation of fold change and dispersion for RNA-Seq data with DESeq2. Genome
Biol. 2014, 15, 550.
- Benjamini, Y.; Hochberg, Y. Controlling the false
discovery rate: A practical and powerful approach to multiple testing. J.
R. Stat. Soc. B 1995, 57, 289–300.
- Young, M.D.; Wakefield, M.J.; Smyth, G.K.;
Oshlack, A. Gene ontology analysis for RNA-Seq: Accounting for selection
bias. Genome Biol. 2010, 11, R14.
- Kanehisa, M.; Goto, S.; Sato, Y.; Furumichi, M.;
Tanabe, M. KEGG for integration and interpretation of large-scale
molecular data sets. Nucleic Acids Res. 2012, 40,
D109–D114.
- Cock, P.J.A.; Fields, C.J.; Goto, N.; Heuer,
M.L.; Rice, P.M. The Sanger FASTQ file format for sequences with quality
scores, and the Solexa/Illumina FASTQ variants. Nucleic Acids Res. 2009,
38, 1767–1771.
- Coli, A.P.; Carneiro, W.F.; da Silva, K.C.D.;
Castro, T.F.D.; de Oliveira, J.P.L.; de Martins, M.S.A.; Murgas, L.D.S.
Spirulina (Arthrospira platensis) supplementation: Impact on
growth, metabolism, and antioxidant status in zebrafish. J. Anim.
Physiol. Anim. Nutr. 2024, 108, 1189–1202.
SUMBER:
William Franco Carneiro, Pamela
Navarrete-Ramírez, Tassia Flávia Dias Castro, Estéfany Ribeiro Leão, Carlos
Cristian Martínez-Chávez, Carlos Antonio Martínez-Palacios, and Luis David
Solis Murgas. 2025. Replacing Fish Meal with Spirulina (Arthrospira
platensis): Nutrigenomic Modulation of Growth, Reproductive Performance,
and Metabolism in Zebrafish. Animals 2025, 15, 2552. https://doi.org/10.3390/ani15172552
#InovasiAkuakultur
#PakanIkanBerkelanjutan
#SuperfoodAquaculture
#Bioteknologi
#SustainableAquaculture

No comments:
Post a Comment