Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 25 July 2008

Mangga Apel Jepang Laris Manis! Rahasia Budidaya Greenhouse Kumamoto Tembus Harga Fantastis!

Pertanian Mangga Apel di pertanian milik Pak Keiichi Ueno terletak di wilayah Jepang Selatan, jarang sekali turun salju, ketinggian 50 m di atas permukaan air laut. Alamatnya 5064 Nonoshima, Koshi-shi, Kumamoto 861-1103. Dalam kegiatan budidaya mangga ini keluarga Ueno dibantu oleh petani muda magang dari Indonesia Sdr. Ramdan Triwiguno yang berasal dari Garut, Jawa Barat.

Disebut mangga apel karena warnanya merah-kuning mirip warna apel. Aromanya harum, rasanya manis. Bibit pohon mangga ini diperoleh dari Okinawa, biasa dibeli 10.000 yen per pohon. Pohon mangga di tanam dalam green house yang dilengkapi dengan pembuka dan penutup dinding dan van secara otomatis untuk pengaturan suhu. Suhu dijaga sekitar 24 – 30 C. Mangga ditanam dengan jarak antar pohon 4 m. Di atas lahan seluas 4000 m2 dibudidayakan 450 pohon mangga, 150 pohon berumur 6 tahun, 150 pohon berumur 8 tahun dan 150 pohon berumur 10 tahun.

Untuk memudahkan dalam perawatan dan pemanenan mangga, tinggi pohon dipertahankan sekitar 2 m dengan cara memangkas cabang dahan pohon secara teratur. Untuk mengatur jumlah buah supaya besarnya seragam, setiap cabang dahan pohon yang akan mengeluarkan buah diusahakan hanya berranting dua. Untuk menjaga mangga menyebar merata dengan posisi mudah dijangkau untuk perawatannya, setiap ranting pohon yang terdapat mangga digantung dengan tali.

Untuk membuat buah mangga matang dipohon dengan kwalitas bagus, setiap buah dilindungi dengan jaring lentur yang digantung dengan tali putih berkait hijau. Buah yang sudah matang akan terlepas dari tangkainya secara alami tanpa dipetik dan tetap terbungkus jaring lentur yang masih menggantung. Dengan demikian kulit mangga yang telah matang tersebut tetap mulus dan tidak rusak. Pada masa panen tiba, pengambilan mangga matang dilakukan setiap hari.

Satu pohon mangga dapat menghasilkan 150 – 200 buah. Masa panen mangga pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Mangga dipilih sehingga berukuran seragam dengan mutu prima, dikemas dalam kardus yang kuat, rapih dan bercorak menarik. Harga sebuah mangga seberat 350 gram sekitar 2.000 yen, ada juga yang mencapai 2.500 yen.

Cara pemasarannya sangat mudah yaitu dengan memenuhi pesanan per telepon atau fax. Para pemesan sudah tahu benar mutu mangga apel dari Kumamoto ini, mereka memesan untuk dikirimkan ke relasi dan handai tolannya sebagai hadiah. Mr. Ueno petani mangga ini mengirimkan ke alamat yang dipesan pembelinya menggunakan Takyubin (jasa pengiriman barang). Satu paket isi dua buah harganya 4000 yen sedangkan yang isi 5 buah 7.500 yen.

Untuk memenuhi permintaan masyarakat sekitarnya di dekat rumahnya juga disediakan kios mangga untuk melayani mereka yang datang langsung ke tempat pertaniannya. Setiap musim panen mangga laris terjual habis, Mr. Keiichi Ueno sering mengucapkan permohonan maaf kepada pelanggan karena tidak dapat mengirimkan pesanannya.

Mangga-mangga RI yang rasanya eunak, dipersilahkan bersaing sejak 1 Juli tahun ini (2008) masuk pasar Jepang bebas bea masuk, jangan disia-siakan kesempatan ini.


Dinding green house dapat dibuka tutup untuk mengatur suhu udara yang disertai dengan van
















Ranting tangkai buah digantung dengan tali putih menggunakan pengait hijau agar posisi mangga mudah dijangkau ketika pembungkusan dan pemanenan
















Setiap buah yang sudah besar dilindungi dengan jaring lentur agar dapat menghasilkan mangga yang matang, kulit mulus warna merah-kuning merata
















Mangga menjelang matang belum terlepas dari tangkainya


























Mangga yang sudah matang terlepas dari tangkainya secara alami (tidak dipetik dengan tangan), masih terbungkus rapih di tempatnya, siap dipanen secepatnya






















Satu paket isi 5 buah mangga seharga 7.500 yen bisa dikirim ke seluruh penjuru Jepang menggunakan jasa pengiriman Takyubin
















Kios mangga apel di dekat rumah untuk masyarakat sekitar Kumamoto

Thursday, 24 July 2008

Harga Belut Jepang Melonjak 10%! Krisis Pasokan & Isu Keamanan Picu Kepanikan Pasar

Harga belut Jepang yang dijual di restoran meningkat sampai sekitar 10% disebabkan hasil tangkapan dalam negeri sedikit dan belut murah yang di budidayakan di China dihindari karena masalah keamanan. Harga belut bakar meningkat ketika menjelang hari puncak musim panas yang jatuh pada tanggal 24 Juli 2008, waktu kebiasaan masyarakat Jepang makan belut bakar untuk mencegah keletihan musim panas.

Restoran Kiyokawa, sebuah restoran belut yang telah berumur ratusan tahun di Kawasan Nihonbashi, Tokyo merupakan salah satu restoran yang akhir-akhir ini telah menaikan harga belut yang disajikannya. “Harga beli belut Jepang mulai naik sejak bulan Oktober tahun 2007 dan kami tidak ada pilihan untuk menaikan harga jual” kata pemilik Restoran Yoshi Watanabe, yang telah menaikkan harga belut bakar beserta nasi dari 3.200 yen menjadi 3.500 yen pada bulan April 2008.

Pada jaringan "Convenience Store" am/pm Japan Co., menaikan harga belut bakar sebanyak 11%, harganya menjadi 980 yen setelah mengganti belut China menjadi belut Jepang. Akan tetapi di pihak lain jaringan Supermarket Aeon Co., memutuskan untuk memperoleh belut China lebih banyak dalam rangka memperluas hidangan makanan-belut. Aeon menjual belut bakar China 880 yen per 200 gram, dan mengaku bahwa produknya berkwalitas baik dan bebas dari bahan kimia.

Menurut Fisheries Agency, tahun lalu Jepang telah mensuplai sekitar 103.000 ton belut. Sekitar 20% berasal dari dalam negeri Jepang dan 60% diimpor dari China. Akan tetapi impor belut dari China menurun drastis setelah terjadi kasus keracunan-makanan pada bulan Januari 2008 diusut tercemar dari "Gyoza" beku diimpor dari China. Terjadi peningkatan perhatian kemanan terhadap produk makan yang diimpor dari China setelah terjadi skandal pemalsuan label dari sebuah perusahaan yang diduga menjual belut bakar yang dibudidayakan di China sebagai produk buatan Jepang.

Saran kami dari Jepang untuk menggunakan momentum ini dengan baik agar pembudidaya belut di Indonesia mengembangkan produknya baik secara kwalitas maupun kwantitas untuk memenuhi pasar Jepang.

Sumber : www.beritaiptek.com dari The Japan Times 20 Juli 2008


#HargaBelutJepang 
#KrisisPangan 
#ImporChina 
#PasarJepang 
#PerikananGlobal

Wednesday, 23 July 2008

Menyusui anak sapi dengan mesin

Telah dilakukan kunjungan ke peternakan sapi pedaging milik Mr. Keio Soma di 3-17-15 Suizenji, Kumamoto 862-0950 pada tanggal 22 Juli 2008. Dalam kandang seperti terlihat pada gambar disebelah dipelihara 20 ekor anak sapi (pedet). Di peternakan ini pedet diberikan air susu menggunakan mesin secara otomatis. Mesin tersebut disimpan pada bagian luar terlihat seperti almari warna hitam (tengah). Untuk pedet umur tertentu diberikan minum air susu sebanyak 4000 ml setiap hari. Pedet diberikan 500 ml air susu setiap dua jam sekali sehingga dalam sehari pedet minum sebanyak 8 kali.

Dalam mesin tersebut terdapat tempat penyimpanan susu bubuk dan tempat penyimpanan air hangat matang yang terpisah (Gambar ke 4 dari atas). Pada saat pedet mau minum air susu, sapi akan mendekat ke tempat air susu keluar (Gambar ke 3 dari atas). Ketika masuk didepan mesin tempat pengeluaran air susu, dalam waktu singkat sekitar 10 detik secara otomatis mesin mempersiapkan air susu dengan cara mencampur air matang hangat dan 100 gram susu bubuk sehingga volumenya menjadi 500 ml.

Pedet akan minum air susu tersebut tepat 500 ml. Pedet yang sudah minum akan tercatat oleh mesin dengan cara merekam nomor yang terdapat pada leher pedet (Gambar ke 2 dari atas) sehingga dalam waktu kurang dua jam pedet tidak dapat minum lagi air susu. Pedet dapat minum kembali setelah 2 jam kemudian. Karena jatah minum sehari sebanyak 4000 ml maka pedet diberikan kesempatan minum sebanyak 8 kali.

Dari alat ini bisa diketahui pedet mana yang napsu minumnya berkurang karena mesin dapat memonitor pedet mana yang minum air susunya kurang dari 4000 ml. Pedet yang mengalami penurunan napsu minum air susu akan diukur suhu badan, berat badan, dan seterusnya untuk mendiagnosa apakah sapi yang napsu minumnya turun terkena penyakit.

Jadi mesin ini selain digunakan untuk mengontrol jumlah air susu yang diberikan juga sekali gus sebagai alat untuk memonitor kesehatan pedet.


Dari atas ke bawah berturut-turut adalah Gambar ke 1, 2, 3 dan 4 dari atas.

Gambar ke 1 dari atas. Dua puluh ekor sapi yang seumur ditempatkan dalam satu kandang.















Gambar ke 2 dari atas. Setiap sapi terdapat nomor identitas dipasang pada leher agar mudah direkam oleh mesin.















Gambar ke 3 dari atas. Anak sapi yang sedang minum air susu didepan mesin menunduk posisi kepala di sebelah kiri.






















Gambar ke 4 dari atas. Mesin terdapat di luar kandang yang menyediakan air susu secara otomatis ketika pedet datang. Terlihat sebelah kiri terdapat tempat penyimpanan susu bubuk, sebelah kanan penyimpanan air hangat dan di tengah tempat pengadukan air hangat dan susu bubuk. Di balik dinding yang berwarna coklat terdapat keluarnya air susu berada di dalam kandang.