Presiden Joko Widodo menghadiri panen raya padi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang merupakan salah satu daerah yang mulai memasuki musim panen padi pada tahun 2015.
Sunday, 8 March 2015
Presiden Joko Widodo Panen Raya Padi di Ponorogo
Presiden Joko Widodo menghadiri panen raya padi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang merupakan salah satu daerah yang mulai memasuki musim panen padi pada tahun 2015.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
18:25
0
comments
Labels: Swasembada Pangan
Thursday, 27 November 2014
Pangan 2.0: Revolusi Makanan Masa Depan dari Lembah Silicon yang Bisa Mengubah Dunia
Imposible Foods yang didirikan oleh Pat Brown memamerkan makanan buatannya. Salah satu yang ditampilkan adalah burger yang dibuat dari berbagai sayuran. Seluruh proses pembuatan burger itu masih dirahasiakan karena sangat mungkin terkait dengan hak cipta dan paten.
Dalam vedio yang ditampilkan, sayuran dimasukan ke dalam sebuah mesin. Kemudian dalam sesi berikutnya terlihat daging yang digunakan untuk burger. Pat menegaskan, ia tidak membuat daging alternatif, tetapi ia menyatakan, Imposible Foods membuat daging dengan cara yang lebih baik.
Alasan pembuatan daging tanpa hewan ini adalah betapa mahalnya pembentukan sel daging hewan, mulai dari pengadaan pakan hewan, pembiakan hewan, pertumbuhan hewan, hingga pemotongan hewan. Dalam rantai ini membutuhkan banyak energi terbuang. Di sisi lain, harga daging dinilai masih mahal. Burger ini hanyalah satu produk pangan 2.0.
Rintisan usaha pangan masa depan ini ingin ikut menangguk dana besar dari ledakan kapitalis di Lembah Silicon. Bahkan mereka telah ancang-ancang untuk menggantikan teknologi digital yang menjadi fokus utama Lembah Silikon. Mereka yakin suatu saat industri pangan masa depan itu akan menjadi mercusuar Lembah Silikon itu. Mereka beralasan ledakan penduduk masa depan membutuhkan penyelesaian dalam produksi pangan.
Tanpa inovasi, miliaran penduduk akan kelaparan dan mati pada masa depan. Menengok ke tanah air sepertinya kita juga membutuhkan loncatan besar untuk menyiapkan pangan masa depan. Hal itu menantang kita semua.
Sumber:
Kompas 24 November 2014 hal 17.
#PanganMasaDepan
#FoodTech
#Pangan20
#InovasiPangan
#KetahananPangan
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
15:36
1 comments
Labels: KETAHANAN PANGAN
Saturday, 14 June 2014
Kemakmuran naik, Kesenjangan Menurun
Kemakmuran naik, Kesenjangan Menurun
Indonesia, menurut Bank Dunia, merupakan negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar ke 10 di dunia berdasarkan paritas daya beli. Negara Asia lain yang masuk kelompok 10 besar adalah Tiongkok, India dan Jepang.
Secara rata-rata kemakmuran Indonesia meningkat 4,87 persen, tetapi distribusinya tak merata. Pada kelompok 40 persen masyarakat berpenghasilan rendah, peningkatan kesejahteraan hanya sekitar 2 persen. Adapun 20 persen kelompok yang berpenghasilan tinggi, kenaikan kesejahteraan di atas 8 persen. Artinya kelompok miskin menerima lebih sedikit manfaat pembangunan dibandingkan kelompok tidak miskin.
Berdasarkan pengeluaran rumah tangga, menurut badan pusat statistik (BPS), angka rasio gini meningkat dari 0,33 pada 2002 menjadi 0,41 pada 2011 - 2013.
Di perkotaan ketimpangan lebih tinggi dari pada di pedesaan, yaitu 0,43 persen pada tahun 2013, dengan kecenderungan semakin senjang. Di pedesaan besarnya 0,32 pada tahun 2013, menurun dibandingkan pada tahun 2011 (0.34 persen) dan pada tahun 2012 ( 0,33).
Ketimpangan kesempatan dianggap sebagai penyebab mendasar yang harus diatasi, misalnya dengan memberikan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dan kesehatan antara desa dan kota di seluruh penjuru tanah air.
Ketimpangan kemakmuran disebabkan pilihan kebijakan. Subsidi BBM misalnya mengurangi kemampuan pemerintah membangun infrastruktur serta membbuat cakupan dan manfaat program bantuan sosial relatif rendah.
Terlalu mengandalkan pada ekspor berbasis sumber daya alam, terutama di kawasan timur Indonesia, ketika harga komoditas terus menurun sejak dua tahun terakhir.
Ketimpangan antara Jawa-Sumatera dan kawasan timur, terlihat dari aliran uang kartal dari non-Jawa menuju Jawa. Padahal selama lima tahun terakhir penyaluran transfer ke dareah dari total APBN dan terhadap PDB relatif stabil, yaitu 30 persen dan 5 persen.
Ketimpangan tingkat kesejahteraan antarkabupaten/kota memang menurun karena otonomi daerah, tetapi ketimpangan di kabupaten / kota meningkat.
Jalan Keluar
Upaya pemetintah untuk mengerem ekspor komoditas berbahan sumber daya alam harus konsisten dilaksanakan untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja.
Lapangan kerja harus diciptakan untuk memindahkan sebanyak mungkin tenaga kerja dati sektor pertanian ke non-pertanian. Artinya membangun industri mafaktur, termaduk agroindustri, berbasis pedesaan.
Reforma agraria, yaitu memberikan petani akses lebih adil, atas tanah, menjadi syarat mengurangi ketimpangan dan kemiskinan.
Subsiidi energi perlu dikurangi dan dialihkan untuk membangun infrastruktur vital serta program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan. Negara-negara Amerika Latin berhasil menurunkan kesenjangan karena melaksanakan program sosial secara progresif.
Meningkatkan inklusi keuangan akan menambah jumlah orang yang bethubungan formal dengan perbankan dan meningkatkan akses UMKM tehadap permodalan.
Setelah permasalahan diidentifikasi dan jalan keluarnya dipetakan, perlu dilanjutkan komitmen bersama untuk bekerja secara fokus dan berkelanjutan.
Sumber: Kompas 13 Juni 2014.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
11:18
0
comments
Labels: Kemakmuran
Sunday, 8 June 2014
Pekan KTNA XIV Tahun 2014 di Malang
Presiden juga mengingatkan bahwa Koperasi Usaha Kecil dan Menengah yang melayani petani dan nelayan harus berkembang.
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
09:36
1 comments
Labels: Penas KTNA
Wednesday, 2 April 2014
Pilihan Peningkatan Industri Pertanian
1. Memberikan nasehat dalam mengelola usaha tani, penguasaan teknologi, dan penyebaran informasi pertanian,
2. Mengumpulkan, mengangkut, dan mendistribusikan serta menjual produk pertanian,
3. Penyediaan sarana produksi,
4. Mengatur pengolahan produk pertanian dan penyimpanan produk,
5. Sebagai Bank, dan
6. Sebagai badan asuransi.
Daftar bacaan:
Posted by
Drh.Pudjiatmoko,PhD
at
11:26
0
comments
Labels: Koperasi Pertanian
