Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 27 September 2010

Chlamydiosis pada Kucing Disebabkan oleh Chlamydophila felis


Pendahuluan

Feline Chlamydiosis atau Chlamydiosis pada kucing disebabkan oleh Chlamydophila felis (C. felis) dengan gejala klinis pneumonia dan konjungtivitis. Chlamydophila felis pertama kali diisolasi dari kucing yang menderita pneumonia oleh Baker pada tahun 1944. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar luas ke seluruh dunia, kasus penyakit tersebut telah dilaporkan terjadi di Amerika Serikat (Cello, 1967), Kanada (Studdert et al., 1981), Australia (Shewen, et al 1978) dan Inggris (Gethings et al, 1987).

Infeksi
C. felis sering disebut sebagai
Feline Pneumonitis. Sebutan nama ini sebenarnya keliru karena pneumonitis biasanya berlangsung sementara, sedangkan konjungtivitis dan rhinitis yang terkait dengan infeksi C. felis bersifat lebih mencirikan gejala penyakitnya (Schachter, 1989). Galur-galur Chlamydophila yang menyebabkan Chlamydiosis pada kucing, dalam taksonomi lama disebut Chlamydia psittaci, setelah dilakukan klasifikasi ulang dalam taksonomi baru namanya menjadi Chlamydophila felis (C. felis) (Everett et al, 1999.).

Epidemiologi

C. felis merupakan penyebab penyakit endemik pada kucing kesayangan yang dipelihara di rumah, terutama menyebabkan konjungtivitis dan rinitis (Gaillard et al, 1984.). Prevalensi infeksi C. felis pada kucing domestik dapat menyebabkan konjungtivitis pada kucing muda. Anak kucing yang terinfeksi dapat menunjukkan gejala konjungtivitis berat. Organisme klamidia dapat dideteksi pada usapan konjungtiva dari anak kucing yang tertular. Penyakit ini dapat ditularkan melalui udara yang terkontaminasi dan melalui sekresi. Jika tidak diobati, infeksi akan langsung menjadi tampak jelas. Pada kucing yang tidak diobati, konjungtivitis dapat berulang setiap 10-14 hari. Pada kucing yang telah sembuh dari konjungtivitis, infeksi klamidia tanpa gejala dapat bertahan lama, dan dapat menyebabkan penyakit enzootik.

Manusia lebih mudah terkena galur C. felis dari pada klamidia zoonosis lainnya, meskipun galur klamidia dari mamalia cenderung mempunyai infektifitas relatif rendah untuk menular ke manusia. Dengan demikian, infeksi konjungtiva pada kucing biasanya tidak dianggap sebagai penyebab utama infeksi yang menimbulkan gejala penyakit pada manusia. Namun, infeksi zoonosis manusia dengan C. felis telah dilaporkan. Perlu diketahui bahwa pneumonia klamidia pada kucing dilaporkan oleh Baker (1944) terjadi di peternakan sapi yang terkena pneumonia.


Gejala klinis pada kucing

Infeksi C. felis pada kucing ditandai dengan gejala demam, anoreksia, depresi, bersin dan batuk, serta pneumonia. Ada kotoran cair yang keluar dari mata dan hidungnya, awalnya berupa lendir biasa tetapi kemudian menjadi mukopurulen (Baker, 1944; Cello, 1967; McDonald et al, 1998.). Infeksi pada mata kucing sering unilateral, mata sebelahnya akan menjadi tampak gejalanya dalam waktu 5-7 hari. Biasanya ditemukan Chemosis, tetapi kornea tidak terbawa (Shewen et al, 1978). Gejala klinis berlangsung selama sekitar 2 minggu pada kucing yang tidak diobati. Pemulihan dimulai sekitar 2-4 minggu setelah infeksi, jalannya dapat sangat lambat pada hewan yang tidak diobati, biasanya terdapat penurunan berat badan. Namun, kucing sering tetap menjadi pembawa agen penyebab penyakit yang asimtomatik, dan dapat kambuh penyakitnya secara periodik. C. felis dapat menyerang kucing dari segala usia. Penyakit ini biasanya tidak fatal, tapi kucing yang masih muda atau tua sekali dapat meninggal akibat pneumonia berat (Storz, 1988).

Kucing masih tetap terkena konjungtivitis selama satu tahun, lalu berkembang menjadi konjungtivitis folikuler kronis dan atau konjungtivitis papiler. Kadang-kadang bisa terdapat parut pada konjungtiva dan pembentukan pannus (Darougar et al, 1977.). Kondisi ini menyerupai infeksi C. trachomatis yang menyerang mata pada manusia. Anak kucing yang lahir, kelopak matanya yang terbuka bisa terkena konjungtivitis dari induknya. Infeksi pada mukosa lambung juga telah terdeteksi. Kebanyakan kucing dengan infeksi lambung persisten, secara klinis tampak normal. Gastritis, walaupun biasanya ringan, dianggap sebagai manifestasi klinis infeksi C. felis pada kucing (Hargis, 1983; Gaillard et al, 1984.).

Chlamydophila felis pada manusia

Baker (1942) melaporkan sejumlah kasus atypical pneumonia pada manusia karena tertular dari kucing yang terinfeksi penyakit klamidia. Antibodi terhadap agen feline pneumonitis terdeteksi pada serum manusia yang terinfeksi. Kemudian, Schachter et al., (1969) melaporkan kasus konjungtivitis folikuler akut ditemukan pada manusia yang mempunyai kucing terinfeksi C . felis. Klamidia tersebut telah dapat diisolasi baik dari kucing maupun pemiliknya. Laporan terakhir, seorang segera jatuh sakit setelah kucingnya menderita konjungtivitis dan rinitis. Isolat dari pasien digunakan untuk eksperimen mereproduksi konjungtivitis pada kucing normal. Laporan lain menunjukkan bahwa infeksi C. felis dari kucing dapat menyebabkan infeksi sistemik umum pada manusia, termasuk endokarditis dan glomerulonefritis (Regan et al, 1978.). Baru-baru ini, kasus konjungtivitis kronis akibat C. felis dilaporkan pada manusia. C. felis yang diisolasi dari manusia dan dari kucing miliknya menunjukkan sifat yang sama (Hartley et al, 2001). Pengobatan doksisiklin jangka panjang diperlukan untuk membasmi infeksi penyakit ini pada manusia.

Bisa diduga terdapat infeksi C. felis pada manusia jika konjungtivitis folikuler akut atau pneumonia atipikal berkembang 1-3 minggu setelah kontak dengan kucing sakit. Vaksinasi kucing dengan vaksin Chlamydiosis kucing dapat mengurangi terjadinya infeksi C. felis.

Diagnosis laboratorium


Untuk mendiagnosis chlamydiosis pada kucing cukup sulit ketika terdapat infeksi lain yang menimbulkan gejala konjungtivitis dan rinitis, terutama calici virus dan reo virus pada kucing. Klamidia dapat didiagnosa dengan swab konjungtiva (Cello, 1971) tetapi organisme klamidia yang terdeteksi jumlahnya mungkin rendah. McDonald et al., (1998) menjelaskan Uji PCR bisa digunakan untuk mendeteksi DNA C. felis pada swab konjungtiva. Baru-baru ini, PCR kuantitatif real-time telah digunakan untuk mendeteksi kurang dari 10 kopi genom C. felis pada kucing (Helps et al., 2001). Reverse transcriptase multi-organisme dengan uji PCR juga telah dikembangkan untuk mendeteksi C. felis serta calci virus dan herpes virus 1 pada kucing (Sykes et al, 2001). Infeksi C. felis telah dapat dideteksi pada kucing sebanyak 11,5% dari 104 rumah tangga yang memiliki kucing, hal ini menunjukkan bahwa infeksi C. felis relatif umum ditemukan dalam populasi kucing domestik.

Klasifikasi tipe C. felis


Penelitian sero-epidemiologi menunjukkan beberapa variabilitas antara galur C. felis (Pudjiatmoko et al, 1996.). Namun demikian, ketika dibandingkan antar galur-galur C. felis menunjukkan terdapat tingkat perbedaan yang nyata pada studi gen ompA rRNA dan terdapat perbedaan serotipe pada studi serologi (Andersen, 1991; Pudjiatmoko et al, 1997a;. Sayada et al, 1994.). Pada studi homologi asam nukleat gen 16S rRNA galur-galur C. felis sampai saat ini perbedaannya kurang dari 0,6 persen. Akan tetapi berdasarkan analisis RFLP pada gen groEL dan ompA menunjukkan heterogenitas galur-galur C. felis berhubungan dengan tempat asal-usul isolasi galur tersebut (Fukushi dan Hirai, 1994). Analisis Random amplification of polymorphic DNA (RAPD) menunjukkan minimal terdapat 2 sidik jari genetik yang berbeda antara enam galur C. felis yang diperiksa (Pudjiatmoko et al, 1997b). Galur-galur C. felis dan C. caviae dapat dibedakan secara jelas dari galur C. psittaci dan galur C. abortus. Telah diketahui dua galur C. felis dengan gejala pneumonitis pada kucing yaitu galur FP Pring dan galur KB Cello. Kedua galur tersebut memiliki plasmid extrachromosomal yang tidak ditemukan pada galur Baker FP (Jun et al, 1996). Tipe galur untuk spesies C. felis adalah FP Baker (ATCC VR120).

Vaksinasi dan pengobatan


Kucing yang sembuh dari infeksi C. felis dapat menyebabkan resistansi yang lemah terhadap reinfeksi (Cello, 1971). Galur FP Baker yang dilemahkan telah diterapkan secara luas sebagai vaksin hidup. Meskipun vaksinasi dapat mengurangi insiden dan keparahan penyakit klamidia (Mitzel dan Strating, 1977), shedding organisme dan infeksi ulang tidak dapat dicegah. Klamidia dapat dideteksi pada sekresi kucing seperti kotoran konjungtiva dan feces (Wills et al, 1987). Vaksin hidup dari klamidia yang telah dilemahkan dapat menyebabkan konjungtivitis, sehingga disarankan untuk tidak digunakan pada kucing yang sedang bunting.

Tetrasiklin biasanya digunakan untuk mengobati konjungtivitis klamidia, dan umumnya menghasilkan perbaikan yang cepat.

Daftar Pustaka


Andersen, A.A., 1991. Serotyping of Chlamydia psittaci isolates using serovar-specific monoclonal antibodies with the microimmunofluorescence test. J. Clin. Microbiol. 29: 707-711.

Baker, J.A., 1944. Virus causing pneumonia in cats and producing elementary bodies. J. Exp. Med 79: 159.

Bart, M., Guscetti, F., Zurbriggen, A., Pospichil, A. and Shiller, I., 2000. Feline infectious pneumonia: a short literature review and a retrospective immunohistological study on the involvement of Chlamydia spp. and distemper virus. Vet. J. 159: 220-230.

Cello, R.M., 1967. Ocular infections in animals with PLT (Bedsonia) group agents. Am. J. Opthalmol. 63: 1270.

Cello, R.M., 1971. Microbiological and immunological aspects of feline pneumonitis. J. Am. Vet. Med. Assoc. 158: 932-938.

Darougar, S., Viswalingam, M., Treharne, J.D., Kinnison, J.R. and Jones, B.R., 1977. Treatment of TRIC infection of the eye with rifampicin or chloramphenicol. Br. J. Ophthalmol. 61: 255-259.

Everett, K.D., Bush, R.M. and Andersen, A.A., 1999. Emended description of the order Chlamydiales, proposal of Parachlamydiaceae fam. Nov. and Simkania fam.nov., each containing one monotypic genus, revised taxonomy of the family Chlamydiaceae, including a new genus and fire new species, and standards for the identification of organisms. Int. J. Syst. Bacteriol. 49: 415-440.

Fukushi H., and Hirai., 1994. Heterogeneity and homogeneity of ompA and groEL homolog genes of avian and mammalian Chlamydia psittaci by PCR-based analysis. In : Eighth International Symposium on Human Chlamydial Infections. Bologna: Societa Editrtice Esculapio, Bologna, Italy, 589-592.

Gaillard, E.T., Hargis, A.M., Prieur, D.J., Evermann, J.F. and Duillon, A.S., 1984. Pathogenesis of feline gastric chlamydial infection. Am. J. Vet. Res. 45: 2314-2321.

Gethings, P.M., Stephens, G.L., Wills, J.M., Howard, P., Balfour, A.H., Wright, A.I., Morgan, K.L., 1987. Prevalence of Chlamydia, toxoplasma, toxocara and ringworm in farm cats in south-west England. Vet. Rec. 121: 213-216.

Hargis, A.M., Prieur, D.J. and Gaillard, E.T., 1983. Chlamydial infection of the gastric mucosa in twelve cats. Vet. Pathol. 20: 170.

Hartley, J.C., Stevenson, S., Robinson, A.J., Littlewood, J.D., Carder, C., Cartledge, J., Clark, C. and Ridgway, G.L., 2001. Conjunctivitis due to Chlamydophila felis acquired from a cat: case report with molecular characterisation of isolates from the patient and the cat. J. Infect. 43: 7-11.

Helps, C., Reeves, N., Tasker, S. and Harbour, D., 2001. Use of real-time quantitative PCR to detect Chlamydophila felis infection. J. Clin. Microbiol. 39: 2675-2676.

May, S.W., Kelling, C.L., Sabara, M. and Sandbulte, J., 1996. Virulence of feline Chlamydia psittaci in mice is not a function of the major outer membrane protein. Vet. Microbiol. 53: 355-368.

McDonald, M., Willet, B.J., Jarret, O. and Addie, D.D., 1998. A comparison of DNA amplification, isolation and serology for the detection of Chlamydia psittaci infection in cats. Vet. Rec. 143: 97-101.

Mitzel, J.R. and Strating, A., 1977. Vaccination against feline pneumonitis. Am. J. Vet. Res. 38: 1361-1363.

Pudjiatmoko, Fukushi, H., Ochiai, Y., Yamaguchi, T. and Hirai, K., 1996. Seroepidemiology of feline chlamydiosis by microimmunofluorescence assay with multiple strains as antigens. Microbiol. Immunol. 40: 755-759.

Pudjiatmoko, Fukushi, H., Ochiai, Y., Yamaguchi, T. and Hirai, K., 1997a. Phylogenetic analysis of the genus Chlamydia based on 16S rRNA gene sequences. Int. J. Syst. Bacteriol. 47:425-431.

Pudjiatmoko, Fukushi, H., Ochiai, Y., Yamaguchi, T. and Hirai, K., 1997b. Diversity of feline Chlamydia psittaci revealed by random amplification of polymorphic DNA. Vet Microbiol 54: 73-83. Full article

Ramsey D. C. (2000). Feline chlamydia and calicivirus infections. Vet Clin North Am Small Anim Pract. 30:1015-28.

Regan, R.J., Dathnan, J.R.E. and Treharne, J.D., 1979. Infective endocarditis and glomerulonephritis associated with cat Chlamydia (C. psittaci) infection. Br. Heart J. 42: 349-352.

Sayada, C., Andersen, A., Rodrigues, P., Eb, F., Milon, A., Elion, J. and Denamur, E., 1994. Homogeneity of major outer membrane protein gene of feline Chlamydia psittaci. Res. Vet. Sci. 56: 116-118.

Schachter, J., 1989. Chlamydial infections - past, present, future. J. Am. Vet. Med. Assoc. 195: 1501-1506.

Schachter, J., Ostler, H.B. and Meyer, K.F., 1969. Human infection with the agent of feline pneumonitis. Lancet 1: 1063-1065.

Shewen, P.E., Povey, R.C. and Wilson, M.R., 1978. Feline chlamydial infection. Can. Vet. J. 19: 289-292.

Storz, J., 1988. Overview of animal diseases induced by chlamydial infections. In Microbiology of Chlamydia, Barron, A.L., ed. CRC Press, Boca Raton, Florida, USA, p167-192.

Studdert, M.J., Studdert, V.P. and Wirth, H.J., 1981. Isolation of Chlamydia psittaci from cats with conjunctivitis. Aust. Vet. J. 57: 515-517.

Sykes, J.E., Anderson, G.A., Studdert, V.P. and Browning, G.F., 1999. Prevalence of feline Chlamydia psittaci and feline herpesvirus 1 in cats with upper respiratory tract disease. J. Vet. Intern. Med. 13: 153-162.


Wills, J.M., Gruffyd-Jones, T.J., Richmond, S., Gaskell, R.M. and Bourne, F.J., 1987. Effects of vaccination on feline Chlamydia psittaci infection. Infect. Immun. 55: 2653-2657.

No comments: